Daily Archives: Jumat, 5 Maret 2010

1-1

The terms of majority and plurality arise more often in connection with political elections and polls, or with demographic studies. The majority of a group is any subgroup that constitute more than 50% (or half) of the group. In a vote or study in which people divide into two unequal groups, the larger group is the majority. However, if a population is divided into more than two groups, none of which accounts for more than half of the total (meaning that none of the groups constitutes a majority), the largest group is called a plurality. A plurality can also refer to the amount by which the largest group exceeds the next largest group in size.

Brian Burrell: Merriam-Webster’s Pocket Guide to Business & Everyday Math.

Seperti yang dikatakan Brian Burrell di atas, di dalam perpolitikan di Amerika Serikat, jikalau ada pemilihan dan salah satu fihak memenangkan pemilihan tersebut dan fihak tersebut memenangkan lebih dari 50% suara, maka fihak yang menang tersebut dikatakan sebagai menang secara mayoritas (majority), namun andaikan fihak yang menang hanya menguasai kurang dari 50% suara maka fihak yang menang tersebut dikatakan sebagai menang secara pluralitas (plurality).

Nah, tiga hari yang lalu, selama dua hari berturut-turut saya (dan banyak juga orang lain di sekitar saya) dengan antusias menunggu hasil-hasil sidang paripurna DPR mengenai kasus Bank Century ini. Hari pertama, banyak yang kecewa (termasuk saya) karena sidang hanya diisi dengan kericuhan, dan nampaknya beberapa anggota dewan, dari raut wajahnya, justru malah menikmati keadaan ricuh tersebut! Sidang yang tadinya mau dipersingkat sehari, karena kericuhan, akhirnya toh berlangsung selama dua hari juga, dan hari kedua malah justru sampai malam pula! Sidang nampaknya hanya dipenuhi oleh lobi-lobi yang kurang efektif dan juga banyak interupsi-interupsi yang kurang penting sekali dan tidak perlu.

Dalam artikel ini saya tidak mau ikut-ikutan memvonis apakah sang wakil presiden dan juga menteri keuangan bersalah atau tidak  baik secara hukum maupun non-hukum karena saya tidak mempunyai kapasitas yang cukup untuk itu namun saya ingin menyoroti dari sudut yang lain yaitu bahwasannya dalam politik praktis peribahasa (yang diplesetkan) “air tuba dibalas dengan air tuba” sering berlaku.

Kita masih ingat pasca pemilu lalu dan menjelang pilpres lalu di mana partai yang memenangkan pemilu lalu bersikap “arogan”. Arogan menurut saya bukan hanya dengan kata-kata yang dilontarkan namun juga termasuk keputusan yang dibuat. Jadi walaupun kata-kata yang dikeluarkan santun, namun jikalau keputusan yang dibuat terlihat arogan maka bagi saya pribadi (entah bagi yang lain) hal tersebut tetaplah arogan. Kita masih ingat betul bagaimana partai yang memenangkan pemilu tersebut secara “arogan” dua kali mengecewakan partai-partai (calon) koalisinya. Pertama, ketika partai pemenang pemilu (PD) tersebut menolak meneruskan duet presiden dengan wapresnya yang sudah berjalan sebelumnya (dari PG). Kedua, ketika akhirnya capres dari partai pemenang pemilu memilih cawapresnya dari kalangan profesional non-partai yang tentu saja mengecewakan PKS yang waktu itu sudah berharap dapat mengisi kursi cawapres. Tentu saja, dengan alasan yang terlalu umum, dengan pertimbangan politik dan pihak yang menang berhak menentukan pilihannya, bla…bla…bla… dst. Namun tentu saja alasan-alasan yang terlalu umum tersebut sah-sah saja dipakai!

Menurut saya, jikalau kita ingin membentuk koalisi yang solid, mulailah dengan “membagi kemenangan” kepada mitra koalisinya. Apalagi jikalau kemenangan tersebut hanya berupa kemenangan pluralitas dan bukan kemenangan mayoritas. Logikanya, semakin kecil margin kemenangan kita, semakin banyak kita harus “membagikan kemenangan” tersebut kepada mitra koalisi kita. Karena kita sama-sama membutuhkan satu sama lain agar menjadi bagian yang mayoritas di parlemen. Lain misalnya jikalau kita memenangkan pemilihan secara mayoritas (atau paling sedikit mendekati kemenangan mayoritas), maka “bolehlah” kita bersikap sedikit “arogan”. Jadi, dalam menentukan langkah-langkah politik pandai-pandailah membaca tabel statistik.

Ingat pepatah kita: ” nasi sudah menjadi bubur”. Kata orang Inggris: “We reap what we sow”, kita petik apa yang kita tanam. Partai pemenang pemilu secara tidak sadar telah menanamkan benih-benih keretakan pada koalisi pada awalnya. Hasilnya? Ya… seperti sidang paripurna DPR dua hari yang lalu. Sah-sah juga dong, dengan pertimbangan yang juga terlalu umum dan berbau politis, mitra-mitra koalisi tersebut mengecewakan fraksi partai pemenang pemilu. Skor: 1-1!

Ya sudah, yang berlalu biarlah berlalu. Kata orang bijak, kini tataplah masa depan. Mas Anas Urbaningrum dari PD kemarin mengatakan pada wawancara di salah satu stasiun televisi bahwa PD akan mengevaluasi koalisi. Baguslah itu! Namun tentu sebaiknya juga PD jangan hanya mengevaluasi mitra-mitra koalisinya tetapi evaluasi jugalah dirinya sendiri. Karena menurut insting saya, jikalau ada yang sampai mitra koalisi mengundurkan diri maka percayalah, akan menjadi lebih sulit bagi kedua belah fihak, baik bagi mitra yang meninggalkan koalisi dan juga bagi mitra yang ditinggalkannya!