Batik Day on Oct 2. Would There Be Any Penis Gourd Day?

180px-Batik_IndonesiaBatik is our national heritage. At least now we voice loudly on the importance of saving our national heritage from other nations’ claims especially the Malaysians. To appreciate this piece of national heritage we are requested to wear a cloth of batik on October 2. Of course it is always yours to decide whether you will to wear it or not. I plan to wear a cloth of batik only when I go out of the house on October 2 and I will try not to leave it off for the rest of the year though I know that it is hardly possible to wear it day in day out.

But batik of course is not the only national heritage of ours. There are so many of them from across the archipelago. One of them might be unique from the easternmost part of the archipelago: the koteka (penis gourd or penis sheath)! This koteka is traditionally worn by the males of some ethnic groups in Papua (or New Guinea).Β  It covers only the genital part and it is placed around the scrotum with the attachment of a small loop made of fibre. The kotekas are made from some species of dried out gourds. If you would like to see how a koteka is worn, you can see the picture below or you can easily search for it through a search engine. Warning, the picture might incur someone’s displeasure, so readers’ discretion is advised.

The Koteka or The Penis Gourd

The Koteka or The Penis Gourd

What becomes the thorn in our side is that whether we Indonesians as the non-inhabitants of Papua but we share the same country with the Papuans will appreciate this piece of culture as well as we appreciate our batik (for example) or not? In other words, let’s say that if there be a koteka day, would we leave our pants off and switch over to the koteka for just one day? What justification required to say that a piece of heritage deserves a national day whilst leaving another to die out? Is it a matter of ethic or is it a problem of ethnocentrism? Does anyone know the answer?

Iklan

21 responses to “Batik Day on Oct 2. Would There Be Any Penis Gourd Day?

  1. should we patenting the koteka, especially ‘penis’s cover’?

  2. I can’t imagine if there be a koteka day. :-p
    Masih syawal Pak Yari, mohon maaf lahir dan batin.

  3. punya berapa koteka pak di rumah ? πŸ˜€

  4. LOL, haha iyayaa.. mungkin di papua sana ada ya hari koteka hihi

  5. Marvelous! This is what I called genuine idea.

    Silahkan saudara jensen99 perjuangkan dari dalam! m(_ _)m

  6. @diazhandsome

    What do you think? Who’s gonna claim the kotekas? The Malaysians?? :mrgreen:

    @mezzalena

    What kind of imagination that fails to pop up in your head if there is a koteka day?? :mrgreen:

    Mohon maaf lahir batin juga ya… Selamat idul fitri… πŸ™‚

    @aRuL

    Arul mau?? Tapi maaf saya nggak punya yang ukuran anak2 loh! Wakakakak…. I’m sorry I’m just kidding… πŸ˜†

    @ridu

    Kalau ada bagaimana?? Nyesel hari koteka nggak dijadikan hari nasional?? :mrgreen:

    @jensen99

    I’m not. If I were a genius I would have found the answer to the question myself. 😦

    @Ando-kun

    Thanks. Iya nih saudara jensen, saya harap ada nih yang benar2 ingin mengangkat kebudayaan Papua agar tidak dianaktirikan… 😦

  7. Yang jelas, seperti juga Batik Day berlaku untuk lelaki dan perempuan, tentu saja saat Koteka Day kaum wanitanya harus bertelanjang dada, supaya matching dengan koteka yang dikenakan kaum pria. Itulah sebabnya kukatakan ide ini jenius. 😎

    saya harap ada nih yang benar2 ingin mengangkat kebudayaan Papua agar tidak dianaktirikan…

    Begini, IMO budaya Jawa bisa terangkat tinggi karena jumlah orang Jawa banyak. Jadi kalau jumlah orang Papua meningkat pesat, budaya mereka juga akan makin terpelihara dengan sendirinya. Soalnya pertumbuhan penduduk pribumi Papua lambat, setidaknya bila dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk tetangganya di PNG [link].

  8. Repotnya, kalau kita mempatenkan Koteka, mungkin aja orang-orang Papua Nugini akan tereak2 kalo kita mengklaim kebudayaan mereka. Jadinya, poisisi kita malah kayak Malaysia yang mengklaim budaya yang (menurut mereka) masih dalam grey area kepemilikan dengan Indonesia…

    Pakabar Pak? Dah lama ngga maen kesini… πŸ˜€

  9. Its not only non ethic but also create ridiculous image that we are as Indonesian is seems really out of civilization. In the other side our country is also one of four country in the world that record economic growth among so many countries colaps affected by crisis this year.So stop kidding Pak Yari…heeee (becanda pak..ntar gak pernah mampir ke rumahku lagi nih….hiii…ampuuun)

  10. Jangan-jangan koteka nanti juga di-klaim, Pak.
    Perlu dilestarikan nih.

  11. don’t give koteka to malaysian! we should patenting this. and, make a ‘koteka’s day’ is better. haha

    (I can’t imagine when all of Indonesian use koteka when meeting or studying) πŸ˜€

  12. Wah, ngeri lihat foto kotekanya 😦
    Menurut saya sih, batik nggak bisa dibandingkan dengan koteka. Batik adalah seni pengolahan kain yang tinggi, dan mampu menembus zaman. Sedangkan koteka adalah atribut sederhana yang betul-betul (maaf) hanya difungsikan untuk melindungi bagian tubuh terpenting, dan tidak bisa dikembangkan menjadi lebih dari itu.

  13. wow.. fotonya.. πŸ˜€
    saya seperti punya pemikiran yang sama tentang hari batik, kalo bisa dipatenkan semua warisan bangsa, lalu dibuat hari khusus..
    nice posting pak..

    salam kenal.. πŸ™‚

  14. @semua
    nganu….. apa tetangga sebelah tak keberatan klaim2an warisan koteka? kalau malaysia sih udah kejauhan, tp PNG khan terlalu dekat akar budayanya termasuk soal pemakaian koteka.

    Apa tak lebih baik jika koteka versi Indonesia diberi desain unik dgn dipadukan dgn pahatan corak batik berseni tinggi, shg yg dikhawatirkan oleh mbak tutinonka diatas tidak terjadi, karena koteka bisa dikembangkan lebih dr sekedar fungsinya dgn atribut sederhana. Toh kolor alias (maap) cancut juga banyak yang bercorak mbatik koq :mrgreen:

  15. @jensen99

    Banyaknya populasi memang dapat mengangkat suatu kebudayaan, namun begitu populasi bukanlah satu2nya unsur dan belum tentu merupakan faktor terpenting dalam terangkatnya sebuah kebudayaan. Contoh adalah: Inggris, adalah sebuah negara kecil di dunia, namun karena prestasi bangsa itu maka kebudayaannya (lewat bahasanya tentu saja) kini hampir dikenal di seluruh dunia. Korea, penduduknya sedikit, namun Tae Kwon Doo lebih terkenal dibandingkan silat. Kimchi lebih dikenal dibandingkan rendang atau gudeg, dsb… πŸ™‚

    @soyjoy76

    Iya juga yah…. kalau begitu tidak usah kita patenkan saja, tetapi kalau Papua Nugini ternyata ingin mematenkan koteka nah baru kita ribut dan protes. Gimana? πŸ˜€

    @boyin

    What has economic crisis got to do with the koteka?? Does the crisis affect the Papuans so they can’t buy the kotekas for themselves?? Is that what you are trying to say?? :mrgreen:

    @Edi Psw

    Kira2 yang ngeklaim siapa ya pak?? Brunei Darussalam?? :mrgreen:

    @diazhandsome

    Don’t you wear it every night during your sleep? c’mon… you know it better! πŸ˜›

    @tutinonka

    Nah… ini dia mbak Tuti, orang sering keliru dalam membandingkan antara fungsi dasar dan fungsi tambahan. Fungsi dasar koteka adalah sama dengan fungsi dasar kain. Sedangkan seni dalam batik memang tidak bisa dibandingkan dengan fungsi dasar koteka. Namun ingat, koteka bisa juga dibuat berseni loh, jikalau koteka tersebut diukir (bisa nggak ya??), atau dibuat gambar atau motif pada koteka tersebut atau mungkin bisa juga dibuat koteka2 dalam bentuk2 artistik. Nah, fungsi tambahan seperti itulah yang harus kita bandingkan dengan batik.

    Nah, andaikanpun ternyata seni koteka nantinya masih “kalah indah” dengan seni batik, bukan berarti seni koteka tidak patut diapresiasi kan?? Karena dalam seni, hampir semuanya adalah preferensi atau selera, tidak ada ukuran yang solid yang dapat mengukur (secara kuantitatif apalagi) mana seni yang lebih baik dan mana seni yang lebih buruk. Sama seperti musik klasik dan musik keroncong. JIKALAU orang mengatakan musik klasik “lebih bagus” dari musik keroncong bukan berarti musik keroncong harus kurang diapresiasi kan? πŸ˜€

    @lilliperry

    Wah… berarti dalam setahun kita harus membeli berbagai macam pakaian tradisional dong ya?? Repot juga ya?? Huehehe…. πŸ˜€

    @Ando-kun

    Betul sekali ando-kun, saya juga sependapat dengan anda untuk komentarnya mbak Tutinonka. Kotekapun tentu bisa juga dibuat berseni, agar lebih bisa diapresiasi… πŸ™‚

  16. kalau ada hari koteka, saya kuatir banyak yang akan mengunjungi dokter karena perangkatnya lecet. hehe.

    setuju dengan komentar mbak tuti dan jawaban mas yari. batik itu adalah produk seni tinggi yang dapat diaplikasikan pada berbagai hal, tak terbatas pakaian. tapi kalau koteka bisa dijadikan hiasan dinding, tempat menampung air minum, atau tempat pensil, boleh juga deh. hihi…

  17. bagus juga tu koteka ,mau bikin ah koteka batik hhehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s