Daily Archives: Senin, 16 Maret 2009

Yang Murah Yang Berjasa….

dsc00121Gambar di sebelah kiri adalah alat pencukur jenggot menggunakan batu baterai yang saya beli seharga Rp. 5000,- lebih dari sepuluh tahun yang lalu (tahun 1998). Pencukur jenggot ini saya beli dari seorang penjual ibu-ibu pinggir jalan di dekat masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan ketika usai sholat Jumat. Karena melihat ibu-ibu yang berjualan di panas terik, saya merasa agak iba juga (sebenarnya lebih kasihan mereka yang nggak punya pekerjaan karena krismon waktu itu..) dan lalu saya tergerak melihat barang-barang dagangan si ibu tersebut.  Barang-barang yang dijual ibu-ibu itupun barang-barang kecil keperluan rumah tangga atau pribadi sehari-hari seperti gunting, pencukur jenggot stik manual, silet, cutter dan lain sebagainya. Barang-barang yang dijual semuanya terlihat murahan dan tampaknya semua barang yang dijual adalah barang selundupan dari China. Lalu saya melihat alat pencukur jenggot elektrik yang menggunakan batu baterai tersebut. Setelah mengetahui harganya segera kubeli pencukur jenggot elektrik yang bungkus kartonnya saja sudah tidak terekat ujungnya. Walau begitu dengan adanya krismon waktu itu, harga pencukur jenggot Rp. 5000,- cukup menarik bagikku. Setelah membayar harga pencukur jenggot dan beberapa barang lainnya yang juga aku beli, yang semuanya murahan itu, aku segera bergegas pulang.

Sepuluh tahun lebih berlalu, si pencukur jenggot elektrik murahan tersebut hingga kini masih bertahan. Dengan setianya hampir setiap pagi ia tetap menjalankan tugasnya sehari-hari, mencukur jenggotku yang mulai bermunculan di daguku. Si murahan yang pada awalnya saya tak menduga akan bertahan lama menjalankan tugasnya ini ternyata berhasil menunjukkan bahwa dalam kualitas dirinya tidak bisa disebut murahan. Walaupun ia kini mempunyai partner, sebuah cukuran jenggot elektrik juga merk ‘P’ yang merupakan merk dagang asal negeri Belanda yang harganya jauh menembus angka seratus ribu yang sengaja aku beli dan aku tinggalkan di rumahku di Jakarta (agar aku tidak perlu membawa cukuran jenggot lagi dari Bandung), namun si murahan ini tidak minder dan tetap sigap dalam menjalankan tugasnya.

Postingan ini bukan bercerita mengenai alat pencukur jenggot, tetapi mengenai barang-barang murahan di sekitar kita yang sering kita pandang sebelah mata manakala kita tengah bergelimpangan uang. Pencukur jenggot ini bukanlah satu-satunya barang murahan yang pernah aku beli. Pada saat krismon lalu (tahun 1999) aku juga pernah membeli TV 14″ bermerk tidak terkenal (sepertinya juga barang selundupan dari China) dan sampai saat ini ia masih berfungsi dengan sangat baik menghibur pembantuku pada saat ia memasak di dapur. Begitu pula dengan sepatu-sepatu murahku yang aku beli di Cibaduyut ataupun bahkan Cicadas tidak kalah awet dan nyamannya dengan sepatu-sepatuku yang asli bermerk H.B. yang harganya di atas sejuta itu.

Temanku suatu hari beberapa tahun yang lalu, karena ia harus menjalankan diet yang cukup ketat, berencana membeli sebuah timbangan badan elektronik. Aku menyarankan beli saja di toko buku Gramedia, merknya sih tidak terkenal Camry (seperti merk mobil aja), tetapi timbangannya akurat dan cukup awet, karena saya juga punya satu. Tapi ia tak mau, ia ingin membeli timbangan elektronik yang mahal, yang katanya lebih terpercaya. Pilihannya adalah timbangan Soehnle buatan Jerman (harganya sekitar Rp. 900 ribu) atau AMD yang buatan asli Jepang (harga sekitar Rp 1,2 juta,-). Akhirnya pilihan jatuh pada timbangan badan elektronik AMD. Namun apa yang terjadi?? Ternyata setelah beberapa bulan garansi timbangan tersebut habis, tuas geser untuk memilih bacaan timbangan dalam sistem metrik dan sistem Inggris menjadi longgar. Akibatnya seringkali bacaan timbangan tersebut bergeser sendiri dari satuan kilogram (kg) menjadi satuan pound (lbs) dan terkadang tidak bisa dipindahkan lagi. Padahal tuas tersebut jarang diutak-atik. Tentu saja hal ini cukup menyebalkan bagi mereka yang tidak terbiasa menimbang badan dengan satuan pound. Sementara timbangan elektronik saya yang murahan yang harganya cuma Rp 200 ribu,- tetap berjaya hingga kini.

Nah, ini hanya satu kasus bahwa tidak selamanya barang yang lebih mahal berkualitas lebih baik daripada barang yang murahan. Terlepas dari pernah juga tentu saja saya mengalami membeli barang yang murahan dan cepat rusak, namun saya memutuskan untuk tidak cepat memandang sebelah mata barang-barang yang murahan. Sebaliknya juga TIDAK JARANG saya melihat produk-produk dengan merk yang mantap dan mahal tetapi ternyata tidak awet juga. Walaupun pepatah yang sudah kita kenal sejak kita kecil: “kalah membeli menang memakai” tentu masih ada benarnya juga, namun dari pengalaman saya membeli barang-barang murahan menunjukkan bahwa dengan membeli barang-barang murahan kita juga bisa keluar sebagai pemenang…. menang dalam membeli sekaligus menang juga dalam memakai….!! :mrgreen: