Category Archives: Manusia

Parijs van Java dan Perasaan Inferior

Lambang kota ParisDi jejaring sosial Twitter, ada seorang rekan tweep yang suka “menyamakan” dirinya dengan seorang penyanyi cantik asal Colombia yang namanya meroket sewaktu piala dunia yang lalu. Sebenarnya sah-sah saja dan bebas-bebas saja dia menyamakan dirinya dengan siapapun juga termasuk dengan penyanyi tersebut. Namun begitu saya nasihatkan dia agar dia tidak perlu lagi menyamakan dirinya dengan penyanyi seksi Colombia tersebut  karena selain emang tidak mirip sama sekali, perbuatan tersebut hanya menunjukkan sifat inferiority complex , atau lebih tepatnya mungkin bibit-bibit IC yang ada pada dirinya. IC adalah perasaan inferior  akut yang ada pada seseorang ataupun kelompok orang (seperti suku bangsa, bangsa dsb.) baik secara sadar atau tidak. Tentu saja ia berdalih bahwa hal tersebut hanya sebagai lucu-lucuan saja. Namun begitu, tetap saja perbuatan tersebut sangat berbau IC karena memang perilaku yang berbau IC tidak berpengaruh apakah bertujuan lucu-lucuan atau serius. Salah satu ciri seseorang yang mempunyai sifat IC adalah senang disamakan atau menyamakan dirinya dengan orang atau fihak yang dianggap lebih superior (minimal dalam satu hal/aspek). Dalam kasus ini, yang (merasa) mempunyai wajah kalah cantik atau badan kalah seksi akan menyamakan dirinya dengan ia/mereka yang (dianggap) mempunyai wajah lebih cantik atau badan lebih seksi. Padahal andai dia konsisten dengan pernyataannya bahwa hal tersebut untuk lucu-lucuan, tentu secara logika ia akan memilih Omas atau Tessy Srimulat. Jadinya lebih lucu lagi kan? 😉

IC memang kebanyakan terjadi secara tidak sadar karena kita tidak akan pernah mengakui secara terus terang perasaan inferioritas kita. Sebenarnya perasaan inferior baik secara individu ataupun kolektif secara sadar atau tidak sadar ada pada diri kita semua.  Kita secara tidak langsung sering merasa inferior terhadap mereka yang lebih sukses, lebih pintar, lebih tinggi, lebih ganteng/cantik dan sebagainya. Perasaan inferior tersebut dapat terjadi pada level individu ataupun pada level kolektif sebagai sebuah bangsa. Namun jikalau perasaan inferior tersebut  menyebabkan pengasosiasian diri terhadap mereka yang dianggap superior maka gejala IC mulai tumbuh.

Perasaan IC bukan hanya terjadi secara individu, secara kolektif dan secara tidak sadar, bibit-bibit IC telah tumbuh di antara kita. Contoh adalah dalam sebutan kota Bandung sebagai Parijs van Java. Oke bagi sebagian orang Bandung mungkin bangga karena kota mereka disamakan dengan sebuah kota di Eropa, sebuah kehormatan bagi mereka. Kalau sekedar bangga ya tidak mengapa. Namun jika sebutan “Parijs van Java” tersebut mulai menggema di mana-mana, bahkan ada nama stasiun TV dan mal yang memakai nama tersebut, sehingga mereka lebih bangga menyebut “Parijs van Java” daripada istilah “Bandung” atau “kota kembang” di situlah bibit-bibit IC sudah muncul. Secara tidak sadar justru kita lebih mengidolakan kota Paris daripada kota Bandung. Kita bangga (secara berlebihan) kota kita yang inferior disamakan dengan kota yang superior. Sementara sebaliknya, kota Paris, kota yang superior belum tentu senang kotanya disebut Bandung de l’Europe, bahkan mungkin orang Paris tidak suka kotanya disamakan dengan kota Bandung yang inferior. Jadi jikalau orang Paris tidak suka kotanya disamakan dengan kota Bandung kenapa juga kita orang Bandung harus bangga (apalagi berlebihan) menyamakan diri kita dengan kota Paris? Marilah kita bangga dengan identitas kita sendiri, Paris adalah Paris, Bandung adalah Bandung. Masing-masing punya identitas sendiri-sendiri yang patut dibanggakan.

Jadi, marilah, kita bangga menjadi diri kita sendiri. Kita tidak perlu mengasosiasikan diri kita terhadap orang lain yang tidak perlu dan tidak bermanfaat. Kalau memang perasaan inferior itu bermanfaat sehingga memajukan prestasi kita, mungkin itu malah bagus. Namun, jika hanya sekedar bangga-banggaan, lucu-lucuan dan seterusnya selain kurang bermanfaat LAMA-LAMA juga jadi tidak membanggakan dan tidak lucu lagi malah melahirkan kesan ia ingin seperti “idola”nya tapi (tentu saja) gagal total! 😉

Iklan

A, B atau C?

Cukup menarik artikel yang dibuat di blog manusiasuper di sini. Sebenarnya ada dua  pertanyaan yang diajukan di artikel manusiasuper tersebut, namun saya tertarik terhadap salah satunya saja. Untuk singkatnya, mari saya intisarikan artikel tersebut di sini. Oke, misalnya anda disuruh memilih dari ketiga kandidat berikut ini (diusahakan jangan golput 😉 )

Kandidat A:  Memiliki banyak teman politisi busuk, percaya pada ramalan bintang, punya dua istri gelap, perokok ganja dan minum 8 hingga 10 gelas martini per hari.

Kandidat B: Pernah dipecat dari kantornya dua kali, selalu tidur hingga siang hari, pengguna opium ketika menjadi mahasiswa dan minum setengah galon wiski setiap malam.

Kandidat C: Dinobatkan sebagai pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, sangat jarang minum minuman keras, dan tidak pernah melakukan pelecehan seksual apapun.

Ayo pilih sekarang! Nah….. anda sudah memilih?? Sekarang kita lihat siapa saja ternyata ketiga kandidat tersebut:

**

**

**

**

**

**

**

**

**

**

Dan ini dia ketiga kandidat tersebut:

Kandidat A: Franklin Delano Roosevelt
Kandidat B: Winston Churchill
Kandidat C: Adolf Hitler

Terkejut? Ya, sayapun juga terkejut. Tapi hanya untuk sementara. Ada dua hal kenapa keterkejutan saya hanya sebentar.  Pertama saya langsung menyadari bahwa pilihan di atas agak “mengarahkan” karena kandidat A dan B hanya dituliskan sifat yang buruk-buruk saja, sementara kandidat C hanya dituliskan sifat yang baik-baik saja.  Mungkin jikalau sifat-sifat kandidat A dan B diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat baiknya sementara sifat-sifat kandidat C juga diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat buruknya mungkin pilihan kita bisa berbeda. Kedua, tentu saja saya sadar bahwa seburuk-buruknya orang iapun pasti punya sifat-sifat positif juga, sebaliknya sebaik-baiknya orang iapun pasti punya sifat-sifat negatif juga jadi kasus di atas sebenarnya adalah hal yang umum.

Namun hal yang lebih penting dari adanya “kasus”  di atas adalah bisa membuat calon pemilih menjadi bingung karena dalam benaknya tertanam seolah-olah mereka yang mempunyai sifat-sifat baik ternyata bisa menjadi seorang “monster” dan sebaliknya. Sebenarnya kasus di atas memang bisa saja terjadi di dunia nyata ketika para pemilih dengan segala cara tidak bisa mengetahui sifat-sifat lengkap kandidat-kandidat yang akan dipilihnya atau pendek kata informasi mengenai kandidat-kandidat tersebut sangat terbatas. Kalau sudah begitu kini timbul dua pertanyaan, pertama, apakah jikalau kita memilih C (yang ternyata Adolf Hitler) berarti kita salah pilih? Tentu saja jawabannya ‘ya’. Tapi, pertanyaan kedua, apakah kita bersalah karena memilih C? Jawabannya ‘tidak’, karena kita sudah memilih dengan kriteria yang masuk akal berdasarkan informasi maksimal yang kita dapatkan. Memang betul, lain waktu jika ada kandidat-kandidat dengan sifat-sifat di atas bisa jadi kandidat C malah lebih buruk dari Adolf Hitler, namun jangan lupa bisa saja lain waktu ternyata kandidat A atau B yang memang jauh lebih buruk dari Adolf Hitler. Jadi jika ada pemilihan kandidat seperti di atas dan anda tidak mengetahui bahwa C adalah Adolf Hitler, dan anda hanya mempunyai informasi yang terbatas mengenai ketiga kandidat, maka jangan ragu-ragu untuk memilih salah satu kandidat yang menurut anda paling sreg, termasuk kandidat C ! 😉

Perempuan Itu Goblok!

Eiiits… jikalau anda membaca judul di atas jangan emosi dulu, lanjutkan membaca artikel ini hingga selesai maka anda akan mengerti sepenuhnya mengapa saya menuliskan judul seperti di atas. Dan tentu saja tidak semua perempuan itu goblok, laki-lakipun banyak juga yang goblok (juga bencong tentu saja 😀 ). Untuk jelasnya mengapa saya memilih judul di atas mari kita lanjutkan pembahasan kita kali ini. 🙂

Ide tulisan ini berawal ketika secara tak sengaja saya mendengar percakapan dua orang ibu-ibu muda yang sama-sama tengah menunggu giliran (antrian) teller di Bank N*SP. Saya yang kebetulan duduk di depan kedua ibu-ibu tadi mendengar betul apa yang dipercakapkan keduanya. Mereka tengah berargumentasi kecil tentang poligami. Yang satu setuju dengan poligami, yang satunya lagi tidak. Dari kedua belah fihak banyak mengutarakan argumentasi-argumentasi menggelikan walaupun ada juga yang cukup “tepat sasaran”. Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang apa yang diperdebatkan kedua ibu muda itu tetapi saya akan menulis tentang uneg-uneg saya mengenai polemik poligami ini.

Bagi saya poligami adalah hak dan tanggungjawab individu masing-masing. Saya yakin jika poligami dimulai dengan niat yang baik (tidak sekedar nafsu untuk mencari “daun muda”) insya Allah akan berjalan dengan baik pula pada akhirnya. Yang saya tidak mengerti adalah wanita Muslimah yang sudah berniat menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya namun tidak bisa menerima bahwa di dalam Islam laki-laki bisa beristri hingga empat. Seharusnya yang ia tidak setuju bukan poligaminya tetapi KETIDAKADILANNYA terhadap istri-istrinya setelah ia berpoligami karena yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam Islam adalah ketika sang suami gagal berlaku adil terhadap istri-istrinya, betul begitu kan? (Maaf mohon koreksi kalau salah). Saya yakin bahwa laki-laki berpoligami yang tidak adil terhadap istri-istrinya maka ia akan berdosa dan akan mendapatkan ganjaran kelak di akhirat. Enak di dunia, tidak enak di akhirat. Semua akan mendapat ganjarannya kelak. Bahkan saya yakin juga, wanita yang sabar melihat suaminya berpoligami akan mendapatkan imbalan yang setimpal di akhirat kelak. Lantas kenapa wanita (Muslimah) musti khawatir? Cemburu? Atau sirik karena wanita tidak boleh poliandri? Atau khawatir sang suami bertindak nggak adil? Kalau suami berlaku tidak adil seharusnya yang lebih khawatir itu sang suami sendiri! Karena kelak ia harus mempertanggungjawabkan ketidakadilannya di depan Allah swt. Itu kalau anda percaya terhadap ajaran Islam. Kalau tidak? Ya… itu terserah anda. Tapi jangan terjadi hal menggelikan, anda menerima apa yang cocok dengan anda dan dengan cepat membuang apa yang tidak sesuai dengan anda tanpa berfikir panjang. Namun begitu, sekali lagi, jika andapun menginginkan sesuatu yang menggelikan tersebut, itu juga hak anda. 😉

O iya…. ada satu lagi yang cukup menggelikan. Kebanyakan, dari yang saya baca di blog-blog milik wanita Muslimah*) yang nggak setuju poligami, kebanyakan dari mereka baik langsung ataupun tidak langsung hampir selalu menyalahkan laki-laki dalam hal poligami. Menurut saya ini adalah sesuatu yang goblok konyol. Kenapa? Karena kalau mereka tidak setuju dengan poligami, mereka seharusnya juga menyalahkan kaum perempuan sendiri! Loh? Ya… tentu saja! Salahkan juga perempuan yang mau dipoligami! Tapi kan… perempuan adalah fihak yang terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami? Justru itu! Jadi perempuan jangan goblok! Jangan cepat terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami. Apalagi setelah tahu kalau si calon suami sudah punya istri ternyata masih mau juga diperistri. Jadi bagi wanita Muslimah yang tidak setuju dengan poligami, salahkan JUGA perempuan-perempuan ‘goblok’ yang mau dipoligami. Karena jika perempuan-perempuan itu tidak mau dipoligami, tidak akan ada poligami. Hey, it takes two to tango, doesn’t it?? Mengerti? 😉

NB:

*) Kenapa blog-blog wanita Muslimah? Karena kalau wanita bukan Muslimah mungkin poligami tidak ada dalam ajaran yang mereka percayai. End of story.

LSI vs. LPI : Pilih Mana?

Liga Primer Indonesia

Liga Super Indonesia

Sudah dua tahun terakhir ini, saya mulai bergairah mengikuti liga lokal, Liga Super Indonesia, yang banyak ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia walaupun tidak bisa saya ikuti terus setiap pertandingan yang ditayangkan di televisi.  Kegairahan saya menonton liga lokal di Indonesia mungkin disebabkan karena mutu permainan yang mengalami peningkatan walaupun tentu saja masih jauh di bawah kualitas liga-liga profesional di Eropa (bahkan di kawasan Asia lainnya) dan juga salah satu bentuk apresiasi saya pada produk dalam negeri. Nah, akhir-akhir ini muncul satu lagi yang mengklaim dirinya sebagai liga profesional di luar koridor PSSI yang secara implisit (bahkan mungkin eksplisit) berani menyatakan bahwa liga tersebut lebih profesional dalam pengelolaannya dan tentu saja dengan kata lain menyatakan bahwa kualitas permainannya juga lebih baik. Pertanyaannya, benarkah LPI ini lebih baik dari ‘saingannya’ LSI?

Bagi saya yang bukan pakar sepakbola tapi sangat menikmati pertandingan-pertandingan sepakbola, tidak penting liga mana yang lebih bagus, apalagi memikirkan intrik-intrik politik di balik kedua belah fihak yang bertentangan. Bagi saya, selama keduanya terpacu untuk menyelenggarakan liga yang profesional dan enak ditonton, kenapa saya harus antipati terhadap salah satunya?? Biarlah mereka yang lebih suka intrik-intrik politik di balik keduanya daripada pertandingan sepakbolanya sendiri ikut beradu siasat bagaimana mendiskreditkan liga lawannya sementara kita yang hanya menikmati pertandingan sepakbolanya patut bersyukur karena kini kita tidak hanya disuguhkan satu liga saja melainkan dua liga! Yang suka sepakbola sekaligus intrik politiknya bagaimana? Ha! Mungkin lebih asyik lagi, karena selain bisa menikmati pertandingan sepakbolanya mereka juga bisa menikmati ‘gontok-gontokan’ di antara keduanya.  Namun begitu kalau bisa, yang netral dan obyektif ya, jangan membabibuta berfihak pada salah satu fihak. Ingat, selalu ada kebenaran dan kesalahan dari kedua belah fihak. 😉

Sebagai penikmat sepakbola yang bukan pakar sepakbola, saya hanya berharap bahwa PSSI tidak terlalu mudah kebakaran jenggot, takut liganya nanti kalah pamor dengan saingannya sehingga ‘menyalahgunakan’ wewenangnya yang berakibat pada dilanggarnya hak-hak azasi banyak orang untuk berolahraga sepakbola dan menikmati pertandingan sepakbola. Sebaliknya LPI mudah-mudahan juga benar-benar tulus untuk mengembangkan profesionalitas Indonesia di tanah air dan bukan untuk kepentingan politik atau popularitas individu dan kelompok tertentu semata. Saya percaya, waktu akan menentukan siapa diantara keduanya yang lebih profesional kelak dan juga ‘seleksi alam’ cepat atau lambat akan menenggelamkan salah satu (atau bahkan mungkin keduanya) jika mereka tidak dapat beradaptasi dengan waktu dan lingkungannya. Yang jelas, mudah-mudahan persaingan di antara keduanya berlangsung secara sehat dan sportif. Prinsip ‘Fair Play’ bukan hanya terjadi di dalam lapangan saja, mari kita bawa ke luar lapangan hijau, dengan begitu kompetisi semakin enak ditonton dan semakin banyak orang yang menonton keduanya…. semoga… Insya Allah… 🙂

Tidak Perlu Berlebihan…

Tifatul Sembiring

Malang benar nasib Om Tifatul Sembiring. Gara-gara lupa dengan sumpahnya sendiri yang tidak akan berjabattangan dengan wanita yang bukan muhrimnya, ia menjadi bulan-bulanan para penghuni dunia maya se-Indonesia bahkan yang di luar negeri ketika (secara tidak sengaja?) ia menjabat tangan The First Lady Amerika Serikat, Michelle Obama. Banyak blog dan twit yang membahas salaman antarkeduanya. Kebanyakan mengolok-oloknya walaupun ada juga yang “membelanya”. Mereka yang mengolok-olok biasanya adalah orang yang “alergi” dengan way of life Islam, baik dari mereka yang kurang suka agama, ataupun dari kalangan agama lain, ataupun ada juga dari kalangan Islam sendiri yang mengaku “liberal”.  Mereka itu biasanya melihat orang yang melaksanakan way of life secara Islami hanya melihat orang tersebut dari segi agamanya saja, sehingga ketika orang tersebut melakukan kekhilafan maka yang keluar adalah olok-olok dari para pemerhati tersebut. Sedangkan saya, orang yang ehm.. berusaha melihat orang dari sudut yang netral (walau terkadang gagal juga), menganggap bahwa kesalahan tersebut adalah manusiawi dan tidak perlu dibesar-besarkan. Kesalahan-kesalahan manusiawi tersebut sebenarnya dapat saja terjadi pada siapapun termasuk pada kita. Namun jangan salah, saya bukan pembela Om Tifatul Sembiring, sebagai manusia biasa sayapun dalam hati merasa geli melihat Om Tifatul ‘termakan’ sumpahnya sendiri sambil berkata dalam hati: “Mangkannya kalau sumpah nggak usah demonstratif sampai orang sedunia tahu seolah-olah menantang dunia. Cukup sumpah tersebut determinasi buat diri sendiri. Nggak usah berlebihan!”

Saya jadi ingat, kasus beberapa tahun yang lalu ketika AA Gym masih populer, begitu banyak terutama mereka yang mengidolakan si AA menunggu-nunggu kehadiran AA baik di televisi maupun di tempat-tempat ceramah lainnya, walhasil laris manislah si AA.  Namun begitu si AA melakukan “kesalahan” dengan melakukan poligami, popularitasnya merosot tajam karena ditinggal “penggemar”nya terutama ibu-ibu dan remaja putri. Menurut saya hal tersebut juga sedikit berlebihan karena para “penggemar”nya nampaknya lebih mengidolakan sosok si AA pribadi (atau minimal lebih melihat kepada sosok si AA) daripada menghargai isi ceramahnya! Walhasil ketika si idola melakukan “kesalahan” maka penggemarnya ramai-ramai meningglkannya. Mangkannya kalau kita menyenangi isi khutbah seorang ustadz (atau isi ceramah seseorang) misalnya, yang perlu diapresiasi ya isi khutbahnya jangan berlebihan mengidolakan si ustadz! Bagaimanapun juga kualitas ceramah si AA tidak berpengaruh apakah ia melakukan poligami atau nggak. Mengerti logikanya? Kalau belum, contoh sederhananya begini: Jika ada orang berkata “berzinah itu tidak baik” lantas di kemudian hari ia kedapatan melakukan perzinahan. Lantas apakah perkataannya dulu “berzinah itu tidak baik” menjadi salah atau keliru?? Tidak, bukan?  Begitu contoh sederhananya.

O iya, ini juga bukan pembelaan buat AA Gym loh. Karena saya sendiri sebenarnya  tidak bisa menikmati ceramah-ceramah AA Gym. Bahkan entah kenapa saya cenderung mengantuk kalau mendengar ceramah-ceramah agama! Hehehe…. Saya lebih suka menonton acara-acara Animal Planet, National Geographic ataupun Discovery Channel. Namun bagi anda yang sangat menikmati ceramah-ceramah agama dan menurut anda ceramah-ceramah tersebut berguna, ya silahkan anda menyimaknya, jangan ragu-ragu. Tapi sekali lagi ingat, cukup mengapresiasi isi ceramahnya saja, jangan berlebihan sampai mengidolakan si ustadz (atau si da’i). 🙂

Jangan Cuma Ingin Bermain Untuk Persib Aja…

Liga Super Indonesia tahun ini sudah dimulai beberapa minggu yang lalu. Walaupun banyak orang berkata terutama mereka yang kurang suka sepakbola kalau liga super di Indonesia itu banyak tawurannya namun entah kenapa sejak 2 tahun belakangan ini saya jadi suka nonton liga super Indonesia. Habis kalau bukan kita-kita para pecandu sepakbola tanah air yang menonton dan mengapresiasikannya, siapa lagi coba? Anggap saja nonton liga super Indonesia sama dengan mengapresiasi produk-produk dalam negeri lainnya seperti mengkonsumsi makanan Indonesia ataupun memakai produk-produk dalam negeri mulai dari kerajinan tangan hingga memakai jasa perbankan dalam negeri. Lha kalau bukan kita-kita ini yang mengapresiasi ya siapa lagi?? Betul nggak? 😀

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu seorang ibu-ibu penjual kupat tahu petis di dekat rumah saya di mana dulu saya jadi salah satu pelanggannya, pernah curhat sama saya, kalau anaknya susah belajar di sekolah. Maunya main sepakbola melulu dan cita-citanya ingin bermain bersama Persib maung Bandung. Lantas, saya berusaha untuk membesarkan hati **halaah** sang ibu tersebut. Saya mengatakan bahwa tidak menjadi soal kalau memang bakatnya adalah sepakbola. Mengenai susah belajar?? Ya… asal prestasinya tidak jeblog-jeblog amat ya tidak mengapa, tidak usah harus berprestasi hingga juara kelas walaupun usaha menuju yang terbaik harus tetap dijalankan. Yang harus diperhatikan adalah apakah si anak memang benar-benar menyukai sepakbola dan tidak hanya sekedar panas-panas tokai ayam seperti banyak blogger-blogger yang sudah berguguran juga karena panas-panas tokai ayam dengan alasan-alasan cengeng seperti sibuk atau koneksi lemot dsb?? Maklumlah kebanyakan anak-anak masih sekedar ikut-ikutan saja. Tapi kalau memang sudah pasti ya sebaiknya tentukan langkah sedini mungkin. Kalau mau jadi pemain sepakbola pro nggak perlu sekolah tinggi-tinggi hingga akademi apalagi universitas cukup hingga sekolah menengah dan setelah itu fokus menjadi pesepakbola yang pro! Tidak perlu berlama-lama menimba ilmu lain yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola karena hanya akan membuang-buang sumberdaya saja baik waktu maupun dana.

Dan satu lagi, jika jadi pemain sepakbola pro, jangan pernah berfikir bahwa jika dia orang Sunda atau lebih tepatnya orang Bandung maka ia HANYA bercita-cita bermain untuk PERSIB! Jangan pernah berfikir seperti itu! Sebagai pemain sepakbola pro, lupakanlah kesukuan dan yang sejenis. Seorang pemain sepakbola pro, harus bisa bermain di klub manapun, nggak peduli apakah itu Persib, Semen Padang, Persipura ataupun bahkan di klub-klub luar negeri sekalipun! Jangan pernah berfikir jika ia orang Bandung maka ia harus membela Persib Bandung karena Persib Bandungpun belum tentu mau menerimanya bermain hanya karena ia orang Bandung! Jadi pendek kata, sebagai pesepakbola profesional, cintailah profesi sepakbolanya itu sendiri lebih dari klub manapun!

Si ibu penjual kupat tahu petis itu nampaknya bisa memahami hal-hal yang saya sebutkan pada awal-awal namun nampaknya beliau belum bisa mengerti mengapa anaknya sebagai orang Bandung “tidak boleh/bisa” selalu membela Persib. Namun tentu saja saya tidak bisa menyalahkan si ibu jikalau beliau tidak mengerti karena pasti beliau juga tidak mengerti dinamika dunia persepakbolaan profesional saat ini. Untuk mengerti hal tersebut tentu seseorang harus mengerti dinamika dunia persepakbolaan pro yang terjadi saat ini. Saya hanya bisa berfikir, biarlah sang ibu tidak mengerti hal tersebut namun saya yakin jikalau si anak kelak akan menjadi seorang pesepakbola pro, ia akan mengerti…

Organic or Inorganic? Which Goes To Which?

If you happen to visit Bandung Institute of Technology (ITB) as I did a few months ago, you would probably come across dual waste containers more or less similar to the illustration presented in this post. You may also find these waste containers in other academic institutions but I suppose they are rather rarely seen outside the academic institutions. The purpose of the separation is obvious, it is to separate the “ecofriendly” wastes from the ones which are not. Of course, for some individuals especially the ones who are less educated it is not always easy to decide on the container into which they should throw away their scraps.  that’s why it is understood why these dual containers are mostly found in academic institutions. For those who do not know the “ecofriendly” wastes, they are wastes which are readily broken down by microorganisms mostly by bacteria. The ecofriendly wastes must go to the “sampah organik” or organic waste container and the ones which are not must go to “sampah anorganik” or inorganic waste container.

Of course, this separation is made with good intention, no doubt about it. But let’s see if terms adopted here “organik” and “anorganik” are appropriate for this case. If you look for the word “organic” in the dictionary, the definition should read more or less like “Of, relating to, or derived from living organisms”. This definition should make the rule of thumb look easier when you meet these dual containers and you happen to throw away a scrap. Things like mandarin or banana peels go to the organic container while all plastics go to the inorganic container. Wait a sec! Plastics go to the inorganic container?? Are you not mistaken? If you look for the information of plastic in Wikipedia, the first information obtained will be “A plastic material is any of the wide range of synthetic and semi-synthetic organic amorphous solid…..etc.” Now how can you come to a conclusion that plastics must go to the  inorganic container? Okay…. if you still think that it is still not good enough for you to acknowledge plastics as organic wastes let me tell you this that most plastics are derived from crude oil! And crude oil as you learned it at the primary school decades back is formed from prehistoric living microorganisms. The accumulated fossilised microorganisms underwent the überslow evolution that take millions of years to become crude oil that we know today. So it is beyond doubt that plastics are organic!!

On reading this post now you realise why the adoption of the terms “organik” and “anorganik” are incorrect for this case. In my humble opinion they should be replaced by the terms “biodegradable” and “non-biodegradable” or maybe in Bahasa Indonesia the terms “ramah lingkugan” and “tak ramah lingkungan” will do.