Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar. Maunya Bagaimana Sih?

Di dalam aktivitas pertwitteran saya (benar tidak ya Bahasa Indonesianya), yang akhir-akhir ini juga tengah menurun, saya mengikuti sebuah tweep yaitu tweepBahasa Kita‘, tweep yang sering mentwit tentang Bahasa Indonesia.  Isinya banyak yang menghimbau kita terutama secara tidak langsung untuk memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebenarnya hal tersebut dilandasi oleh niat yang baik yaitu untuk menghargai dan melestarikan Bahasa nasional kita, tidak ada yang salah dengan itu. Namun, saya sering memperhatikan bagaimana para pakar Bahasa Indonesia terlihat sangat ‘alergi’ untuk menggunakan kata-kata serapan bahasa asing (terutama dari Bahasa Inggris) seperti yang dapat terlihat dalam postingan ini. Dalam postingan di Facebook tersebut mengesankan seolah-olah si pakar Bahasa Indonesia terlihat alergi dengan kata-kata serapan asing seperti: magnet, geografi, musikologi, ros, akunting dan sebagainya.

Di satu sisi yang lain saya tidak melihat alasan yang kuat dari si pakar Bahasa Indonesia kenapa ia terlihat alergi dalam menggunakan kata-kata tersebut selain alasan: berasing ria! Tunggu dulu! Berasing ria?? Bukannya dari dulu, bahkan jauh sebelum ada istilah “Bahasa Indonesia” sendiri, bahasa kita telah menyerap istilah asing? Contoh saja misalnya kata-kata: “agama”, “kodi”, “apam/kue apam”, “swadaya”, “puja” dan masih banyak lagi merupakan serapan dari bahasa Sansekerta dan Tamil di India sana! Juga kata-kata “masjid”, “ibadah”, “manfaat”, “makhluk”, “majelis”, “kimia” dan bergudang-gudang kata lainnya berasal dari Bahasa Arab yang notabene (<—- bahasa asing) juga bahasa asing. Atau mungkin mereka beranggapan bahwa tidak mengapa kalau menyerap kata dari bahasa-bahasa di India atau bahasa Arab karena India dan Arab masih terletak agak timur daripada Eropa, jadi masih dekat dengan jati diri bangsa Indonesia!!

Oke.. (<— lagi-lagi bahasa asing) taruhlah alasan yang tidak masuk akal tersebut bisa saya terima. Namun bagaimana seperti kata-kata: “mandor (mandar)”, “pesta (festa)”, “bendera (bandeira)”, “keju (quiejo)”, “mentega (manteiga)”, “terigu (trigo)”, “boneka (boneca)”, “sepatu (sapato)”, gereja (igreja) dan masih berton-ton lagi kata-kata serapan dari Bahasa Portugis (kata asli Portugisnya yang di dalam kurung)?? Kita tidak sadar bahwa kata-kata yang kita pakai sangat umum tersebut merupakan bahasa asing. Kata tersebut tentu saja berasal dari barat, bahkan Portugal secara geografis lebih barat sedikit daripada Inggris. Belum lagi kata-kata serapan dari Bahasa Belanda seperti: wortel, rekening, koran (courant), saldo, abonemen (abonnement), kerah (kraag), beton, es (ijs), pintar (pienter), dan terlalu banyak kata lainnya untuk disebutkan yang kita tidak pernah sadar bahwa kata-kata tersebut sebenarnya adalah bahasa asing juga! Lantas apa bedanya kata-kata serapan tersebut dengan kata-kata seperti: magnet, geografi, akunting dan sebagainya seperti yang disebutkan sang pakar Bahasa Indonesia pada postingannya tersebut???

Bedanya?? Zaman dahulu belum ada pakar-pakar Bahasa Indonesia yang terkadang, maaf, agak résé dengan keantiannya terhadap kata-kata asing, sehingga zaman dulu proses asimilasi kata-kata tersebut ke dalam kosakata Bahasa Indonesia menjadi lancar dan tanpa tentangan. Namun kini, di mana sudah banyak ahli-ahli bahasa Indonesia, keadaan menjadi sedikit berbeda walaupun saya yakin  proses penyerapan bahasa asing tidak akan pernah bisa dihentikan. Mengapa? Karena proses penyerapan bahasa asing adalah proses yang natural (<— kata serapan Bahasa Inggris 😉 ) atau alamiah (<— kata serapan Bahasa Arab 😉 ) dalam perkembangan sebuah bahasa. Hal tersebut tidak hanya terjadi dengan Bahasa Indonesia tapi juga dengan bahasa-bahasa lain di seluruh dunia termasuk Bahasa Inggris. Dalam sejarahnya, Bahasa Indonesia telah mendapat tambahan kata-kata mulai dari bahasa-bahasa di India, bahasa Arab, bahasa Portugis, dan bahasa Belanda. Kini di zaman kemerdekaan, Bahasa Indonesia tengah dihujani kata-kata baru yang kebanyakan dari Bahasa Inggris. Di masa mendatang, ketika China telah menjadi adidaya dunia mengalahkan Amerika Serikat, tidak tertutup kemungkinan bahasa kita akan banyak dihujani oleh kata-kata dari bahasa Mandarin. Menurut saya biarkanlah hal tersebut terjadi secara alamiah dan wajar. Toh, saya yakin, kata-kata serapan tersebut justru akan memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, yang akan membuat bahasa kita justru semakin berwarna-warni yang kaya akan pilihan kata, dengan menghalangi masuknya kata-kata asing apalagi secara berlebihan akan membuat bahasa kita menjadi bahasa yang miskin akan pilihan kata sinonim dan akan membuat bahasa kita menjadi bahasa yang membosankan…

Iklan

37 responses to “Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar. Maunya Bagaimana Sih?

  1. Halo Yari,

    Apa kabar di Bandung?
    Semoga anda sekeluarga sehat2 selalu.

    Saya setuju bahwa sebaiknya penyerapan kata-2 bahasa asing ke bahasa Indonesia akan memperkaya bahasa kita tsb. Karena seperti anda katakan proses tsb sebenarnya sudah berjalan lama, selama beberapa daluarsa.

    Dengan era globalisasi saat ini, proses penyerapannya pasti akan lebih cepat lagi.

  2. kalo udah masuk KBBI seharusnya sudah menjadi bagian bahasa Indonesia, bukan begitu pak? Karena tak mudah sebuah kata masuk ke kamus karena tentunya melalui ahli, dan mekanisme masuknya sebuah kata atau istilah tentunya sudah dirumuskan. Itu bagi saya sih 😉

  3. Khusus untuk istilah2 IT saya pribadi kadang lebih merasa sreg menggunakan bahasa Indonesia, karena jika menggunakan bahasa yang sudah di-Indonesiakan menjadi aneh.

  4. Indonesia sekarang sudah dijajah kembali karena banyak sekali masyarakat indonesia yang meniru gaya dan trend luar negri, sedih sekali rasa melihatnya.
    Mari kita budayakan bahasa kita tercinta ini dengan baik dan yang benar.
    Terima kasih ilmunya, salam kenal 🙂

  5. sepokat sama multibrand. bahasa serapan memperkaya koleksi bahasa kita. meski demikian, saya bela2in beli KBBI untuk memperkaya juga bahasa yang sudah kita miliki sekarang

    kemajuan itu membutuhkan kemampuan kita untuk mengembangkan diri, salah satunya dengan memperkaya bahasa. jadi, saya lebih suka memakai kata ‘mouse’ ketimbang ‘tetikus’. rasanya ganjil, dan bikin saya nyaris tersedak sendiri

    dan ngomong2 soal twitter, bahasa saya disitu kacau balau, jadi ya mohon maklum :mrgreen:

    anw, nice post, pak yari 😀

  6. saya baca di postingan fbnya menurut saya musikologi sama seni suara bedalah. seni suara klo ga salah berkenaan dng vokal kalo musikologi adl ilmu musik secara keseluruhan klo ga salah lo. trus saya agak geli jg bunga ros sebaiknya jd bunga mawar pdhl mawar itu klo ga salah jg bhs arab.

  7. saya sih yang penting dapat dipahami aja deh, hehe. Biasanya kalau bahasa indonesia yang baik dan benar, buat saya itu hanya berlaku dalam pelajaran saja biar dapat nilai hehe :mrgreen:

    tapi terus terang saja, untuk bahan bacaan (fiksi atau non fiksi) saya lebih suka yang bergaya bahasa baku/resmi dan sesuai kaidah itu tadi. lebih enak aja dibaca daripada yang pakai bahasa gaul ala abege. Oiya, sayapun paling tidak suka dengan gaya bahasa yang disingkat2 dan gaul ala abege gitu, bukan sok resmi/nyastra/atau gimana2 sih, tapi susah dimengertinya, sampai saya harus berulang2 bacanya klo ada yang nulis dalam bhs seperti itu ><

  8. kalo soal bahasa sih saya gak begitu tertarik untuk mempertahankannya, kalo perlu kayak malaysia aja dah, bahasa melayunya campur aduk ama inggris memaksa sebagian masyarakatnya bisa berbahasa inggris semua…..saya fasih berbahasa jawa dan bali seandainya bisa salah satu ditukar dengan kemampuan berbahasa asing lainnya, saya dengan suka rela menukarkannya…heee…

  9. (IMHO) seiring dengan perkembangan dan kemajuan IPTEK, memang tak di pungkiri akan banyak sekali bahasa atau istilah yang akan menambah perbendaharaan kata, meski tidak semua bisa langsung di ambil begitu saja, karena tentu akan ada kata yang “harus” di sesuaikan untuk lebih meng-Indonesia.
    yeah… Kata Serapan, yang nantinya akan “diramu” oleh para ahli bahasa sehingga bisa masuk KBBI.

  10. iya nih, apalagi muncul bahasa-bahasa alay,, tambah kacau deh.

  11. @Multibrand

    Alhamdulillah saya sekeluarga baik2 saja di sini.

    Memang betul menurut saya penyerapan kata-kata asing cenderung memperkaya daripada merusak Bahasa Indonesia. Saya sangat heran jika ada pakar Bahasa Indonesia mengatakan penggunaan kata-kata serapan asing akan merusak Bahasa Indonesia. Apalagi di era keterbukaan sekarang ini.

    @aRuL

    Nah… itu dia…. kata-kata magnet, ros, sepeda, akuntansi, akunting, musikologi sudah masuk KBBI, jadi kenapa dibeda-bedakan?? Apa karena kata-kata tersebut terasa kurang “asli” Indonesia?? Kok ada “politik” diskriminasi di sini ya? Rasa-rasanya hampir mirip dengan diskriminasi antara orang “asli” Indonesia dengan orang Indonesia “keturunan”… 😦

    @indra kh

    Sebenarnya tidak masalah pak, mau pakai istilah asli Indonesia atau yang di-Indonesiakan yang lebih penting adalah pembaca kita mengerti. Istilah yang di-Indonesiakan seperti: komputer, modem, blog dan sebagainya tentu agak sulit digantikan dengan yang asli Indonesia bukan?

    @Bali best deal

    Jikalau meniru yang positif-positif ya baik-baik saja sebenarnya. Masalahnya masyarakat kita inginnya meniru hal-hal yang mudah ditiru saja, walaupun yang kurang bermanfaat.

    @Kurology

    Sebenarnya masalah seperti ‘mouse’ atau ‘tetikus’ hanya masalah kebiasaan saja. Kita kebetulan lebih tahu duluan kata ‘mouse’ daripada ‘tetikus’ sehingga memakai kata ‘tetikus’ menjadi agak ganjil. Namun begitu seandaikan kita biasakan menggunakan kata ‘tetikus’ dijamin lama-kelamaan tidak akan terasa ganjil lagi… 🙂

    Mengenai bahasa di twitter, ya bisa dimaklumi, itu karena keterbatasan ruang dalam sebuah twit jadi kita dituntut untuk sedikit kreatif, yang penting inti pesan tetap dapat dimengerti… hehehe…

    @ag bint

    Mungkin maksudnya seni musik kali ya?? Walaupun musikologi dengan seni musik juga definisinya atau pengertiannya berbeda. Tata buku dan akunting atau akuntansi juga berbeda loh. Akunting atau akuntansi lebih luas pengertiannya dari tata buku. Dan kata ‘buku’pun sebenarnya dari Bahasa Belanda ‘boek’ yang tentu saja juga merupakan kata serapan asing. 😉

    @eMina

    Hehehe… ya iyalah semua ada tempatnya. Kalau baca buku teks, atau koran atau novel, bahasanya seperti bahasa SMS atau bahasa alay misalnya ya jelas aneh dong, kesannya ini penulis kok malas banget! Sebaliknya kalau dalam bahasa sehari-hari digunakan bahasa baku juga terdengar aneh. Contoh, sama teman sendiri bertanya: “Ke mana hendak anda pergi??” (<— seperti bule baru belajar Bahasa Indonesia, baku banget! :mrgreen: ). Kan lebih enak "Mau pergi ke mana (loe)??" :mrgreen:

    @boyin

    Huahaha….setuju juga bang boyin. Kalau saya ingin sekali menukarkan kemampuan berbahasa prokem saya (okem) saya dengan Bahasa Mandarin, Bahasa Arab atau Bahasa Spanyol, dijamin untung deh! 😆

    @Zeph

    Nah… itu dia kuncinya… diramu, agar sesuai dengan lidah Indonesia (seperti makanan asing juga kan?), tapi jangan ditolak mentah-mentah. 🙂

    @Mifta Nurdin

    Yang penting tahu secara baik, kapan harus menggunakan bahasa alay dan kapan harus menggunakan bahasa baku. Jangan cuma bisa mencampurbaurkan saja… 🙂

  12. Sepanjang yang saya pahami selama ini, kriteria “baik dan benar” dalam berbahasa Indonesia adalah lebih terkait soal penggunaan tata-bahasa yang tepat. Ejaan, tanda baca (punctuation), kecermatan membedakan mana preposisi mana prefiks, saya rasa itu, yang menjadi yurisdiksi para penutur asli Bahasa Indonesia yang “concern” dengan bahasa nasionalnya. Contoh empirik saja, perihal penggunaan kalimat bahasa Indonesia yang “baik dan benar”, bisa dilihat langsung pada struktur judul kalimat postingan Pak Yari. Jika hendak benar-benar mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang “sahih”, judul kalimat Pak Yari di atas setidaknya berbentuk seperti ini: “Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar? Maunya Bagaimana, sih?” (tidak ada kata konjungsi yang berhuruf kapital).

    Sedangkan fenomena kata-kata serapan… itu hal yang niscaya, saya kira. Dan saya setuju, jika akulturasi bahasa dari luar itu bisa memperkaya khazanah bahasa sendiri, kenapa tidak?

  13. Semua bahasa di dunia tidak ada yang asli, kecuali bahasa tarzan.

  14. Sebenarnya ide yang bagus. Mengingatkan kembali pada kita untuk selalu memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika kita memakai bahasa kita dengan baik maka orang asing akan segan pada kita. Bahasa menunjukkan budaya dan tingkat peradaban kita. Sedikit kaget juga membaca pendapat seperti itu dan salut masih ada orang yang mau memperhatikan bahasa Indonesia di tengah maraknya budaya dan istilah asing. Seperti kata kereta masih digunakan oleh orang-orang melayu Medan untuk menunjukkan maksud sepeda motor. Kata Matematika sekarang menggantikan ilmu hitung dan mencongak. Sekarang yang marak mempelajari bahasa indonesia malah orang Amerika atau Australia. Mereka menggantikan kata download menjadi unduh, kata upload digantinya dengan Unggah. Menggantikan kata Hardisk menjadi Cakram Keras. Bagaimana dengan orang Indonesia sendiri? Malah orang Indonesia sok pintar dengan embel-embel pakar bahasa Indonesia malah merusak bahasa Indonesia dengan merubah kata “penari” menjadi “petari”, “penembak” menjadi “petembak”!!!

  15. ya, saya setuju pak Yari.. 🙂
    Saya coba analisa postingan pakar bersangkutan yg ada di FB. Ternyata beliau pun masih menggunakan beberapa serapan BA (kata yg di-bold).

    “Dengan alasan praktis(Serapan Bahasa Asing), hemat, dan getol berasing ria, kita berhasil menindas kata besi berani, kereta angin, atau mawar menjadi magnet, sepeda, atau ros. Ilmu hayat(SBA) pun menjadi biologi dan ilmu bumi menjadi geografi. Anak-anak kini belajar musikologi dan akunting, istilah untuk pelajaran seni suara atau tata buku tetapi dianggap lebih keren.” – Lie Charlie: Sarjana Tata Bahasa Indonesia, Tinggal di Bandung

  16. @frozen

    Memang betul faktor-faktor lain seperti ejaan, tanda baca dan sebagainya juga berperan dalam pembentukan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tentu saja. Mungkin judul dari artikel ini agak sedikit terlalu melebar karena yang saya fokuskan hanya yang mengenai kata-kata serapan bahasa asing saja seperti yang diutarakan sang pakar Bahasa Indonesia di FB-nya, jadi saya memang tidak berminat membahas hal-hal lain seperti ejaan, tanda baca dan sebagainya.

    Mengenai kata konjungsi (ssst… bukan kata konjungsi tapi sebaiknya gunakan kata sambung menurut sang pakar Bahasa Indonesia 😉 ) harus dimulai huruf kecil walaupun untuk judul sebenarnya saya juga sudah lama mengetahuinya. Hanya saja terkadang lupa dan terlalu malas untuk mengkoreksinya. Sebagai buktinya anda bisa melihat judul-judul artikel-artikel saya yang lama-lama, anda akan menemukan banyak sekali kata konjungsi, eh, sambung sebagai judul yang dimulai huruf kecil… (walau tidak semua karena ya itu disebabkan banyak kealfaannya… 😉 )

    @blackclaw

    Bahasa bayi juga asli loh… 😀

    @Sobirin Nur

    Sebenarnya anda tidak perlu heran melihat orang asing belajar Bahasa Indonesia karena itu hal yang biasa. Dan jangan heran pula mereka kerap lebih berbahasa Indonesia dengan “baik” dengan mengganti harddisk dengan cakram keras dan sebagainya, karena itu hanyalah salah satu proses mereka belajar. Mereka ingin tahu, padanan kata “hard disk” itu apa dalam Bahasa Indonesia. Itu sesuatu yang tidak heran. Dalam belajar bahasa lain non-Indonesiapun mereka juga begitu. Sama juga kalau kita belajar bahasa asing, pasti akan berusaha menemukan kata asli bahasa yang dipelajarinya, itu sudah naluri seorang pembelajar…

    Oke… taruhlah anda lebih menginginkan kata “kereta” daripada “mobil” atau “sepeda motor” karena lebih Melayu. Tapi jangan pernah berharap “kereta” adalah kata Melayu asli karena “kereta” juga bahasa asing yang diambil dari bahasa Portugis “carreta”. Jadi apa bedanya?? Anda harus ingat, Bahasa Indonesia memang berakar dari Bahasa Melayu tetapi dalam perkembangannya Bahasa Indonesia tumbuh dengan identitas tersendiri dan tidak perlu selalu identik dan mengikuti kaidah-kaidah dengan Bahasa Melayu. Sama seperti Bahasa Jepang yang juga sebenarnya berasal dari Bahasa China, dalam perkembangannya mereka punya identitas tersendiri… Itu adalah hal yang wajar.

    Untuk kata seperti ‘penembak’ dan ‘petembak’ lagi-lagi anda salah. Penembak dan petembak dua-duanya benar tetapi mereka mempunyai arti yang berbeda. “Penembak” adalah orang yang menembak secara umum, sedangkan “petembak” adalah atlit olahraga menembak. Jadi contoh kalimatnya:

    “Para penembak (bukan petembak) jitu dari pasukan pemberontak siap menghabisi tentara-tentara pemerintah di negara tersebut”.

    “Para petembak (bukan penembak) Rusia mendominasi cabang olahraga menembak di olimpiade”.

    Sama juga seperti “peninju” dan “petinju”. Peninju adalah orang yang meninju seseorang atau sesuatu secara umum. Sedangkan petinju adalah atlit tinju. Contoh:

    “Petinju kita, Chris John, mengharumkan nama Indonesia di pentas tinju dunia.” (aneh kalau kita ganti kata “petinju” dengan “peninju” kan? )

    “Ia ditinju oleh seseorang, seorang saksi mengatakan peninjunya adalah temannya sendiri.” (aneh kalau kita ganti kata “peninju” dengan “petinju” kan?)

    Begitu juga penari dan petari. Penari adalah orang yang menari secara umum sedangkan petari adalah orang yang profesinya menari. Mengerti sekarang??

    @britis081

    Wah betul sekali tuh. Banyak orang tidak sadar kalau sebenarnya bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah serapan dari bahasa asing juga. Terutama kata-kata yang diserap dari bahasa asing non-Inggris. Karena kita (umumnya) hanya terbiasa dengan kata-kata asing dari Bahasa Inggris. Yang dari bahasa asing non-Inggris biasanya “lewat” saja karena kebanyakan dari kita tidak menyadarinya seperti kata-kata “ilmu” “hayat” “besi” “buku” “kereta” dan sebagainya.. 🙂

  17. kalo menurut saya bahasa indonesia itu menjelimet ya pak ..

  18. kalau “besi” dan “buku” serapan dari bahasa apa, pak?

  19. Ada yg bilang 9 dari 10 kata Indonesia adalah adopsi dari bahasa asing. Seperti dari bahasa Inggris, Belanda, Arab, India, Cina dsb….
    Salah satu contoh:
    Glass (Inggris) → diadopsi jadi Gelas (Indonesia).
    ―――――――

    Ada juga yang bilang, ada satu kata Inggris yang diadopsi dari bahasa Belanda dan sebenarnya berasal dari bahasa Indonesia asli,
    yaitu:
    Camp (Inggris) berasal dari kata → Kampoong (Belanda) yang aslinya dari → kata ‘Kampung’ bahasa (Indonesia).
    Karena dulu pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, orang Belanda selalu menyebut orang-orang ‘Kampung’ di Indonesia dengan sebutan orang-orang ‘Kampoong’ yang kemudian sebutan itu diadopsi lagi jadi ‘Camp’ (Inggris/Internasional).

    Aslinya, Kampung (Indonesia) jadi Kampoong (Belanda) dan jadi Camp (Inggris).
    Benarkah demikian?
    Mohon pencerahannya!
    Salam kenal..

  20. ‘Name’ (Inggis) diadopsi jadi ‘Nama’ (Indonesia) yang sebenarnya ‘Name’ (Inggris) itu dari Betawi….
    Name elu siape?
    hehe…
    (kalo nyang eni bercande Bang).
    🙂

  21. ada jg salah kaprah pemakaian istilah Inggris ke Indonesia.
    spt, istilah ‘th’ Inggris sering diartikan ‘tahun’ Indonesia.
    Hasilnya ngaco n keliru.
    Contoh baru2 ini,
    saudara sy dari kampung baru pulang dari Mekkah naik Haji, disana ada rambu/marka jalan/petunjuk arah spt ‘Street 5th’ eh dia bilang ‘Jalan 5 tahun’
    Hahaha…
    Pdhl yg bnr ‘Jalan ke5’.
    ngaco.com

    Trmsk istilah Ulang tahun misalkan Ulang Tahun ke 30, ditulisnya HUT 30th, maksud ‘th’ nya dia pikir 30 ‘tahun’ pdhl yg benar 30th itu ke30. Adapun kebetulan saja isitilah ‘th’ pada saat bersamaan merayakan ulang tahun dan ‘th’ (Inggris) itu ‘tahun’ atau ‘thn’ (Indonesia) dipikirnya sama.
    Parah!
    🙂
    (yang ini serius loh).

  22. …sebenarnya harus bisa dipahami…dalam sejarah perkembangan bahasa suatu bangsa…lahir dari sumber-sumber budaya bahasa daerah dan tak dapat dihindari juga mengadopsi dari bahasa asing…apalagi suatu bangsa yang masih tertinggal dalam hal pengembangan ipteknya, politiknya,perekonomiannya, dsb…maka tak bisa dipungkiri terminologi kata atau ungkapan yang belum ada dimiliki bangsa itu di berbagai bidang itu…lalu “diambil” tanpa harus minta izin dahulu dari yang punya…begitu juga perkembangan ungkapan kata-kata di pasar domestik seperti bahasa pakem,lebay,alay…bisa jadi suatu ketika diterima sebagai perbendaharaan bahasa nasional…dalam hal inilah para pakar…seharusnya terus menggali kosa kata yang ada untuk memerkayanya…tentunya yang sesuai dengan standar perbahasaan nasional…

  23. Jadi dari inggris -> diserap betawi -> diserap indonesia?

    oooohhhhh…..

    *polos*

  24. Seiring perkembangan jaman Bahasapun akan sedikit demi sedikit ber metamofosis ( ini juga serapan dari bahasa asing).
    Mungkin kita masih ingat …bahwa Bahasa Indonesiapun …berasal dari Melayu.

  25. Halo Yari,
    It have been a long time since I read your blog’s up date.
    I hope that it is because you are very busy spending holidays
    with your family.

    Btw, I finally got a domain name for my blog :
    http://www.multibrand.biz.

  26. nice blog..
    ditunggu kunjungan baliknya.
    😀

  27. Bagi saya penembak adalah ejaan yang benar. Alasannya kata tembak adalah kata dasar. Kata Penembak adalah kata tembak yang mendapat awalan Pe. Pe + tembak menjadi Penembak dengan huruf “t” pada kata “tembak” luluh dan diganti dengan “n”. Kata dasar yang diawali awalan “Pe” adalah pelaku dari kata dasar tersebut. Kesalahan dari Anton Mulyono (Pakar Bahasa Indonesia) adalah memisalkan penambahan awalan kata “pe” ke dalam kata yang bukan asli bahasa Indonesia yaitu: “petenis.” Yang benar memang petenis bukan penenis. Kenapa? karena kata tenis bukan berasal dari bahasa Indonesia. Ianya merupakan kata serapan. Jadi apabila kata serapan mendapat awalah apa saja (dalam hal ini awalan pe) bentuk kata dasarnya jadi tidak berubah atau tidak boleh dirubah. Anton Mulyono menganalogikan kata petenis ini ke semua kata sampai kata-kata asli bahasa Indonesiapun mereka polakan seperti itu. Tentu saja menjadi salah seperti tari, kata asli, menjadi petari, dan tembak, menjadi petembak, terjun menjadi peterjun, hal ini adalah salah . Disinilah letak kesalahannya. Yang benar adalah penembak, penari, penerjun. Coba saja dengan kata lain. Kita tidak pernah dengar petampar, yang benar adalah penampar. Kata Tampi seharusnya menjadi penampi bukan petampi. Kalau pola kesalahan tersebut kita teruskan. Akankah seorang atlit softball (Pitch) kita istilahkan sebagai “pepukul bola” bukannya seharusnya “pemukul bola”. Yang benar adalah “pemukul bola”.

  28. Untuk penggunaan istilah, saya sepertinya lebih cenderung memilih istilah yang lebih dikenal, terutama untuk istilah teknis. Saya hanya bisa terpana saat mengetahui padanan bahasa Indonesia untuk debug adalah uwakutu.

    Salah satu penggunaan bahasa yang kurang saya sukai adalah pemakaian bahasa Inggris yang berlebihan. Mungkin lebih mudah jika diberikan contohnya :
    You know, kemarin waktu saya shopping di Plaza Senayan…”

    Kuping rasanya panas jika mendengar ada orang yang berbicara seperti itu :mrgreen:

  29. Ups salah, maksud saya awakutu, susah mengingatnya 😀

  30. apa salahnya bila orang berbahasa dengan membawa dialek daereh masing-masing. wah..nampaknya blog ini sudah nd aktif lagi yah…!!

  31. terkadang salah perkataan sedikit

    itu bisa beda arti’a…

  32. bersatu dalamm perbedaan…
    i love indonesia

  33. Berbahasa Satu Bahasa Indonesia ..

  34. Sebetulnya yang membuat bahasa indonesia sekarang ini semakin aneh bukan serangan bahasa asing yang jadi kata serapan.. tapi lebih ke serangan bahasa alay yang entah bagaimana bisa jadi bahasa yang dipahami oleh orang indonesia 😦

  35. Indonesia sekarang sudah dijajah kembali karena banyak sekali masyarakat indonesia yang meniru gaya dan trend luar negri, sedih sekali rasa melihatnya.
    Mari kita budayakan bahasa kita tercinta ini dengan baik dan yang benar.
    Terima kasih ilmunya, salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s