Kepentingan Nasional Atau Kepentingan Segelintir Elit?

Ya…. inilah Hari-H yang ditunggu-tunggu. Semua orang yang berwarganegara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk memilih sangat diharapkan untuk memberikan suaranya di TPS-TPS guna ikut menentukan ‘nasib’ bangsa ini untuk 5 tahun ke depan. Apakah anda sudah punya pilihan?? Ataukah anda tidak punya pilihan?? Atau anda tidak dapat memutuskan mana yang terbaik?? Atau anda menganggap semua sama buruknya baiknya sehingga anda tidak begitu antusias untuk memilih? Atau… anda punya seribu alasan lain mengapa anda memilih dan mengapa anda tidak mau memilih??

Hmmm… apapun pilihan anda (baik memilih atau tidak memilih) itulah hak anda. Walaupun saya sudah confirm untuk memilih sebuah partai (tetapi saya TIDAK AKAN memilih caleg), saya tetap berpandangan netral bahwa yang tidak memilih (baik partai ataupun caleg) bukan berarti tidak peduli dengan negara atau bangsa ini. Ada 1001 cara, bahkan lebih, untuk menunjukkan kepedulian kita kepada bangsa ini. Dan persoalan memilih dalam pemilu ini HANYA salah satu saja cara mengekspresikan kepedulian kita kepada bangsa ini, dan saya juga percaya memberikan suara di dalam pemilu bukanlah ekspresi yang TERpenting dalam menunjukkan kecintaan kita kepada bangsa ini.

Bagi sebagian orang yang sangat berkepentingan dengan PEMILU ini, seperti golongan elit politisi, para caleg, dan juga termasuk insan-insan pertelevisian agar siaran mereka laris abis:mrgreen: pasti mereka akan mengatakan dengan tegas “Mari Memilih. Janganlah Golput!”. Sebaliknya mereka yang sama sekali tidak berkepentingan dengan PEMILU bahkan PEMILU dirasakannya cenderung sangat mengganggu aktivitasnya sehari-hari mereka akan mengatakan: “Emang Gue Pikirin!”. Semuanya dengan perspektif dan logikanya sendiri-sendiri yang kalau diperdebatkan tidak akan habis-habis….

Begitu pula bagi mereka yang sangat berkepentingan dengan Pemilu ini mereka akan mengatakan: “Pemilu ini adalah kepentingan bangsa atau nasional atau whatever-lah yang tidak jauh-jauh dari situ….”. Sementara mereka yang sinis dengan Pemilu akan menganggap: “Pemilu ini cuma permainan ajang elit politik saja demi kepentingan partai bahkan demi kepentingan pribadi…..”. Lantas yang benar yang mana?? Pemilu ini adalah kepentingan nasional, kepentingan segelintir elit/pribadi atau kepentingan elit/ pribadi yang menumpang pada kepentingan nasional?? Lagi-lagi saya tidak berani menjawab karena menurut saya kedua-duanya ada benarnya juga. Jadi mana dong yang lebih penting?? Menjalankan kepentingan nasional atau tidak menjalankan sesuatu hanya demi kepentingan pribadi/elit politik tertentu yang menumpang pada kepentingan nasional?? Lagi-lagi masing-masing punya argumentasi sendiri-sendiri yang tidak akan pernah tuntas jika diperdebatkan. Menurut saya pribadi, tidak apa-apa untuk tidak menjalankan sesuatu hanya demi kepentingan pribadi/elit politik tertentu asal tidak mengganggu kepentingan nasional. Jikalau kepentingan nasional terganggu karena yang tidak ikut pemilu sudah banyaaaaaaaaak sekali tentu adalah tugas kita untuk turun tangan memperbaiki keadaan dengan ramai-ramai mencoblos. Tetapi tentu saja para elit politik (dan justru merekalah yang terpenting untuk diperbaiki!) juga harus ikut memperbaiki kepentingan nasional yang terganggu dengan memperbaiki dirinya sendiri. Jangan cuma meminta rakyat untuk tidak golput tetapi mereka sendiri tidak mau memperbaiki diri seperti yang selama ini terjadi. Kewajiban memenuhi kepentingan nasional adalah kewajiban setiap warga negara termasuk kewajiban para elit politik. Dan perbaikan diri para elit politik juga dapat dilihat sebagai usaha perbaikan demi kepentingan nasional yang sama pentingnya bahkan jauh lebih penting dibandingkan me-non-golput-kan rakyat Indonesia!

Nah kalau saya pribadi, kenapa saya pada akhirnya ingin memilih?? Pertimbangannya adalah bukan karena ‘kepentingan nasional’ atau bukan. Namun lebih kepada rasa bersyukur saya karena (**halaah sok bijak:mrgreen: **) demokrasi di negeri ini telah berjalan dengan baik walaupun masih ada kekurangan di sana-sini terutama dengan masih banyaknya oknum-oknum yang ‘menodai’ demokrasi di negeri ini. Namun yang jelas, demokrasi di negeri ini telah berjalan dengan baik dibandingkan 10 tahun yang lalu, atau minimal demokrasi di negeri ini masih jauh lebih baik dibandingkan di negeri jiran kita yang katanya serumpun itu. Nah, rasa bersyukur ini saya wujudkan dengan ikut berpartisipasi dalam Pemilu kali ini.

OK, sebagai akhirul kata, saya ingin menghimbau bagi mereka yang ingin menyontreng pada pagi ini, contrenglah partainya saja jangan contreng calegnya! Biar para caleg yang sudah mengeluarkan biaya besar untuk menarsisiskan dirinya dengan baliho-baliho dan poster-poster yang menggelikan itu pada keki semua. Yang penting tidak golput kan?? Huehehehe…….:mrgreen:

Ya sudah segitu saja. Selamat memilih dan jangan ragu-ragu untuk memilih pilihan anda bagi anda yang ingin memilih. Sementara bagi mereka yang memang tidak niat untuk memilih, saya percaya anda pasti juga punya pertimbangan yang sangat baik mengapa anda sampai mempunyai keputusan untuk tidak memilih…..πŸ™‚

21 responses to “Kepentingan Nasional Atau Kepentingan Segelintir Elit?

  1. wah saya white grup nih abis ktp surabaya skrg di bdg ya gimana mau milih? mau pulang aja males hehehe….

  2. ehm… saya sudah memilih dengan pilihan yang bulat dan yakin pada saat saya tadi memberikan suara saya. saya yakin…. makanya saya pilih…

  3. saya golput, bukankah golput itu sebuah pilihan ?

    salam kenal
    Mp3 Lagu Indonesia

  4. OK, sebagai akhirul kata, saya ingin menghimbau bagi mereka yang ingin menyontreng pada pagi ini,

    ah sayah bacanya terlambat akhi
    *usap-usap jenggot*:mrgreen:

  5. @Ag bint

    Kalau niat sih sebenarnya bisa aja…. karena niatnya kurang kuat jadinya males deh… huehehehe….. tapi nggak apa2 kok…. mereka yang golput punya kesempatan yang sama besar dengan yang non-golput untuk menunjukkan kepeduliannya kepada bangsa dengan cara yang lain tentu saja…πŸ˜€

    @aris

    Ya syukur deh alhamdulillah kalau memang mantap punya pilihan….πŸ™‚

    @Guest Who

    Betul sekali. Dan pilihan yang ‘sah’ pula menurut undang-undang…πŸ˜€
    Salam kenal juga….

    @almascatie

    Huehehehe….. kenapa? Menyesal ya milih calegnya??:mrgreen:

  6. saya sudah menentukan pilihan !!!!!πŸ™‚

  7. Memilih atau tidak memilih itu juga pilihan, yaitu memilih untuk tidak memilih. Katanya sih Demokrasi adalah sistem yang paling hebat. Tapi buktinya Abdul Aziz Angkat di Medan jadi korban Demokrasi. Katanya demokrasi adalah berbanding lurus dengan pembangunan politik suatu bangsa, padahal banyak negara yang tidak menerapkan demokrasi malah maju. Indonesia yang menerapkan demokrasi dari awal malah bobrok tuh politiknya. Korupsi dimana-mana. Masak ya ada kampanye pake porno aksi, masak caleg maksa memilih dengan bagi-bagi uang dan sembako. Caleg seperti itu yang kita pilih? Kita memilih legislatif seperti mendorong mobil mogok setelah mobil hidup si pendorong ditinggal pergi tanpa ucapan terima kasih. Kalau menurut saya tidak perlu kita terapkan demokrasi, yang penting negara maju rakyat sejahtera, tidak perlu caleg umbar janji dan maksa-maksa dengan bagi-bagi uang dan sembako. Suara rakyat suara tuhan?? kalau rakyatnya bego semua terpilih pemimpin bego!! Tuhannya Be..?? Tidak perlu rakyat ikut memikirkan negara. Biarkan saja pejabat negara yang memikirkan negara, hukum dan sebagainya. Setiap negara pada dasarnya memang Elit yang berkuasa, ya biarkan dia berkuasa, kalau mau jadi elit juga harus fit and proper test dulu. Karena tidak semua suara terbanyak adalah yang terbenar. Ada suara benar tetapi tidak banyak. Karena orang-orang paling pintar di setiap negara itu cuma sedikit. Dan orang itulah yang seharusnya jadi elit.

  8. Saya contreng caleg wanita yang paling cantik, he..he..

  9. Pak kalau ga terdaftar kayak saya gmn? Ga memilih juga gpp kan?πŸ˜€

    Oiya, kenapa sih istilahnya hari-H? Bukan hari-A, hari-B, atau hari-hari yang lain?πŸ˜€ Untuk hari raya, disebutnya hari-H, untuk pemilu, disebut hari-H juga. Duh bingung…:mrgreen:

  10. @NELSON

    Ya… syukur… Alhamdulillah jika anda sudah punya dan sudah menentukan pilihan dengan mantabz….πŸ˜€

    @Sobirin NUR

    Menurut saya pribadi memang golput adalah sebuah pilihan hak azazi seseorang. Namun begitu saya berpendapat bahwasannya mencontreng itu lebih baik. Namun juga, saya TIDAK pernah mengatakan bahwasannya yang mencontreng sudah pasti merupakan warga negara yang lebih baik secara umum dibandingkan yang tidak mencontreng (golput). Karena menurut saya seorang warga negara yang baik atau peduli dengan bangsanya bukan hanya dilihat dari apakah ia ikut pemilu atau tidak.

    Nah, mengenai ‘pilihan’ antara demokrasi dan kemakmuran seperti pada opini anda, saya sangat tidak setuju. Demokrasi dengan kemakmuran bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Karena apa?? Karena kita harus menggapai dua-duanya. Bisa saja orang mengatakan: “negara jiran kita tidak demokratis tetapi makmur!”. Pertanyaannya adalah: “Jikalau negara kita menjadi tidak demokratis seperti negara jiran kita apakah otomatis negara kita menjadi makmur?? Apa jaminannya atau siapa yang berani menjamin??” Bagaimana jikalau ternyata setelah negara kita menjadi tidak demokratis tetapi ekonomi kita juga tidak maju?? Itu namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Andaikan taruhlah misalnya negeri kita jadi makmur, namun apakah kemakmuran itu benar2 solid atau hanya semu?? Seperti kita di zaman orde baru dan seperti di negeri jiran kita sekarang seperti banyak yang dikatakan para ekonom internasional. Negeri jiran kita itu hanya nampak baik pada indikator2 ekonomi. Sedangkan pada indikator2 non-ekonomi negeri jiran kita itu tak ubahnya seperti negara-negara berkembang lain. Atau dengan kata lain prestasi-prestasi non-ekonomi mereka masih mirip negara2 berkembang lainnya bahkan prestasi mereka banyak yang di bawah negeri kita.

    Nah, jadi kesimpulannya demokrasi dan kemakmuran bukanlah suatu yang harus dipertentangkan. Hal itu sama saja dengan mempertentangkan antara kebutaan dan ketulian. Tentu sebagai manusia normal kita tidak meinginginkan keduanya karena kedua pancaindra kita tersebut memang sangat bermanfaat…..πŸ™‚

    @ubadbmarko

    Sah-sah saja sih. Asal jangan tertipu saja nanti cantiknya karena Potosop huehuehue…..πŸ˜€

    @Al Jupri

    Wah…. kalau tidak terdaftar itu adalah alasan yang paling sempurna untuk menjadi golput. Huehehe…..

    Kenapa hari-h, bukan hari-a, hari-b, hari-i, dsb….?? Itu karena diambil dari bahasa Inggris d-day yang berarti hari dilaksanakannya sebuah operasi yang telah lama direncanakan. Huruf ‘d’ diambil dari huruf pertama ‘day’. Jadi kalau di Indonesia diterjemahkan jadi hari-h, kalau Bahasa Perancis jadi ‘jour-j’ dsb….πŸ˜€

  11. Ada satu langkah kongkrit di mana dengan ikut memilih partai yang bersih, juga dapat memperkecil partai-partai begundal menempatkan para penjahat di legislatif.

    Memilih partai tanpa memilih calegnya terdengar menarik juga, Pak Yari. Caleg-caleg yang pada dasarnya tidak tahu sedang mewakili siapa mereka…

  12. @Yari NK: oooo.. saya baru tahu niy… makasih ya. Padahal dari dulu mau nanya2, tapi malu.πŸ˜€ Ya udah nanya ke Pak Yari ajah..πŸ˜€ Sekali lagi makasih…πŸ˜€

  13. lagi nunggu hasil akhir pemilu..

  14. Saya ngga punya pilihan pak, buset dah, saya ngga mau caleg david beckham, crayon sinchan, ato papanya artis……. akh, apalagi caleg naruto kesukaan saya, saya ngga mau hidup seperti ngimpi di dunia nyata, ditambah lagi prosedur disini yang rada aneh, akhirnya GOLPUT!

  15. @Daniel Mahendra

    Nah…. itu dia, caleg-caleg memang kebanyakan tidak tahu siapa yang direpressentasikannya. Mereka lebih hanya kepada ambisi dan motivasi pribadi. Partaipun hanya sekedar fasilitas saja guna mencapai tujuan dan ambisi pribadinya itu. Sungguh menyedihkan ya jika negeri kita dipenuhi caleg-caleg seperti itu??😦

    @mathematicse

    Terima kasih kembali….πŸ˜€

    @ILYAS ASIA

    Nggak usah ditungguin nanti juga keluar sendiri… huehehe…πŸ˜€

    @Raffaell

    Nggak apa2. Sah2 saja jikalau orang berpendapat begitu. Ada benarnya juga kok. Mangkannya saya juga hanya memilih partai saja….πŸ˜€

    @fashion stok

    Tampan seperti……??:mrgreen:

  16. saya juga bersemangat sekali mengikuti pemilu kali ini, mas yari.
    namun memang agak disayangkan karena secara teknis masih banyak kelemahan di sana-sini, terutama masalah pendataan.

    saat hingga h-2 saya masih belum dapat undangan, semangat saya rasanya anjlok, untunglah pada h-1 surat undangan itu sampai juga di tangan saya. dan semangat saya menggebu-gebu lagi deh, sampai-sampai saya jadi pemilih pertama yang nangkring di TPS. hihi… bangga deh.

  17. Setiap pemilu saya selalu dengan sadar ikut memeriahkan pesta demokrasi, yang menurut suami adalah tanggung jawab orangtua untuk mengajarkan pada anaknya, bahwa punya hak memilih adalah anugerah dan sebagai warganegara yang baik, wajib mensukseskan pemilu. Terlepas dari segala kekurangan nya, dilingkungan teman-teman saya, keponakan, semua dengan gembira menyambut…sebelumnya udah rame diskusi, membuat matriks enaknya pilih yang mana. Rata-rata memilih partai, maklum calegnya ga ada yang kenal, apalagi kualitasnya seperti apa juga tak tahu.

    Dan semoga setelah hasil pengumunan nanti, yang menang tidak sombong karena membawa tugas berat, dan yang kalah tidak ngedumel atau saling menjelekkan.

  18. @marshmallow

    Saya dapat formulir panggilannya hari h-3 sore hari. Tadinya kalau nggak dapet panggilan maunya golput aja, eh nggak tahunya dapet formulir panggilannya.

    Kalau di TPS saya, agak jam karet. Saya dateng jam 7.05 eh TPS-nya baru dibuka jam 7.35. Dapat nomor urut antriannya ke-9…. Tapi lumayan deh nggak begitu nunggu lama juga…πŸ˜€

    @edratna

    Betul bu. Saya juga akan mengajarkan kepada anak2 saya nanti jikalau mereka sudah mengerti bahwasannya pemilu itu penting, bukan hanya untuk sebagai ‘kewajiban’ seorang warga negara yang baik tetapi juga pemilu itu adalah bagian yang sangat penting dari sebuah demokrasi. Namun, saya juga akan menyampaikan informasi yang berimbang, bahwasannya terkadang menjadi golput juga penting apalagi jika kita mempunyai sebuah alasan yang bagus untuk menjadi golput misalnya untuk memberikan perlawanan pasif bagi sebuah pemerintahan yang otoritarian seperti zaman orde baru dulu……

    Yah mudah2an dengan pemilu kali ini bangsa kita bisa menjadi lebih dewasa lagi baik yang kalah maupun yang menang……

  19. Kebanyakan pemimpin hanya berjaya membangunkan material, tapi gagal membangunkan insan, justeru inilah hubungan pengikut dengan pemimpin sekadar diikat oleh kepentingan kebendaan, bukan diikat oleh hubungan hati yang beriman.
    ____________________________________

    Kalau pengikut tidak ada hubungan (kasih) dengan pemimpin (guru), tidak ke manalah perjuangan sebuah jemaah itu sekalipun ramai.
    ____________________________________
    Sesuatu perjuangan yang pemimpinnya naik bukan hasil didikan jemaah, tapi orang-orang pandai dari luar yang berhijrah ke situ pasti akan berhadapan dengan masalah-masalah ini; Tidak lahirkan kader-kader. Polisi dan dasar perjuangan selalu berubah. Antara pemimpin dan pengikut, tidak ada keselarasan pandangan. Sebarang krisis susah dicari jalan penyelesaian.
    ____________________________________
    Melahirkan orang pandai saja mudah, tapi melahirkan orang yang pandai, orang yang jujur, yang merendah diri, payah. Melahirkan para pemimpin mudah, melahirkan pemimpin yang adil, jujur, merendah diri, penyayang payah. Melahirkan orang kaya mudah, tapi melahirkan orang kaya yang pemurah dan tawadhuk payah.
    ____________________________________

    Pemimpin politik biasanya setelah tidak ada kuasa dia akan sendirian hinggalah sampai mati. Berlainan sekali pemimpin kerohanian ia sentiasa diterima hingga mati. Musuh-musuhnya hanya berjaya memisahkan fisikalnya dengan pengikut-pengikutnya namun tidak dapat memisahkan hubungan jiwa pengikutnya dengan pemimpin.
    ___________________________________

    Kekuasaan seseorang pemimpin itu sebenarnya bukan melambangkan kekuasaan dan kebesaran dirinya tapi menggambarkan kekuasaan dankebesaran Allah Taala. Kalau seseorang pemimpin itu bersikap kuasa yang ada padanya menggambarkan kekuasaan dan kebesaran dirinya dia adalah seorang yang sombong dan takabur.
    ________________________________________

    Gejala masyarakat yang tidak sehat tidak dapat selesai dengan pidato berapi-api, mengancam dan mencaci-caci, membuat undang-undang, tangkap dan penjarakan. Ia memerlukan sifat taqwa yang menangani, kaedah yang tepat, & pimpinan secara dekat.
    ________________________________________

    [Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s