Category Archives: Ekonomi

Neo Liberalisme Lawan Ekonomi Kerakyatan: Sama Parahnya!

Hari-H pemilihan capres dan cawapres semakin dekat. Kubu-kubu yang berseteru memperebutkan kursi kepresidenan semakin seru saling melontarkan serangan-serangan ke kubu yang berseberangan. Salah satu tema basi yang selalu dilontarkan oleh para politisi adalah isu neo-liberalisme melawan ekonomi kerakyatan. Pembahasannya seperti jalan di tempat, perdebatan yang dilakukan hanya menyangkut masalah yang di permukaan dan itu-itu saja, berputar-putar seperti lingkaran setan yang tidak ketemu ujungnya. Hal tersebut membuat saya semakin terhibur dan ingin nggak mau kalah dengan para politisi tersebut berpendapat sendiri secara amatiran tentang Neo-Liberalisme lawan Ekonomi Kerakyatan tersebut.

Neo-Liberalisme yang ada di bidang ekonomi yang sering diributkan akhir-akhir ini sebenarnya adalah kata lain dari kapitalisme atau sistem ekonomi pasar dalam titik yang sangat ekstrim sehingga pemerintah hampir tidak ikut campur tangan dalam urusan ekonomi dan semuanya tergantung pada mekanisme pasar. Neo-liberalisme ini hampir sama dengan laissez-faire economy yang merupakan titik ekstrim dari sistem ekonomi pasar. Semakin dekat perekonomian suatu negara kepada neo-liberalisme laissez-faire economy dapat dikatakan semakin kapitalis bebas perekonomian negara tersebut. Kebebasan campur tangan pemerintah itu pada suatu perekonomian diwujudkan dengan indikator seperti: Kebebasan dalam memasuki dan berkompetisi di pasar, barang yang diproduksi juga sesuai dengan selera individu bukan selera kolektif yang diatur pemerintah,  perdagangan diatur oleh pasar bukan oleh politik pemerintahan, proteksi terhadap properti pribadi dan sebagainya. Sekarang bagaimana posisi Indonesia di antara negara-negara lain di dunia pada skala neo-liberal kebebasan ekonomi ini?? Menurut data economic freedom of the world, posisi Indonesia berada di posisi ke-86 dunia bersama-sama dengan China dan beberapa negara lainnya di dunia. Jadi saat ini posisi Indonesia sebenarnya cukup sangat jauh dari sebutan negara neo-liberal dalam bidang ekonomi. Sementara itu Hongkong dan Singapura menjadi negara-negara yang perekonomiannya paling liberal di dunia mengalahkan Amerika Serikat dan Inggris yang harus puas di tempat ke-5. Fakta menarik lainnya adalah beberapa negara-negara Timur Tengah (Arab) justru lebih liberal perekonomiannya dibandingkan beberapa negara barat!! Uni Emirat Arab (peringkat 15) dan Oman (18) misalnya, perekonomiannya jauh lebih liberal dibandingkan Jepang (22), Belgia (38), Perancis (52) dan Italia (52)!! Sementara itu negeri jiran kita Malaysia (60) perekonomiannya lebih liberal dibandingkan perekonomian kita sekarang.

Lantas bagaimana dengan “ekonomi kerakyatan”?? Ekonomi kerakyatan yang diasung salah satu pasangan capres-cawapres memang sangat bagus dan indah di atas kertas. Salah satu poin yang paling menghibur indah adalah membangun sistem industri (pertanian) berbasis rakyat dari hulu sampai ke hilir. Saya tidak tahu apakah dengan pembangunan sistem perekonomian yang berbasis rakyat ini maka semua investor-investor asing akan dianaktirikan bahkan ‘diusir’ dari bumi nusantara ini?? Perekonomian kerakyatan ini mungkin sedikit lebih dekat (bukan mirip) kepada perekonomian sosialis pada negara-negara komunis zaman dulu dalam arti kata peran pemerintah sangat besar dalam mengatur perekonomian. Hanya saja ada perbedaan signifikan antara ekonomi sosialis pada negara-negara komunis dengan ekonomi kerakyatan ini. Jika di negara-negara komunis yang sosialis, kepemilikan modal individu atau swasta tidak diperbolehkan, sementara dalam sistem ekonomi kerakyatan ini kepemilikan modal individu atau swasta (terutama yang berasal dari dalam negeri) masih diperbolehkan.

Lantas mana dong yang lebih bagus, neo-liberalisme atau ekonomi kerakyatan?? Liberalisme yang kebablasan tentu saja tidak baik bagi sebuah masyarakat atau perekonomian karena hal tersebut semakin dekat dengan anarki pasar bebas (free-market anarchism) ataupun anarki kapitalisme (Anarcho-capitalism). Namun tentu saya yakin bahwa tidak ada satu negarapun (juga termasuk capres dan cawapresnya) yang akan mengadopsi liberalisme perekonomian yang kebablasan seperti ini. Nah, sekarang bagaimana dengan ekonomi kerakyatan?? Terdengarnya memang sangat indah di telinga rakyat seolah-olah dengan perekonomian kerakyatan ini rakyat akan serta-merta menjadi lebih makmur. Tetapi menurut saya, tentu hal ini tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Misalkan, andaikan investor asing banyak diusir dari negeri ini (mudah-mudahan nggak lah yaw!), apakah investor domestik sanggup menggantikan seluruh modal asing yang keluar dari negeri ini yang juga telah memberikan begitu banyak lapangan kerja bagi masyarakat dan secara tidak langsung juga telah ikut mensejahterakan rakyat? Salah perhitungan nanti malah justru banyak terjadi pengangguran di negeri ini! Belum lagi jika masalah korupsi tidak bisa diberantas. Kerjasama di bawah tangan antara pemerintah dan para kapitalis baru dari dalam negeri yang korup hanya akan menciptakan kesenjangan kemakmuran yang menganga. Keuntungan hanya dinikmati oleh mereka yang duduk di pemerintahan dan para segelintir masyarakat kapitalis bermodal kuat dari dalam negeri, sementara kebanyakan rakyat jelata tetap saja miskin! Tentu hal tersebut juga sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.

Jadi daripada kita meributi isu neo-liberalisme lawan ekonomi kerakyatan yang bakalan tidak ada ujungnya itu, lebih baik berdebat dalam adu strategi bagaimana meningkatkan SDM kita, bagaimana memperbagus pendidikan di negara kita, bagaimana agar bangsa kita lebih menguasai ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi serta bagaimana strategi pemberantasan korupsi di masa depan. Karena tanpa SDM yang baik, tanpa pendidikan yang baik, tanpa penguasaan sains dan teknologi yang baik dan tanpa pemberantasan korupsi, apapun sistem perekonomian yang kita pilih akan sama parahnya!! 😀

Catatan:

Jika seseorang konsisten dalam mendukung sistem ekonomi kerakyatan SECARA TOTAL tentu ia tidak akan belanja di Carrefour ataupun Makro tetapi akan belanja di pasar-pasar tradisional atau minimal belanja di mini market atau supermarket modal dalam negeri. Juga dalam beli sepatu, ia jangan beli sepatu merk Gucci, Hugo Boss atau Lacoste tetapi belilah sepatu Cibaduyut. Tapi itu belum cukup, sebaiknya juga ia tidak membeli Nokia, Sony-Ericsson, Samsung, Toyota, Honda, BMW, Intel, iMac, dan lain-lain. Sanggup?? Paling-paling alasannya kalau kita belum bisa memproduksi sendiri, ya boleh dong pakai produksi luar negeri. Karena jikalau mereka membeli produk-produk dengan merk-merk terkenal seperti di atas, mereka secara tidak langsung  telah mendukung “ekonomi neo-liberalisme”. Huehehehe…. 😀 Namun saya yakin seperti halnya tidak akan ada calon capres dan cawapres yang akan mengadopsi sistem neo-liberal yang kebabalasan, saya juga berkeyakinan tidak akan ada capres dan cawapres yang mampu mengadopsi sistem perekonomian kerakyatan secara total! :mrgreen:

Globalisasi

Kita sering sekali akhir-akhir ini mendengar kata ‘globalisasi’ dari mass media baik cetak maupun elektronik. Banyak dari kita tentu sudah mengetahui apa itu globalisasi walaupun banyak juga dari kita yang belum faham betul apa itu globalisasi. Globalisasi sebenarnya terjadi dalam banyak bidang yaitu di bidang ekonomi, politik, teknologi, sosiokultural dan sebagainya. Namun yang akan saya bicarakan di sini adalah globalisasi di bidang ekonomi.

Globalisasi (di bidang ekonomi) mulai berakar ketika dua atau lebih negara menjalani transaksi jual beli antarmereka sebagai akibat  sebuah negara melihat negara lain memproduksi barang yang mereka perlukan secara lebih ekonomis yang mengakibatkan bahwa negara tersebut memutuskan untuk membeli barang dari negara lain tersebut daripada memproduksi sendiri di dalam negeri. Misalkan dengan sumberdaya dan dalam waktu yang sama negara A memproduksi 5 buah mesin dan 10 meter kain. Sementara negara B memproduksi 3 buah mesin dan 15 meter kain, maka negara A cenderung akan mengimpor kain dari negara B daripada memproduksi sendiri sedangkan sebaliknya negara B cenderung untuk mengimpor mesin dari negara A daripada memproduksi sendiri di dalam negeri.

Nah, dari model perdagangan internasional sederhana inilah yang kelak akan menjadi globalisasi yang kompleks tersebut. Walaupun pada saat ini, perdagangan internasional tetap merupakan ruh utama globalisasi namun kenyataannya globalisasi jauh lebih kompleks dibandingkan perdagangan internasional. Dalam globalisasi di bidang ekonomi selain terjadi perpindahan barang dan jasa secara internasional, juga terjadi perpindahan sumberdaya, baik sumberdaya manusia ataupun sumberdaya alam. Selain itu, tak kalah pentingnya dalam globalisasi adalah adanya perpindahan modal baik yang berupa investasi langsung asing (foreign direct investment) maupun yang berupa modal portfolio (portfolio capital).

Untuk melihat tingkat globalisasi suatu negara, dapat dilihat melalui beberapa indikator. Paling mudah adalah dengan melihat indeks globalisasi. Cara lain yang sudah cukup representatif adalah dengan melihat persentasi ekspor suatu negara dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya. Tahun 2002, ekspor Singapura mencapai 143,9% dari PDB-nya, menjadikan Singapura sebagai negara dengan presentasi ekspor terbesar dari PDB-nya. Hongkong di tempat kedua dengan presentasi ekspor  mencapai 124,5% dari PDB. Sedangkan eskpor Indonesia di tahun 2002 hanya mencapai 33% dari PDB. Nanti dulu! Ekspor Singapura mencapai 143,9% dari PDB-nya?? Mana bisa jumlah ekspor melebihi PDB?? Itu mungkin saja karena praktek ekspor ulang (reexport) umum terjadi di Singapura, di mana barang-barang yang diimpor oleh Singapura (terutama barang-barang dari Malaysia) kemudian diekspor kembali setelah diberi nilai tambah yang cukup signifikan.

Globalisasi memang erat hubungannya dengan  keterbukaan ekonomi negara-negara di dunia yang ditandai dengan terus naiknya persentasi ekspor dunia atas total PDB dunia. Lantas apa manfaatnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia?? Sebenarnya secara umum globalisasi dapat membawa manfaat yang nyata bagi perekonomian lokal. Dengan mengalirnya modal ke suatu negara, perekonomian suatu negara berkembang dapat terbukti tumbuh dengan pesatnya. Manfaat-manfaat globalisasi secara detail, insya Allah akan coba saya jabarkan di lain waktu, di lain artikel. Namun tentu setiap praktek ataupun fenomena ekonomi, tidak terkecuali globalisasi ini juga membawa dampak-dampak negatif. Perpindahan sumberdaya yang tidak berimbang baik yang keluar maupun yang ke dalam dapat menjadi isu yang serius. Perpindahan sumberdaya alam keluar yang berlebihan misalnya, tentu juga tidak baik untuk perekonomian lokal. Juga  perpindahan SDM dari luar negeri ke dalam negeri yang dapat mengancam suplai SDM dalam negeri juga seringkali menjadi isu serius dalam globalisasi. Selain itu globalisasi yang tidak terkendali juga dapat mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan dalam negeri yang bermain di pasar lokal karena adanya persaingan dari barang-barang impor sejenis. Untuk itu di banyak negara majupun, proteksi masih tetap dijalankan.

Nah, walaupun globalisasi dapat membawa dampak positif bagi sebuah negara berkembang namun bukan berarti globalisasi adalah solusi sempurna bagi sebuah negara berkembang. Ingat, sebuah fenomena ekonomi pasti mempunyai dua sisi, sisi benefit dan sisi cost-nya. Namun begitu, dampak buruk dari globalisasi di sebuah negara sebenarnya bukan karena semata-mata akibat globalisasi tersebut secara langsung namun juga karena lebih diperparah akibat kegagalan suatu negara dalam me-manage dampak-dampak globalisasi tersebut……..

Penularan Finansial

Masih ingat krisis ekonomi/moneter yang melanda Asia Pasifik satu dekade lalu?? Pada bulan Juli 1997, pemerintah Thailand mencabut kebijakan sistem tukar tetap (fixed exchange rate) mata uangnya terhadap mata uang asing menjadi sistem tukar mengambang (floating exchange rate) yaitu sistem pertukaran mata uang yang murni didasarkan atas mekanisme pasar. Hal tersebut untuk meringankan defisit anggaran (current account) pemerintah Thailand yang sudah mencapai 8% dari PDB waktu itu. Yang terjadi adalah justru (karena memang itu yang diharapkan) mata uang baht Thailand yang terdepresiasi. Sialnya depresiasi mata uang baht ini diperparah dengan banyaknya modal asing yang keluar dari Thailand yang justru menjadikannya ‘cikal bakal’ krisis di Asia Pasifik waktu itu. Semula orang menyangka bahwa efek dari krisis di Thailand ini akan terisolasi dan tidak akan ‘menular’ ke negara-negara tetangganya. Namun ternyata dugaan itu salah, dalam beberapa bulan saja, modal-modal asing sudah pada berhamburan keluar dari Malaysia dan Indonesia. Dan selanjutnya krisis terus ‘menular’ ke Filipina, Hongkong, Republik Korea dan Taiwan. Krisis yang semula diperkirakan akan terisolasi pada mata uang Baht Thailand yang mengalami ‘shock‘ karena perubahan sistem tukar mata uangnya ternyata berimbas pada nilai tukar mata uang-mata uang lainnya di Asia Tenggara dan Timur. Banyak ahli ekonomi berspekulasi bahwa krisis di Asia ini kemungkinan akan mengglobal, namun syukurlah hal tersebut tidak terjadi.

Walaupun krisis di Asia waktu itu akhirnya tidak mengglobal namun krisis tersebut menimbulkan fokus baru dalam bidang ekonomi yaitu yang disebut dengan Penularan Finansial (Financial Contagion). Yah, pada intinya penularan finansial ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan krisis finansial atau ekonomi di sebuah negara yang berimbas negatif kepada negara-negara lainnya. Penularan finansial ini menjadi studi dan fokus yang menarik dan intens setelah krisis Asia satu dekade yang lalu, walaupun krisis di Asia ini bukanlah satu-satunya contoh penularan finansial dalam sejarah.

Menurut banyak pakar ekonomi, penularan finansial ini menjadi studi yang menarik karena berbagai macam faktor. Di antaranya adalah karena krisis seperti ini dapat diamati dari kacamata yang lain misalnya lewat pasar modal atau surat-surat berharga. Bisa juga karena penularan finansial ini tidak selalu terjadi. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan krisis di suatu negara berkembang menjadi sebuah penularan finansial? Hal inilah yang masih banyak harus dipelajari. Krisis ekonomi yang terjadi di Zimbabwe saat ini misalnya, tidak begitu berimbas kepada negara-negara tetangganya. Dan yang paling menarik adalah krisis finansial yang terjadi akibat penularan finansial ini efeknya berbeda-beda untuk setiap negara. Hal tersebut bisa terjadi karena mungkin krisis ekonomi di tiap negara mempunyai ‘karakter yang berbeda’ karena memang krisis ekonomi yang lebih parah di suatu negara bisa jadi lebih diperburuk oleh karakteristik ekonomi di negara tersebut sendiri. Pendek kata efek daripada penularan finansial ini di setiap negara yang terkena imbasnya tergantung dari banyak faktor baik internal maupun eksternal baik ekonomi maupun non-ekonomi. Kita dulu sempat mendengar bahwa mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Mohamad pernah menuduh George Soros sebagai penyebab ‘tumbangnya’ perekonomian Asia akibat aksi spekulasinya. Apakah hal tersebut benar?? Mungkin saja aksi spekulasi Soros ini juga memperburuk krisis ekonomi di Asia Pasifik waktu itu. Namun, seberapa besarkah tingkat sumbangan spekulasi Soros dalam memperparah ‘hancurnya’ ekonomi Asia Pasifik waktu itu, nampaknya harus ada studi lebih lanjut lagi dan mungkin hal-hal seperti ini dapat menjadi sebuah topik yang menarik bagi para peneliti di bidang penularan finansial ini. Yang jelas, seperti misalnya seseorang yang terkena flu, tidak selalu dapat teridentifikasi kapan mulainya ia terkena flu dan bagaimana ia terkena flu. Efek yang diderita seseorang akibat penularan flupun berbeda-beda dari orang ke orang tergantung juga dari faktor internal orang tersebut. Begitu pula halnya dengan penularan finansial ini.

Mudah-mudahan dengan banyaknya studi mengenai penularan finansial ini, para ahli ekonomi dapat lebih memahami mekanisme terjadinya penularan finansial untuk di masa depan mereka diharapkan dapat mengurangi efek atau akibat dari krisis seperti ini jika penularan finansial terjadi…….

_____________________

Catatan:

Penularan Finansial adalah istilah yang saya terjemahkan sendiri dari Financial Contagion karena saya belum bisa menemukan istilah resminya dalam Bahasa Indonesia. Ada yang tahu??