Piala Dunia dan Taruhan Kreatif Alternatif

Piala Dunia FIFA

Tidak terasa…. empat tahun setelah hingar bingar piala dunia di Jerman selesai, kini penggila bola segajad kembali disuguhkan oleh pesta olahraga terbesar kedua di dunia setelah olimpiade tersebut. Sangking banyaknya yang tergila-gila dengan kejuaraan yang diselenggarakan empat tahunan sekali sampai-sampai banyak pelanggan TV berbayar (kabel ataupun satelit) yang teraniaya seperti saya ini, karena provider-nya nggak dapat izin untuk menyiarkan piala dunia, sampai dibela-belain untuk membeli antena TV terestrial yang primitif tersebut hanya untuk menikmati siaran piala dunia walaupun gambarnya cukup banyak “semut”nya seperti kasus yang saya alami 😦 , namun yah apa boleh buat tahi kambing bulat-bulat, seperti kata pepatah “tak ada rotan akarpun jadi”. Nah, bagi para pecandu sepakbola (atau bisa juga para penikmat judi taruhan atau penikmat sepakbola dan taruhan sekaligus) tidak seru rasanya jika tidak membumbui piala dunia dengan taruhan siapa yang bakal menggondol pulang piala dunia tersebut. Sepertinya piala dunia tanpa taruhan ibarat sayur tanpa garam, bahkan bisa jadi ibarat sayur tanpa sayurannya itu sendiri! Atau minimal jika  tidak terbiasa dengan taruhan setidak-tidaknya para pecandu bola biasanya paling sedikit ikut-ikutan menebak siapa yang bakal juara.

Nah, begitu juga dengan saya, rasanya tidak “sreg” kalau tidak ikut tebak-tebakan dengan sesama “penggila” bola untuk sekedar menebak negara mana yang akan menjuarai piala dunia kali ini. Saya sendiri punya pengalaman yang lumayan unik dari pertaruhan piala dunia ini terutama dari piala dunia 1990 hingga 1998. Ceritanya, waktu sejak jadi mahasiswa saya punya teman kuliah asal Padang, Sumbar yang juga gila bola. So, setiap kali piala dunia (dan juga piala Eropa atau Euro) berlangsung kita berdua selalu taruhan. Namun medium taruhan diubah dan bukan uang karena katanya pak Ustadz taruhan dengan uang diharamkan maka medium taruhan diubah.

Mula-mula di piala dunia 1990, taruhannya adalah siapa yang kalah harus bersihkan kamar kos yang menang selama seminggu! Dan jikalau dari kedua kesebelasan yang masing-masing kita pegang tidak ada yang jadi juara, maka pemenang taruhan ditentukan dengan melihat siapa dari kedua kesebelasan yang kita pegang yang berprestasi lebih baik di piala dunia tersebut. Dengan begitu bisa dipastikan bahwa dari taruhan tersebut pasti ada yang menang dan yang kalah! Waktu itu dia sangat ngotot megang Belanda yang masih diperkuat oleh trio Belanda yang terkenal waktu itu: Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard. Sedangkan saya memegang Jerman Barat yang juara. Di babak 16 besar kedua kesebelasan bertemu! Dan Belanda harus mengakui keunggulan Jerman Barat 2-1. Haha… jadilah dia yang harus membersihkan kamarku selama seminggu padahal selama dua minggu kamarku sengaja tidak saya bersihkan, sementara dia juga selama beberapa minggu tidak membersihkan kamarnya karena yakin bakal menang! Walhasil… dia harus membersihkan dua buah kamar yang sama-sama tidak dibersihkan selama dua minggu! 😆

Untuk Euro 1992, karena kita sudah sama-sama lulus dan kita tinggal di Jakarta dengan jarak tempat tinggal yang cukup berjauhan, maka taruhan diganti dengan yang agak klasik yaitu: traktir makan. Saya lupa lagi dia megang kesebelasan apa, kalau nggak salah dia tetap memegang kesebelasan Belanda, sedangkan saya masih ingat saya tetap memegang kesebelasan Jerman. Walaupun yang juara adalah kesebelaan Denmark pada Euro 1992, tapi saya tetap menang taruhan karena kesebelaan yang saya pegang sebagai taruhan tetap mencapai babak yang lebih baik yaitu sampai ke babak final.

Piala Dunia 1994 dan Euro 1996 karena kendala jarak antar kita berdua maka eksekusi taruhan ditiadakan. Baru pada Piala Dunia 1998 kita “taruhan” lagi.  Kali ini taruhannya cukup unik yaitu siapa yang kalah harus mau memuji-muji yang menang di depan umum! Terserah pujiannya apa! 😆  Cara taruhannyapun sedikit diubah. Masing-masing pihak kini memegang tiga kesebelasan (bukan satu kesebelasan) untuk menjadi juara. Jikalau dari keenam kesebelasan (tiga dari masing-masing fihak) tidak ada yang juara maka tidak akan ada pemenang dalam taruhan itu alias seri. Jadi peraturan kesebelasan siapa yang bisa mencapai babak yang lebih baik tidak lagi berlaku di sini. Saya ingat benar, saya memegang Perancis, Jerman dan Argentina sementara dia memegang Brasil, Italia dan salah satu negara Afrika (saya agak lupa negara mana tapi kalau nggak salah Nigeria). Ketika hari final tiba, dan berhadapan kesebelasan Perancis dan Brasil adalah hari yang menegangkan karena salah satu dari kita pasti ada yang menang dan ada yang kalah! Dan sejarah mencatat akhirnya Perancis menang telak 3-0 di final! Huahaha…. lagi-lagi deh aku menang…. dan susah diceritakan bagaimana akhirnya dia memuji-muji saya di depan umum sampai saya sendiri merasa malu…. 😆 😆

Pada Euro 2000, kami tidak taruhan lagi, karena selain kami sudah sibuk masing-masing, ia juga telah menikah dulu di tahun 1999. Walau begitu, hingga sekarang, via SMS, setiap kali piala dunia ataupun Euro ” taruhan” tetap dilaksanakan walaupun hanya sekedar menebak-nebak kesebelasan mana yang bakal jadi juara. Namun begitu, untuk piala dunia tahun ini, saya tengah bertaruh dengan teman saya yang lain, teman kantor saya, saya pegang Brasil dan Argentina sementara teman saya pegang Belanda dan Inggris. Saya memilih Brasil dan Argentina karena selama ini negara-negara Eropa selalu gagal dalam meraih juara kalau kejuaraan piala dunia diadakan di luar benua Eropa. Taruhannya?? Yang kalah membayar tagihan listrik (PLN) dan Internet yang menang selama 3 bulan berturut-turut! Bagaimana?? Lumayan kan kalau menang?? 😛

Iklan

22 responses to “Piala Dunia dan Taruhan Kreatif Alternatif

  1. Halo Yari,
    Nasib kita serupa, terpaksa beli antena TV zaman dahulu.
    Waktu sebelum nikah saya tidak pernah lepas dari taruhan walau
    nilai uangnya tidak seberapa tapi seperti kata anda tetap haram.
    Sepakbola PD dan internasional lainnya memang nikmat.
    Kapan ya Indonesia bisa partisipasi?

  2. wow taruhannya luar biasa banyak… ngak sanggup saya kalo taruhan bayarin listrik n internet 3 bulan… 😉

  3. wah menarik banget ya jenis taruhannya bukan dalam bentuk cash hihi.. dari mulai bersihin kamar sampe bayar tagihan listrik+internet..

    btw itu nanti pak gimana kalo tagihan listriknya melebihi tagihan di bulan biasanya? rugi donk kita hahaha

  4. waah lha kok taruhannya berat sekali. saya ndak ikut-ikut, nanti ketularan.

  5. Juara Bertahan Italy harus mengakui keunggulan Slovakia setelah bertarung dengan hasil 3-2 untuk kemenangan Slovakia. Hayo siapa yang taruhan ? Italy kalah.

  6. taruhan yang membangun dan positif, ngapa ya jadi kata taruhan? padahal gk ada yang ditaruh hehe
    mantap cara2nya pak 😀

  7. Pak Yari, kayaknya realitas sekarang Piala Dunia tuh gaungnya lebih heboh daripada Olimpiade loh…at least di Indonesia.

    Taruhannya oke juga tuh Pak. Tapi kalo dirupiahin gede juga loh… Tapi gakpapa lah, udah bukan mahasiswa ini, masak masih pake taruhan ngebersihin rumah, ya nggak Pak?

    Pa kabar Pak Yari? Dah lama saya nggak mampir kesini…

  8. tulisannya jujur dan mendalam,,
    bukti kepekaan yang nyata pada diri pak Yari.
    hebat pak. saya belajar dari bapak.
    .
    Mari bermain, belajar, dan berbagi bersama saya,,,
    kunjungi http://kangzhavratulistulis.blogspot.com/
    semoga berkenan,,,

  9. @Multibrand

    Harry, benar semua orang juga bertanya-tanya begitu “Kapan Indonesia bisa berpartisipasi di piala dunia?”, pertanyaan itu mungkin sudah dimulai 50 tahun yang lalu dan hingga kini belum terjawab dan entah hingga berapa puluh tahun lagi pertanyaan tersebut tetap akan tidak bisa terjawab… 😦

    @aRuL

    Huehehe… ya kalau nggak sanggup ya jangan dong! 😀

    @ridu

    Ya… namanya juga taruhan… kalau kita kalah ya harus siap rugi dong… 😀

    @mandor tempe

    Ya nggak usah taruhan dong kalau nggak mau.. hehehe.. 😀

    @pr4s

    Lah… siapa yang megang Italia?? 😛 😀

    @fansmania

    Secara fisik mungkin tidak ada yang ditaruh memang, namun secara kiasan ada, yaitu sebagian harta kita (atau bisa juga kehormatan kita) yang ditaruh untuk siap “diambil” jika kita kalah… 😀

    @soyjoy76

    Iya tuh… secara “popularitas” di Indonesia mungkin piala dunia masih lebih tenar atau lebih hingar bingar dari olimpiade, sebabnya sepakbola kan olahraga rakyat. Kalau olimpiade paling2 yang heboh di Indonesia cuma bulu tangkis aja tuh…

    Iya nih… saya juga udah lama nggak main ke blog situ, nanti saya tinggalkan komen juga deh. Tunggu ya?? 😀

    @kangzhavra

    Wah… taruhan aja kok jujur dan mendalam?? Hehehe… 😀

  10. kenapa ga sekalian aja tuh tagihan tv kabel dijadikan taruhan? nanggung amat haha.. lumayan kan kalo menang itung2 gratis nonton tv kabel 3 bln

  11. hatiku masih untuk Three Lions… he he..

  12. saya kurang suka kalau judulnya taruhan pake uang ^^

  13. Bukan hanya di PD… pertandingan level liga aja banyak yang taruhan. Sepertinya olahraga sepakbola paling banyak diminati para penjudi.

  14. Saya nggak beli antena kang Yari…karena bukan Gilbol (gila bola)…jadi baca aja hasilnya besok di koran…apalagi cuma nonton sendirian, ga asyik
    Taruhan kang Yari mungkin menang….lagipula kalau kalah kan cuma bayar tagihan listrik dan internet 3 bulan..dibanding kalau taruhannya ngepel WC.
    Tapi..mungkinkah Jerman menang?

  15. taruhan buat serua – seruan nontonnya emang pak, kalau gak taruhan agak ngantuk nontonnya. Kalau taruhan kan yang gak begiti suka bola, jadi sedikit2 tegang juga.
    Yang disayangkan adalah yang memang bermental penjudi….
    sekedar menabak sih…pasti. Kalau sy suka menjagokan yang sedikit underdog.. portugal misal…kan lebih menegangkan .. hehe

  16. taruhan pas piala dunia udah jadi hal seru seruan..
    teman” disini juga iaa

    salam kenal :))
    http://blog.unand.ac.id/dilasiskom/

  17. @Ag bint

    Abisan… loe ngingetinnya baru sekarang! Huehuehue… 😛

    @joe

    Three Lions udah tersingkir…. digilas der Panzer… 😀

    @Alfiyan prayanta

    Ya kalau begitu… judulnya jangan pakai kata “uang” dong… 😀

    @tikno

    Konon katanya itu karena hasil sepakbola termasuk yang sulit diprediksi di mana kesempatan yang underdog untuk mengalahkan yang papan atas cukup terbuka, sehingga banyak orang tertarik untuk taruhan….

    @edratna

    Kalau Jerman yang menang nggak apa2 bu…. asal jangan kesebelasan Inggris aja yang menang, sebab saya sebel sama kesebelasan Inggris… huehuehue…

    @Saiful ghozi

    Iya betul. Agar nontonnya jadi lebih seru. Apalagi kalau pertandingannya berakhir 0-0, uh… nontonnya juga jadi agak ngantuk… hehe…

    @dila deswari

    Yup betul… taruhan sepertinya sudah menjadi bagian dari piala dunia… 😀

  18. beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kejauaran sepakbola dunia…bagaimana PSSI mampu membentuk tim nasional yg tangguh…paling tidak seantero asia tenggara dahulu…terus ke asia..dan dunia…namun saya percaya setiap ada event seperti ini anjuran serupa selalu muncul…namun selalu pula tak ada hasil…pertanyaannya apanya yg salah dan keliru…apakah karena lemahnya manajemen? anggaran pembinaan? pemain indonesia kurang gizi makanan dan gizi spirit menang?lapangan sepakbola sudah banyak terkonversi jadi mal dan perumahan? agenda jadwal kompetisi yg amburadul? dst dst…semoga menjadi perhatian PSSI yg direfleksikan dengan perencanaan strategis katakanlah untuk 10-15 tahun kemudian…

  19. Wah, kalau taruhannya seperti itu kayanya oke juga ketimbang harus menggunakan uang yang ditumpuk secara nyata disebuah meja dan siapa yang menang langsung ngambil

  20. Wah, Pak Yari bakal kalah nih tahun ini… 😀

  21. @Sjafri Mangkuprawira

    Saya sendiri juga tidak tahu prof….. kenapa PSSI dari dulu ya “segitu-segitu” saja. Bahkan juara di Asia Tenggarapun masih kalah jauh dari Thailand ataupun Singapura. Gizi?? Hmmm… mungkin… tapi negara2 Afrika atau Amerika Latin apalagi seperti Bolivia, Peru ataupun Paraguay yang nggak terlalu kaya juga bisa berprestasi lebih baik. Malaysia dan Brunei yang mungkin gizinya lebih baik, sepakbolanya juga nggak lebih maju dari kita. Namun begitu saya tidak mengatakan bahwa faktor gizi tidak berpengaruh.

    Faktor Manajemen, sikap profesional, semangat juang dan fasilitas?? Nah… mungkin kombinasi tersebut lebih berpengaruh terhadap prestasi sepakbola kita. Ok…. lantas selanjutnya apa?? Hanya mendatangkan pelatih asing?? Sudah banyak pelatih asing didatangkan (walaupun mungkin bukan yang kelas wahid di negaranya) dan selalu berakhir dengan “pemecatan” karena gagal memenuhi target. Walaupun tentu saja, bukan berarti mendatangkan pelatih asing itu sia-sia, namun tanpa memperhatikan aspek2 lainnya seperti memperbaiki fasilitas fisik, menempa semangat juang yang tinggi, menumbuhkan sikap profesionalisme dan memperbaiki manajemen sepakbola nampaknya yah… impian hanya sekedar impian…

    @Ifan Jayadi

    Hahaha… iya…. daripada pakai uang, mendingan gunakan cara2 “kreatif” atau “alternatif” untuk taruhan…. walaupun banyak orang berpendapat: taruhan ya tetap aja taruhan! Huehehe…

    @Mathematicse

    Iya nih 😦 . Tapi kalau nanti Spanyol menang di final berarti seri, nggak ada yang menang dan kalah taruhan! Huehehe…. 😀

  22. Ping-balik: Piala Dunia “Yang Aneh…” « Spektrum Pemikiranku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s