Perempuan Itu Goblok!

Eiiits… jikalau anda membaca judul di atas jangan emosi dulu, lanjutkan membaca artikel ini hingga selesai maka anda akan mengerti sepenuhnya mengapa saya menuliskan judul seperti di atas. Dan tentu saja tidak semua perempuan itu goblok, laki-lakipun banyak juga yang goblok (juga bencong tentu saja 😀 ). Untuk jelasnya mengapa saya memilih judul di atas mari kita lanjutkan pembahasan kita kali ini. 🙂

Ide tulisan ini berawal ketika secara tak sengaja saya mendengar percakapan dua orang ibu-ibu muda yang sama-sama tengah menunggu giliran (antrian) teller di Bank N*SP. Saya yang kebetulan duduk di depan kedua ibu-ibu tadi mendengar betul apa yang dipercakapkan keduanya. Mereka tengah berargumentasi kecil tentang poligami. Yang satu setuju dengan poligami, yang satunya lagi tidak. Dari kedua belah fihak banyak mengutarakan argumentasi-argumentasi menggelikan walaupun ada juga yang cukup “tepat sasaran”. Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang apa yang diperdebatkan kedua ibu muda itu tetapi saya akan menulis tentang uneg-uneg saya mengenai polemik poligami ini.

Bagi saya poligami adalah hak dan tanggungjawab individu masing-masing. Saya yakin jika poligami dimulai dengan niat yang baik (tidak sekedar nafsu untuk mencari “daun muda”) insya Allah akan berjalan dengan baik pula pada akhirnya. Yang saya tidak mengerti adalah wanita Muslimah yang sudah berniat menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya namun tidak bisa menerima bahwa di dalam Islam laki-laki bisa beristri hingga empat. Seharusnya yang ia tidak setuju bukan poligaminya tetapi KETIDAKADILANNYA terhadap istri-istrinya setelah ia berpoligami karena yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam Islam adalah ketika sang suami gagal berlaku adil terhadap istri-istrinya, betul begitu kan? (Maaf mohon koreksi kalau salah). Saya yakin bahwa laki-laki berpoligami yang tidak adil terhadap istri-istrinya maka ia akan berdosa dan akan mendapatkan ganjaran kelak di akhirat. Enak di dunia, tidak enak di akhirat. Semua akan mendapat ganjarannya kelak. Bahkan saya yakin juga, wanita yang sabar melihat suaminya berpoligami akan mendapatkan imbalan yang setimpal di akhirat kelak. Lantas kenapa wanita (Muslimah) musti khawatir? Cemburu? Atau sirik karena wanita tidak boleh poliandri? Atau khawatir sang suami bertindak nggak adil? Kalau suami berlaku tidak adil seharusnya yang lebih khawatir itu sang suami sendiri! Karena kelak ia harus mempertanggungjawabkan ketidakadilannya di depan Allah swt. Itu kalau anda percaya terhadap ajaran Islam. Kalau tidak? Ya… itu terserah anda. Tapi jangan terjadi hal menggelikan, anda menerima apa yang cocok dengan anda dan dengan cepat membuang apa yang tidak sesuai dengan anda tanpa berfikir panjang. Namun begitu, sekali lagi, jika andapun menginginkan sesuatu yang menggelikan tersebut, itu juga hak anda. 😉

O iya…. ada satu lagi yang cukup menggelikan. Kebanyakan, dari yang saya baca di blog-blog milik wanita Muslimah*) yang nggak setuju poligami, kebanyakan dari mereka baik langsung ataupun tidak langsung hampir selalu menyalahkan laki-laki dalam hal poligami. Menurut saya ini adalah sesuatu yang goblok konyol. Kenapa? Karena kalau mereka tidak setuju dengan poligami, mereka seharusnya juga menyalahkan kaum perempuan sendiri! Loh? Ya… tentu saja! Salahkan juga perempuan yang mau dipoligami! Tapi kan… perempuan adalah fihak yang terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami? Justru itu! Jadi perempuan jangan goblok! Jangan cepat terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami. Apalagi setelah tahu kalau si calon suami sudah punya istri ternyata masih mau juga diperistri. Jadi bagi wanita Muslimah yang tidak setuju dengan poligami, salahkan JUGA perempuan-perempuan ‘goblok’ yang mau dipoligami. Karena jika perempuan-perempuan itu tidak mau dipoligami, tidak akan ada poligami. Hey, it takes two to tango, doesn’t it?? Mengerti? 😉

NB:

*) Kenapa blog-blog wanita Muslimah? Karena kalau wanita bukan Muslimah mungkin poligami tidak ada dalam ajaran yang mereka percayai. End of story.

Iklan

28 responses to “Perempuan Itu Goblok!

  1. 1. Gak suka judulnya!

    2. Setuju sekali dengan isi paragraf ke-3. Saya pun tidak anti poligami. Tapi anti ketidakadilan yang hampir pasti terjadi dalam poligami. Dan Allah pun sudah memperingatkan hal itu dalam ayat tentang poligami. “Jika kamu mampu berbuat adil, dst…dst…”

    3. Yang saya lihat, kebanyakan kasus poligami itu adalah ‘perselingkuhan’. Istri tidak pernah menyetujui suaminya poligami, tapi suami keukeuh nikah lagi. Diam-diam malah. Tanpa uzur yang jelas, selain mungkin ‘hasrat ingin daun muda’. Jadi bukan karena istri mau aja dipoligami.

    4. Yang saya pahami, mungkin julukan ‘perempuan goblok’ itu ditujukan pada istri kedua dan seterusnya ya?

    5. Ya, bagaimanapun kita tak bisa menyamaratakan kasus poligami. Semua punya alasan dan tujuan berbeda.
    6. Saya pertamax gak ya? Hehe..

  2. @ratna : saya sepakatnya untuk no 5 saja 😀 hehe

  3. Secara umum, setuju dengan isi artikelnya… Tidak setuju judulnya… 🙂 Apa kabar, Pak?

  4. @ratna

    1. egp 😛

    2. —-

    3. Nah, ini ada beberapa kesalahan termasuk kontradiksi logika. Pertama, selingkuh sama poligami itu tidak identik persis. Kalau selingkuh diam-diam tentu semua setuju kalau kita tidak setuju. Namun “selingkuh” yang menginginkan si suami menikah lagi secara sah, tentu itu (dalam Islam loh) tentu saja hal tersebut menjadi berbeda.

    Kedua, yang menentukan laki-laki boleh menikah lagi itu bukan si istri melainkan aturan agama. Setahu saya, berpoligami itu (menurut Islam loh) tidak perlu persetujuan istri pertama. Jadi walaupun istri tidak setuju, laki-laki boleh menikah lagi (sekali lagi. dalam Islam loh!). Walaupun tentu saja, secara PRIBADI sayapun berpendapat bahwa perasaan istri pertama sebaiknya juga dipertimbangkan.

    Ketiga, nah ini dia, jikalau (misalnya loh, udah pasti nggak) anda mendapatkan suami anda atau suami teman anda selingkuh jikalau anda adalah orang yang tidak antipoligami, maka anda harus menyodorkan opsi dua buah yaitu nikahi si wanita secara sah (menurut agama) atau jika tidak bisa adil sebaiknya tinggalkan si wanita. Jangan langsung tidak setuju si suami menikah lagi. Berbeda jikalau anda 100% antipoligami maka jikalau anda langsung tidak setuju suami menikah lagi tidak merupakan kontradiksi dari pernyataan sikap anda sendiri 😉

    4. Perempuan yang mau dipoligami yang goblok itu memang yang istri ke-2, ke-3 dan ke-4. Namun bisa juga perempuan yang selalu menyalahkan laki-laki dalam setiap kasus poligami. 😉

    5. —

    6. —

    @aRuL

    Saya setuju sama teh Ratna pada poin ke-7 ajah! :mrgreen:

    @Al Jupri

    Yang penting isinya kan? 😀 Sebenarnya judul di atas menggunakan gaya bahasa atau majas totum pro parte seperti banyak digunakan pers pada judul beritanya. Contoh misalnya: “Indonesia mengalahkan Malaysia 2-0 pada pertandingan sepakbola”, padahal kenyataannya cuma 11 orang Indonesia yang mengalahkan 11 orang Malaysia. Jadi gaya bahasa seperti itu sudah umum. 😀

    Alhamdulillah, saya baik2 saja mudah2an kang Jupri sekeluarga juga baik2 saja. 😀

  5. saya merekomendasikan bukan maslah poligaminya yang dibahas, tapi bagaimana mendorong dan mensosialisasikan untuk kaum wanita yg akan dipoligami untuk mengetahui hak2nya mengenai uang pesangon dan harta gono gini jika bercerai nanti. informasi ini kudu digembor2kan agar lelaki yg akan berpoligami, mikir 2x karena harga yang pantas dibayar oleh mereka. Dan ibu halimah sudah menteladani dengan kasus yg menimpanya.

  6. Halo Yari,

    Setelah sekian lama tertunda-tunda ternyata ini topiknya.

    Berdasarkan tulisan ini, berarti bahwa anda dan saya masih punya hak atas 3 isteri tambahan lagi. WOW!
    Namun, yang namanya hak boleh dipakai boleh juga tidak, suka-suka kita.

    Memang anda benar bahwa selama dia seorang Muslimah maka harus menerima kenyataan bahwa suaminya punya hak untuk mempunyai 3 orang isteri lain sebagai tambahan.

  7. Betul pak, pemikiran ini kaya pelm nya 12 monkey, berada dalam situasi loop yang endless padahal si pembuat efek nya bukan sepenuhnya berasal dari laki2, hahay

  8. Menurut pendapat saya, kalau memang ingin berpoligami maka laksanakanlah seperti ajaran Rosulullah saw. Beliau hidup monogami hingga istri pertamanya meninggal. Meduda tiga tahun baru kemudian menikah kedua kali, dan lalu barulah beliau berpoligami.

    Jadi seandainya ada istri pertama yang bilang ke suaminya, “Kamu mau Poligami? Langkahin dulu mayat saya!”. Rasanya sih ada benarnya, karena khan Rosul sendiri melakukannya demikian. Wajar khan kalau istri pertama menyalahkan atau menolak suaminya berpoligami? Lah wong Rosul menjalaninya gak demikian koq!

  9. Seharusnya yang ia tidak setuju bukan poligaminya tetapi KETIDAKADILANNYA terhadap istri-istrinya setelah ia berpoligami karena yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam Islam adalah ketika sang suami gagal berlaku adil terhadap istri-istrinya, betul begitu kan?

    betul pak

    dan saya juga mengangguk setuju buat poin ke-5 komentar bu Ratna. ada begitu banyak hal yang mempengaruhi baik/buruknya poligami. bila hasilnya nggak bagus, maka IMO poligami itu sendiri nggak baik dilakukan. and this led me to think about polygamy done by “THAT’ famous guy, while all we can see now that HIS first marriage crushed… 😐

  10. ewh… komen saya lenyap 😐

  11. jadi kalau poligami itu sebenarnya salah siapa kang? #kaboor :mrgreen:

  12. Hahahah khas mas yari kasar tapi emang objektif. saya surpris mas yari ngeblog lagi bagus dong. tapi omong2 itu judul bukan hanya menggunakan gaya bahasa totem pro parte tapi sekaligus sarkasme. hahah

  13. @boyindra

    Sepertinya kalau masalah uang pesangon dan harta gono gini lebih cocok buat mereka yang mau diceraikan. Sementara masalah poligami tidak identik dengan masalah perceraian walaupun bisa jadi bagi sebagian kasus dekat juga. Karena kalau begitu, masalahnya jadi meluas, nanti juga ada pembahasan masalah bagaimana jadi wanita mandiri sehingga ia menjadi independen dari suami, dsb jadinya malah nggak fokus. Saya memang di sini cuma mau menunjukkan ketidakkonsistenan wanita Muslimah yang menentang mentah2 poligami apalagi bagi mereka yang mentah-mentah menyalahkan hanya menyalahkan laki-laki dalam setiap kasus poligami.

    @Multibrand

    Betul. Kita boleh menggunakan dan boleh juga tidak menggunakan. Andai kita menggunakan hak tersebut sebaiknya kitapun harus bijaksana dalam menggunakannya.

    @Raffaell

    Wah… udah lama tuh film 12 Monkeys udah lupa jalan ceritanya kayak gimana. Heheh…

    @bukan detikcom

    Sebenarnya ya boleh2 saja istri pertama mencak2 kalau melihat suaminya mau berpoligami. Itu hak dia. Namun masalahnya, apakah poligami jadi tidak dibolehkan (diharamkan) hanya karena wanita mencak2 lihat suaminya ingin berpoligami? Itu inti pokoknya.

    Semua orang punya jalannya sendiri. Bahkan tidak sedikit suami yang ditinggal mati istri, si suami “tidak mengikuti apa yang dilakukan Nabi” yaitu dengan tidak kawin lagi dan tidak berpoligami dan tetap menduda hingga akhir hayatnya karena sangking setianya dengan sang istri. Semua menjadi pilihan masing-masing asal tidak diharamkan oleh agama yang dipercayainya. Yang penting di sini jangan sampai kita mengatakan tidak boleh untuk yang boleh atau sebaliknya atau mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

    @Kurology

    Betul. Tapi sebaiknya kita mengikuti garis besar yang telah “disepakati” bersama bahwa poligami itu boleh tapi jikalau berpoligami HARUS adil. Mengenai “the famous guy” yang berpoligami hmmm kita nggak perlu mengikuti gaya hidupnya karena belum tentu “the famous guy” itu sudah melakukan tugasnya sebagai suami secara adil buat istri-istrinya. Walahualam.

    @Anggara

    Salah yang nanya kang! :mrgreen:

    Ag bint

    Sarkasme?? Huahaha… iya ya, bener juga sih. Btw, gimana nih udah betah kerjanya belon? 😀

  14. Wah, udah banyak juga yang ‘nimbrung’. Laki-laki semua pula, hehehe…

    Saya tidak mengidentikkan semua poligami itu adalah perselingkuhan lho. Saya hanya bilang ‘kebanyakan’, dan itupun dari hasil pengamatan saya yang mungkin berbeda dari Anda.

    Betul, suami menikah lagi tidak perlu ada persetujuan istri (dalam hukum Islam). Namun bagaimana bisa ada kesepakatan/ kasih opsi jika istrinya saja tidak tahu (karena suami menikah lagi dengan diam-diam)? Dan bagaimana jika suatu hari pernikahan diam-diamnya itu diketahui istri pertama? Mau tidak mau pasti menyinggung ranah ‘perasaan’ dong. Sebab bagaimanapun, dalam Islam selalu diajarkan bagaimana menjaga perasaan orang lain. Apalagi terhadap istri yang sudah menemani hidup sekian lama 😉

    Saya tidak anti poligami. Bagi saya, suami berpoligami itu ‘jauh lebih lelaki’ daripada berselingkuh. Karena diketahui orang banyak, tentu mendorong suami lebih bertanggungjawab dan berusaha berbuat adil. Soal perasaan? Cemburu, sedih, marah, dll ya lihat saja nanti. Kalau gak kuat, ya mungkin udahan. Tapi siapa tahu malah saya sayang banget sama istri kedua suami saya 😀 Masa depan siapa yang tahu. 🙂

  15. lama nggak kelihatan
    sekalinya posting… eh soal poligami 🙂

  16. @Ratna

    Nah ini dia logical fallacy-nya. Jikalau anda memang tidak mengidentikan selingkuh dengan poligami, maka tidak logis anda menyalahkan poligami lewat selingkuh, karena yang salah selingkuhnya BUKAN poligaminya. Kenapa? Andaikan suami “selingkuh” seperti yang anda definisikan namun andaikan suami menikah secara sah (menurut agama) dengan istri keduanya, maka pernikahannya tetap sah walaupun si istri menuduhnya selingkuh. Jelas?

    Tentang menyinggung ranah perasaan orang, nah ini juga hampir sama logical fallcy-nya. Memang betul kita harus menjaga perasaan istri pertama. Untuk itu di atas pada jawaban untuk anda sebelumnya saya mengatakan “sebaiknya mempertimbangkan perasaan istri pertama”. Ok, taruhlah misalnya menyinggung perasaan istri pertama itu berdosa. Tapi apakah itu membuat pernikahannya dengan istri kedua atau poligami menjadi haram? Tidak kan? Pernikahan dengan istri keduanya atau poligaminya tetap sah menurut agama. Yang berdosa mungkin adalah karena ia menyinggung perasaan istri pertama tapi sekali lagi pernikahannya dengan istri kedua tetap SAH menurut agama. Jadi dosa terhadap istri pertama tidak berpengaruh terhadap sah tidaknya poligaminya (perkawinannya dengan istri keduanya). Mengerti? 🙂

    @mr. sectiocadaveris

    Huehehehe… terserah yang punya blog dong. Daripada nggak nulis hayo? 😛

  17. Judulnya dahsyat sekali.
    Pas baca judulnya saya kira tulisannya isinya tentang perempuan-perempuan yang ngeblog (perempuan itu go blog). Ternyata 😀

  18. wuih,, judulnya ngeri amatt mas,, heheheh
    tapi dari poin2 yg disampaikan ada sedikit yg saya sependapat dan ada yang saya kurang sependapat

  19. Menurut saya ada sedikit kesalahpahaman didalam menafsirkan arti poligami dalam arti yang sebenarnya. Terus terang saya bukanlah seorang yang ahli agama atau paham dengan dalil-dalil Al-Quran yang ada. Yang saya tahu Nabi Muhammad SAW memang dalam kehidupannya memiliki istri lebih dari 1 orang, hanya saja yang saya tahu juga bahwa Nabi Muhammad SAW menikahi istri-istri selain Khadijah dikarenakan untuk menghindari fitnah (karena umumnya mereka adalah janda-janda yang ditinggal suaminya meninggal sewaktu perang jihad). Habis itu, Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah menggauli istri-istrinya yang lain selain Khadijah dan selama berumah tangga Nabi Muhammad SAW selalu bisa berlaku adil terhadap semua istri-istrinya. Dari sini sebenarnya sudah dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak sembarang melakukan poligami tersebut, ada alasan kuat dibaliknya. Sedangkan kasus yang banyak terjadi sekarang adalah banyak oknum-oknum lelaki yang mengatasnamakan praktek poligami tersebut sebagai dasar SUNAH RASUL. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita menyadari bahwa kedudukan kita sebagai manusia biasa dengan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah SWT adalah SAMA. Jadi intinya adalah kita boleh melakukan poligami dengan catatan segala tingkah laku dan kepribadian kita harus SAMA dengan NABI MUHAMMAD SAW. Ada yang merasa SAMA??? Trims…

  20. Posting menarik….
    Idealisme dan teori logika dan agama tentang poligami memang begitu syuurr dan indah. Faktanya seorang yang ahli bidang logika dan agamapun ternyata gagal membina poligaminya…..Ternyata keimanan dan teori agama tidak mampu menolong sakit hati seorang istri yang di madu..he…he keimanan yang goblog kah ?

  21. Bener juga, Pak. Kalau tidak ada wanita yang mau dipoligami, tentunya nggak ada laki-laki yang poligami. Hehehe….

  22. Poligami memang masih menjadi bahan yang selalu diperdebatkan. Satu sisi setuju dan sisi lain menolak poligami. Yang perlu diperhatikan adalah banyak manfaatnya atau tidak dengan adanya poligami itu. Jika banyak manfaatnya, tentunya ya mendapat pahala tetapi sebaliknya justru berdosa melakukan poligami ini.

  23. Hahahaha..udah lama nggak berkunjung kesini.

    Saya (karena sudah ada perjanjian tak tertulis sebelum menikah), bukan tak setuju poligami, karena saya belum atau jarang melihat, bahwa laki-laki yang melakukan poligami bisa adil. Dan sebagian perempuan yang bisa mencari nafkah (bisa di luar atau tak harus ke luar rumah), biasanya tak menyetujui ini, dan memilih mundur…dan ini termasuk saya.

    Lha menikah kan untuk kebahagiaan, kemitraan, kalau udah mau berbagi..ya silahkan dengan orang lain. Atau, saya ingin tetap bekerja setelah menikah, jadi saat itu pacar menginginkan isteri di rumah…..ya monggo pilih atau cari orang lain saja.

    Syukurlah, pada akhirnya saya menemukan seseorang yang bisa sama pemikirannya dengan saya.

  24. IMO lebih memungkinkan untuk adil kalau sudah dimulai sejak pacaran. Jadi sejak pacaran memacari 4 cewek sekaligus, dan semua saling tahu. Nanti acara nikahnya juga sekaligus nikahi empat orang. Kalo dari pertama istrinya sudah banyak, kan gak ada alasan tuk selingkuh lalu minta poligami di tengah2. Gak ada juga urutan istri (istri pertama dst) atau sebutan istri muda. :mrgreen:
    *diusir*

  25. Nice one! 😀

    Ini topik yang menarik. Kata orang, saking menariknya, topik ini sering digunakan kaum feminis untuk menyerang Islam. 😦

  26. Judulnya ganti, Pak. Kalo mau laku jangan ngerendahin gender di judul blog. Otaknya dipasang kalo mau pilih judul..

  27. kata-kata judul’a
    kurang baik tuch pak…

  28. bos judulnya terlalu sadis…. he..he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s