Monthly Archives: April 2009

Prosesor Komputer lawan Otak Manusia

sel syaraf

sel syaraf

Ketika komputer pertama kali memasuki rumah-rumah sebagai peralatan rumah tangga sehari-hari, banyak yang mengira jikalau komputer adalah benda yang sangat ‘pintar’ yang mampu memecahkan persoalan apapun juga termasuk problematika yang tidak bisa dipecahkan oleh manusia. Lalu tak lama kemudian istilah kecerdasan buatan  (artificial intelligence) yang dibuat oleh pakar komputer  menjadi akrab di telinga mereka yang sehari-hari berkutat dengan komputer. Namun ternyata skenario komputer lebih cerdas daripada manusia hingga hari ini belum terjadi. Apa yang membuat prosesor komputer dan otak manusia begitu beda dalam “berfikir” dan mengolah data?

Dalam otak manusia dan prosesor komputer sebenarnya sama-sama menggunakan sinyal listrik untuk bekerja. Namun cara transmisi sinyal listrik antara otak manusia dan prosesor komputer sangat berbeda. Di dalam otak manusia sinyal listrik yang dihasilkan bukan dengan cara aliran elektron seperti dalam kebanyakan sirkuit elektronik. Ini karena unit dasar dari sirkuit elektronik termsuk prosesor komputer adalah transistor sementara di dalam otak manusia unit dasarnya adalah sel syaraf (nerve cell). Namun sebenarnya perbedaan cara transmisi listrik pada otak manusia dan prosesor komputer saja belum membuat perbedaan yang nyata antara prosesor komputer dan otak manusia.

Sebuah komputer misalnya biasanya melakukan serangkaian operasi urut dengan cara, (misalnya dalam operasi sederhana) sekelompok transistor mengambil dua buah angka , lalu menambahkan kedua angka tersebut dan meneruskan hasilnya ke sekelompok transistor lainnya untuk diadakan manipulasi lebih lanjut dan seterusnya. Jadi, konfigurasi ‘alami’ dari sebuah komputer adalah sebuah transistor yang terhubungkan oleh transistor yang lain biasanya sebanyak dua buah.

Unit Pemroses Komputer

Mikroprosesor Komputer

Sementara itu, otak, beroperasi dengan cara yang sangat berbeda. Setiap sel syaraf (nerve cell) yang jumlahnya triliunan itu terhubung bukan hanya dengan dua atau tiga sel syaraf lainnya namun dengan ribuan sel syaraf lainnya. Jadi alur sinyal atau informasi yang mengalir ke dalam sebuah sel syaraf sangat kompleks karena bisa datang dari ribuan sel syaraf lainnya dan dapat mengalir ke ribuan sel syaraf lainnya. Itulah salah satu yang menyebabkan kenapa kemampuan otak manusia berbeda dengan kemampuan ‘otak’ komputer. Misalnya di dalam otak kita terdapat 1 triliun sel (kemungkinannya bisa lebih) dan setiap sel terhubung dengan paling sedikit 1000 sel lainnya maka di dalam otak kita paling sedikit ada 1.000.000.000.000.000 koneksi di antara sel-sel otak kita. Sebuah jumlah yang fantastis. Koneksi sebanyak itu tentu saja tidak mungkin ada dalam prosesor komputer karena dengan teknologi sekarang yang kita punyai saat ini membuat sebuah komputer sesuper apapun tingkat konektivitasnya masih jauh di bawah konektivitas sel-sel syaraf yang ada di otak kita.

Tentu itu hanya satu faktor saja kenapa kemampuan otak manusia masih di atas kemampuan ‘otak’ komputer pada saat ini. Penyebab-penyebab lainnya tentu masih ada karena masih banyak misteri dalam otak kita yang masih harus dipelajari lebih lanjut lagi……

Bumi Kita Semakin “Gemuk”……

earth_animated

Anda tentu telah mengenal atau minimal pernah mendengar tentang ilmuwan Inggris Sir Isaac Newton yang banyak berkontribusi dalam ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu Fisika (dan matematika). Salah satu kontribusi Newton dalam ilmu Fisika adalah hukum pergerakan (law of motion) dan hukum gravitasinya (law of gravity). Menurut hukum pergerakan yang kedua dari Newton dikatakan bahwasannya besarnya gaya ( disimbolkan sebagai ‘F’) merupakan perkalian dari massa benda tersebut dan percepatannya atau dalam rumus sederhana diekspresikan sebagai: F = m.a. Gaya adalah segala ‘kekuatan’ yang dapat mengubah kecepatan dan arah dari benda yang bergerak. Ketika kita mendorong meja misalnya, maka kita memberikan gaya kepada meja tersebut sehingga meja tersebut dapat bergerak. Nah, ketika meja tersebut bergerak dari keadaan diam sebelumnya, maka meja tersebut telah mengalami suatu percepatan. Jikalau kita tengah mengendarai mobil, ketika kita menginjak pedal gas mobil agar kecepatan mobil kita bertambah, maka dikatakan mobil mengalami percepatan juga. Jadi percepatan adalah perubahan kecepatan (yang dialami sebuah benda) dalam (per) satuan waktu. Biasanya dihitung per detik.

Di bumi ini, setiap waktu kita selalu mengalami gaya yaitu berupa gaya tarik bumi. Gaya tarik bumi yang bekerja pada diri kita sehingga kita selalu menapak di bumi ini adalah sebesar percepatan gravitas bumi dikalikan massa (berat) tubuh kita. Satuan gaya tarik bumi adalah Newton (N). Sedangkan percepatan gravitasi bumi adalah 9,8 \frac{m}{s^{2}} atau ada yang membulatkannya sebagai 10 \frac{m}{s^{2}}. Jadi gaya tarik bumi yang bekerja pada seseorang yang berbobot 75 kg misalnya, adalah sebesar 75 kg dikali 9,8 \frac{m}{s^{2}} sama dengan 735 newton. Percepatan gravitasi bumi disimbolkan dengan ‘g’. Jadi, gaya tarik bumi yang bekerja pada tubuh kita adalah: F = m.g.

Pada hukum gravitasi (law of gravity) Newton juga dikatakan bahwa jika ada dua buah benda yang saling tarik menarik maka gaya gravitasi yang bekerja di antara keduanya bergantung dari massa (bobot) keduanya dan juga jarak antara kedua titik pusat benda tersebut. Jikalau dituliskan dalam bentuk rumus maka gaya gravitasi yang bekerja di antara keduanya adalah:

F \: = \: \frac{Gm_{1}m_{2}}{R^{2}}
F = Gaya gravitasi yang bekerja di antara kedua benda
m1 = massa benda pertama
m2 = massa benda kedua
R = Jarak antara kedua titik pusat benda
G = Tetapan gravitasi universal = 6,67 x 10-11 \frac{N \: m^{2}}{kg^{2}}

Nah, andaikan misalnya ada sebuah bola tenis atau apel yang berada di permukaan tanah atau di permukaan bumi, maka gaya tarik bumi yang bekerja pada bola tenis  dan gaya gravitasi yang bekerja di antara bola tenis dan bumi ternyata sama. Nah, dari kedua rumus di atas kita dapat mencari massa atau bobot bumi. Misalkan m1 adalah massa bola tenis sedangkan m2 adalah massa bumi yang ingin kita cari, maka:

m_{1}\:g = \frac{Gm_{1}m_{2}}{R^{2}}

m1 bisa dicoret dari persamaan tersebut.
R adalah jarak antara titik pusat bumi dan titik pusat bola tenis. Namun karena jarak antara permukaan bumi ke titik pusat bola tenis jauh lebih kecil dibandingkan jarak titik pusat bumi ke permukaan bumi (yang merupakan jari-jari bumi) maka jarak antara permukaan bumi dan titik pusat bola tenis bisa diabaikan. Jari-jari bumi adalah 6,4 x 106 m.

Persamaan di atas menjadi:

m_{2} = \frac{(9,8\frac{m}{s^2})(6,4 \times 10^6m)^2}{6,67 \times 10^{-11} \frac{N\: m^2}{kg^2}} \approx 6 x 1024 kg.

Kini diketahui bahwasannya masa (bobot) bumi adalah 6 x 1024 kg. Sudah selesaikah pembahasan topik kita? Belum! Karena ternyata bumi kita setiap hari bertambah “gemuk” seberat 20 ton sehari! Ya, hal tersebut dikarenakan setiap hari bumi kita kejatuhan meteor, meteorit dan juga debu-debu kosmis yang bertebaran di luar angkasa ini. Dan menurut para ahli material-material luar angkasa yang menghujam bumi kita ini rata-rata setiap hari adalah 20 ton, membuat bumi kita setiap hari semakin bertambah gemuk seberat 20 ton. Kini pertanyaannya adalah dalam berapa tahun bumi kita akan menjadi dua kali bobotnya yang sekarang jika setiap hari ia bertambah “gemuk” seberat 20 ton (= 20.000 kg)? Maka jawabannya adalah:

6 \times 10^{24} kg \times \frac{1\: tahun}{365\: hari} \times \frac{1\: hari}{20.000 \: kg} \approx 8,22 x 1017 tahun.

Jadi bumi akan mencapai dua kali bobotnya yang sekarang kira-kira dalam waktu 822.000.000.000.000.000 tahun! Sedangkan menurut para ahli usia bumi kita baru 4,5 milyar (4.500.000.000) tahun. Jadi apa yang bisa disimpulkan dari fakta usia bumi dan lamanya waktu yang dicapai bumi untuk bertambah bobotnya sebesar dua kali tersebut? Ya betul! Berarti ketika bumi kita pada saat pertama kali terbentuk 4,5 milyar tahun yang lalu, sebagian besar materialnya (>99,99999%) sudah terbentuk. Anda dengan mudah dapat menghitungnya sendiri tentu saja……

Loh…. Katanya Rakyat Jangan Golput…..

Wah…. sepertinya enak juga nih menjadi pengamat politik amatiran, memperhatikan tingkah laku para politisi kita yang  “lucu-lucu” seperti politisi ‘amatiran’ juga yang tidak jelas dan membingungkan langkah-langkah politiknya. Para politisi itu mengatakan “Itulah politik…… sesuatu yang dinamis…..”. Walaupun mungkin pernyataan itu ada benarnya secara umum, tetapi secara khusus, khusus untuk kasus-kasus politisi-politisi kita pasca pemilu kali ini, sepertinya langkah-langkah mereka lebih menunjukkan kebingungan dan ketidakjelasan daripada kedinamisan.

Yang menang dan terlebih yang kalah sebenarnya kedua-duanya sama-sama menimbulkan ketidakjelasan. Yang menang, terlihat lebih tenang dan tidak bingung karena merasa di posisi yang lebih aman, sehingga kebingungan dan ketidakjelasannya nampak lebih sedikit. Padahal jikalau mereka di dalam posisi yang kalah juga belum tentu mereka setenang ini sekarang. Lha, wong menang aja masih membingungkan pihak lain yang ingin berkoalisi sehingga sekarang jadi pecah kongsi yang bisa jadi akhirnya merugikan kedua belah fihak.

Yang kalah (yang sementara berada di posisi kedua versi real count)….. nah ini….. lebih membingungkan lagi. Sebentar-sebentar menclok sini, sebentar-sebentar menclok sana, terus menclok sini lagi, lebih nggak jelas lagi. Katanya sih manuver-manuver politik yang katanya dinamis membingungkan itu demi yang terbaik bagi rakyat dan bangsa ini. Padahal….. sepertinya sih lebih banyak demi gengsi partai dan pribadi.

Tetapi ada lagi yang membuat rakyat saya bingung! Yaitu….. tentang adanya suara-suara yang ingin memboikot pilpres mendatang. Ya…. bagaimana saya nggak bingung, lha wong mereka-mereka yang politisi tersebut  yang sekarang ingin memboikot pilpres  dulunya banyak yang bersuara sampai berbusa-busa menghimbau agar rakyat jangan golput, eh, sekarang malah mereka yang mau ‘golput’ memboikot pilpres mendatang. Lah, bukannya itu berarti sama saja dengan mengajari rakyat untuk golput?? Jadinya kok kontradiktif seperti itu ya?? Kalau rakyat yang memboikot pemilu dengan memilih menjadi golput dikatakan sebagai ‘bukan warga negara yang baik’ lantas kalau para politisi yang ingin memboikot pilpres apa namanya?? Pembelajaran politik untuk rakyat?? Omong kosong! Kenapa kalau rakyat tidak puas dengan partai-partai politik “tidak boleh” memboikot pemilu tetapi jikalau partai-partai politik yang tidak puas terhadap KPU atau pemerintah boleh memboikot pemilu atau pilpres?? Apa jangan-jangan karena putus asa takut kalah dan malu kalau kalah bersaing ya?? Jangan-jangan nanti kalau mereka sudah di atas angin dengan tambahan suara dari partai yang suaranya signifikan ini lantas mereka ‘lupa’ akan wacana boikot pilpresnya. Wah kalau begitu justru malah ketahuan karena takut kalahnya. Ah, nggak tahu deh, yang jelas memang tingkah laku mereka saat ini sedang lucu-lucunya, pantas saja grup lawak Srimulat bubar karena kalah lucunya….!!

Cara Pembagian Kursi Parpol DPR-RI Pemilu Legislatif 2009

Bagi yang ingin mengetahui cara pembagian perolehan kursi di DPR-RI di setiap provinsi mari kita langsung masuk contohnya saja agar tidak terlalu banyak penjelasan.

Misalkan: Provinsi Antah Berantah mempunyai 2 Daerah Pemilihan (dapil). Dapil 1 memperebutkan 5 kursi sementara Dapil 2 memperbutkan 4 kursi di DPR. Partai yang ikut pemilu 9 April lalu misalnya ada 6 partai. Sebut saja partai A, B, C, D, E dan F.

Tahap pertama adalah menentukan jumlah suara yang sah dari masing-masing dapil. Nah, ketika pemilu telah digelar dan KPU telah selesai resmi menghitung suara yang sah ternyata suara yang sah dari Dapil 1 Provinsi Antah berantah sebanyak 5.000.000 suara sementara dari Dapil 2, suara yang sah mencapai 4.000.000 suara. Perincian suara yang sah dari kedua dapil adalah sebagai berikut:

Dapil 1 Provinsi Antah Berantah:
Partai A: 3.000.000 suara
Partai B: 750.000 suara
Partai C: 400.000 suara
Partai D: 350.000 suara
Partai E: 300.000 suara
Partai F: 200.000 suara

Dapil 2 Provinsi Antah Berantah:
Partai A: 2.000.000 suara
Partai B: 1.000.000 suara
Partai C: 400.000 suara
Partai D: 400.000 suara
Partai E: 150.000 suara
Partai F: 50.000 suara

Misalnya partai E dan partai F, tersandung Parliamentary Threshold 2,5% yaitu pendapatan suara nasional tidak lebih dari 2,5%, oleh sebab itu partai E dan F dicoret dari pembagian kursi untuk DPR-RI.

Tahap pertama adalah menentukan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yaitu jumlah suara yang sah dari partai-partai yang TIDAK tersandung parliamentary threshold dibagi dengan jumlah kursi yang diperebutkan di masing-masing dapil.

Dapil 1 : BPP = \frac{4.500.000}{5} = 900.000
Dapil 2 : BPP = \frac{3.800.000}{4} = 950.000

DAPIL 1:
Pembagian Kursi Tahap Pertama:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap I (BPP=900.000)
A 3.000.000 3
B 750.000
C 400.000
D 350.000

Dalam tabel di atas, hanya partai A yang mendapat kursi sebanyak tiga kursi yaitu: 3.000.000 dibagi BPP sama dengan 3 kursi dengan sisa suara sebanyak 300.000. Sementara partai-partai lain tidak mendapatkan kursi karena perolehan suaranya kurang dari BPP. Sisa kursi yang belum terbagi sebanyak dua kursi akan dibagi dalam Pembagian Kursi Tahap Kedua berikut ini:

Pembagian Kursi Tahap Kedua:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap II (BPP=450.000)
A 300.000
B 750.000 1
C 400.000
D 350.000

Nah, jumlah sisa suara yang belum terbagi di Pembagian Kursi Tahap Pertama, dipakai untuk Pembagian Kursi Tahap Kedua. Bilangan BPP untuk Pembagian Kursi Tahap Kedua diturunkan 50% menjadi 450.000. Dalam Pembagian Kursi Tahap Kedua ini hanya partai B lah yang mendapat kursi karena sisa suaranya lebih besar daripada BPP. Kursi yang diperoleh Partai B hanya 1 yaitu 750.000 dibagi BPP dengan sisa suara sebanyak 300.000. Ada satu kursi sisa yang belum dibagi. Nah, sisa kursi ini akan diperebutkan dalam Pembagian Kursi Tingkat Provinsi.

Pembagian kursi untuk Dapil 2 juga melalui proses yang sama:

DAPIL 2:
Pembagian Kursi Tahap Pertama:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap I (BPP=950.000)
A 2.000.000 2
B 1.000.000 1
C 400.000
D 400.000

Pembagian Kursi Tahap Kedua:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap II (BPP=475.000)
A 100.000
B 50.000
C 400.000
D 400.000

Terlihat pada Pembagian Kursi Tahap Kedua Dapil 2 Provinsi Antah Berantah tidak ada satu partaipun yang mendapatkan kursi karena jumlah sisa suara semua partai di bawah BPP. Nah, untuk itu, sisa kursi sebanyak satu buah yang belum diperebutkan akan diperebutkan pada Pembagian Kursi Tingkat Provinsi bersama-sama dengan sisa kursi dari Dapil 1.

PEMBAGIAN KURSI TINGKAT PROVINSI:

Pada pembagian kursi di tingkat provinsi ini suara-suara yang tersisa dari kedua dapil dijumlahkan kemudian dicari angka BPP baru. BPP baru diperoleh dengan cara membagi sisa suara keseluruhan partai dari keseluruhan dapil dibagi dengan sisa kursi yang masih diperebutkan. Jadi dalam kasus provinsi Antah Berantah ini BPP baru di tingkat provinsi adalah: 2.750.000 dibagi 2 sama dengan 1.375.000.

Parpol Sisa Suara Dapil I Sisa Suara Dapil II Total Sisa Suara Pembagian Kursi (BPP=1.375.000)
A 300.000 100.000 400.000
B 750.000 50.000 800.000 1
C 400.000 400.000 800.000 1
D 350.000 400.000 750.000
Total 2.750.000 2

Dalam Pembagian Kursi Tingkat Provinsi terlihat bahwa tidak ada satu partaipun yang sisa suaranya menyamai apalagi melebihi BPP (1.375.000). Untuk itu pembagian sisa kursi di tingkat provinsi dilihat dari sisa suara terbanyak masing-masing partai. Dua partai dengan suara terbanyak masing-masing mendapatkan satu sisa kursi yang tersedia. Dalam kasus ini, partai B dan C lah yang mempunyai sisa suara terbanyak. Dengan begitu partai B dan partai C lah yang berhak mendapatkan kedua sisa kursi tersebut.

Dengan habisnya sisa kursi yang diperebutkan di tingkat provinsi maka selesailah proses pembagian kursi provinsi Antah Berantah untuk DPR-RI. Jadi komposisi kursi Provinsi Antah Berantah untuk DPR-RI untuk masing-masing parpol adalah:
Partai A = 5 kursi
Partai B = 3 kursi
Partai C = 1 kursi
Partai D = 0 kursi

Catatan:

Pembagian kursi di tingkat DPRD lebih sederhana lagi. Pertama-tama ditentukan dulu masing-masing BPP di tiap-tiap dapil. Lantas kursi dibagi berdasarkan BPP tersebut. Jika masih ada sisa kursi, maka kursi langsung dibagikan berdasarkan suara terbanyak. Tidak ada proses perebutan kursi dengan BPP 50% dan tidak ada Parliamentary Threshold 2,5%.

Satu Cangkir, Satu Sendok Makan dan Satu Sendok Teh

Cangkir Ukur

Cangkir Ukur

 

Sendok Ukur

Sendok Ukur

Bagi anda yang sudah punya anak atau minimal dulu pernah jadi anak, tentu anda pernah atau masih ingat bagaimana anda memberikan atau diberikan obat atau multivitamin dengan dosis sendok makan atau sendok teh. Entah itu satu sendok teh, setengah sendok teh, satu sendok makan dan sebagainya. Atau mungkin bagi anda yang gemar memasak, tentu juga anda sering menemukan ukuran satu sendok makan, setengah sendok makan, satu sendok teh, setengah sendok teh dan sebagainya.  Juga dalam buku memasak yang sering kita jumpai (apalagi buku-buku masakan bulé) sering kita jumpai takaran atau ukuran 1 cangkir (one cup) setengah cangkir (half a cup) dan sebagainya.

Bagi mereka yang sudah sangat ahli dalam memasak tentu mereka tidak terlalu terpengaruh dengan ukuran-ukuran tersebut karena tangan mereka telah terbiasa dengan ukuran-ukuran seperti itu, tanpa alat bantupun mereka sudah sangat pandai mengira-ngira. Walaupun ukurannya kurang tepat, dalam memasak paling-paling resikonya adalah rasanya yang sedikit ‘berubah’ dari standard ketika masakan tersebut jadi. Namun mungkin tidak begitu halnya dengan dosis obat. Jikalau dokter meresepkan obat tiga kali setengah sendok makan misalnya, tentu sebaiknya (baca: seharusnya) obat tersebut benar-benar dikonsumsi tiga kali setengah sendok makan dan bukan tiga kali satu sendok makan ataupun satu kali satu setengah sendok makan dan sebagainya. Ketepatan dosis ini tentu saja perlu, agar senantiasa obat dapat bekerja memberikan efek kesembuhan yang optimal dan meminimalisasi efek-efek negatif yang mungkin ditimbulkan oleh si obat jika diberikan dengan dosis berlebih. Kesalahan dosis ini menjadi lebih terasa jikalau kesalahan tersebut terakumulasi dari waktu ke waktu.

Nah, sekarang  jika kita mendengar kata ‘sendok teh’ atau ‘sendok makan’  kita pasti ingatnya adalah sendok teh dan sendok makan sehari-hari yang sering kita gunakan di rumah. Begitu pula jikalau kita mendengar kata ‘cangkir’ (cup), ingatnya adalah cangkir teh kita yang ada di rumah. Padahal volume atau isi cangkir kita bisa saja berbeda dengan volume cangkir tetangga kita. Bahkan antar volume cangkir kita sendiri yang berlainan seri bisa saja berbeda.

Untuk itu di negara-negara maju, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ukuran satu sendok makan, satu sendok teh, dan satu cangkir didefinisikan secara ‘eksak’ oleh hukum. Ada sedikit perbedaan antara ukuran-ukuran tersebut di AS dan di Inggris:

Ukuran uk_flag us_flag
sendok teh 5 ml 4,93 ml
sendok makan 15 ml 14,79 ml
cangkir 285 ml 236,59 ml

Saya pernah iseng mengukur ketepatan isi sendok teh dan makan yang sering saya gunakan di rumah dan dibandingkan dengan ukuran sendok teh dan sendok makan ukuran standard AS. Ternyata hasilnya cukup tidak tepat. Isi satu sendok makan yang ada di rumah saya ternyata isinya hanya lebih banyak sedikit daripada isi satu sendok teh standard AS. Begitu pula dengan ukuran satu sendok teh yang ada di rumah saya, setelah diukur ternyata kira-kira hanya dua pertiga standard ukuran sendok teh AS. (Catatan: standard ukuran sendok teh/makan AS di sini maksudnya bukan sendok teh/makan buatan AS tetapi lebih kepada ukurannya!!)

Nah lho, jadi bagaimana dong?? Jangan khawatir, di supermarket dan juga apotik-apotik yang besar biasanya dijual measuring spoons yang standard (seperti gambar di atas contohnya). Biasanya menurut measuring spoon yang standard itu, satu sendok teh sama dengan 5 ml sementara satu sendok makan sama dengan 15 ml. Atau satu sendok makan sama dengan tiga sendok teh. Juga untuk ukuran cangkir (cup) biasanya dijual juga measuring cup (seperti contoh gambar di atas) yang banyak dijual di supermarket-supermarket. So, bagi orang-orang yang sangat mengutamakan ketepatan pengukuran (seperti saya ini) dapat menggunakan alat-alat bantu seperti di atas yang sangat menolong tersebut. :mrgreen:

Catatan:

Di Australia, ukuran satu sendok makan (20 ml) sama dengan empat sendok teh (5 ml).

Energi Dahsyat Dari Tempe!!

Tempe
Tempe

Jangan pernah meremehkan tempe karena energi yang dihasilkan bisa jadi melebihi energi yang dilepaskan oleh bom atom yang dijatuhkan AS di kota Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II yang lalu. Kok bisa begitu?? Nah, untuk itu tanpa bertele-tele lagi mari kita langsung ikuti energi-energi apa saja yang mungkin dapat dihasilkan oleh tempe tersebut.

Energi Kimia
Menurut informasi yang saya dapatkan dari situs ini, 80 gram tempe dapat menghasilkan energi sebesar 150 Kalori. Energi tersebut kira-kira setara dengan 628 kilojoule. Energi sebesar itu dapat membuat suhu 2,1 kg air naik dari 25°C menjadi 95°C:
Q= mcΔt.
Q = 628.000 joule.  c air = 1 kalori/g°C = 4,19 joule/g°C
Δt= (95-25)°C = 70°C
628.000 = m x 4,19 x 70
m = \frac{628.000}{70 \times 4,19} \approx 2100 gram atau 2,1 kg.
Jikalau 2,1 kg air tersebut adalah air murni maka volume air tersebut kira-kira adalah 2,1 liter.
Energi dari 80 gram tempe tersebut saja sudah cukup dahsyat bukan? Walaupun energi sebesar itu masih jauh di bawah energi yang dilepaskan oleh bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima tentu saja. Energi dari tempe tersebut merupakan energi kimia yang terdapat di dalam tempe tersebut jikalau tempe tersebut dimakan. Energi tersebut kebanyakan berasal dari karbohidrat, lemak dan protein yang ada pada tempe tersebut. Energi tersebut didapat dari perubahan komposisi kimiawi dari sang tempe. Tentu saja banyaknya energi kimia dari sebuah makanan tergantung daripada komposisi zat gizi (nutrien) dari makanan tersebut.
Ok… sekarang energi apa lagi yang mungkin dihasilkan oleh sepotong tempe?? Yang dua berikut ini sedikit ‘maksa’ tapi serius dan ilmiah !! :mrgreen:
Energi Kinetik
Nah, jikalau anda ingin merasakan energi kinetik dari tempe mudah saja. Jatuhkan tempe seberat 1 kg ke kepala anda dari ketinggian 10 meter dari kepala anda. Berapakah energi yang dirasakan oleh kepala anda?? Seperti yang telah kita pelajari dari SMP, rumus energi kinetik adalah:
E_{k} = \frac{1}{2} m v^{2}
m = 1 kg.
v = \sqrt{2gh} <—— rumus kecepatan benda ketika sampai di tanah kepala yang berasal dari rumus Gerak Jatuh Bebas (namun tentu saja rumus ini sangat mengabaikan faktor udara).
g = 10 m/s2 <———– tetapan percepatan gravitasi bumi.
h = 10 m.
jadi v = \sqrt{2 \times 10 \times 10} \approx 14 m/s.
Jadi energi kinetiknya adalah: E_{k} = \frac{1}{2} \times 1 \times 14^{2} = 98 joule.
Tentu energi ini sangat ‘kecil’. Bandingkan dengan energi yang dihasilkan oleh mobil seberat 1 ton yang melaju kencang 80 km/jam. Ketika anda berada di jalan dan anda tiba-tiba ditubruk mobil seberat 1 ton yang tengah melaju kencang 80 km/jam, maka anda akan merasakan energi (yang tentu saja dapat berakibat fatal tersebut)  sebesar:
E_{k} = \frac{1}{2} m v^{2}
m = 1 ton = 1000 kg
v = 80 km/jam \approx 22 m/s
jadi energi kinetiknya \frac{1}{2} x 1000 x 222 = 242.000 joule atau 242 kilojoule.
Nah, besar kecilnya energi kinetik dari tempe tersebut tentu bukan ditentukan oleh zat gizi yang terkandung di dalam tempe tersebut namun semata-mata tergantung dari massa (berat) tempe tersebut dan kecepatan tempe tersebut saat menimpa kepala anda suatu benda. Andaikata tempe yang dijatuhkan adalah seberat 1 ton dan kecepatan tempe pada saat menimpa kepala anda adalah 80 km/jam (untuk itu harus dijatuhkan dari tempat yang lebih tinggi lagi) maka energi yang dihasilkan 1 ton tempe ini sama besar dengan energi yang dihasilkan 1 ton mobil yang sedang melaju pada kecepatan 80 km/jam tersebut yang dapat dirasakan ketika mobil tersebut menabrak tubuh seseorang.
Konversi Massa Menjadi Energi
Nah, menurut fisika klasik ketika benda dalam keadaan diam maka ia tidak mempunyai energi (kinetik) karena kecepatan benda adalah 0 km/jam. Namun ternyata opa Einstein berpendapat lain. Ia berpendapat bahwa walaupun benda tersebut diam namun massa setiap benda adalah ‘kumpulan’ dari energi dan massa dapat dikonversikan menjadi energi lewat rumusnya yang sangat terkenal tersebut: E = mc2.
Contoh adalah 80 gram tempe di atas. Berapakah energi yang dihasilkan dari 80 gram tempe di atas jika seluruh massa tempe tersebut diubah menjadi energi?
E = mc2
m = 80 gram = 0,08 kg
c = 3 x 108 m/s <—— tetapan kecepatan cahaya
E = 0,08 x (3 x 108)2 = 7,2 x 1015 joule.
Energi sebesar itu tentu sangat besar sekali. Sebagai perbandingan energi bom atom yang dilepaskan di Hiroshima adalah sebesar 13 kiloton TNT yang setara dengan 5,4 x 1013 joule.  Jadi energi yang dihasilkan oleh 80 gram tempe yang dihasilkan ketika seluruh massa tempe tersebut diubah menjadi energi maka energi yang dihasilkan tersebut lebih dari 100 kali energi yang dihasilkan dari bom atom yang diledakkan di Hiroshima!! Dahsyat bukan?? Sayang…. sampai hari ini belum ada teknologi yang sanggup mengubah massa benda seperti tempe ini menjadi energi. Jikalau sudah ada tentu bisa jadi problema krisis energi yang terjadi saat ini dapat dipecahkan. Apalagi bukan hanya tempe yang bisa diubah menjadi energi, tetapi setiap benda yang bermassa dapat diubah menjadi energi termasuk barang-barang bekas anda yang sudah tidak terpakai lagi bahkan tahi kucingpun dapat diubah menjadi energi !! :mrgreen:

Selamat Bagi Yang Menang…….

Pengumuman hasil akhir resmi KPU masih lama, namun dari berbagai hasil Quick Count yang metodenya sangat terpercaya sudah bisa diketahui partai mana pemenangnya. Untuk itu saya mengucapkan selamat saja deh buat pemenangnya. Buat yang kalah semoga bisa belajar berbesarhati menerima kekalahannya karena dari setiap peristiwa elektoral seperti ini memang harus ada yang kalah dan harus ada yang menang.

Sementara buat yang menang tentu jangan merasa terlalu berbesarhati dan terlalu mabuk kemenangan. Karena kemenangan dalam pemilu ini baru sebagai titik awal saja untuk ujian lebih lanjut lagi (terlebih jika partai pemenang legislatif ini nantinya akan juga memenangi pemilu presiden nantinya) yaitu membawa negeri dan bangsa ini kepada status yang ‘lebih tinggi’ lagi di segala bidang (bukan hanya di bidang ekonomi) pada lima tahun mendatang. Seperti seorang mahasiswa, kemenangan dalam pemilu ini ibarat sang mahasiswa baru sukses dalam ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Namun tentu ujian seleksi masuk perguruan tinggi ini bukanlah tujuan akhir si mahasiswa, tujuan akhir si mahasiswa adalah tentu saja lulus dari perguruan tinggi tersebut dengan hasil sebaik mungkin. Begitu juga dengan parpol pemenang pemilu, apakah nanti lima tahun mendatang ia akan lulus dengan predikat memuaskan, biasa-biasa saja atau mungkin juga ia tidak lulus. Semuanya bisa saja tejadi.

Namun begitu, siapapun pemenang pemilu kali ini (dan tentunya juga pemenang pemilihan presiden kelak) harus sepenuhnya kita dukung. Karena pemenang pemilu ini sudah lewat mekamisme demokrasi yang cukup baik (walaupun masih banyak ada kelemahan di sana sini). Jadi siapapun pemenangnya mari kita dukung pemenang pemilu tahun ini untuk menjalankan roda pemerintahan dan fungsi legislasi untuk lima tahun mendatang. Mendukung di sini tentu saja bukan berarti harus seiya-sekata, namun juga termasuk koreksi dan kritik yang membangun. Ingat: kritik yang membangun yang kalau bisa dilengkapi dengan jalan alternatif yang komprehensif. Jangan hanya sekedar kritik dengan semangat hanya untuk menjelek-jelekkan lawan politiknya. Bagaimanapun juga jika setiap komponen bangsa di negeri ini dapat bekerjasama demi kemajuan bangsa dan tidak melulu hanya memikirkan parpolnya semata tentu hasilnya akan jauh lebih baik karena saya juga yakin bahwa partai ataupun pemerintahan yang bakal menang pemilu tahun ini bukanlah partai ataupun pemerintahan yang super. Merekapun membutuhkan input yang berharga dari setiap komponen bangsa. Ingat: Pemenang dari setiap pemilu hanyalah karena mereka adalah yang paling dipilih rakyat namun mereka belum tentu yang terbaik di negeri ini.

Nah, sebagai akhirul kata sekali lagi saya mengucapkan selamat bagi parpol pemenang pemilu legislatif kali ini……..