ETIKA dan GENETIKA

DNA dan Kode Genetika

DNA dan Kode Genetika

Jakarta tahun 2109 atau 100 tahun dari sekarang. Seseorang yang tengah mencari pekerjaan, sebut saja namanya Deni, telah melamar di banyak perusahaan yang entah sudah berapa banyaknya. Namun sebanyak ia melamar, sebanyak itu pula ia ditolak lamarannya. Masalahnya? Karena pada masa itu, ketika seseorang yang ingin melamar pekerjaan, ia harus membawa sebuah microdisk yang berisi catatan genetik dirinya. Microdisk tersebut akan dibaca oleh sebuah program komputer canggih yang dapat mengolah dan menterjemahkan kode-kode genetik tersebut. Kebetulan si Deni mempunyai sebuah kode genetik yang mengatakan bahwa ia mempunyai kecenderungan untuk berbuat korupsi padahal sekalipun si Deni belum pernah melakukannya! Seluruh perusahaan tempat ia melamar pekerjaan mengatakan bahwa mereka berhak untuk menolak Deni sebagai tindakan preventif!

Sementara itu, rekannya si Rudy mengalami nasib serupa, banyak ditolak lamaran pekerjaannya. Sebabnya bukan karena ia mempunyai kode genetik yang mengatakan ia cenderung berbuat korupsi namun di dalam kode genetiknya mengatakan bahwa ia seorang homoseksual! Padahal si Rudy sudah menikah dan mempunyai satu anak! Perusahaan lebih mempercayai kode genetik dibandingkan fakta bahwa si Rudy telah menikah. Banyak perusahaan yang tidak begitu suka dengan karyawan/ti yang homoseksual sehingga Rudy selalu ditolak lamaran kerjanya dengan dibuat berbagai macam alasan secara halus.

Di tempat lain, seorang ibu rumah tangga muda, sebut saja Reni, tengah mengandung anaknya yang pertama. Dokter mengatakan bahwa bayi yang tengah dikandung Reni mempunyai cacad secara genetik yang akan berpotensi membuat si bayi kelak akan menderita sebuah penyakit fatal yang belum bisa disembuhkan. Dengan mengetahui informasi tersebut, Reni menjadi sangat stres dan ia tengah berfikir untuk menggugurkan saja kandungannya karena ia tak tega melihat anaknya menderita kelak.

Ilmu genetika memang terus mengalami kemajuan secara dramatis akhir-akhir ini. Kemajuan ini membuat pandangan manusia juga berubah drastis mengenai sifat-sifat yang ada di dalam diri manusia terutama masalah-masalah psikologis dan kesehatan. Banyak penemuan-penemuan mutakhir mengatakan bahwa hampir semua perilaku kita termasuk perilaku seksual kita ternyata berkaitan erat dengan kode genetik yang ada di tubuh kita. Dengan kemajuan ilmu genetik di masa depan, diperkirakan dokter juga mampu untuk meramalkan penyakit-penyakit apa saja yang bakal di derita seseorang sejak ia masih di dalam rahim ibunya!! Terutama untuk penyakit-penyakit kelainan genetis dan penyakit-penyakit degeneratif. Dokterpun bahkan bisa mengetahui apakah si jabang bayi kelak kemungkinan besar akan mempunyai kelainan orientasi seksual ataupun tidak!! Dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa diramalkan seperti apakah si bayi nanti kelak akan tumbuh menjadi anak yang adidas alias IQ/Aikyu di bawah dasar:mrgreen: atau anak yang jenius, atletis atau tidak, bahkan ganteng/cantik atau tidak, dan sebagainya.

Kemajuan ilmu genetika memang akan membuat membuka banyak tabir yang selama ini menutupi sifat-sifat yang ada pada diri manusia. Namun kemajuan ilmu genetika juga akan membawa sebuah problem baru yang menantang yang menyangkut masalah etika! Apa yang seharusnya kita perbuat dengan kode genetik tersebut??? Misalkan pada contoh jabang bayi seperti di atas. Apakah test genetika diwajibkan dilakukan pada setiap jabang bayi di dalam rahim ibu untuk mendeteksi penyakit genetika atau bawaan yang akan diderita si bayi?? Jikalau hasil test negatif, apa yang sebaiknya dilakukan sang ibu?? Ambil contoh lain, misalkan seseorang yang mempunyai gen pembunuh yang mengatakan bahwa ia berpotensi untuk membunuh orang lain walaupun sampai saat itu ia belum pernah membunuh satu orangpun. Apakah polisi wajib untuk terus mengawasi gerak geriknya dan membatasi ruang geraknya sebagai tindakan preventif sehingga mengganggu privasinya?? Karena sewaktu-waktu bisa saja ia membunuh orang jikalau ia sangat tersinggung. Belum lagi ia berpotensi untuk dijauhi masyarakat karena masyarakat merasa tidak nyaman bergaul dengan orang yang punya gen seorang pembunuh. Pertanyaannya adalah, siapa saja yang berhak tahu tentang informasi genetik seseorang?? Apakah hanya yang bersangkutan saja? Apakah dokter kita?? Apakah perusahaan tempat kita bekerja?? Ataukah perusahaan asuransi kesehatan?? Maklumlah karena informasi genetik ini tentu saja banyak menyangkut sifat-sifat yang sangat ‘pribadi’.

Banyak orang mungkin setuju bahwa kemajuan ilmu genetika untuk memperbaiki kualitas hidup manusia atau untuk menyembuhkan penyakit adalah sesuatu yang sangat bermanfaat. Jikalau nanti kemajuan ilmu genetika sudah lebih maju lagi sehingga gen kita bisa dimanipulasi untuk menyembuhkan penyakit-penyakit genetis dan juga untuk memperbaiki sifat-sifat lahiriah kita ataupun sifat-sifat tingkah laku dan orientasi seksual kita tentu akan sangat membantu kualitas hidup manusia. Namun di mana batasnya?? Lagi-lagi masalah etika timbul !! Apakah kita juga ingin mengubah warna kulit anak kita ataupun juga ingin merubah hidung anak kita menjadi mancung? Atau kita hanya ingin sekedar anak kita nanti secantik Cleopatra?? Pendek kata, apakah sangat beretika untuk mengubah sesuatu seenak udhel kita sendiri, apalagi sesuatu itu adalah manusia, hanya karena kita dengan mudah dapat melaksanakannya??

29 responses to “ETIKA dan GENETIKA

  1. Wah mantap itu cerita 100 tahun ke depannya Pak:mrgreen:
    kalau teknologi itu sudah ada sekarang, dan digunakan untuk para calon anggota dewan, kira-kira berapa banyak yang akan gugur gara-gara gen nya menunjukan kecenderungan akan korupsi ya?πŸ˜†

  2. walaupun hanya sebuah cerita tapi bisa membuat kita untuk berpikir ke depan

  3. kalo skrg aja tes DNA mahalπŸ˜€ hehe tapi entah kemungkinan ke depan jadi tren.

    Kalo emang mo senak udel ganti ini itu, yah sama aja sama operasi plastik, yah mereka2 yg pengen terlihat wah dan punya banyak duit tentunyaπŸ˜€ hehe

  4. kalau mau ngelamar kerjaan kode genetiknya diedit dulu terus disave lagi ke dalam disknya. hehe..

  5. tapi kalo orang indonesia secanggih apapun itu pasti bisa di palsu mirip sofware bajakan yang ada crack codenya..heee

  6. hmm, mungkin kalo gen korupsi-nya ada, gak usah dimasukin ke pemerintahan.

    kalo ketauan ada gen korupsi, hack aja komputernya. hehehe…

  7. walah, lama nggak dolan ke mari, ketinggalan banyak banget saya.
    contoh-contoh kasus di atas berdasarkan imajinasi liar mas yari sendiri? hihi… dasar!

    nggak usah jauh-jauh kalau soal pesan-memesan jabang bayi sih, mas. sekarang aja teknologi dan praktik semacam sudah terjadi. ada istilah genetic engineer yang dapat dipesan untuk membuatkan keturunan dengan spesifikasi tertentu dari merekayasa, memilah dan memilih kode-kode genetika terbaik dari kedua orang tuanya, disebut dengan designer baby. namun sangat disyukuri bahwa etika kedokteran masih sangat ketat mengatur hal ini. entah ke depannya nanti.

  8. Susah kalo gitu ceritanya pak, orang sudah dari lahir dah tau bakal jadi apa, hehehe

  9. ngeri juga ya, tapi ga mungkin kealaman sama kita ya pak ?

  10. Ilmu genetika memang sangat membantu dalam mengidentifikasi seseorang. Namun kalau itu dijadikan sebagai dasar preventif terhadap tindakan di masa mendatang, saya rasa itu kok semacam ketakutan yang berlebihan.

  11. Genetika sebetulnya ilmu yang sangat menarik, namun saya kira nanti ke depan juga ada jalan keluarnya. Ada juga ibu yang tetap menginginkan anaknya, buah cintanya, walau hasil pemeriksaan dikatakan bahwa jabang bayinya cacat.

  12. genetikanya diinstal ulang bisa nggak ya…, hehehheee…

  13. @Generasi Patah Hati

    Wah… kalau untuk anggota Dewan, yang ditest bukan hanya gen2 bakat korupsi tetapi juga gen2 bakat ngantuk biar kalo sidang nggak pada tidur….πŸ˜†

    @masnoer

    Saya hanya mengajak berfikir ke depan, bagaimana etika dan genetika bisa saja berbenturan di masa mendatang…πŸ™‚

    @aRuL

    Nah… justru itu di mana batasnya mengubah seenak ‘udhel’-nya sendiri yang melanggar etika dan yang tidak. Apakah kalau ilmu genetika sudah maju nanti, kita bisa seenaknya menyisipkan gen ikan sehingga kita mempunyai insang dan bisa bernafas di laut?? Apakah dengan bisa bernafas di laut kita menjadi lebih sempurna atau malah sebaliknya?? Nah… hal2 seperti itulah yang harus difikirkan….πŸ˜€

    @Ag bint

    Siapa yang mau mengedit kode genetika?? Penjaga warnet?? Emangnya gampang mengedit kode genetika?? Salah2 kodenya nanti bisa malah jadi ‘lucu’….:mrgreen:

    @boyin

    Mungkin saja bisa dipalsukan, tetapi sangat sulit. Mengubah kode gen manusia tidak bisa dilakukan sembarang orang, jauh lebih sulit ketimbang mengubah atau meng-crack program komputer.πŸ˜€

    @diazhandsome

    Yang kalau ada gen bakat korupsi, masukin aja jadi penjaga WC umum kali ya?? Huehehe…:mrgreen:

    @marshmallow

    Huehehe… iya bener…. postingan ini berdasarkan imajinasi liar saya, bukan dari film sains fiksi…πŸ˜€

    Iya betul tuh…. memang designer baby merupakan skenario genetika yang akan mengundang perdebatan yang sangat panjang. Tapi kalau skenarionya masih menggunakan gen orang tuanya ya masih mendingan. Nanti kalau si bayi, gen-nya sudah dirubah berdasarkan gen yang bukan orang tuanya atau yang nggak jelas dari mana, atau malah dari spesies lain untuk ‘menyempurnakan’ kemampuan si bayi, nah ini baru konyol mengerikan… huehehe….πŸ˜€

    @Raffaell

    Yang jelas sih udah ketahuan jadi orang… huehehe…:mrgreen:

    @ubadmarko

    Mungkin anak cucu kita yang mengalami, tetapi mudah2an umat manusia tidak salah langkah ya??

    @adipati kademangan

    Nah… itu dia…. terkadang kita tidak mengetahui reaksi orang akan bagaimana. Apakah reaksi seseorang berlebihan atau tidak, dari sekarangpun sepertinya orang sudah mengalaminya. Contohnya: masih banyak bekas napi kelas kakap terutama kasus pembunuhan yang susah diterima kembali untuk bekerja bahkan untuk diterima kembali di masyarakatnya atau lingkungannya yang lama. Apakah hal tersebut suatu yang berlebihan?? Garis antara berlebihan dan tidak memang sangat kabur di masyarakat yang kompleks ini… Dan masing2 punya standard yang berbeda….πŸ™‚

    @edratna

    Mudah2an mungkin ke depannya etika kedokteran dan masyarakat dapat menunjukkan dengan jelas, bagaimana ilmu genetika dan informasi genetika tersebut digunakan… sehingga ilmu genetika benar2 bisa digunakan hanya untuk yang jelas2 dapat memperbaiki kualitas hidup manusia… walaupun tentu hal tersebut tidak mudah juga.

    @jiwakelana

    Instal ulangnya di toko komputer ya?? Huehehe….:mrgreen:

  14. Jadi di masa depan daripada pusing melamar kerjaan takut gak keterima, mendingan membuka kerjaan ajaπŸ™‚

  15. Rekayasa genetika bisa jadi merubah manusia secara fenotipe fisik tapi saya nggak yakin fenotipe sifat juga bisa direkayasa melalui rekayasa genotipenya. Fenotipe sifat koruptor kayanya lebih didominasi lingkungan dibandingkan genotipennya. Buktinya koruptor di Indonesia lebih banyak yang cakepnya dibandingkan dengan yang punya “beungeut”/tampang kriminil…

  16. ehmmm… menarik bgt neh ma genetika …
    apakah genetika akan mempengaruhi perilaku masa dpan ?!
    jawabnya tidak 100% … krn selain faktor genetika, manusia itu memiliki faktor lingkungan yang bisa membentuk masa depannyaπŸ™‚

  17. jangan… ntar bayarnya diitung per-‘keluar’. hehehe…

    jadi sekali ‘plung’… seribu. dua kali ‘plung’… dua ribu.:mrgreen:

  18. hehehe.. jadi cloning yaaa.. kalau semua pintar.. yang bodo siapa yaaa.. *kliyengan*.. lirik kanan lirik kiri.. berarti tinggal saya dunk
    Salam Sayang

  19. Jika ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sedemikian pesatnya, maka memang etika dan agama menjadi satu-satunya (eh, dua-duanya) cara untuk mengendalikan perilaku manusia. Hingga saat ini, alam sudah mengajarkan kepada kita, bahwa mengubah pola dan proses alam pada akhirnya hanya akan membawa bencana.

  20. @indra kh

    Nah… sebagai yang membuka lapangan pekerjaan, apakah kelak kita juga akan mengacu kepada kode genetika sebagai bahan pertimbangan juga ketika kita akan menerima pengawai??:mrgreen:

    @Kang Aom

    Memang tampang nggak ada hubungannya sama koruptor bahkan pembunuh, lihat aja banyak tampang2 yang alim2 seperti kasus Fery si penjagal dari Jombang. Lihat aja tampangnya seperti anak alim.:mrgreen: (lihat juga komen saya untuk afwan auliyar di bawah ini)

    @afwan auliyar

    Memang betul, lingkungan juga berpengaruh. Tetapi sering kita jumpai bahwa ada banyak orang2 yang berada pada lingkungan tertentu yang keras namun ia tidak gampang terpengaruh atau bahkan hampir tidak ada pengaruhnya, ini menandakan bahwa gen sangat berperan pada tingkah laku kita. Sebaliknya ada banyak juga orang dikepung oleh lingkungan yang baik2 namun toh tetap ia dapat melakukan hal2 yang di luar akal sehat. Seberapa besar gen-gen kita berpengaruh terhadap tingkah laku kita?? Agaknya riset2 genetika di masa depanlah yang akan bisa menjawabnya….πŸ™‚

    @diazhandsome

    Wah… gawat dong…. kalau mencret gimana cara ngitung bayarannya ya?? Belum lagi kalau yang keluar cuma kentut doang, ngitung bayarannya gimana tuh??:mrgreen:

    @KangBoed

    Gampang. KangBoed tinggal pergi ke ahli genetika suruh minta rubah gennya agar jadi orang jenius. Rebes kan?? Huehehe….:mrgreen:

    @tutinonka

    Kadang2 manusia yang sangat ingin tahu dalam ilmu pengetahuan seringkali melangkahi etika dan apalagi agama karena rasa haus akan keingintahuannya. Terkadang sebelum manusia merasakan dampak kerugiannya langsung mereka belum jera….😦

  21. yo wis jadi entrepreneur aja bos…jadi gak perlu ngelamar kerja…πŸ™‚

    http://sendit.wordpress.com

  22. Salut… ngga bisa coment banyak2…

  23. hmmmm.., sulit juga yahh……
    seperti akan menemukan masa depean yang aneh…
    mudah2 faktor lingkungan masih bisa meredam faktor genetika seseorng….

  24. wow, 100 tahun yang akan datang
    kalo ceritanya seperti itu, aku sudah nda ada pak… tapi sapa tau dipanjangkan umur, tapi nda ahhh, makanya Tuhan melarang kita untuk mengobrak-abrik ciptaanNya, supaya nda kacau

  25. @sendit

    Jadi entrepreneut semua, nanti siapa yang kerja dong?? Bukannya entrepreneur dan pekerja adalah sebuah kesatuan di masyarakat kita yang sulit dipisahkan?? Huehehe….πŸ˜€

    @wahyu Β’ wasaka

    Kalau begitu saya juga nggak bisa njawab komennya banyak2 deh… huehehe….:mrgreen:

    @ridhobustami

    Bagaimana jikalau faktor genetika yang “lebih kuat” dibandingkan faktor lingkungan?? Akankah kita “siap”?πŸ˜€

    @reallylife

    Yah begitulah manusia…. rasa ingin tahunya tinggi terutama para ilmuwan… namun mungkin karena begitulah manusia belajar dan peradaban manusia berkembang walaupun perkembangan peradaban juga erat dengan kesalahan2 langkah dalam sejarah manusia…πŸ™‚

  26. kalo mencret? ya diitung per-ngeden. sekali ’emmff’ seribu. kalo ’emmff… prot’ dua ribu. kalo ’emmfff… oeeekk’ -> pergi ke rumah sakit terdekat. hehehe..

    jorok ah.

    • Huahahaha…. kalau ngeden bunyinya cuma ‘tuuuut’ doang nggak keluar mencretnya gimana tuh??

      **halaah kok jadi ngebahas kayak ginian sih nggak mutu amat** huahahaha….πŸ˜†

  27. ha. . . . ha. . .

  28. Wah tulisan tentang genetika yang sangat menggugah, memang ilmu ini termasuk penemuan yang sangat berpengaruh baik dalam dunia medis maupun untuk banyak bidang lain. Terimakasih, post yang bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s