Seorang Guru Yang “Menolak” US$ 75.000

Jeff Foxworthy dan Anak-Anak Kelas 5 Dalam "Are You Smarter Than The 5th Grader?" 2007Siapa bilang nonton TV tidak ada gunanya? Jikalau tidak berlebihan dan menganggu aktivitas-aktivitas lain, menonton televisi banyak manfaatnya, selain dapat menambah wawasan langsung juga dapat banyak memetik moral yang ada pada suatu acara yang baik. Seperti dalam acara “Are You Smarter Than the 5th grader?” yang dibawakan oleh Jeff Foxworthy yang saya tonton hari Rabu malam lalu (11/11) lewat stasiun televisi StarWorld, selayaknya banyak ditonton oleh para pejabat pemirsa di Indonesia.

Yang membuat episode tersebut menarik ada dua yaitu kedatangan murid-murid kelas 5 SD dari “Are You Smarter Than a 5th Grader?” tahun lalu yaitu tahun 2007 (episode ini dibuat tahun 2008) dan juga salah seorang pesertanya yang seorang guru TK dari Boston, Massachusetts bernama Chrissy Booras. Bagi mereka yang sering mengikuti acara ini tentu sudah mengetahui tata cara permainan ini. Setiap peserta diberi 10 pertanyaan mulai dari US$1.000 hingga US$500.000, jika berhasil menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut maka peserta berhak menjawab pertanyaan bonus senilai US$1.000.000 (hampir sepuluh milyar rupiah..wow!). Nah dalam menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut peserta bisa dibantu oleh anak-anak kelas lima yang berada di acara tersebut. Terdapat tiga bantuan yang ada yaitu: Peep (intip), Copy (kopas) dan juga Save (selamat). Dalam Peep, peserta boleh mengintip pekerjaan si anak kelas 5 SD tersebut dan boleh memakai jawaban anak kelas 5 SD tersebut atau boleh memakai jawaban lain. Dalam Copy, peserta harus menggunakan jawaban anak kelas 5 SD yang membantunya tersebut sedangkan Save, jika jawaban peserta salah maka jikalau jawaban si anak kelas 5 SD benar, maka otomatis si peserta terselamatkan dan dapat melanjutkan kuis ini.

Dan di sinilah istimewanya sang guru TK yang bernama Chrissy Booras ini. Ketika ia sampai pada pertanyaan kategori astronomi kelas 4 yang berbunyi (pertanyaan aslinya tentu saja dalam Bahasa Inggris):

Dalam skala Fahrenheit berapa derajadkah panas permukaan matahari?
a) 10.000 derajad
b) 1.000.000 derajad
c) 35.000.000 derajad

Bagi mereka yang menyukai astronomi tentu tidak sulit menjawab pertanyaan ini, namun malangnya si ibu guru ini rupanya tidak menyukai astronomi. Namun yang menarik bukan ketidakbisaan si ibu guru untuk menjawab pertanyaan ini namun karena ia menolak untuk menggunakan fasilitas “Copy” yang ada. Si ibu guru ini sebelumnya sudah menggunakan kedua fasilitas bantu lainnya dan hanya tersisa fasilitas “Copy”. Pertanyaan ini bernilai US$175.000 sementara si ibu guru sudah mengumpulkan US$100.000. Namun si ibu guru “sayangnya” menolak menggunakan fasilitas “Copy” dan memilih keluar dari permainan dan “hanya” membawa pulang US$100.000. Padahal pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pilihan berganda dan kemungkinan besar jawaban si anak kelas 5 SD yang menolongnya benar karena mereka adalah anak-anak kelas 5 SD yang terpilih dan pandai, dan memang jawaban si anak kelas 5 SD tersebut ternyata benar. Padahal jikalau si ibu guru menggunakan fasilitas “Copy” ia akan mendapat US$175.000 dan dapat berkemungkinan lanjut hingga mendapatkan US$1.000.000!

Alasan si ibu guru tidak menggunakan fasilitas “Copy” ini sangat mulia karena si ibu guru tidak suka mengkopas mentah-mentah jawaban seseorang di sekolah. Dan prinsip ini ia pertahankan di dalam kuis ini dan ia tidak tergiur dengan perbedaan uang US$75.000 (hampir Rp. 750 juta) yang sebenarnya dengan mudah dapat ia dapatkan. Lagipula si ibu guru mungkin khawatir bahwa ia akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak didiknya. Menurut saya, mental bu guru ini sungguh jauh dari mental korup! Walaupun ia seorang guru yang banyak dikatakan sebagai “the underpaid hero” namun sungguh mentalnya dan juga harga dirinya sangat tinggi. Sebuah mental yang patut ditiru oleh para pejabat pemirsa di Indonesia!

Iklan

11 responses to “Seorang Guru Yang “Menolak” US$ 75.000

  1. kok yg ini lom ada komentar nya, ya dah saya duluan deh..
    saya gak mo komen apa2 cuman ingin menyatakan, bapak kumis tebal, kumis nya sama tebel nya tuh sama poto yg di atas wakakakak

  2. yah itu kembali lagi ke pilihan dan naluri dalam hati pak, kalo ada yg rakus pasti meneruskan πŸ˜€
    tapi hati manusia siapa yg tau, semoga aja yg begitu jg kondisi negera ini pak ya

  3. Iye, cuman yang sekarang kok anak kecilnya itu itu aja yak, jadi berasa bosen, hehe

  4. oke, idealisme bermain disini….
    salut untuk sang guru, dapatkah saya seperti itu ??

  5. idealisme itu seperti doktrin yang kadangkala merintangi segala sesuatu yang semestinya bisa diraih. sayangnya doktrin itu juga asalnya dari persepsi yang didapat dari sumber2 terbatas yang orang itu ketahui.jadi kuncinya fleksibilitas.

  6. Terima kasih atas kunjungan & komentar anda di blog saya.

    Ttg. Ibu Guru dlm tulisan anda: Wah HEBAT SEKALI! harus menjadi teladan bagi para pebajat publik di Indonesia. Semoga ………

  7. seorang guru ingin muridnya menuruti apa yang dia lakukan. maka dengan contoh yang baik yang akan membawa ke arah yang diinginkan

  8. 75 000 000 rupiah, banyak juga tuh…..

  9. @ricky

    embeeeeeeeek….. **latihan belajar bahasa kambing** πŸ˜†

    @aRuL

    Itulah… hebatnya sang guru… dalam hatinya mungkin saja ia menginginkan lebih… tetapi demi panutan dan juga idealismenya ia sanggup memerangi keinginan atau godaan hatinya…. itulah hebatnya… πŸ™‚

    @raffaell

    Lah… kan anak2 kelas 5 SD-nya digantinya cuma setahun sekali…

    @komuter

    Sayapun belum tentu sanggup…. huehuehue…. :mrgreen:

    @boyin

    Memang betul… kuncinya fleksibilitas, namun orang yang mempertahankan idealismenya belum tentu dia nggak fleksibel. Si guru itu misalnya, mungkin saja ia fleksibel tetapi ia bisa menempatkan fleksibilitasnya di tempat yang tepat. Nggak seperti banyak pejabat di Indonesia, yang salah menempatkan fleksibilitas. Di mana itu menguntungkan dia walaupun merugikan orang lain, ia malah “mempraktekkan” fleksibilitasnya, giliran fleksibilitas itu tidak menguntungkan dia dan hanya menguntungkan orang lain, dia bersikap ideal. Jadi kuncinya bukan hanya fleksibilitas tetapi juga kapan kita menerapkan fleksibilitas itu… πŸ™‚

    @Multibrand

    Saya yakin tidak semua guru punya mental seperti itu juga baik di AS maupun di Indonesia. Tetapi mudah2an ke depannya semakin banyak orang2 Indonesia yang lebih bermoral dan berakal sehat… πŸ™‚

    @adipati kademangan

    Betul sekali… dari guru yang baik insya Allah akan lahir murid2 yang baik pula… πŸ™‚

    @javanese

    perasaan Rp 750 juta deh bukan Rp 75 juta hehehe….

  10. Sebuah pilihan yang sulit, antara keinginan dan kemuliaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s