EQ dan SQ, Apakah Memang Lebih Penting dari IQ?

Artikel ini saya tulis bukannya karena saya memahami konsep IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) justru karena saya masih agak kabur dengan peran ketiganya dalam kehidupan kita sehari-hari. Khusus untuk SQ, konsepnya malah saya masih bingung total. Sebab konsep SQ yang  banyak beredar di negeri kita ini sangat berbeda total dengan SQ yang saya baca dari artikel-artikel luar negeri yang saya cari lewat Google (Itupun artikel SQ yang dari luar negeri relatif agak susah untuk menemukannya).  Konsep SQ yang beredar di sini, sangat dekat dengan nilai keagamaan sedangkan SQ yang saya baca dari Wikipedia misalnya, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan agama:

Spiritual Quotient (SQ) is described as a measure that looks at a person’s spiritual intelligence in the same way as intelligence quotient (IQ) looks at cognitive intelligence. It is the study in which there are 6 types of personalities: social, investigative, artistic, realist, contractor and conventional.

Nah, dari penejelasan di Wikipedia ini kita dapat melihat bahwa SQ tidak ada hubungannya dengan keagamaan sama sekali. Lantas bagaimana konsep SQ yang banyak beredar di sini menyangkutpautkannya dengan agama?? Apakah konsep ESQ (yang dikemukakan oleh Ary Ginanjar misalnya) memang lahir dari sebuah proses yang ilmiah? Mana yang benar ya? Maklum saja, saya orangnya tidak cepat puas dengan hanya membaca dari satu sumber saja, untuk itu saya perlu membandingkannya dengan bacaan-bacaan lain yang berasal dari sumber-sumber berbeda. Nah, jikalau terdapat pertentangan perbedaan seperti ini tentu hanya satu yang benar, terutama minimal di tingkat definitif.  Kira-kira menurut anda mana yang benar?

Sayapun juga agak kurang setuju yang mengatakan bahwa EQ (dan juga SQ) lebih penting dari IQ. Saya cenderung mengatakan bahwa semua sama pentingnya. Kadang kala dalam banyak kasus kita harus lebih menonjolkan EQ (dan SQ) kita. Namun di banyak kasus lainnya kita harus lebih menonjolkan IQ kita. Namun apapun kasus yang kita hadapi, apakah kasus yang lebih mengedepankan EQ kita ataukah yang lebih mengedepankan IQ kita, tidak pernah mengurangi pentingnya peran IQ dan EQ secara umum. Bahkan dalam banyak kasus, EQ dan IQ harus bekerjasama dengan harmonis agar membuat seseorang menjadi sukses dalam menghadapi rintangan-rintangan yang berada di depannya sehingga kesuksesan juga ditentukan bagaimana IQ dan EQ ini bisa bekerjasama dengan baik.

EQ berperan sangat penting tentu saja, karena hal ini menyangkut interaksi kita dengan orang lain dan juga pengertian tentang diri sendiri. Kesuksesan kita tentu saja sedikit banyak tergantung dari interaksi dengan orang lain karena kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Sementara itu IQ tentu saja juga penting, karena tanpa IQ mungkin kita hanya setingkat dengan binatang yang tidak akan mampu memecahkan masalah apapun. Dan juga tanpa IQ, kita juga tidak akan mungkin dapat mengidentifikasi EQ. Nah, bagaimana dengan SQ? Ini dia yang belum bisa saya “jawab” sampai saya menemukan definisi yang tepat dari SQ itu sendiri………

Iklan

36 responses to “EQ dan SQ, Apakah Memang Lebih Penting dari IQ?

  1. A good life is in a harmonious way !
    Yin-Yang (harmony in life)
    IQ-EQ-SQ would be good in it harmony

  2. Hmm, IMO kalau di luar negeri, spiritual itu lebih diartikan ke jiwa. Sedangkan di Indonesia, jujur saja lebih condong SQ = Islam, jadi menguatkan SQ = memperkokoh keimanan Islam.
    Betul sekali, ketiganya penting dalam hidup.

  3. tiga2nya merupakan pemberianNya. Jadi semuanya memang sama pentingnya dan memainkan perannya sendiri2.

  4. mungkin tiga “Q” itu mulai santer didengungkan lantaran IQ tidak lagi dianggap kunci memperoleh kebahagiaan, kesejahteraan, atau pencerahan. karena kalo cuma IQ sepertinya Tuhan tampak sangat tidak adil, manusia tidak punya modal yg setara untuk menggapai-Nya. tokoh-tokoh kayak Hannibal Lecter itu mungkin memberi inspirasi para promotor 3Q.

  5. gni klo menurut gwa..berhubung gwa mahasiswa psikologi jdi pernah dngar juga..
    IQ itu adalah kmampuan Intelligence orang trus perannya apa dalam kehidupan?? nah IQ ini lah yg berupa niat simplex..baik itu jahat ato baik..
    EQ..ini mrupakan action dari IQ tersebut..
    SQ ini merupakan hati nurani kita…
    nah IQ n SQ sering bertntngan….
    SQ merupakan kekuatan moral dan etik..

  6. semua Quotient itu penting. kalau ada yang kurang, ya tentu gak sempurna. iya kan?

    main balik nih. main lagi yaa… 😀

  7. @Ardy Wdiyarso

    Like Paul McCartney and Michael Jackson’s “Ebony and Ivory”?? 😀

    @Generasi Patah Hati

    Kalau SQ disangkutpautkan dengan agama tertentu berarti yang agama lain cenderung SQ-nya rendah dong?? ❓

    @Ag bint

    PemberianNya tidak ada yang sia2 ya?

    @S™J

    Menurut saya, ketiga2nya berkontribusi dalam memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan dan pencerahan. Jikalau kita cuma mengandalkan EQ atau SQ-pun kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan dapat dicapai secara maksimal. Bagaimana hanya bisa mengandalkan EQ (atau SQ) saja, jika bertutur bahasa saja kita tidak bisa ataupun mengerjakan soal 1+1 saja tidak bisa. Dalam ngeblogpun misalnya IQ juga sangat berperan walaupun mungkin tidak perlu yang terlalu tinggi. Jadi menurut saya, secara umum ketiganya sangat penting dalam memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan (serta pencerahan).

    @pitaxxx

    Hmmm… yang penjelasannya paling masuk akal yang “SQ adalah kekuatan moral dan etik”, yang lainnya….. terima kasih aja deh! :mrgreen:

    @diazhandsome

    Yang penting… kita memang harus berusaha untuk memaksimalkan ketiganya.

    Ok deh… nanti saya main lagi. Tunggu ya… 😀

  8. Weleh weleeeeeeeeeeeeh bumina meuni saeee.. nembeeeeeu di cat hejo.. syukurana meuni teu ngondang ngondang.. hihihi.. :mrgreen:
    Sesuai dengan apa yang ada di dunia ini menganut hukum keseimbangan.. maka IQ.. EQ.. dan SQ.. seharusnya seimbang.. seperti kopi 3 in 1.. hmm sedaaaap.. :biggrin:
    Sayangnya.. sekarang ini manusia lebih mementingkan IQ.. sehingga SQ dan EQ nya terbelakang.. *idiot emosional dan idiot spirituil*.. hihihi.. waaaaaaaaaah.. kalau begitu kaya krisis moraaaaaaaaaaal yaaaaaaaa.. :mrgreen:
    Salam Sayang
    Salam Kangen

  9. bukannya di bukunya mas ari ginanjar itu digambarkan dalam bentuk segitiga pak? yang ndak bisa ditonjolkan satu sama lain. artinya harus bersama-sama dalam keseimbangan.

  10. Kalo tidak salah ilmu2 ini semua asalnya dari dunia barat? Saya pikir ini tak lebih dari trend yang terjadi disana juga. IQ dulu ngetop disaat nilai2 akademis jadi patokan level seseorang, kemudian muncul EQ untuk ‘menyeimbangkan’ isi otak dengan kemampuan berinteraksi, sekarang sesudah pembahasan tentang keduanya habis, datang lagi SQ yang… ntah apa! :mrgreen:
    Tapi kayaknya SQ ini seperti bakat bawaan ya? (sementara IQ & EQ bisa dipelajari) 😕 CMIIW

  11. yoi. biar bener” cerdas harus memaksimalkan ketiganya 😀

    oke, udah main lagi. hehehe…

  12. Saya maunya sih semuanya pak, huhuhuhu

  13. mungkin itu konsepsi di negara kita pak. hanya karena ada kata SPIRITUAL maka langsung digembok ke aspek keagamaan. tentu saja, bagi pola fikir kebanyakan masyarakat kita, spiritual memang memiliki hubungan relasional yang sangat erat dengan aspek keagamaan dan keTuhanan. dan yah, saya lebih menyepakati SQ sebagai aspek etika dan moral seseorang, yang memang bergantung dengan sisi spiritualnya…

  14. SQ setahu saya kok malah sexuwal intelijen ya pak? 😛

  15. @kangBoed

    huehehehe…. hejo-hejo mata duitan ieu teh…. :mrgreen:

    Wah… seperti kopi 3 in 1 ya?? Biar rasanya sempurna. Tapi kalau kopi 3 in 1 kan seharusnya 4 in 1, soalnya kalau tanpa air tetap aja itu kopi 3 in 1 nggak enak diminum. HUehehehe… 😀

    Kalau orang disebut “idiot” itu berarti baru idiot IQ aja ya, kalau idiot EQ belum pernah disebut “idiot” ya?? Kalau orang idiot EQ kira2 ketahuan nggak ya?? ❓

    @adipati kademangan

    Iya betul… tetapi pada beberapa orang, entah ikut2an, entah baca dari mana, justru mengatakan EQ (dan SQ) lebih penting dari IQ. Dalam beberapa kasus khusus yang harus kita hadapi mungkin benar adanya, tetapi secara umum tetap saja ketiga2nya sama pentingnya. 🙂

    @jensen99

    Wah… ilmu seperti mode pakaian ya?? Tergantung ngetop2an… huehehehe….. :mrgreen:

    SQ nggak bisa dipelajari ya?? Kalau pura2 atau hatinya berbeda (palsu) tetap saja SQ-nya rendah ya?? ❓

    @diazhandsome

    “…satu dua tiga sayang semuanya” Lagu anak2 judulnya apa tuh ya??

    Oke deh… terims lagi ya udah main2 ke sini lagi… 😀

    @Raffaell

    Ya iyalah… semua orang memang maunya sih semuanya tinggi, sampai badanpun semua orang ingin tinggi. Huehehehe…. **nggak ada hubungannya yak??**

    @Infinite Justice

    Nah… itu dia… kalau persepsi SQ di negara kita berbeda dengan persepsi SQ di luar sana, bisa jadi kebingungan dong manakala orang hendak membahas sesuatu mengenai SQ, apalagi kalau ingin dijadikan penelitian wah bakal kacau karena kita berangkat dari titik yang berbeda… 😦

    @mantan kyai

    Wah… tahu aja nih masku yang satu ini, dulu sampai sekarang sexual quotient-nya minus ya?? mangkannya jadi ingat2 terus sampai sekarang… wakakakakak…. **kabooooooor** 😆

  16. Kalau menurut saya IQ dan EQ memang sama-sama penting, Pak. Kita tidak bisa hanya mengandalkan salah satu saja. Keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi.

  17. itu kan judulnya ‘satu-satu aku sayang ibu’

    kalo gak salah… kalo bener?

  18. Sebetulnya ketiganya penting, yaitu IQ, EQ dan SQ.
    IQ agar bisa mengerjakan pekerjaan sesuai tuntutan kerja yang makin berat. EQ, membuat orang tsb bisa wise, bekerja sama dan berkomunikasi dengan rekan, atasan, anak buah maupun klien. Sedang SQ menyeimbangkan semuanya….karena lingkungan dan beban kerja kadang membuat stres.
    Dilingkungan kantor saya (dulu), jika seseorang akan diberi amanah untuk memimpin unit kerja, juga diteliti keharmonisan keluarga, juga apakah orang itu bisa menerima berbagai perbedaan….karena ini penting untuk bisa mengelola stres.

  19. soal definisi I,E dan SQ saya serahkan sama ahlinya. tapi esensinya bisa ditangkap deh..Idealnya semua mesti ada dalam diri manusia..cuma saya pikir “bulsit” krn “no body perfect”. Faktanya di kita mesti memilih IQ, EQ, atau SQ. Kalo semua mampu memiliki ketiganya…wah..kayanyanya nggak akan ada yang mo daftar untuk jadi capres dan cawapres…..

  20. @Edi Psw

    Ya betul pak… saling melengkapi dan sama pentingnya.

    @diazhandsome

    O iya ya… baru inget saya… huehehe… thanks deh 😀

    @edratna

    Nah… itu dia bu pertanyaannya….misalnya contoh ibu di atas: Seseorang yang akan memimpin unit kerja, juga diteliti keharmonisan keluarga misalnya….. Apakah EQ dan SQ orang yang keluarganya tidak harmonis selalu tidak baik?? Bagaimana cara mengukurnya?? Apakah keluarga tersebut tidak harmonis karena selalu kesalahan ybs? Bagaimana dengan aspek2 emosional dan spiritual lainnya? Dsb…. tentu EQ (dan juga SQ) juga mempunyai banyak aspek dan harus dilihat dari berbagai macam sisi dan kasus bagaimana ia me-manage konflik, jejaring sosial, self-awareness dan self-management……

    @Kang Aom

    Di sini kita tidak musti memiliki ketiganya harus tinggi, yang penting bagaimana ‘memaksimalkan’ ketiganya yang kita miliki…. 🙂

  21. wew! terus terang jadul kita hanya mengenal IQ, walaupun pada praktiknya kita bisa jadi telah take the two other quotients into account sejak dulu lagi.

    saya menikmati saja belajar dari interaksi di sini.

    btw, dalam menyikapi tulisan ini saya menggunakan IQ untuk memahami konten, menggunakan EQ untuk menerbitkan respon internal yang sesuai, dan menggunakan SQ dalam mempertimbangkan etisnya komentar saya. benarkah? :mrgreen:

  22. kalau bisa balance 🙂

    itu yang diinginkan dan diwujudkan mas yar 🙂

  23. Iya juga ya. Pernah suatu waktu aku ikut training ESQ, si trainer bilang, seperti di blog ini, katanya SQ itu bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan, pokoknya agama dah. Tapi, dia sendiri (trainer-nya) mencontohkan orang SQ itu siiii siapa sih aahhh yang mendirikan Honda, aku lupa nama depannya. Si Honda ini ga pernah mentingin kepentingan diri sendiri, kaya banget, tapi hidupnya sederhana banget. Dan bukannya orang Jepang kebanyakan ga bertuhan yaa? (Maaf kalo salah…) Dan si trainer juga ga nyontohin begimana si Honda mendekatkan diri pada Tuhan…
    Ah ga tau ah aku bingung~ maaf yaaa, hihihi…

  24. @Huang

    Balance kayak balance sheet gitu yah?? Huehehe… :mrgreen:

    @Sitti Rasuna

    Nah… itu dia… saya juga binun…. masalahnya apakah agama selalu identik dengan spiritual? Apakah agama bagian dari spiritual atau sebaliknya?? Apakah orang yang kerjaannya sholat melulu dan doa melulu (sampai lupa hal2 keduniawian) berarti nilai SQ-nya lebih tinggi?? Atau apakah SQ di sini dikait2kan dengan agama hanya sebagai ‘merk dagang’ saja agar ‘dagagannya’ laku ya?? Walahualam deh…. huehehehe…..

  25. yang penting tepat dalam mengeluarkan IQ, SQ, dan EQ kita di saat yang tepat…betul gak Pak?? 🙂

    http://sendit.wordpress.com

  26. duh makin parah aja yah….

  27. @sendit

    Betul sekali…. 😀

    @juliach

    Wah… parah apanya ya mbak? 😀

  28. …saya sendiri belum tahu persis bagaimana mengukur E-SQ…bahkan teman saya profesor statistika tidak sependapat jika E-SQ diterjemahkan sebagai kecerdasan…. karena sulit terukur…..kecuali IQ sudah ada teknik pengukurannya….apapun,…apa implikasi penguasaan IQ, E-SQ dalam dunia pekerjaan?…. sudah banyak referensi yang mengatakan…. IQ tidak akan berarti apa-apa ketika EQ dan SQ terbaikan…… lembaga di Amerika Serikat yang diberi nama Emotion Quotient Inventory (EQI )…. telah mengumpulkan data-data orang-orang yang sukses….. hasilnya menunjukkan bahwa peran IQ terhadap keberhasilan seseorang yang sukses rata-rata hanya 6 % sampai 20 % saja. …..selebihnya karena peran EQ dan SQ…..dari informasi seperti itu apakah dengan demikian ketika perusahaan akan membuka peluang atau lowongan kerja kepada khlayak tidak diperlukan persyaratan IQ tinggi?….tidak seperti itu….hemat saya IQ tetap sangat penting….dan ia merupakan pintu awal kesuksesan seseorang dalam dunia kerja….

    • Justru itu prof. Kenapa banyak dengan ‘mudah’ referensi mengatakan bahwa EQ lebih penting dari IQ walaupun itu dilakukan dengan penelitian yang valid (walau belum tentu sempurna). Karena menurut saya ada hal-hal yang mengganjal sebagai berikut:

      Pertama, seperti yang prof katakan bagaimana mengukur EQ. Kalau sulit diukur bagaimana kita membandingkannya. Sama saja seperti ingin membandingkan mana yang lebih jauh Planet Mars atau Planet Jupiter misalnya, jikalau kita tidak tahu jarak planet Jupiter misalnya, bagaimana kita juga akan membandingkannya?? Begitu juga dengan EQ, bagaimana seseorang dengan EQ tinggi tersebut, apakah orang yang selalu kalem, yang selalu manis walaupun selalu mencari muka atasan adalah orang2 yang ber-EQ tinggi??

      Kedua, Terus terang, saya belum membaca secara detail penelitian2 tersebut. Jadi saya bertanya, orang2 sukses yang diteliti di sini orang2 seperti apa?? Apakah hanya manajer top atau pebisnis saja?? Bagaimana dengan ilmuwan terutama natural scientists atau insinyur?? Apakah mereka tidak diukur?? Apakah seorang ilmuwan top tidak pernah dibilang sukses?? Karena tentu saja jenis pekerjaan manajer berbeda dengan jenis pekerjaan ilmuwan. Pekerjaan manajerial tentu saja lebih banyak berhubungan dengan EQ sementara ilmuwan menurut saya lebih banyak berhubungan dengan IQ. Jadi andaikan yang diteliti itu kebanyakan adalah para manajer (atau pebisnis) tentu tidak heran penelitian itu mengatakan bahwa EQ lebih penting daripada IQ.

      Ketiga, kita sering terkecoh antara perbandingan “IQ (saja) vs EQ” dengan “IQ tinggi vs EQ”. Seringkali orang lebih membandingkan antara “IQ tinggi vs EQ” daripada “IQ saja vs EQ”. Karena jikalau kita membandingkan “IQ tinggi vs EQ” tentu saja kelihatannya EQ menjadi lebih penting. Karena untuk menjadi seorang manajer misalnya, memang tidak perlu IQ setinggi Einstein. Jikalau persyaratan seorang manajer harus mempunyai IQ tinggi tentu di dunia ini kita akan selalu kekurangan manajer. Nah, andaikan kita mau memperbandingkan secara lebih adil tentu seharusnya yang dibandingkan adalah “IQ tinggi vs EQ tinggi” atau “IQ saja vs EQ (saja)” tetapi masalahnya ya itu tadi, seperti yang prof katakan bagaimana mengukur seseorang itu punya EQ tinggi atau tidak. Namun begitu, saya tetap yakin IQ (saja) tetap berperan penting dalam seorang manajer misalnya, karena rasanya teramat lucu sekali (menurut saya) jika seorang manajer punya EQ yang tinggi baik tetapi ia tidak bisa melakukan analisa terhadap suatu masalah sama sekali, ataupun ia tidak bisa mengerjakan soal matematika dasar SD atau tidak bisa membaca alias buta huruf…… (bisa saja kan, seorang yang buta huruf tetapi dia punya EQ yang baik??)

      O iya prof, bagaimana dengan SQ?? Sepertinya di banyak artikel yang saya baca (terutama dari luar negeri), sepertinya SQ di luar daripada EQ, dan tidak pernah dipaketkan menjadi ESQ….??

  29. hebat dech………, amp bnyk bgt yg komenx….., selmt ya prof. udh byk yg baca…..

  30. Kalo saia.. IQ=gunanya buat mikir. EQ=biar qt jd orang dg sifat baek. SQ=biar punya motivasi utk hidup. Nah.. IESQ=gunanya sbg tanda bhw qt manusia. Hehehehehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s