Monthly Archives: Agustus 2009

Ketidakakuratan Informasi Dari Malaysia?

Merahputih-Garuda-176208Sebenarnya hari ini saya seharusnya menulis sesuatu tentang keagamaan sesuai dengan tradisi saya dalam bulan Ramadhan selalu menulis tentang hal-hal yang berbau keagamaan. Tetapi entah kenapa, kok mendengar kasus tari Pendet yang “diklaim” Malaysia rasanya kok gatal mau menulis tentang hal ini. Namun saya akan menulisnya dari sisi yang agak berbeda. Mungkin habis artikel ini, saya akan berusaha kembali untuk menulis artikel-artikel keagamaan semampu saya (yang dicomot dari sana-sini) baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris. Harap maklum.. :mrgreen:

Sebenarnya saya pertama kali melihat klip promosi “Enigmatic Malaysia” dari saluran Animal Planet bukan dari saluran Discovery Channel. Maklum saja, karena Animal Planet adalah memang milik bersama dari BBC (British Broadcasting Corporation) dan Discovery Channel. Saya juga menyadari ada keanehan dari klip “Enigmatic Malaysia” tersebut berupa adanya gambar penari Bali (saya sendiri awalnya tidak tahu kalau itu adalah penari pendet tahunya cuma tari Bali saja hehehe…). Saya juga tidak menyadari waktu itu bahwa gambar penari pendet itulah yang bakalan menghebohkan seluruh negeri ini. Lantas apa reaksi saya ketika pertama kali melihat ada penari Bali di klip promosi tayangan “Enigmatic Malaysia” itu? Marahkah? Gondokkah?? Sebenarnya sama sekali tidak! Justru waktu itu saya tertawa terkekeh-kekeh dalam hati: “Ini orang Malaysia kok asal comot saja sih?? Apa orang Malaysia ini bodoh kurang cerdas untuk membedakan mana budaya Malaysia dan mana budaya Indonesia?? Di saluran Discovery Channel pula…. sungguh memalukan!”

Saya pribadi adalah orang yang sangat menghargai keakuratan informasi walaupun sebagai manusia tentu saja saya juga sering lalai dan memberikan informasi yang kurang akurat. Walaupun begitu, saya sangat berusaha untuk memberikan informasi seakurat mungkin dan saya juga menghargai orang yang memberikan informasi kepada orang lain seakurat mungkin. Bagi saya adalah sungguh memalukan jika ada fihak-fihak yang memberikan informasinya secara tidak akurat terutama untuk hal-hal yang berbau informasi pengetahuan, budaya, dan lain-lain. Nah, tentu saja jikalau ada tayangan gambar penari Bali sebagai bagian dari promosi Malaysia tentu saja hal tersebut merupakan informasi yang sangat tidak akurat! Apa hubungannya penari Bali dengan Malaysia (walaupun bisa saja dihubung-hubungkan dengan maksa sekali!)?? Saya berfikir ini merupakan pembodohan bagi mereka yang menyaksikan tayangan tersebut baik di luar Malaysia maupun bagi rakyat Malaysia sendiri! Walaupun pada akhirnya fihak Discovery Channel mengaku bersalah atas tayangan tersebut karena klipnya dibuat oleh mereka sendiri namun menurut saya pemerintah Malaysia (dan juga fihak rumah produksi KRU di KL yang memproduksi tayangan Enigmatic Malaysia) juga turut bersalah karena tidak ikut mengkoreksi klip tersebut!

Saya hanya berharap mudah-mudahan ini adalah “kebodohan” terakhir yang “dibuat” oleh fihak Malaysia. Jangan sampai ada anggapan bahwa pendidikan di Malaysia hanya bisa menghasilkan orang-orang yang hanya bisa menginformasikan sesuatu yang tidak akurat! Lha, wong membedakan budaya Indonesia dan budaya Malaysia saja mereka tidak becus! Bangsa yang maju adalah bangsa yang bisa menghasilkan informasi secara akurat. Malaysia mungkin adalah negara yang termasuk makmur namun JIKALAU mereka gagal menghasilkan informasi secara akurat (apalagi tentang sesuatu hal yang jelas-jelas bisa dibedakan!) mereka masih mencerminkan sifat-sifat masyarakat yang terbelakang! Ingat, makmur belum tentu maju!

Bagi kita masyarakat Indonesia, jangalah kita marah secara berlebihan, karena bagaimanapun juga reaksi yang berlebihan tidak akan menguntungkan siapapun juga. Namun kita juga harus tetap waspada, yang penting kita harus lebih banyak bertindak (daripada berperang kata-kata dan berdiplomasi berlebihan yang hanya ngomong melulu dan tidak maju-maju!) secara nyata, dengan cara damai dan terhormat tentu saja, bagaimana agar Malaysia tidak berdaya mengklaim dan mematenkan budaya-budaya kita di masa mendatang!

Ramadan Mubarak! (1430)

Ramadan_card

Time flies! Months roll by! As the holy month of Ramadan was drawing near, we purged ourselves from sins and misdeeds. So when we are to enter Ramadan, our hearts have been purified to fast in Ramadan as we are told. Like it happened last year, to partake in glorifying Ramadan, this blog will temporary change its face. When beyond Ramadan, so-called scientific and worldly articles predominate the face of this blog, in Ramadan, you will see religious articles high and low. However for those who are devout, might find it disappointed since the articles will not meet their expectations. But it is okay for me, I think all I have to do is just to try my best to be good at writing religious stuffs.

But there is a difference  between this year and last year on the time interval between two back-to-back articles. Last year, I managed to author an article every three days, but I am afraid in this year I have to slacken the pace to about five days. That’s because I am less ready this year due to my heightening offline activities lately. However, if I have more slack time I will try to deliver it to your screen in a more rapid pace… 🙂

So last but not least, in this holy Ramadan,  I wish that all of our worships and benevolences will be rewarded by Allah swt. Amin. 🙂

Merdeka !!!

Sebenarnya tema postingan ini sederhana saja kok….  Ingin mengetahui definisi merdeka itu seperti apa, karena kita sudah katanya 64 tahun merdeka, tetapi apakah kita menyadari apa hakikat kemderdekaan sesungguhnya?? Ingat ya…. kemerdekaan yang saya maksud di sini bukanlah kemerdekaan dari kemiskinan, kemerdekaan dari kebodohan, kemerdekaan dari korupsi dan lain-lain…. tetapi yang saya maksudkan di sini adalah definisi merdeka dalam arti kata “siapa yang memerintah kita”. Apakah menurut anda merdeka itu terletak hanya ketika bendera Belanda diturunkan dan bendera Indonesia dinaikkan?? Atau….. apakah merdeka hanya didefinisikan ketika orang yang memerintah negara kita sesuai warna kulitnya dengan warna kulit kita?? Ketika penduduk Hawaii asli yang warna kulitnya jauh dari bule, memilih untuk bergabung dengan Amerika Serikat misalnya yang presidennya kebanyakan bule, apakah berarti mereka masih “dijajah”?? Ketika hak-hak politik kita di zaman orde baru dulu dipasung, apakah kita benar-benar sudah merdeka waktu itu?? Ketika dulu Hongkong masih dijajah Inggris, namun penduduknya makmur luar biasa, sehingga kehidupan rakyat Hongkong yang waktu itu masih “dijajah” namun standar hidupnya bisa jauh lebih tinggi dari kebanyakan negara-negara yang sudah merdeka termasuk Indonesia waktu itu, apakah berarti rakyat Hongkong masih merasa terjajah waktu itu?? Ingat… ketika Hongkong ingin dikembalikan ke China waktu itu, justru banyak rakyat Hongkong yang merasa nyaman “dijajah” Inggris dibandingkan harus “merdeka” dikembalikan ke China.

Jadi menurut anda semua, sebenarnya definisi “merdeka” itu apa ya?? Apakah selama ini kita hanya ikut-ikutan saja mendefinisikan kemerdekaan itu?? 😀

Boom! It Went Off!

Ka_BoomLast week, millions of TV viewers nationwide watched  for about 17 hours one of the most stunning  live TV transmissions in Indonesian television’s history about operation of capturing terrorists. The terrorist who defended inside the shack was believed to be Indonesia’s most wanted earthling: Noordin M. Top. When the operation was up, the thought of Top being killed was in the air. But soon through the later DNA identification revealed that the dead terrorist was not Top. Of course it should not play down the efforts of the police to foil terrorism because whatever the result ended in we have to keep encouraging the force to thwart terrorism and I believe most of Indonesians still have one voice in unison that  the top-rank terrorist Top must be captured dead or better alive.

Through this article I will not take you to discuss the action-packed (is it?) operation, in that I’m not interested. Instead I’m gonna bring you to see how a chemical reaction occurs in explosion. While making a bomb requires a trained person and a dab hand at it (which definitely I am not), to understand the chemical reaction in explosion does not call for rocket scientists! Ok without anymore beating about the bush, let’s find out the lowdown on the chemical reaction in explosion.

Explosions occur when a chemical reaction takes place rapidly and with a considerable increase in volume. They often involve compounds rich in nitrogen such as nitroglycerine, trinitrotoluene (TNT) and  ammonium nitrate (Yes! You are right! Ammonium nitrate is a common fertilizer!) These compounds can decompose readily, yielding nitrogen gas as one of the products. Explosive mixtures are used for a wide variety of projects ranging from earthmoving, building demolition to making bombs. Vehicles loaded with ammonium nitrate, vests stuffed with the explosives to be worn by suicide bombers  or luggage loaded with the explosives (the two last options are more common in Indonesia) have been used in terrorist attacks worldwide. The compound, ammonium nitrate, mixed with fuel oil and it is dubbed ANFO (ammonium nitrate-fuel oil) is an explosive with enormous destructive power.

The chemical reaction taking place in explosion are usually the result of redox (reduction-oxidation) reactions.  The ammonium nitrate is both reduced and oxidised with ammonium ion acts as the reducing agent whereas nitrate ion acts as the oxidising agent. (Recall your high school chemistry class! :mrgreen: ) The fuel oil provides additional oxidisable material. Now let’s take a look how the chemical reaction occurs in a simple chemical reaction. The fuel oil is usually a long carbon chained alkane or cycloalkane:

52 NH4NO3 (s) + C17H36 (l)  ————-> 52 N2 (g) + 17 CO2 (g) + 122 H20 (g)

The reaction starts with 53 mol of materials, most of it solid and liquid, in the end it yields 191 mol of products, all gases! A reaction of solid and/or liquid reactants that generates gaseous products involves a huge volume increase. This enormous volume increase that yields the explosion with flash and very loud boom which are characteristic of the explosion. The volume increase also gives rise to a shockwave travelling at an enormous speed of up to 9000 metres per second with monstrous pressure of up to 700,000 atmospheres.

So why ammonium nitrate?? It is because a common fertilizer, and fuel oil is also common and it is not hard to find one. The fact that both these materials are so accessible to potential terrorists is cause for serious concern. The compound that nourishes plants and cash crops can massively kill people and devastate physical structures in the face of terrorism!

Asal Kata…

Saya dulu waktu penyusunan skripsi sarjana tahun 1992 lalu pada saat pengajuan judul  pernah ditegur karena memakai kata ‘efektivitas’. Menurut pembimbing saya waktu itu, kata “efektivitas” itu salah, karena yang benar adalah “keefektifan”. Saya, yang waktu itu tidak mengerti Bahasa Indonesia yang baik dan benar dan kurang peduli, ya cuma manut aja, tanpa bertanya lebih jauh lagi kenapa yang benar adalah kata “keefektifan” bukan “efektivitas”. Baru setelah beberapa tahun kemudian secara tidak sengaja saya KIRA-KIRA tahu penyebabnya. Itu mungkin karena sekarang, Bahasa Indonesia mengacu pada Bahasa Inggris dalam kata serapan asing. Kata efektif, walaupun mungkin penyerapannya dari Bahasa Belanda, effectief, namun kini dianggap ‘harus’ mengikuti kaidah dalam Bahasa Inggris. Dalam Bahasa Inggris tentu saja tidak akan pernah ada kata effectivity melainkan (yang benar adalah) effectiveness. Jadi dalam Bahasa Indonesia tidak ada yang namanya efektivitas tetapi yang benar adalah keefektifan. Mungkin begitu barangkali alasannya ya?? :mrgreen:

Nah, lain lagi ceritanya, di sebuah blog yang cukup terkenal, si empunya blog tetap keukeuh menggunakan kata nominator untuk menyebut orang-orang yang diberikan nominasi, padahal ia sudah diberitahu berulangkali. Seperti contohnya misalnya: “Nominator untuk penghargaan bla..bla..bla.. adalah Si Fulan, dst”. Padahal setahu saya, nominator itu adalah orang yang memberikan nominasi, sedangkan orang yang menerima nominasi itu disebut nomine. Ini sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia kalau tidak salah dan juga sesuai dengan kaidah tata bahasa Inggris juga di mana sepertinya kata itu diserap. Dalam Bahasa Inggris nominator adalah orang yang memberi nominasi sedangkan nominee adalah orang yang diberi nominasi. Kata bahasa Inggris yang berakhiran -ee berarti adalah “yang di…”. Contoh lainnya adalah: auditee, absentee, presentee, dan sebagainya. Tetapi jangan salah loh, si pemilik blog tersebut bukan satu-satunya orang yang membuat kesalahan “fatal” seperti itu. Di sebuah toko buku terkenal, saya pernah melihat buku yang cukup laris di pasaran yang pada cover-nya juga berbuat kesalahan serupa yaitu memasang kata “nominator” untuk kata yang seharusnya adalah “nomine”!

Cerita lain adalah, secara tidak sengaja dan iseng dulu, saya membaca sebuah surat lamaran dari seseorang berbahasa Inggris. Tata bahasanya sih sudah lumayan baik walau masih ada kesalahan dasar di sana-sini. Namun kesalahan yang cukup menarik perhatian saya adalah penggunaan kata prestation dalam surat tersebut! Tentu saja kata prestation itu oleh si penulis surat lamaran maksudnya adalah prestasi. Dalam bahasa Inggris tentu saja tidak ada kata prestation yang berarti prestasi karena prestasi dalam Bahasa Inggris itu adalah achievement. Kata prestasi dalam Bahasa Indonesia sepertinya diserap dari Bahasa Belanda, prestatie. Yang saya tahu, memang prestatie ini kalau dalam Bahasa Inggris artinya memang achievement walaupun bisa juga artinya adalah performance. Kata prestatie dalam Bahasa Belanda ini sepertinya dari Bahasa Perancis, prestation. Namun dalam Bahasa Perancis arti prestation ini sedikit berbeda dari yang Bahasa Belanda, prestatie. Dalam Bahasa Perancis, prestation ini artinya bisa performance, provision of a service, benefit, loan ataupun allowance. Namun tidak berarti achievement. Yang saya “heran”, walaupun Bahasa Inggris modern, kira-kira 80% vocabulary-nya merupakan ‘fotokopian’ dari Bahasa Perancis, tetapi sialnya kata ‘prestation‘ ini tidak terkopi ke dalam vocabulary Bahasa Inggris. Kenapa ya?? Walahu’alam deh…..

Sebenarnya cukup banyak juga cerita-cerita tentang asal kata ini dari kata-kata serapan lainnya, tapi karena udah capek mengetiknya, ya udah segini aja dulu deh… 😛

Alternate Languages?

In addition to this blog, I actually have two other blogs which are accessible to the public. But it is sad to find that I cannot keep both of them up and running. The English blog in Blogspot is even more forsaken, that’s because I now fail to recall the correct account, so each time I key in my e-mail address to access the blog, it turns me down! Silly, isn’t it??

Actually writing articles in English is very fun to me. Chances are my blog will be read by more people throughout the globe. Unfortunately I can’t keep two blogs simultaneously at least for now, so that’s why I have to abandon one of them. After long consideration I arrived at a decision that I have to keep only this blog up, leaving the other two turned down. But of course, the passion for English blogging has never died out inside me, so that’s why I came across the idea, if you can’t maintain two blogs simultaneously why don’t you try to combine them into one? Why don’t you try to write in alternate languages of English and Bahasa Indonesia. Of course it is still an idea and it is not fixed yet. Do you think it is a good idea or is it as worthless as failing to maintain dual blogs??

Sipit Itu Jelek?

Hao Lulu sebelum dioperasi (kiri) dan sesudah dioperasi plastik wajahnya (kanan). Lebih cantik atau sama saja atau malah lebih jelek?

Hao Lulu sebelum dioperasi (kiri) dan sesudah dioperasi plastik wajahnya (kanan). Lebih cantik atau sama saja atau malah lebih jelek?

Alyssa Lai menganggap dirinya tumbuh sebagai gadis yang cantik, namun begitu ia menyadari kalau ia sangat berbeda dari kawan-kawannya yang bule dan bermata biru itu. Itu karena Alyssa Lai kini tinggal di San Jose, California, Amerika Serikat sementara ibu dan ayah Alyssa adalah imigran dari daratan China. Pada ulang tahunnya yang ke-14, orang tua Alyssa ingin memberikannya kado yang  ‘sangat istimewa’ buat anak gadisnya itu yaitu operasi pelebaran kelopak mata (blepharoplasty). Orang tuanya berpendapat bahwa jika mata Alyssa dioperasi untuk diperbesar seperti mata teman-teman Alyssa yang bule-bule itu maka ia akan menjadi lebih cantik lagi. Namun setelah direnungkan dan difikirkannya masak-masak, Alyssa memutuskan untuk menolak hadiah tersebut. Penolakan tersebut bukanlah karena rasa sakit yang akan diderita Alyssa selama seminggu yang akan dirasakannya pasca operasi, namun Alyssa berfikir bahwa cantik tidaklah musti dalam pandangan seorang bule, dan Alyssa sangat bersyukur dengan matanya yang sipit yang alami tersebut.

Namun sayang tidak semua wanita China  bisa berfikir seperti Alyssa Lai. Beberapa malam yang lalu, saya melihat di acara TV One bagaimana wanita-wanita China di daratan China terutama di kalangan mereka yang mampu yang hidup di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai banyak yang tergila-gila mempoles wajahnya habis-habisan dengan operasi plastik. Ya, rupanya definisi cantik menurut gadis-gadis China (terutama mereka yang hidup di kota-kota besar) telah bergeser. Jika dulu, 100 tahun yang lalu, gadis di China dianggap cantik jikalau mempunyai kaki yang kecil, sehingga tidak jarang kaki mereka dibebat dan dibengkokan dengan kayu hingga panjang tapak kakinya hanya 15 cm, sekarang gadis di China dianggap cantik apabila mereka mempunyai mata yang lebar, hidung yang mancung, tungkai kaki yang panjang dan tentu saja tak ketinggalan cat rambut yang kebule-bulean. Pendek kata kini banyak gadis-gadis China yang mengejar impian mereka, tidak hanya sebagai model, tetapi juga sebagai profesional yang lain, dengan kecantikan artifisial yang didapat dari operasi plastik. Biaya yang dikeluarkan, rasa sakit yang dirasakan pada masa pemulihan dianggapnya sebagai investasi masa depan yang tak ternilai harganya.  Operasi plastik yang paling laku adalah operasi pelebaran mata dan operasi pemancungan hidung. Bahkan operasi pelebaran kelopak mata dapat dilakukan hanya kurang dari satu jam lamanya! Karena banyaknya wanita-wanita di China yang mendambakan kecantikan artifisial ini maka kini di China telah digelar kontes kecantikan khusus wanita-wanita polesan operasi plastik. Dan Hao Lulu (gambar di atas) adalah gadis pertama China yang mendapat gelar “kehormatan” tersebut.

Entah kenapa, persepsi kecantikan di kalangan wanita China menjadi begitu berubah. Apakah karena ini karena “serbuan kapitalisme” atau karena alasan intrinsik keminderan orang-orang (wanita-wanita) Asia/China terhadap kecantikan orang-orang Eropa (barat) yang dianggap lebih dibandingkan diri mereka atau campuran keduanya?? “Serbuan kapitalisme” ini dapat terlihat dari maraknya produk-produk kecantikan dari barat terutama yang dari Perancis yang membanjiri pasar China. Produk-produk kecantikan tradisional China kini banyak terdesak oleh produk-produk impor yang modern tersebut. Karena banyaknya model-model cantik bule yang melekat pada produk-produk tersebut mungkin banyak wanita-wanita China yang “tertipu” dengan pandangan bahwa wanita bule lebih cantik daripada wanita China yang alami.

Terlepas dari pandangan bahwa mencari kecantikan artifisial adalah hak individu seseorang (memakai lipstik dan bedakpun sebenarnya juga sudah termasuk menggunakan kecantikan artifisial, bukan begitu?) apakah ini hanyalah masalah cara pandang yang salah? Apakah ‘investasi’ di bidang kecantikan yang artifisial ini  berpengaruh dengan kesuksesan profesi seseorang?? Karena menurut saya, kalau dilihat dari kecantikan yang diperoleh setelah operasi plastikpun, sepertinya wanita-wanita China tersebut tetap saja masih kalah cantik dengan wanita-wanita barat! Itu kalau dilihat dari persepsi mereka sendiri yang menganggap bahwa wanita-wanita bule lebih cantik dari wanita-wanita China yang alami…..