Bau Kentut Kok Dihilangkan Dengan Bau Kentut Juga!!

Barangkali sebelum tahun baru lalu anda masih ingat gonjang-ganjing peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” karangan George Junus Aditjondro yang tak lama kemudian disusul dengan jawaban “tak resmi” buku tersebut yang juga diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul “Hanya Fitnah Dan Cari Sensasi: George Revisi Buku” karangan seorang mantan wartawan tempo bernama Setiyardi. Namun begitu, artikel ini tidak membahas tentang isi substansial kedua buku tersebut karena sayapun belum membaca langsung kedua buku tersebut namun dalam artikel ini saya akan berpendapat secara pribadi tentang ‘fenomena’ yang mirip dengan kasus kedua buku di atas di mana “bau kentut dicoba dihilangkan juga dengan bau kentut yang lain!”.

Dalam sebuah acara di TV-One, pengarang buku “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi…..” mengatakan bahwa buku yang dikarang George mempunyai kelemahan dari sisi metodologi penulisan dan konten serta hanya menggunakan data sekunder tanpa melakukan konfirmasi. Memang banyak kalangan mengatakan bahwa buku karangan George tersebut adalah sampah. Namun dalam acara tersebut saya juga menangkap bahwa ternyata buku “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi….” juga hanya memberikan pandangan pribadi yang subyektif dari sang pengarang. Okelah…. saya tidak akan menilai mana dari kedua buku yang lebih baik, agar adil ANGGAPLAH kedua buku tersebut adalah berkualitas sampah atau berkualitas kentut yang sangat bau. Lantas apa masalahnya??

Begini….. anggap saja anda bersama teman anda berada di sebuah ruangan yang agak sempit. Tiba-tiba teman anda kentut dengan baunya. Anda keberatan  dengan kentut teman anda yang baunya busuk itu, tapi anehnya anda ingin meredam bau kentut teman anda yang busuk itu dengan kentut anda sendiri yang tak kalah busuknya!! Secara psikologis bau kentut sendiri sebusuk apapun masih tercium lebih harum dibandingkan kentut orang lain yang baunya nggak begitu busuk :mrgreen: . Tentu tindakan tersebut jadi terasa aneh bukan?? Bukankah jauh lebih baik jika bau kentut teman anda tersebut diredam dengan Glade Air Freshener yang beraroma mawar atau lemon? Jadi begitu juga dengan kasus buku ini, jikalau anda berkeberatan dengan isi, metodologi dan sebagainya dari buku ini, apalagi jika anda ingin menjawabnya dalam sebuah buku juga tentu anda harus mampu menjawabnya dengan isi dan metodologi yang lebih baik. Jangan kentut dibalas juga dengan kentut, walhasil malah tambah bau dan kacau!

Jadi, apakah tidak boleh menjawab buku yang berkualitas sampah dengan buku yang berkualitas sampah juga?? Tentu saja boleh! Jika anda ingin membalas kentut teman anda dengan kentut anda sendiri yang sama baunya tentu sah-sah saja. Namun akan terasa aneh misalnya, jika anda protes karena kentut teman anda yang bau namun anda sendiri ternyata mengeluarkan kentut yang sama baunya!! Saya mengharapkan bahwa ANDAIKAN nanti ada jawaban resmi, tidak resmi ataupun setengah resmi dari fihak Cikeas yang merasa dirugikan yang akan dituangkan dalam sebuah buku, saya berharap buku tersebut akan beraroma lebih harum dibandingkan buku yang akan disanggahnya. Misalnya, jika fihak Cikeas ingin membantah tentang aliran dana Bank Century (walaupun katanya di bukunya si George itu aliran dana Bank Century justru malah sangat sedikit dibahas) maka fihak Cikeas harus bisa juga menunjukkan ke mana sebenarnya dana Bank Century itu mengalir dengan dukungan data primer dan bukan hanya berupa sangkalan-sangkalan sefihak yang berdasarkan data sekunder juga! Begitulah Contohnya!

Nah… Nanti dulu…. jangan-jangan artikel ini juga berbau kentut! Ya biarin….. andaikata ada yang menilai artikel ini berbau kentut ya silahkan saja :mrgreen: . Memang saya niatnya cuma mau kentut saja kok! 😛 Ini untuk menunjukkan bahwa kentut itu mudah kok. Tapi setidak-tidaknya saya kentut di tempat netral yang  jauh dari keributan “perang kentut”, jadi tidak menambah bau ruangan yang sudah bau tersebut! Jadi silahkan anda kentut, namun jangan cepat protes dengan kentut teman anda yang bau tersebut! “Duuuuuut…….” “ah, lega rasanya!!” :mrgreen:

Iklan

12 responses to “Bau Kentut Kok Dihilangkan Dengan Bau Kentut Juga!!

  1. Lega banget telah melepas kentut di ruang ber-AC :mrgreen:

  2. berhubung sedang diare, jadi saya takut kentut, mas.
    takut kalau niatnya mengeluarkan angin, malah keluar benda padat.
    itu namanya over qualified.
    hihi…

    mestinya para pengarang buku sampah itu lebih spesifik. kalau ingin menutupi bau kentut, musti jelas kentut yang bagaimana. misalnya mau menutupi kentut bau jengkol dengan kentut bau duren gitu. hehe…

  3. yah namanya juga cari duit kang…bukan masalah kentutnya tapi duitnya…heeee..sama kayak dulu buku robert t kiyosaki larisnya minta ampun..eh ada juga yang bikin buku tandingan tentang fakta dan kisah kehidupan kiyosaki yang berlatar belakang berbeda dengan yang dibuku..lareessss ama orang mlm…itu khan UUD juga..heee

  4. Buku itu sekarang saya lihat dijajakan diperempatan jalan..herannya setiap kali saya mencoba memperhatikan, kok nggak ada yang beli ya? Termasuk saya sendiri tak pengin beli….
    Saya lebih suka buku yang mengajak berpikir positif, berpikir analitis, dan bagaimana agar kita bisa membuat kebaikan pada lingkungan tempat tinggal kita.

    Hmm kentut paling rame jika pagi hari kang…..
    Dan harus dikeluarkan dulu sampai tuntas, agar tak menganggu saat sholat Subuh.

  5. @Nurita Putranti

    Huahaha…. tapi paling afdol kalau melepas kentut di dalam mobil ber-AC, lebih ramai. Juga kalau naik motor, apalagi kalau ngeboncengin cewek, biasanya cewek yang diboncengin udah pasrah aja kalo dikentutin. Wakakakak…. Ya… mangkannya sekarang cewek harus mau ngeboncengin cowok biar nggak dikentutin terus, lagian kan sekarang zaman emansipasi. Huehuehue…. :mrgreen:

    @marshmallow

    Wah… saya lumayan sering tuh “tertipu” seperti itu. Sphincter muscle saya salah menginsyaratkan ke otak saya jikalau yang mau keluar cuma kentut aja. Nggak tahunya teman-temannya si kentut pengin main keluar juga! Wah… padahal di kantor pula dan pakai stelan (suit) pula….. bener2 ketipu deh… huehuehue….

    Nah… itu dia mbak, masalahnya orang yang cuma mau membalas “kentut” aja secara membabibuta hampir pasti ia tidak pernah berfikir secara spesifik, yang hanya bisa dilakukannya dan yang ada di kepalanya adalah membalas kentut dengan kentut yang sama baunya pulak…. 😦

    @boyin

    Parahnya banyak masyarakat kita yang belum bisa berfikir jernih, walhasil walaupun sampah atau kentut namun berhasil menyita perhatian publik biasanya laku dijual. Lihat saja, sinetron murahan, infotainment yang cuma mengandalkan gosip, dan sampah2 lainnya pasti laku keras di sini. Andaikan produsen2 malah ikut2an menghasilkan sampah… yah…. makin gawat aja! 😦

    @edratna

    Saya dengar buku itu banyak yang dibajak terus dijual di jalanan. Sebenarnya membaca buku2 sampah sebagai rasa ingin tahu ataupun sebagai perbandingan ya sah2 saja. Hanya saja kita juga seyogianya atau bahkan harus lebih fokus pada buku2 atau produk2 informasi lain yang lebih berbobot…

  6. Jadi ingat pepatah:
    Kentut di seberang lautan tercium busuknya, kentut dari pantat sendiri tak tercium busuknya.

    Eh… benar gak sih ada pepatah ini? … 🙂

  7. iya mas saat ini saya juga ingin memberikan sebuah komentar yang tidak berbau kentut (komentar spam). entah mengapa di indonesia masih banyak bertebaran komentar spam. mengajak semua blogger untuk tidak berkomentar spam:

    seperti kata-kata bijak mencari sebuah kesalahan orang lain memang mudah, namun terkadang kesalahan itu masih melekat pada kita. bukannya sombong mengenai masalah kentut yang dibalas kentut, tetapi terkadang orang yang kentut itu tidak menyadari bahwa kentutnya itu bau dan terus diulangi. jadi sesekali ya … mesti dibalas 🙂

  8. Mungkin bagi si “sumber kentut” itu ga jadi masalah,… toh bagi mereka kentut merekalah yg harum,… namun bagi kita yg berada disaat mereka saling bertukar kentut,……… hmmmmmmmmm,… tersiksa rasanya

  9. @coretanpinggir

    Ya dibener2in aja deh…..

    Bisa juga lebih dihiperbolakan lagi seperti “kentut di planet lain tercium baunya, kentut di rumah sendiri tidak tercium baunya!” Huehehe…. :mrgreen:

    @liudin

    Membalas kentut orang ya sah2 saja, tetapi anehnya kalau dia mengatakan dengan lantang kentut temannya bau, sementara dia bisa menghilangkan bau kentut yang bau itu, tapi ternyata menghilangkannya dengan kentutnya yang sama baunya juga. Ya… sama aja oblong dong! :mrgreen:

    @avartara

    Huahahaha….. betul sekali….. untuk itu mari jangan menambah ruangan yang sudah berbau kentut menjadi tambah bau. Kecuali kita dapat tahan dengan baunya atau kita tidak perlu mencela kentut orang lain itu bau kalau kita juga cuma bisa menghasilkan kentut yang sama baunya! :mrgreen:

  10. Hmmm …. perumpaan yang tepat.
    Yang pasti ” bau ” yang ditimbulkan keduanya sempat mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah2 riil seperti kenaikan harga2, pengangguran, peningkatan berita kejahatan dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s