Berdasarkan Kriteria Yang Sempit…

Dulu ketika zaman Orde Baru berkuasa, saya paling sebal kalau ada orang yang ngomong masalah politik praktis terlebih kalau menyangkut politik dalam negeri. Seringkali saya apatis kalau diajak ngomong masalah politik dalam negeri. Ah, ngapain juga ngomongin politik dalam negeri, toh diomongin bagaimanapun hasilnya statis dan “mudah terbaca”. Lantas ketika reformasi bergulir tahun 1998, antusiasme saya dalam membicarakan masalah politik praktis mulai mencuat. Malah, pada waktu itu boleh dikata “tiada hari tanpa membicarakan politik di negeri ini”. Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga menyaksikan bagaimana tetap banyak sekali politisi-politisi busuk yang tetap berkeleliaran di panggung politik negeri ini yang juga rakus dengan uang di zaman reformasi ini. Menyaksikan hal tersebut, animo saya dalam membicarakan masalah politik praktis kembali surut. Namun, entah kenapa, akhir-akhir ini animo saya membicarakan politik praktis kembali mencuat. Apakah ini ada hubungannya dengan kasus Bank C**tury yang akhir-akhir ini menghangat?? Walahu’alam juga…. Yang jelas membicarakan masalah politik ternyata asik juga…..:mrgreen:

Beberapa minggu yang lalu saya sempat mengobrol dengan saudara saya dari luar kota. Saudara jauh sih, yang kebetulan nginep di rumah saya selama dua hari. Dari sekian banyak obrolan tentu saja omongan masalah politik juga mencuat, apalagi jikalau kebetulan lagi nonton berita televisi bersama. Dan tentu saja masalah atau kasus bank C**tury ini juga tak luput dari pembicaraan. Namun kita sepertinya memang berbeda pandangan. Jikalau saya, berusaha untuk melihat segala sesuatu dari sudut senetral mungkin (walaupun seringkali juga gagal dalam melihat dari sudut netral) sedangkan saudara saya jelas-jelasan berfihak pada pemerintah yang berkuasa saat ini. Ya, tentu saja sah-sah saja dong! Setiap orang berhak punya pandangan politiknya sendiri-sendiri. Dalam pilpres yang lalupun, saudara saya ini juga memilih capres yang kini sudah menjadi presiden (untuk kedua kalinya) itu. Namun begitu, yang membuat saya merasa kurang sreg adalah kriteria atau alasan kenapa ia memilih capres tersebut. Perlu diketahui bahwa saudara (jauh) saya itu adalah anak dari seorang purnawirawan TNI-AD. Nah, sekarang jelas kan….. karena ayahnya adalah seorang purnawirawan TNI-AD maka ia memilih capres yang juga seorang purnawirawan TNI-AD.

Mendengar itu tentu saja saya sangat kecewa. Bukan karena kecewa pilihannya tetapi kecewa pada alasan kenapa ia memilihnya. Padahal ia sendiri sering mengkritik para pemilih capres lainnya yang memilih capres putri sang proklamator hanya karena ia seorang putri proklamator. Menurut saya, tentu adalah sama konyolnya naifnya seorang pemilih yang memilih seorang capres hanya karena ia seorang putra/putri seorang proklamator dengan pemilih yang memilih seorang capres hanya karena bapaknya dan sang capres dulunya satu kantor! Sama-sama “kurang obyektif”!! Tentu saja sebaik-baiknya pilihan capres adalah berdasarkan kriteria yang paling berbobot yaitu kecakapan dan prestasi!! Sementara kriteria berdasarkan siapa keturunannya, kesamaan suku, kesamaan pekerjaan orang tua atau kesamaan pekerjaan dengan kita sendiri, kesamaan almamater, bahkan kriteria berdasarkan karena ia adalah teman dekat kita (misalnya) sebisa mungkin harus dihindari! Jadi…. nggak boleh dong memilih capres karena alasan orang tua sama-sama purnawirawan TNI-AD?? Siapa bilang?? Dalam negara demokrasi tentu hal seperti itu sah-sah saja dong! Namun…. apa salahnya kan kita memilih berdasarkan kriteria yang lebih cerdas bukan hanya sekedar memilih berdasarkan kriteria yang sempit seperti itu??πŸ™‚

12 responses to “Berdasarkan Kriteria Yang Sempit…

  1. iyah, kadang ilfil juga dengar alasan2 orang memilih pemimpinnya yg tidak berbobot tersebut… tapi mo gimana lagi pemikiran mereka masih sebatas itu aja…πŸ˜€
    btw kemaren milih siapa pak?:mrgreen:

  2. ha. kita ketemu lg nih mas dah lama maklum deh konsentrasi lg terpecah nih. bgm ya soalnya susah sih milih capresnya semuanya hampir sama jdnya muncul kriteria2 dangkal spt itu.

  3. Memilih adalah hak masing-masing orang, lengkap dengan kriterianya. Pandangan politik dalam satu keluarga (satu rumah) bisa berbeda, apalagi jika hanya satu teman.

    Saya tak menghakimi, namun jika pemahaman cuma sepotong-sepotong tanpa melihat dokumennya, dan aturan hukumnya saat keputusan ditentukan (dari sisi hukum harus jelas saat memutuskan menggunakan kebijakan yang mana)….akan sulit memahami yang sebenarnya. Saya sendiri, karena tak pegang dokumen ya tak berani komentar apa-apa, karena makin diperhatikan terkadang penyataan saling berseliweran, namun belum ada yang sampai tertata, dibuat sejak awal uu apa, peraturan apa yang digunakan…dan bagaimana cara eksekusinya.

  4. Bagaimana dengan undang undang IT yang baru pak ?

  5. kalau memilih menurut saya sudah menjadi hak milik setiap orang pak, tapi khan hak itu juga diikuti dengan kewajiban, semestinya ya milih orang yang kompeten di bidangnya. ini khan bukan orde baru yang bersifat otoriter?

    toh juga satu suara akan ikut menentukan nasib bangsa ini. kalau yang milih sudah tidak melihat kualitas ya jadinya kita akan dipimpin oleh yang tidak kualitas juga toh. nah jadinya bangsa kita seperti ini dech, kekacauan dimana-mana, keuangan labil dan konflik sosial sepele bisa jadi tawuran yang besar cuma gara2 kebijakan pemimpin yang dikeluarkan kurang bisa diterima oleh masyarakat

  6. @aRuL

    Sebenarnya rul, ini murni mengenai bagaimana cara memilih sang capres sama sekali bukan siapa capres yang dipilih. Andaikan kita memilih SBY janganlah memilih karena persamaan suku Jawa misalnya, atau kalau memilih JK jangan hanya karena sama2 orang Sulawesi misalnya. Jadi, memilih harus sebisa mungkin dengan kriteria yang “cerdas”.

    Saya sendiri waktu pemilu, memilih JK. Namun terus terang, kriteria sayapun memilih JK kurang cerdas karena saya memilih JK hanya karena saya selalu ingin keseimbangan, karena dari poll2 SBY selalu menang, maka saya memilih yang “kurang populer” agar pemilu jadi berimbang. Sebenarnya kriteria itu kurang bijaksana juga, tapi maklumlah memang benar apa seperti komentar mas Ag Bint di bawah, milih capresnya memang susah sih, semuanya gagal menonjolkan keistimewaannya secara signifikan….πŸ™‚

    @Ag bint

    Huehehe… ho’oh bin…. saya juga akhirnya memilih dengan kriteria yang “kurang bijaksana” juga tuh akhirnya…. abis gimana ya….. kayaknya memang sudah fitrah manusia, hal2 seperti itu pasti ada di manapun. Saya yakin juga…. di AS banyak juga orang kulit hitam memilih Obama karena sama2 berkulit hitam. Namun begitu mudah2an lain kali kita bisa memilih capres dengan kriteria yang lebih “cerdas” lagi…. dan mudah2an para capres mendatang dapat dengan lebih cerdas menunjukkan keunggulannya agar dapat dengan mudah dinilai oleh para pemilihnya…

    @edratna

    Kalau komentar ibu mengenai kasus bank Cen**ry ya saya juga bingung. Memang untuk sampai pada kesimpulan yang adil, kita harus mengetahui dokumen2 bersangkutan dan juga aliran2 dananya dan tidak lupa harus memahami hukum secara keseluruhan. Namun begitu hal2 seperti faktor “psikologis” dalam penyelamatan bank tersebut sepertinya agak dipaksakan (tanpa harus mengetahui tetek bengek dokumen2 dsb….), walaupun tidak melanggar hukum, tapi rasa2nya kok melanggar azas keadilan sebab yang diuntungkan hanya segelintir orang saja. Dan faktor2 ‘psikologis’ itu batasannya juga tidak pernah jelas dan cenderung ‘subyektif’…

    @Raffaell

    Oooo… UU IT ada yang baru toh… wah saya malah ketinggalan nih… belon tahu… hehehe….πŸ˜€

    @liudin

    Betul… pemimpin dan rakyat masing2 punya kewajiban. Pemimpin wajib menjalankan amanah yang dititipkan oleh rakyat, namun rakyat sendiri juga harus cerdas, minimal dalam kriteria memilih calon pemimpin. Mudah2an dari rakyat yang cerdas akan lahir pula pemimpin2 yang cerdas kelak…πŸ™‚

  7. masih mending memilih dengan “kurang bijaksana” karena sama2 suku A atau karena anaknya si B. yang lebih parah adalah memilih karena dibayar. gimana tuh? :mrgreen

  8. seringkali obyektivitas kita tertantang saat menghadapi persoalan yang memiliki kedekatan emosi dengan seseorang, nepotisme, ataupun hubungan kolegalitas. benar, mas. sejatinya kita lebih bisa menyikapi sesuatu dengan pandangan yang luas dan tidak terkungkung oleh kepentingan pribadi atau golongan. tapi itu kan sulit sekali, mengingat manusia adalah makhluk sosial dengan berbagai ego dan kepentingan.

    tapi berusaha untuk tidak terlalu subyektif kan tetap harus dilakukan ya, mas.

  9. yah..kadang manusia dalam memilih lebih sering pake perasaaan pak..dan perasaan itu terbatas dari pengetahuan pemilik perasaan itu…

  10. @Nurita Putranti

    Kalau itu sih gampang aja mbak. Ambil duitnya lantas nanti kalau memilih, kita tetap memilih dengan cerdas! Biar tahu rasa itu politisi yang nyogok, syukur2 dia nanti2nya kapok! Huehehehe……

    @marshmallow

    Betul mbak….. saya akui juga saya sendiri terkadang masih ada pertimbangan2 yang “tidak obyektif” dalam memilih….. tetapi mudah2an paling sedikit kita berusaha untuk memberikan ruang yang lebih lebar pada pertimbangan2 kita yang lebih cerdas. Dan mudah2an itulah yang membedakan kita dengan orang2 yang kurang pendidikannya…. kalau sama, ya apa bedanya kitanya dengan mereka?? Huehehe…. benul nggak?:mrgreen:

    @boyin

    Terkadang memang menimbang dengan perasaan juga dapat menghasilkan sesuatu yang bijaksana, karena itulah perasaan diciptakan. Namun sayang sekali, perasaan tidak bisa 100% sempurna. Untuk itu nalar dan fikiran kita terkadang harus bahu-membahu dengan perasaan kita agar menghasilkan pilihan yang optimal…πŸ™‚

  11. …memilih adalah proses pengambilan keputusan…disitu ada pertimbangan aspek intrinsik dari orang yg akan dipilih…ideal utamanya dari sisi kekuatan kerpibadian termasuk kepemimpinan dan tanggung jawab…. tentu saja juga sisi visi dan kecerdasan serta ketrampilan mengelola suatu organisasi besar ini…cuma masalahnya akses informasi tentang kandidat sering tidaklah lengkap….makanya rakyat sering terbuai oleh tampilan postur yg syuur dan janji-janjinya saja ketika kampanye…..dan ada kecenderungan semakin tinggi strata sosial ekonomi pemilih semakin banyak pula kriteria aspek-aspek yg dipertimbangkan….

    • Betul prof. Memang sulit jika kita ingin memilih pemimpin dengan kriteria-kriteria seperti yang prof katakan di atas karena pengetahuan kita tentang para calon2 pemimpin tersebut terbatas. Belum lagi mencari info tentang calon2 pemimpin tersebut biasanya kurang prioritas dalam kehidupan kita sehari2. Jadinya unsur2 ‘subyektivitas’ sering menjadi pertimbangan yang mudah dan cepat.

      Namun begitu yang paling baik kita lakukan adalah memahami perbedaan pilihan. Sebisa mungkin kita tidak perlu mencela kriteria seseorang dalam memilih calon pemimpin….. Karena dalam demokrasi hal tersebut sah2 saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s