Jika Diskon 50% + 50% Tidak Berarti Gratis…

Diskon dual produk dasi di M*tahari Department StoreKira-kira seminggu yang lalu (tanggal 1 Mei) saya sekeluarga berkesempatan untuk mengunjungi BIP di Jalan Merdeka untuk berbelanja sedikit barang-barang keperluan sehari2 dan juga untuk melihat aksi demo memperingati tanggal 1 Mei sebagai hari pekerja internasional. Kami juga mengunjungi M*tahari Department Store yang berada di plaza tersebut karena kebetulan sayapun ingin membeli dasi yang berwarna putih. Maklum, saya adalah orang yang nggak suka memakai kemeja putih. Kemeja saya kebanyakan berwarna-warni, dan beberapa di antaranya berwarna gelap (bahkan hitam). Untuk itu di department store tersebut saya membeli beberapa buah dasi yang berwarna terang agar terlihat kontras dengan kemeja warna gelap saya.

Ketika saya sampai pada rak display dasi (gambar sebelah) kebetulan sekali ada program dual discount yaitu 50% + 20%.  Dual discount tidak sama dengan double discount loh… Kalau double discount kedua komponen diskon haruslah sama (identik), contoh: 20% + 20% atau 30% + 30% dst. Sedangkan dual discount, kedua komponen tidak perlu sama, contohnya adalah seperti gambar disebelah: 50% + 20%. Jadi setiap double discount adalah dual discount namun dual discount belum tentu double discount.

Tetapi nanti dulu nih, baik yang double discount maupun yang dual discount sebenarnya perhitungannya tidak sama dengan perhitungan aritmatika. Jikalau menurut aritmatika diskon dual 50% + 20% = 70%, maka tarif efektif gabungan kedua komponen diskon tersebut ternyata kurang dari 70%! Untuk membuktikannya mari kita hitung. Jikalau misalnya kita membeli celana seharga Rp. 100.000,- jikalau mendapat diskon 70% kita hanya perlu membayar Rp. 30.000,- sedangkan kalau dengan tarif dual discount seperti di atas, mari kita hitung berapa yang musti kita bayar:

Harga Awal: Rp. 100.000,-
Potongan ke-1: 50% ( 50% x Rp. 100.000,-) Rp.  50.000,-
Harga Tersisa Setelah Diskon Awal: Rp.  50.000,-
Potongan Ke-2: 20% ( 20% x Rp. 50.000,- ) Rp.  10.000,-
Harga Tersisa Setelah Diskon Dual: Rp.  40.000,-

Jadi jelas terlihat, bahwa harga yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 40.000,- atau kita hanya mendapatkan diskon 60%! Hal itu disebabkan karena secara aritmatika, langsung mendiskon 70% tidak sama dengan mendiskon satu-satu 50% dan 20% dari sisanya. Begitu juga jikalau ada dual discount 40% + 30%, diskon gabungan efektifnya tidak akan sama dengan diskon tunggal 70% dan juga bahkan tidak akan sama dengan diskon dual 50% + 20%! Pada diskon dual 40% + 30%, diskon gabungan efektifnya hanya sebesar 58%!

Sebenarnya dari hitungan di atas dapat dengan cukup mudah diketahui “rumus” untuk mencari diskon gabungan efektif untuk setiap diskon dual (tidak perlu saya paparkan di sini selain itu saya juga sebenarnya sedang agak malas mengetik :mrgreen: ) yaitu jika terdapat diskon dual X% + Y% maka “rumus” diskon gabungan efektifnya adalah: 1 – (1-X%) (1-Y%). Anda juga dapat dengan mudah mengganti X dan Y dengan sembarang angka diskon tidak perlu saya contohkan lagi di sini, atau anda bisa memasukkan dari contoh di atas, X = 50% = 0,5 sedangkan Y = 20% = 0,2.

Nah, akhirulkata, saya mengusulkan kepada seluruh department store di Indonesia dan juga yang lainnya agar membedakan penulisan diskon dual dengan tidak menggunakan tanda “+”.  Misalnya gunakanlah tanda “&” (contoh: 50% & 20%) sebagai pengganti tanda “+”. Hal ini penting untuk membedakannya dengan “50% + 20%” yang secara aritmatika memang seharusnya adalah 70%. Jadi jangan sampai mempunyai kesan bahwa para department store tersebut ingin mengelabuhi pelanggannya dengan diskon yang sebenarnya diskon gabungan efektifnya relatif jauh lebih rendah dibandingkan diskon yang tertulis…

Iklan

19 responses to “Jika Diskon 50% + 50% Tidak Berarti Gratis…

  1. Dengan kata lain, penipuan halus & terselubung ya? =_=;;

  2. biasanya sebeLum kena discount harga awalnya sudah dinaikin duLu 😛

  3. Ping-balik: Tweets that mention Jika Diskon 50% + 50% Tidak Berarti Gratis… « Spektrum Pemikiranku -- Topsy.com

  4. Tp ga mungkin klo mereka kasih diskon yg nemonik spt 50%+50% apalagi klo harga awalnya genap misalnya rp 100 ribu, pasti ketahuan nipu krn mudah dihitung. apa kabar nih mas yari dah lama gak ketemu ol…

  5. Halo Yari,
    Semula saya juga sempat berpikir bahwa cara penghitungan dua discount tsb secara langsung (50 + 50 = 100) tapi sempat kecele. Seharusnya memang
    50 & 50. Tapi mungkin jadi kurang menarik ya.

  6. yup blue juga suka nggak ngeh sama diskon diskonan………
    salam hangat dari blue

  7. bahasa marketing emang gitu kang..itu kerjaan hari2 saya..haaa

  8. @st0rmw1ng

    Ya begitulah…. disangkanya konsumennya masih bodo2 gitu… 😀

    @BimaSakti85

    Bukan dinaikin dulu… tetapi di”mark-up” tinggi banget dulu, baru dikasih diskon…. huehehe…. :mrgreen:

    @Ag Bint

    Ya iyalah…. apalagi kalo 50%+50%… nanti sampai di kasir: “Loh, kok nggak jadi gratis?? Bukannya seharusnya diskon 100%??” Kan… jadinya berabe… 😀

    @Harry Nizam

    Memang jikalau tidak biasa, diskon “50% & 50%” terlihat “aneh” dan mungkin bisa membingungkan konsumen tetapi kesannya jadi tidak menipu… dan lama2 konsumen juga akan terbiasa…

    @bluethunderheart

    Mudah2an setelah baca artikel ini menjadi sedikit lebih “ngeh” 😀

    @boyin

    Iya tuh…kalo yang kebiasaan membaca dari sudut bahasa matematika, jadinya kesannya bahasa marketing kayak begini jadi lucu gitu… huehuehue…

  9. benar juga ya..tapi kadang aku ga percaya ada diskon yang terlalu besar

  10. heheh
    iya memang bener
    diskon50 % + 50 gak sama dengan gratis heheh

  11. Hahaha…itu termasuk strategi marketing…..

    Kalau kita tertarik karena diskonnya dan barangnya bagus, saya akan langsung tanya….”Jadi harga barang ini menjadi berapa?” Cepat dan jelas, kalau ternyata tak seperti yang saya harapkan dan di tempat lain ada yang lebih baik….saya cuma bilang….mendingan di tempat lain mas/mbak, kalau hitungannya segitu….

    Bukankah juga kalau bayar Rp.1.499.000,- orang lebih suka dibanding ditulis Rp.1.500.000,-?

  12. kalo saya sih mikirnya harga setelah diskon 50%, dipotong setengah lagi..;)

  13. hehehe,berkunjung lagi ..;)

  14. @hendro-prayitno

    Percaya saja…. apalagi kalo mark-up-nya jauh lebih besar lagi!! :mrgreen:

    @darahbiroe

    Mana ada jualan gratis, bener nggak? :mrgreen:

    @edratna

    Saya sih sudah punya patokan tersendiri. Misal: Celana panjang merk X. Saya sudah mematok pokoknya kalau celana panjang merk X harganya lebih dari Rp. 100.000,- saya anggap mahal atau biasa saja harganya (bukan murah) walaupun mereka menawarkan diskon sebesar apapun.

    Iya betul… secara psikologis kita melihat angka yang paling besar dulu (angka jutaan ataupun ratusan ribu). Itulah kenapa orang lebih suka melihat harga Rp. 999.000,- ketimbang Rp. 1.000.000,-. Namun bagi yang sudah terbiasa, efeknya menjadi tidak begitu signifikan lagi.

    @TUKANG COLONG

    Kalau bahasa Aritmatika 50% + 50% haruslah 100%. 😉

  15. teknik penjualan di kita ini
    memang masih belum berubah
    selalu suka mengelabui
    konsumen demi meraup keuntungan sebesar2nya 😦

  16. Semoga department store tersebut membaca postingan ini dan segera mengoreksinya.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s