Monthly Archives: Maret 2009

Globalisasi

Kita sering sekali akhir-akhir ini mendengar kata ‘globalisasi’ dari mass media baik cetak maupun elektronik. Banyak dari kita tentu sudah mengetahui apa itu globalisasi walaupun banyak juga dari kita yang belum faham betul apa itu globalisasi. Globalisasi sebenarnya terjadi dalam banyak bidang yaitu di bidang ekonomi, politik, teknologi, sosiokultural dan sebagainya. Namun yang akan saya bicarakan di sini adalah globalisasi di bidang ekonomi.

Globalisasi (di bidang ekonomi) mulai berakar ketika dua atau lebih negara menjalani transaksi jual beli antarmereka sebagai akibat  sebuah negara melihat negara lain memproduksi barang yang mereka perlukan secara lebih ekonomis yang mengakibatkan bahwa negara tersebut memutuskan untuk membeli barang dari negara lain tersebut daripada memproduksi sendiri di dalam negeri. Misalkan dengan sumberdaya dan dalam waktu yang sama negara A memproduksi 5 buah mesin dan 10 meter kain. Sementara negara B memproduksi 3 buah mesin dan 15 meter kain, maka negara A cenderung akan mengimpor kain dari negara B daripada memproduksi sendiri sedangkan sebaliknya negara B cenderung untuk mengimpor mesin dari negara A daripada memproduksi sendiri di dalam negeri.

Nah, dari model perdagangan internasional sederhana inilah yang kelak akan menjadi globalisasi yang kompleks tersebut. Walaupun pada saat ini, perdagangan internasional tetap merupakan ruh utama globalisasi namun kenyataannya globalisasi jauh lebih kompleks dibandingkan perdagangan internasional. Dalam globalisasi di bidang ekonomi selain terjadi perpindahan barang dan jasa secara internasional, juga terjadi perpindahan sumberdaya, baik sumberdaya manusia ataupun sumberdaya alam. Selain itu, tak kalah pentingnya dalam globalisasi adalah adanya perpindahan modal baik yang berupa investasi langsung asing (foreign direct investment) maupun yang berupa modal portfolio (portfolio capital).

Untuk melihat tingkat globalisasi suatu negara, dapat dilihat melalui beberapa indikator. Paling mudah adalah dengan melihat indeks globalisasi. Cara lain yang sudah cukup representatif adalah dengan melihat persentasi ekspor suatu negara dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya. Tahun 2002, ekspor Singapura mencapai 143,9% dari PDB-nya, menjadikan Singapura sebagai negara dengan presentasi ekspor terbesar dari PDB-nya. Hongkong di tempat kedua dengan presentasi ekspor  mencapai 124,5% dari PDB. Sedangkan eskpor Indonesia di tahun 2002 hanya mencapai 33% dari PDB. Nanti dulu! Ekspor Singapura mencapai 143,9% dari PDB-nya?? Mana bisa jumlah ekspor melebihi PDB?? Itu mungkin saja karena praktek ekspor ulang (reexport) umum terjadi di Singapura, di mana barang-barang yang diimpor oleh Singapura (terutama barang-barang dari Malaysia) kemudian diekspor kembali setelah diberi nilai tambah yang cukup signifikan.

Globalisasi memang erat hubungannya dengan  keterbukaan ekonomi negara-negara di dunia yang ditandai dengan terus naiknya persentasi ekspor dunia atas total PDB dunia. Lantas apa manfaatnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia?? Sebenarnya secara umum globalisasi dapat membawa manfaat yang nyata bagi perekonomian lokal. Dengan mengalirnya modal ke suatu negara, perekonomian suatu negara berkembang dapat terbukti tumbuh dengan pesatnya. Manfaat-manfaat globalisasi secara detail, insya Allah akan coba saya jabarkan di lain waktu, di lain artikel. Namun tentu setiap praktek ataupun fenomena ekonomi, tidak terkecuali globalisasi ini juga membawa dampak-dampak negatif. Perpindahan sumberdaya yang tidak berimbang baik yang keluar maupun yang ke dalam dapat menjadi isu yang serius. Perpindahan sumberdaya alam keluar yang berlebihan misalnya, tentu juga tidak baik untuk perekonomian lokal. Juga  perpindahan SDM dari luar negeri ke dalam negeri yang dapat mengancam suplai SDM dalam negeri juga seringkali menjadi isu serius dalam globalisasi. Selain itu globalisasi yang tidak terkendali juga dapat mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan dalam negeri yang bermain di pasar lokal karena adanya persaingan dari barang-barang impor sejenis. Untuk itu di banyak negara majupun, proteksi masih tetap dijalankan.

Nah, walaupun globalisasi dapat membawa dampak positif bagi sebuah negara berkembang namun bukan berarti globalisasi adalah solusi sempurna bagi sebuah negara berkembang. Ingat, sebuah fenomena ekonomi pasti mempunyai dua sisi, sisi benefit dan sisi cost-nya. Namun begitu, dampak buruk dari globalisasi di sebuah negara sebenarnya bukan karena semata-mata akibat globalisasi tersebut secara langsung namun juga karena lebih diperparah akibat kegagalan suatu negara dalam me-manage dampak-dampak globalisasi tersebut……..

Sudah Repot Ditambah Fesbuk Pula…..

Setelah kira-kira satu setengah tahun lebih aku mulai ngeblog, mulai terasa bahwa kegiatan ini adalah sesuatu yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang kita terutama di malam hari ataupun di hari libur. Memang betul, sebagai orang yang pada dasarnya suka menulis apa saja, walaupun mungkin standard tulisannya masih jauh di bawah para penulis pro, saya mulai merasakan asyiknya berblogging. Salah satu yang menyebabkan asyiknya berblogging ria adalah interaksi antara saya dan pembaca blog baik dari rekan sesama blogger maupun dari orang-orang yang hanya sekali dua kali membaca artikel-artikel di blog saya.

Walaupun interaksi antar sesama blogger dan pembaca-pembaca lainnya sangat mengasyikkan, namun bukan berarti interaksi tersebut tidak ada ‘cost‘-nya. Cost-nya tentu saja adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjawab dan membalas kunjungan para rekan blogger menjadi sangat lama dan benar-benar memakan waktu. Walaupun kita semua tahu bahwa tidak ada kewajiban untuk membalas kunjungan balik para blogger yang sudah mengunjungi blog kita, namun setiap hari ketika saya membuka blog saya dan ketika saya selesai menjawab atau merespons komen-komen yang ‘mendarat’ di blog saya, saya memprioritaskan untuk berkunjung balik ke blog-blog yang pemilik blog tersebut sehari sebelumnya sudah meninggalkan komen di blog saya, setelah itu baru, jikalau masih ada waktu, saya akan berkunjung ke blog-blog lainnya yang sering saya kunjungi atau ke blog-blog yang ‘menarik’ lainnya. Ingat, “menarik” di sini bukan berarti selalu berkonotasi positif. Hehehe…..

Nah, akhir-akhir ini kita semua mengetahui bahwa ada situs jaringan sosial yang akhir-akhir ini tengah naik daun yaitu “Facebook” (fesbuk, kalau tulisan Indonesianya). Mula-mulanya memang saya kurang tertarik untuk join dengan Facebook ini, karena paling-paling nasibnya akan sama dengan akun Friendster saya yang akhirnya sudah saya hapus, juga akun Yahoo! saya yang akhirnya kini cuma berfungsi sebagai penampung e-mail saja. Namun karena saya orangnya pada dasarnya selalu ingin mencoba yang baru dan juga mempelajari yang baru maka akhirnya aku join juga dengan Facebook. Sebenarnya menurut saya, minimal hingga sekarang, Facebook biasa-biasa saja. Namun memang ternyata ada atmosfir Facebook yang “unik” yang tidak pernah saya temukan di situs-situs ‘sosial’ lainnya yaitu saya memang bisa bertemu teman-teman lama saya yang sudah puluhan belasan tahun tidak pernah saya temui lagi. Hal ini tentu saja menjadi ajang temu kangen yang praktis dan terkoodinasi dan sungguh dapat membuat kita “mabuk Facebook” minimal hingga saat ini. Bayangkan saja bertemu teman-teman lama yang tidak pernah kita dengar kisahnya lagi, walaupun lewat dunia maya. Foto-foto zaman dahulupun bertebaran di dinding-dinding facebook berdampingan dengan foto-foto saat ini. Sungguh surprise! Ada yang dulu jelek biasa-biasa saja, ternyata setelah jadi ibu-ibu atau tante-tante malah jadi cantik. Ada juga teman yang dulu ganteng, udah jadi bapak-bapak tampangnya malah ‘hancur’. Namun nggak kalah banyak pula yang dulu jelek sekarang juga sama jeleknya, ataupun yang dulunya ganteng/cantik sekarang tetap ganteng/cantik. Masing-masing punya cerita sendiri-sendiri tentang perjalanan hidupnya walaupun banyak juga yang masih agak merahasiakannya.

Walau begitu, kegiatan blogging tetap mempunyai kenikmatan tersendiri bagi saya yang tidak akan tergeserkan oleh Facebook (minimal untuk saat ini). Di WordPress inilah saya tetap menemukan keasyikan saya dalam menulis yang tentu tidak bisa tergantikan oleh Facebook. Sedangkan di Facebook hanya sekedar jadi ajang temu kangen dengan teman-teman lama. Walau begitu, saya juga sedikit agak kecewa karena ternyata banyak teman-teman saya dulu yang saya harapkan sudah bergabung dengan Facebook ternyata belum bergabung. Nah, untuk sementara akun Facebook saya konsentrasikan dulu buat mencari teman-teman lama saya terutama teman-teman semasa di SMA dan kuliah dulu. Nanti kalau banyak takutnya malah waktunya tersita untuk menulis di status dan dinding Facebook milik diri sendiri ataupun milik teman-teman. Yah…. harus lebih pintar-pintar lagi nih membagi-bagi waktu….. 😀

Inginkah Anda Menjadi “Manusia Tak Kasat Mata” ??

Novel "The Invisible Man' karya H. G. Wells

Novel "The Invisible Man' karya H. G. Wells

Di pertengahan tahun 1970an pernah dibuat film serial “The Invisible Man” yang diperankan oleh aktor Skotlandia David McCallum, yang kalau tidak salah pernah juga diputar di TVRI di akhir tahun 1970an.  Film serial yang menceritakan seorang ilmuwan yang mendapatkan kecelakaan sehingga ia menjadi ‘The Invisible Man” atau manusia yang tak kasat mata atau manusia yang tidak terlihat.  Film ini memang terinspirasi dari novel H.G. Wells dengan judul yang sama (The Invisible Man) yang dibuat tahun 1897 (gambar samping).

 

Bagi sebagian orang, menjadi si manusia tak kasat mata adalah keinginannya yang sangat diimpikan. Tujuan keinginan menjadi si manusia tidak kasat matapun bervariasi dari  yang murni ilmiah, berotak mesum, hingga berotak kriminal. Tentu saja kemampuan seseorang untuk menghilang menjadi sangat berbahaya jikalau dimiliki oleh orang-orang yang berotak mesum kriminal. Bagi yang berotak mesum ataupun yang berotak kriminal ringan, mungkin mereka hanya ingin masuk ke WC umum yang berlainan jenis atau yang sesama jenis untuk sekedar mengintip melihat mereka yang tengah buang hajat atau bisa jadi ia hanya sekedar penikmat film berat sehingga ia memanfaatkan ketidakkasatmataannya hanya untuk sekedar masuk ke gedung bioskop tanpa bayar. Namun bagi mereka yang berotak kriminal berat, ketidakkasatmataannya tersebut dapat menjadi sangat berbahaya misalnya untuk merampok atau bahkan membunuh untuk balas dendam karena hanya sakit hati.

Namun dari kaca mata ilmiah, benarkah anda bisa berbuat sesuka hati karena ketidakterlihatan anda tersebut? Anggaplah bahwa saat ini teknologi sudah maju dan teknologi tersebut dijual ke publik sehingga menjadi tidak terlihat bukan lagi sebuah impian. Secara awam memang menjadi tidak terlihat berarti kita memang bisa berbuat sesuka hati. Namun, sayangnya menurut kaca mata ilmiah, ada kekurangan vital jika anda menjadi seorang yang tidak kasat mata yaitu anda akan menjadi BUTA atau tidak bisa melihat. Kenapa begitu??

Sederhananya begini. Karena tubuh kita terdiri dari materi (zat) dan energi, maka jikalau kita ingin menjadi tidak terlihat maka secara materi tubuh kita harus terbuat 100% sama dengan media atau lingkungan tempat kita berada. Jadi jikalau kita berada di darat dan ingin menjadi tidak terlihat, maka tubuh kita harus juga terbuat dari 100% udara. Sedangkan jikalau kita ingin tidak terlihat di air maka tubuh kitapun harus terbuat dari 100% air. Jikalau tubuh kita 100% terbuat dari udara namun kita berada di air, maka kita tidak lagi menjadi tidak terlihat karena nanti akan terlihat bolongan di dalam air berbentuk manusia yang sedang berjalan-jalan. Begitu pula jikalau tubuh kita terbuat dari 100% air namun kita berada di darat, maka tentu kita tidak lagi menjadi tidak terlihat karena nanti ada manusia berwujud air yang sedang berjalan-jalan. Andaikan tubuh kita tidak bisa persis 100% sama materialnya dengan lingkungan kita, maka 99,99..% persamaan material tubuh kita dengan lingkungan kita (udara) sudah cukup untuk menyulitkan mata orang untuk membedakan tubuh kita dengan udara.

Nah, seperti yang telah kita pelajari sejak SD, bahwa mata kita berfungsi sebagai kamera. Mata kita terdiri dari lensa kristalin, gel bening mata (vitreous humour) dan juga elemen-elemen lainnya yang menangkap cahaya dan bayangan benda yang kita lihat untuk kemudian divisualisasikan di dalam otak kita. Mata kita dapat mengangkap cahaya dan bayangan benda dengan baik karena mata kita dapat membiaskan cahaya dengan baik. Hal tersebut terjadi karena indeks bias udara berbeda dengan indeks bias mata kita sehingga cahaya bisa dibiaskan dengan baik yang akhirnya dapat menangkap bayangan benda yang kita lihat. Nah, jikalau mata kita terbuat dari udara juga tentu indeks bias mata kita sama dengan indeks bias udara.  Hal ini tentu akan membuat cahaya tidak bisa dibiaskan oleh mata karena cahaya akan terus berjalan lurus menembus mata kita. Tentu kalau cahaya tidak bisa dibiaskan oleh mata kita tentu mata kita akan sangat sulit untuk menangkap bayangan benda yang tengah kita lihat yang pada akhirnya tentu berarti kita akan menjadi BUTA alias tidak bisa melihat!!

Sebenarnya secara ilmiah tentu banyak kelemahan-kelemahan lainnya jikalau kita menjadi si manusia tak kasat mata. Namun tentu kelemahan tidak bisa melihat alias buta ini akan menjadi faktor “penting” agar orang mengurungkan niatnya menjadi tidak terlihat karena misalnya, jikalau orang berotak mesum yang ingin menyelinap ke WC umum untuk melihat orang yang tengah buang hajat atau mereka yang ingin menyelinap ke kamar pengantin baru dan ingin melihat adegan ranjang yang seru tapi ternyata mereka tidak bisa melihat apa-apa, ya sama aja boong! Begitu juga bagi mereka yang ingin masuk ke gedung bioskop gratis, ternyata masuk ke gedung bioskopnya saja sudah susah apalagi nonton filmnya, ya juga sama aja oblong!!

Mau Pilih Partai Caleg Yang Mana……??

Bendera caleg dan partainya yang lebih banyak tidak berkibarnya di dekat rumah saya. Kalau begini, caleg mana yang memasang bendera ini juga tidak jelas.

Bendera-bendera caleg dan partainya yang lebih banyak tidak berkibarnya di dekat rumah saya. Kalau begini, caleg-caleg mana saja yang memasang bendera ini juga tidak jelas.

Pemilu legislatif sudah dekat. Namun sepertinya masyarakat masih adem ayem saja. Ada yang tau tetapi tidak peduli, ada juga yang tidak tahu kapan persisnya dan tentu saja tidak peduli. Pemilu kali ini memang atmosfirnya agak berbeda dengan pemilu-pemilu (legislatif) sebelumnya. Tidak seperti pemilu-pemilu yang sudah-sudah kali ini atmosfirnya agak lengang. Tidak ada lagi pengumpulan massa. Tidak ada lagi hingar bingar rally berputar-putar kota dengan suara pekikan nama-nama partai disertai suara mesin dan klakson motor dan mobil yang menderu-deru serta atribut-atribut partai yang seringkali mengganggu itu. Tak ada lagi ketua-ketua partai dengan kader-kadernya yang bercuap-cuap di depan massanya hingga bibirnya berbusa-busa. Semuanya relatif sepi dan lengang. Mungkin karena pada pemilu legislatif kali ini antarcaleg dari partai yang sama juga bersaing untuk mendapatkan satu kursi di dewan legislatif walhasil pemilu kali ini lebih kental persaingan individunya ketimbang persaingan partainya. Satu-satunya atmosfir “panas” yang ada menjelang pemilu ini adalah panasnya debat politik antar partai-partai yang hanya terjadi di televisi. Ada partai-partai yang sudah menyatakan “berseberangan” dengan partai-partai lainnya ada juga partai-partai yang saling gertak sambal demi gengsi partai masing-masing padahal mereka sama-sama malu-malu kucing dan padahal juga di pemerintahan sekarang yang akan berakhir ini, mereka duduk berkoalisi.

Sebenarnya dengan “melesunya” atmosfir pemilu kali ini ada keuntungan sekaligus kekurangannya. Keuntungannya salah satunya adalah bentrokan antarmassa partai di tingkat bawah dapat diminimalisasi, sementara kerugiannya adalah masyarakat yang tadinya tidak antusias dalam pemilu menjadi lebih tidak antusias lagi. Hal ini lebih diperparah dengan terlalu banyaknya caleg-caleg yang memasang baliho-baliho, stiker-stiker, bendera-bendera dan lain-lainnya. Sangking banyaknya, maka tidak sedikit orang yang justru sama sekali tidak hafal dengan caleg-caleg yang sudah memasang material-material kampanye di jalan-jalan tersebut! Saya pribadi sendiri tidak peduli ingat dengan nama-nama dan foto-foto para caleg yang terpampang di jalanan tersebut. Yang jujur saya tahu hanyalah Happy Bone Zulkarnaen. Bukan karena saya ingin memilihnya, tetapi karena namanya yang lucu aneh, sedangkan fotonya juga saya tidak ingat!

Nah, bagaimana dengan anda?? Apakah anda sudah mempunyai pilihan masing-masing?? Saya sendiri sampai saat ini belum punya pilihan dan kemungkinan besar akan golput jika sampai saat terakhir menjelang pemilu saya tetap tidak punya pilihan. Bagi anda yang sudah punya pilihan jangan ragu-ragu untuk memilih, sementara mereka yang sampai saat akhir menjelang pemilu nanti tetap tidak punya pilihan jangan ragu-ragu juga untuk golput atau anda bisa memilih secara acak atau undian. Mungkin dari rumah anda sebaiknya membawa dadu permainan Monopoly untuk mengundi mana caleg yang akan anda pilih nanti. Sekarang pertanyaannya, manakah pilihan yang lebih cerdas bijaksana, golput atau memilih sembarangan?? Kata orang bijak sih, pilihlah yang terbaik dari yang terburuk. Ya masalahnya, bagaimana kita tahu kita memilih yang terbaik dari yang terburuk jika kita tidak mengenal semuanya?????????

Walaupun saya nanti golput, sebagai orang yang selalu berusaha untuk berfikir obyektif dan netral, saya tetap mengatakan bahwa pemilu bukanlah sesuatu yang tidak penting karena bagaimanapun juga pemilu adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat yang demokratis. Ketidakikutan saya mencoblos , eh salah, mencontreng tentu tidak akan mengubah pandangan saya bahwa pemilu adalah bagian yang penting dari mekanisme demokrasi. Hanya saja, kalau saya tidak punya pilihan, bagaimana dong?? Apa saya harus bawa dadu Monopoly dari rumah untuk mengundi mana caleg yang saya pilih?? Atau saya hanya asal memilih saja?? Pilihan cerdas bijaksanakah seperti itu??