Globalisasi

Kita sering sekali akhir-akhir ini mendengar kata ‘globalisasi’ dari mass media baik cetak maupun elektronik. Banyak dari kita tentu sudah mengetahui apa itu globalisasi walaupun banyak juga dari kita yang belum faham betul apa itu globalisasi. Globalisasi sebenarnya terjadi dalam banyak bidang yaitu di bidang ekonomi, politik, teknologi, sosiokultural dan sebagainya. Namun yang akan saya bicarakan di sini adalah globalisasi di bidang ekonomi.

Globalisasi (di bidang ekonomi) mulai berakar ketika dua atau lebih negara menjalani transaksi jual beli antarmereka sebagai akibat  sebuah negara melihat negara lain memproduksi barang yang mereka perlukan secara lebih ekonomis yang mengakibatkan bahwa negara tersebut memutuskan untuk membeli barang dari negara lain tersebut daripada memproduksi sendiri di dalam negeri. Misalkan dengan sumberdaya dan dalam waktu yang sama negara A memproduksi 5 buah mesin dan 10 meter kain. Sementara negara B memproduksi 3 buah mesin dan 15 meter kain, maka negara A cenderung akan mengimpor kain dari negara B daripada memproduksi sendiri sedangkan sebaliknya negara B cenderung untuk mengimpor mesin dari negara A daripada memproduksi sendiri di dalam negeri.

Nah, dari model perdagangan internasional sederhana inilah yang kelak akan menjadi globalisasi yang kompleks tersebut. Walaupun pada saat ini, perdagangan internasional tetap merupakan ruh utama globalisasi namun kenyataannya globalisasi jauh lebih kompleks dibandingkan perdagangan internasional. Dalam globalisasi di bidang ekonomi selain terjadi perpindahan barang dan jasa secara internasional, juga terjadi perpindahan sumberdaya, baik sumberdaya manusia ataupun sumberdaya alam. Selain itu, tak kalah pentingnya dalam globalisasi adalah adanya perpindahan modal baik yang berupa investasi langsung asing (foreign direct investment) maupun yang berupa modal portfolio (portfolio capital).

Untuk melihat tingkat globalisasi suatu negara, dapat dilihat melalui beberapa indikator. Paling mudah adalah dengan melihat indeks globalisasi. Cara lain yang sudah cukup representatif adalah dengan melihat persentasi ekspor suatu negara dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya. Tahun 2002, ekspor Singapura mencapai 143,9% dari PDB-nya, menjadikan Singapura sebagai negara dengan presentasi ekspor terbesar dari PDB-nya. Hongkong di tempat kedua dengan presentasi ekspor  mencapai 124,5% dari PDB. Sedangkan eskpor Indonesia di tahun 2002 hanya mencapai 33% dari PDB. Nanti dulu! Ekspor Singapura mencapai 143,9% dari PDB-nya?? Mana bisa jumlah ekspor melebihi PDB?? Itu mungkin saja karena praktek ekspor ulang (reexport) umum terjadi di Singapura, di mana barang-barang yang diimpor oleh Singapura (terutama barang-barang dari Malaysia) kemudian diekspor kembali setelah diberi nilai tambah yang cukup signifikan.

Globalisasi memang erat hubungannya dengan  keterbukaan ekonomi negara-negara di dunia yang ditandai dengan terus naiknya persentasi ekspor dunia atas total PDB dunia. Lantas apa manfaatnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia?? Sebenarnya secara umum globalisasi dapat membawa manfaat yang nyata bagi perekonomian lokal. Dengan mengalirnya modal ke suatu negara, perekonomian suatu negara berkembang dapat terbukti tumbuh dengan pesatnya. Manfaat-manfaat globalisasi secara detail, insya Allah akan coba saya jabarkan di lain waktu, di lain artikel. Namun tentu setiap praktek ataupun fenomena ekonomi, tidak terkecuali globalisasi ini juga membawa dampak-dampak negatif. Perpindahan sumberdaya yang tidak berimbang baik yang keluar maupun yang ke dalam dapat menjadi isu yang serius. Perpindahan sumberdaya alam keluar yang berlebihan misalnya, tentu juga tidak baik untuk perekonomian lokal. Juga  perpindahan SDM dari luar negeri ke dalam negeri yang dapat mengancam suplai SDM dalam negeri juga seringkali menjadi isu serius dalam globalisasi. Selain itu globalisasi yang tidak terkendali juga dapat mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan dalam negeri yang bermain di pasar lokal karena adanya persaingan dari barang-barang impor sejenis. Untuk itu di banyak negara majupun, proteksi masih tetap dijalankan.

Nah, walaupun globalisasi dapat membawa dampak positif bagi sebuah negara berkembang namun bukan berarti globalisasi adalah solusi sempurna bagi sebuah negara berkembang. Ingat, sebuah fenomena ekonomi pasti mempunyai dua sisi, sisi benefit dan sisi cost-nya. Namun begitu, dampak buruk dari globalisasi di sebuah negara sebenarnya bukan karena semata-mata akibat globalisasi tersebut secara langsung namun juga karena lebih diperparah akibat kegagalan suatu negara dalam me-manage dampak-dampak globalisasi tersebut……..

Iklan

19 responses to “Globalisasi

  1. Globalisasi itu spt obat ya? Kalo dosisnya pas bisa berdampak baik utk perekonomian kita kalo kebanyakan bisa jd racun ya?

  2. globalisasi memang tak
    bisa dielakkan, termasuk
    globalisasi ekonomi
    sayangnya globalisasi
    ekonomi di negeri kita
    melahirkan privatisasi
    dan menyebabkan kita menjadi
    kuli di negeri sendiri 😦

  3. Dalam krisis kali ini, berbeda dengan krisis 10 tahun lalu, maka usaha yang berorientasi ekspor yang terpukul, karena negara pengimpor daya belinya turun.

    Ya, ini juga dampak dari globalisai, krisis di benua lain, mempengaruhi seluruh dunia…karena negara Amrik adalah juga negara pengimpor dan pasar besar dunia. Akibatnya ekonomi negara yang ekspornya banyak ke Amerika (seperti Malaysia dan China) menjadi terpukul. Indonesia, karena ekspornya ke AS tak terlalu besar, walau berdampak juga, diharapkan rak sesuram krisis 10 tahun lalu. Semoga.

  4. Kalau negara kita menerapkan teknik seperti Singapura gimana ya, Pak? Barang yang kita import kita eksport ke negara lain.

    Apakah bisa melebihi PDB?

  5. globalisasi tdak dapt dihindari tapi globalisasi yg masuk ke Indonesia hendaknya sesuai dngan kepribadian Bangsa Indonesia 🙂

  6. Globalisasi sekarang hanya bisa membuat manusia sekarang menjadi lebih malas !!!!

  7. @AgBint

    Hmmm… gimana ya?? Sebenarnya nggak 100% analoginya seperti itu walaupun ada benarnya. Yang jelas kalau obat ada takarannya sendiri yang eksak sementara globalisasi tidak ada ukurannya yang eksak yang merupakan ‘dosis sehat’ bagi sebuah perekonomian…..

    @mikekono

    Nah… itu terjadi karena bangsa kita yang tidak mau belajar. Padahal dari globalisasi ini bisa dipetik banyak pelajaran mulai dari pengelolaan/manajemen perusahaan hingga alih teknologinya. Sayangnya bangsa kita kebanyakan tidak mau mengasah kemampuan dirinya sebagai SDM. Ingat, globalisasi terjadi di seluruh dunia termasuk di negara2 berkembang lain.

    Nah, sekarang pertanyaannya, kapan Indonesia siap menghadapi globalisasi?? Capres dan calegpun tidak ada yang tahu pasti jawabannya. Yang jelas jawabannya kita sudah harus mulai siap dari sekarang, kalau tidak kita akan semakin jauh dari negara2 berkembang lain….

    @edratna

    Betul bu. Sifat krisis sekarang lain dari 10 tahun yang lalu. Akan tetapi krisis ini tetap termasuk Financial Contagion seperti dalam artikel yang pernah saya tulis.

    Nah, walaupun memang kebanyakan negara2 yang volume perdagangannya dengan AS ikut mengalami kelesuan, tetapi tetap saja ada faktor-faktor lain baik internal maupun eksternal yang menciptakan kasus2 anomali. Contohnya adalah: Brazil yang merupakan partner dagang AS terbesar nomer 10 di dunia, volume perdagangannya (ekspornya) jauh melebihi Malaysia (walaupun masih di bawah China), namun dampaknya justru tidak sebesar Malaysia. Bahkan Saudi Arabia yang merupakan partner dagang AS nomer 9 di dunia, justru mengalami AKSELERASI pertumbuhan ekonomi yang positif (ingat: akselerasi pertumbuhan ekonomi tidak sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi).

    @sitijenang

    zaman sih tidak pernah edan, yang edan tuh orang2nya…. 😛

    @Edi Psw

    Ya bisa saja pak. Tetapi angka persentasi ekspor terhadap PDB itu hanya menunjukkan ‘keterbukaan’ ekonomi negara tersebut saja, tidak menunjukkan kekuatan ekonomi riil negara itu.. 🙂

    @anggi

    Betul sekali. Itu termasuk konteks globalisasi sosiokultural… 🙂

    @nelson

    Itu tergantung dari orangnya/bangsanya. Globalisasi terjadi di seluruh dunia, juga di negara2 berkembang lain. Jikalau bangsanya pada dasarnya malas, ya bagaimanapun juga mereka tetap saja pemalas dan akibatnya mereka akan semakin tertinggal…. 🙂

  8. globaliasi spektrumnya mank luas begetek, ga cuman IPOLEKSOSBUD aja, makahnya qt musti belajar kohabitasi dr berbagai habitat

  9. globalisasi memang sangat menguntungkan negara-negara dengan sistem perekonomian yang kuat. seperti mas yari bilang, negara yang kurang mampu memenej ekonominya bakal tergilas karena pasar bebas memang tak terelakkan. itu mungkin segi negatifnya.

    sedangkan salah satu segi positifnya adalah meningkatkan kompetisi yang sehat, sehingga jarang terjadi lagi penguasaan pasar oleh perusahaan-perusahaan (lokal) tertentu. dampaknya, pengusaha harus bersedia meningkatkan kualitas kalau tak ingin kalah bersaing. lihat saja perusahaan minyak negara kita. dengan masuknya perusahaan minyak asing melalui pasar bebas, hampir tak ada lagi pom bensin reyot dan tak layak tampil di indonesia. satu segi kenyamanan dengan demikian sudah terpenuhi.

  10. eh, baru ngeh kalau blog ini ganti theme. tampilan yang sekarang lebih segar, mas.

  11. Globalisasi sungguh parah kalo di terapkan di indonesia.. bayang kan.. yang lokal aja persaingan nya udah susah banget dah caur.. pa lagi dengan ada nya negara lain.. penjajahan pasti akan tampil lagi di indonesia.. :((

  12. payahnya kalo kita tetap gak bisa mproduk dan njual apa2, tapi penjual2 dari luar malah membanjiri pasar milik kita sendiri ya?
    mana yang kita jual, mana yang kita beli? perlu sangat bijaksana nghitungnya ya?
    yang mestinya jangan kita jual, kok malah dijual. yang mestinya jangan kita beli, kok kita beli?
    (ini sekedar lomentar wong ndeso, yang kurang ilmu :lol:)

  13. @hastu

    Betul. Globalisasi memang terjadi di banyak aspek atau bidang. Yang jelas globalisasi tidak bisa kita hindarkan dan memang sebaiknya jangan kita hindarkan namun tetap kita harus selektif karena setiap bangsa mempunyai karakteristik yang berbeda….

    @marshmallow

    Memang betul setiap fenomena ekonomi selalu mempunyai dua sisi, dampak yang baik dan dampak yang buruk. Nah, negara2 yang bisa memaksimalkan manfaatnya akan bisa memetik keuntungan yang tak ternilai, sedangkan mereka yang tidak mampu memaksimalkan manfaatnya, hanya mendapatkan keuntungan jangka pendek yang artifisial saja, sementara dalamnya tetap bobrok….

    Iya nih… theme-nya baru. Cuma coba2 aja sih… hehehe…..

    @ridhoyp

    Tetapi globalisasi juga membawa keuntungan yang tidak sedikit. Yang penting bagaimana kita mau belajar dari globalisasi tersebut. Bagaimana kita mau belajar dari perusahaan2 asing tersebut termasuk alih teknologinya. Globalisasi memang harus disikapi dengan cerdas, seperti yang juga terjadi di China saat ini…..

    @Kang Nur

    Yang penting kita harus obyektif. Kalau produksi dalam negeri kualitasnya ‘jelek’, kita jangan memanjakan dan meninabobokkan mereka, justru sebaliknya kita harus memberi ‘pelajaran’ yang setimpal (namun tidak berlebihan) dengan memberi masukkan kekurangan2 produk mereka atau bisa dengan cara membatasi membeli produk mereka. Namun kalau kita punya duit, dan produk2 dalam negeri sama bagusnya (atau malah lebih bagus) dari produk luar negeri, kita janganlah gengsi dengan tidak membeli produk dalam negeri. Biasanya orang kita yang ‘nggak punya duit’ selalu berteriak ‘selamatkan produksi dalam negeri’ tetapi kalau sudah kaya mereka gengsi untuk membeli produk dalam negeri…. 😀

  14. Agama sudah dari dulu menggelobal.

  15. salam
    Hmm filter, itu kali yang mesti dimiliki negara dan individu 🙂

  16. yeah.. export import emang banyak nilai positifnya.. asalkan bukan transaksi derivatif yang bikin ekonomi dunia carut marut…
    katanya banyak yg gantung diri akibat krisis global
    hehehe

  17. @ubadbmarko

    Lah… kalau itu kan bukan globalisasi di bidang ekonomi, kalau masalah globalisasi lainnya jangankan agama, internet aja dalam hanya jangka waktu kurang dari satu dekade sudah mengglobal…. huehehehe…..

    @nenyok

    Ya… filter yang obyektif yang tepat sasaran, bukan filter yang membabibuta atau filter rusak yang terlalu longgar cuma formalitas saja… 😀

    @ardianzzz

    Saya percaya transaksi deivatif juga ada kebaikan jika di-manage dengan baik dan tidak terlalu risk-oriented.

    Gantung diri akibat krisis global?? Hmmm…. lihat sisi positifnya aja deh…. sisi positifnya adalah mengurangi populasi manusia di bumi ini terutama mereka yang berpotensial merusak lingkungan hidup…. wakakakak…. just kidding… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s