Moso Kita Bikin Atlas Saja Nggak Becus Sih….

Gramercy Atlas, Random House Value Publishing, USA

Minggu yang lalu iseng-iseng saya membersihkan lemari-lemari buku saya yang sudah lumayan banyak isinya. Maklumlah sepertinya lemari-lemari tersebut sudah mulai berdebu karena sudah agak lama tidak dibersihkan terutama di rak-rak yang teratas. Rak-rak yang teratas biasanya adalah buku-buku yang sudah tidak begitu sering dibaca lagi. Ketika iseng-iseng membersihkan rak yang paling atas, tidak sengaja saya menemukan Philips World Atlas terbitan Inggris. Setelah saya lihat-lihat, wow, ternyata atlas tersebut keluaran tahun 1997. Sudah cukup lama itu atlas! Entah kenapa, setelah melihat atlas itu timbul keinginan saya untuk membeli sebuah atlas dunia terbitan terbaru padahal sebenarnya kalau mau melihat-lihat atlas aja, sekarang atlas digital online juga banyak ditambah lagi software-software atlas bajakan juga banyak dijual di pinggir-pinggir jalan. Tapi entah kenapa melihat atlas dunia yang saya beli lebih dari satu dasawarsa lalu itu membuat saya ingin untuk membeli atlas dunia berbentuk tradisional (baca: buku) edisi terbaru.

Untuk itu hari Sabtu kemarin, mumpung anak saya yang kecil merengek-rengek minta dibelikan komik Jepang lagi, ya akhirnya kami mengunjungi Gramedia Merdeka (lagi!). Untung saja, di sana dijual berbagai macam atlas impor dengan berbagai jangkauan harga. Saya lihat kebanyakan adalah atlas dunia dari Philips (Inggris) juga versi terbaru. Namun setelah saya lihat-lihat pilihan saya jatuh pada Gramercy Family World Atlas terbitan Random House Value Publishing. Harganya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran atlas impor (Rp. 195.000,-) dibandingkan atlas-atlas impor lainnya yang sekelas yang harganya lebih dari Rp. 300.000,-. Setelah membayar atlas tersebut di kasir, saya langsung menuju lantai atas tempat komik-komik Jepang berada. Sementara saya menunggu anak saya memilih komik, saya iseng-iseng melihat atlas-atlas buatan lokal yang kebetulan berada di lantai yang sama. Ada beberapa macam atlas lokal dari berbagai penerbit yang ada. Harganyapun bermacam-macam, dari yang termurah cuma Rp. 13.000,- hingga yang termahal Rp. 150.000,-.Β  Namun setelah saya lihat-lihat isinya alangkah kecewanya saya, karena kebanyakan isinya banyak yang sudah kadaluwarsa atau tidak akurat lagi terutama untuk atlas dunianya, padahal hampir semua atlas-atlas tersebut dicetak tahun 2007 ke atas! Setelah diteliti lebih lanjut ternyata dari sekian atlas lokal tersebut, yang isinya akurat hanyalah dua buah. Yang satu, yang harganya paling mahal Rp. 150.000,- yang satunya lagi yang terbitan Erlangga. Itupun yang atlas Erlangga tersebut merupakan atlas terjemahan dari atlas impor! Sisanya, sepertinya atlas “asal-asalan” aja. Beberapa kelemahan atlas-atlas tersebut yang umum dijumpai adalah berupa:

  • Banyak dari atas tersebut masih mencantumkan negara Yugoslavia yang lama. Padahal Yugoslavia sudah lama pecah. Yugoslavia terakhir berdiri tahun 2006, yang pada waktu itu tinggal menyisakan Serbia dan Montenegro saja. Pada saat Serbia dan Montenegro berpisah tahun 2006, tamat pula “riwayat” Yugoslavia.
  • Beberapa atlas juga masih menyatukan Republik Ceska dan Slowakia menjadi Cekoslowakia. Padahal Republik Ceska dan Slowakia sudah memisahkan diri sejak 1 Januari 1993!! Wow… ketinggalan banget tuh atlas yang masih mencatumkan Cekoslowakia!
  • Pada beberapa atlas banyak juga yang menampilkan berbagai macam bendera-bendera dunia. Namun bendera-bendera tersebut banyak yang kadaluwarsa! Bayangkan saja bendera Hongkong masih yang ada bendera “The Union Flag”-nya Inggris, sedangkan bendera Zaire yang lama juga masih ada, padahal Zaire sekarang sudah menjadi Republik Demokrasi Kongo dengan bendera yang berbeda. Belum lagi bendera Afghanistan, dan bendera-bendera negara-negara pecahan Uni Soviet yang masih banyak kadaluwarsa! *sigh*
  • Peta-peta yang menunjukkan pembagian waktu dunia juga kebanyakan banyak yang kadaluwarsa. Banyak dari peta-peta tersebut masih menunjukkan bahwa seluruh wilayah di Kalimantan masuk ke dalam GMT+8. Padahal setahu saya Hanya Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan saja yang GMT+8 (atau WITA), sisanya adalah GMT+7 (atau WIB). Sedangkan Timor Leste masih dimasukkan ke dalam GMT+8 (WITA), padahal sejak 17 September 2000 (setelah lepas dari RI) Timor Leste sudah dimasukkan ke dalam GMT+9 (atau setara WIT).
  • Batas-batas antarnegara, terutama negara-negara yang agak kecil, sangat kasar dan terkadang sangat tidak akurat! Berbeda sekali dengan atlas-atlas yang impor di mana batas-batas antarnegara sekecil apapun terlihat sangat jelas dan akurat.

Yang paling konyol ada satu buah atlas yang mengatakan bahwa ibukota provinsi Bangka Belitung adalah Sungailiat padahal setahu saya ibu kota provinsi Bangka Belitung itu adalah Pangkal Pinang. Entah deh, kalau sekarang sudah dipindah ke Sungailiat (Atau mungkin dulu ibukota provinsi Babel itu memang Sungailihat ya??). Pokoknya pendek kata, saya sungguh prihatin sekali melihat kualitas-kualitas kebanyakan atlas-atlas buatan dalam negeri. Tentu saja, saya sadar bahwa atlas-atlas tersebut harganya relatif murah dan ‘hanya’ ditujukan untuk keperluan pendidikan, namun saya rasa itu bukan alasan untuk tidak memperbaiki atlas-atlas buatan lokal tersebut.

Saya sendiri heran, kenapa atlas-atlas “menyedihkan” tersebut bisa lolos ke percetakan, apakah mereka tidak pernah menyeleksi atau memeriksa isinya?? Padahal sekarang zamannya Internet dan data digital, semua bisa dengan mudah dicocokkan keakuratannya dan kekiniannya. Apakah mereka tidak pernah melakukan itu?? Apa Internetnya hanya buat Facebookan aja?? :mrgreen: O iya ada satu lagi kelucuan dari salah satu atlas tersebut. Di salah satu atlas ada yang mencantumkan “The New 7 Wonders Of The World” atau “Tujuh Keajaiban Dunia Yang Baru”. Data tersebut dikatakannya diambil dari Internet. Padahal “The New 7 Wonders of The World” tersebut tidak pernah diakui oleh UNESCO!! Ada-ada aja! Keakuratan atau kekinian yang seharusnya masuk malah diabaikan, eh, kekinian yang seharusnya tidak perlu masuk malah diikutsertakan….. 😦

Iklan

20 responses to “Moso Kita Bikin Atlas Saja Nggak Becus Sih….

  1. padahal atlas merupakan salah satu media utk cepat belajar ketimbang membaca πŸ˜€

  2. `walah..banyak komen yang kang yari paparkan malah sebagian besar saya gak tau…hiii

  3. wah saya dapet ilmu disini πŸ˜›

  4. salah satu kekurangan dari percetakan atlas ya itu, kurangnya pengetahuan atas perkembangan yang terjadi. Dipikir naskah yang dikirimkan itu sudah mengikuti perkembangan jaman, ternyata kedaluwarsa bertahun tahun

  5. @aRuL

    Membaca penting, memahami peta atau atlas juga penting. Perkenalkanlah atlas dan peta sedini mungkin pada anak2… πŸ™‚

    @boyin

    Intinya sih ingin menyindir, kok di zaman globalisasi seperti ini, kita bikin atlas aja nggak becus. Moso harus ngimpor atlas dari China sih?? **halaah nggak ngerti dong bacaannya petanya** :mrgreen:

    @ulan

    Kalau ilku dan ilnya ada nggak?? Moso ilmu melulu sih?? :mrgreen:

    @mandor tempe

    Ya itulah. Padahal sekarang zamannya internet, kok nggak dimanfaatkan buat mengupdate data atlas yang udah uzur gitu?? Sungguh menyedihkan! 😦

  6. Ada lagi, di Jawa kadang di beberapa atlas:

    Masih ada jalur rel kereta api Bandung – Ciwidey yang sudah lama ditutup dan dibongkar, begitu juga Semarang – Rembang dan Madiun-Ponorogo.

  7. wah ini mungkin yang menjadikan batas negara kita digeser sama malaysia ya… tidak tahu batas-batasnya. belum lagi ilmu yang salah yang pasti diajarkan via atlas. ibukota bangka belitung salah, batas salah, trus yang keajaiban dunia juga salah. gimana generasi penerus bisa berkembang klo begitu? susah …susah… dari administrasi pendidikan ampek masalah seperti buku aja salah.

  8. Atlas tsb terbitan baru atau memang atlas terbitan lama, yang kemudian diterbitkan lagi?
    Peta Jakarta awalnya yang membuat adalah orang Jerman yang suka jalan-jalan seantero Jakarta, bingung melihat begitu banyaknya nama jl. Masjid…akhirnya dia bikin atlas Jakarta…belakangan ada atlas Jakarta yang diterbitkan oleh suatu departemen tertentu.
    Dulu, saya memahami Jakarta dengan membuka atlas yang satu lembar itu, habis bingung terus, barulah disitu saya paham bagaimana melihat Jakarta dari atlas.

    Begitupun atlas dunia, jika kita mau bepergian ke negara tertentu, sangat penting membaca atlas ini. Saya punya pengalaman konyol..karena acara seminar yang padat, tinggal dua hari lagi…barulah saya tahu bahwa hari pertama kami jalan-jalan mencari hotel tempat kami seminar (awalnya kami menginap di Wisma milik Deplu), adalah Trafalgar Square yang terkenal itu..dan hotel tempat saya menginap hanya 20 meter dari sana…padahal tiap hari saya lewat pinggiranya saat berangkat jalan kaki ke hotel tempat seminar.
    Jadi..pembelajaran pertama, adalah sempatkan beli atlas…

  9. Saya juga beberapa kali menemukan di toko buku Peta yang masih sebutkan Papua sebagai Irian Jaya.
    Mungkin karena peta dianggap tidak penting sehingga tidak perlu dimonitor kebenarannya.

  10. Sudah lama tidak melihat Atlas, terakhir jaman sekolah dulu. Baru tahu kalau informasi negara2nya tidak diperbarui. Trims untuk referensi pilihan Gramercy Family World Atlas, saya ada keinginan mengajarkan peta dunia kepada anak.

  11. Mungkin strategi pemasaran atlas masih berkisar pada price Pak,.. sehingga dilahirkan atlas buatan Indonesia dengan harga yang sangat murah,… namun fungasinya tidak terlalu diperhatikan. Akhirnya lahirlah atlas asal jadi. Untuk Bapak sangat perhatian dengan isi petanya,.. nah lho ga kebayang klu atlas seperti itu dijadikan referensi bagi pelajar,….. bisa kacau nantinya

  12. sumpah.. sayah menyadari kebodohan sayah dengan telak kali ini mengenai atlas2 itu 😦

  13. mgk atlas tsb hanya cetak ulang tanpa direvisi, ya pak?
    sbg warga kalimantan barat saya protes kalo disitu GMT+8, sejak saya kecil sudah KalBar termasuk GMT+7 lho πŸ˜€

  14. sepertinya master template nya blom diupdate pak πŸ˜€ mungkin karena mereka berpikir produk atlas tidak menjanjikan.. saya memilih gajah duduk saja *lho?!*

  15. Saya tidak mengerti ngapain unesco perlu mengaku 7 wonders. Itu kan cuma isi pamflet pariwisata zaman sebelon masehi…

  16. *membayangkan mas yari bete di toko buku* πŸ˜›

    kalau kesalahan kecil semacam, say, nama sungai mungkin masih bisa dimaklumi ya, mas. tapi kalau sudah menyangkut negara dengan segala konsekuensinya, pasti berabe dong. namanya atlas itu untuk informasi. kalau atlasnya keliru, informasinya juga nggak akurat dong.

    sayangnya orang cenderung tidak memperhatikan, yang penting harganya terjangkau. yang paling tepat memang melakukan pengecekan sebelum buku terbit dan beredar di pasaran.

  17. wah berarti banyak atlas yg ga bener di Ina dunk pak….

  18. @Ardianto

    Wah… kalau rel kereta api sih sudah agak mendetail, lha ini…. nama negaranya aja masih menggunakan nama yang lama…. kan gawat…. 😦

    @liudin

    Nah… itu dia yang membuat saya sedih…. kok buku pelajaran saja udah salah…. kalau informasi yang diberikan salah atau kadaluwarsa ya gimana kelak mereka2 yang mendapatkan informasi yang kadaluwarsa itu ya?? 😦

    @edratna

    Sebenarnya lama barunya atlas tersebut sudah saya sebutkan di artikel saya di atas, yaitu cetakan tahun 2007 ke atas…

    Kalau sekarang bu, berpergian nggak perlu pakai atlas lagi, tapi pakai GPS (Global Positioning System), sekarang GPS receiver juga sudah murah, nggak seperti 15 tahun yang lalu. Apalagi kota2 di Amerika Utara dan Eropa Barat, peta2 elektronik yang ada pada perangkat GPS receiver-nya sudah lengkap sekali dan biasanya terus di-update…

    @Multibrand

    Wah… kalau menganggap peta tidak penting untuk di-update, jangan2 lama kelamaan nanti bangsa kita akan menganggap semuanya tidak penting untuk di-update… Mudah2an nggak seperti itu ya?? 😦

    @indra kh

    Tidak ada kata terlambat untuk melihat kembali peta2 dunia dan Indonesia pak… hehehe… πŸ˜€

    @avartara

    Nah itu dia…. salahnya di situ…. kalau barang murah tapi “kadaluwarsa” ya bagaimana mau bersaing di kawasan global ya?? Padahal murah tidak selalu berarti harus “kadaluwarsa” kan? πŸ™‚

    @almascatie

    Mungkin bidangnya almascatie bukan bagian peta2an hehehe…. santai aja bro…. :mrgreen:

    @Nurita Putranti

    Dulu sebelum mbak Ita lahir, tahun 1970an, seluruh Kalimantan itu GMT+8, terus tahun 1980an (persisnya lupa) terus diganti GMT+7. Dulu Singapura dan Malaysia juga masih GMT+7Β½ belum GMT+8 seperti sekarang. πŸ˜€

    @ridu

    Kalau produk sarung harus diapdet nggak ya?? :mrgreen:

    @Black_Claw

    Iya tuh…. btw…. bukannya situ suka yang berbau2 sebelon masehi?? Kan… pakaiannya minim2… **halaah** :mrgreen:

    @marshmallow

    Yang saya heran…. sekarang kan zaman komputer, zaman Internet, semua bisa dengan mudah dicek kekiniannya. Lah, kok, malah diabaikan. Tetapi saya nggak bete kok di toko buku, kan saya udah beli atlas yang Made in USA huehehe…. πŸ˜›

    @nurrahman

    Mungkin lebih tepatnya: informasinya sudah banyak yang kadaluwarsa… πŸ˜€

  19. Wah, mending saya gunakan googlemaps. Tapi memang kebanyakan peta (buku) lokal di indonesia hanya memandang dari segi bisnis saja. mengecewakan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s