Category Archives: Olahraga

LSI vs. LPI : Pilih Mana?

Liga Primer Indonesia

Liga Super Indonesia

Sudah dua tahun terakhir ini, saya mulai bergairah mengikuti liga lokal, Liga Super Indonesia, yang banyak ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia walaupun tidak bisa saya ikuti terus setiap pertandingan yang ditayangkan di televisi.  Kegairahan saya menonton liga lokal di Indonesia mungkin disebabkan karena mutu permainan yang mengalami peningkatan walaupun tentu saja masih jauh di bawah kualitas liga-liga profesional di Eropa (bahkan di kawasan Asia lainnya) dan juga salah satu bentuk apresiasi saya pada produk dalam negeri. Nah, akhir-akhir ini muncul satu lagi yang mengklaim dirinya sebagai liga profesional di luar koridor PSSI yang secara implisit (bahkan mungkin eksplisit) berani menyatakan bahwa liga tersebut lebih profesional dalam pengelolaannya dan tentu saja dengan kata lain menyatakan bahwa kualitas permainannya juga lebih baik. Pertanyaannya, benarkah LPI ini lebih baik dari ‘saingannya’ LSI?

Bagi saya yang bukan pakar sepakbola tapi sangat menikmati pertandingan-pertandingan sepakbola, tidak penting liga mana yang lebih bagus, apalagi memikirkan intrik-intrik politik di balik kedua belah fihak yang bertentangan. Bagi saya, selama keduanya terpacu untuk menyelenggarakan liga yang profesional dan enak ditonton, kenapa saya harus antipati terhadap salah satunya?? Biarlah mereka yang lebih suka intrik-intrik politik di balik keduanya daripada pertandingan sepakbolanya sendiri ikut beradu siasat bagaimana mendiskreditkan liga lawannya sementara kita yang hanya menikmati pertandingan sepakbolanya patut bersyukur karena kini kita tidak hanya disuguhkan satu liga saja melainkan dua liga! Yang suka sepakbola sekaligus intrik politiknya bagaimana? Ha! Mungkin lebih asyik lagi, karena selain bisa menikmati pertandingan sepakbolanya mereka juga bisa menikmati ‘gontok-gontokan’ di antara keduanya.  Namun begitu kalau bisa, yang netral dan obyektif ya, jangan membabibuta berfihak pada salah satu fihak. Ingat, selalu ada kebenaran dan kesalahan dari kedua belah fihak. 😉

Sebagai penikmat sepakbola yang bukan pakar sepakbola, saya hanya berharap bahwa PSSI tidak terlalu mudah kebakaran jenggot, takut liganya nanti kalah pamor dengan saingannya sehingga ‘menyalahgunakan’ wewenangnya yang berakibat pada dilanggarnya hak-hak azasi banyak orang untuk berolahraga sepakbola dan menikmati pertandingan sepakbola. Sebaliknya LPI mudah-mudahan juga benar-benar tulus untuk mengembangkan profesionalitas Indonesia di tanah air dan bukan untuk kepentingan politik atau popularitas individu dan kelompok tertentu semata. Saya percaya, waktu akan menentukan siapa diantara keduanya yang lebih profesional kelak dan juga ‘seleksi alam’ cepat atau lambat akan menenggelamkan salah satu (atau bahkan mungkin keduanya) jika mereka tidak dapat beradaptasi dengan waktu dan lingkungannya. Yang jelas, mudah-mudahan persaingan di antara keduanya berlangsung secara sehat dan sportif. Prinsip ‘Fair Play’ bukan hanya terjadi di dalam lapangan saja, mari kita bawa ke luar lapangan hijau, dengan begitu kompetisi semakin enak ditonton dan semakin banyak orang yang menonton keduanya…. semoga… Insya Allah… 🙂

Jangan Cuma Ingin Bermain Untuk Persib Aja…

Liga Super Indonesia tahun ini sudah dimulai beberapa minggu yang lalu. Walaupun banyak orang berkata terutama mereka yang kurang suka sepakbola kalau liga super di Indonesia itu banyak tawurannya namun entah kenapa sejak 2 tahun belakangan ini saya jadi suka nonton liga super Indonesia. Habis kalau bukan kita-kita para pecandu sepakbola tanah air yang menonton dan mengapresiasikannya, siapa lagi coba? Anggap saja nonton liga super Indonesia sama dengan mengapresiasi produk-produk dalam negeri lainnya seperti mengkonsumsi makanan Indonesia ataupun memakai produk-produk dalam negeri mulai dari kerajinan tangan hingga memakai jasa perbankan dalam negeri. Lha kalau bukan kita-kita ini yang mengapresiasi ya siapa lagi?? Betul nggak? 😀

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu seorang ibu-ibu penjual kupat tahu petis di dekat rumah saya di mana dulu saya jadi salah satu pelanggannya, pernah curhat sama saya, kalau anaknya susah belajar di sekolah. Maunya main sepakbola melulu dan cita-citanya ingin bermain bersama Persib maung Bandung. Lantas, saya berusaha untuk membesarkan hati **halaah** sang ibu tersebut. Saya mengatakan bahwa tidak menjadi soal kalau memang bakatnya adalah sepakbola. Mengenai susah belajar?? Ya… asal prestasinya tidak jeblog-jeblog amat ya tidak mengapa, tidak usah harus berprestasi hingga juara kelas walaupun usaha menuju yang terbaik harus tetap dijalankan. Yang harus diperhatikan adalah apakah si anak memang benar-benar menyukai sepakbola dan tidak hanya sekedar panas-panas tokai ayam seperti banyak blogger-blogger yang sudah berguguran juga karena panas-panas tokai ayam dengan alasan-alasan cengeng seperti sibuk atau koneksi lemot dsb?? Maklumlah kebanyakan anak-anak masih sekedar ikut-ikutan saja. Tapi kalau memang sudah pasti ya sebaiknya tentukan langkah sedini mungkin. Kalau mau jadi pemain sepakbola pro nggak perlu sekolah tinggi-tinggi hingga akademi apalagi universitas cukup hingga sekolah menengah dan setelah itu fokus menjadi pesepakbola yang pro! Tidak perlu berlama-lama menimba ilmu lain yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola karena hanya akan membuang-buang sumberdaya saja baik waktu maupun dana.

Dan satu lagi, jika jadi pemain sepakbola pro, jangan pernah berfikir bahwa jika dia orang Sunda atau lebih tepatnya orang Bandung maka ia HANYA bercita-cita bermain untuk PERSIB! Jangan pernah berfikir seperti itu! Sebagai pemain sepakbola pro, lupakanlah kesukuan dan yang sejenis. Seorang pemain sepakbola pro, harus bisa bermain di klub manapun, nggak peduli apakah itu Persib, Semen Padang, Persipura ataupun bahkan di klub-klub luar negeri sekalipun! Jangan pernah berfikir jika ia orang Bandung maka ia harus membela Persib Bandung karena Persib Bandungpun belum tentu mau menerimanya bermain hanya karena ia orang Bandung! Jadi pendek kata, sebagai pesepakbola profesional, cintailah profesi sepakbolanya itu sendiri lebih dari klub manapun!

Si ibu penjual kupat tahu petis itu nampaknya bisa memahami hal-hal yang saya sebutkan pada awal-awal namun nampaknya beliau belum bisa mengerti mengapa anaknya sebagai orang Bandung “tidak boleh/bisa” selalu membela Persib. Namun tentu saja saya tidak bisa menyalahkan si ibu jikalau beliau tidak mengerti karena pasti beliau juga tidak mengerti dinamika dunia persepakbolaan profesional saat ini. Untuk mengerti hal tersebut tentu seseorang harus mengerti dinamika dunia persepakbolaan pro yang terjadi saat ini. Saya hanya bisa berfikir, biarlah sang ibu tidak mengerti hal tersebut namun saya yakin jikalau si anak kelak akan menjadi seorang pesepakbola pro, ia akan mengerti…

A Goal or A Save?

As I wandered off across YouTube on nibbling a prawn cracker I stumbled across this  video, it is one of the most hilarious penalty shots.  I have no clue in which land did this stupid penalty come about but in the background we would see a side commercial hoarding saying “Maroc Telec*m”, it would have told us the place of the event. The referee assigned to the match did not seem to have to walk a thin line between a goal and a save. It only took seconds for him to come up with a firm decision that would make the outright celebrating goalie burst into protest but it obviously went nowhere.

I’m not sure why is it called a goal, but in my opinion, this is in the shootout session because I can’t see other players rushing in to score nor to save. The ball had not left the playing field and no interventions from the other players to score a goal, so a goal is! The celebrating goalie is no doubt disappointed for not successfully saving a goal….. and his face! 😀

Piala Dunia “Yang Aneh…”

Piala Dunia kali ini bagi saya terasa sedikit “aneh”. Kenapa begitu? Entah kenapa sedikit aneh, bukan aneh karena  jika pada pertandingan final besok Belanda memenangkan pertandingan tersebut, saya ( pertama kalinya dalam sejarah taruhan saya) akan kalah taruhan tetapi juga karena terlalu banyak kejutan-kejutan yang ada di piala dunia kali ini. Banyak ramalan pakar-pakar sepakbola yang meleset. Bahkan kini boleh dikata, ehm, bahwa ramalan-ramalan pakar-pakar sepakbola sudah “kalah akurat” dibandingkan dengan ramalan si gurita Paul (der Tintenfisch Paul Oktopus) dari Oberhausen, Jerman itu. Ya, kekalahan saya dalam taruhan (jika Belanda besok menang) bukanlah satu-satunya hal yang “pertama kali” terjadi, tapi juga banyak hal-hal lain di piala dunia ini yang juga baru pertama kali terjadi yang menjadikannya piala dunia yang “teraneh” menurut saya.

Hal-hal lain yang baru pertama kalinya terjadi dalam piala dunia kali ini adalah: Pertama, untuk pertama kalinya negara Eropa akan menjadi juara di Piala Dunia yang digelar di luar benuanya! Kedua, untuk pertama kalinya kesebelasan-kesebelasan Asia, di luar piala dunia 2002 di Jepang-Korea, berhasil maju ke babak knockout (babak kedua). Ketiga, untuk pertama kalinya kesebelasan tuan rumah gagal maju ke babak knockout atau babak kedua. Bahkan ketika AS menjadi underdog dan menjadi tuan rumah piala dunia 1994, AS berhasil melaju ke babak kedua. Keempat, Ini juga untuk pertama kalinya juara bertahan dan runner-up kejuaraan Piala Dunia tahun lalu yaitu diwakili kesebelasan Italia dan Perancis sama-sama tersisih di babak awal piala dunia, dan menempati juru kunci pula di masing-masing grup! Sungguh menyedihkan sekaligus sungguh “aneh”.

Namun keanehan bukan hanya terjadi di pertandingan-pertandingan piala dunia saja. Kejadian-kejadian di seputar piala dunia tak kalah banyak yang “aneh” atau malah menggelikan. Di suatu pagi, ketika saya tengah menonton acara “Lensa Olahraga” di ANTV, saya tersenyum-senyum geli (bukan karena dikelitik loh… 😛 ) ketika ibu Rita Subowo, ketua KONI Pusat, ditanya soal siapa yang bakal menang antara kesebelasan Jerman melawan Australia. Si ibu ketua KONI Pusat ini menjawab dengan sedikit ragu-ragu “Jerman”. Lantas ditanya kembali: kenapa ibu memegang Jerman?? Dijawab juga dengan sedikit ragu-ragu “Soalnya teman saya banyak yang bermukim di Jerman”!! O alaaah… bu… bu…. mbok ya, kalau ditanya mengenai sepakbola, ya jawabnya juga sepakbola juga, paling tidak nyerempet-nyerempet deh! Apalagi beliau adalah ketum KONI pusat, mbok ya belajar sedikit-sedikit mengenai sepakbola begitu. Moso ditanya kenapa memegang kesebelasan Jerman (waktu melawan Australia), jawabannya “Soalnya teman saya banyak yang bermukim di Jerman”!! Untung aja yang ditanya masalah sepakbola, masalah yang belum dianggap serius terutama di negara kita ini. Coba kalau ahli ekonomi ditanya begini: “Bu…. bu… atau pak… pak…. kira-kira dalam jangka waktu 10 tahun, negara mana yang mempunyai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi: negara A atau negara B??” Dijawab: “Negara A”. Alasannya: “Sebab teman-teman saya banyak yang bermukim di negara A”. Lah, kan lucu!! :mrgreen: Untung saja banyak orang yang masih banyak menganggap pertanyaan sepakbola sebagai pertanyaan yang nggak begitu penting.

Namun “keanehan” atau “kelucuan” nggak berhenti sampai di situ. Kambing hitam, seperti biasa, laris manis dicari-cari terutama oleh kesebelasan-kesebelasan unggulan yang bertumbangan di babak-babak awal. Kesebelasan Perancis (yang sebenarnya termasuk salah satu kesebelasan favorit saya) adalah termasuk salah satu kesebelasan yang paling sibuk mencari kambing hitam sampai-sampai terjadi keretakan dalam tubuh kesebelasan “Les Bleus” tersebut. Sedangkan kesebelasan Inggris (England), kesebelasan nasional yang paling saya benci sedunia ternyata nggak kalah noraknya! Kesebelasan nasional yang selalu mendapatkan publikasi dan sorotan serta sambutan publik internasional secara meriah namun tidak pernah berprestasi di tingkat dunia bahkan Eropa ini juga sempat sibuk mencari kambing hitam apalagi setelah digebuk “der Panzer” 1-4. Gol kedua Inggris yang dianulir (yang harus saya akui sebenarnya itu seharusnya menjadi gol yang sah) sempat dijadikan alasan menurunnya performansi Inggris di babak kedua sehingga Inggris gagal mengejar ketertinggalannya dari Jerman bahkan harus kebobolan 2 gol lagi! Menurut saya alasan tersebut merupakan alasan yang sangat menyedihkan. Kenapa? Kesebelasan sekaliber Inggris, yang katanya kaliber dunia itu, tidak seharusnya mempunyai mental yang cepat anjlog hanya karena sebuah gol yang dianulir. Kok, seperti mental PSSI aja sih! Sungguh, bukan mencerminkan mental sebuah kesebelasan berkelas dunia. Padahal, sebuah kesebelasan berkelas dunia bukan hanya harus mempunyai skill dan disiplin yang sangat bagus tetapi juga tentu saja harus mempunyai mental yang setangguh baja pula. Pantesan, kesebelasan Inggris nggak pernah juara di piala dunia (kecuali tahun 1966 yang diselenggarakan di tanah Inggris) dan piala Eropa (Euro). Jangankan juara, masuk finalpun kesebelasan Inggris nggak pernah (kecuali di piala dunia 1966 itu yang menjadi juara) baik di piala dunia maupun di piala Eropa. Prestasi Inggris terbaik hanya sebagai juara ketiga di Euro tahun 1968 dan 1996, sedangkan di piala dunia, Inggris tidak pernah menjadi juara ketiga sekalipun! Heran aku, masih banyak aja yang mau menjagokan kesebelasan Inggris! 😛 “Kenorakan” kesebelasan Inggris bukan hanya sampai di situ, menurut berita yang sempat saya tonton juga di “Lensa Olahraga” ANTV, kegagalan kesebelasan Inggris adalah karena persaingan individu-individunya di lapangan yang masing-masing pemain masih membawa persaingan antar klub-klub besar mereka! Ck..ck..ck… lagi-lagi menurut saya, itu adalah sebuah mental yang kurang profesional. Seharusnya jikalau kita sudah bermain di bawah bendera nasional, sebaiknya kita lupakan persaingan-persaingan di tingkat klub. Jangan persaingan di klub dibawa-bawa di tingkat kesebelasan nasional! Sungguh merupakan sikap yang kurang profesional! Cukup “aneh” dan “menggelikan” juga ya, karena ternyata sebuah kesebelasan bertingkat dunia (mungkin bukan kesebelasan Inggris saja) ternyata masih juga menyisakan mental dan sikap profesional setingkat PSSI yang menyedihkan….. :mrgreen:

Ya udah… deh…. pendek kata Piala Dunia kali ini merupakan piala dunia “yang aneh”, minimal buat saya pribadi! Spanyol dan Belanda bertemu di final. Inilah, sejak piala dunia 1978 di Argentina, di pertandingan final akan bertemu dua kesebelasan calon juara dunia baru. Anda menjagokan siapa?? Aku pegang Spanyol deh! Mudah-mudahan ramalan si Paul oktopus yang menjagokan Spanyol menjadi kenyataan! 😛

Piala Dunia dan Taruhan Kreatif Alternatif

Piala Dunia FIFA

Tidak terasa…. empat tahun setelah hingar bingar piala dunia di Jerman selesai, kini penggila bola segajad kembali disuguhkan oleh pesta olahraga terbesar kedua di dunia setelah olimpiade tersebut. Sangking banyaknya yang tergila-gila dengan kejuaraan yang diselenggarakan empat tahunan sekali sampai-sampai banyak pelanggan TV berbayar (kabel ataupun satelit) yang teraniaya seperti saya ini, karena provider-nya nggak dapat izin untuk menyiarkan piala dunia, sampai dibela-belain untuk membeli antena TV terestrial yang primitif tersebut hanya untuk menikmati siaran piala dunia walaupun gambarnya cukup banyak “semut”nya seperti kasus yang saya alami 😦 , namun yah apa boleh buat tahi kambing bulat-bulat, seperti kata pepatah “tak ada rotan akarpun jadi”. Nah, bagi para pecandu sepakbola (atau bisa juga para penikmat judi taruhan atau penikmat sepakbola dan taruhan sekaligus) tidak seru rasanya jika tidak membumbui piala dunia dengan taruhan siapa yang bakal menggondol pulang piala dunia tersebut. Sepertinya piala dunia tanpa taruhan ibarat sayur tanpa garam, bahkan bisa jadi ibarat sayur tanpa sayurannya itu sendiri! Atau minimal jika  tidak terbiasa dengan taruhan setidak-tidaknya para pecandu bola biasanya paling sedikit ikut-ikutan menebak siapa yang bakal juara.

Nah, begitu juga dengan saya, rasanya tidak “sreg” kalau tidak ikut tebak-tebakan dengan sesama “penggila” bola untuk sekedar menebak negara mana yang akan menjuarai piala dunia kali ini. Saya sendiri punya pengalaman yang lumayan unik dari pertaruhan piala dunia ini terutama dari piala dunia 1990 hingga 1998. Ceritanya, waktu sejak jadi mahasiswa saya punya teman kuliah asal Padang, Sumbar yang juga gila bola. So, setiap kali piala dunia (dan juga piala Eropa atau Euro) berlangsung kita berdua selalu taruhan. Namun medium taruhan diubah dan bukan uang karena katanya pak Ustadz taruhan dengan uang diharamkan maka medium taruhan diubah.

Mula-mula di piala dunia 1990, taruhannya adalah siapa yang kalah harus bersihkan kamar kos yang menang selama seminggu! Dan jikalau dari kedua kesebelasan yang masing-masing kita pegang tidak ada yang jadi juara, maka pemenang taruhan ditentukan dengan melihat siapa dari kedua kesebelasan yang kita pegang yang berprestasi lebih baik di piala dunia tersebut. Dengan begitu bisa dipastikan bahwa dari taruhan tersebut pasti ada yang menang dan yang kalah! Waktu itu dia sangat ngotot megang Belanda yang masih diperkuat oleh trio Belanda yang terkenal waktu itu: Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard. Sedangkan saya memegang Jerman Barat yang juara. Di babak 16 besar kedua kesebelasan bertemu! Dan Belanda harus mengakui keunggulan Jerman Barat 2-1. Haha… jadilah dia yang harus membersihkan kamarku selama seminggu padahal selama dua minggu kamarku sengaja tidak saya bersihkan, sementara dia juga selama beberapa minggu tidak membersihkan kamarnya karena yakin bakal menang! Walhasil… dia harus membersihkan dua buah kamar yang sama-sama tidak dibersihkan selama dua minggu! 😆

Untuk Euro 1992, karena kita sudah sama-sama lulus dan kita tinggal di Jakarta dengan jarak tempat tinggal yang cukup berjauhan, maka taruhan diganti dengan yang agak klasik yaitu: traktir makan. Saya lupa lagi dia megang kesebelasan apa, kalau nggak salah dia tetap memegang kesebelasan Belanda, sedangkan saya masih ingat saya tetap memegang kesebelasan Jerman. Walaupun yang juara adalah kesebelaan Denmark pada Euro 1992, tapi saya tetap menang taruhan karena kesebelaan yang saya pegang sebagai taruhan tetap mencapai babak yang lebih baik yaitu sampai ke babak final.

Piala Dunia 1994 dan Euro 1996 karena kendala jarak antar kita berdua maka eksekusi taruhan ditiadakan. Baru pada Piala Dunia 1998 kita “taruhan” lagi.  Kali ini taruhannya cukup unik yaitu siapa yang kalah harus mau memuji-muji yang menang di depan umum! Terserah pujiannya apa! 😆  Cara taruhannyapun sedikit diubah. Masing-masing pihak kini memegang tiga kesebelasan (bukan satu kesebelasan) untuk menjadi juara. Jikalau dari keenam kesebelasan (tiga dari masing-masing fihak) tidak ada yang juara maka tidak akan ada pemenang dalam taruhan itu alias seri. Jadi peraturan kesebelasan siapa yang bisa mencapai babak yang lebih baik tidak lagi berlaku di sini. Saya ingat benar, saya memegang Perancis, Jerman dan Argentina sementara dia memegang Brasil, Italia dan salah satu negara Afrika (saya agak lupa negara mana tapi kalau nggak salah Nigeria). Ketika hari final tiba, dan berhadapan kesebelasan Perancis dan Brasil adalah hari yang menegangkan karena salah satu dari kita pasti ada yang menang dan ada yang kalah! Dan sejarah mencatat akhirnya Perancis menang telak 3-0 di final! Huahaha…. lagi-lagi deh aku menang…. dan susah diceritakan bagaimana akhirnya dia memuji-muji saya di depan umum sampai saya sendiri merasa malu…. 😆 😆

Pada Euro 2000, kami tidak taruhan lagi, karena selain kami sudah sibuk masing-masing, ia juga telah menikah dulu di tahun 1999. Walau begitu, hingga sekarang, via SMS, setiap kali piala dunia ataupun Euro ” taruhan” tetap dilaksanakan walaupun hanya sekedar menebak-nebak kesebelasan mana yang bakal jadi juara. Namun begitu, untuk piala dunia tahun ini, saya tengah bertaruh dengan teman saya yang lain, teman kantor saya, saya pegang Brasil dan Argentina sementara teman saya pegang Belanda dan Inggris. Saya memilih Brasil dan Argentina karena selama ini negara-negara Eropa selalu gagal dalam meraih juara kalau kejuaraan piala dunia diadakan di luar benua Eropa. Taruhannya?? Yang kalah membayar tagihan listrik (PLN) dan Internet yang menang selama 3 bulan berturut-turut! Bagaimana?? Lumayan kan kalau menang?? 😛

Allez Henin!

Justine Henin

The fortnight’s fun of Australian Open is over. No ‘new’ champions of Australian Open in the singles emerged. Top seeds, the American Serena Williams and the Swiss Roger Federer took home the most coveted titles. In the men singles’ final, Federer dominated his opponent the Scotsman Andy Murray, and the Swiss did sail through the final match  with the trophy. But in the ladies singles’ final, the story is a little bit different.

Justine Henin, the Belgian, who in 2008 decided to retire from the tennis court and eventually decided to return to the women’s tennis tour in 2009, did not let Serena sweep through the match. Every point gained by each player was grabbed hammer and tongs. Henin, despite her petite frame in comparison with her opponent who has an amazonian chassis, surprisingly has almost all of her strokes and shots packed with energy. I even wonder how come a relatively small lady like Henin got her enormous energy like that? Her motion is also agile like a gazelle to cover the court and to return every knockdown shot of her brawny American opponent. Unfortunately Henin’s errors were still produced fast and furious that gave Serena cheap points although I know that Serena also played awesome and she also made unfavourable errors. Though I rooted for the Belgian, I have to admit, it is the better who must have the trophy. And the match eventually belonged to the American.

However, I know that it is not easy for Henin to return to the court with her maximum capacity after quitting the tour for 18 months. It appeared that she would need to crank herself up before she reaches the peak again like she did before she quit. But her appearance and her performance, although she succumbed to Serena, in the Australian Open final delivered a wake-up call to the top players like the Williams sisters and the East European league that in the foreseeable future she would become a full-blown competitor again to those top players. “Allez” Justine, like the French word she frequently shouts after winning a stiff point!

Piala Dunia Hijau 2022: Tema Indah Sebatas Pemasaran Saja??

Saya dulu pernah membuat sebuah artikel tentang “nekad”nya Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah piala dunia (sepakbola) tahun 2022 di sini. Dan ternyata Indonesia, dalam hal ini PSSI, benar-benar nekad, karena kini Indonesia sudah resmi menyatakan diri sebagai calon tuan rumah piala dunia 2022 bersaing dengan negara-negara yang jauh lebih maju, baik infrastrukturnya maupun sepakbolanya seperti: Korea, Jepang, Amerika Serikat, Australia dan Qatar.

Untuk itu mari kita sedikit mereviu “peluang” kita untuk sukses menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Sukses tidaknya kita terpilih menjadi tuan rumah piala dunia 2022, sangat bergantung kepada siapa yang terpilih menjadi tuan rumah piala dunia 2018 sebelumnya. Kenapa begitu?? Dalam perebutan tuan rumah piala dunia 2018 negara-negara yang mendaftarkan diri adalah: Inggris, Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Spanyol-Portugal (tuan rumah bersama), dan Belanda-Belgia (tuan rumah bersama). Banyak pengamat mengatakan adalah sulit untuk bersaing dengan negara-negara Eropa seperti: Inggris, Spanyol-Portugal dan juga Belanda-Belgia. Untuk itu, banyak pengamat meramalkan tuan rumah piala dunia 2018 akan jatuh ke tangan salah satu negara Eropa dengan Inggris sebagai kandidat terkuat. Nah, jikalau tuan rumah piala dunia 2018 sudah jatuh ke tangan salah satu negara Eropa, maka persaingan memperebutkan tuan rumah piala dunia 2022 menjadi “sedikit ringan” bagi Indonesia karena menurut peraturan FIFA yang baru, jikalau salah satu negara Eropa sudah memenangkan menjadi tuan rumah piala dunia 2018, maka seluruh negara Eropa tidak diperkenankan untuk mendaftarkan diri sebagai tuan rumah piala dunia 2022 dan 2026. Keadaan menjadi sedikit lebih buruk bagi Indonesia andaikan Amerika Serikat menjadi pemenang dan menjadi tuan rumah piala dunia 2018 karena negara-negara Eropa akan kembali mendaftarkan diri sebagai calon tuan rumah piala dunia 2022. Namun malapetaka bagi Indonesia (sebagai calon tuan rumah piala dunia 2022) akan datang manakala Australia atau Jepang yang sukses menjadi tuan rumah piala dunia 2018! Kenapa? Sebab itu berarti Indonesia dan negara-negara Asia lainnya tidak diperkenankan lagi untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 dan 2026! Jadi doakan saja mudah-mudahan tuan rumah piala dunia 2018 jatuh ke tangan salah satu negara Eropa!

Namun sebenarnya siapapun yang menjadi tuan rumah piala dunia 2018, posisi Indonesia sebagai calon tuan rumah piala dunia 2022  tetap saja “underdog” dibandingkan calon-calon tuan rumah lainnya baik dari segi infrastruktur maupun dari prestasi sepakbolanya sendiri. Namun begitu, Indonesia sebenarnya menawarkan tema unik yaitu “Green World Cup” atau Piala Dunia Hijau, sebuah piala dunia yang dikatakannya akan sangat ramah lingkungan. Tema unik ini tidak dimiliki oleh calon-calon tuan rumah lainnya. Namun masalahnya adalah, sampai detik ini situs resmi pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia 2022 belum berhasil mengemukakan secara detail bagaimana Indonesia mampu membuat piala dunia menjadi lebih ramah lingkungan dibandingkan penyelenggaraan piala dunia yang diselerenggarakan oleh negara-negara lain!! Semuanya masih mengambang dan seolah-olah slogan Piala Dunia Hijau hanya untuk menarik perhatian FIFA saja atau untuk sekedar fungsi marketing saja. Jangankan informasi mendetail, situs yang sampai hari ini sangat kaya akan tulisan  “coming soon” masih seringkali sulit diakses alias server-nya sering “down”. Bandingkan saja dengan situs yang dipersiapkan Australia sebagai promosi tuan rumah piala dunia 2018-2022, terkesan mereka jauh lebih siap!

Banyak pekerjaan rumah yang harus dipersiapkan Indonesia agar sukses menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Pemilihan tema “Green World Cup” sebagai strategi pemasaran mungkin sangat bagus, namun jikalau Indonesia gagal merepresentasikan ke dalam detail bagaimana mewujudkan penyelenggaraan piala dunia yang lebih hijau, akan menjadikan bumerang bagi Indonesia sendiri. Namun sebaliknya jika kita berhasil merepresentasikan detail piala dunia yang lebih hijau secara teknis akan dapat menaikkan pamor Indonesia sebagai kandidat tuan rumah piala dunia 2022. Jadi pemilihan tema “Green World Cup” dapat menjadi pisau bermata dua yang menguntungkan atau juga membunuh diri sendiri. Semoga kita bisa memanfaatkan keuntungannya dengan baik…