Generasi Google? Apa Hebatnya Ya?

Stereotipe Gambaran Generasi Google?

Anda mempunyai anak, cucu atau keponakan yang sudah pandai mengoperasikan komputer dan Internet? Mungkin anak, cucu dan keponakan anda tersebut boleh jadi sudah merupakan bagian dari generasi Google. Ya, generasi Google (Google generation) adalah mereka yang lahir tahun 1990an dan sesudahnya yang merasakan Internet dan mesin pencari seperti Google sebagai portal pertama dan utama dalam mencari sumber informasi dan hiburan. Walaupun baru-baru ini sebuah riset dari Inggris menyimpulkan bahwa generasi Google adalah sebuah mitos karena belum tentu mereka lebih melek informasi dan teknologi dari orang tua mereka, namun banyak orang tua yang bangga (termasuk saya tentu saja) jikalau mereka mendapatkan anak-anak mereka telah memiliki dan telah pandai mengoperasikan gadget-gadget canggih yang tidak mungkin dimiliki oleh orang tua mereka puluhan tahun yang lalu. Namun, patutlah orang tua mereka (termasuk saya) berbangga hanya karena mereka telah pandai mengoperasikan alat-alat canggih di usia yang sangat dini?

Saya jadi ingat, di paruh akhir tahun 1980an lalu, ketika kalkulator yang sudah terprogram dan yang dapat diprogram  (preprogrammed and programmable calculators) mulai membanjiri pasaran. Banyak teman-teman saya, terutama mereka yang berkantung tebal (kantung orang tuanya tentu saja) ramai-ramai membeli kalkulator yang pada saat itu terhitung sangat canggih. Mereka berharap, dengan membeli kalkulator tersebut mereka menjadi lebih cerdas berprestasi dalam studi. Walhasil? Kalkulator sudah terbeli, namun prestasi tidak terdongkrak! Ya, tentu saja! Jika kalkulator tersebut hanya diisi dan dijejali rumus-rumus tanpa mata pelajarannya sendiri lebih dimengerti dan dipelajari, mana bisa prestasi terdongkrak?? Ada juga kasus lain, teman saya yang kurang pandai berbahasa Inggris, namun ia sok sangat “tech-oriented“, ia membeli kamus elektronik yang harganya mahal hingga jutaan dan sangat anti membeli kamus berbentuk buku yang dikatakannya ketinggalan zaman walaupun harganya lebih murah. Selain itu, ia juga sangat mengandalkan kamus online (Iapun sangat tidak ingin membeli buku-buku dengan dalih sekarang sudah zamannya e-book, padahal e-bookpun tak pernah ia baca karena memang orangnya kurang minat membaca!). Salahkah itu? Tentu saja sama sekali tidak, bahkan sangat bagus jikalau hal tersebut dapat mendongkrak kemampuan belajar Bahasa Inggrisnya. Yang salah adalah, jika kamus elektronik mahal sudah terbeli dan kamus online sudah di depan mata namun ia jarang berlatih bicara dan menulis dalam Bahasa Inggris sehingga kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak berkembang, seperti kasus teman saya tersebut!

Nah, dari pemaparan di atas, sudah terlihat kan apa hubungannya dengan generasi Google ini? Belum? Maksudnya begini…. jikalau seseorang anak telah mengenal Internet, Google (atau mungkin gadget-gadget lainnya) itu tentu sudah merupakan awal yang baik buat “kemajuan” sang anak. Namun tentu hal tersebut tidak cukup jikalau Internet dan gadget-gadget canggih tersebut gagal membuat si anak lebih berprestasi. Berprestasi di sini tentu dalam arti luas, tidak melulu hanya di sekolah saja namun tentu saja sekolah masih merupakan indikator utama dalam mengukur prestasi anak. Jikalau si anak tidak terdongkrak prestasinya, mungkin saja si anak “gagal” dalam mensinergikan Google dan gadget-gadget canggih lainnya dengan kebutuhan pelajaran-pelajarannya di sekolah. Ia mungkin hanya berhasil mensinergikan Google dengan kebutuhan “gaya hidupnya” seperti game, Facebook dan sebagainya. Tentu si anak tidak bisa serta merta disalahkan. Mungkin ia tidak terbiasa mensinergikan Google dan Internet untuk kebutuhan sekolahnya secara maksimal yang ia biasa mungkin hanya sebatas bagaimana mendownload game, menggunakan Facebook, dan sebagainya seperti yang sering ia lihat dari teman-temannya. Nah, sebagai orang tua tentu kita harus membimbing si anak bagaimana mendapatkan informasi yang tepat untuk kebutuhan pekerjaan rumahnya dan pelajaran-pelajarannya di sekolah agar si anak terbiasa. Jikalau informasi tersebut dalam Bahasa Inggris, bantulah si anak dalam menterjemahkan informasi tersebut dengan begitu si anak juga diajarkan sedikit demi sedikit untuk terbiasa mengolah informasi dalam bahasa asing (Inggris). Dengan bimbingan orang tua, insya Allah, si anak jadi terbiasa mengolah informasi sesuai dengan kebutuhan sekolahnya dan sekaligus meminimalisasi penyalahgunaan Internet untuk hal-hal yang negatif.

Di berita-berita televisi dan surat kabar, banyak diberitakan mereka yang kurang mampu, yang tentunya akses ke Internet menjadi lebih terbatas, malah mampu menyabet NEM tertinggi (walaupun memang NEM bukan segala-galanya, saya setuju). Lantas, kalau begitu apa istimewanya “generasi Google” jikalau mereka tidak lebih baik dari mereka yang “bukan generasi Google”?? Tentu saja tidak pernah ada konvensi yang mengharuskan mereka yang termasuk generasi Google harus lebih berprestasi dibandingkan mereka yang “tidak termasuk” generasi Google. Namun, kalau pada akhirnya generasi Google tidak mampu mengangkat daya kompetitifnya lebih dari mereka yang “bukan termasuk” generasi Google, lantas apa istimewanya ya generasi Google itu? Apakah memang generasi Google sebenarnya memang tidak istimewa karena Internet dan Google, seperti halnya BlackBerry dan Facebook yang banyak terjadi di Indonesia, hanya sebatas gaya hidup (lifestyle) saja??

21 responses to “Generasi Google? Apa Hebatnya Ya?

  1. Halo Yari,
    Saya sangat setuju bahwa kemampuan kita untuk akses Google atau perangkat online lainnya atau alat komunikasi canggih harus meningkatkan daya saing kita, dan bukan sekedar untuk gaya hidup saja. Mudah2an untuk kedepannya kita semua kan menuju kearah sana.

  2. mungkin anak sekarang lebih maju dalam hal tekhnologi tapi sayang bekal mereka atau dasar mereka dalam menyikapi kemajuan yang ada tidak ada sehingga penyalahgunaanlah yang terjadi

    salam

  3. iya setuju pak, jadi dengan teknologi emang mempermudah segala sesuatu sih, tapi kita jadi lebih manja, ya ujung2nya kita jadi ketergantungan sama benda tersebut tanpa bisa berkembang atau mandiri

  4. RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  5. hari ini Google sedang ngambek gak mau searching..
    beghh… begini rasanya internetan tanpa adanya Google…
    kemana2 susaaah

  6. mungkin anak sekarang lebih maju dalam hal tekhnologi

  7. @Harry Nizam

    Iya betul, sebab jikalau Internet, Google, BlackBerry dan sebagainya hanya menjadi gaya hidup saja, kita hanya akan selalu menjadi konsumen saja dan tidak pernah menjadi bagian dari kemajuan (bukan hanya kemajuan teknologi saja) itu sendiri…

    @Omiyan

    Lebih tepatnya, anak zaman sekarang lebih tahu dalam mengoperasikan gadget-gadget yang memiliki teknologi tinggi, namun sayang tak semuanya yang tahu untuk apa gadget-gadget tersebut digunakan agar mencapai hasil yang maksimal…

    @Ridu

    Betul Du…. justru itu kita terkadang lebih ribut dalam mempercanggih alat2 atau gadget2 kita bukannya ribut dalam bagaimana caranya agar gadget2 tersebut lebih memberi manfaat bagi kita. Sebagai contoh, orang yang gemar membaca, nggak penting ia membaca dari buku biasa atau dari e-book reader, yang penting terus membaca! Dan jikalau ia membeli e-book reader, e-book reader itu digunakannya agar ia lebih giat dan fokus dalam membaca bukan hanya sebagai gaya-gayaan…

    @KangBoed

    Ok KangBoed…. udah lama nih nggak bersua…. Apa kabar?? Ya udah deh…. I lap yu pull tuuu….😀

    @Elmoudy

    Wah…. iya ya?? Yah kalo gitu kita nyanyi lagunya “Ta’ gendhong ke mana-mana…” biar gampang ke mana2… huehehe….

    @Doris

    This is just a parroting comment…

  8. betul mas biasanya malah banyak mahasiswa yg ribut soal gadget biasanya utk menutupi kekurangan2nya di bidang utamanya walau ga semua sih.

  9. Sebenernya yang paling beruntung adalah kita-kita yang hidup di jaman sebelum dan sesudah google. Kita jadi tahu bagaimana rasanya sulit mencari informasi dan bersyukur dengan kemudahan yang ada sekarang.

    So, nilai-nilai itu mungkin perlu diajarkan ke anak. Sama seperti orangtua yang menceritakan kepada anaknya, betapa repotnya disunat jaman dulu biar si anak merasa beruntung dan mau disunat. *lho, kok jadi nyambung kesitu*

  10. Ping-balik: Blogwalking Report — Wildanr Ok

  11. meskipun anak jaman sekarang hidup di zaman teknologi maju…gak semuanya yg memanfaatkan untuk pendidikan, malah buat maen2 dan hura2 hehehehe… seperti analogi kalkulator di atas…mungkin dipake cuma buat gengsi doang dan sekedar GAUL ya pak…hehehehe

  12. Bisa jadi Google Yahoo search Bing dan internet adalah sebuah kebutuhan …bukan lifestyle lagi…mengapa …semua karena perubahan dinamika kehidupan yang begitu pesat oleh kemajuan teknologi.
    Saya masih ingat 20 tahun lalu orang kesawah jalan kaki atau paling banter naik sepeda …sekarang naik sepeda motor adalah pemandangan biasa .
    Jadi kalau saat ini Google Internet masih merupakan lifestyle …saya yakin kedepan tidak seperti itu.
    Yang menjadi masalah adalah bagaimana memperlakukan gadget gadget canggih itu secara bijaksana.
    Salam Hangat.

  13. Saya melihat orang menjadi — sok — melek teknologi hanya untuk gagah gagahan. Kita pasti sering mendengar anak SD yang menenteng blackberri, laptop seharga $2000 hanya untuk ngetik dan main facebook. Salah? tidak juga, hanya fungsi yang diinginkan tidak sesuai dengan harga yang dibayarkan.

    Oh ya, lama sekali tidak main dimari.😀

  14. @Ag bint

    Yup, itu sangat kemungkinan dapat terjadi. Biasanya orang yang “gagal” memang sering menutup2i dengan segala “kelebihannya” walaupun mungkin “kelebihannya” itu cuma semu.

    @Wildanr

    Ya memang begitu. Bagi kita yang merasakan “2 zaman” (zaman Google dan zaman sebelum Google) dapat membandingkan ketersediaan informasi di antara kedua zaman. Namun pertanyaannya adalah apakah kita sudah memanfaatkan Google dan Internet zaman sekarang secara maksimal? Dan bagaimana caranya agar anak2 kita lebih baik dari kita sekarang karena mereka “menyandang” gelar generasi Google…?? Atau apakah anak2 kita nanti hanya menjadikan Google dan Internet hanya sebagai gaya hidup saja??

    @Wiz

    Ya… betul tu… banyak yang hanya untuk sekedar kelihatan “gaul” dan hura-hura hehehe….

    @Komunitas Salesman

    Nah, pertanyaannya apakah jika memang Google dsb bukan sebagai lifestyle lagi, apakah benar Google dsb tersebut dapat memberikan keunggulan kompetitif yang lebih dari yang tidak?? Lantas kenapa banyak yang generasi bukan Google yang lebih berprestasi dibandingkan mereka yang generasi Google seperti yang saya ceritakan di atas tentang siswa2 kurang mampu yang meraup NEM tertinggi ??

    @Ardianzzz

    Sebenarnya jikalau dibelikan perangkan US$2000 asal menunjukkan prestasi yang sepadan atau bahkan mungkin (syukur2) dapat produktif menghasilkan income positif, bahkan sangat dibenarkan. Namun kalau cuma mau sok2an dan cuma jadi gaya hidup saja, yah… begitulah… hehehe….😀

  15. tapi bagaimanapun google membuat batas akses informasi menjadi kian tipis…,
    bagi yang dengan tepat menggunakannya…

  16. saya ada pengalaman, ada siswa yang katanya setiap hari FB-an tetapi begitu saya masuk materi pembelajaran tentang email. dia tidak begitu bisa memahami materi. ternyata temannya yang membuatkan email dan daftar FB, trus dia hanya menghapal menu2 di FB.:mrgreen:

  17. @Saiful Ghozi

    Ya… bagi yang tepat menggunakannya akan sangat bermanfaat…. bagi yang tidak?? Ya begitulah…. paling cuma buat gaya hidup aja kali….:mrgreen:

    @Nurita Putranti

    Wah…. ada materi pelajaran tentang e-mail juga toh?? Kalau materi pelajaran tentang SMS atau MMS ada juga nggak??😆

    **kaboooor**😆

  18. teknologi memang bagus untuk ilmu pengetahuan tapi tentuny di imbangi imn dan takwa pula. takutnya generasi muda malah di racuni dengan efek negatif dari teknologi itu sendiri

  19. google memang hebat…keren keren..jadi teman di blog saya dunk..mkasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s