Monthly Archives: September 2009

Batik Day on Oct 2. Would There Be Any Penis Gourd Day?

180px-Batik_IndonesiaBatik is our national heritage. At least now we voice loudly on the importance of saving our national heritage from other nations’ claims especially the Malaysians. To appreciate this piece of national heritage we are requested to wear a cloth of batik on October 2. Of course it is always yours to decide whether you will to wear it or not. I plan to wear a cloth of batik only when I go out of the house on October 2 and I will try not to leave it off for the rest of the year though I know that it is hardly possible to wear it day in day out.

But batik of course is not the only national heritage of ours. There are so many of them from across the archipelago. One of them might be unique from the easternmost part of the archipelago: the koteka (penis gourd or penis sheath)! This koteka is traditionally worn by the males of some ethnic groups in Papua (or New Guinea).  It covers only the genital part and it is placed around the scrotum with the attachment of a small loop made of fibre. The kotekas are made from some species of dried out gourds. If you would like to see how a koteka is worn, you can see the picture below or you can easily search for it through a search engine. Warning, the picture might incur someone’s displeasure, so readers’ discretion is advised.

The Koteka or The Penis Gourd

The Koteka or The Penis Gourd

What becomes the thorn in our side is that whether we Indonesians as the non-inhabitants of Papua but we share the same country with the Papuans will appreciate this piece of culture as well as we appreciate our batik (for example) or not? In other words, let’s say that if there be a koteka day, would we leave our pants off and switch over to the koteka for just one day? What justification required to say that a piece of heritage deserves a national day whilst leaving another to die out? Is it a matter of ethic or is it a problem of ethnocentrism? Does anyone know the answer?

Monyet, Bukan, Monyet, Bukan, Monyet, Bukan…

ape-man-evolution-largerArtikel ini terinspirasi dari sebuah artikel mengenai Harun Yahya di sini. Perdebatan mengenai Harun Yahya (HY) terutama tentang pandangannya yang menentang Teori Evolusi (TE) memang selalu cukup seru untuk diperdebatkan. Walaupun saya adalah orang yang cenderung mendukung TE, namun dalam artikel ini saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlalu dekat dengan kedua ekstrim tersebut. Di sini saya hanya ingin memaparkan kenapa saya cenderung untuk mendukung TE dengan alasan yang sederhana dan mungkin juga ngaco. :mrgreen:

Sebenarnya pada saat saya pertama kali membaca buku-buku atau artikel-artikel HY terutama mengenai sanggahan-sanggahan beliau terhadap TE sempat membuat saya terkagum-kagum dan sedikit banyak terbawa ke dalam pengaruh pemikirannya mengenai, yang dikatakannya, runtuhnya TE. Untungnya saya adalah orang yang cukup kritis dan tidak selalu percaya begitu saja tentang informasi yang diberikan apalagi waktu itu saya baru mengenal karya-karya HY sehingga saya perlu mencari juga informasi-informasi dari orang-orang yang menentang HY ini agar informasi yang saya dapatkan jadi berimbang. Nah, ternyata setelah saya mendapatkan banyak informasi dari mereka yang menentang HY dan juga setelah saya baca kembali artikel-artikel HY terutama yang mengenai “runtuhnya TE” ternyata banyak juga argumentasi-argumentasi HY yang sangat lemah dan HY sendiri secara keseluruhan gagal untuk mengganti TE dengan teori barunya yang solid.  Kesimpulan HY hanya bertumpu pada sebuah kalimat sederhana: “Seluruh makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan”. Walaupun hal itu benar adanya namun tentu hal tersebut bukanlah sebuah teori sesolid dan sekompleks TE. HY harus berusaha lebih keras lagi dan harus membangun teori ilmiahnya sendiri yang solid agar diakui oleh dunia.

Jikalau HY bersemangat menjatuhkan TE dengan argumentasi-argumentasi ilmiahnya tentu HY juga harus bersemangat membangun teorinya sendiri secara ilmiah yang mendukung teori ajaran kreasionisme (creationism, lawan dari TE). Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apakah saat ini tidak akan ada spesies-spesies baru yang muncul (diciptakan) ?? Kalau tidak, kenapa??” “Mengapa selama ratusan tahun sejarah manusia, kita tidak pernah melihat spesies-spesies baru yang muncul dengan sendirinya baik yang kecil apalagi yang besar??” Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya tentu juga harus sebisa mungkin dijawab oleh HY cs. Tentu jawabannya juga harus (disertai bukti-bukti)  ilmiah seperti semangat HY yang selama ini ditunjukannya ketika ia berusaha menjatuhkan TE dan tidak hanya sekedar menjawab: “karena kehendak Tuhan”. Kalau jawabannya hanya sekedar itu, tentu anak-anak TK juga tahu dong. Huehehe….. :mrgreen:

Namun begitu, tentu saja saya tidak mengatakan bahwa semua informasi yang diberikan HY adalah salah. Tentu banyak juga yang benar adanya. walau begitu, bagi saya pribadi saya tetap tidak sependapat dengannya yang menentang TE. Saya sendiri berpendapat bahwa sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan (sains) dalam ribuan tahun lagi mungkin saja sains sudah dapat dengan sangat solid mendukung TE atau bisa jadi justru kebalikannya yaitu  mendukung kreasionisme atau mungkin ternyata asal muasal kehidupan terdiri dari kombinasi antara TE dan kreasionisme. Walahualam. Yang jelas, pada saat ini, ajaran kreasionisme cenderung untuk membuat orang menjadi malas untuk mempelajari asal-usul kehidupan. Kenapa? Sebab ajaran “makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan” sudah cukup memuaskan. Tentu ini “berbahaya” karena ilmu pengetahuan menjadi tidak berkembang. Padahal mungkin dengan mempelajari mengenai asal-usul kehidupan umat manusia mungkin akan mendapatkan manfaat-manfaat sampingan yang sangat banyak bagi kesejahteraan umat manusia itu sendiri.

Lantas bagaimana nanti ANDAIKAN ajaran kreasionisme yang menang dan hal tersebut kelak bisa dibuktikan secara ilmiah? Berarti para ilmuwan sekarang keok (kalah) dong?? Oh! Sama sekali tidak! Yang menang tetap para ilmuwan yang secara berkesinambungan selama ribuan tahun bersusah payah untuk memecahkan misteri asal usul kehidupan di planet ini walaupun MUNGKIN yang menang adalah ajaran kreasionisme. Yang keok tentu saja adalah mereka yang malas berfikir dan yang hanya berpangku tangan saja… termasuk saya mungkin! Huehehe…… :mrgreen:

Tubes From The 80s…

Frankly I still have no energy left to write a new article on this blog, but I know that I have to produce something on this blog or else it will become harder and harder for me to return to the blogosphere though I am aware that in due course there is a time for me to automatically return to the sphere even on the lowest energy level. In this article I would only like to write provide something worthless and it is probably ehm… so unlike me! But it is temporary, at the appropriate time I will return with more serious articles.

So, today I would like to turn back the clock to the 1980s and you will see what tunes I loved to hear when I was 20s. Perhaps for those who were born before 1970s share the same tunes with me though I believe there are some who will turn a deaf ear to the sounds of the tubes I am about to bring on:

To fully enjoy the tubes, make sure you are on the best quality broadband… :mrgreen:

1. Remember The Manhattan Transfer?? The U.S. vocal music group has always been   amazing me since I was introduced to their tunes. “Gloria” is an a capella and the Alan Paul’s falsetto vocal is awesome!

2. Say you love me. That’s the expression you want to hear from someone you love.  But if you can’t get it from him or her at least you can enjoy a piece of Patti Austin’s great lilting vocal. It’s a pity that I failed to find the original clip online… 😦

3. This is another great falsetto. The Scot Jimmy Somerville teamed up with The Englishman Richard Coles to form ‘The Communards” in 1986. Despite an openly gay, The Glaswegian’s falsetto vocal has always been astounding me!

4. Are you falling in love? You always want to stay close to her or him? There is nothing else that can take the blues away but being near the one you love? This piece of Madness depicts the feeling of such love in the maddest scene! Here is “It Must Be Love”:

Kejujuran Dan Kebohongan

Setiap insan pasti dengan mudah dapat membedakan mana kejujuran dan mana kebohongan walaupun begitu tidaklah mudah bagi setiap manusia untuk menghindari kebohongan dan merangkul kejujuran. Kejujuran adalah kebajikan moral dasar yang dapat menumbuhkan sifat-sifat baik lainnya di dalam hati setiap insan. Kejujuran juga dapat membantu mencegah mereka yang merangkulnya untuk jatuh ke dalam jurang kehinaan dan kejahatan. Orang yang jujur adalah orang yang cenderung bersih hatinya, dapat dipercaya, tidak bermuka dua serta dapat dijadikan sumber informasi yang terpercaya. Ia juga cenderung untuk menjaga atau menepati janjinya serta tidak mengkhianati orang lain.

Ada beberapa ayat Al-Quran yang menjelaskan mengenai kejujuran dan kebohongan ini, antara lain adalah:

17_81

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS 17:81)

4_135

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS 4:135)

9_119

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS 9:119)

Namun begitu kebohongan dapat diizinkan jikalau dalam keadaan kasus-kasus berikut ini:

  1. Untuk membawa rekonsiliasi atau perdamaian di antara kaum Muslimin yang saling berperang
  2. Untuk mendekatkan hubungan suami istri yang sedang retak
  3. Untuk menyelamatkan nyawa ataupun kehormatan dari seseorang yang tidak bersalah terhadap kekejaman tirani ataupun ‘penjajah’ jika tidak ada jalan lain untuk menyelamatkannya
  4. Dalam perang

Seperti yang diriwayatkan dengan kesaksian Asma’ binti Yazid bahwa Rasulullah SAW berkata: Kebohongan (kepalsuan) dilarang kecuali dalam tiga perkara: Kebohongan dari seorang suami kepada istri untuk menyenangkan hati sang istri, kebohongan dalam perang, dan kebohongan dalam menegakkan perdamaian di antara umat manusia.

Islam juga sangat menentang mereka yang bermuka dua. Diriwayatkan dalam kesaksian Abu Huraira bahwa Rasulullah SAW pernah berkata: “Seburuk-buruknya manusia adalah mereka yang bermuka dua; mereka datang kepada seseorang dengan sebuah mukanya dan datang kepada orang lain dengan mukanya yang lain.”

Times When Prayers Are Disallowed

Allah has commanded the believers to offer prayers. This act of worship is the basic requirement of Islam since it is one of the five pillars in Islam. The object is to root in the deepest human heart the seed of the realisation of Allah as well as awaken his consciousness. Prayer is an important act to nourish the soul as nutrients are essential for the maintenance of the body. It is spiritual food for all of the believers.

Each prayer, whether it is obligatory (wajib) or voluntary (sunnah), has its own time. However there are times when prayers are not allowed or prohibited. At these times it is unlawful to offer prayers:

  • When the sun is in the process of rising
  • When the sun just hits the zenithal point in the sky (It approximately takes about three minutes for the solar disc to completely leave the zenith)
  • When the sun is in the process of setting

These prohibited times are reported on the authority of ‘Uqba bin ‘Amir (Allah be pleased with him) that the Messenger of Allah (peace and blessing of Allah be upon him) said: There are three times at which you should neither pray nor bury your deceased – when the sun begins to rise until it is fully up over the horizon; when the sun is at its full height at midday till it passes the zenith; and when the sun draws near to setting until it fully downs under the skyline. The prohibition seems chiefly due to the fact that a Muslim’s action must not be in conformity with the idolators. The object is to root out idolatry in any shape or form. The rising or the setting sun is worshipped by many tribes or people in various nations around the globe. That is why Islam has declared these occasions as prohibited times for offering prayers.  Prayers on Friday however are not unlawful when the sun hits the zenith but prostration (sujud) at that time is highly abominable. It should be avoided as far as possible. Abu Qatada (Allah be pleased with him) disfavours prayer at noon until the sun is sloping except on Friday because hell is heated up except on Friday.