Category Archives: Astronomi

Menentukan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal Dengan Perangkat Android Anda

Anda termasuk orang yang menunggu-nunggu awal bulan Ramadhan, bulan suci/puasa bagi umat Islam? Atau anda juga termasuk orang yang menunggu kapan persisnya jatuhnya idul Fitri di awal bulan Syawal? Dan anda menunggu sidang isbat (yang katanya menghabiskan biaya hingga Rp. 9 milyar tersebut) dari pemerintah sebagai rujukan awal bulan Ramadhan/Syawal? Nah… jikalau anda mempunyai perangkat Android anda tidak perlu menunggu sidang isbat sebagai rujukan awal bulan Ramadhan/Syawal. Bahkan anda dapat mengetahuinya jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan/Syawal tersebut tiba! Hasilnya cukup, eh bukan cukup, bahkan sangat akurat! Perangkat Android yang anda butuhkanpun tidak perlu yang canggih-canggih. Anda bahkan dapat menggunakan perangkat Android 1.6 yang lama. Tidak perlu yang mahal-mahal dan yang jelas tidak perlu biaya hingga Rp. 9 milyar seperti sidang isbat! :mrgreen: Bahkan dengan perangkat Android anda, anda dapat memastikan apakah akan ada perbedaan awal bulan Ramadhan/Syawal menurut hisab (yang biasa dipakai oleh Muhammadiyah) atau rukyat/pengamatan (yang biasa dipakai oleh NU/pemerintah)!!

Yang anda butuhkan sekarang adalah aplikasi android dan kemampuan anda untuk mengolah data yang dihasilkan aplikasi tersebut. Sangat mudah dan tidak perlu perhitungan yang memusingkan. Ada banyak aplikasi mengenai fase bulan dan astronomi yang bisa anda gunakan untuk menentukan awal sebuah bulan qomariyah. Saya akan berikan contoh satu aplikasi saja, dalam hal ini saya akan menggunakan aplikasi bernama “Lunafaqt” yang bisa anda unduh di Google Play (OS Android 2.2 dan di atasnya)  atau Android Market (OS Android 2.1 dan di bawahnya).

Oke, mari kita mulai! Mula-mula jalankan aplikasi Lunafaqt yang sudah anda unduh! Maka akan terdapat gambar seperti di bawah. Bentuk/fase bulan bisa berbeda-beda tergantung waktu. Screenshot ini diambil tanggal 14 Juli 2013.

lunafaqt1

 

 

 

 

 

 

Sekarang sebagai contoh mari kita tentukan kapan persisnya 1 Syawal 1434 H pada kalender masehi. Pertama kali adalah perhatikan bulatan hitam penuh di kiri bawah layar seperti gambar di bawah ini yang dilingkari warna merah. Bulatan hitam tersebut menunjukkan waktu konjungsi atau ijtima matahari, bulan dan bumi atau yang diseut dengan “bulan baru”.

lunafaqt1a

 

 

 

 

 

 

Sekarang sentuhlah bulatan hitam tersebut maka layar akan berubah menjadi fase bulan baru pada tanggal dan jam tersebut. Dalam kasus ini (1 Syawal 1434H) adalah tanggal 7 Agustus 2013 pukul 04:51 WIB seperti gambar di bawah ini:

lunafaqt2a

 

 

 

 

 

 

Langkah berikutnya adalah perhatikan waktu matahari terbenam atau sunset di layar perangkat Android anda seperti bagian yang dilingkari merah pada gambar di bawah ini:

lunafaqt2b

 

 

 

 

 

 

Di sana tertulis waktu matahari terbenam adalah pukul 5:51pm atau 17:51. Waktu matahari terbenam dapat berbeda-beda tergantung dari awal bulan dan tahun yang akan anda cari. Setelah anda perhatikan waktu matahari terbenam selanjutnya adalah mencari pengatur waktu atau jam di kanan atas seperti yang dilingkari biru pada gambar di atas. Setelah anda menemukannya sentuhlah bagian itu maka akan keluar pengatur waktu seperti gambar berikut:

lunafaqt4

 

 

 

 

 

Aturlah pengatur waktu tersebut sesuai dengan waktu matahari terbenam, dalam kasus ini pukul 17:51. Setelah anda menekan tombol ‘Set’ maka hasil akhirnya adalah sebagai berikut:

lunafaqt3a

 

 

 

 

 

 

Selesai! Sekarang tinggal menyimpulkan kapan jatuhnya 1 Syawal 1434H tersebut. Untuk yang menggunakan metode hisab (seperti yang sering dipakai Muhammadiyah) maka prosesnya  cukup hingga gambar ke-2 di atas. Kita cukup memperhatikan tanggal dan bulan waktu kongjungsi yaitu dalam kasus ini adalah 7 Agustus 2013 pukul 4:51. Ini berarti bahwa saat Maghrib tanggal 7 Agustus 2013 kita sudah memasuki bulan Syawal. Sehingga tanggal 8 Agustus 2013 kita akan merayakan Idul Fitri. Andaikan waktu kongjungsi terjadi setelah waktu matahari terbenam atau maghrib maka maghrib berikutnya (keesokan harinya) baru kita memasuki bulan baru.

Bagaimana dengan metode rukyat (atau lebih tepatnya rukyatul hisab campuran antara rukyat dan hisab)? Nah untuk itu kita lihat gambar terakhir yaitu data mengenai ketinggian bulan pada saat matahari terbenam seperti yang dlingkari warna merah.  Di sana tertera 3,19°. Jikalau pada saat matahari terbenam ketinggian bulan >2° maka maghrib tanggal 7 Agustus 2013 kita sudah memasuki bulan Syawal. Itu berarti tanggal 8 Agustus 2013 kita akan merayakan Idul Fitri. JIKALAU ketinggian bulan ternyata <2° maka itu berarti maghrib keesokan harinya yaitu tanggal 8 Agustus 2013 kita baru memasuki bulan Syawal sehingga kita baru merayakan Idul Fitri tanggal 9 Agustus 2013.

Nah kesimpulan dari data yang disuguhkan Lunafaqt  adalah untuk 1 Syawal 1434 H, baik dengan metode hisab maupun rukyat tidak akan ada perbedaan dan kita akan merayakan Idul Fitri seragam tanggal 8 Agustus 2013. Mudah, murah, cepat  dan akurat bukan? Tidak perlu dana hingga Rp 9 milyar kan? :mrgreen:

Is It Possible for Archimedes to Lift The Earth?

Arhimedes Trying to Lift The Earth“I would lift the earth if I had a point of support” that is a saying of legendary Archimedes, the genius of antiquity who discovered the laws of the lever. He wrote this claim to his friend, King Hiero (Some call it “King Geiron”) of Syracuse. He added that if there be another earth in the space he would go there to prove his claim!

Archimedes knew that even the weakest of force could lift the weightiest of an object by using a lever. One had only to apply this weakest force to the lever’s longer arm and that’s what would make the shorter one to act on the weightiest load. He therefore thought that by pressing with his hand on the extremely long arm of the lever he would be able to lift a weight which in this case is equivalent to that of the mass of the earth.

Archimedes might be right about his laws of the lever but the problem was that in the times of antiquity nobody knew the mass of the earth, and neither did Archimedes! If only he knew the mass of the earth, Archimedes would be likely to eat back his words. Imagine for a moment that he had at his disposal another earth and also the point of support he looked for. Further imagine that he was even able to manufacture a superlong lever that extended over  a great great distance in the space required. I wonder if you can figure out the time he would need to lift a load as massive as the earth, by at least a centimetre? He would need 30,000,000,000,000 years!!

Today scientists know the Earth’s mass. The earth possesses the mass of 6,000,000,000,000,000,000,000 metric tons or tonnes. Suppose Archimedes could lift 60 kilos directly, to lift the earth he would need a lever with a long arm that would be longer than the shorter arm by:

100,000,000,000,000,000,000,000 times! (that is \frac{6 \times 10^{24} \: kg}{60 \: kg} ).

You can easily figure it out that to have the end of the short arm rise by a centimetre, the other end must delineate through space the huge arc of

1,000,000,000,000,000,000 km!! ( that is  1 \: cm \: \times 100,000,000,000,000,000,000 \: times )

That is an unimaginable distance which Archimedes would have had to push the lever to lift the earth by just one centimetre! As a comparison the earth-sun distance is “only” 150,000,000 km apart. A tiny figure compared to that of the huge arc would Archimedes make. So the next question would be how much time would he need? Presuming he could have lifted 60 kilos one metre in one second – the work of almost one horsepower and of course naturally a man could only work much less than one horsepower! – to lift the earth by a centimetre, he would even need

1,000,000,000,000,000,000,000 seconds!! (that is  \frac{6 \times 10^{24} \: kg}{60 \:kg} \times \frac{1\: cm}{100 \:cm} \times 1 \: second )

For those who like to do simple arithmetic problems it is not hard to convert that figure above into the unit year which is equivalent to about 30 million million years! As a comparison scientists predict that our solar system would not last longer than approximately 10 billion years from the cradle to the grave. So, even if Archimedes lived past 100 years he would not have lifted the earth by much as even the thinnest of hairs. His effort would be so-called worthless since he could only lift the earth by an unnoticeable displacement in the eyes of the crowd. Even if he supposed to be able to zap in the speed of light – the nature’s fastest – he would successfully have lifted the earth by a centimetre only after ten million  (10,000,000) years of pushing! Phew!! 🙂

Galaksi Kita Bertabrakan, Akankah Kiamat?

Tabrakan antara dua galaksi menurut impresi seorang artis

Tabrakan antara dua galaksi menurut impresi seorang artis. Walaupun galaksi terlihat terang dan padat dengan bintang namun sebenarnya di dalam galaksi-galaksi tersebut terdapat ruang hampa yang sangat luas.

Ya…. itulah menurut para ahli astronomi. Galaksi kita (bima sakti) akan bertabrakan dengan galaksi terdekat kita, Andromeda, yang berada 2.000.000 tahun cahaya dari galaksi kita. Namun tentu kejadiannya masih lama yaitu sekitar 3 milyar tahun dari sekarang jadi kita tidak perlu khawatir. Ya, walaupun menurut para ahli alam semesta ini terus mengembang (berekspansi), galaksi-galaksi semestinya saling menjauhi satu sama lain namun dalam beberapa kasus gaya gravitasi antargalaksi jauh lebih kuat daripada ekspansi tersebut yang menyebabkan galaksi-galaksi akan bertabrakan, contohnya seperti galaksi kita dan galaksi andromeda ini 3 milyar tahun mendatang.

Nah, apa yang terjadi jika nanti kedua galaksi tersebut  bertabrakan? Kiamatkah? Menurut para ahli walaupun galaksi bertabrakan tetapi kemungkinan besar tidak akan terjadi ‘kiamat’ karena bintang-bintang dan planet-planet di dalamnya tidak ikut bertabrakan. Jadi selamatlah matahari kita. Kenapa? Karena sebenarnya di antara bintang-bintang di dalam galaksi-galaksi tersebut terdapat ruang hampa yang maha luas sehingga kemungkinan bintang-bintang (dan planet-planetnya) untuk bertubrukan sangatlah kecil walaupun di sebuah galaksi terdapat milyaran bintang. Analoginya seperti ini, di sebuah padang rumput yang luas, ada sekelompok yang terdiri dari 5 orang yang ingin menerbangkan pesawat dari kertas lalu kira-kira 100 meter dari mereka ada sekelompok lain yang  juga terdiri dari 5 orang yang juga ingin menerbangkan pesawat dari kertas. Nah, jikalau kesepuluh orang dari kedua kelompok ini sama-sama menerbangkan pesawat kertasnya dalam waktu bersamaan kecil kemungkinan bagi pesawat-pesawat kertas dari kedua kelompok ini akan bertabrakan, karena mereka dipisahkan oleh jarak yang luas. Begitu pula dengan bintang-bintang yang ada di dalam galaksi tersebut kemungkinan bertabrakan sangat kecil karena di antara bintang-bintang tersebut sebenarnya terhampar ruang hampa yang sangat luas. Bahkan ketika kedua galaksi bertabrakan, kemungkinan tabrakan bintang-bintang di dalam galaksi-galaksi tersebut jauh lebih kecil dibandingkan kemungkinan bertabrakannya pesawat-pesawat kertas dari kedua kelompok orang di padang rumput yang luas pada contoh di atas.

Lantas apa yang terjadi jika kedua galaksi yang bertabrakan? Yang terjadi adalah kedua galaksi melebur menjadi satu dan membentuk sebuah galaksi baru…….

Catatan:

Jikalau 1 detik cahaya = 300.000 kilometer, maka 2.000.000 tahun cahaya kira-kira sama dengan 19.000.000.000.000.000.000 kilometer. Tidak sulit untuk menghitungnya.

Bumi Kita Semakin “Gemuk”……

earth_animated

Anda tentu telah mengenal atau minimal pernah mendengar tentang ilmuwan Inggris Sir Isaac Newton yang banyak berkontribusi dalam ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu Fisika (dan matematika). Salah satu kontribusi Newton dalam ilmu Fisika adalah hukum pergerakan (law of motion) dan hukum gravitasinya (law of gravity). Menurut hukum pergerakan yang kedua dari Newton dikatakan bahwasannya besarnya gaya ( disimbolkan sebagai ‘F’) merupakan perkalian dari massa benda tersebut dan percepatannya atau dalam rumus sederhana diekspresikan sebagai: F = m.a. Gaya adalah segala ‘kekuatan’ yang dapat mengubah kecepatan dan arah dari benda yang bergerak. Ketika kita mendorong meja misalnya, maka kita memberikan gaya kepada meja tersebut sehingga meja tersebut dapat bergerak. Nah, ketika meja tersebut bergerak dari keadaan diam sebelumnya, maka meja tersebut telah mengalami suatu percepatan. Jikalau kita tengah mengendarai mobil, ketika kita menginjak pedal gas mobil agar kecepatan mobil kita bertambah, maka dikatakan mobil mengalami percepatan juga. Jadi percepatan adalah perubahan kecepatan (yang dialami sebuah benda) dalam (per) satuan waktu. Biasanya dihitung per detik.

Di bumi ini, setiap waktu kita selalu mengalami gaya yaitu berupa gaya tarik bumi. Gaya tarik bumi yang bekerja pada diri kita sehingga kita selalu menapak di bumi ini adalah sebesar percepatan gravitas bumi dikalikan massa (berat) tubuh kita. Satuan gaya tarik bumi adalah Newton (N). Sedangkan percepatan gravitasi bumi adalah 9,8 \frac{m}{s^{2}} atau ada yang membulatkannya sebagai 10 \frac{m}{s^{2}}. Jadi gaya tarik bumi yang bekerja pada seseorang yang berbobot 75 kg misalnya, adalah sebesar 75 kg dikali 9,8 \frac{m}{s^{2}} sama dengan 735 newton. Percepatan gravitasi bumi disimbolkan dengan ‘g’. Jadi, gaya tarik bumi yang bekerja pada tubuh kita adalah: F = m.g.

Pada hukum gravitasi (law of gravity) Newton juga dikatakan bahwa jika ada dua buah benda yang saling tarik menarik maka gaya gravitasi yang bekerja di antara keduanya bergantung dari massa (bobot) keduanya dan juga jarak antara kedua titik pusat benda tersebut. Jikalau dituliskan dalam bentuk rumus maka gaya gravitasi yang bekerja di antara keduanya adalah:

F \: = \: \frac{Gm_{1}m_{2}}{R^{2}}
F = Gaya gravitasi yang bekerja di antara kedua benda
m1 = massa benda pertama
m2 = massa benda kedua
R = Jarak antara kedua titik pusat benda
G = Tetapan gravitasi universal = 6,67 x 10-11 \frac{N \: m^{2}}{kg^{2}}

Nah, andaikan misalnya ada sebuah bola tenis atau apel yang berada di permukaan tanah atau di permukaan bumi, maka gaya tarik bumi yang bekerja pada bola tenis  dan gaya gravitasi yang bekerja di antara bola tenis dan bumi ternyata sama. Nah, dari kedua rumus di atas kita dapat mencari massa atau bobot bumi. Misalkan m1 adalah massa bola tenis sedangkan m2 adalah massa bumi yang ingin kita cari, maka:

m_{1}\:g = \frac{Gm_{1}m_{2}}{R^{2}}

m1 bisa dicoret dari persamaan tersebut.
R adalah jarak antara titik pusat bumi dan titik pusat bola tenis. Namun karena jarak antara permukaan bumi ke titik pusat bola tenis jauh lebih kecil dibandingkan jarak titik pusat bumi ke permukaan bumi (yang merupakan jari-jari bumi) maka jarak antara permukaan bumi dan titik pusat bola tenis bisa diabaikan. Jari-jari bumi adalah 6,4 x 106 m.

Persamaan di atas menjadi:

m_{2} = \frac{(9,8\frac{m}{s^2})(6,4 \times 10^6m)^2}{6,67 \times 10^{-11} \frac{N\: m^2}{kg^2}} \approx 6 x 1024 kg.

Kini diketahui bahwasannya masa (bobot) bumi adalah 6 x 1024 kg. Sudah selesaikah pembahasan topik kita? Belum! Karena ternyata bumi kita setiap hari bertambah “gemuk” seberat 20 ton sehari! Ya, hal tersebut dikarenakan setiap hari bumi kita kejatuhan meteor, meteorit dan juga debu-debu kosmis yang bertebaran di luar angkasa ini. Dan menurut para ahli material-material luar angkasa yang menghujam bumi kita ini rata-rata setiap hari adalah 20 ton, membuat bumi kita setiap hari semakin bertambah gemuk seberat 20 ton. Kini pertanyaannya adalah dalam berapa tahun bumi kita akan menjadi dua kali bobotnya yang sekarang jika setiap hari ia bertambah “gemuk” seberat 20 ton (= 20.000 kg)? Maka jawabannya adalah:

6 \times 10^{24} kg \times \frac{1\: tahun}{365\: hari} \times \frac{1\: hari}{20.000 \: kg} \approx 8,22 x 1017 tahun.

Jadi bumi akan mencapai dua kali bobotnya yang sekarang kira-kira dalam waktu 822.000.000.000.000.000 tahun! Sedangkan menurut para ahli usia bumi kita baru 4,5 milyar (4.500.000.000) tahun. Jadi apa yang bisa disimpulkan dari fakta usia bumi dan lamanya waktu yang dicapai bumi untuk bertambah bobotnya sebesar dua kali tersebut? Ya betul! Berarti ketika bumi kita pada saat pertama kali terbentuk 4,5 milyar tahun yang lalu, sebagian besar materialnya (>99,99999%) sudah terbentuk. Anda dengan mudah dapat menghitungnya sendiri tentu saja……

Matahari Akan Menelan Bumi Milyaran Tahun Mendatang…..

Siklus / Evolusi Matahari

Siklus / Evolusi Matahari. Kata "Now" berwarna biru menunjukkan posisi matahari kita saat ini.

Masih ingat dengan kata-kata “krisis energi” sewaktu harga minyak menjulang tinggi beberapa waktu lalu??  Sebenarnya krisis energi ini bukanlah berarti energi di bumi kita ini semakin langka sehingga harganya meroket. Yang terjadi sebenarnya adalah “krisis energi” secara ekonomi yang terjadi akibat faktor-faktor manajemen, ekonomi dan juga faktor-faktor sosial lainnya. Secara fisika, krisis energi hingga detik ini tidak pernah ada selama matahari kita masih bersinar!! Ya, boleh dikatakan hampir seluruh energi yang ada di bumi ini semuanya bersumber dari matahari. Minyak yang dulunya (jutaan tahun yang lalu) adalah zooplankton dan alga yang merupakan makhluk hidup tidak mungkin ada jikalau matahari tidak bersinar. Begitu juga dengan tenaga angin, jika tidak ada udara yang bergerak karena perbedaan tekanan yang disebabkan karena perbedaan temperatur di bumi yang mendapat panas atau energi dari matahari tentu tidak akan ada angin yang berhembus. Begitu pula dengan ‘sumber-sumber’ energi lainnya, tidak akan pernah ada di bumi ini jika matahari kita tidak bersinar.
Lantas dari mana matahari mendapatkan energinya?? Matahari menghasilkan energinya dari reaktor nuklir alaminya di pusatnya di mana suhu di pusat matahari berkisar sekitar 14.000.000 °C dan bertekanan 1.000.000.000 atmosfir (tekanan di permukaan bumi sekitar 1 atmosfir). Dengan keadaan panas yang jauh di atas panas membara seperti itu reaksi nuklir fusi dapat terjadi di matahari. Reaksi nuklir yang terjadi di matahari adalah reaksi peleburan inti hidrogen menjadi inti helium. Nah, setiap detik 657.000.000 ton hidrogen diubah menjadi 652.500.000 ton helium. Perbedaan massa sebesar 4.500.000 juta ton yang hilang inilah yang diubah menjadi energi. Nah, anda tentu mengetahui rumus Einstein: e=mc2 yang terkenal itu. Itulah gunanya rumus itu, dari massa yang hilang pada reaksi nuklir matahari di atas dapat dengan mudah dihitung energi yang dihasilkan oleh matahari per detiknya:
m = 4.500.000 ton = 4,5 x 109 kg.
c = 3 x 108 meter/detik (tetapan kecepatan cahaya).
e = 4,5 x 109 x (3 x 108)2 = 4,05 x 1026 joule.
Jadi setiap detik matahari memancarkan energinya sebesar 4,05 x 1026 (405.000.000.000.000.000.000.000.000) joule. Atau dengan kata lain daya matahari adalah 4,05 x 1026 watt. Bandingkan dengan lampu di rumah kita yang berdaya 25 watt. Jikalau seluruh bohlam di dunia ini dikumpulkan maka dayanyapun masih jauh sekali di bawah daya matahari ini. Dari sekian energi yang dipancarkan oleh matahari, bumi kita hanya mendapat sangat sedikit saja dari energi matahari yang dipancarkan. Walau begitu, energi matahari yang didapat bumi kita (dihitung pada daerah yang terkena sinar matahari langsung secara vertikal) masih cukup besar yaitu sebesar 1400 joule per detik per meter persegi atau sama dengan 1400 watt per meter persegi. Namun sayang sekali, peralatan/perabotan rumah dan juga mobil kita tidak ada yang didesain untuk langsung menggunakan energi matahari ini.
Lantas apakah dengan ‘dibakarnya’ 4,5 juta ton hidrogen per detik oleh matahari, matahari tidak akan kehabisan “bahan bakar” hidrogennya?? Tentu saja matahari lama-kelamaan akan kehabisan hidrogennya. Namun menurut para ahli matahari kita baru akan kehabisan hidrogennya sekitar 5 milyar tahun mendatang. Namun ketika matahari kehabisan hidrogennya, matahari kita tidak langsung redup dan mati, bahkan matahari di 5 milyar tahun mendatang akan memasuki fase yang paling spektakuler. Kontraksi gravitasi yang terjadi di matahari menyebabkan intinya semakin memanas, dan helium yang terbentuk sebelumnya dari hidrogen melalui reaksi nuklir, nantinya akan membentuk inti karbon yang lebih berat lagi juga lewat reaksi nuklir. Akibat kontraksi gravitasi yang terjadi, inti matahari semakin panas dan konsekuensinya permukaan matahari kita akan membesar hingga lebih dari 100 kali dari matahari kita sekarang! Walhasil, planet-planet yang terdekat dengan matahari seperti Merkurius, Venus, Bumi dan juga Mars kemungkinan akan “dilahap” oleh matahari. Atau dengan kata lain, planet-planet itu akan mengorbit di dalam bola gas matahari. Pada saat itu tentu tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan di bumi. Seluruh air di permukaan bumi sudah menguap ke ruang angkasa begitu pula dengan atmosfir yang ada di bumi akan menguap semua ke ruang angkasa.
Setelah menjadi bintang raksasa dan melahap semua planet yang ada di dekatnya, lantas matahari mulai ‘sekarat’. Energi yang didapat dari reaksi pembentukan karbon dari helium akan jauh lebih cepat berakhir dibandingkan dengan energi yang didapat dari pembentukan helium dari hidrogen pada fase sebelumnya. Kali ini matahari akan menciut menjadi bintang putih yang kerdil dan dingin. Pada saat matahari sudah menciut menjadi bintang putih kerdil, tidak ada lagi langit indah yang biru dan cerah pada siang hari di bumi ini. Yang ada adalah langit hitam walaupun di siang hari dengan matahari yang akan nampak hanya sebagai bintang cemerlang seperti bintang-bintang lainnya di langit siang hari yang hitam. Tidak ada lagi suara angin, tidak ada lagi suara ombak, tidak ada lagi suara  burung dan binatang-binatang lainnya. Tidak ada lagi suara kehidupan di planet ini. Planet bumi sudah menjadi planet yang mati, hening dan beku……….

Googol Lawan Jagad Raya

jagad_rayaIni bukan cerita mengenai Google, mesin pencari di Web yang tersohor itu melainkan adalah googol. Googol adalah sebuah bilangan yang besarnya adalah 10100. Kalau anda menuliskannya dengan lengkap, angka satu yang diikuti dengan seratus buah nol, maka itulah yang disebut googol. Angka ini walaupun besar sebenarnya tidak penting-penting amat, dan juga kalkulator saintifik yang canggihpun kebanyakan juga tidak bisa mencapai atau mengakses bilangan ini.

Namun begitu, untuk iseng-iseng mari kita bandingkan besarnya bilangan googol tersebut dengan dimensi-dimensi alam semesta yang sangat sangat sangat luas ini. Anggaplah keduanya adalah petinju kelas berat yang akan kita adu di kanvas karena kedua-duanya menyandang ‘nama yang besar’. Googol adalah sebuah bilangan yang sangat besar sedangkan alam semesta juga mempunyai dimensi yang besar.

Ronde pertama adalah garis tengah alam semesta yang diperkirakan oleh para ahli adalah panjangnya 93 milyar tahun cahaya. Biar lebih gampang kita ubah menjadi kilometer. Setelah dihitung maka garis tengah alam semesta kita yang maha luas ini adalah kira-kira 8,8 x 1023 kilometer atau 880.000.000.000.000.000.000.000 kilometer. Sekarang angka tersebut mari kita bagi dengan bilangan googol. Maka hasilnya adalah 8,8 x 10-77 kilometer!! Atau 0,000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 000 88 kilometer!! Diameter alam semesta ini yang maha maha luas setelah dibagi bilangan googol ternyata menjadi sangat sangat sangat sangat kecil atau pendek. Sebagai perbandingan diameter sebuah elektron kira-kira adalah 5,6 x 10-18 kilometer!! Ingat sebuah elektron jauh lebih kecil dibandingkan sebuah atom!! Jadi diameter sebuah elektron lebih panjang kira-kira 6,36 x 1058 (63.600.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000.000) kali
dibandingkan dengan diameter alam semesta yang luas ini setelah dibagi dengan bilangan googol !!

Ronde kedua, mari kita bandingkan si googol ini dengan massa alam semesta ini. Sudah tentu massa alam semesta ini sangat sangat besar. Menurut para ahli massa alam semesta ini kira-kira adalah 3 x 1052 kilogram. Sekarang kita bagi massa seluruh alam semesta ini dengan bilangan googol. Hasilnya adalah 3 x 10-48 kilogram. Kita bandingkan dengan massa sebuah elektron yang lebih kecil daripada atom. Massa elektron adalah kira-kira 9,1 x 10-31 kilogram. Jadi massa elektron lebih besar (berat) kira-kira sebesar 3 x 1017 (300.000.000.000.000.000) kali dibandingkan dengan massa seluruh alam semesta ini yang sudah dibagi dengan bilangan googol.

Ya sudah, dua ronde aja deh ya, dari dua ronde itu saja, kita sudah bisa membayangkan betapa besarnya bilangan googol itu. Alam semestapun ternyata tidak terlalu besar jika dihadapkan dengan si googol itu. Namun, jikalau anda mengatakan bilangan googol itu belum besar, maka cobalah bilangan yang jauh jauh jauh jauh jauh lebih besar lagi yaitu googolplex yang merupakan bilangan 1010100, yaitu bilangan 1 yang diikuti bilangan 0 sebanyak 10100 buah. Anda jangan pernah mencoba menuliskan bilangan ini secara lengkap (10.000.000.000.000……dan seterusnya), karena andaikan saja kecepatan menulis anda adalah setengah detik per karakter, maka anda baru selesai menulisnya lengkap setelah 5 x 1099 detik. Nah, bagi anda yang mungkin tidak punya sense of mathematics ataupun sense of physics maka mungkin tidak bisa menghitung membayangkan berapa lamanya 5 x 1099 detik itu. Ternyata setelah dihitung 5 x 1099 detik itu kira-kira sama dengan 1,6 x 1092 tahun!! Andaikan misalnya kiamat itu 5 milyar tahun lagi. Kenapa 5 milyar tahun?? Karena umur matahari kita diperkirakan akan redup 5 milyar tahun lagi pada saat reaktor nuklir alami matahari kita sudah kehabisan bahan bakar hidrogennya yang sudah diubah semuanya jadi helium. Pada saat matahari redup, tentu tidak ada lagi energi di bumi ini. Karena semua energi yang berada di Bumi ini semuanya dari energi matahari. Semua energi dari energi angin, energi air hingga energi yang berasal dari bahan bakar hidrokarbon tidak mungkin ada tanpa energi matahari. Semua makhluk hidup tidak akan mendapatkan energi. Semuanya mati dan beku. Pada saat itulah mungkin kiamat terjadi.

Ah, kok jadi membicarakan soal “kiamat”. Mari kita kembali ke topik semula. Jika kiamat itu 5 milyar tahun lagi, dan anda membutuhkan waktu sekitar 1,6 x 1092 tahun untuk selesai menuliskan bilangan googolplex secara lengkap maka berarti anda membutuhkan waktu sekitar 3.2 x 1082 atau 32.000.000.000.000.000.000.000
.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000
.000.000.000.000.000.000.000.000 kali
lebih lama dibandingkan anda menunggu hari kiamat !!!

Venus: Planet Rumah Kaca

Foto daratan Venus oleh Venera-13

Foto daratan Venus oleh Venera-13

Planet Venus

Planet Venus

Mungkin akhir-akhir ini anda sering mendengar tentang pemanasan global atau global warming. Ya, pemanasan global ini adalah kenaikan temperatur rata-rata di permukaan bumi selama beberapa dekade belakangan ini. Ya, selama dekade belakangan ini suhu rata-rata di permukaan bumi mengalami anomali dengan meningkatnya suhu rata-rata. Hanya beberapa daerah saja di muka bumi ini yang justru rata-rata suhu permukaannya turun kebanyakan di daerah lautan. Pemanasan global ini disebabkan oleh banyaknya gas-gas rumah kaca (greenhouse gas) yang akhir-akhir ini dilepaskan ke atmosfir akibat aktivitas-aktivitas manusia (yang kebanyakan adalah pembakaran bahan bakar berbasis hidrokarbon). Gas-gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfir dari aktivitas-aktivitas manusia tersebut adalah: gas CO2 (karbon dioksida), N2O (dinitrogen monoksida), CFC (kloroflourokarbon) dan CH4 (metana). Penebangan hutan yang terjadi di mana-mana turut memperparah terjadinya pemanasan global. Sebenarnya uap air juga merupakan gas rumah kaca. Namun uap air (yang kebanyakan berasal dari sumber-sumber alami) tidak memberikan kontribusi positif terhadap pemanasan global.

Omong-omong tentang pemanasan global, ada satu tempat di tata surya kita, di sebuah planet yang merupakan tetangga kita yang merupakan tempat di mana pemanasan globalnya benar-benar dahsyat yaitu: Planet Venus! Ya, planet yang berabad-abad diasosiasikan dengan kaum wanita ini karena planet ini kalau dilihat dari Bumi dengan menggunakan teleskop benar-benar terlihat ‘mulus’ dan tidak bopengan penuh dengan kawah-kawah seperti di Bulan ataupun Merkurius ataupun Mars. Padahal wanita juga banyak sekali yang nggak mulus loh! Padahal planet ini terlihat ‘mulus’ karena yang terlihat adalah awan dan atmosfir Venus yang ekstra tebal yang sangat kaya dengan CO2 (>95%). Sangking tebalnya sehingga awan dan atmosfir Venus ini menutup daratan planet ini yang sebenarnya juga bopengan.

Karena atmosfir Venus sangat kaya dengan CO2 dan juga karena ketebalannya, maka tak ayal lagi planet ini layak dinobatkan sebagai rajanya ratunya planet pemanasan global di tata surya kita. Suhu permukaan planet ini adalah >460°C ( >860°F) padahal planet yang paling dekat dengan Matahari yaitu Merkurius yang mendapat energi/panas matahari 4 kali dari planet Venus, suhunya pada siang hari (sisi yang menghadap matahari) panasnya hanya kira-kira 420°C (790°F). Hal ini berarti bahwa Venus merupakan planet yang terpanas permukaannya di antara planet-planet lain di tata surya kita. Suhunya pada malam hari juga tidak berbeda jauh, ini karena panas dari tempat yang menghadap matahari di bawa oleh angin di bagian bawah atmosfir ke bagian yang malam hari. Para ahli mengatakan kemungkinan zaman dahulu atmosfir Venus menyerupai atmosfir Bumi karena dahulu cukup banyak air di permukaan Venus. Namun karena air ini menguap dan banyak yang hilang ke angkasa maka mulailah efek rumah kaca yang memicu pemanasan global yang terjadi pada planet itu hingga saat ini.

Neraka di Venus ini diperparah dengan tekanannya yang sangat besar. Jikalau di Bumi, tekanan pada ketinggian di permukaan laut adalah sebesar 1 atmosfer (semakin tinggi elevasi semakin berkurang tekanan atmosfer) maka di Venus tekanan di permukaan planetnya adalah kira-kira sebesar 90 atmosfer! Dua wahana antariksa milik (bekas) Uni Soviet yaitu Venera 13 dan Venera 14 adalah satu-satunya wahana buatan manusia yang ‘nekad’ mendarat di permukaan Venus yang ganas itu di tahun 1982. Venera 13 bahkan sempat mengirimkan foto permukaan Venus seperti foto di atas. Foto tersebut adalah satu-satunya foto otentik permukaan Venus yang pernah diambil oleh manusia. Dengan keadaan planet Venus yang panas membara dengan tekanan udaranya yang ekstra besar, Venera 13 ‘hanya’ mampu bertahan selama kira-kira dua jam saja di planet tersebut sedangkan Venera 14 nasibnya lebih ‘kasihan’ lagi, hanya bertahan kurang dari satu jam saja. Sesudah itu kedua wahana antariksa itu hanya menjadi onggokan sampah saja di planet tersebut sampai saat ini…..

Nah, tentu planet Bumi tempat kita tinggal ini, tidak ingin bernasib sama dengan planet Venus ini. Pemanasan global harus dihentikan, sebab walaupun mungkin pemanasan global di Bumi belum separah di planet Venus, namun kenaikan suhu beberapa derajad Celsius saja, bisa menyebabkan melelehnya es di Antartika ataupun di Kalaallit Nunaat (Greenland) yang dapat menyebabkan daerah-daerah di pinggir pantai di seluruh dunia jadi tenggelam termasuk ibu kota kita Jakarta dan juga kota-kota besar lainnya… Nanti kalau ibu kota kita tenggelam, ibu kota kita pindah ke mana dong?? Nanti jadi rebutan alias ribut lagi…..!! :mrgreen:

_____________________________

Epilog:

Apakah anda tahu tekanan 1 atmosfir itu? Satu atmosfir itu kira-kira setara dengan 10.332 \: \frac{kg}{m^{2}}. Berarti setiap 1 meter persegi sebuah benda mendapatkan tekanan sebesar 10.332 kg (lebih dari 10 ton metrik!) Andaikan kira-kira luas permukaan kulit atau tubuh anda adalah 1,8 m2. Berarti anda setiap waktu di bumi ini memikul beban kira-kira sebesar 1,8m^{2} \times 10.332 \: \frac{kg}{m^{2}} \: \approx 18.600 kg atau lebih dari 18 ton metrik! Tapi kok tidak terasa?? Tentu saja, karena tubuh kita memang sudah “dibuat” dari sononya untuk memikul beban segitu. Nah, sekarang anda bisa membayangkan berapa besar tekanan di planet Venus yang sebesar 90 atmosfir itu…..