Budi Oh Budi……

Budi Anduk

Budi Anduk

Nama Budi memang ‘kodian’ banget. Mungkin nama Budi adalah salah satu nama yang paling ‘kodian’ untuk nama laki-laki di Indonesia. Saya tidak ingat sudah beberapa banyak teman saya yang bernama ‘Budi’. Hampir bisa dipastikan bahwa setiap orang Indonesia pasti pernah mempunyai seorang teman atau kenalan yang namanya Budi. Mungkin karena banyaknya orang yang bernama Budi, maka seseorang yang bernama Budi atau yang mengandung nama ‘Budi’ bisa dengan mudahnya ‘diasosiasikan’ dengan seorang Budi yang lain.

Dua hari yang lalu (14/5) pada sore hari ketika pulang dari kantor tidak sengaja saya membaca spanduk “Say No to Budiono, Say Yes to Budi Anduk” di dekat masjid Istiqamah Bandung tak jauh dari rumah saya. Entah siapa yang memasang spanduk itu karena tidak tertera sama sekali siapa atau organisasi mana yang memasangnya. Saya yang membacanya dari dalam mobil sedikit tergelitik di dalam hati membacanya. Entahlah siapa yang memasangnya, mungkin bisa jadi mereka yang anti pada kebijakan ekonomi Pak Budiono yang katanya terlalu pro-kapitalisme, atau mungkin bisa jadi dipasang oleh mereka simpatisan partai-partai yang ‘tidak diajak bicara sebelumnya’ oleh Partai Demokrat (capres SBY).

Saya sendiri sebenarnya tidak peduli siapa pendamping SBY sebagai cawapres kelak. Karena saya bukan simpatisan partai Demokrat ataupun partai-partai lainnya di negeri ini. Hanya saja saya geli dengan suara-suara politisi yang mengatakan Budiono karena bukan politisi dan kurang mampu dalam berpolitik. Hmmm… apa iya?? Sebenarnya pak Budiono itu tidak mau berpolitik atau tidak mampu berpolitik?? Karena keduanya tentu adalah dua hal yang berbeda. Siapa tahu pak Budiono selama ini memang tidak mau berpolitik tetapi siapa tahu ia berpotensi besar untuk belajar berpolitik dengan lebih baik?? Hal yang sama tentu saja berlaku buat Budi Anduk. Biar Budi Anduk adalah seorang pelawak yang seringkali diremehkan intelegensianya, belum tentu ia bodoh dalam berpolitik atau belum tentu ia bodoh jikalau ia belajar politik. Kita tidak tahu potensi apa yang dimiliki mas Budi Anduk ini. Barangkali kalau nanti ia sudah bosan melawak, ia akan terjun ke dunia politik (minimal menjadi wakil rakyat) dan siapa tahu ia dapat menjadi seorang politikus yang lebih andal dibandingkan para politisi yang ada pada saat ini. Sama juga seperti para politisi yang ada sekarang ini yang ternyata juga berhasil menjadi pelawak dalam menghibur rakyat dengan dagelan-dagelan politiknya yang membuat rakyat tertawa sinis……….๐Ÿ˜€

26 responses to “Budi Oh Budi……

  1. Say DUK to Budi AnDUK:mrgreen:
    *komen ga guna banget… Maklum lagi pusng..

  2. Terkadang demo itu juga ada aktor intelektual dibelakangnya.
    Saya sih tenang aja, kita kan nanti tinggal mempelajari, siapa para calon Capres-cawapres yang akan bertanding, kita analisa pro’s dan kon’s dari masing-masing itu…dan tinggal memilih yang terbaik diantara para calon.
    Kalau tak suka, kan tinggal tak pilih….biarkan mereka yang berkompetisi yang menjelaskan….lha kalau demo kan mahal, panas2 dan capek lagi…..hehehe….

    Ahh nggak mau mikirin …..ntar aja kalau udah dekat2…
    Saya jadi tahu tentang Budi Anduk disini, di blog yang lain tak ada penjelasan siapa Budi Anduk, dan kebetulan saya tak suka nonton TV jadi ya nggak tahu.

  3. budi = bulukan dikit. Heheh..

  4. waaah.. *lirik atas*.. hehehe.. *manggut manggut*.. kacian deh gue.. namanya pasaran bangeeeet..
    Salam Sayang

  5. Andai Budi Anduk yang dipilih SBY jadi cawapres…:mrgreen: akan bagaimana ya petaperpolitikan Nasional?

    http://mathematicse.wordpress.com/2009/05/16/budi-anduk-cawapres-yes/

  6. Hehe.. Betul. Dari SD sampai SMA, teman sekelas saya pasti ada yang namanya Budi. Bahkan pernah sekelas ada tiga Budi. Makanya untuk membedakan, panggilannya akronim nama depan dan nama belakangnya. Ada yang jadi ‘BuSet’ dan ‘BuTir’. Satunya lagi kurang sreg namanya diakronimkan, jadi panggilannya pakai yang lain.
    Salut untuk orangtua Pak Yari. Memberi nama yang unik dan tidak kodian untuk ananda tercintanya๐Ÿ˜€

  7. @a3u5zli

    Fan-nya budi anduk ya?? Atau tampang sampeyan mirip budi anduk??:mrgreen:

    @edratna

    Betul bu. Saya juga berfikir begitu. Kalau tidak suka ya tidak usah pilih mereka. Tetapi mungkin mereka berdemo agar mempengaruhi rakyat lain agar tidak memilih pasangan tersebut soalnya kalau langsung berdemo dengan mengatakan jangan memilih pasangan ‘A’ sepertinya nanti terlalu ‘kasar’ dan terlalu frontal….

    @Ag bint

    Ag bint = AGak BINTitan….:mrgreen:

    @KangBoed

    Buehehe…. kasihan juga yang namanya Budi. Ada lagunya Rhoma Irama yang cukup terkenal sampai sekarang:
    “Aku melarat karena budi……” huehehe….:mrgreen:

    @Al Jupri

    Wah… kalau saya malah memimpikan Budi Anduk jadi presiden dan kang Jupri jadi wapresnya…. Pasti seru deh… yang satu ngelawak melulu, yang satu bicara matematika melulu…..:mrgreen:

    @Ratna

    Huehehe… iya… sangking banyaknya orang yang namanya Budi, sampai-sampai jikalau ada satu perkumpulan yang punya lebih dari satu orang yang bernama Budi, pasti harus ditambah dengan atributnya kalau manggil namanya, seperti: Budi ceking, Budi kribo, Budi pendek bahkan ada yang Budi peot. Entah kenapa lebih enak memanggil dengan atributnya padahal si Budi itu semuanya pasti punya nama panjangnya… huehehe….:mrgreen:

  8. Wkwkwkwk… dasar si BuAn….
    Tukeran LINK ya…? LINK blog ini sudah terpasang di blog saya….

  9. Jadi tidak apa-apa kan kalau Budi Anduk jadi cawapres menggantikan Budiono?

  10. Bener tuh.. kali aja spanduknya di pasang oleh simpatisan partai-partai yang “tidak di ajak bicara sebelumnya” oleh partai demokrat tapi yang namanya budi cuek aja, namanya juga Budi alias BUDEG DIKIT.

  11. o ini to yang namanya budi anduk
    baru tahu ni
    maklum jarang nonton TV

  12. @buJaNG

    Kenapa?? Fan-nya budi anduk ya?๐Ÿ˜€

    Silahkan jikalau ingin bertukaran link…๐Ÿ™‚

    @Vicky Laurentina

    Jangankan menggantikan Budiono, menggantikan SBY-pun saya bakal cuek aja, apalagi selama politisi2 kita masih seperti ini. Huehehe….๐Ÿ˜€

    @Hanie

    Asal jangan BUDUK DIKIT aja… huehehe…..

    @reallylife

    Wah… nonton TV banyak manfaatnya loh…. asal jangan kebanyakan nonton sinetron sama infotainment aja… huehehe…

    Btw… saya tidak bisa membuka blogmu… katanya banyak virusnya..๐Ÿ˜ฆ

    @Bisnis Online

    Kalau anda fan-nya orang2 berkumis ya??:mrgreen:

  13. bagus deh kalo pak boediono yang mendampingi SBY, biar gak di goyang ditengah jalan.

  14. Boediono harus diakui
    memang hebat di bidangnya
    (ekonomi-keuangan)
    saya setuju dengan pendapat,
    bahwa Boediono memang
    kurang tepat menjadi
    cawapresnya SBY,
    apalagi mereka berdua
    sama2 dari Blitar
    (ada kesan KKN-nya)

  15. Tapi nurut ama SBY, itu yang penting pak..hehehe

  16. pengen liat spanduknya
    difoto dung..

  17. budi oh budi…
    yang satu dipuji, yang satu dimaki…
    dan sepekak apapun telinga saya akan politik tanah air, namun sejatinya saya juga sedikit tergelitik dengan menuver politik dan ‘dosa’ masa lalu salah satu budi. mungkin itu pula yang menyebabkan salah satu tokoh penting partai merasa bahwa ada salah satu budi yang tidak dianggap memiliki kompetensi memainkan peran politik…

    Quote: “putih, netral atau segala rupa ke tak acuhanku akan politik negeriku, namun aku tetap peduli akan nasib dan aset bangsaku”

  18. @boyin

    Wah… mas… yang namanya goyangan sih bakalan tetep ada aja dari mana aja….

    @mikekono

    Hmmm… mungkin walaupun dari satu daerah, belum tentu juga mereka bermaksud KKN dalam pencalonan mereka. Tidak dari satu daerahpun bisa saja terjadi KKN. Ya, bagi mereka yang tidak senang dengan calon ini ya tidak perlu untuk memilih pasangan ini tentu saja… atau jikalau tidak ada pasangan capres-cawapres yang cocok ya golput saja juga boleh kok… huehehe….

    @raffaell

    Ya iyalah…. kalo nggak nurut ya nggak bakalan dipilih dong. Huehehe….

    @juwita senja

    Budi yang mana dulu nih?๐Ÿ˜€

    @annosmile

    Spanduknya biasa aja cuma tulisan aja, nggak ada gambarnya dalam spanduk itu.

    @Infinite Justice

    Itu dia yang penting… Tidak perlu kita peduli kepada hingar bingar perpolitikan bangsa ini, tetapi tetaplah peduli akan nasib dan kemajuan bangsa ini. Andaikan kita peduli dengan perpolitikan di tanah airpun, itupun harus dalam rangka kepedulian kita pada nasib bangsa ini, bukan dengan politiknya itu sendiri.๐Ÿ™‚

  19. dalam salah satu buku bacaan ketika saya masih sekolah di sekolah rakyat (sekolah dasar) awal 50’an….ada kalimat populer hingga kini yakni….”Bapak pergi ke sawah; Budi membantu bapak kerja di sawah….Ibu memasak di dapur;Siti membantu ibu di dapur”…. kalimat itu mencerminkan stereotipe dari gender…atau pencitraan yang baku menurut budaya…bahwa laki-laki (bapak dan budi) bekerja mencari nafkah (public domain)…sementara perempuan (ibu dan siti)bekerja di rumah (domestic domain)…padahal dunia yg semakin mendorong terjadinya kesetaraan gender,laki-laki dan perempuan bisa melakukan sesuatu di dua domain itu….begitu pula kesetaraan antara politikus dan teknokrat profesional dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan…. untuk menjadi manajemen puncak/pimpinan nasional seperti presiden dan wapres….seharusnya tidak menjadi kendala…..akhirnya rakyatlah yang akan memilih mana capres/wapres yang memiliki kapabilitas,integritas,dan popularitas yg paling tinggi…

    • Betul prof…. sebenarnya dalam kasus presiden dan wapres ini, biarlah rakyat yang menentukan. Walau begitu, di Indonesia ini, yang terpilih jadi presiden, cenderung yang popularitasnya yang paling tinggi. Mengenai kapabilitas dan integritasnya, kalau menurut saya, siapapun yang menang, belum tentu tertinggi karena kebanyakan rakyat kita dalam memilih presiden dan wapresnya belum mampu untuk menilai secara obyektif dan tepat….. masih banyak yang mengandalkan figur subyektif semata.

  20. yoi coy!!! *buduk style
    politik dagelan coy

    salam budukers (budi anduk lover)

  21. yaelah! itu spanduk kreatip banget sih?
    segala budi anduk ditampilin.
    jadi intinya memberikan kesempatan ya, mas?
    yang jelas pak budiono adalah seorang intelektual yang selama ini sudah terbukti kepiawaiannya dalam bidang ekonomi. jadi tidak akan menjadi kesulitan berarti untuk sekadar menguasai satu keahlian baru, sebut saja pulitik itu tadi. alah bisa karena biasa. practice makes perfect. hehe…

    *komen sambil ngitung kenalan saya yang bernama budi*

    • Bagi orang yang profesional dan berdedikasi tinggi, memang betul “practice makes perfect” tetapi bagi sebagian orang lain malah “practice makes defect”. Contohnya?? Ya itu… sebagian besar para politisi kita dan juga sebagian anggota dewan kita yang terhormat…. yang cuma mau duitnya aja dan cuma mau beken aja….๐Ÿ˜ฆ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s