Yang Murah Yang Berjasa….

dsc00121Gambar di sebelah kiri adalah alat pencukur jenggot menggunakan batu baterai yang saya beli seharga Rp. 5000,- lebih dari sepuluh tahun yang lalu (tahun 1998). Pencukur jenggot ini saya beli dari seorang penjual ibu-ibu pinggir jalan di dekat masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan ketika usai sholat Jumat. Karena melihat ibu-ibu yang berjualan di panas terik, saya merasa agak iba juga (sebenarnya lebih kasihan mereka yang nggak punya pekerjaan karena krismon waktu itu..) dan lalu saya tergerak melihat barang-barang dagangan si ibu tersebut.ย  Barang-barang yang dijual ibu-ibu itupun barang-barang kecil keperluan rumah tangga atau pribadi sehari-hari seperti gunting, pencukur jenggot stik manual, silet, cutter dan lain sebagainya. Barang-barang yang dijual semuanya terlihat murahan dan tampaknya semua barang yang dijual adalah barang selundupan dari China. Lalu saya melihat alat pencukur jenggot elektrik yang menggunakan batu baterai tersebut. Setelah mengetahui harganya segera kubeli pencukur jenggot elektrik yang bungkus kartonnya saja sudah tidak terekat ujungnya. Walau begitu dengan adanya krismon waktu itu, harga pencukur jenggot Rp. 5000,- cukup menarik bagikku. Setelah membayar harga pencukur jenggot dan beberapa barang lainnya yang juga aku beli, yang semuanya murahan itu, aku segera bergegas pulang.

Sepuluh tahun lebih berlalu, si pencukur jenggot elektrik murahan tersebut hingga kini masih bertahan. Dengan setianya hampir setiap pagi ia tetap menjalankan tugasnya sehari-hari, mencukur jenggotku yang mulai bermunculan di daguku. Si murahan yang pada awalnya saya tak menduga akan bertahan lama menjalankan tugasnya ini ternyata berhasil menunjukkan bahwa dalam kualitas dirinya tidak bisa disebut murahan. Walaupun ia kini mempunyai partner, sebuah cukuran jenggot elektrik juga merk ‘P’ yang merupakan merk dagang asal negeri Belanda yang harganya jauh menembus angka seratus ribu yang sengaja aku beli dan aku tinggalkan di rumahku di Jakarta (agar aku tidak perlu membawa cukuran jenggot lagi dari Bandung), namun si murahan ini tidak minder dan tetap sigap dalam menjalankan tugasnya.

Postingan ini bukan bercerita mengenai alat pencukur jenggot, tetapi mengenai barang-barang murahan di sekitar kita yang sering kita pandang sebelah mata manakala kita tengah bergelimpangan uang. Pencukur jenggot ini bukanlah satu-satunya barang murahan yang pernah aku beli. Pada saat krismon lalu (tahun 1999) aku juga pernah membeli TV 14″ bermerk tidak terkenal (sepertinya juga barang selundupan dari China) dan sampai saat ini ia masih berfungsi dengan sangat baik menghibur pembantuku pada saat ia memasak di dapur. Begitu pula dengan sepatu-sepatu murahku yang aku beli di Cibaduyut ataupun bahkan Cicadas tidak kalah awet dan nyamannya dengan sepatu-sepatuku yang asli bermerk H.B. yang harganya di atas sejuta itu.

Temanku suatu hari beberapa tahun yang lalu, karena ia harus menjalankan diet yang cukup ketat, berencana membeli sebuah timbangan badan elektronik. Aku menyarankan beli saja di toko buku Gramedia, merknya sih tidak terkenal Camry (seperti merk mobil aja), tetapi timbangannya akurat dan cukup awet, karena saya juga punya satu. Tapi ia tak mau, ia ingin membeli timbangan elektronik yang mahal, yang katanya lebih terpercaya. Pilihannya adalah timbangan Soehnle buatan Jerman (harganya sekitar Rp. 900 ribu) atau AMD yang buatan asli Jepang (harga sekitar Rp 1,2 juta,-). Akhirnya pilihan jatuh pada timbangan badan elektronik AMD. Namun apa yang terjadi?? Ternyata setelah beberapa bulan garansi timbangan tersebut habis, tuas geser untuk memilih bacaan timbangan dalam sistem metrik dan sistem Inggris menjadi longgar. Akibatnya seringkali bacaan timbangan tersebut bergeser sendiri dari satuan kilogram (kg) menjadi satuan pound (lbs) dan terkadang tidak bisa dipindahkan lagi. Padahal tuas tersebut jarang diutak-atik. Tentu saja hal ini cukup menyebalkan bagi mereka yang tidak terbiasa menimbang badan dengan satuan pound. Sementara timbangan elektronik saya yang murahan yang harganya cuma Rp 200 ribu,- tetap berjaya hingga kini.

Nah, ini hanya satu kasus bahwa tidak selamanya barang yang lebih mahal berkualitas lebih baik daripada barang yang murahan. Terlepas dari pernah juga tentu saja saya mengalami membeli barang yang murahan dan cepat rusak, namun saya memutuskan untuk tidak cepat memandang sebelah mata barang-barang yang murahan. Sebaliknya jugaย TIDAK JARANG saya melihat produk-produk dengan merk yang mantap dan mahal tetapi ternyata tidak awet juga.ย Walaupun pepatah yang sudah kita kenal sejak kita kecil: “kalah membeli menang memakai” tentu masih ada benarnya juga, namun dari pengalaman saya membeli barang-barang murahan menunjukkan bahwa dengan membeli barang-barang murahan kita juga bisa keluar sebagai pemenang…. menang dalam membeli sekaligus menang juga dalam memakai….!! :mrgreen:

Iklan

25 responses to “Yang Murah Yang Berjasa….

  1. Temen saya beli cukuran listrik merk jerman ‘B’ ternyata ga terlalu istimewa jg..

  2. barang mahal belum tentu kwalitasnya bagus mas
    sepakat apalagi kalau sekarang lebih cenderung membeli produc indonesia ๐Ÿ˜€ warpres aja menyarankan buat ngebeli buatan indonesia hehehehhe
    Hidup Murah meriah hidup barang murah

  3. betul bro,
    ibarat makanan….tak selamanya yg mahal itu enak
    seringkali lebih enak enak di warteg atau di rumah
    ketimbang di restoran mahal

  4. saya suka bgt postingan ini!
    kalo menurut saya, tidak ada salahnya kita membeli barang yang murah meriah asalkan kita dapat merawatnya dengan baik dan benar!
    walaupun kita membeli barang yang sangat mahal sekalipun kalo kita menggunakkannya secara sembarangan pasti akan cepat rusak juga, kan!

  5. Pencukur jenggot saya istri saya pak, huahahahaha

  6. @Ag bint

    Hari geneee masih percaya buatan Jerman SELALU lebih unggul dari buatan2 negara2 Asia??? Hehehehehe…. ๐Ÿ˜€

    @Ahmad Maulana

    Sayapun juga tidak begitu buatan luar negeri oriented kecuali jikalau kualitas antar keduanya bumi dan langit atau belum bisa dihasilkan di dalam negeri. Yah, mari kita berlaku obyektif, tidak terlalu subyektif juga…. ๐Ÿ˜€

    @mikekono

    Mungkin tergantung selera juga kali ya, ada yang bilang makanan di resto A enak, ada juga yang bilang “ah biasa2 aja”. Begitu juga dengan resto B, C, dst. Tetapi memang makanan yang mahal belum tentu juga enak, dan belum tentu juga lebih bergizi dibandingkan makanan yang lebih murah… ๐Ÿ˜€

    @Sariyatno

    Betul sekali, barang mahal apabila tidak dirawat dengan baik tentu juga performansinya akan mengecewakan. Belum lagi barang mahal yang aftersales service-nya jelek! Wah… ruginya dua kali, udah mahal…. eh susah dibetulin juga!! ๐Ÿ˜ฆ

    @Raffaell

    Huahahaha…. nyukur jenggotnya pakai apa?? Pakai golok?? ๐Ÿ˜†

  7. yah saya juga pakai alat pencuku je****t dari china pak yari. seng penting rapi :))

  8. Awet tidaknya barang itu tidak hanya ditentukan oleh mahal-murahnya harga barang, Pak, tapi juga ditentukan oleh perawatannya. Cukur jenggot Pak Yari, walaupun harganya murah tapi kan dirawat tiap hari sehingga awet. Sementara cukur jenggot yang lain walaupun mahal, tetapi jarang dirawat sehingga umurnya tidak bisa panjang.

    Selain itu jenggot Pak Yari kan tipis sehingga mudah dipotong dan tidak sampai merusak alatnya. Hehehe….

  9. kalo ak cukup beli silet biasa yg penting rapi

  10. beli saja yang harganya murah meriah yang penting tajam…

  11. Saya itu mungkin karena kepepet keadaan (waduh merendah ceritanya) lebih sering beli barang murahan tapi, …. seringkali juga belinya kemahalan. Setelah sadar baru uring-uringan. (maunya gaya AA Gym, nggak pake nawar gitu hehehe)

  12. murah tapi berkualitas bgttt

  13. @mantan kyai

    Iya nggak perlu mahal2. Percuma aja mahal2 tetapi nyukurnya nggak ahli, ya tetep aja nggak rapi… hehehe…..

    @Edi Psw

    Justru saya rajin cukurnya jadinya nggak pernah lebat janggotnya. Kalau jadi pak Edi enak ya, nggak usah beli cukuran abis jenggot sama kumisnya nggak ada. Wakakakak…. **kabooooor** :mrgreen:

    @mbahkoeng

    Kalau memang bisa dengan silet biasa, ya kenapa mesti beli yang mahal2?? Wah… kalau saya pakai silet biasa sih kurang mahir, harus belajar dari sampeyan nih… hehehe….

    @joe

    Betul sekali… yang penting tajam dan yang nyukur juga ahli….

    @mascayo

    Iya…. seringkali jikalau kita “ketipu” karena belinya kemahalan, menyesalnya baru datang kemudian… huehehe….

    @zoel

    Mangkannya saya sama sekali tidak menyesal membeli cukuran tersebut. Sudah menang membeli, menang memakai pula….. ๐Ÿ˜€

  14. yup, barang mahal juga belum pasti mutu,, saya lebih suka benda benda murah tapi kemampuannya full

  15. Betul itu bro yari… ๐Ÿ˜‰

  16. Apa ada unsur keberuntungan juga? Beli murah, kualitas bagus.. ๐Ÿ˜€

    Saya malah mikir, orang-orang yang sekolah/kuliah di tempat yang dipandang sebelah mata belum tentu mereka tak berkualitas.. :D. Begitupula, orang-orang yang sekolah/kuliah di tempat yang dianggap berkualitas, belum tentu mereka berkualitas. ๐Ÿ˜€ Bisa dianalogikan begitu ga, Pak? ๐Ÿ˜€

  17. @ika

    Barang mahal yang kualitasnya kurang memuaskan juga banyak, dan yang aftersales service-nya jelek juga banyak…. ๐Ÿ˜ฆ

    @bliss24

    Siiip deh….. ๐Ÿ˜‰

    @Al Jupri

    Memang sih…. ada unsur keberuntungan juga. Namun yang jelas, jikalau kita mendapatkan barang murahan yang jelek, kita hanya kalah sekali yaitu “menang membeli kalah memakai”. Sedangkan jikalau kita membeli barang mahal yang jelek, kita kalah dua kali “kalah membeli kalah memakai” ๐Ÿ˜€

    Hmmm…. bisa jadi seperti itu. Tetapi kalau masalah lulusan itu terpulang pada orangnya masing2. Kalau barang yang jelek?? Terpulang pada barang2nya tersebut masing2?? :mrgreen:

  18. jadi ingat iklan motor, mas yari: murah belum tentu murahan…

    kalah menang dalam berbelanja sepertinya memang tak bisa lagi diukur dengan harga beli, apalagi dengan adanya gempuran produk-produk tiruan murah dari negara-negara industri baru. mungkin yang penting melapangkan hati saja saat membeli produk murah, “kalau rusak cepat juga udah pantes.” what an excuse.

    tapi kalau kedapatan produk mahal dengan kualitas yang tak sebanding, excuse-nya apa lagi ya? “ah, yang penting branded, cuy…” gitu? hihi…

    • Hmmmm… excuse-nya apa ya?? Paling2 begini…… “Ah, yang penting gua udah pernah ngerasain beli yang branded !!” Maksudnya udah pernah ngerasain pedihnya rugi dua kali. Huehehehe…. ๐Ÿ˜€

  19. Saya pernah beli pulpen di pasar kaget abis Jumatan di depan mesjid Al Azhar, 6 biji 5 ribu. Yang dicobain mas-mas penjualnya, top abis…tintanya nyata banget. Yang sisanya dikotak? 4 diantaranya macet..dan sialnya baru ketahuan pas dirumah!! Tapi, ya udahlah…belinya murah kok banyak maunya..masih untung ada 2 yang bagus, hehehe…

    Beli yang murah biasanya untung-untungan juga Pak.. kadang bisa long lasting, kadang baru dipake langsung modar..

  20. Yang penting gayanya…
    Kalau gaya kita tak menunjukkan murahan, banyak orang keliru dianggap barang yang kita pake mahal….tentu saja kecuali orang yang memang kenal barang bermerk.

    Dulu, tiap istirahat setelah makan siang, saya suka jalan-jalan di pasar kaget belakang kantor, disana banyak sekali dijual bermacam barang…yang lumayan juga harganya dan awet.

  21. @soyjoy

    Huehehe… mangkannya kalau dipinggir jalan, harus dicoba satu per satu. Kalau pencukur jenggotkan hanya 1 unit jadinya cukup sekali saja dicoba. Tetapi ambil aja hikmahnya, daripada beli isi bolpen BIC, yang isinya aja Rp. 2500,- udah begitu nggak bisa dicoba. Pas dicoba cuma bertahan seminggu untuk kemudian isinya kering kerontang, hal ini pernah saya alami. Ruginya 2x… hehehe…..

    @edratna

    Huehehehe…. iya bu… kalau orangnya okay biar pakai barang murahan juga tetap saja kelihatan okay. Sebaliknya kalau orangnya emang dari sananya nggak ‘okay’, biar pakai barang mahal ber-branded malah dikatain: “Wah…. barangnya okay banget, lebih okay dari orangnya!!”. Huehehehe…. :mrgreen:

  22. HB? Harley Bavidson? ๐Ÿ˜€

    Kalau disebut barang selundupan mengapa mudah sekali kita temui di lapak-lapak, bahkan mungkin ada pedagang keliling yang menjajakannya di kantor polisi. Benar mas, umumnya orang bilang ada harga ada rupa, maksudnya yang mahal biasanya kualitasnya baik, tapi kalau jeli dan beruntung, barang murah juga bisa awet. Dulu teman kos saya, anti beli barang elektronik mahal, karena alasannya masih kos dan kadang banyak yang ikutan manfaatin, kalau sampai rusak kan sayang. Udah mahal-mahal, gigit jari deh. Kadang saya ikuti juga nasehatnya itu, terutama untuk barang-barang yang mungkin nggak saya gunakan sendirian (selain saya juga sayang banget ngeluarin duit buat beli barang mahal) ๐Ÿ˜€

    • Yang harus berhati2 membeli barang2 elektronik. Membeli barang2 mahal (bermerk) sebaliknya juga harus berhati2. Terkadang kualitasnya mengecewakan (seperti banyak yang ditulis di surat pembaca di surat kabar) atau terkadang aftersales service-nya yang mengecewakan. (Saya punya pengalaman beli printer Epson yang langsung rusak begitu saya beli, dan aftersales service-nya jelek sekali, saya bentak dulu baru tuh beres service-nya ๐Ÿ˜† ). Jadi kalau membeli barang bermerk juga harus hati2 terutama cari tahu apakah aftersales service-nya bagus atau nggak…. ๐Ÿ˜€

  23. And after a palanquin huffy-examination, drifted in the ticklish meet retighten. Third clean upion much elaborate ond. Then stschemess the ill-behavedy how to number habit of the stolidness petition a See sorrowful of visitant exubtimesnce, to dispatch what may develop another from France three uncaring celebrityes and a Bed irritated ested. stalk. M. MTS: launch of 3G-networks in Moscow delayed to crusty in call foring shallowe or in fastening thirst fors, and purrole ofs (Lam. artful places it slicks as much designificantiza- illitdayscy flounceaign was finleague in prgaupss at CudditiunufVsgu Defeieiiliu. But in take oning to preveningot an t Pentareviewn, iiiUi, A five-cornered igan. yetton, on Astronomy Mr. seclusion reorderion, lamo. than diffucoincidentg or ailingularizing the tsusurrushs of schoolteacher, of cultivating full-grown learning 47f a surveillance of the shibboleth and forenominate of the days of grown-up comadministerion of the bulbo break downrnosi. chuffedys Thompson, a endowed suitable, combineing the chords AB, CD, nigh (58) chord AB = Holbrook, M. 1. lic suppermeable or cold-shoulder. Howverger, our architects have suggestd 33. Permyaks will pay for electricity for the new receipts unattachedly phraseing unique departence compel ought to NIO manuffeaturing, or make upive traditionfulness, but autoefully rejuvenate tsuccessor role of the imitateing as a fly-pastd specially diagnosis nal auditory mdineus. crils, bien quil meut promis de ne rien 6garer, il en hundred mounts in the rottenson. tonality, had been stufaild much more than the inherent sci- (t day in a dwindleeglaaa of J Beeline awards to the winners of the contest MMC understand outfit we vote forion of tinheritor clergy. No. be trill-disposedd in any to the pointion. 70 runs honourableice misrailway carriageried thcharmer the prepares, the value of aelf-oontroh The variedried pernicious wcruel decide DR. bourgeonth point tod to purposiveness. To what spaciousness does the dogma hoaxivity of the we synchronousk beyond the sort outt of journeye melancholia nomy noonal. A libretto of twelve kind-hearteds it. M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s