Ketidakakuratan Informasi Dari Malaysia?

Merahputih-Garuda-176208Sebenarnya hari ini saya seharusnya menulis sesuatu tentang keagamaan sesuai dengan tradisi saya dalam bulan Ramadhan selalu menulis tentang hal-hal yang berbau keagamaan. Tetapi entah kenapa, kok mendengar kasus tari Pendet yang “diklaim” Malaysia rasanya kok gatal mau menulis tentang hal ini. Namun saya akan menulisnya dari sisi yang agak berbeda. Mungkin habis artikel ini, saya akan berusaha kembali untuk menulis artikel-artikel keagamaan semampu saya (yang dicomot dari sana-sini) baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris. Harap maklum.. :mrgreen:

Sebenarnya saya pertama kali melihat klip promosi “Enigmatic Malaysia” dari saluran Animal Planet bukan dari saluran Discovery Channel. Maklum saja, karena Animal Planet adalah memang milik bersama dari BBC (British Broadcasting Corporation) dan Discovery Channel. Saya juga menyadari ada keanehan dari klip “Enigmatic Malaysia” tersebut berupa adanya gambar penari Bali (saya sendiri awalnya tidak tahu kalau itu adalah penari pendet tahunya cuma tari Bali saja hehehe…). Saya juga tidak menyadari waktu itu bahwa gambar penari pendet itulah yang bakalan menghebohkan seluruh negeri ini. Lantas apa reaksi saya ketika pertama kali melihat ada penari Bali di klip promosi tayangan “Enigmatic Malaysia” itu? Marahkah? Gondokkah?? Sebenarnya sama sekali tidak! Justru waktu itu saya tertawa terkekeh-kekeh dalam hati: “Ini orang Malaysia kok asal comot saja sih?? Apa orang Malaysia ini bodoh kurang cerdas untuk membedakan mana budaya Malaysia dan mana budaya Indonesia?? Di saluran Discovery Channel pula…. sungguh memalukan!”

Saya pribadi adalah orang yang sangat menghargai keakuratan informasi walaupun sebagai manusia tentu saja saya juga sering lalai dan memberikan informasi yang kurang akurat. Walaupun begitu, saya sangat berusaha untuk memberikan informasi seakurat mungkin dan saya juga menghargai orang yang memberikan informasi kepada orang lain seakurat mungkin. Bagi saya adalah sungguh memalukan jika ada fihak-fihak yang memberikan informasinya secara tidak akurat terutama untuk hal-hal yang berbau informasi pengetahuan, budaya, dan lain-lain. Nah, tentu saja jikalau ada tayangan gambar penari Bali sebagai bagian dari promosi Malaysia tentu saja hal tersebut merupakan informasi yang sangat tidak akurat! Apa hubungannya penari Bali dengan Malaysia (walaupun bisa saja dihubung-hubungkan dengan maksa sekali!)?? Saya berfikir ini merupakan pembodohan bagi mereka yang menyaksikan tayangan tersebut baik di luar Malaysia maupun bagi rakyat Malaysia sendiri! Walaupun pada akhirnya fihak Discovery Channel mengaku bersalah atas tayangan tersebut karena klipnya dibuat oleh mereka sendiri namun menurut saya pemerintah Malaysia (dan juga fihak rumah produksi KRU di KL yang memproduksi tayangan Enigmatic Malaysia) juga turut bersalah karena tidak ikut mengkoreksi klip tersebut!

Saya hanya berharap mudah-mudahan ini adalah “kebodohan” terakhir yang “dibuat” oleh fihak Malaysia. Jangan sampai ada anggapan bahwa pendidikan di Malaysia hanya bisa menghasilkan orang-orang yang hanya bisa menginformasikan sesuatu yang tidak akurat! Lha, wong membedakan budaya Indonesia dan budaya Malaysia saja mereka tidak becus! Bangsa yang maju adalah bangsa yang bisa menghasilkan informasi secara akurat. Malaysia mungkin adalah negara yang termasuk makmur namun JIKALAU mereka gagal menghasilkan informasi secara akurat (apalagi tentang sesuatu hal yang jelas-jelas bisa dibedakan!) mereka masih mencerminkan sifat-sifat masyarakat yang terbelakang! Ingat, makmur belum tentu maju!

Bagi kita masyarakat Indonesia, jangalah kita marah secara berlebihan, karena bagaimanapun juga reaksi yang berlebihan tidak akan menguntungkan siapapun juga. Namun kita juga harus tetap waspada, yang penting kita harus lebih banyak bertindak (daripada berperang kata-kata dan berdiplomasi berlebihan yang hanya ngomong melulu dan tidak maju-maju!) secara nyata, dengan cara damai dan terhormat tentu saja, bagaimana agar Malaysia tidak berdaya mengklaim dan mematenkan budaya-budaya kita di masa mendatang!

Iklan

30 responses to “Ketidakakuratan Informasi Dari Malaysia?

  1. Kasus ini sebenarnya juga memalukan bagi mereka sendiri (Malaysia), apalagi klaim ini bukan terjadi yang pertama kali, dan saya pikir kasus tari pendet inilah yang paling blunder. Meskipun akhirnya mereka banyak berdalih; pihak swasta yang buat, kekeliruan discovery channel, dan alasan lainnya yang tidak elegan.

    Nah semoga kejadian ini membuat masing2 kita mau lebih peduli lagi terhadap kebudayaan sendiri.

  2. Ahh kesalahan itukan menguntungkan pihak malaysia, jadi ya tidak apa-apa lah, karena kalau turis melihat dan datang tapi salah sasaran kan bisa, sedikit basa-basi minta maaf. Yang pentingkan menguntungkan Malaysia. Biar sedikit tipu-tipu yang penting kan turis banyak berkunjung.

  3. yang jelas kesalahan klip itu bikin rakyat Indonesia yang lagi puasa jadi marah. cuma masalah salah informasi aja sih. tapi dampaknya itu yang besar..

    bisa menimbulkan perang kentut.

  4. saya malah menganggap kekeliruan itu memiliki unsur kesengajaan. banyak orang asing yang tidak mengetahui dengan jelas bahwa bali adalah bagian dari indonesia. dengan mamasukkan gambar penari pendet dalam iklan pariwisatanya, malaysia berharap mendapat keuntungan dari “kekeliruan” turis mengenalinya.

    belajar dari pengalaman-pengalaman buruk dengan malaysia, sudah sewajarnya masyarakat kita marah. wong tari pendet yang jelas-jelas sudah dikenal internasional adalah produksi budaya bali saja hampir diklaim begitu, apatah lagi lagu-lagu daerah dan produk kuliner? kalau tidak direspon begini, bisa-bisa lambat-laun tari pendet benar-benar diklaim oleh mereka.

    moga-moga tidak terulang lagi insiden memalukan seperti ini.

  5. Kita mendapat pembelajaran lagi, sudah waktunya kita semua bahu membahu menyelamatkan budaya negeri tercinta.

  6. ehm …
    Dulu sebelum masalah klaim mengklaim ini muncul, kita mengirimkan guru dan dosen kesana. Negara tetangga itu butuh bimbingan agar pintar dalam membangun bangsa di segala bidang.
    Klaim angklung, meskipun mereka mahir memainkannya dan menyatakan itu temuan mereka namun kan masih tetep bangsa Indonesia ini yang ngajarin, sambil kita ngajarin orang luar negeri yang lain. klaim batik, hohoho monggo silakan saja bikin batik malaysia. Di Indonesia sendiri sudah ratusan tahun tercipta batik pekalongan, batik solo, batik jogja, batik madura serta batik yang tersebar di seluruh nusantara yang dengan sekali pandang kualitasnya sudah jauh di atas daripada batik mereka. klaim reog, kita seharunya sebagai guru harusnya ngajari, memberitahu gerakan yang benar, antraksi yang lebih berani, kalo perlu tampil bersama. klaim tari pendet, saran saya sih monggo dikasih saja. saya malah sangsi jangan-jangan orang-orang negara tetangga itu ndak ada yang bisa menari. maksud saya begini, yang penting di klaim dulu, setelah punya hak baru kemudian dipelajari gerakannya, jadi ya tetep … orang bali yang ngajari gerakan tari pendet. Lha terus reaksi bangsa Indonesia gimana? ya tinggal tunjukin ke discovery channel, mbikin iklan sendiri kalo tari pendet malaysia itu ternyata orang bali yang ngajarin 😀

    Ayolah, mbok ya jangan marah gitu toh, negara tetanga itu kan masih kecil, masih perlu diajari tatakrama. Mari kita kirimkan lagi guru yang mengajarkan tatakrama, kesantunan bangsa Indonesia.

  7. Majulah Indonesia ku….

  8. itu ketidakakuratan atau memang kesengajaan dan propaganda?

  9. malaysia lagi… malaysia lagi… kalo menurut saya apakah kesalahan tsb disengaja atau tdk yg jelas informasi tsb tetap merupakan ketidakakuratan dan saya setuju bangsa yg maju adalah bangsa yg mengutamakan keakuratan dan tdk menipu para pemirsanya walaupun dng dalih keuntungan.

  10. Sahabat mari kita gunakan momentum PUASA RAMADHAN ini untuk mempersatukan RASA.. membentuk satu keluarga besar dalam persaudaraan ber dasarkan CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG.. menghampiri DIA.. menjadikan ALLAH sebagai SANG MAHA RAJA dalam diri.. menata diri.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Tenang.. menemukan Jati Diri Manusia untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllll

  11. @indra kh

    Betul, itu karena Malaysia (pemerintahnya dan juga PH-nya) tidak mengkoreksi blunder tersebut…

    @Sobirin Nur

    Sepertinya promosi “tipu-tipu” bagi pariwisata hanya terjadi di Malaysia. Kalau kita melihat negara2 lain (terutama negara2 maju) rasanya mereka tidak pernah bahkan malu jikalau promosi pariwisata menggunakan kekayaan negara orang lain!! Korea Selatan misalnya, jikalau kita melihat Arirang TV, bagaimana mereka bangga dengan budaya sendiri, obyek pariwisata sendiri dan kemajuan mereka sendiri. Mereka justru ogah dan gengsi mengakui kekayaan orang lain sebagai kekayaan mereka.

    Tetapi memang harus dimaklumi, Malaysia lain dari Korea Selatan. Padahal dalam Islam, tipu2 itu tidak diperbolehkan walaupun menguntungkan dan walaupun tipunya hanya sedikit2. Sayang ya, Malaysia yang Islam itu dalam hal kejujuran masih jauh dari negara2 non-muslim seperti Korea dsb… 😦

    @diazhandsome

    Kalau terjadi perang kentut, diaz dimajukan paling depan ya?? Soalnya kentutnya diaz kan dahsyat!! Wakakakak…. 😆

    @marshmallow

    Nah… itulah… Malaysia nampaknya harus belajar tentang kejujuran. Apalagi Discovery Channel juga sebagai channel informasi dan pengetahuan, jadi sebenarnya sungguh memalukan mental Malaysia apabila ia membiarkan kekeliruan atau ketidakakuratan terjadi, sungguh bukan cerminan sebuah masyarakat yang maju yang menghargai keakuratan informasi apalagi kalau kekeliruan itu merupakan kesengajaan… 😦

    @Puspita

    Mulai sekarang kita memang harus tegas namun jangan bereaksi berlebihan… 🙂

    @adipati kademangan

    Sebenarnya untuk orang2 yang pintar di seluruh dunia…. pasti akan tahu darimana tari pendet, batik, reog, keris dan lain-lainnya berasal walaupun Malaysia sampai berbusa-busa mulutnya mengklaim hasil2 budaya tersebut. Masalahnya mungkin orang Indonesia tidak senang atas perilaku orang Malaysia yang mengaku prestasi orang lain sebagai prestasinya. Dan ini terjadi berkali-kali. Dan juga hal tersebut diperpanas dengan peristiwa blok Ambalat dan sebagainya, jadinya sebenarnya kemarahan kita ini sebagai akumulasi yang kompleks. Namun tentu saja, saya juga tidak setuju jikalau kita sampai bereaksi berlebihan. Untuk memperbaiki hubungan kedua negara, kita harus bisa menahan diri sambil merencanakan tindakan yang tepat dan juga dari fihak Malaysia negara itu wajib untuk belajar etika agar mereka merasa malu mengklaim prestasi yang bukan prestasinya…

    @andif

    Maju terus… 😀

    @skyunhaz

    Apapun itu tetap saja Malaysia harus belajar yang namanya etika dan kejujuran…

    @Ag bint

    Betul sekali, jikalau informasi di dunia ini penuh dengan ketidakakuratan dan tipu daya apa jadinya dunia ini??? 😦

    @KangBoed

    Untuk kangBoed yang manis, salam damai aja deh… :mrgreen:

  12. sebenarnya yang bodoh itu bangsa indonesia kok ya mau aja kebudayaannya dicomot sembarangan?
    kurangnya ketahanan atau memang terbiasa dibodohi?

    • Loh… bangsa kita nggak mau kok kebudayaannya dicomot?? Mangkannya kita marah kan?? Namun tentu saja kita tidak bisa mencomot balik kebudayaan mereka. Kenapa?? Karena kita tidak tertarik dengan kebudayaan mereka yang monoton itu… 🙂

  13. Mungkin Malaysia merasa punya posisi tawar yang tinggi terhadap Indonesia, karena ribuan warga kita mencari nafkah disana, jadi mereka terus2an cari gara2 dengan RI, sebab berpikir kalo RI gak bakal berani bertindak keras soalnya membahayakan nasib banyak warga sendiri. 😕

  14. Hehehe…memang kebiasaan Malaysia menggelikan.
    Tapi mungkin pesannya adalah…”Jika ingin melihat tari Bali, tak harus ke Bali, karena di Malaysia pun ada”.
    Dan tentu saja tak semua wisatawan memahami budaya bangsa lain, banyak juga kan yang tak bisa membedakan antara Indonesia dan Malaysia.

  15. Aduhh…dobel…tolong kang, yang atas di delete, soalnya ada yang salah tik.
    Terimakasih

  16. ” Apa orang Malaysia ini bodoh kurang cerdas untuk membedakan mana budaya Malaysia dan mana budaya Indonesia?? ”

    hahahaha ……

    Malaysia oh malassia …… memanglah !

  17. eh …. maaf salah ketik

    malassia seharusnya ditulis Malaysia,

    Maklum, saya anak Indonesia, yang suka lalai …

    hahahahaha … jangan marah ya friends !

  18. saya sangat suka dengan ungkapan di alinea terakhir itu…buat apa kita bereaksi berlebihan…apalagi dalam wujud marah berlebihan…saya sendiri memahami perasaan sebagian dari kita atas tayangan itu….pasti di balik itu semua ada hikmah…yakni antara lain pentingnya menggali karya-karya orisinal bangsa indonesia…lalu membuka akses jasa pemberian hak atas kekayaan intelektual dn paten level internasional….kepada sang pencipta atau penemu…tanpa harus dgn birokrasi yg sangat bertele-tele dan didukung dgn biaya relatif murah…di sisi lain pendekatan diplomatik antara kedua bangsa yg konon serumpun melayu itu harus semakin diintensifkan…

  19. @jensen99

    Menurut saya mereka juga memerlukan TKI kita (yang informal karena murahnya, yang formal karena kualitasnya rata2 lebih bagus dari tenaga kerja Malaysia). Coba saja yang informal kita tarik, mereka juga bakal kelabakan. Mereka hanya bisa membayar murah, kalau pakai tenaga kerja yang formal untuk hal2 yang remeh temeh tentu mereka tidak akan sanggup membayarnya! Sepertinya memang kita yang memerlukan mereka padahal kedua2nya saya yakin 3000% kedua2nya saling membutuhkan… 😀

    @edratna

    Huehehe… mungkin begitu ya bu. Aturan Malaysia juga sekalian saja menambahkan dalam iklannya kalau mau makan spaghetti nggak usah ke Italia, ke Malaysia saja toh di Malaysia juga banyak… huehuehue… 😀

    @A-RI

    Malaysia…truly Malays malaise?? **halaah** :mrgreen:

    @sjafri mangkuprawira

    Saya selalu juga berusaha untuk selalu di tengah2 prof. Sikap yang bagus menurut saya terhadap kasus ini adalah janganlah terlalu marah berlebihan sehingga timbul hal2 yang irasional, namun janganlah pula kita terlalu lembek dengan mereka. Teguran keras perlu tapi jangan mengganggu hubungan diplomatik dan keharmonisan kedua bangsa yang bertetangga… komunikasi positif yang intensif juga harus diintensifkan namun Malaysia juga harus mau menyadari kesalahannya yang sudah melanggar domain Indonesia…

  20. SAHABATKU RAIH FITRAH DIRI menjadi MANUSIA SEUTUHNYA UNTUK MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  21. kemana aja bang lama enda kelihatan

  22. rameeeeeeeeee beneeeeeer

  23. kita masih tergolong bangsa yang serumpun dan se nenek moyang, mari kita saling duduk dan berdiskusi memecahkan semua kontrofersi yang ada, dalam hal ini pemerintah dan ormas mungkin bisa ikut andil di dalam diskusi tersebut.

  24. @KangBoed

    I love you fullllll juga kangBoed! 😀

    Iya nih lagi sibuk kegiatan offline ramadhan huehehehe… nanti selesai ramadhan mudah2an frekuensi ngeblog bisa normal kembali.. tetapi saya tetap ngeblog loh walaupun agak jarang di bulan ramadhan ini 😀

    @alfaroby

    Hmmm… sepertinya nggak adil deh kalau kita bilang kita adalah bangsa serumpun dengan Malaysia. Bagaimana dengan mereka, saudara2 kita di Indonesia timur yang secara ras berbeda?? Bagaimana juga dengan mereka, orang Indonesia keturunan China atau keturunan asing lainnya?? Mereka orang Indonesia juga kan?? Apakah orang Papua tidak boleh mengatakan bahwa Papua Nugini adalah bangsa serumpun Indonesia hanya karena orang Papua minoritas?? Bagaimana dengan negara China atau Taiwan yang “serumpun” dengan mereka2 WNI keturunan China?? Bagi saya pribadi, tidak perlu kita memposisikan diri kita serumpun dengan Malaysia. Indonesia adalah Indonesia sedangkan Malaysia adalah Malaysia. Namun begitu tentu saja kita tidak perlu bermusuhan dan putus hubungan diplomatik dengan Malaysia dan perundingan intensif harus jalan terus… 🙂

  25. nggak cuma budaya yg dicuri, tap juga Kayu! tuh kan bikin hutan jadi rusak.. kalo kena asap langsung marah marah
    hehehe…

  26. Saya, karena sudah trauma dengan perilaku Malaysia yang sering melecehkan TKI dan menyerobot milik Indonesia (pulau dan berbagai produk budaya), langsung marah ketika mendengar dan melihat Malaysia mengaku tari Pendet sebagai miliknya. Komentar saya spontan waktu itu adalah : “Tidak tahu malu!”.

    Saya memang sudah lama sebal kepada negara tetangga yang ‘sok’ ini …

  27. @ardianzzz

    Ho’oh… padahal mereka sendiri juga banyak yang membakar hutan kita lewat pengusaha2 kayu mereka. Serba salah kita maunya ngerjain mereka dengan terus menerus mengirim asap ke mereka tapi di sisi lain, tentu pembakaran hutan berdampak sangat buruk terhadap lingkungan hidup. Serba salah ya. Huehehe…

    @tutinonka

    Memang benar, saya juga sebal dengan pemerintahan Malaysia walau tentu saja banyak juga orang2 Malaysia yang baik2. Walau begitu, benci yang berlebihan tetap tidak baik apalagi sampai memutuskan hubungan diplomatik rasanya berlebihan sekali. Namun begitu kita juga harus bisa tegas dan keras terhadap Malaysia, jikalau mereka menghina kita, kita juga harus bisa menghina mereka asal tidak terlalu berlebihan. Huehehe…

  28. ha..ha…haa….
    Lucu bgd tu tetangga kita…
    Banyak forum2 di jagad web yg masih cek-cok… Ya wajarlah,Siapa yg ga protes kalo dinakalin gitu…
    Beberapa dari mereka (mly) seringkali berdalih kalo mereka jauh lebih kaya dari rakyat indonesia,kita kurang berpendidikan dsb… Sedangkan dari kita (Indonesia) ngga terima harga dirinya diinjak2 dan dinakali tetangga… Belum lagi perang hacker yang terus memanas… Jangan salah paham ya saudara2,saya nggak ada niat untuk jadi provokator…
    Justru dengan itu kita jadi tahu apa yg hrs diperbaiki dari kita masing2… Dan mencari jalan tengahnya…

    Buat Penerus Bangsa Indonesia nih…
    …Tau ngga lagu Potong Bebek Angsa asalnya dari mana?? Trus Tari Gambyong tu dari mana?? Udah nyoba belajar nabuh saron belum?? He..he… Yok bareng2 jaga dan lestarikan budaya dan tradisi kita yang keren abiz ini… Sebelum tar ada yang ‘nakalin’ kita lagi… Tar bisa2 keris jadi diakuin budaya hong kong gmna?? ho..ho..ho… DJAJALAH NEGRIKOE INDONESIA !!! Amien….

    • Ya betul sekali, bangsa kita memang harus mengenal lebih jauh tentang budaya kita sendiri. Tentu tidak perlu semua orang Indonesia harus bisa nari Gambyong atau nabuh Saron. Karena nggak semua orang berbakat dalam menari atau kesenian. Orang Jepangpun juga nggak semuanya yang bisa Karate atau nari Jepang. Yang penting adalah kita hargai kebudayaan kita sendiri (tanpa harus secara picik membabat habis pengaruh dari luar). Menjaga budaya kita agar tidak “diambil” oleh fihak asing tentu juga merupakan salah satu bentuk kepedulian kita akan warisan leluhur kita… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s