Category Archives: Astronomi

Di Bawah Sinar Bumi Purnama……..

 Di bawah sinar bulan purnama ♪♫♪……. Saya jadi ingat lagu keroncong yang syahdu tersebut yang judulnya dan penyanyinya saya sudah lupa. (Ada yang bisa mengingatkan saya??) Lagu tersebut adalah satu lagu dari mungkin ribuan lagu yang ada di dunia ini yang menggambarkan indah dan romantisnya sinar bulan purnama bagi mereka yang tengah asyik berduaan atau bertiga sama syetan kata pak ustadz. Namun itu adalah sinar bulan purnama…… Nah…. bagaimana dengan sinar bumi purnama?? Tentu karena kita hidup di planet Bumi kita tidak pernah akan bisa menikmati sinar bumi purnama.

Namun masalahnya lain jika anda tinggal dan hidup di bulan. Anda akan dapat mudah menikmati sinar bumi purnama. Pertanyaannya adalah kapan terjadinya bumi purnama di bulan?? Sebenarnya logikanya mudah dan sederhana. Fase bulan yang dilihat dari bumi tentu terbalik dengan fase bumi yang terlihat dari bulan. Jikalau di Bumi sedang dalam fase bulan purnama, maka di bulan orang bakalan sulit melihat Bumi karena bumi ada dalam fase ‘bumi baru’. Sebaliknya jika di bumi, bulan ada dalam fase bulan baru (seperti pada awal setiap bulan Islam) di mana bulan sulit dilihat dengan mata telanjang, maka di bulan, orang tengah menikmati pemandangan bumi purnama. Jadi salah satu saat yang tepat untuk menikmati bumi purnama dari bulan adalah pada saat Idul Fitri! Jadi nanti di masa depan jika ada paket perjalanan Idul Fitri ke bulan…. itulah saat yang tepat bagi anda untuk menikmati sinar bumi purnama dari bulan! :mrgreen:

Begitu pula jika di Bumi orang tengah menikmati gerhana matahari (pada fase bulan baru tentu saja), maka orang-orang di bulan tengah menikmati gerhana bumi yang cantik… di mana dengan instrumen optik yang cukup sederhana orang-orang di bulan dapat melihat sebuah titik kecil di Bumi. Titik kecil itulah yang merupakan bayangan bulan. Kebalikannya ketika di Bumi orang tengah menikmati gerhana bulan (tentu saja hanya terjadi pada fase bulan purnama), maka di bulan orang-orang tengah menikmati gerhana matahari!

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat ketika anda ingin menikmati sinar bumi dari bulan. Karena permukaan bulan ‘terkunci’ oleh bumi (tide-locked) atau dengan kata lain permukaan bulan yang menghadap ke Bumi selalu sama terus menerus selamanya, maka posisi bumi di langit bulan selalu stasioner (sama) untuk pengamat yang stasioner. Jadi jikalau rumah anda di bulan dekat dengan katulistiwa bulan yang selalu menghadap ke bumi, maka bumi akan selalu terlihat di titik zenith sepanjang masa, tidak pernah terbit dan tidak pernah terbenam. Tidak seperti kita melihat bulan dari bumi, di mana bulan terbit dan terbenam setiap hari. Di bulan, anda akan dengan mudah melihat fase bumi mulai dari bumi baru, bumi sabit, bumi purnama, bumi sabit dan kembali ke bumi baru. Apalagi di bulan tidak ada awan sehingga memudahkan kita untuk mengamati fase-fase bumi dari bulan setiap waktu. Sedangkan jika rumah anda berada dekat daerah kutub bulan maka bumi terlihat di dekat horizon bulan, juga stasioner, tidak pernah terbit dan tidak pernah tenggelam. Sebaliknya jika anda tinggal di bulan yang di permukaan yang tidak pernah terlihat dari bumi, maka anda tidak akan pernah bisa menyaksikan Bumi di langit bulan tentu saja. Jadi jangan berharap anda bisa menikmati sinar bumi purnama.

Nah…. pertanyaannya sekarang…. apakah sinar bumi purnama seromantis sinar bulan purnama?? Yang jelas bumi sebagai reflektor sinar matahari jauh lebih baik daripada bulan. Tetapi masalah romantis apa nggak, ya mungkin silahkan bertanya pada Neil Armstrong. Tetapi saya yakin Neil Armstrongpun tidak akan tahu. Kenapa?? Sebab ada dua hal: Pertama, belum tentu Neil Armstrong pernah benar-benar pergi ke bulan karena masih banyak juga orang yang tidak percaya bahwa ia pernah ke bulan karena lebih percaya teori konspirasi. Kedua, andaikan Neil Armstrong pernah benar-benar pergi ke bulan tentu tujuan utamanya adalah menjelajahi bulan dan bukan pacaran. Jadi mana sempat Neil Armstrong merasakan apakah sinar bumi purnama itu romantis apa nggak….. hehehe….. :mrgreen:

Mengapa Tidak Setiap Bulan Terjadi Gerhana Matahari Atau Bulan?

 

 

 

 

 

Sebenarnya artikel ini adalah bagian dari artikel sebelumnya dan masih juga berhubungan dengan bumi dan bulan. Namun karena jikalau artikel ini digabungkan akan sedikit panjang dan juga karena saya sudah agak lelah mengetiknya, terpaksa artikel itu saya bagi dua. Nah, biar artikel pertama lebih afdol maka akan dilengkapi dengan artikel ini yaitu menjelaskan “Kenapa Tidak Setiap Bulan Terjadi Gerhana Matahari” dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

Seperti dikatakan pada postingan sebelumnya bahwa bulan baru terjadi (yaitu ketika bulan “mustahil” ditemukan di malam hari) pada posisi 1 seperti ditunjukkan pada gambar sebelah bawah. Pada posisi 1 tersebut bulan berada di antara Bumi dan matahari. Bulan berputar mengelilingi Bumi dari posisi 1 ke posisi 2 dan seterusnya hingga kembali ke posisi 1 selama kurang lebih 1 bulan lamanya. Pertanyaannya kini adalah, jikalau setiap 1 bulan, bulan berada di posisi antara matahari dan bumi kenapa tidak terjadi gerhana matahari setiap bulan?? Padahal bukankah gerhana matahari itu terjadi jikalau piringan matahari tertutup oleh bulan?? Atau dengan kata lain bukankah gerhana matahari terjadi jikalau posisi bulan berada di antara bumi dan matahari (pada posisi 1)??

Jawabannya sederhana saja, itu karena bidang orbit bulan tidak lurus mendatar melainkan miring dengan sudut 5,2o seperti yang nampak pada gambar di sebelah kanan (gambar diambil dari sini). Biasanya setiap bulan, jikalau tiba pada posisi 1, bulan sedikit berada di atas atau di bawah bumi sehingga tentu saja tidak terjadi gerhana matahari. Hanya sekali2 bulan berada tepat atau kira2 tepat di antara matahari dan bumi sehingga timbulah gerhana matahari.

Nah, untuk gerhana bulan juga begitu. Gerhana bulan terjadi jika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi bulan. Nah, untuk itu untuk terjadi gerhana bulan tentu posisi bulan harus berada pada posisi 5 gambar di bawah. Namun gerhana bulan juga tidak terjadi setiap bulan dengan alasan yang sama seperti halnya gerhana matahari.

Pada gambar di sebelah atas, yang menggambarkan orbit bumi mengelilingi matahari dan orbit kecil bulan yang mengelilingi bumi, posisi yang paling memungkinkan untuk terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan adalah ketika bumi berada di posisi2 yang dihubungkan dengan garis putus2 dengan matahari.  Bisa dengan mudah dimengerti.

Kita lihat lagi gambar bawah, karena posisi gerhana matahari hanya bisa terjadi di posisi 1 sedangkan gerhana bulan terjadi pada posisi 5, dan bulan membutuhkan kira2 setengah bulan untuk bergerak dari posisi 1 ke posisi 5 maka adalah peristiwa yang mustahil jika siangnya terjadi gerhana matahari maka malamnya terdapat bulan purnama, ataupun adalah hal yang mustahil pula bahwa setelah siangnya terjadi gerhana matahari maka malam harinya terjadi gerhana bulan………

Nah demikianlah penjelasan sederhana mengenai terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan. Semoga bisa dimengerti.

Catatan:

Adalah suatu kebetulan yang sangat mengagumkan bahwa diameter matahari besarnya kira2 400 kali diameter besarnya bulan namun juga jarak matahari ke bumi adalah 400 kali jarak bumi ke bulan hingga memungkinkan piringan matahari terlihat kira2 sama besar dengan piringan bulan jika dilihat dari Bumi. Hal inilah yang memungkinkan terjadinya gerhana matahari total, sebuah pemandangan yang mungkin sukar didapat di planet lain baik di tata surya ini maupun di tata surya lain nun jauh di sana! (Gambar2 gerhana matahari dan gerhana bulan dapat anda dapatkan sendiri di Google dengan mudah).

Bagi yang bosan dengan masalah perbulanan dan permataharian :mrgreen: bisa mengunjungi blog alternatif saya di sini. 😛

 

Mengapa Kita “Tidak Bisa” Setiap Malam Melihat Bulan?

Bulan adalah benda langit yang paling dekat ke bumi, jaraknya dari Bumi rata-rata adalah 384.400 kilometer, termasuk jarak yang sangat dekat dibandingkan dengan benda-benda langit lainnya. Karena jaraknya yang “sangat dekat” tersebut, bulan adalah benda langit yang paling mudah dilihat dengan mata telanjang terutama pada malam hari. Pada malam hari bulan tampak “bersinar” dengan  terang, seolah2 bulan ingin menggantikan matahari dalam menerangi bumi pada malam hari. Namun, seperti yang kita pelajari dari SD, tentu bulan tidak memancarkan sinarnya sendiri, sinar yang mencapai mata kita dari bulan adalah cahaya sinar matahari yang dipantulkan oleh bulan sehingga bulan tampak seolah2 bersinar.

Terlepas dari faktor awan tebal di langit yang dapat menutupi bulan, kenapa kita “tidak bisa” setiap malam melihat bulan (walaupun langit bersih tanpa awan) ?? Sebenarnya bulan setiap hari selalu terbit dan terbenam secara teratur namun jikalau kita ingin menemukan bulan di waktu yang salah pada malam hari, maka kita tidak akan dapat menemukan bulan di langit. Ini disebabkan karena setiap malam atau setiap hari bulan terbit dan terbenam sekitar 50 – 60 menit lebih telat dari malam sebelumnya.

Sekarang lihat gambar di atas (gambar diambil dari sini). Andaikan bulan berada di posisi 1. Inilah yang dalam astronomi disebut dengan bulan baru. Pada posisi bulan seperti inilah maka bulan baru penanggalan qomariyah (penanggalan Arab) dimulai. Di posisi 1 ini, posisi bulan sangat dekat dengan matahari jikalau kita melihatnya dari bumi. Dalam posisi ini tentu waktu terbit  bulan hampir sama dengan waktu terbit matahari (begitu pula dengan waktu terbenamnya bulan kira2 hampir sama dengan waktu terbenamnya matahari) sehingga pada saat bulan dalam posisi 1 ini kita mustahil menemukan bulan pada malam hari. Seiring dengan berlalunya waktu, beberapa hari kemudian, bulan mencapai pada posisi 2. Pada posisi ini bulan kira2 terbit pada pukul 9 pagi dan terbenam pada pukul 9 malam. Nah, pada posisi bulan seperti ini kita bisa melihat bulan sabit pada malam hari sebelum pukul 9. Namun tentu kita mustahil menemukan bulan yang tengah pada posisi 2 ini di tengah malam. Nah, beberapa hari kemudian di posisi 3 (pada posisi ini nampak bulan separuh dari bumi) bulan kira2 terbit pukul 12 siang dan terbenam pada kira2 pukul 12 malam. Nah pada posisi bulan seperti ini kita mustahil menemukan bulan lewat tengah malam.  Sekarang pada posisi bulan purnama, yaitu pada posisi 5, posisi bulan tentu berseberangan dengan posisi matahari. Pada posisi inilah kita dapat menemukan bulan di sepanjang malam. Itu disebabkan karena posisi bulan berseberangan dengan matahari, maka pada posisi bulan purnama ini (posisi 5) bulan terbit pada saat kira2 matahari terbenam dan bulan terbenam pada saat kira2 matahari akan terbit. Beberapa hari kemudian pada saat bulan pada posisi 7 (kembali menjadi bulan separuh), di posisi ini justru kebalikan daripada posisi 3. Di posisi 7 ini, bulan baru terbit  kira2 pukul 12 malam dan baru terbenam  kira2 pukul 12 siang. Nah, pada bulan dalam posisi 7 ini, tentu kita mustahil menemukan bulan di malam hari sebelum tengah malam. Begitulah seterusnya hingga bulan mencapai kembali pada posisi 1. Nah, hubungannya secara kasarnya dengan penanggalan qomariyah (Islam) adalah jikalau anda dapat menemukan bulan (terutama bulan sabit) sebelum tengah malam (terutama beberapa jam setelah matahari terbenam) maka itu berarti kita berada pada tanggal2 muda dalam bulan Islam. Jikalau kita tidak menemukan bulan sama sekali sebelum tengah malam, itu pertanda kita berada pada tanggal2 tua dalam bulan Islam.

Nah…. sekarang jelas kan….. kenapa setiap malam kita belum tentu dapat menemukan bulan di langit?? 😀

Catatan:

Lamanya peredaran bulan dari posisi 1 kembali ke posisi 1 lagi adalah kira2 1 bulan. Namun tentu yang dimaksud adalah satu bulan qomariyah, sedangkan untuk satu bulan kalender syamsiah (kalender Masehi) lebih sedikit panjang (kecuali bulan Februari yang justru lebih pendek dari waktu 1 bulan qomariyah) karena panjangnya 1 bulan kalender syamsiah disesuaikan dengan satu kali peredaran bumi terhadap matahari.

Perjalanan Luar Angkasa yang Mandiri

Sebuah acara di saluran televisi National Geographic Channel tentang perjalanan masa depan yang dicanangkan oleh NASA ke planet Mars (planet tetangga kita di tata surya), yang aku lupa nama acaranya apa, membuat aku berfikir dan ingin menuangkan fikiranku ke dalam tulisan ini. Aku yang memang dari kecil, sejak tahun 1970an, selalu membayangkan perjalanan ruang angkasa di tahun 2000an kelak, kini hanya tetap berangan2 saja, karena ternyata teknologi manusia saat ini belum mampu membawa manusia ke planet terdekatpun dari Bumi. Dari sinilah lahir ide tulisan ini, aku coba membayangkan bagaimana rumitnya perjalanan ruang angkasa ini walaupun kerumitan dari perjalanan angkasa ini adalah mungkin kerumitan yang paling simpel namun tetap saja ‘kerumitan’ ini masih sangat sulit diatasi oleh teknologi saat ini.

Kerumitan apa yang saya fikirkan? Yang paling dasar adalah tentu kerumitan komunikasi. Seperti yang kita ketahui, perjalanan ruang angkasa saat ini dikontrol dan dimonitor oleh pusat pengendali di Bumi, kalau di AS mungkin seperti di Houston, Texas dan di Rusia mungkin seperti di Baikhonur, Kazakhstan. Pemonitoran dari bumi ini tentu saja penting, sebab jikalau terjadi sesuatu dengan pesawat ruang angkasa yang diawaki oleh astronot, yang tidak bisa diatasi oleh sang astronot, tentu bantuan dari bumi baik berupa bantuan fisik ataupun saran dari para ahli akan sangat membantu sang astronot. Nah, itu jikalau pesawat ruang angkasa (kapsul) berada di dekat2 bumi. Sekarang bagaimana untuk perjalanan jauh?? Sekarang kita bayangkan dulu perjalanan ke Mars dengan teknologi komunikasi tercanggih saat ini. Kita mengetahui jarak Matahari-Mars adalah kira-kira 225 juta kilometer, sedangkan jarak Matahari-Bumi kira2 adalah 150 juta kilometer. Jadi secara (sangat) kasar (sekali), untuk kesederhanaan perhitungan, taruhlah jarak Bumi-Mars adalah 75 juta kilometer. Nah, sekarang andaikan pesawat angkasa di Mars ingin berkomunikasi dengan Bumi dengan menggunakan teknologi komunikasi saat ini, dan karena sinyal radio, termasuk sinyal HP, bergerak dengan kecepatan cahaya (lebih lambat sedikit sebenarnya) yaitu 300.000 kilometer per detik, maka sinyal radio baru akan sampai di bumi setelah:

\frac{75.000.000\:km}{300.000\frac{km}{detik}} = 250 detik atau sama dengan 4 menit 10 detik.

Apa artinya? Itu berarti kalau kita berseru “Halo” lewat komunikasi radio (atau handphone misalnya) dari planet Mars, maka kata “Halo” kita baru terdengar di Bumi 4 menit 10 detik kemudian!

Sekarang bagaimana jikalau pergi ke planet yang terjauh di tata surya yaitu: Neptunus! (Pluto sejak 2006 tidak dianggap sebagai planet lagi dan sejak itu gelar terhormat planet terjauh di tata surya jatuh pada planet Neptunus.) Jarak Matahari-Neptunus adalah 4,5 milyar kilometer, jadi (lagi2) secara kasar (sekali) jarak antara Bumi-Neptunus adalah 4,5 milyar kilometer dikurang 150 juta kilometer = 4,35 milyar kilometer. Nah, sekarang berapa lama sinyal dari planet Neptunus untuk sampai ke Bumi?

\frac{4,350,000,000\:km}{300.000\frac{km}{detik}} = 14.500 detik atau lebih dari 4 jam! (Tepatnya: 4 jam, 1 menit, 40 detik). Jadi kalau kita mengatakan “Halo” dari Neptunus maka suara “halo” kita baru terdengar di Bumi sekitar 4 jam kemudian!! Nah, bagaimana sekarang dengan tempat2 di luar tata surya kita yang jauh lebih jauh dibandingkan planet Neptunus, yang pengukurannya sudah memakai satuan “tahun cahaya” dan bukannya kilometer lagi?? Jikalau misalnya sebuah tempat yang jauhnya 100 tahun cahaya dari bumi, maka jikalau kita mengatakan “Halo”, maka suara “Halo” kita baru terdengar di bumi 100 tahun kemudian!! Mungkin pada saat suara “Halo”nya diterima di Bumi, orang yang mengatakan “Halo”nya sudah mampus duluan! :mrgreen: Nah, dengan begini tentu komunikasi radio (termasuk audiovisual tentu saja) menjadi sangat tidak efisien. Nah, sekarang apa yang perlu dilakukan??

Seratus tahun cahaya dalam skala ruang angkasa sebenarnya adalah skala yang sangat kecil. Galaksi kita saja, galaksi Bima Sakti (Milky Way) mempunyai diameter 100.000 tahun cahaya, dan di luar sana terdapat galaksi-galaksi lain yang tidak terhitung jumlahnya. Sedangkan galaksi Andromeda, galaksi yang terdekat dengan kita berjarak kira2 2.500.000 tahun cahaya! Jadi jikalau di galaksi Andromeda ada BTS dan bisa henpon2an dengan bumi, maka suara “halo” kita baru bisa diterima dan didengar di Bumi 2.500.000 tahun kemudian setelah kita ngomong “halo”! Karena menurut mbah Einstein, tidak ada satu bendapun yang dapat melaju melebihi kecepatan cahaya maka kemungkinan besar masalah keseulitan komunikasi dengan jarak yang sangat  sangat sangat jauh nampaknya akan menjadi masalah yang abadi. Maka banyak ilmuwan mengatakan mungkin perjalanan ruang angkasa di masa mendatang memang harus mandiri dan tidak bisa dikontrol dari Bumi karena hampir mustahil mengontrol perjalanan ruang angkasa yang sangat jauh dari Bumi.

Pilihan pertama untuk memperlancar perjalanan ruang angkasa yang jauh adalah, manusia harus membuat koloni di planet2 lain yang rute perjalanannya akan dilalui. Namun tentu saja membuat koloni di planet2 lain tidak semudah apa yang diucapkan. Pilihan kedua, manusia berharap di luar angkasa menemukan wormhole, ini bukan lubang cacing di tanah, tetapi jalan pintas menembus dimensi ruang dan waktu yang dapat mempersingkat perjalanan ruang angkasa secara dramatis! Namun sayang sampai saat ini keberadaan wormhole masih hanya sekedar hipotesis saja. Pilihan ketiga adalah pilihan yang paling logis untuk saat ini yaitu kapal ruang angkasa harus mandiri! Mandiri bagaimana?? Minimal paling sedikit apabila terjadi masalah baik teknis maupun non-teknis yang terjadi di pesawat angkasa itu harus dapat diatasi oleh para krew pesawat tersebut sendiri tanpa bantuan dari Bumi sama sekali.

Sedikit detailnya adalah begini: Pesawat ruang angkasa tersebut harus membawa pakar dari berbagai bidang ilmu mulai dari dokter (berbagai macam dokter spesialis tentu saja!), insinyur (berbagai macam insinyur, minimal elektro dan mesin), psikolog, dan sebagainya. Pesawat tersebut juga harus bisa berfungsi sebagai rumah sakit yang selengkap yang terbaik yang ada di Bumi, karena jikalau ada krew yang jatuh sakit dan misalnya perlu operasi dengan peralatan canggih maka pesawat tersebut tidak perlu kembali ke bumi. Jikalau ada suku cadang pesawat yang rusak, maka harus selalu tersedia suku cadangnya. Caranya bisa dengan membawa suku cadang sebanyak2nya untuk setiap bagian yang tentu saja tidak praktis, atau suku cadang harus bisa dibuat di kapal tersebut! Nah lho! Juga yang tak kalah penting tentu adalah makanan! Makanan harus juga bisa dihasilkan di atas pesawat angkasa karena makanan tak mungkin dibawa banyak dari bumi karena tentu dapat menjadi kadaluwarsa. Juga oksigen yang cukup harus dapat di-generate di atas pesawat angkasa atau disirkulasi di atas pesawat ruang angkasa (yang ini mungkin tidak terlalu masalah apalagi dengan teknologi yang akan datang). Dan yang senang science fiction, tentu berharap pesawat angkasa harus dapat mempertahankan dirinya sendiri kalau diserang alien tanpa bantuan dari bumi! Untuk urusan membawa segudang pakar dari berbagai macam ilmu tentu di masa mendatang bisa diharapkan untuk digantikan oleh AI (Artificial Intelligence), di mana seluruh database dan knowledge-base di berbagai bidang ilmu dapat dimasukkan ke dalam superkomputer pesawat angkasa, walaupun tentu harus ada beberapa orang pakar juga yang harus ikut dalam pesawat (pertanyaannya: Percayakah anda bahwa AI di masa mendatang bisa menggantikan total peran kepakaran manusia?). Menariknya AI juga diharapkan bisa juga diharapkan untuk “menghibur” manusia, hiburan tersebut dapat berupa hologram hidup dalam bentuk orang-orang yg dicintai (keluarga) para krew astronot yang mereka tinggalkan di bumi yang dapat diajak bercakap2 seolah2 mereka bercakap2 dengan anggota keluarga mereka sendiri. Hologram di masa mendatang juga diharapkan dapat menampilkan suasana di Bumi di atas pesawat ruang angkasa mereka sehingga para krew secara psikologis dapat menjadi lebih nyaman karena lebih merasa seperti di rumah sendiri.

Yah, begitulah sekelumit pesawat ruang angkasa yang harus mandiri jikalau ingin menempuh jarak sangat jauh di ruang angkasa. Pendek kata, pesawat angkasa tersebut harus dapat menjadi sebuah kota mandiri di ruang angkasa, atau bahkan harus menjadi “planet” tersendiri dan blogsfer biosfer tersendiri. Dengan begini aku bisa mengerti kerumitan perjalanan ruang angkasa yang sangat jauh dan sadar kenapa perjalanan ruang angkasa (yang jauh) masih tetap menjadi angan2 di masa kini………….

Amerika Pernah Mendaratkan Astronot di Bulan??

Bendera yang kusutMoon Hoax??Moon Hoax??

Isu apakah Amerika pernah mendarat di bulan, bukanlah sebuah isu baru. Isu ini sudah mulai berkembang sejak tahun 1970an. Isu ini mendapat angin segar ketika pada tahun 1978, dibuat film oleh Hollywood yang berjudul Capricorn One yang bercerita tentang misi berawak NASA ke planet Mars, yang pada saat-saat terakhir  sebelum keberangkatan diketahui bahwa Sistem Penopang Kehidupan (Life Support System) yang berada di pesawat angkasa tersebut mengalami kegagalan yang menyebabkan misi berawak ke Mars tidak mungkin dilakukan. Namun oleh NASA the show must go on, dan dibuatlah rekayasa seolah-olah NASA memang telah mendaratkan misi berawaknya ke Mars, padahal laporan langsung pendaratan di Mars dibuat di sebuah studio televisi rahasia. Para astronot dipaksa untuk mengikuti skenario yang ditetapkan oleh NASA dengan imbalan dan embel-embel bahwa tugas rekayasa ini sebagai tugas patriotik. Tentu saja para astronot ini harus tutup mulut selama hidupnya. Mula-mula mereka enggan melakukannya, namun akhirnya mereka mau melakukannya. Namun setelah itu terjadi skenario yang tidak terduga, ternyata kapsul angkasa ‘palsu’ mereka meledak di udara, ini berarti mereka seharusnya tewas, dan mereka harus berpisah dari sanak saudara serta sahabat mereka selama-lamanya!

Tahun 2001, jaringan televisi Fox di AS, menyiarkan acara yang berjudul “Conspiracy Theory: Did We Land on The Moon?” yang dibawakan oleh salah satu aktor dari the X-Files, Mitch Pileggi (Saya menontonnya di lewat stasiun televisi StarWorld tahun 2004). Acara ini mencuatkan kembali isu moon hoax ini, yang pertama kali diprakarsai oleh Bill Kaysing (1922-2005) dalam bukunya: “We Never Went to the Moon: America’s Thirty Billion Dollar Swindle”.

Nah, inilah 5 sanggahan paling populer yang dipercayai oleh para Hoax Believer (HB) kenapa mereka percaya NASA (Amerika) tidak pernah mendaratkan manusia di bulan, sekaligus saya sertakan juga 5 jawaban dari mereka yang tetap percaya bahwa Amerika telah mendarat di bulan.

1. Hoax Believer: Adalah aneh bagi foto-foto yang diambil di bulan yang tidak menunjukkan adanya bintang di langit satupun! Padahal langit di bulan selalu berwarna hitam kelam. Jadi ke mana perginya itu bintang-bintang? Sepertinya foto-foto tersebut dibuat di studio!

Jawaban Pendukung NASA/NASA supporter (NS): Langit di bulan memang selalu berwarna hitam, tidak peduli apakah itu siang atau malam, karena di bulan memang tidak ada atmosfir, tidak seperti halnya di bumi yang pada siang hari langit berwarna biru karena cahaya matahari disebarkan di atmosfir. Jadi kemana perginya bintang-bintang? Bintang-bintang tetap berada di situ! Tetapi terlalu pudar untuk dapat difoto. Ingat! Pengambilan gambar dilakukan pada saat pagi hari waktu bulan, pada saat matahari dekat di horizon dan pengambilan gambar astronot yang berada di darat atau di horizon yang berarti dekat dengan piringan matahari secara deklinasi. Di tambah pula kecepatan rana pada settingan kamera yang harus dipasang cepat agar supaya gambar tidak terlalu terang, namun itu berarti juga bahwa benda2 yang bersinar redup seperti bintang tidak dapat tertangkap di dalam gambar.

2. HB : Nah, di pesawat lunar lander yang mendarat di bulan, tidak ada kawah pada bekas pendaratan, padahal bekas semburan roket dari lunar lander yang mendarat itu secara logika harus meninggalkan bekas kawah di bekas semburan roket pada saat pendaratan!

NS : Di Bumi, udara atau atmosfir menjadi hambatan atau tahanan dari seluruh arah bagi semburan roket, itu sebabnya semburan roket menjadi lebih terarah ke bawah dan semburan roket akan menimbulkan tekanan yang besar ke bawah sehingga menimbulkan kawah di bekas pendaratan, apalagi pada permukaan yang berpasir/bertanah (tidak beraspal). Di Bulan tidak ada udara atau atmosfir yang menahan semburan roket, sehingga semburan roket terjadi ke segala arah dan tidak terkonsentrasi ke bawah, sehingga tekanan ke bawah yang ditimbulkan oleh semburan roket akan sangat berkurang, itu sebabnya maka tidak ada bekas kawah pada semburan roket.

3. HB: Bendera Amerika yang ditancapkan terlihat seperti berkibar di dalam foto, padahal di bulan tidak ada udara jadi tidak mungkin bendera itu bisa berkibar!

NS: Bendera yang ditancapkan di bulan memakai dua buah tiang, yang satu tiang vertikal seperti yang kita pakai untuk mengibarkan bendera di bumi, namun di bulan, agar dapat terlihat ‘berkibar’ perlu satu tiang horizontal lagi di atas, itu karena di bulan tidak ada atmosfir. Nah, yang terlihat seperti ‘berkibar’ itu sebenarnya bukan ‘berkibar’ tetapi karena bendera tersebut kusut karena dilipat agak sembarangan sewaktu dibawa ke bulan. Nah, bendera yang kusut tidak bisa langsung menjadi rapih tegak, apalagi di bulan yang tidak punya atmosfir dan daya tarik yang lemah. Di Bumi bagian bawah bendera dapat ditarik oleh gravitasi bumi yang lebih kuat ke bawah sehingga membantu bendera yang kusut menjadi lebih licin, begitupula dengan udara yang bergerak atau angin sedikit banyak ikut melicinkan bendera yang kusut.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa bendera itu terlihat berkibar karena tiang yang horizontal di atas kurang panjang sehingga bendera tersebut menjadi ‘bergelombang’ ketika akan ‘dikibarkan’, jadi yang terlihat seperti berkibar itu adalah bendera yang ‘bergelombang’ karena tiang horizontal yang kurang panjang. Konon, memang efek ‘gelombang’ ini sengaja dibuat oleh para astronot sehingga bendera nampak seperti berkibar.

4. HB: Ketika pesawat (lander) berangkat lepas landas dari bulan kembali menuju bumi, tidak ada api pancaran roket yang terlihat, setiap roket tentu mempunyai api pancaran roket ketika lepas landas! Jadi lepas landas pesawat tersebut palsu!

NS: Ada sebuah penjelasan sederhana kenapa kita tidak bisa melihat api pancaran roket pada saat pesawat lepas landas dari bulan! Itu karena bahan bakar yang digunakan oleh lander yang tidak menimbulkan api pancaran roket. pesawat (lander) tersebut menggunakan bahan bakar campuran antara hidrazin (N2H4) dan dinitrogen tetroksida (N2O4). Campuran bahan bakar ini tidak menimbulkan api pancaran roket yang terlihat.

5. HB: Radiasi yang terdapat di sabuk van Allen dan di luar angkasa dapat membunuh astronot dalam beberapa menit. Hal ini juga didukung oleh pernyataan mantan seorang kosmonot bekas Uni Soviet yang terlibat dalam program penjelajahan bulan yang dilakukan bekas Uni Soviet.

NS: Menurut banyak pendukung NASA, pernyataan HB soal radiasi ini sangat tidak masuk akal. Betul jikalau para astronot tidak terlindungi, bisa jadi radiasi akan membunuh para astronot jika astronot2 tersebut berada di sabuk van Allen dalam waktu yang cukup lama. Namun perjalanan Apollo ini dikatakannya termasuk ‘cepat’ sehingga tidak cukup waktu bagi partikel-partikel dan energi-energi radian memasuki tubuh astronot dalam jumlah yang mematikan. Lagipula astronot terlindung oleh lapisan metal pesawat angkasa yang dikatakan tentu saja dapat memblok hampir semua radiasi yang mengenai pesawat angkasa tersebut.

Sebenarnya masih banyak sekali argumen-argumen para Hoax Believers yang diajukan yang ‘mendukung’ teori konspirasi bahwa Amerika/NASA tidak pernah mendarat di bulan. Namun semuanya ‘bisa dijawab’ oleh NASA dan para pendukungnya dengan ‘cukup tangkas’. Hanya satu pertanyaan saja yang tidak bisa dijawab oleh NASA dan pendukungnya dengan baik dan jelas, yaitu: “Kenapa setelah hampir 40 tahun NASA tidak pernah mengirimkan manusia ke bulan lagi!” Itulah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan memuaskan oleh NASA (dan para pendukungnya)! NASA memang merencanakan mengirimkan astronotnya kembali ke bulan tahun 2018 (Itupun belum tentu jadi ataupun tepat waktu)! Kenapa harus menunggu 11 tahun untuk merencanakan pergi ke bulan dengan teknologi yang lebih canggih dibandingkan teknologi tahun 1960an?? Padahal di tahun 1960an, NASA hanya membutuhkan 7 tahun untuk merencanakan pergi ke bulan! Sungguh sesuatu hal yang sangat aneh. Baru-baru ini satelit atau wahana ruang angkasa Uni Eropa SMART-1 yang salah satu tugasnya memotret permukaan bulan, mengatakan telah menemukan/memfoto dari jarak jauh bekas-bekas pendaratan Apollo di bulan, namun SMART-1 tidak pernah mengatakan menemukan tanda-tanda jejak-jejak atau tanda-tanda bekas manusia di bulan. Mendaratkan wahana tak berawak di bulan tentu berbeda dengan mengirimkan manusia ke bulan, mengirimkan manusia ke bulan tentu jauh lebih sulit dibandingkan mengirimkan wahana tak berawak ke bulan.

Namun ada satu faktor yang juga harus diperhitungkan oleh para HB, yaitu (terutama di masa perang dingin), jikalau AS/NASA memalsukan pendaratan di bulan, tentu yang paling berkompeten (dan juga yang pasti paling bersemangat) dalam membongkar kasus ini adalah bekas Uni Soviet atau Rusia, karena merekalah di luar AS yang mempunyai kemampuan teknologi yang paling baik guna membongkar kepalsuan ini. Dan tentu fihak (bekas) Uni Soviet dapat menceritakan atau menyimpulkan lebih baik tentang isu teori konspirasi ini. Namun sampai saat ini Uni Soviet tetap bungkam (atau tidak peduli?) dalam kasus ini.

Nah bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda percaya bahwa AS telah mendaratkan astronotnya di bulan tahun 1969 dengan teknologinya yang masih ‘primitif’ untuk ukurang sekarang? Kalau saya pribadi saya hanya 55% percaya AS telah berhasil mendaratkan manusia di bulan.

Fakta Menarik:

  • Jikalau anda mempunyai sebuah programmable calculator mungkin yang bermerk Casio, anda mungkin tidak sadar bahwa kalkulator anda tersebut jauh lebih canggih dibandingkan komputer yang mengatur perjalanan Apollo 11. Ya, mikroprosesor yang berada di kalkulator anda tersebut lebih cepat dibandingkan dengan prosesor yang ada di komputer yang mengatur perjalanan Apollo 11 ke bulan! Dan juga RAM (memory)-nya  lebih besar daripada komputer NASA tahun 1960an tersebut.
  • Pesawat ulang-alik AS (yang dianggap sebagai yang tercanggih), dalam sejarah penerbangannya hanya bisa terbang di luar angkasa maksimal sekitar 1000 mil dari permukaan bumi. (Tidak ada seperempatnya jarak Bumi-Bulan). Prestasi ini tentu saja sangat jauh dari prestasi Apollo 11 sampai 17 yang sudah berhasil mendaratkan manusia di bulan. Apakah teknologi NASA tahun 1960an lebih maju dibandingkan teknologi NASA zaman sekarang??

Musisi Rock Sekaligus Ilmuwan!

Siapa bilang pemusik rock dan ilmuwan selalu bertolak belakang? Inilah setidaknya yang ingin dibuktikan oleh Brian May, gitaris Inggris dari grup musik rock legendaris terkenal Queen di tahun 1970-1980an, yang lagu-lagunya masih banyak diputar dan dinikmati hingga kini. Saya sendiri masih menyimpan CD-CD bajakan album-album dari Queen ini, Love of My Life, You Take My Breath Away, Who Needs You, 39 (yang berirama semi-Country yang bagus), All Dead All Dead, Killer Queen dan Bohemian Rhapsody adalah lagu-lagu favorit saya yang bahkan hingga kini saya belum bosan mendengarkannya. Bagi para penggemar musik rock era 1970-an, Brian May, yang lahir di Middlesex, Inggris ini, tentu lebih terkenal sebagai pemusik rock atau lebih tepat posisinya sebagai seorang gitaris, meskipun ia juga dapat berperan sebagai penyanyi utama, keyboardist, pemain ukulele, dan juga pemain harpa. Permainan harpanya cukup menawan dalam lagu “Love of My Life“:

Love of my life you hurt me, You’ve broken my heart, and now you leave me… Love of my Life can’t you see? Bring it back, Bring it back, Don’t take it away from me, because you don’t know what it means to me…… (halaaaah kok malah nyanyi! :mrgreen: )

Namun tidak banyak yang tahu, bahkan mungkin banyak penggemar musik rock sendiri, atau tidak perduli bahwa Brian May sebenarnya adalah juga seorang ilmuwan! Ya, orang mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa Brian May adalah seorang pakar astronomi! Bahkan baru-baru ini, ia berhasil mendapatkan gelar Ph.D-nya dari Imperial College London departemen fisika. Tidak tanggung-tanggung bidang yang dipilihnya adalah bidang astrofisika! Judul disertasi Ph.D-nya adalah: “A Survey of Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud”. Namun, perlu lebih dari 30 tahun bagi Brian May untuk menyelesaikan disertasi tersebut! Bukan karena ia bodoh, namun karena pekerjaannya sebagai musisi rock tingkat dunia yang berpenghasilan puluhan jutaan dolar per tahun yang menyita energinya. Brian May memulai disertasinya tahun 1973, namun ia terpaksa harus menunda disertasinya itu karena bersama-sama dengan Freddy Mercury, Roger Taylor dan John Deacon yang tergabung dalam grup musik rock Queen tengah mulai menanjak reputasinya di tingkat dunia. Namun kesibukannya sebagai pemusik rock tidak membuat cintanya kepada benda-benda langit di luar angkasa berkurang, ia bersahabat dekat dengan Sir Patrick Moore, astronomer paling kenamaan Inggris yang kini berusia 84 tahun yang juga sekaligus presenter TV acara-acara sains terutama astronomi di stasiun televisi BBC Inggris. Bahkan Brian May adalah kontributor tetap acara yang dibawakan Sir Patrick Moore yang berjudul “The Sky at Night” yang mulai mengudara tahun 1957 hingga sekarang di stasiun televisi BBC. Bahkan Brian May bersama dengan Sir Patrick Moore dan juga seorang ahli kosmologi Inggris lulusan Universitas Oxford Inggris bernama Chris Lintott membuat buku berjudul : “Bang! : The Complete History of the Universe” yang saya lihat di toko buku Gramedia Bandung harganya sekitar Rp 400.000,-an. Coba harganya hanya Rp. 200.000,- pasti saya beli deh! Bukunya sendiri cover-nya keren abis, ada gambar animasi big bang 3 dimensi yang menawan!

Brian May, yang memulai disertasi Ph.D-nya pada usia muda akhir 20-an, karena kesibukannya baru memperoleh gelar Ph.D-nya di usianya yang ke-60, walaupun ia sudah hidup “sangat nyaman” sebagai musisi rock tingkat dunia, namun kecintaannya terhadap sains tidak surut, inilah yang menyebabkan ia tetap semangat untuk memperoleh gelar Ph.D-nya meskipun usianya tidak muda lagi. Sebuah contoh yang bagus dan menarik untuk “anak-anak muda” yang tengah bergelut untuk meraih gelar Ph.D-nya yang juga disibukkan oleh pekerjaannya!The Sky at Night

Catatan Mengenai  Brian May:

 Brian May di usianya yang ke-60 sekarang masih aktif sebagai musisi rock.

Brian May sangat anti dengan rokok, dan ia juga sangat membatasi konsumsi alkohol. Ia hanya minum alkohol untuk sosialisasi saja, dan ia sama sekali tidak mau minum alkohol ketika akan mengadakan show panggung. Minuman favoritnya adalah teh.

Di bukunya “Bang!: The Complete History of the Universe“, foto Brian May yang berambut panjang mirip dengan Sir Isaac Newton, ilmuwan Inggris terkenal abad ke-17/18, hanya saja Sir Isaac Newton yang panjang adalah toupée-nya bukan rambutnya! Huehehehe…. informasi terakhir ini nggak penting banget! :mrgreen:

Tadinya mau 12 Oktober tetapi……

Tadinya sejak awal Ramadhan (bahkan jauh sebelumnya!) saya sudah mengetahui bakal ada dualisme lagi dalam penentuan tanggal 1 Syawal 1428H. Dan sejak pertama kali saya mengetahui adanya dualisme saya sudah menetapkan bahwa saya akan memilih lebaran tanggal 12 Oktober. Hmmmm apa saya ‘pengikut’ Muhammadiyah? Hmmm… nggak juga deh! Malah saya tidak perduli dengan ormas-ormas Islam seperti itu. Kalau ditanya saya Islamnya ‘ngikut’ mana?? Muhammadiyah, NU, atau lainnya? Jawab saya: saya sih hanya Islam, bukan Muhammadiyah, bukan NU, dan juga segala bukan yang lainnya sebagai embel-embel Islam. Lalu kenapa pada awalnya saya pilih tanggal 12 Oktober?? Oooo… itu karena:

  1. Saya maunya pilih lebaran yang cepet!!   😛
  2. Saya cenderung untuk memakai  metode hisab (perhitungan) daripada rukyat (penampakan hilal).  Yah,  saya menyadari bahwa selama ada dua metode hisab dan rukyat, selama itu pula pasti ada kemungkinan untuk berbeda awal Ramadhan dan Idul Fitrinya.  Yang menggunakan metode hisab tentu cenderung untuk  lebih cepat dalam penentuan awal bulannya (termasuk penentuan Ramadhan dan Syawal), mana ada yang menggunakan metode hisab cenderung lebih lambat daripada yang menggunakan metode rukyat!
  3. Mengapa saya menggunakan metode hisab? Pertama, ya tentu saja dalam Al-Qurân tidak ada pelarangan dalam menggunakan metode hisab. Kedua, penggunaan metode hisab hasilnya cenderung lebih bisa diprediksi, untuk itu hasilnya cenderung lebih seragam sehingga lebih bisa menyatukan ummat Islam di seluruh dunia.
  4. Pemerintah sebenarnya juga menggunakan metode hisab secara tidak langsung. Hanya saja standard penentuan awal bulannya berbeda, pemerintah (Depag) menentukan awal bulan dimulai pada saat bulan sudah setinggi berapa derajad (lupa lagi berapanya!) dari matahari, pada saat matahari terbenam. Sisanya ya menggunakan metode hisab juga! Wong kalendernya aja udah dicetak setahun sebelumnya, ya pasti itu menggunakan metode hisab juga! Mana bisa hilal awal bulan Syawal 1428H dilihat setahun sebelumnya!!

Namun, setelah saya cek dan cek lagi, walaupun sebenarnya keputusan berlebaran tanggal 12 Oktober tidak salah juga, namun akhirnya saya memutuskan untuk berlebaran tanggal 13 Oktober! Hal ini disebabkan karena:

  1. Pemerintah pasti resmi menetapkan 1 Syawal 1428 H jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007. (Emang gue pikirin! 😛 )
  2. Nah, ini dia pertimbangan seriusnya! Saudi Arabia dan Mesir, dua negara yang selalu kompakan dalam penentuan awal bulan, dari dulu sudah meninggalkan metode Rukyat. Sebelum tahun 1420H atau tahun 1999, Saudi Arabia menetapkan metode yang sedikit ekstrim dalam menentukan setiap awal bulan, yaitu jikalau pada saat matahari terbenam umur bulan sudah 12 jam atau lebih, maka hari yang berakhir pada hari itu (pada saat matahari terbenam) sudah memasuki tanggal 1 bulan baru, walaupun pada matahari terbenam sebelumnya, yaitu awal hari itu, belum terjadi Ijtima atau konjungsi bulan! (Ingat: dalam penanggalan Islam, hari dimulai pada saat matahari terbenam bukan pada jam 12 tengah malam). Jadi dahulu perbedaan Hari Raya di Saudi Arabia dan Indonesia bisa mencapai 2 – 3 hari! Namun setelah tahun 1420H, Saudi Arabia (dan Mesir) mengubah ketentuan awal bulan baru, yaitu awal bulan harus dimulai pada hari pertama saat bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam. Nah dengan demikian perbedaan hari Raya antara Saudi Arabia dan negara-negara lain termasuk Indonesia bisa diminimasi menjadi maksimal satu hari saja. Untuk itu saya berikan tabel terbenamnya matahari dan bulan untuk Bandung dan Mekkah tanggal 11 dan 12 Oktober 2007.
Kota/Tanggal Matahari Terbenam Bulan Terbenam
Bandung, 11 Okt 2007 17:43:59 17:46:46
Bandung, 12 Okt 2007 17:43:54 18:30:56
Mekkah, 11 Okt 2007 18:01:31 18:00:54
Mekkah, 12 Okt 2007 18:00:40 18:34:13

Dari tabel di atas kita bisa melihat bahwa tanggal 11 Oktober 2007 (Kalkulasi menggunakan freeware RiseSet for Palm OS) baik di Bandung (tempat saya tinggal) maupun di Makkah perbedaan antara terbenamnya matahari dan terbenamnya bulan belum mencapai 5 menit, baru pada keesokan harinya tanggal 12 Oktober 2007, syarat tersebut baru terpenuhi baik di Bandung maupun di Mekkah (kota-kota lain di Indonesia terutama di Jawa dan Sumatra, perbedaannya juga tidak terlalu banyak dengan kota Bandung, dapat dengan mudah dihitung dengan freeware MoonCalc 6). Nah, untuk itu saya memutuskan untuk diri saya sendiri bahwa saya akan berlebaran tanggal 13 Oktober 2007 pada hari Sabtu! 😛