Monyet, Bukan, Monyet, Bukan, Monyet, Bukan…

ape-man-evolution-largerArtikel ini terinspirasi dari sebuah artikel mengenai Harun Yahya di sini. Perdebatan mengenai Harun Yahya (HY) terutama tentang pandangannya yang menentang Teori Evolusi (TE) memang selalu cukup seru untuk diperdebatkan. Walaupun saya adalah orang yang cenderung mendukung TE, namun dalam artikel ini saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlalu dekat dengan kedua ekstrim tersebut. Di sini saya hanya ingin memaparkan kenapa saya cenderung untuk mendukung TE dengan alasan yang sederhana dan mungkin juga ngaco. :mrgreen:

Sebenarnya pada saat saya pertama kali membaca buku-buku atau artikel-artikel HY terutama mengenai sanggahan-sanggahan beliau terhadap TE sempat membuat saya terkagum-kagum dan sedikit banyak terbawa ke dalam pengaruh pemikirannya mengenai, yang dikatakannya, runtuhnya TE. Untungnya saya adalah orang yang cukup kritis dan tidak selalu percaya begitu saja tentang informasi yang diberikan apalagi waktu itu saya baru mengenal karya-karya HY sehingga saya perlu mencari juga informasi-informasi dari orang-orang yang menentang HY ini agar informasi yang saya dapatkan jadi berimbang. Nah, ternyata setelah saya mendapatkan banyak informasi dari mereka yang menentang HY dan juga setelah saya baca kembali artikel-artikel HY terutama yang mengenai “runtuhnya TE” ternyata banyak juga argumentasi-argumentasi HY yang sangat lemah dan HY sendiri secara keseluruhan gagal untuk mengganti TE dengan teori barunya yang solid.  Kesimpulan HY hanya bertumpu pada sebuah kalimat sederhana: “Seluruh makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan”. Walaupun hal itu benar adanya namun tentu hal tersebut bukanlah sebuah teori sesolid dan sekompleks TE. HY harus berusaha lebih keras lagi dan harus membangun teori ilmiahnya sendiri yang solid agar diakui oleh dunia.

Jikalau HY bersemangat menjatuhkan TE dengan argumentasi-argumentasi ilmiahnya tentu HY juga harus bersemangat membangun teorinya sendiri secara ilmiah yang mendukung teori ajaran kreasionisme (creationism, lawan dari TE). Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apakah saat ini tidak akan ada spesies-spesies baru yang muncul (diciptakan) ?? Kalau tidak, kenapa??” “Mengapa selama ratusan tahun sejarah manusia, kita tidak pernah melihat spesies-spesies baru yang muncul dengan sendirinya baik yang kecil apalagi yang besar??” Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya tentu juga harus sebisa mungkin dijawab oleh HY cs. Tentu jawabannya juga harus (disertai bukti-bukti)  ilmiah seperti semangat HY yang selama ini ditunjukannya ketika ia berusaha menjatuhkan TE dan tidak hanya sekedar menjawab: “karena kehendak Tuhan”. Kalau jawabannya hanya sekedar itu, tentu anak-anak TK juga tahu dong. Huehehe….. :mrgreen:

Namun begitu, tentu saja saya tidak mengatakan bahwa semua informasi yang diberikan HY adalah salah. Tentu banyak juga yang benar adanya. walau begitu, bagi saya pribadi saya tetap tidak sependapat dengannya yang menentang TE. Saya sendiri berpendapat bahwa sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan (sains) dalam ribuan tahun lagi mungkin saja sains sudah dapat dengan sangat solid mendukung TE atau bisa jadi justru kebalikannya yaitu  mendukung kreasionisme atau mungkin ternyata asal muasal kehidupan terdiri dari kombinasi antara TE dan kreasionisme. Walahualam. Yang jelas, pada saat ini, ajaran kreasionisme cenderung untuk membuat orang menjadi malas untuk mempelajari asal-usul kehidupan. Kenapa? Sebab ajaran “makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan” sudah cukup memuaskan. Tentu ini “berbahaya” karena ilmu pengetahuan menjadi tidak berkembang. Padahal mungkin dengan mempelajari mengenai asal-usul kehidupan umat manusia mungkin akan mendapatkan manfaat-manfaat sampingan yang sangat banyak bagi kesejahteraan umat manusia itu sendiri.

Lantas bagaimana nanti ANDAIKAN ajaran kreasionisme yang menang dan hal tersebut kelak bisa dibuktikan secara ilmiah? Berarti para ilmuwan sekarang keok (kalah) dong?? Oh! Sama sekali tidak! Yang menang tetap para ilmuwan yang secara berkesinambungan selama ribuan tahun bersusah payah untuk memecahkan misteri asal usul kehidupan di planet ini walaupun MUNGKIN yang menang adalah ajaran kreasionisme. Yang keok tentu saja adalah mereka yang malas berfikir dan yang hanya berpangku tangan saja… termasuk saya mungkin! Huehehe…… :mrgreen:

Iklan

20 responses to “Monyet, Bukan, Monyet, Bukan, Monyet, Bukan…

  1. kritisisme lahir dari keingintahuan. makanya, adanya tesis dan antitesis harus disyukuri, karena ini menunjukkan dinamika dalam ilmu pengetahuan.

    hm… ternyata mas yari pendukung teori evolusi. walaupun saya termasuk pendukung HY, namun agaknya harun yahya memang perlu mengetengahkan dasar-dasar yang lebih “ilmiah” untuk membantah TE dan mendukung argumen kreasionisme agar lebih fair. setuju, memulangkan semuanya kepada kehendak tuhan akan menjadikan manusia jadi malas untuk berpikir.

  2. Menurut saya kreasionisme BUKAN LAH teori saintis tapi merupakan suatau keyakinan / faith
    mengapa?
    Misalkan kita ingin membuktikan bahwa suatu patung merupakan karya si Budi Weleh-weleh. Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membuktikan bahwa si Budi Weleh-weleh bener2 ada, jangan-jangan si Budi Weleh-weleh hanya lah tokoh rekayasa, nah barulah setelah itu kita cari bukti2 yang mendukung bahwa patung tersebut benar merupakan karya Budi Weleh-weleh.
    Nah..itu artinya untuk membuktikan kreasionisme, pertama-tama kita harus membuktikan secara SAINTIS keberadaan tuhan.
    Apakah hal tersebut mungkin?
    Sebenaranya para penganut kreasionisme, menyadari bahwa kreasionisme merupakan keyakinan BUKAN teori saintis, itu lah sebabnya mereka sibuk menyerang TEori evolusi, karena mereka sendiri menyadari bahwa kreasionisme tidak mungkin dibuktikan secara saintis

  3. mending mana ya? jd monyet pinter atau jd manusia bego? ya mendingan jadi manusia pinter lah yaw. Aku baru pulang dari Smg nih, kapan mas yari pulang ke bdg? selamat idul fitri mohon maaf lahir batin.

  4. jd manusia tanpa sejarah monyet lbh terdengar mengasyikan.

  5. * Tanyakan kembali kepada nurani yang paling dalam…..apakah “tidak setuju dengan pendapat HY” lantas “setuju dengan TE”.

    * —> sudah begitu dalam kah meyakini TE (khususnya evolusi manusia juga)???

    * Selamat Idul Fitri 1430 H.

  6. bingung sayah jadinya… *apa karena saya malas berfikir yahh hehehhe, monyet ajah masih mikir yah… 🙂

    mohon maap lahir batin mas yak yari… *baru kunjung kunjung lagi sayah

  7. @marshmallow

    Seringkali orang membenturkan antara TE dengan kepercayaan. Bagi saya pribadi hal tersebut tidak perlu karena toh memang akal dan ilmu kita masih sangat terbatas. Daripada membuang2 waktu hanya untuk berdebat mengenai mana yang benar, agama atau ilmu pengetahuan, mendingan energi kita gunakan untuk belajar dan bekerja yang lebih intens lagi sekaligus beribadah dengan lebih baik dan tidak perlu membenturkan2 sesuatu yang tidak perlu walaupun itu atas alasan untuk mengasah logika, dsb…

    @Aria Turns

    Memang betul, sebenarnya saya sendiri mendukung TE karena memang dalam proses kelahiran teori TE telah melalui serangkaian kajian ilmiah yang komplet sehingga terlahirlah TE. Yang penting dalam kasus ini adalah prosesnya. Dan memang kesalahan HY yang fatal adalah ia sibuk menyerang TE sementara dia sendiri tidak nampak berusaha untuk menjawab masalah2 kreasionisme dengan bukti2 ilmiah selain dengan kata2 “makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan”.

    @Ag bint

    Mohon maaf lahir batin juga. Kok cepet pulangnya?? Nggak betah ya?? 😛 Tolong titip lihat rumahku di bandung ya?? :mrgreen:

    @skydrugz

    Monyet kan nggak salah apa2an, lebih enak lagi jikalau sejarah manusia tanpa diktator2 atau tanpa politisi2 munafik! Huehehe… :mrgreen:

    @Karma Suta

    Bagaimanapun juga TE sekarang masih jauh dari sempurna dan tentu saja belum bisa menjawab segala hal yang berkenaan dengan asal usul kehidupan di muka bumi ini. Namun begitu, ilmuwan2 yang sudah bersusah payah melahirkan TE tetap harus dihormati karena sudah melewati tahap2 penelitian ilmiah yang benar, mengenai hasilnya belum sempurna itu bukan soal bagi saya… 🙂

    @ridhobustami

    Huehehe…. moso harus diajarin monyet dalam befikir sih?? :mrgreen:

    Mohon maaf lahir batin juga… tunggu kunjungan balasannya ya?? 🙂

  8. Agama dan Saint tidak bisa di persatukan. kenapa? karena Saint hanya menggunakan Otak sedangkan Agama hanya bisa di terima dengan hati atau iman.

    Jadi jelas jika HY berkata “Mahluk ciptaan Tuhan” karena tak ada sedikitpun saint yg bisa menjawabnya… karena itu semua sudah di luar logik/otak.

    Menurut saya gak ada satu alasan apapun untuk HY membuktian atau memperkuat teorinya dengan hal2 ilmiah. Karena sesungguhnya hanya sedikit ilmu pengetahuan yg Tuhan berikan kepada manusia. Itupun kalo merasa manusia bukan species asal dalam Teori Evolusi… hehe

    contoh : sbg umat muslim kita percaya bahwa Nabi Muhammad pergi ke langit ke-7 hanya dalam satu malam… nah kalo kita pikir dengan otak/logik itu tdk mungkin terjadi, tetapi kalo kita menerimanya dengan hati/iman kita percaya itu adalah hal yg nyata.

    Carilah ilmu sebanyak-banyaknya kalo perlu sampai ke liang lahat tp jgn pernah mencari tahu tentang Tuhan dan Rahasianya karena itu bisa membuat kita menjadi orang yg pinter keblinger

    maaf klo ada salah2 kata… 🙂

  9. Ah, saya sudah lelah mengikuti kasus Harun Yahya ini. Bincang2 teman2 tentang masalah TE ini bisa bang Yari liat disini (dan link2 didalamnya) dan tentang Harun Yahyanya disini. Pokoknya soal Harun Yahya ini dah 2007 banget deh~ :mrgreen:

  10. mas si HY ini pingin meneliti spesies2 baru padahal mungkin beliau baru hidup beberapa puluh tahun saja sedangkan yang saya tau evolusi itu mebutuhkan ribuan tahun.ya udahlah mungkin biar ngetop kali.

  11. mas yariNK…saya kurang mendalami teori evolusi dan Harun Yahya…..terjadinya penolakkan oleh HY wajar-wajar saja…. karena salah satu ciri peneliti sejati selain adanya rasa ingin tahu juga bersikap skeptis atas teori atau fenomena alam yang ada…..namun seharusnya HY juga memberi teori ”pengganti” alternatif yang dapat diuji….dalam hal ini ilmuwan falsafat ilmu, Karl Popper, menolak generalisasi yang dihasilkan dari induksi sebagai hukum umum sebagai teori ilmiah…..suatu teori tidak bersifat ilmiah hanya karena bisa dibuktikan kebenarannya,…. melainkan dapat diuji melalui percobaan-percobaan sistematis untuk menyangkalnya…..jika hipotesis atau teori mampu bertahan melawan penyangkalan maka teori itu kokoh…di sisi lain teori-teori ilmiah selalu dan hanyalah bersifat dugaan sementara….tak ada kebenaran” mutlak dan terakhir”…dengan kata lain selalu terbuka untuk diganti teori yang lebih tepat…umumnya kriteria keilmiahan suatu teori bahwa teori itu harus dapat disalahkan (falsibiality), dapat disangkal (refutability) dan dapat diuji (testability)…

  12. @sayasiapa

    Sebenarnya yang berusaha menyatukan agama dengan sains ya HY sendiri!! Tidak percaya?? Buktinya adalah pemikiran HY sendiri yang mengatakan bahwa kebenaran agama dapat dibuktikan dengan membuktikan bahwa TE itu salah dengan argumen2 ilmiah yang dibangunnya sendiri!! Namun begitu ia gagal membuktikan pertanyaan2 seputar kreasionisme secara ilmiah.

    Memang betul sebaiknya sains dan agama tidak disatukan. Bagi saya yang penting adalah rajin beribadah namun tidak lupa untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang merupakan ayat2 Allah yang bertebaran di angkasa ini. Jika ada benturan2 antara sains dan agama harap dimaklumi karena memang pengetahuan manusia masih terbatas baik pengetahuan ilmiahnya dan bisa juga pengetahuan agamanya. Maklumlah jikalau ada ‘kesalahan2’ dalam proses belajar, bukankah begitu? Nah… jikalau anda ingin mengatakan bahwa sains jangan disatukan dengan agama maka katakanlah hal tersebut pada HY bukan kepada saya… 😀

    @jensen99

    Meski tahun 2007 banget bukan berarti masalah ini “basi” kan?? Tergantung apakah ada argumen2 baru tentang HY ini. Saya sendiri sudah berdiskusi secara offline tentang HY ini sejak awal abad ini dan juga mungkin pertentangan antara TE dan kreasionisme ini sudah berlangsung lama, jadi tahun 2007 sih, masih termasuk baru… huehehehe…. 😀

    @boyin

    Ya betul…. minimal biar ngetop gituh si HY… huehehe….

    @sjafri mangkuprawira

    Betul sekali prof…. ciri2 seorang ilmuwan sejati adalah selalu ingin menyempurnakan teori yang sudah ada lewat sekarangkaian prosedur2 sistematis yang ada dalam dunia keilmuan bukan melulu hanya mencerca dan mencacad teori yang sudah ada sebelumnya. Inilah yang tidak dipunyai HY, ia hanya melulu mencacad TE tetapi ia tidak mampu atau tidak berusaha memperbaharui TE tersebut dengan teori yang lebih baik… Menurut saya lebih baik ia melakukan penelitian sendiri, siapa tahu ia bisa menyumbangkan sesuatu walaupun mungkin tidak bisa menggantikan TE sepenuhnya dengan begitu ia dapat mengharumkan nama Islam dan insya Allah ia juga akan mendapat pahala jikalau niat dari penelitiannya itu adalah ibadah terhadap Allah swt…

  13. Wah seru yah. Kalo menyangkut masalah dari mana awal bermula, sepertinya nggak habis2. Ibarat orang yang dahaga, mencari sumber2 mata air. Mungkin setelah kita mati, kita akan menemukan jawabannya.

  14. ya…kalo kita harus menyetujui TE (nenek moyang kita monyet)…yang jadi pertanyaan..kapan yah…monyet sekarang jadi manusia…trus…manusia sekarang akan menjadi apa ya…

  15. @Uchan

    Ya betul…. dalam ilmu pengetahuan selalu membutuhkan “evolusi” dalam perkembangannya menuju ilmu yang lebih baik dan lebih sempurna…

    @purnama alam

    Lah… kita ini (suka atau tidak suka) sebenarnya monyet (ape) juga. Ingat, monyet itu ada banyak loh!! Dan menurut para ilmuwan lebih dari 90% materi genetik kita sama dengan monyet. Dan perlu diketahui monyet yang hidup ratusan juta tahun yang lalu berbeda dengan monyet2 yang hidup di zaman sekarang…. 🙂

  16. EH UNTUK SEMUANYA YANG NGEDUKUNG TEORI EVOLUSI TERMASUK YANG PUNYA BLOGNYA NIH,,,
    EMANG LU SMUA KETURUNAN MONYET, KERA, GORILLA, DSB KALIIIII….!!!
    HAHAHAHAHAHA…….
    HAHAHAHAHAHA…..

    PANTES BANGET LUH……..

    SORY GUE MAH BUKAN KETURUNAN MEREKA GUE MAH KETURUNAN ADAM(MANUSIA NORMAL), KALO LU SMUA SENENG DISEBUT TURUNAN MONYET YA GPP ITU SIH MAUNYA ELU SMUA, HAHAHAHAHAHA…..

    SORY YAH GUE MAH SIH GA MAU NGAKUIN KAYA GITU.

    GUE MAH MANUSIA YANG PUNYA AKAL.
    HAHAHAHAHHA………
    EH, GOBLOG LU SMUA PADA TOLOL AMA TEORI GITUAN MASIH BANYAK TEORI BIOLOGI LAIN TAU YANG PENTING UNTUK DIKAJI. GA PENTING BANGET SIH LO SMUA APALAGI YANG BIKIN BLOG INI.
    HUUUUH….!!!

  17. kebetulan saya pernah ide serupa, namun mencoba memberikan sudut pandang yang tidak ofensif tentang penerimaan terhadap teori evolusi :
    http://wirawan.blogsome.com/2010/03/23/evolusi-agama/

    salam kenal. blog ini bagus. 🙂

  18. “Apakah saat ini tidak akan ada spesies-spesies baru yang muncul (diciptakan) ?? Kalau tidak, kenapa??” “Mengapa selama ratusan tahun sejarah manusia, kita tidak pernah melihat spesies-spesies baru yang muncul dengan sendirinya baik yang kecil apalagi yang besar??”

    mungkin apakah ini jawaban dari manusia itu unique mas…apa khalifah tunggal di muka bumi

    • Nah itu yang harus dibuktikan oleh Harun Yahya secara ilmiah dan bukan hanya sekedar jawaban: “mungkin… mungkin… dan mungkin….”. Itu karena HY sendiri yang “sok” menangkal Teori Evolusi dengan argumen2 ilmiahnya yang dibangunnya sendiri, namun ia tidak bisa membangun argumen2 ilmiahnya ketika teori atau tepatnya ajaran penciptaan “diserang”… Kalau begitu namanya nggak konsekuen kan? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s