Category Archives: Film/TV

Orang Miskin “Dilarang” Nonton TV?

Bulan Ramadhan yang lalu, di Bandung, Depkominfo mensosialisasikan siaran TV terestrial digital yang dipusatkan di Bandung Indah Plaza. Sosialisasi itu dirasakan penting karena pemerintah berencana untuk mengalihkan siaran TV analog yang seperti kita kenal sekarang menjadi siaran TV digital secara bertahap. Tahun 2014 diharapkan bahwa seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah terkover dengan siaran TV digital. Dan di tahun 2017 diharapkan seluruh wilayah di Indonesia sudah dapat menerima siaran transmisi digital.

Siaran televisi digital ini nampaknya menjadi sesuatu yang tidak terelakan lagi di dunia ini. Seluruh negara-negara di dunia nampaknya akan bergerak menuju era siaran televisi digital bahkan di beberapa negara maju, siaran televisi analog telah ditutup. Bagi anda yang menggunakan TV kabel seperti F*rst Media ataupun TV satelit seperti Ind*vision mungkin peralihan siaran ke transmisi digital ini tidak akan banyak mempengaruhi namun bagi mereka yang sehari-hari masih menggunakan antena TV biasa, mungkin perubahan ke transmisi digital ini akan cukup membingungkan.

Seperti halnya siaran televisi berwarna analog yang mempunyai beberapa sistem seperti PAL, NTSC dan SECAM, siaran televisi digital juga mempunyai beberapa sistem seperti: DVB (Eropa), ATSC (Amerika Serikat), ISDB (Jepang) dan DMB (China). Indonesia sendiri memilih sistem Eropa (DVB) di mana DVB ini memang paling banyak dipilih oleh negara-negara di dunia ini. Siaran digital sebenarnya mempunyai banyak sekali keunggulan di antaranya adalah siaran televisi digital lebih hemat “bandwidth” frekuensi sehingga di masa mendatang lebih banyak lagi stasiun-stasiun televisi baru yang dapat mengudara. Frekuensi yang kini ditempati oleh 1 stasiun televisi analog nantinya akan dapat diisi oleh hingga 8 stasiun televisi digital! Keunggulan lainnya dari siaran televisi digital adalah bisa dikembangkan aplikasi-aplikasi canggih seperti misalnya siaran “On Demand”. Bagi mereka yang pernah merasakan siaran televisi kabel Singapura St*rHub, anda mungkin pernah merasakan siaran televisi “HBO On Demand” ataupun “Star Movies on Demand” di mana menonton saluran tersebut hampir mirip dengan menyetel DVD di rumah. Statsiun televisi menawarkan beberapa judul film yang dapat kita pilih untuk kita tonton kapanpun kita mau! Jadi menonton televisi tidak lagi terikat dengan jadwal acara televisi seperti yang kita kenal sekarang ini. Bahkan acara televisi tersebut dapat di-pause, di-rewind ataupun di-fast forward mirip kita menonton DVD, bahkan bisa diunduh ke komputer kita untuk kita tonton kembali di masa mendatang! Keunggulan lain dari siaran televisi digital adalah bebas interferensi atau noise, jadi tidak ada lagi siaran yang banyak semutnya (akibat sinyal lemah), gambar dobel (ghost) akibat siaran terpantul oleh sebuah obyek terutama gedung atau gambar bergaris-garis karena interferensi dari mesin mobil, pesawat dan sebagainya. Hanya saja jika sinyal transmisi digital yang kita terima lemah maka gambar akan muncul kotak-kotak dan bisa jadi gambar akan ‘freeze’.

Namun tentu saja siaran televisi digital juga ada “kelemahannya” yaitu untuk pesawat televisi yang kita gunakan sekarang harus menggunakan “settop box” agar bisa menangkap siaran televisi digital. Settop box ini bermain di jalur AV seperti DVD player kita. Tentu saja harga settop box ini relatif tidak murah. Saat ini harga settop box yang termurah sekitar Rp. 300.000,-. Bagi orang yang mampu tentu tidak menjadi masalah. Namun bagaimana bagi mereka yang kurang mampu? Apakah harga tersebut nantinya tidak memberatkan?? Apalagi nanti jikalau siaran televisi analog sudah dihapuskan sama sekali.  Ya, kita berharap saja mudah-mudahan jikalau nanti siaran analog sudah dihapuskan sama sekali, harga settop box sudah jauh menurun atau mungkin orang yang kurang mampu memang tidak butuh hiburan televisi? Walahualam…. saya hanya bisa berharap siaran televisi sebagai sumber informasi, baik analog maupun digital, bisa dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat di negeri ini. Dan sayapun berharap masyarakat di negeri ini tidak hanya mau nonton sinetron ataupun infotainment yang tidak berbobot saja.

Omong-omong menjelang target tahun 2014 apakah memang pemerintah dan stasiun-stasiun televisi sudah siap? Beberapa bulan yang lalu, saya iseng-iseng membeli TV tuner yang sudah bisa menangkap siaran televisi digital sistem DVB. Ternyata di Bandung ini saya baru bisa menangkap 1 kanal siaran televisi yaitu siaran Televisi Edukasi (TVE). Di Jakarta (di daerah rumah saya) bahkan TV Tuner saya gagal menangkap satu sinyalpun!! Wah…. bagaimana ini?? Katanya kita harus bersiap-siap beralih ke siaran televisi digital?? Kenapa kenyataannya baru satu kanal aja yang bisa diterima? Ah… saya sendiri juga bingung! Entahlah! Ya sudah… contoh siaran TV digital dari TV Edukasi saya rekam langsung dan saya upload ke YouTube di atas. Gambarnya memang bersih namun sayang resolusi rekamannya dibuat rendah agar menghemat bandwidth…

I Love The Blue Of Indonesia…..

I love the blue of Indonesia…..
It’s the flavour in the air……
I love the blue of Indonesia….
You can taste it everywhere…..
I love the blue of Indonesia…..
It’s my kind of blue….

(Please correct me if the text above is erroneous)

Look what I found at YouTube! It’s the best Indonesian commercial ever made to my opinion! I had been desperate in search of this beautiful commercial far and wide across the Net until two months ago when I stumbled across this impressive commercial. The best of all, it comes in stereo and it is available in 16:9 format.  The vocalist who did the vocal absolutely did a splendid job. The bluish beautiful scenery reminds us all of the sheer beauty of our motherland! The only downside of this commercial is that it comes out of a pack of cigarettes (despite the fact that the most first-rate commercials in Indonesia come from coffin nail products :mrgreen: ).

However, if you find the expression “Blue of Indonesia”, not to be confused with the blue colour of the politicos that now get the biggest share of pie in the Indonesian parliament. It is not even close! 😛

Lotta thanks to chaendura at YouTube for turning back the clock to the old days of the 1990s….

2012: It Shows Nothing of The End of The World….

Have you watched the 2012 flick? For those who would like to see the visualisation of the Doomsday prophesied by the ancient Mayans you might be eagerly, willingly and ungrudgingly ready for the long ticket line just to be acquainted with the apocalypse. Yes, it also happened to me, I had to join the ticket queue  and got stuck in it for nearly one and a half hour just to get the tickets for me and for the rest of my family (what else could I do? As a good citizen I don’t push in or jump a queue). And that ‘long’ period of queuing time seems a little bit wasted soon after I know the conclusion of the movie.

The movie itself, of course, has near-all of Hollywood clichés, however being full of breathtaking modern digitised effects, for those who are always filled with sci-fi imagination in their heads, this flick can’t be outright boring. But in the end of the movie, I just realised that something is not right with the plot of the movie. It is not like the Doomsday I thought of. It is just merely a visualisation of massive natural catastrophes that occur globally! To me, it is not like the Doomsday at all!

What makes me think that this movie is not about the end of the world? It’s simple. Because in the end of the movie, you still see people being saved in modern Noah’s arks and the arks seem to float happily safely ever after or at least until the global floods recede and they find higher lands where they can go on with their lives. In short, after ‘the Doomsday’ prophesied by the Mayans you still see sunshiny days that spark off hopes for life. This is not what I had in mind. In my mind, the Doomsday is the real end of the Earth, where no more living things can exist on the planet afterwards. To my mind, interplanetary collision, the stoppage of solar nuclear reaction, or maybe a gargantuan meteor that hits planet Earth can depict more horror of doomsday than earthquakes, tectonic plate shifting and tsunamis staged in this movie.

However, it is always up to you to perceive what the Doomsday will look like. To me, Hollywood has failed to visualise the real Doomsday, they obviously still stick to their trite grand scheme (actually it is not just Hollywood movies that do) that the main protagonists have to end up in happiness and joy. For some, who want to have a preview of the ‘real’ doom and gloom of the apocalypse on this movie, they might be discontented….

Seorang Guru Yang “Menolak” US$ 75.000

Jeff Foxworthy dan Anak-Anak Kelas 5 Dalam "Are You Smarter Than The 5th Grader?" 2007Siapa bilang nonton TV tidak ada gunanya? Jikalau tidak berlebihan dan menganggu aktivitas-aktivitas lain, menonton televisi banyak manfaatnya, selain dapat menambah wawasan langsung juga dapat banyak memetik moral yang ada pada suatu acara yang baik. Seperti dalam acara “Are You Smarter Than the 5th grader?” yang dibawakan oleh Jeff Foxworthy yang saya tonton hari Rabu malam lalu (11/11) lewat stasiun televisi StarWorld, selayaknya banyak ditonton oleh para pejabat pemirsa di Indonesia.

Yang membuat episode tersebut menarik ada dua yaitu kedatangan murid-murid kelas 5 SD dari “Are You Smarter Than a 5th Grader?” tahun lalu yaitu tahun 2007 (episode ini dibuat tahun 2008) dan juga salah seorang pesertanya yang seorang guru TK dari Boston, Massachusetts bernama Chrissy Booras. Bagi mereka yang sering mengikuti acara ini tentu sudah mengetahui tata cara permainan ini. Setiap peserta diberi 10 pertanyaan mulai dari US$1.000 hingga US$500.000, jika berhasil menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut maka peserta berhak menjawab pertanyaan bonus senilai US$1.000.000 (hampir sepuluh milyar rupiah..wow!). Nah dalam menjawab kesepuluh pertanyaan tersebut peserta bisa dibantu oleh anak-anak kelas lima yang berada di acara tersebut. Terdapat tiga bantuan yang ada yaitu: Peep (intip), Copy (kopas) dan juga Save (selamat). Dalam Peep, peserta boleh mengintip pekerjaan si anak kelas 5 SD tersebut dan boleh memakai jawaban anak kelas 5 SD tersebut atau boleh memakai jawaban lain. Dalam Copy, peserta harus menggunakan jawaban anak kelas 5 SD yang membantunya tersebut sedangkan Save, jika jawaban peserta salah maka jikalau jawaban si anak kelas 5 SD benar, maka otomatis si peserta terselamatkan dan dapat melanjutkan kuis ini.

Dan di sinilah istimewanya sang guru TK yang bernama Chrissy Booras ini. Ketika ia sampai pada pertanyaan kategori astronomi kelas 4 yang berbunyi (pertanyaan aslinya tentu saja dalam Bahasa Inggris):

Dalam skala Fahrenheit berapa derajadkah panas permukaan matahari?
a) 10.000 derajad
b) 1.000.000 derajad
c) 35.000.000 derajad

Bagi mereka yang menyukai astronomi tentu tidak sulit menjawab pertanyaan ini, namun malangnya si ibu guru ini rupanya tidak menyukai astronomi. Namun yang menarik bukan ketidakbisaan si ibu guru untuk menjawab pertanyaan ini namun karena ia menolak untuk menggunakan fasilitas “Copy” yang ada. Si ibu guru ini sebelumnya sudah menggunakan kedua fasilitas bantu lainnya dan hanya tersisa fasilitas “Copy”. Pertanyaan ini bernilai US$175.000 sementara si ibu guru sudah mengumpulkan US$100.000. Namun si ibu guru “sayangnya” menolak menggunakan fasilitas “Copy” dan memilih keluar dari permainan dan “hanya” membawa pulang US$100.000. Padahal pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pilihan berganda dan kemungkinan besar jawaban si anak kelas 5 SD yang menolongnya benar karena mereka adalah anak-anak kelas 5 SD yang terpilih dan pandai, dan memang jawaban si anak kelas 5 SD tersebut ternyata benar. Padahal jikalau si ibu guru menggunakan fasilitas “Copy” ia akan mendapat US$175.000 dan dapat berkemungkinan lanjut hingga mendapatkan US$1.000.000!

Alasan si ibu guru tidak menggunakan fasilitas “Copy” ini sangat mulia karena si ibu guru tidak suka mengkopas mentah-mentah jawaban seseorang di sekolah. Dan prinsip ini ia pertahankan di dalam kuis ini dan ia tidak tergiur dengan perbedaan uang US$75.000 (hampir Rp. 750 juta) yang sebenarnya dengan mudah dapat ia dapatkan. Lagipula si ibu guru mungkin khawatir bahwa ia akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak didiknya. Menurut saya, mental bu guru ini sungguh jauh dari mental korup! Walaupun ia seorang guru yang banyak dikatakan sebagai “the underpaid hero” namun sungguh mentalnya dan juga harga dirinya sangat tinggi. Sebuah mental yang patut ditiru oleh para pejabat pemirsa di Indonesia!

Corruptainment….

77151_bibit_samad_riyanto_chandra_m_hamzahYou know that I am not a junkie of soaps or telenovelas latinoamericanas or any sorts of slapstick comedy but yesterday afternoon I just found out that a talkshow on TV One concerning chats between two TV-One news presenters and Anggodo Widjojo (and his lawyer) had improbably absorbed me. Yes, for about two hours running I was made into a couch potato by the programme!

The programme on the case which has become a face-off between the police and the anti-corruption commission (KPK) might also have stupefied millions of viewers nationwide. But I don’t want to go into the lowdown on the showdown because I am not an expert at this case. I am basically neutral but my stance is clear, I am against any actions that oppose the eradication of corruption. I simply think that a law enforcement agency whatever it is must manage to root corruption out of this country once and for all! Because evidently corruption is eating away at our resources.

And for those who are reading this article I warn you that you should not have  too much of any good things whether it is a chat show programme nor a soap. Oops, correction, I don’t see any goods in a soap regardless of its measure… 😛

How Much Rice Anyway?

Food rich in carbohydrate

Food rich in carbohydrate

Saturday afternoon about five I just returned from a shopping spree with my family. I sank myself in a couch. I did not know what else to do. So to drive away the ennui I grabbed the TV remote and I switched the TV on. The first scene appeared on the screen was a talk show programme aired by Global TV. It seemed that someone had previously tuned in to the station. Yes, the programme is called “Asyiknya Bertani” (the engrossing farming). Actually it is not one of my fave programmes yet I was clueless why at that moment I could focus on the programme.

I do not know how the show kicked off but all of sudden I noted that the female presenter of the programme which is an Indonesian TV personality made a comparative slip-up, remarking (it approximates to): “Corn has more calorific value and less costly than rice”. Okay, let’s leave the economic facet out in that I am not too interested. Let’s focus on the calories produced by two objects. Can you see what is critically missing from the presenter’s remark above? Yes you are right, the units that should be applied to both objects are not there! How much corn is she talking about? a kilo of corn? Just a grain of corn? a cob (or an ear) of corn?? And how much rice is she talking about too? a grain of rice? a tablespoon of rice? a plate of rice? or is it possibly a kilo of rice? To make a comparison useful especially if we are talking about a quantitative comparison, interconvertible and well-defined units should be applied to all objects being compared. If we fail to do so the comparison will likely be futile, perplexing and misleading. Of course it is not just to compare the calorific values between a tablespoon of rice and an ear of corn. The rather fitted comparison might be between a plate of rice and an ear of corn but the most acceptable comparison is to use a mass or weight unit like kilogram, gram, pound, ounce and whatnot so the comparison can be analysed through a more fair basis.

The TV presenter is LK if I don’t mistake someone else for her. What rather surprised me is that she holds a degree in medicine. Considering a degree she holds she ought to make a better comparative remark than that she had. I would not be so taken aback if such remark came out of my domestic employees who did not pass grade school. But of course as an old cliché said: to err is human and slip-ups got nothing to do with a degree someone holds. I am sure I am prone to mistakes as well. I do not want to be something that borders on a cynic but this article rather reminds us to be very critical and analytical upon digesting a bit of information…..

Post scriptum:

After hearing out Kang Anggara‘s voluble address on ethical blogging in Pesta Blogger 2009, I decided to abbreviate the subject’s name. I realise that in the last paragraph of the post, it merely touches on subjective matters rather than the objective issue. So it is my mistake. It proves out that mistakes work on me too!

The Ramen Girl: Gadis Amerika Penjual Ramen

the-ramen-girl-postersThe Ramen Girl adalah judul film yang “tidak sengaja” saya tonton pada bulan Ramadhan yang lalu. Ceritanya waktu selesai sahur, saya menunggu azan shubuh. Acara Tafsir Al-Mishbah-nya Pak Quraish Shihab baru saja selesai. Saya iseng-iseng membolak-balik saluran televisi mencari acara Ramadhan lainnya yang bagus. Karena ketemunya cuma acara-acara lawak atau acara-acara yang pembawa acaranya model pelawak yang norak dan menyebalkan dan tidak mendidik maka akhirnya saya memilih-milih saluran televisi kabel. Secara tak sengaja saya melihat saluran Star Movies yang baru saja mulai memutar film “The Ramen Girl” ini.

Mula-mulanya saya tidak yakin akan terhibur dengan film semacam ini. Maklumlah entah kenapa saya sepertinya sulit terhibur (bukan berarti nggak bisa sama sekali loh…) dengan film-film drama, namun karena setelah tidak ada pilihan yang lain lagi maka terpaksa saya lanjutkan menonton “The Ramen Girl” ini. Ternyata setelah saya menonton agak lama film ini, film ini punya daya tarik tersendiri yang sanggup membuat mata saya terbuka lebar untuk terus menikmati film ini.

“The Ramen Girl” bercerita tentang seorang gadis Amerika bernama Abby (diperankan oleh Brittany Murphy) yang menyusul sang pacar (orang Amerika juga) ke Tokyo, Jepang yang tengah bekerja di kota itu. Namun sang pacar memutuskan hubungan dengan Abby dengan alasan ada pekerjaan di Osaka. Di tengah kesedihannya karena sebatang kara ditinggal sang pacar di kota Tokyo yang asing, Abby melihat kedai ramen (mie) yang kecil di seberang jalan dari apartemen tempat ia tinggal. Walaupun kecil namun kedai ramen itu menarik hatinya untuk mengunjunginya. Ketika Abby sampai ke kedai ramen tersebut ternyata kedai tersebut sudah akan tutup namun karena pemilik ramen dan istrinya tidak bisa berbahasa Inggris sedikitpun maka Abby tidak tahu kalau kedainya sudah tutup dan karena hatinya tengah sedih ditinggal pacarnya maka Abby menangis di kedai tersebut. Pemilik ramen mungkin menyangka bahwa si Abby adalah bulé kere yang menangis karena kelaparan untuk itu ia memberi Abby semangkuk ramen gratis. Ketika mencoba ramen tersebut Abby sangat tertarik dengan ramen tersebut. Setelah selesai makan, Abby disuruh pulang (Abby ingin membayar tapi ditolak oleh si pemilik ramen dan istrinya) namun ia bertekad besoknya akan kembali mengunjungi kedai ramen tersebut dan ingin belajar memasak ramen.

Dari sinilah cerita mengalir sangat menarik bagi saya. Keesokan harinya si Abby kembali ke kedai ramen tersebut dan ingin diajarkan cara memasak ramen. Namun oleh sang pemilik kedai yang bernama Maezumi diperankan oleh Toshiyuki Nishida, malah dijadikan pembantu untuk bersih-bersih kedai. Masalah komunikasi (bahasa) memang menjadi hambatan yang sangat serius di antara mereka berdua. Namun justru itu jadi keunikan tersendiri yang cukup menghibur. Setiap kali berargumentasi selalu apa yang dikatakan mereka berdua tidak pernah nyambung namun toh argumentasi tetap lancar mengalir di antara mereka berdua walau nggak nyambung. Belum lagi perbedaan karakter antara mereka berdua, Maezumi yang keras dan disiplin (namun sebenarnya baik hati) sering berbicara kasar kepada Abby dan juga menempeleng Abby sementara Abby terbiasa dengan sifat Amerikanya yang “menghargai” kebebasan ekspresi individualnya. Namun begitu adegan “kekerasan” yang ditunjukkan dikemas secara apik dan tidak terlihat vulgar.

Film ini benar-benar sangat netral dalam ‘benturan’ antara timur dan barat. Abby sangat menghargai filosofi dibalik pembuatan semangkuk ramen yang mewajibkan semangkuk ramen untuk memiliki jiwa di masakannya sehingga siapapun yang menyantap ramen tersebut akan merasakan emosi yang tengah dirasakan oleh pembuatnya. Jadi semangkuk ramen yang sempurna bukan hanya enak dimakan tetapi juga harus mempunyai ‘jiwa’ atau ’emosi’ di dalamnya. Sesuatu yang mungkin menurut kebanyakan orang Amerika adalah gila dan sangat berlebihan. Sebaliknya pacar Abby yang baru, seorang Jepang keturunan Korea yang bernama Toshi (yang diperankan oleh So Hee Park), yang semula memilih jalan yang sangat “Jepang” dalam meniti karir di perusahaannya yang cenderung setia dengan perusahaan akhirnya memutuskan untuk memilih jalan “Amerika” untuk keluar dari karir di perusahaannya yang cemerlang untuk menjadi seorang musisi sesuai panggilan jiwanya.

Film ini, menurut saya, berhasil memadukan antara sedikit humor, drama kehidupan sehari-hari dan kisah percintaan dengan sangat apik, tidak dipaksakan dan tidak bertele-tele. Ketika Abby berpisah dengan pacarnya yang Amerika untuk pertama kali dan juga ketika berpisah dengan Toshi ketika ia dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke Shanghai, China, perpisahan tersebut tidak digambarkan dengan tangisan air mata yang berlebihan. Tidak seperti kebanyakan film-film cinta a la Indonesia, di mana putus cinta selalu digambarkan dengan air mata dan tangis yang berkepanjangan seolah-olah si sutradara kehabisan plot cerita dan hanya menghambur-hamburkan waktu dengan adegan tangisan yang panjang sehingga menjadi sebuah melodrama yang menyebalkan untuk dilihat……