Monthly Archives: Februari 2010

Marketing-Mix Yang Membingungkan…

Kira-kira 15 tahun yang lalu ketika pertama kali saya membaca tentang “Marketing-Mix” di buku “Marketing Management” dari Philip Kottler saya mendapati model Marketing-Mix yang hanya cuma 4: yaitu: Product, Place, Price dan Promotion. Bagi yang masih asing apa itu “Marketing-Mix”, Marketing Mix pada dasarnya adalah inti atau ruh dari marketing atau pemasaran itu sendiri. Boleh dibilang Marketing-Mix mencakup hal-hal yang terpenting dalam kegiatan di dunia pemasaran. Saya tidak akan melakukan elaborasi terhadap Marketing-Mix ini karena bisa anda baca sendiri di Wikipedia atau di situs-situs lain yang bertebaran di dunia maya ini.

Nah, beberapa hari yang lalu (eh… hampir seminggu yang lalu deh…) sehabis pulang Jumatan di Islamic Centre Bandung, kebetulan ada pedagang buku bekas di jalanan. Biasa deh, setiap Jumatan, Islamic Centre berubah jadi pasar kagetan. Begitu ada pedagang buku langsung deh lihat-lihat. Salah satunya adalah mengenai Marketing (pengarangnya tidak saya perhatikan siapa) dalam Bahasa Inggris. Bukunya walaupun terbitan tahun 2004 tapi fisiknya udah dekil jadi agak ogah untuk membelinya. Akhirnya saya hanya melihat-lihat isinya saja. Di situ saya melihat ternyata Marketing-Mix zaman sekarang sudah berubah model menjadi 7P! Selain keempat unsur P seperti di atas, terdapat juga tiga unsur P tambahan yaitu, People, Process dan Physical Evidence. Jikalau anda ingin tahu detail-nya, dapat dengan mudah anda cari sendiri di Internet, salah satunya adalah di sini.

Pertanyaan saya adalah, seberapa pentingnya sih penambahan 3P di sini?? Apakah 3P di sini bukannya tugas dari departemen lain?? Ok lah…. Sebagai contoh… anggaplah kita berasumsi bahwa marketing zaman sekarang (dari dulu deh sebenarnya!!) memerlukan staf dan orang-orang yang baik dan cocok dalam marketing, seperti terkandung dalam unsur “People” pada salah satu unsur tambahan 3P di atas. Walau begitu bukankah unsur tersebut lebih tepat dibebankan pada fungsi SDM daripada marketing?? Walaupun tentu saja harus tetap ada keterlibatan fungsi marketing di sana. Jangan-jangan karena terlalu banyak unsur yang harus dikerjakan dalam marketing nanti justru fokus pada unsur asli 4P-nya malah berkurang yang dikhawatirkan malah menurunkan performansi fungsi marketing yang bersangkutan??  Atau jangan-jangan nanti malah seperti kursi, yang sudah punya empat kaki saja sudah bisa berdiri tegak. Ditambah tiga kaki lagi tidak begitu banyak pengaruhnya… malah mungkin hanya menambah beban yang kurang perlu yang bisa dibebankan pada fungsi yang lain….

Kucing Jatuh Dari Lantai 26 Apartemen Namun Tidak Apa-Apa!

Kucing memang binatang sakti! Tak salah kalau binatang tersebut sering dibilang mempunyai 9 nyawa. Namun begitu, kesaktian kucing sebenarnya hanya berkenaan dengan sering selamatnya kucing jikalau si kucing jatuh dari sebuah bangunan apartemen (pangsapuri) yang tinggi. Seperti video yang baru saya temukan secara tidak sengaja di atas yang memberitakan seekor kucing bernama “Lucky” yang tetap sehat wal’afiat walaupun ia jatuh dari lantai 26 sebuah apartemen di New York, Amerika Serikat.

Sebenarnya mengapa kucing itu bisa selamat setelah jatuh dari sebuah bangunan apartemen setinggi itu dapat dijelaskan dengan mudah secara fisika. Tidak perlu menjadi seorang fisikawan untuk mengerti fenomena ini. Sebenarnya kucing tidak terlalu sakti juga, tingkat kefatalan kucing yang jatuh dari bangunan apartemen paling tinggi adalah dari lantai 6, 7 atau 8. Namun “aneh”nya tingkat kefatalan tersebut justru jauh berkurang jikalau kucing jatuh dari tingkat yang jauh lebih tinggi dari itu! Sebuah rekor di Amerika Serikat mencatat bahwa seekor kucing jatuh dari lantai 32 namun ia hanya menderita sedikit kerusakan pada giginya! Selebihnya si kucing sehat wal’afiat. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Seperti yang sudah kita ketahui sejak SD, sebuah benda yang  jatuh dari ketinggian pasti akan ditarik oleh gaya gravitasi ke bumi, semakin lama semakin cepat karena ditimbulkan oleh percepatan gravitasi bumi. Namun begitu jikalau kita jatuh dari tempat yang tinggi sekali, ternyata kecepatan jatuh kita tidak terus menerus bertambah. Kenapa begitu? Itu disebabkan adanya gaya gesek udara yang bekerja ke atas yang berlawanan arah dengan gaya gravitasi bumi. Boleh dikatakan bahwa gaya gesek udara ini berfungsi sebagai rem agar kecepatan jatuh kita tidak terus bertambah. Kecepatan maksimal kita jatuh ini yang disebut dengan “kecepatan akhir” atau Bahasa Inggrisnya adalah “terminal velocity“.

Rumus kecepatan akhir adalah sebagai berikut:

V_{t}= \sqrt{\frac{2mg}{\rho AC_{d}}}

Dimana Vt adalah kecepatan akhir, m adalah massa benda yang jatuh, g adalah percepatan gravitasi bumi, ρ adalah kerapatan fluida (dalam kasus ini adalah udara), A adalah luas penampang yang tegak lurus dengan gaya gesek udara (secara kasarnya adalah luas permukaan benda yang langsung menghadap ke bumi) sedangkan Cd adalah koefisien gesek.

Untuk mencapai kecepatan akhir ini, diperlukan ketinggian tertentu. Dalam kasus kucing yang jatuh dari lantai 26 sebuah apartemen ini penjelasannya adalah seperti berikut ini: Ketika jatuh dari lantai 26 kucing akan mengalami akselerasi karena gravitasi bumi. Karena mengalami akselerasi si kucing jadi takut dan “menciut” posisinya yaitu punggungnya ke atas sementara kepalanya ditekuk ke bawah menempel ke leher. Namun setelah mencapai sekitar lantai ke-6 atau ke-7, si kucing telah mencapai kecepatan akhirnya sehingga akselerasi karena gravitasi bumi telah hilang dirasakan oleh si kucing. Karena akselerasi tidak lagi dirasakan, si kucing menjadi lebih rileks dan tidak ketakutan lagi. Posisi badannya tidak lagi “menciut” melainkan mulai merenggangkan badannya. Perenggangan badan oleh si kucing menyebabkan luas penampangnya (dalam rumus di atas disimbolkan oleh “A”) semakin besar sehingga kecepatan akhirnya (Vt) semakin kecil lagi. Karena si kucing dalam keadaan rileks maka badannya menjadi fleksibel dan ketika hendak mendarat si kucing sudah menyiapkan kakinya untuk mendarat. Faktor-faktor tersebut semuanya memperkecil kemungkinan si kucing untuk cedera ketika mendarat di tanah.

Nah, sekarang jelas kenapa tingkat kefatalan jatuhnya kucing lebih besar di lantai 6 atau 7 dibandingkan di lantai 20an atau 30an, karena jikalau jatuhnya dari lantai 6 atau 7 si kucing belum sempat mencapai kecepatan akhirnya atau terminal velocity-nya.

Poor Buffalo, Poor Half-Wits…

Recently we watched on the boob tube (ouch!) and read on the newspaper, street protesters brought a water buffalo as  a part of an angry protest against the govt on the bail-out of the once bankrupt C**tury Bank. The buffalo is likened to the (Indonesian) president. The buffalo is depicted as a lazy, fat and unintelligent creature and they compared the bovine with the prez’s frame and characters. As a zoophile or an animal lover and a big fan of the Animal Planet channel I don’t feel pity for the president, I pity the poor bovine instead. The president can take care of his problems and  a lot of people in his surroundings would also help him taking care of  his problems. But the case is not true for the water buffalo. That poor animal is completely helpless amongst the people who took it to the street.  It looks befuddled to walk on the street in the blazing sun while it used to plow and wade in the muddy rice-field.

As the political outcry was raised amongst the protesters and the unhappy reaction was returned by the president, the conflicting parties do not realise that depicting a water buffalo as lazy and unintelligent is not accurate! Buffalo has never been lazy unless if it is sick and not in a good condition. The water buffaloes have significant contribution to the production of rice nationwide past and present alike! Now how can you say that a water buffalo is a lazy creature? Unintelligent?? It is not true either unless you compare its intelligence with that of human’s! But of course it is not fair to compare our intelligence with that of a buffalo’s. You would be unhappy too if someone told you that you are less intelligent than Albert Einstein! Certainly you wouldn’t expect a water buffalo to work on your voice command. You would not expect it will do math or do rocket science either! It is because it is just a water-buffalo! In fact how many of you can do good math or the like? So, please, don’t call a water buffalo an unintelligent animal. Perhaps for those who would expect a water buffalo to work for you on your voice command, they may be no more intelligent than the water buffalo itself! :mrgreen:

Berdasarkan Kriteria Yang Sempit…

Dulu ketika zaman Orde Baru berkuasa, saya paling sebal kalau ada orang yang ngomong masalah politik praktis terlebih kalau menyangkut politik dalam negeri. Seringkali saya apatis kalau diajak ngomong masalah politik dalam negeri. Ah, ngapain juga ngomongin politik dalam negeri, toh diomongin bagaimanapun hasilnya statis dan “mudah terbaca”. Lantas ketika reformasi bergulir tahun 1998, antusiasme saya dalam membicarakan masalah politik praktis mulai mencuat. Malah, pada waktu itu boleh dikata “tiada hari tanpa membicarakan politik di negeri ini”. Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga menyaksikan bagaimana tetap banyak sekali politisi-politisi busuk yang tetap berkeleliaran di panggung politik negeri ini yang juga rakus dengan uang di zaman reformasi ini. Menyaksikan hal tersebut, animo saya dalam membicarakan masalah politik praktis kembali surut. Namun, entah kenapa, akhir-akhir ini animo saya membicarakan politik praktis kembali mencuat. Apakah ini ada hubungannya dengan kasus Bank C**tury yang akhir-akhir ini menghangat?? Walahu’alam juga…. Yang jelas membicarakan masalah politik ternyata asik juga….. :mrgreen:

Beberapa minggu yang lalu saya sempat mengobrol dengan saudara saya dari luar kota. Saudara jauh sih, yang kebetulan nginep di rumah saya selama dua hari. Dari sekian banyak obrolan tentu saja omongan masalah politik juga mencuat, apalagi jikalau kebetulan lagi nonton berita televisi bersama. Dan tentu saja masalah atau kasus bank C**tury ini juga tak luput dari pembicaraan. Namun kita sepertinya memang berbeda pandangan. Jikalau saya, berusaha untuk melihat segala sesuatu dari sudut senetral mungkin (walaupun seringkali juga gagal dalam melihat dari sudut netral) sedangkan saudara saya jelas-jelasan berfihak pada pemerintah yang berkuasa saat ini. Ya, tentu saja sah-sah saja dong! Setiap orang berhak punya pandangan politiknya sendiri-sendiri. Dalam pilpres yang lalupun, saudara saya ini juga memilih capres yang kini sudah menjadi presiden (untuk kedua kalinya) itu. Namun begitu, yang membuat saya merasa kurang sreg adalah kriteria atau alasan kenapa ia memilih capres tersebut. Perlu diketahui bahwa saudara (jauh) saya itu adalah anak dari seorang purnawirawan TNI-AD. Nah, sekarang jelas kan….. karena ayahnya adalah seorang purnawirawan TNI-AD maka ia memilih capres yang juga seorang purnawirawan TNI-AD.

Mendengar itu tentu saja saya sangat kecewa. Bukan karena kecewa pilihannya tetapi kecewa pada alasan kenapa ia memilihnya. Padahal ia sendiri sering mengkritik para pemilih capres lainnya yang memilih capres putri sang proklamator hanya karena ia seorang putri proklamator. Menurut saya, tentu adalah sama konyolnya naifnya seorang pemilih yang memilih seorang capres hanya karena ia seorang putra/putri seorang proklamator dengan pemilih yang memilih seorang capres hanya karena bapaknya dan sang capres dulunya satu kantor! Sama-sama “kurang obyektif”!! Tentu saja sebaik-baiknya pilihan capres adalah berdasarkan kriteria yang paling berbobot yaitu kecakapan dan prestasi!! Sementara kriteria berdasarkan siapa keturunannya, kesamaan suku, kesamaan pekerjaan orang tua atau kesamaan pekerjaan dengan kita sendiri, kesamaan almamater, bahkan kriteria berdasarkan karena ia adalah teman dekat kita (misalnya) sebisa mungkin harus dihindari! Jadi…. nggak boleh dong memilih capres karena alasan orang tua sama-sama purnawirawan TNI-AD?? Siapa bilang?? Dalam negara demokrasi tentu hal seperti itu sah-sah saja dong! Namun…. apa salahnya kan kita memilih berdasarkan kriteria yang lebih cerdas bukan hanya sekedar memilih berdasarkan kriteria yang sempit seperti itu?? 🙂

Hantu???

Gara-gara melihat talk show pagi hari di TV-One mengenai penentangan film “Hantu Puncak Datang Bulan” oleh FPI, saya jadi ingin memostingkan postingan ini. Postingan ini, hanya “pelampiasan” keheranan saya pada dua buah peristiwa yang terjadi seabad lalu yang mungkin paling “aneh” yang pernah saya temui, (yang sampai hari ini belum bisa saya jawab secara logika). Ya, iyalah, peristiwanya seabad yang lalu yaitu di tahun 1990an yang masih berada di abad ke-20, ya kan?? Jadi dua buah peristiwa tersebut sudah seabad yang lalu! 😛 Bagi mereka yang doyan film horor, mungkin siap-siap kecewa, karena di dalam postingan ini tidak ada kuntilanak (kata orang Malaysia: pontianak! Bener nggak??), suster ngesot, dokter ngesot, satpam ngesot, tukang parkir ngesot, dosen ngesot, blogger ngesot atau ngesot-ngesot yang dilakukan profesi lainnya! 😛 Jadi maaf kalau kurang seram (bagi penggemar film horor), tetapi memang begitulah adanya.

Oke, kejadian pertama terjadi sekitar tahun 1997 atau 1998. Waktu itu saya masih di Jakarta. Suatu pagi saya menelpon ponsel teman saya. Teman saya itu tinggal di apartemen sewa (bahasa kerennya) atau kos-kosan (bahasa merakyatnya). Teman saya itu, sebut aja namanya Arif dan tentu saja laki-laki. Namun ketika saya meneleponnya pagi itu ternyata yang menerima adalah seorang wanita (minimal kedengarannya seperti suara seorang wanita di telepon). Karena yang menerima seorang wanita tentu saja saya sedikit heran, karena setahu saya ia waktu itu belum menikah.
“Halo…” kata suara di sana, suara seorang wanita.
“Halo… Eh….. ini hp-nya Arif kan?” tanyaku heran.
“Iya mas…. hp-nya mas Arif, ketinggalan. Mas Arifnya udah berangkat kerja tuh…” jawabnya.
“Ooo… ya udah… bilang aja ada telepon dari temannya, nomer hp dan nama saya tersimpan di situ kan?” balasku.
“Oo… iya…. nanti saya sampaikan” Katanya.

Kira-kira begitulah percakapannya. Aku hanya berfikir mungkin itu adiknya atau saudaranya atau mungkin ceweknya kali. Yang jelas (sayangnya) aku malas bertanya “siapa ini ya??” karena bukan urusannya. Sore harinya…. hp-ku berdering, dan ternyata dari si Arif.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam….” jawabku.
“Sorry, yar, tadi hp gue ketinggalan, habis buru2, baru lihat ada missed call dari lu….” katanya.
“Missed call? Lha… tadi pagi yang nerima cewek lu kok! Gilee lu ya…. nakal ya…. udah melihara cewek di kamar!” kataku setengah menggoda.
“Eh… sembarangan lu…. kurang asem…. di kamar gue tadi pagi nggak ada siapa-siapa lagi” protesnya.
“Ah… masa?? Sama temen sendiri kok malu2 ngakuin sih!” kataku masih berusaha menggoda.
“Eh… beneran…. ya udah deh kalo lu nggak percaya… egepe!” katanya dia cuwek.
Begitulah kira2 percakapannya. Pembicaraan lantas beralih ke masalah inti.

Tapi, cerita belum selesai. Lusanya, hari Sabtu, saya main ke kos-kosan teman saya tersebut. Di situ teman saya memperlihatkan log di hp-nya. Ternyata ada panggilan dari nomor hp saya di hari dan jam di mana saya melakukan panggilan. Tetapi panggilan saya memang masuk dalam folder “MISSED CALLS” dan bukan pada folder “RECEIVED CALLS”. Jadi menurut hp teman saya tersebut, memang panggilan saya tersebut tidak pernah ada yang ngangkat!

Kejadian kedua. Lebih kuno lagi. Tahun 1991. Ketika masa-masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) di UNPAD. Ketika masa-masa KKN, tiap beberapa hari saya menelepon teman saya di Bandung untuk menanyakan perkembangan nilai yang keluar (maklumlah KKN waktu itu dilaksanakan di kala liburan, selama dua bulan, sesaat setelah ujian akhir semester). Waktu itu, maklumlah belum ada henpon, jadi untuk mengetahui kabar di kota harus lewat wartel yang jaraknya lumayan jauh dari desa tempat saya KKN. Waktu itu, saya mendapatkan info kalau ada nilai saya yang keluar “T”, kayaknya ada satu tugas yang belum saya kumpulkan. Untuk itu bagi yang mendapatkan ‘T’ harap bertemu dosen yang bersangkutan setelah maghrib minggu depan di kampus FE Jalan Dipati Ukur. Kebetulan dosen yang bersangkutan juga mengajar program ekstension malam hari.

Nah, di hari yang dijanjikan tersebut, saya berangkat ke Bandung pukul 1.30 siang. Maklumlah dari desa (nama desanya lupa lagi tetapi letaknya diperbatasan Kab. Cianjur dan Kab. Bogor). Maklumlah perjalanan dari desa menuju kota Cianjurnya sendiri, yang jalannya aduhai itu, memakan waktu sekitar 2 jam sendiri. Itupun dari desanya kalau mau cepat menuju tempat yang ada angkotnya harus menggunakan ojek, lalu dengan angkot menuju ke kota Cianjur, dari Cianjur ke Bandung naik bis. Mana hari itu hujan pula. Tapi hujan panas tak dihiraukan. Biarin deh pokoknya sebelum jam 7 malam, harus udah ada di kampus di Jl. Dipati Ukur.

Untung saja saya bisa sampai di Dipati Ukur sekitar setengah 7 malam. Sebelum menghadap dosen, rencananya saya mau ganti baju dulu (baju salinan untung dibawa dari tempat KKN), soalnya itu baju udah dua hari nggak ganti, maklum waktu KKN malas mandi dan malas ganti baju, soalnya mandinya di kali dan malas cuci baju, walhasil kalau baju nggak kotor-kotor sekali, biasanya dipakai sampai dua atau tiga hari tanpa diganti! :mrgreen: Karena mau menghadap dosen, tentu saja harus ganti baju dulu dong, karena selain harus mengkamuflase bau badan dengan eau de toilette pour homme, saya juga cuma pakai polo shirt dan celana pendek. Lalu saya masuk ke dalam toilet pria yang ada di lantai bawah FE. Karena waktu itu sudah menjelang isya, keadaan agak sepi. Di toilet pria tersebut ada beberapa urinoir, sebuah wastafel untuk cuci tangan dan sebuah bilik tempat buang air besar. Nah, di toilet pria tersebut pintunya bunyinya selalu berderit kalau ada yang membuka pintu, sepelan apapun pintu itu dibuka. Mungkin harus diminyakin kali. Nah, saya masuk ke bilik tempat buang air besar tersebut untuk ganti baju dan menyemperot badan dengan eau de toilette. Beberapa saat kemudian, saya mendengar dari dalam bilik, pintu toilet pria berderit berarti ada yang masuk. Dan tak lama kemudian saya mendengar keran di wastafel dibuka dan terdengar suara air mengalir. Sepertinya ia sedang cuci tangan. Lantas sesudah itu, sepi! Namun kok, suara pintu toilet tidak berderit lagi berarti dia belum keluar. Ah, mungkin satpam, dia mungkin mau memakai bilik untuk buang air besar ini. Lantas cepat-cepat saya mengganti baju dan celana. Ketika aku mau keluar dari bilik tempat buang air besar itu, tadinya aku mengharapkan bertemu seseorang yang tengah menunggu aku keluar, tidak tahunya: kosong! Alias nggak ada orang!!! Lah, ke mana itu orang??? Padahal satu-satunya akses masuk dan keluar hanya lewat pintu yang berderit itu!!

Dari dua kejadian di atas tersebut, saya tidak menyimpulkan bahwa  itu adalah hantu. Sebagai orang yang terbiasa berfikir logis tentu saja saya berpendapat bahwa pasti ada penjelasan yang logis di balik kejadian tersebut hanya saja sampai hari ini saya belum bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dalam kejadian pertama, saya hanya berkesimpulan mungkin saja teman saya berbohong lantas hp teman saya itu lagi error sehingga call saya dimasukkan ke dalam “missed calls”. Namun begitu tetap saja kok kesimpulannya agak maksa begitu. Sedangkan kejadian kedua, mungkin saja ada orang mau masuk toilet pria tapi tidak jadi. Sedangkan suara air dari  keran yang mengalir tersebut kebetulan airnya lagi mengalir dan keran tidak ditutup dengan benar. Maklumlah keran di wastafel air tersebut terkadang besar dan terkadang kecil airnya, bahkan lebih sering airnya kecil mengalirnya. Pada saat itu kerannya tidak ditutup dengan benar sehingga pada waktu airnya kecil, tidak ada air yang mengalir keluar sementara pas alirannya besar untuk beberapa saat, air tersebut mengalir keluar. Namun kok kesimpulannya agak maksa juga ya?? 😦

Innumerate Hands On These Distance Signs?

Distance Signs Pointing to Timbuktu and New York

Yesterday morning, on jogging around the neighbourhood, I came across this mock distance (and direction) signs showing the mileage kilometrage needed to reach Timbuktu and New York. Do not get fooled! It is not a signpost, it is situated on the 24/7 minimart called A***mart on Jalan Supratman near the Islamic Centre in Bandung. Since it is not a signpost and it appears on an offbeat place like this, it is always interesting for me to check whether these distance signs showing the right direction and the right kilometrage. It doesn’t matter what are they intended for, but to me if they show the kilometrage correctly it will add to the functionality of the signs.

Okay, before we go on, for those who can’t make head nor tail of their geography lessons, don’t be sorry! You are not the first person nor the last one who can’t. I’m gonna let you know that this Timbuktu is a town in Mali, Africa. (Oh, please, don’t give me that nitwitted look, I don’t have to show you where on the earth is New York, do I? :mrgreen: ) I have no idea how this Malian town makes a name for itself, at least people know it by name, considering that this town is not even the capital city of the country. But if you are interested in the lowdown on the Malian town you can consult Wiki for sure. On the other hand, I am only interested in the validity of the information contained in the signs. If you have a world atlas software it is a snap to find out the distance between two points and voila the figures would be in your hand instantly. So that is the way I took to tell whether those figures on the signs are worthy of being distance-sign-reliable or not. And the result is……… disappointing! 😦 If you make a beeline for Timbuktu from Bandung, according to my software, it is only as far as 9,405 kilometres (though it is not necessarily the exact figures). It is not 49,990 kilometres as shown in the sign. For the New York sign, it is also disappointing because New York is only 13,850 kilometres near from the Parijs van Java (the rather disapproved moniker of Bandung since I know Bandung has more and thus it is more enchanting than Paris! Hahaha… just kidding!). Meanwhile the kilometrage shown in the sign is 38,620! How can they come up with those ‘silly’ figures?? And for the directions pointed by the arrows, on the Timbuktu sign it is (partly) correct, it is shown to the west. But it is not the case for the New York sign. The arrow should point to the east (though I know New York is not precisely eastwards from Bandung) not to the north like the one displayed by the sign!

However….. I then realised that maybe these signs are just faux ones. But what do they do there? Are they intended to attract more customers? But who’s gonna be attracted by the signs?? Ah… well…. to be honest, I am! But I am attracted to come to the place not as a customer but as an irritating Mr. Know-All who causes a downright pain in the arse who unnecessarily corrects trivial darn things like this one! :mrgreen:

Allez Henin!

Justine Henin

The fortnight’s fun of Australian Open is over. No ‘new’ champions of Australian Open in the singles emerged. Top seeds, the American Serena Williams and the Swiss Roger Federer took home the most coveted titles. In the men singles’ final, Federer dominated his opponent the Scotsman Andy Murray, and the Swiss did sail through the final match  with the trophy. But in the ladies singles’ final, the story is a little bit different.

Justine Henin, the Belgian, who in 2008 decided to retire from the tennis court and eventually decided to return to the women’s tennis tour in 2009, did not let Serena sweep through the match. Every point gained by each player was grabbed hammer and tongs. Henin, despite her petite frame in comparison with her opponent who has an amazonian chassis, surprisingly has almost all of her strokes and shots packed with energy. I even wonder how come a relatively small lady like Henin got her enormous energy like that? Her motion is also agile like a gazelle to cover the court and to return every knockdown shot of her brawny American opponent. Unfortunately Henin’s errors were still produced fast and furious that gave Serena cheap points although I know that Serena also played awesome and she also made unfavourable errors. Though I rooted for the Belgian, I have to admit, it is the better who must have the trophy. And the match eventually belonged to the American.

However, I know that it is not easy for Henin to return to the court with her maximum capacity after quitting the tour for 18 months. It appeared that she would need to crank herself up before she reaches the peak again like she did before she quit. But her appearance and her performance, although she succumbed to Serena, in the Australian Open final delivered a wake-up call to the top players like the Williams sisters and the East European league that in the foreseeable future she would become a full-blown competitor again to those top players. “Allez” Justine, like the French word she frequently shouts after winning a stiff point!