Debat Capres (Cawapres) Lawan Wimbledon…

debateLah…. apa hubungannya Debat Capres dan Wimbledon? Hubungannya….. memang tidak ada! Namun bagi saya, keduanya sedikit “bersinggungan” karena dalam seminggu dua minggu ke depan ini jadwal debat capres (dan cawapres) akan bertubrukan dengan jadwal siaran langsung kejuaraan tennis yang bisa dikatakan terakbar di dunia yaitu Wimbledon yang mulai disiarkan langsung kemarin sore, Senin 22 Juni 2009. Walau kedua event ini termasuk event yang saya tunggu-tunggu penayangannya lewat televisi tapi kedua-duanya sudah menuai kekecewaan buat saya. Kenapa??

Debat capres pertama yang saya ikuti minggu lalu di televisi ternyata telah mengecewakan saya. Kenapa?? Anda tentu sudah tahu kenapa sebabnya. Ya… karena acara yang judulnya “Debat Capres” menjadi lebih mirip jika judulnya diganti menjadi “Sinergi (antar) Capres”. Para peserta debat lebih banyak ho’oh dan seiya-sekata dengan lawan debatnya dibandingkan mendebat pernyataan, opini, visi dan misi lawan-lawan debatnya. Jadi dalam debat capres yang pertama, esensi debat yang seharusnya ditampilkan dalam acara itu gagal ditampilkan sehingga masyarakat jadi susah membedakan perbedaan visi dan misi para capres. Lah, kalau sudah seiya sekata ngapain juga diadakan acara debat?? Lantas, kalau semua capres (dan cawapres) sudah seiya sekata dan cuma saling mengekor ya buat apa masyarakat harus memilih dengan cerdas, lah wong para capresnya juga bisanya cuma “ho’oh” saja dalam berdebat……

Menurut pendapat saya pribadi (tentu bisa saja salah walaupun bisa juga benar sekaliπŸ˜› ) memang para peserta debat punya “beban mental” tersendiri. Selain sepertinya para capres ingin tampil santun, sepertinya para capres ini juga takut “salah berargumentasi” dalam perdebatan tersebut. Dan juga sepertinya, masih menurut saya, ehm, sepertinya capres yang nomor satu dan yang nomor tiga sedikit ogah untuk berkonfrontasi satu sama lain. Karena….. mereka saling membutuhkan suara pendukung yang rontok pada pilpres putaran pertama untuk menghadapi pilpres putaran kedua. Ya, nggak lucu dong, nanti saling mendukung sekarang mengkritik dan berdebat sengit. Untuk itu sepertinya capres yang nomor satu dan nomor tiga hanya “bernafsu” untuk berkonfrontasi dengan capres yang nomor dua. Namun sepertinya juga kurang elok jika dalam perdebatan yang seharusnya segitiga itu menjadi perdebatan “garis lurus” karena titik yang ketiga dalam segitiga tersebut sudah bergabung (berhimpitan) dengan titik pertama untuk sama-sama menghantam titik yang kedua.

Nah, masih menurut saya lagi, seharusnya agar perdebatan lebih hidup format acaranya memang harus diubah. Penyampaian visi dan misi masing-masing para capres (dan cawapres) pada masing-masing topik sebaiknya ditiadakan, atau kalaupun ada paling lama hanya lima menit saja, jangan sepuluh menit, terlalu lama. Toh, kemungkinan besar nanti yang didengar juga cuma lagi-lagi hal-hal yang berbau normatif yang terkesan basi. Untuk itu, waktu yang berharga tersebut bisa langsung digunakan untuk sesi perdebatan. Agar para capres (dan cawapres) lebih terangsang untuk berdebat, maka sesi yang perlu ditambahkan mungkin adalah “sesi pertanyaan antarcapres (dan cawapres)”. Dalam sesi ini seorang capres (dan cawapres) bebas bertanya atau mempertanyakan kepada capres (dan cawapres) lainnya, yang mana saja, tentang visi, misi serta program-program para capres (dan cawapres) yang ditanya tersebut yang sesuai dengan topik yang diperdebatkan tentu saja. Atau boleh jadi ditambahkan juga “sesi mengkritik antar capres (dan cawapres)” di mana para capres (dan cawapres) “wajib” untuk mengkritik visi dan misi serta program-program capres dan cawapres lainnya. Kritikan boleh menyangkut performansi capres dan cawapres masa lalu (ketika menjabat sebagai presiden dan wapres) ASAL sesuai dengan topik yang diperdebatkan. Nah, di sinilah peran moderator sesungguhnya untuk meluruskan kembali perdebatan jika perdebatan telah keluar dari topik atau menjurus kepada hal-hal yang berbau pribadi atau subyektif. Dengan moderator yang cakap diharapkan perdebatan akan berlangsung terarah namun mendalam serta tetap obyektif.

Tennis-02-juneTentu itu hanya usul saja dari saya. Namun kita lihat saja, apakah debat capres (dan cawapres) seri selanjutnya akan semakin seru?? Mudah-mudahan semakin seru (namun tidak ngawur) agar kita bisa melihat capres dan cawapres kita yang bermutu dalam berargumentasi dan perdebatan, serta untuk masyarakat mengetahui mana capres yang paling cocok untuk mereka. Namun kalau acara perdebatan capres (dan cawapres) masih nggak seru juga, tidak apa-apa bagi saya, saya akan beralih channel untuk melihat siaran langsung pertandingan tennis Wimbledon dari Inggris.

Nah, seperti yang saya utarakan sebelumnya, ternyata Wimbledon tahun ini juga cukup mengecewakan bagi saya. Kenapa?? Karena petenis Spanyol Rafael Nadal tidak ikut tahun ini karena kondisinya tidak fit 100% untuk ikut Wimbledon. Sehingga nampaknya petenis Swiss Roger Federer peluangnya sangat besar untuk menjuarai Wimbledon. Bukannya saya tidak suka dengan Federer jika ia menjadi juara namun karena Federer sebelumnya sudah menjuarai Wimbledon 5 kali berturut-turut dari tahun 2003 hingga 2007, sementara Rafael Nadal baru sekali. Satu-satunya yang bisa menggagalkan Roger Federer adalah petenis tuan rumah Andy Murray yang berada di peringkat ketiga dunia. Mudah-mudahan pertemuan Roger Federer dan Andy Murray dapat terjadi di Final dan dapat menjadi pertandingan yang lebih seru dibandingkan partai final tahun lalu antara Roger Federer dan Rafael Nadal (yang dimenangkan oleh Rafael Nadal). Tapi untungnya, di bagian tunggal putri, kekuatan masih cukup merata di mana dua petenis kulit hitam bersaudara asal Amerika Serikat Venus dan Serena Williams akan dicoba “dikeroyok”Β  oleh petenis-petenis Rusia dan Eropa timur yang kebanyakan cantik-cantik tersebut seperti Maria Sharapova, Svetlana Kuznetsova, Dinara Safina, Ana Ivanovic dan Jelena Jankovic. Ok deh, kita lihat saja siapa yang juara nanti.

Nah, untuk itu nanti jika acara debat capres dan cawapres mengecewakan, saya bisa beralih channel menonton siaran langsung tennis Wimbledon di StarSports. Tinggal pilih mana yang lebih menarik. Kalau kedua-duanya sama-sama menarik ya harus pasang dua buah TV atau saya harus bolak-balik antara ruang tamu dan kamar tidur. Huehehehe…….

29 responses to “Debat Capres (Cawapres) Lawan Wimbledon…

  1. Barusan saya lihat di tv one katanya banyak tim sukses capres dan cawapres cari pertanyaan bocoran dari moderator kayak anak sekolahan aja. Haha.. Menurut saya capres dan cawapres mau nampak spt negarawan saat berdebat tapi yg terlihat malah sangat artifisial dan tumpul.

  2. gimana kalo liat debat antara wirantovich, budiolski, dan prabovovich ya pak ????

  3. Sebenarnya perdebatan yg sudah seiya sekata tidak perlu lg dilanjutkan. Hambur2 saja uang.

    Sudah jelas menuai kritik. Kok, KPU tidak mau berbenah dengan cara mengubah format atau apalah yang bisa menunjukan kapasitas kandidat dalam memaparkan strategi perbaikan bangsa. Mengecewakan.

    Malah KPU cari pembenaran lagi dari Undang-undang, untuk meloloskan keinginannya.
    Kasihan, pak Komar yang bakal jadi moderator di debat nanti.

    Kesantunan memang patut dijaga, tapi alangkah lebih baiknya jika kebenaran dikedepankan.

    Capres2nya lagi dalam masa melankolia.

    Bang Yari, maaf kepanjangan komen.

  4. putar saluran ke tv kabel aja, byk acara menarik kan.

  5. jadi nyontreng siapa jadinya?

  6. debat capres/ cawapres kita
    kurang menarik disimak
    sudah pasti lebih seru
    menonton Tennis Wimbledon

  7. hem…lama ga kunjung ke blog ini..
    banyak yg berubah…
    sory2 kalo ga pernah kunjung2

  8. Hehehehe.. Kayanya lebih seru nonton Abdel dan Temon atw SUAMI SUAMI TAKUT ISTERI… hehehe.. habis Capeeeeee deeeeeh… tebar pesona… begitu naik.. daaaaaag.. daaaag.. dadaaaaaaaaaaaaah..
    Salam Sayang

  9. @Ag bint

    Ya… itulah Indonesia…. padahal justru perdebatan yang terarah akan mengasah intelektual dan emosional kita, dan sepertinya momen debat tidak dapat digunakan oleh capres dan cawapres kita untuk mengasah secara maksimal intelektual mereka (hanya emosionalnya saja yang terkontrol). Mereka lebih memilih jaim yang tidak pada tempatnya. Kemarin debat cawapres sudah jauh lebih baik namun tetap saja terasa hambar. Umpamanya pada debat capres yang pertama seperti makanan lupa dikasih garam. Sedangkan pada debat cawapres kemarin sudah dikasih garam 1 sendok teh padahal seharusnya ukuran garamnya 1 sendok makan agar terasa enak!πŸ˜€

    @mantan kyai

    Asal jangan nonton mantan kyainovic debat sambil main tenis aja!πŸ˜†

    @Skydrugz

    Kalau begitu UU-nya yang perlu diubah ya?? Tapi biarlah acara berjalan terus….. ini merupakan pembelajaran bagi semua fihak termasuk KPU, capres dan cawapresnya ataupun kita sebagai rakyat. Setiap “kegagalan” saya percaya pasti ada hikmahnya (kata orang bijak yang klise) tinggal tentu saja apakah kita mau belajar SECARA SUNGGUH-SUNGGUH dari “kegagalan” itu….

    @Huang

    Laah…. tenisnya kan juga dari TV kabel???

    @aRuL

    Kayaknya kalo capres dan cawapresnya debatnya kayak kemarin2 mendingan nanti milihnya ngundi pakai dadu aja deh. Huehehehe…. Nggak usah memilih dengan cara pintar mengingat capres dan cawapresnya juga dalam debat saja “nggak bisa”. Huehehe…..

    @mikekono

    Sayangnya bang mike, kalo babak-babak awal tenis Wimbledon biasanya kurang ramai karena pertandingan masih belum berimbang. Di babak2 awal pemain2 unggulan bertemu dengan pemain2 urutan terbawah…..😦

    @maman

    Wah… iya nih…. saya juga malah sudah lupa2 inget siapa yang memberi komentar ini ya sebelum berkunjung balik ke blog anda..πŸ˜€

    @KangBoed

    Tebar pesona sih nggak apa2, asal jangan tebar Rexona aja…. disangkanya nanti nyindir penontonnya disangkanya ketiaknya bau. Huehehehe…..

  10. Semoga KPU membaca blog ini sehingga format debat yang akan datang tidak seperti kontes kecantikan lagi…………

  11. bener.. harusnya kata debat diganti jadi saling dukung…
    nonton di tempat saya aja gan.. 1 tv bisa nampilin 2 channel..

  12. Yah, setidaknya debat cawapres baru – baru ini lbh “menarik”. Meski msh mengawang

  13. mari kita terus dukung proses demokrasi di Indonesia…,

  14. Suka tenis to, Mas Yari? Pernah menang berapa kali di Wimbledon? Besok kalau mau main, kasih tahu saya ya, saya mau lho jadi pemandu sorak (emang ada di tenis?:mrgreen: )

  15. huuuuwaaakaakakak.. katanya kalau pake rexona dah wangi yaaaa.. nyatanya malah jadi campur campur.. pusing daaah
    Salam Sayang

  16. itumah bukan debat… g’ ada kesan debat nya hihihi

  17. kalo gak ada yang menarik?? tidur aja di atas kulkas… hehehe.

    (btw, debat gw nonton tuh. emang gak seru. terlalu resmi, gak kayak di warteg)

  18. @avartara

    Memang ya, benar, debat capres dan cawapres lebih mirip kontes kecantikan. Tetapi mendingan kontes kecantikan lah, yang dilihat masih seger2…. huehuehue…..:mrgreen:

    @yorick

    Wah… nggak seru satu TV dua channel, biasanya yang satu channel lagi nggak ada suaranya….😦

    @Skydrugz

    Ya… debat cawapres kemarin minimal tensi debatnya sudah ada, meski masih juga terlampau datar….

    @alfaroby

    Wah… kalau mendukung demokrasi sih memang ‘wajib’….πŸ˜€

    @tutinonka

    Kalo mbak Tuti sih, kalo di pertandingan tennis cocoknya jadi kiper atau penjaga gawang….. wakakakakak….

    **ini tennis apa sepakbola sih, nggak jelas!**πŸ˜†

    @KangBoed

    Nah… ketahuan ya…. KangBoed kalo pakai Rexona suka dicampur2. Dicampur apa kang?? Campur kuah bakso ya kang?:mrgreen:

    @zoel

    Huehehehe…. iya ya…. debat kayak gitu sih semua orang juga bisa yak??πŸ˜€

    @diazhandsome

    Nah loh…. diaz nggak punya tempat tidur ya?? Kalo nggak ada yang menarik kok tidurnya di atas kulkas sih?? Kenapa nggak di dalemnya aja sekalian..?? :mrgren:

  19. wahhh mestinya debatnya yang kaya di tipi one…
    yang siape namanya tuh pembawa acaranya…, yang suka ngompor2in

    nah ada baeknya jangan dipake moderator…
    diganti ajah sama tukang kompor biar seru…….πŸ˜€πŸ˜€

    wah kalo tenis saya no comen pak de……, kapan bulutangkis indonesia KO semua (kok ngak nyamung yahh)

  20. Waaaaaaah.. baso nu mananya kang anu enaaaak.. asa jadi lapaaar kieu.. *ngelirik atas*.. tukang kompor.. Mas Wandhi Thoooooooook dipanggil tuh ada yang mau beli kompor..
    Salam Sayang

  21. punya kok… kulkas punyaa… kamar juga punya. heheheπŸ˜€

    di dalem kulkas sih… gulingnya bayem bantalnya roti…πŸ˜€

  22. Betapapun belum memuaskan, namun ide debat ini patut diapresiasi.Debat yang kedua lebih cair, namun memang belum terasa terbuka. Format debat yang disepakati antara KPU, tim Capres/Cawapress, membuat moderator tak bisa mengejar untuk lebih memperdalam. Risikonya, bagi penonton tak bisa melihat perbedaan agenda masing-masing secara signifikan.

  23. hmm debat capres kelihatannya agak kurang seru

  24. iya enda seru.. lebih seru nonton srimulat yaaaa..
    Salam Sayang

  25. @dizhandsome

    Kasurnya keju ya kalo tidur di dalam lemari es??:mrgreen:

    @edratna

    Nah itu dia bu….. kalau kreativitas dikekang biasanya hasilnya menjadi tidak maksimal. Memang betul sih harus ada rambu2 dalam perdebatan presiden (apalagi untuk Indonesia), tetapi sebaiknya “kreativitas” moderator tidak terpasung. Kita percaya moderator2 debat capres dan cawapres adalah orang2 yang pintar dan mereka jikalau diberi kebebasan pasti akan lebih mengarahkan jalannya debat bukan justru membuat perdebatan jadi keluar jalur….

    @Juliawan

    Tetapi debat capres kedua sudah mulai agak lumayan walaupun belum memenuhi keinginan standard pemirsa….πŸ˜€

    @KangBoed

    Lebih seru lagi kalau KangBoed yang ngelawak. Lha wong KangBoednya belum muncul di panggung penontonnya udah ketawa duluan semua… **orang gila kali yang nonton!** wakakakak….πŸ˜†

    • *lirik atas*.. sssttt.. ngomongin sapa bang.. tawanya jangan keras keras.. *ditimpuk sepatu*.. waaah.. kabuuuur.. tatuuuuut.. ada orang ****..
      Salam Sayang

  26. mas yariNK….yang jelas dari debat yang bukan debat ini ada satu hal yg dapat dipelajari….ketika mereka menyimak pembicaraan lawan…. yg ada pada pemikiran mereka bagaimana harus tampil lebih….istilahnya jual pencitraan….namun ketika giliran bicara maka lebih seru lagi yakni mereka berupaya tampil sangat hati-hati…saking hati-hatinya sering di luar konteks…apalagi disertai dengan gugup…apalagi ada kandidat yg bicara sana-sini tidak tahu maunya apa….termasuk bahasanya ngelantur….disinilah ciri manusiawi tampak jelas….yakni tidak lepas dari kelemahan….sekalipun mereka kandidat orang nomor satu RI yg sudah ngantongi pengalaman dalam politik dan pemerintahan….hampir-hampir kreatifitas dan improvisasinya blank…..konon yg ada cuma menggelar impresi ketimbang ekspresi…

    • Betul prof…. mungkin juga masyarakat terlalu banyak berharap terhadap para capres/cawapresnya. Walaupun bagaimanapun juga mereka tetap manusia dan tentu saja jikalau mereka jadi presiden/wakil presiden mereka harus kerjasama guna merencanakan dan mewujudkan program-program mereka. Tentu saja, bagi saya, sebenarnya sah-sah saja jika mereka tidak perlu mengetahui keseluruhan secaara MENDETAIL. Namun setidak2nya menurut saya mereka seyogianya dapat memberikan pelajaran pada masyarakat bagaimana berdebat yang baik. Bukan hanya menjaga kesantunan tetapi juga mencontohkan bagaimana teknik debat yang baik (walau tidak perlu sempurna) dan juga yang penting adalah bagaimana mereka dapat membawa esensi perdebatan sehingga misi dari diadakannya debat tersebut dapat tercapai dan diterima di masyarakat dan tidak hanya sekedar menghambur2kan sumberdaya hanya untuk perdebatan yang tidak mempunyai esensi….

  27. Ping-balik: Pemilih.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s