The Ramen Girl: Gadis Amerika Penjual Ramen

the-ramen-girl-postersThe Ramen Girl adalah judul film yang “tidak sengaja” saya tonton pada bulan Ramadhan yang lalu. Ceritanya waktu selesai sahur, saya menunggu azan shubuh. Acara Tafsir Al-Mishbah-nya Pak Quraish Shihab baru saja selesai. Saya iseng-iseng membolak-balik saluran televisi mencari acara Ramadhan lainnya yang bagus. Karena ketemunya cuma acara-acara lawak atau acara-acara yang pembawa acaranya model pelawak yang norak dan menyebalkan dan tidak mendidik maka akhirnya saya memilih-milih saluran televisi kabel. Secara tak sengaja saya melihat saluran Star Movies yang baru saja mulai memutar film “The Ramen Girl” ini.

Mula-mulanya saya tidak yakin akan terhibur dengan film semacam ini. Maklumlah entah kenapa saya sepertinya sulit terhibur (bukan berarti nggak bisa sama sekali loh…) dengan film-film drama, namun karena setelah tidak ada pilihan yang lain lagi maka terpaksa saya lanjutkan menonton “The Ramen Girl” ini. Ternyata setelah saya menonton agak lama film ini, film ini punya daya tarik tersendiri yang sanggup membuat mata saya terbuka lebar untuk terus menikmati film ini.

“The Ramen Girl” bercerita tentang seorang gadis Amerika bernama Abby (diperankan oleh Brittany Murphy) yang menyusul sang pacar (orang Amerika juga) ke Tokyo, Jepang yang tengah bekerja di kota itu. Namun sang pacar memutuskan hubungan dengan Abby dengan alasan ada pekerjaan di Osaka. Di tengah kesedihannya karena sebatang kara ditinggal sang pacar di kota Tokyo yang asing, Abby melihat kedai ramen (mie) yang kecil di seberang jalan dari apartemen tempat ia tinggal. Walaupun kecil namun kedai ramen itu menarik hatinya untuk mengunjunginya. Ketika Abby sampai ke kedai ramen tersebut ternyata kedai tersebut sudah akan tutup namun karena pemilik ramen dan istrinya tidak bisa berbahasa Inggris sedikitpun maka Abby tidak tahu kalau kedainya sudah tutup dan karena hatinya tengah sedih ditinggal pacarnya maka Abby menangis di kedai tersebut. Pemilik ramen mungkin menyangka bahwa si Abby adalah bulΓ© kere yang menangis karena kelaparan untuk itu ia memberi Abby semangkuk ramen gratis. Ketika mencoba ramen tersebut Abby sangat tertarik dengan ramen tersebut. Setelah selesai makan, Abby disuruh pulang (Abby ingin membayar tapi ditolak oleh si pemilik ramen dan istrinya) namun ia bertekad besoknya akan kembali mengunjungi kedai ramen tersebut dan ingin belajar memasak ramen.

Dari sinilah cerita mengalir sangat menarik bagi saya. Keesokan harinya si Abby kembali ke kedai ramen tersebut dan ingin diajarkan cara memasak ramen. Namun oleh sang pemilik kedai yang bernama Maezumi diperankan oleh Toshiyuki Nishida, malah dijadikan pembantu untuk bersih-bersih kedai. Masalah komunikasi (bahasa) memang menjadi hambatan yang sangat serius di antara mereka berdua. Namun justru itu jadi keunikan tersendiri yang cukup menghibur. Setiap kali berargumentasi selalu apa yang dikatakan mereka berdua tidak pernah nyambung namun toh argumentasi tetap lancar mengalir di antara mereka berdua walau nggak nyambung. Belum lagi perbedaan karakter antara mereka berdua, Maezumi yang keras dan disiplin (namun sebenarnya baik hati) sering berbicara kasar kepada Abby dan juga menempeleng Abby sementara Abby terbiasa dengan sifat Amerikanya yang “menghargai” kebebasan ekspresi individualnya. Namun begitu adegan “kekerasan” yang ditunjukkan dikemas secara apik dan tidak terlihat vulgar.

Film ini benar-benar sangat netral dalam ‘benturan’ antara timur dan barat. Abby sangat menghargai filosofi dibalik pembuatan semangkuk ramen yang mewajibkan semangkuk ramen untuk memiliki jiwa di masakannya sehingga siapapun yang menyantap ramen tersebut akan merasakan emosi yang tengah dirasakan oleh pembuatnya. Jadi semangkuk ramen yang sempurna bukan hanya enak dimakan tetapi juga harus mempunyai ‘jiwa’ atau ’emosi’ di dalamnya. Sesuatu yang mungkin menurut kebanyakan orang Amerika adalah gila dan sangat berlebihan. Sebaliknya pacar Abby yang baru, seorang Jepang keturunan Korea yang bernama Toshi (yang diperankan oleh So Hee Park), yang semula memilih jalan yang sangat “Jepang” dalam meniti karir di perusahaannya yang cenderung setia dengan perusahaan akhirnya memutuskan untuk memilih jalan “Amerika” untuk keluar dari karir di perusahaannya yang cemerlang untuk menjadi seorang musisi sesuai panggilan jiwanya.

Film ini, menurut saya, berhasil memadukan antara sedikit humor, drama kehidupan sehari-hari dan kisah percintaan dengan sangat apik, tidak dipaksakan dan tidak bertele-tele. Ketika Abby berpisah dengan pacarnya yang Amerika untuk pertama kali dan juga ketika berpisah dengan Toshi ketika ia dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke Shanghai, China, perpisahan tersebut tidak digambarkan dengan tangisan air mata yang berlebihan. Tidak seperti kebanyakan film-film cinta a la Indonesia, di mana putus cinta selalu digambarkan dengan air mata dan tangis yang berkepanjangan seolah-olah si sutradara kehabisan plot cerita dan hanya menghambur-hamburkan waktu dengan adegan tangisan yang panjang sehingga menjadi sebuah melodrama yang menyebalkan untuk dilihat……

24 responses to “The Ramen Girl: Gadis Amerika Penjual Ramen

  1. wah, saya jadi tertaik nonton nih..ada lg tak yah??eheheheh

  2. MMM..di rentalan vcd jogja ada gak yach, ntar nyaria ahπŸ™‚

  3. sekalian dibandingkan dengan film drama Indonesia ya?

    sayang, gak ada bakat bikin film. kalo ada bakat, pasti bikin deh film yang ‘oke punya’.:mrgreen:

  4. Temenku cerita film ini bagus. Hahaha.. beruntung ada sinopsisnya di sini. Nonton ah…

  5. jadi salah satu target pencarian film sy selanjutnya….
    nice storyπŸ˜€

  6. entah kenapa, brittany murphy seolah-olah memang spesialis film-film drama dengan cerita semacam, yakni anak amerika yang cenderung spoiled kemudian terpaksa harus mandiri karena keadaan.

    ceritanya bagus, mas. dan rasa tertarik mas yari pagi itu mungkin ditambah karena tidak ada siaran lain yang lebih “kena” selera, sehingga yang biasanya tidak dilirik malah jadi dinikmati. hehe.

    kalau saya sih oke aja nonton pilem drama, mas. tapi sinetron indonesia, sori aja. seumur-umur nggak bakalan. salah satunya karena alasan lebay seperti yang mas yari bilang itu deh. *lha, katanya nggak pernah nonton, kok tau lebay?* tau dong. kan ada iklan, gak sengaja nonton, atau dari komentar orang-orang.:mrgreen:

  7. Flm drama yg sgt mencerahkan. Jauh bnget dg perfilman Indonesia apalagi mo import miyabi… go to hell miyabi !

    slam peace n good luck !

  8. Suatu hal yang menarik.. memadukan kultur barat dgn timur..gimana mencari jalan tengahnya agar ketemua…yach…dapat dijadikan suatu pembelajaran.
    Salam kenal
    tukeren link bro…!
    Salam hangat

  9. Bocoran yang menarik mas, antara benturan budaya barat dan timur jika disatukand alam satu ruangan. Sayangnya saya ndak punya tivi kabel. Semoga ada stasiun tiv di sini yang menayangkannya.

  10. @nurrahman18

    Kalau langganan tv kabel biasanya dikasih majalah TV-guidenya, cari saja disitu..πŸ˜€

    @Aria Turns

    Kalau filmnya kurang populer kayaknya agak susah deh nyarinya..πŸ˜€

    @diazhandsome

    Diaz bakat bikin film ?? Siapa tahu berbakat loh! Asal jangan bikin film tentang “Si buta di kegelapan malam di tengah pemadaman listrik” yang gambar filmnya cuma gelap aja dari awal sampai akhir!:mrgreen:

    @mang kumlod

    Emang bagus kok, nggak nyesel deh nontonnya!πŸ˜€

    @aRuL

    Emang target sebelumnya apa rul? Berburu koteka?? **halaah**:mrgreen:

    @marshmallow

    Sebenarnya saya paling senang film misteri dan film sci-fi (asal jangan yang perang2an dengan alien aja! Cerita tentang alien boleh2 saja seperti “District 9” atau “The Day The Earth Stood Still” asal jangan fokusnya pada tembak2an atau perang2an), namun begitu banyak juga film2 drama yang ceritanya “nyeleneh” seperti “13 going on 30” namun tidak kehilangan nuansa dramanya yang membuat saya betah menontonnya. Pokoknya kalau dibandingkan kebanyakan film2 drama kita (apalagi sinetron jangan tanya deh!) masih seperti bumi dan langit plot ceritanya. Saya heran kenapa ya, penulis2 skenario film drama kita belum bisa membuat plot yang “nggak biasa” gitu?? Ntar salah2 malah bikin film kayak “Brokeback Mountain” lagi (walaupun itu film sebenarnya nggak bisa dikatakan jelek juga!) huehuehue….:mrgreen:

    @gaelby salahuddin

    Sebenarnya kalau si Miyabi ingin membuat film sopan di sini ya, kalau menurut saya sih, oke2 saja. Namun, memang disayangkan, jikalau Miyabi hanya dipasang supaya filmnya laku saja oleh sang produser, sementara jalan ceritanya sangat dangkal dan komedinya juga cuma sekelas komedi Srimulat! Bahkan mungkin masih berkelas Srimulat kali ya?? Huehehe…πŸ˜€

    @mandor tempe

    Coba saja cari vcd atau dvd bajakannya, siapa tahu ada. Walaupun yang kurang populer biasanya agak susah dicari..😦

  11. emang bagus tuh filmnya kang…gak bule gak jepang emang suka nekat ke negara bersangkutan tapi gak tau bahasanya..hee

  12. saya suka film film drama semacam ini, sayang nya dirumah ngga ada tv kabel, sementara di rental dvd saya kira tidak ada film yang tidak mainstream😦

  13. Sepertinya menarik, perlu jalan2 ke tempat jualan DVD nih, mudah2an ada.

  14. cakep sepertinya….
    kudu juga ada pelm indonesia The Oncom gilrs: gadis indonesia penujual oncom… biar oncom ngak diklaim malaysia.. hiihihi piss…..πŸ˜€

  15. ha.. males ah nonton.. dah puas baca ceritanya…
    hehhe

  16. review yang bagus dari sebuah film, saya ahrus nonton nih. Belinya dimana yah ?

  17. terima kasih,
    seperti biasa akan saya hunting di toko-toko terdekat.

  18. Loh…komen saya yang tadi ngga masuk ya, Pak…?
    Saya belum nonton film ini, tapi temanya sederhana dan mudah-mudahan ending-nya pun ngga tendensius.

    Saya pernah nonton film dengan tema pergesekan budaya Barat (rep.by USA) dan budaya Asia (rep. by Japan), judulnya GUNG-HO.. Ceritanya sih bagus, gimana industri otomotif AS mengadopsi filosofi manajemen Jepang untuk bertahan, dan bahkan mematahkan serbuan Otomotif Jepang di negeri Paman Sam. Cuma, endingnya khas Hollywood banget, menunjukkan superioritas AS..

  19. Hehehe… saya saya setuju sekali kalimat-kalimat terakhir. Betul juga, sutradara seringkali buang-buang waktu dengan mengekspos deraian air mata. Padahal yang begitu seringnya malah bikin saya gak tersentuh…..

  20. @boyin

    Mikirnya mungkin, gimana aja hari ini, esok hari sih EGP. Mungkin gitu ya pemikiran mereka?? Huehehe….

    @jensen99

    Tergantung darimana kita melihat film tersebut. Masing-masing film ada kelebihan dan kekurangannya sendiri2. Yang jelas masing-masing individu punya preferensi masing-masing dalam menilai sebuah film…. Bagi saya film The Ramen Girl ini punya nilai positif yang lebih banyak dibandingkan nilai negatifnya..πŸ™‚

    @jarwadi

    Nah itu dia susahnya kalau nyari DVD atau VCD-nya, yang kurang populer biasanya susah dicari..😦

    @indra kh

    Selamat hunting ya…πŸ˜€

    @ridhobustami

    Huehehe… iya bener…. tetapi mendingan yang agak “bergengsi” dikit seperti “The Rendang Girl” atau “The Gudeg Girl” atau “The Coto Makassar Girl” dsb…. **halaah**:mrgreen:

    @ardianzzz

    Untung saya nggak ketularan malas ngebales komennya, eh maksud saya, nonton filmnya….!:mrgreen:

    @adipati kademangan

    Wah… saya nontonnya via TV kabel tuh mas, kalau nanya DVD dan VCD-nya saya juga belum pernah nyari tuh…😦

    @komuter

    Toko2 terdekat maksudnya penjual pinggir jalan gitu?? Huehehe…:mrgreen:

    @soyjoy76

    Wah… komen sampeyan nggak ada tuh di kotak Akismet, ke mana ya??😦

    Emang betul, aku males kalau endingnya selalu gaya Amerika atau barat (atau juga salah satu fihak lainnya) yang dimenangkan dengan ‘paksa’ khas film action Hollywood yang kelas bawah…😦

    @Ratna

    Emang kalau nangisnya kelamaan terkadang suka malah sebel dan bahkan nggak jarang malah justru bikin pengin ketawa jadinya!!:mrgreen:

  21. aq paling suka adegan waktu tes kelayakan bagi penerus resep ramen keluarga.kakek tua yg jd penentu itu bner2 g bgt deh,heheπŸ˜€

  22. wkwkwkwkwkwkwkwk xmpek nangis n ktawa q nontonx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s