Arsip Kategori: Pemilu

A, B atau C?

Cukup menarik artikel yang dibuat di blog manusiasuper di sini. Sebenarnya ada dua  pertanyaan yang diajukan di artikel manusiasuper tersebut, namun saya tertarik terhadap salah satunya saja. Untuk singkatnya, mari saya intisarikan artikel tersebut di sini. Oke, misalnya anda disuruh memilih dari ketiga kandidat berikut ini (diusahakan jangan golput ;) )

Kandidat A:  Memiliki banyak teman politisi busuk, percaya pada ramalan bintang, punya dua istri gelap, perokok ganja dan minum 8 hingga 10 gelas martini per hari.

Kandidat B: Pernah dipecat dari kantornya dua kali, selalu tidur hingga siang hari, pengguna opium ketika menjadi mahasiswa dan minum setengah galon wiski setiap malam.

Kandidat C: Dinobatkan sebagai pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, sangat jarang minum minuman keras, dan tidak pernah melakukan pelecehan seksual apapun.

Ayo pilih sekarang! Nah….. anda sudah memilih?? Sekarang kita lihat siapa saja ternyata ketiga kandidat tersebut:

**

**

**

**

**

**

**

**

**

**

Dan ini dia ketiga kandidat tersebut:

Kandidat A: Franklin Delano Roosevelt
Kandidat B: Winston Churchill
Kandidat C: Adolf Hitler

Terkejut? Ya, sayapun juga terkejut. Tapi hanya untuk sementara. Ada dua hal kenapa keterkejutan saya hanya sebentar.  Pertama saya langsung menyadari bahwa pilihan di atas agak “mengarahkan” karena kandidat A dan B hanya dituliskan sifat yang buruk-buruk saja, sementara kandidat C hanya dituliskan sifat yang baik-baik saja.  Mungkin jikalau sifat-sifat kandidat A dan B diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat baiknya sementara sifat-sifat kandidat C juga diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat buruknya mungkin pilihan kita bisa berbeda. Kedua, tentu saja saya sadar bahwa seburuk-buruknya orang iapun pasti punya sifat-sifat positif juga, sebaliknya sebaik-baiknya orang iapun pasti punya sifat-sifat negatif juga jadi kasus di atas sebenarnya adalah hal yang umum.

Namun hal yang lebih penting dari adanya “kasus”  di atas adalah bisa membuat calon pemilih menjadi bingung karena dalam benaknya tertanam seolah-olah mereka yang mempunyai sifat-sifat baik ternyata bisa menjadi seorang “monster” dan sebaliknya. Sebenarnya kasus di atas memang bisa saja terjadi di dunia nyata ketika para pemilih dengan segala cara tidak bisa mengetahui sifat-sifat lengkap kandidat-kandidat yang akan dipilihnya atau pendek kata informasi mengenai kandidat-kandidat tersebut sangat terbatas. Kalau sudah begitu kini timbul dua pertanyaan, pertama, apakah jikalau kita memilih C (yang ternyata Adolf Hitler) berarti kita salah pilih? Tentu saja jawabannya ‘ya’. Tapi, pertanyaan kedua, apakah kita bersalah karena memilih C? Jawabannya ‘tidak’, karena kita sudah memilih dengan kriteria yang masuk akal berdasarkan informasi maksimal yang kita dapatkan. Memang betul, lain waktu jika ada kandidat-kandidat dengan sifat-sifat di atas bisa jadi kandidat C malah lebih buruk dari Adolf Hitler, namun jangan lupa bisa saja lain waktu ternyata kandidat A atau B yang memang jauh lebih buruk dari Adolf Hitler. Jadi jika ada pemilihan kandidat seperti di atas dan anda tidak mengetahui bahwa C adalah Adolf Hitler, dan anda hanya mempunyai informasi yang terbatas mengenai ketiga kandidat, maka jangan ragu-ragu untuk memilih salah satu kandidat yang menurut anda paling sreg, termasuk kandidat C ! ;)

Jangan Seperti Tinta Pemilu yang Cepat Pudar…

Tinta pemilu pada jari saya, saya cuci dengan sabun cair Astonish buatan UK. Hanya sepuluh menit saja tinta tersebut telah hilang dari kulit jari saya. Hanya yang di kuku dan kulit di bawah kuku saja yang tintanya susah dihilangkan.

Tinta pemilu pada jari saya, saya cuci dengan sabun cair Astonish buatan UK. Hanya sepuluh menit saja tinta tersebut telah hilang dari kulit jari saya. Hanya yang di kuku dan kulit di bawah kuku saja yang tintanya susah dihilangkan.

Pilpres telah berlalu kemarin. Masing-masing pemilih telah menentukan pilihannya sesuai dengan hati nurani masing-masing dan/atau pertimbangan-pertimbangan lainnya. Tentu sebagian anda ada yang mencontreng dan ada juga yang tidak mencontreng. Yang tidak mencontrengpun tentu juga ada pertimbangan masing-masing ataupun mungkin juga terjegal oleh agenda yang padat atau masalah administrasi DPT. Tidak mengapa. Yang tidak mencontrengpun tentu saja tidak bisa dianggap begitu saja sebagai warga negara yang kurang baik karena ada berjuta cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah warga negara yang baik.

Saya berangkat ke TPS tepat pukul 8.00 WIB bersama istri dan seorang teman yang indekos dekat rumah saya yang cukup rajin berkomentar di blog ini tapi nggak punya blog. Anak-anak (yang masih tidur) dan dua orang asisten rumah tangga menjaga rumah. Karena jarak TPS  hanya ±800 yard (>750 meter) dan hari masih pagi (hari libur pula) tadinya saya berharap bisa berjalan kaki menuju TPS sekalian berolahraga. Namun karena kalah suara (dua lawan satu) akhirnya kami bertiga naik mobil menuju TPS….. :P Untung saja hari masih pagi, dan belum pemilih banyak yang antri. Kami bertiga mendapat nomor panggilan di bawah 20. Tidak seperti pileg lalu, pada pilpres kali ini semua berjalan dengan cepat, setiap pemilih membutuhkan waktu kurang dari semenit untuk mencontreng pilihannya. Setelah mencelupkan jari ke dalam tinta tanpa  berfikir panjang kami bergegas pulang. Seluruh proses, dari pemanggilan hingga mencelupkan jari ke dalam tinta, memakan waktu tidak lebih dari 10 menit saja.

Pilihan saya berbeda dengan pilihan istri dan teman saya. Mereka memilih nomor dua, saya memilih nomor tiga!! Bagi kami, tidak malu-malu untuk mengutarakan pilihan masing-masing. Walau pilihan berbeda namun bukan berarti harus berakhir dengan adu argumentasi, masing-masing mengapresiasi argumen masing-masing dalam menentukan pilihan. Apalagi saya sangat senang dengan perbedaan pendapat (untuk hal-hal yang non-eksakta tentu saja!) yang berkembang di sekitar lingkungan saya asal masing-masing saling menghargai dan tidak saling menjatuhkan (beradu argumen untuk hal-hal yang non-eksakta tentu juga bukan merupakan tabu bagi saya tetapi tetap obyektif dan tidak bergeser pada hal-hal yang subyektif).

Seperti yang kita ketahui bersama, melalui Quick Count, sudah bisa ditebak pasangan mana yang menjadi pemenang. Pasangan yang saya pilih ternyata kalah dan terpuruk di tempat terakhir. Ya, tidak mengapa. Pada dasarnya tentu saja demokrasi itu adalah siap menerima sesuatu yang tidak kita suka, bukan hanya ‘mewajibkan’ orang lain menerima apa yang kita suka. Saya ikut mengucapkan selamat aja deh buat pasangan capres dan cawapres yang menang. Bagi yang kalah, mudah-mudahan bisa menjadi oposisi yang baik. Oposisi yang baik di sini bukan hanya membabibuta mengkritik pemerintah tetapi lebih pada kombinasi daripada mendukung program-program pemerintah dan sekaligus mengkritik program-program pemerintah secara proporsional. Jadi bagi yang menang jadilah pemerintah yang baik yang tetap menjaga kepentingan rakyat yang telah memilihnya dan jangan lupa dengan janji-janji semasa kampanye. Juga bagi yang beroposisi, jadilah pula oposisi yang baik. Tetap pula tidak melupakan janji-janjinya semasa kampanye dengan tetap memperjuangkan suara-suara rakyat yang direpresentasikannya. Jadi bagi pemerintah dan bagi oposisi tetaplah memegang janji-janjinya. Janganlah janji-janji tersebut cepat memudar secepat pudarnya tinta pemilu pada jari kita yang kualitasnya rendah…..

Selamat Mencontreng…..

Tidak terasa…… dua hari lagi kita tiba pada hari di mana para tim sukses masing-masing capres/cawapres hatinya merasa deg-degan, yaitu hari di mana kita mencontreng untuk memilih pemimpin negeri ini selama lima tahun mendatang. Bagi mereka yang berniat untuk ambil bagian dalam peristiwa yang merupakan bahagian dari pesta demokrasi ini sudahkah mengecek nama anda terdaftar dalam DPT? Alhamdulillah, saya pribadi tidak perlu mengecek lagi apakah saya sudah terdaftar atau belum di DPT karena dua minggu yang lalu, saya sudah menerima surat tanda terdaftar sebagai pemilih pilpres lusa. Mudah-mudahan bagi anda yang juga ingin berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini juga sudah menerima surat serupa.

Nah, kalau sudah, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah anda sudah menentukan pilihan anda?? Mungkin anda sudah punya kandidat terkuat untuk dipilih walaupun masih sedikit ragu-ragu atau mungkin sebagian dari anda sudah punya pilihan yang mantap tapi masih malu-malu mengutarakannya karena khawatir pilihannya bisa jadi dinilai “keliru” oleh orang lain yang memilih kandidat yang berbeda. Sebenarnya sih, anda tidak perlu berlama-lama dalam memilih kandidat capres dan cawapres anda. Masa sih, memilih satu dari tiga saja membutuhkan waktu yang cukup lama? Sebenarnya tidak ada pilihan yang “salah”. Semua orang punya alasan masing-masing untuk memilih kandidatnya masing-masing dengan pertimbangan APAPUN.  Masing-masing kandidat toh juga pasti punya kelebihan dalam kelemahan masing-masing. Nah, semuanya tinggal berpulang kepada kita masing-masing apakah kita sudah mempertimbangkannya secara obyektif atau hanya sekedar subyektif atau campuran dari kedua unsur?? Ya…. tentu saja, sekali lagi, itu adalah hak anda karena dalam pilpres ataupun pemilu memang diasumsikan tidak ada pilihan yang “salah”.

Saya sendiri juga sudah punya pilihan sejak sebulan lalu. Bagi saya, pilihan saya tersebut tidak tabu untuk diketahui banyak fihak dan tentu akan saya beri tahu pilihan saya di artikel ini juga!! Namun sebelum itu, perlu saya beritahu bahwa pilihan saya bukan semata-mata berdasarkan program-program yang ditawarkan capres dan cawapres lewat kampanye-kampanye dan debat-debat yang telah dilakukan semasa kampanye tetapi saya lebih mengutamakan prinsip keseimbangan! Entah kenapa….. dari dulu saya suka dengan prinsip keseimbangan. Dalam pertandingan sepakbola dan tennispun misalnya saya cenderung membela tim atau pemain yang underdog. Sebenarnya terus terang selama kampanye berlangsung, menurut saya pribadi,  saya paling sreg dengan pasangan capres dan cawapres nomor \frac{\sqrt{32}+\sqrt{48}}{\sqrt{8}+\sqrt{12}} namun karena saya suka dengan prinsip keseimbangan, maka kemungkinan besar tanggal 8 lusa, saya akan memilih pasangan capres dan cawapres nomor:

3 - ( \frac{1}{\sqrt{3}} + \frac{1}{3 + \sqrt{3}} + \frac{1}{\sqrt{3} - 3} )

Walaaah….. kenapa nih, mau memberitahu pilihan capres dan cawapres aja pakai hitungan matematika?? Karena ini masih masa tenang dan biar nggak disebut kampanye terselubung, maka dengan menyesal terpaksa anda harus mengambil kalkulator untuk mengetahui pasangan pilihan capres dan cawapres yang saya pilih! Huehehehehe…….. Percaya deh, hitungannya tidak terlalu sulit kok… :D

Debat Capres (Cawapres) Lawan Wimbledon…

debateLah…. apa hubungannya Debat Capres dan Wimbledon? Hubungannya….. memang tidak ada! Namun bagi saya, keduanya sedikit “bersinggungan” karena dalam seminggu dua minggu ke depan ini jadwal debat capres (dan cawapres) akan bertubrukan dengan jadwal siaran langsung kejuaraan tennis yang bisa dikatakan terakbar di dunia yaitu Wimbledon yang mulai disiarkan langsung kemarin sore, Senin 22 Juni 2009. Walau kedua event ini termasuk event yang saya tunggu-tunggu penayangannya lewat televisi tapi kedua-duanya sudah menuai kekecewaan buat saya. Kenapa??

Debat capres pertama yang saya ikuti minggu lalu di televisi ternyata telah mengecewakan saya. Kenapa?? Anda tentu sudah tahu kenapa sebabnya. Ya… karena acara yang judulnya “Debat Capres” menjadi lebih mirip jika judulnya diganti menjadi “Sinergi (antar) Capres”. Para peserta debat lebih banyak ho’oh dan seiya-sekata dengan lawan debatnya dibandingkan mendebat pernyataan, opini, visi dan misi lawan-lawan debatnya. Jadi dalam debat capres yang pertama, esensi debat yang seharusnya ditampilkan dalam acara itu gagal ditampilkan sehingga masyarakat jadi susah membedakan perbedaan visi dan misi para capres. Lah, kalau sudah seiya sekata ngapain juga diadakan acara debat?? Lantas, kalau semua capres (dan cawapres) sudah seiya sekata dan cuma saling mengekor ya buat apa masyarakat harus memilih dengan cerdas, lah wong para capresnya juga bisanya cuma “ho’oh” saja dalam berdebat……

Menurut pendapat saya pribadi (tentu bisa saja salah walaupun bisa juga benar sekali :P ) memang para peserta debat punya “beban mental” tersendiri. Selain sepertinya para capres ingin tampil santun, sepertinya para capres ini juga takut “salah berargumentasi” dalam perdebatan tersebut. Dan juga sepertinya, masih menurut saya, ehm, sepertinya capres yang nomor satu dan yang nomor tiga sedikit ogah untuk berkonfrontasi satu sama lain. Karena….. mereka saling membutuhkan suara pendukung yang rontok pada pilpres putaran pertama untuk menghadapi pilpres putaran kedua. Ya, nggak lucu dong, nanti saling mendukung sekarang mengkritik dan berdebat sengit. Untuk itu sepertinya capres yang nomor satu dan nomor tiga hanya “bernafsu” untuk berkonfrontasi dengan capres yang nomor dua. Namun sepertinya juga kurang elok jika dalam perdebatan yang seharusnya segitiga itu menjadi perdebatan “garis lurus” karena titik yang ketiga dalam segitiga tersebut sudah bergabung (berhimpitan) dengan titik pertama untuk sama-sama menghantam titik yang kedua.

Nah, masih menurut saya lagi, seharusnya agar perdebatan lebih hidup format acaranya memang harus diubah. Penyampaian visi dan misi masing-masing para capres (dan cawapres) pada masing-masing topik sebaiknya ditiadakan, atau kalaupun ada paling lama hanya lima menit saja, jangan sepuluh menit, terlalu lama. Toh, kemungkinan besar nanti yang didengar juga cuma lagi-lagi hal-hal yang berbau normatif yang terkesan basi. Untuk itu, waktu yang berharga tersebut bisa langsung digunakan untuk sesi perdebatan. Agar para capres (dan cawapres) lebih terangsang untuk berdebat, maka sesi yang perlu ditambahkan mungkin adalah “sesi pertanyaan antarcapres (dan cawapres)”. Dalam sesi ini seorang capres (dan cawapres) bebas bertanya atau mempertanyakan kepada capres (dan cawapres) lainnya, yang mana saja, tentang visi, misi serta program-program para capres (dan cawapres) yang ditanya tersebut yang sesuai dengan topik yang diperdebatkan tentu saja. Atau boleh jadi ditambahkan juga “sesi mengkritik antar capres (dan cawapres)” di mana para capres (dan cawapres) “wajib” untuk mengkritik visi dan misi serta program-program capres dan cawapres lainnya. Kritikan boleh menyangkut performansi capres dan cawapres masa lalu (ketika menjabat sebagai presiden dan wapres) ASAL sesuai dengan topik yang diperdebatkan. Nah, di sinilah peran moderator sesungguhnya untuk meluruskan kembali perdebatan jika perdebatan telah keluar dari topik atau menjurus kepada hal-hal yang berbau pribadi atau subyektif. Dengan moderator yang cakap diharapkan perdebatan akan berlangsung terarah namun mendalam serta tetap obyektif.

Tennis-02-juneTentu itu hanya usul saja dari saya. Namun kita lihat saja, apakah debat capres (dan cawapres) seri selanjutnya akan semakin seru?? Mudah-mudahan semakin seru (namun tidak ngawur) agar kita bisa melihat capres dan cawapres kita yang bermutu dalam berargumentasi dan perdebatan, serta untuk masyarakat mengetahui mana capres yang paling cocok untuk mereka. Namun kalau acara perdebatan capres (dan cawapres) masih nggak seru juga, tidak apa-apa bagi saya, saya akan beralih channel untuk melihat siaran langsung pertandingan tennis Wimbledon dari Inggris.

Nah, seperti yang saya utarakan sebelumnya, ternyata Wimbledon tahun ini juga cukup mengecewakan bagi saya. Kenapa?? Karena petenis Spanyol Rafael Nadal tidak ikut tahun ini karena kondisinya tidak fit 100% untuk ikut Wimbledon. Sehingga nampaknya petenis Swiss Roger Federer peluangnya sangat besar untuk menjuarai Wimbledon. Bukannya saya tidak suka dengan Federer jika ia menjadi juara namun karena Federer sebelumnya sudah menjuarai Wimbledon 5 kali berturut-turut dari tahun 2003 hingga 2007, sementara Rafael Nadal baru sekali. Satu-satunya yang bisa menggagalkan Roger Federer adalah petenis tuan rumah Andy Murray yang berada di peringkat ketiga dunia. Mudah-mudahan pertemuan Roger Federer dan Andy Murray dapat terjadi di Final dan dapat menjadi pertandingan yang lebih seru dibandingkan partai final tahun lalu antara Roger Federer dan Rafael Nadal (yang dimenangkan oleh Rafael Nadal). Tapi untungnya, di bagian tunggal putri, kekuatan masih cukup merata di mana dua petenis kulit hitam bersaudara asal Amerika Serikat Venus dan Serena Williams akan dicoba “dikeroyok”  oleh petenis-petenis Rusia dan Eropa timur yang kebanyakan cantik-cantik tersebut seperti Maria Sharapova, Svetlana Kuznetsova, Dinara Safina, Ana Ivanovic dan Jelena Jankovic. Ok deh, kita lihat saja siapa yang juara nanti.

Nah, untuk itu nanti jika acara debat capres dan cawapres mengecewakan, saya bisa beralih channel menonton siaran langsung tennis Wimbledon di StarSports. Tinggal pilih mana yang lebih menarik. Kalau kedua-duanya sama-sama menarik ya harus pasang dua buah TV atau saya harus bolak-balik antara ruang tamu dan kamar tidur. Huehehehe…….

Neo Liberalisme Lawan Ekonomi Kerakyatan: Sama Parahnya!

Hari-H pemilihan capres dan cawapres semakin dekat. Kubu-kubu yang berseteru memperebutkan kursi kepresidenan semakin seru saling melontarkan serangan-serangan ke kubu yang berseberangan. Salah satu tema basi yang selalu dilontarkan oleh para politisi adalah isu neo-liberalisme melawan ekonomi kerakyatan. Pembahasannya seperti jalan di tempat, perdebatan yang dilakukan hanya menyangkut masalah yang di permukaan dan itu-itu saja, berputar-putar seperti lingkaran setan yang tidak ketemu ujungnya. Hal tersebut membuat saya semakin terhibur dan ingin nggak mau kalah dengan para politisi tersebut berpendapat sendiri secara amatiran tentang Neo-Liberalisme lawan Ekonomi Kerakyatan tersebut.

Neo-Liberalisme yang ada di bidang ekonomi yang sering diributkan akhir-akhir ini sebenarnya adalah kata lain dari kapitalisme atau sistem ekonomi pasar dalam titik yang sangat ekstrim sehingga pemerintah hampir tidak ikut campur tangan dalam urusan ekonomi dan semuanya tergantung pada mekanisme pasar. Neo-liberalisme ini hampir sama dengan laissez-faire economy yang merupakan titik ekstrim dari sistem ekonomi pasar. Semakin dekat perekonomian suatu negara kepada neo-liberalisme laissez-faire economy dapat dikatakan semakin kapitalis bebas perekonomian negara tersebut. Kebebasan campur tangan pemerintah itu pada suatu perekonomian diwujudkan dengan indikator seperti: Kebebasan dalam memasuki dan berkompetisi di pasar, barang yang diproduksi juga sesuai dengan selera individu bukan selera kolektif yang diatur pemerintah,  perdagangan diatur oleh pasar bukan oleh politik pemerintahan, proteksi terhadap properti pribadi dan sebagainya. Sekarang bagaimana posisi Indonesia di antara negara-negara lain di dunia pada skala neo-liberal kebebasan ekonomi ini?? Menurut data economic freedom of the world, posisi Indonesia berada di posisi ke-86 dunia bersama-sama dengan China dan beberapa negara lainnya di dunia. Jadi saat ini posisi Indonesia sebenarnya cukup sangat jauh dari sebutan negara neo-liberal dalam bidang ekonomi. Sementara itu Hongkong dan Singapura menjadi negara-negara yang perekonomiannya paling liberal di dunia mengalahkan Amerika Serikat dan Inggris yang harus puas di tempat ke-5. Fakta menarik lainnya adalah beberapa negara-negara Timur Tengah (Arab) justru lebih liberal perekonomiannya dibandingkan beberapa negara barat!! Uni Emirat Arab (peringkat 15) dan Oman (18) misalnya, perekonomiannya jauh lebih liberal dibandingkan Jepang (22), Belgia (38), Perancis (52) dan Italia (52)!! Sementara itu negeri jiran kita Malaysia (60) perekonomiannya lebih liberal dibandingkan perekonomian kita sekarang.

Lantas bagaimana dengan “ekonomi kerakyatan”?? Ekonomi kerakyatan yang diasung salah satu pasangan capres-cawapres memang sangat bagus dan indah di atas kertas. Salah satu poin yang paling menghibur indah adalah membangun sistem industri (pertanian) berbasis rakyat dari hulu sampai ke hilir. Saya tidak tahu apakah dengan pembangunan sistem perekonomian yang berbasis rakyat ini maka semua investor-investor asing akan dianaktirikan bahkan ‘diusir’ dari bumi nusantara ini?? Perekonomian kerakyatan ini mungkin sedikit lebih dekat (bukan mirip) kepada perekonomian sosialis pada negara-negara komunis zaman dulu dalam arti kata peran pemerintah sangat besar dalam mengatur perekonomian. Hanya saja ada perbedaan signifikan antara ekonomi sosialis pada negara-negara komunis dengan ekonomi kerakyatan ini. Jika di negara-negara komunis yang sosialis, kepemilikan modal individu atau swasta tidak diperbolehkan, sementara dalam sistem ekonomi kerakyatan ini kepemilikan modal individu atau swasta (terutama yang berasal dari dalam negeri) masih diperbolehkan.

Lantas mana dong yang lebih bagus, neo-liberalisme atau ekonomi kerakyatan?? Liberalisme yang kebablasan tentu saja tidak baik bagi sebuah masyarakat atau perekonomian karena hal tersebut semakin dekat dengan anarki pasar bebas (free-market anarchism) ataupun anarki kapitalisme (Anarcho-capitalism). Namun tentu saya yakin bahwa tidak ada satu negarapun (juga termasuk capres dan cawapresnya) yang akan mengadopsi liberalisme perekonomian yang kebablasan seperti ini. Nah, sekarang bagaimana dengan ekonomi kerakyatan?? Terdengarnya memang sangat indah di telinga rakyat seolah-olah dengan perekonomian kerakyatan ini rakyat akan serta-merta menjadi lebih makmur. Tetapi menurut saya, tentu hal ini tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Misalkan, andaikan investor asing banyak diusir dari negeri ini (mudah-mudahan nggak lah yaw!), apakah investor domestik sanggup menggantikan seluruh modal asing yang keluar dari negeri ini yang juga telah memberikan begitu banyak lapangan kerja bagi masyarakat dan secara tidak langsung juga telah ikut mensejahterakan rakyat? Salah perhitungan nanti malah justru banyak terjadi pengangguran di negeri ini! Belum lagi jika masalah korupsi tidak bisa diberantas. Kerjasama di bawah tangan antara pemerintah dan para kapitalis baru dari dalam negeri yang korup hanya akan menciptakan kesenjangan kemakmuran yang menganga. Keuntungan hanya dinikmati oleh mereka yang duduk di pemerintahan dan para segelintir masyarakat kapitalis bermodal kuat dari dalam negeri, sementara kebanyakan rakyat jelata tetap saja miskin! Tentu hal tersebut juga sesuatu yang tidak kita inginkan bersama.

Jadi daripada kita meributi isu neo-liberalisme lawan ekonomi kerakyatan yang bakalan tidak ada ujungnya itu, lebih baik berdebat dalam adu strategi bagaimana meningkatkan SDM kita, bagaimana memperbagus pendidikan di negara kita, bagaimana agar bangsa kita lebih menguasai ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi serta bagaimana strategi pemberantasan korupsi di masa depan. Karena tanpa SDM yang baik, tanpa pendidikan yang baik, tanpa penguasaan sains dan teknologi yang baik dan tanpa pemberantasan korupsi, apapun sistem perekonomian yang kita pilih akan sama parahnya!! :D

Catatan:

Jika seseorang konsisten dalam mendukung sistem ekonomi kerakyatan SECARA TOTAL tentu ia tidak akan belanja di Carrefour ataupun Makro tetapi akan belanja di pasar-pasar tradisional atau minimal belanja di mini market atau supermarket modal dalam negeri. Juga dalam beli sepatu, ia jangan beli sepatu merk Gucci, Hugo Boss atau Lacoste tetapi belilah sepatu Cibaduyut. Tapi itu belum cukup, sebaiknya juga ia tidak membeli Nokia, Sony-Ericsson, Samsung, Toyota, Honda, BMW, Intel, iMac, dan lain-lain. Sanggup?? Paling-paling alasannya kalau kita belum bisa memproduksi sendiri, ya boleh dong pakai produksi luar negeri. Karena jikalau mereka membeli produk-produk dengan merk-merk terkenal seperti di atas, mereka secara tidak langsung  telah mendukung “ekonomi neo-liberalisme”. Huehehehe…. :D Namun saya yakin seperti halnya tidak akan ada calon capres dan cawapres yang akan mengadopsi sistem neo-liberal yang kebabalasan, saya juga berkeyakinan tidak akan ada capres dan cawapres yang mampu mengadopsi sistem perekonomian kerakyatan secara total! :mrgreen:

Loh…. Katanya Rakyat Jangan Golput…..

Wah…. sepertinya enak juga nih menjadi pengamat politik amatiran, memperhatikan tingkah laku para politisi kita yang  “lucu-lucu” seperti politisi ‘amatiran’ juga yang tidak jelas dan membingungkan langkah-langkah politiknya. Para politisi itu mengatakan “Itulah politik…… sesuatu yang dinamis…..”. Walaupun mungkin pernyataan itu ada benarnya secara umum, tetapi secara khusus, khusus untuk kasus-kasus politisi-politisi kita pasca pemilu kali ini, sepertinya langkah-langkah mereka lebih menunjukkan kebingungan dan ketidakjelasan daripada kedinamisan.

Yang menang dan terlebih yang kalah sebenarnya kedua-duanya sama-sama menimbulkan ketidakjelasan. Yang menang, terlihat lebih tenang dan tidak bingung karena merasa di posisi yang lebih aman, sehingga kebingungan dan ketidakjelasannya nampak lebih sedikit. Padahal jikalau mereka di dalam posisi yang kalah juga belum tentu mereka setenang ini sekarang. Lha, wong menang aja masih membingungkan pihak lain yang ingin berkoalisi sehingga sekarang jadi pecah kongsi yang bisa jadi akhirnya merugikan kedua belah fihak.

Yang kalah (yang sementara berada di posisi kedua versi real count)….. nah ini….. lebih membingungkan lagi. Sebentar-sebentar menclok sini, sebentar-sebentar menclok sana, terus menclok sini lagi, lebih nggak jelas lagi. Katanya sih manuver-manuver politik yang katanya dinamis membingungkan itu demi yang terbaik bagi rakyat dan bangsa ini. Padahal….. sepertinya sih lebih banyak demi gengsi partai dan pribadi.

Tetapi ada lagi yang membuat rakyat saya bingung! Yaitu….. tentang adanya suara-suara yang ingin memboikot pilpres mendatang. Ya…. bagaimana saya nggak bingung, lha wong mereka-mereka yang politisi tersebut  yang sekarang ingin memboikot pilpres  dulunya banyak yang bersuara sampai berbusa-busa menghimbau agar rakyat jangan golput, eh, sekarang malah mereka yang mau ‘golput’ memboikot pilpres mendatang. Lah, bukannya itu berarti sama saja dengan mengajari rakyat untuk golput?? Jadinya kok kontradiktif seperti itu ya?? Kalau rakyat yang memboikot pemilu dengan memilih menjadi golput dikatakan sebagai ‘bukan warga negara yang baik’ lantas kalau para politisi yang ingin memboikot pilpres apa namanya?? Pembelajaran politik untuk rakyat?? Omong kosong! Kenapa kalau rakyat tidak puas dengan partai-partai politik “tidak boleh” memboikot pemilu tetapi jikalau partai-partai politik yang tidak puas terhadap KPU atau pemerintah boleh memboikot pemilu atau pilpres?? Apa jangan-jangan karena putus asa takut kalah dan malu kalau kalah bersaing ya?? Jangan-jangan nanti kalau mereka sudah di atas angin dengan tambahan suara dari partai yang suaranya signifikan ini lantas mereka ‘lupa’ akan wacana boikot pilpresnya. Wah kalau begitu justru malah ketahuan karena takut kalahnya. Ah, nggak tahu deh, yang jelas memang tingkah laku mereka saat ini sedang lucu-lucunya, pantas saja grup lawak Srimulat bubar karena kalah lucunya….!!

Cara Pembagian Kursi Parpol DPR-RI Pemilu Legislatif 2009

Bagi yang ingin mengetahui cara pembagian perolehan kursi di DPR-RI di setiap provinsi mari kita langsung masuk contohnya saja agar tidak terlalu banyak penjelasan.

Misalkan: Provinsi Antah Berantah mempunyai 2 Daerah Pemilihan (dapil). Dapil 1 memperebutkan 5 kursi sementara Dapil 2 memperbutkan 4 kursi di DPR. Partai yang ikut pemilu 9 April lalu misalnya ada 6 partai. Sebut saja partai A, B, C, D, E dan F.

Tahap pertama adalah menentukan jumlah suara yang sah dari masing-masing dapil. Nah, ketika pemilu telah digelar dan KPU telah selesai resmi menghitung suara yang sah ternyata suara yang sah dari Dapil 1 Provinsi Antah berantah sebanyak 5.000.000 suara sementara dari Dapil 2, suara yang sah mencapai 4.000.000 suara. Perincian suara yang sah dari kedua dapil adalah sebagai berikut:

Dapil 1 Provinsi Antah Berantah:
Partai A: 3.000.000 suara
Partai B: 750.000 suara
Partai C: 400.000 suara
Partai D: 350.000 suara
Partai E: 300.000 suara
Partai F: 200.000 suara

Dapil 2 Provinsi Antah Berantah:
Partai A: 2.000.000 suara
Partai B: 1.000.000 suara
Partai C: 400.000 suara
Partai D: 400.000 suara
Partai E: 150.000 suara
Partai F: 50.000 suara

Misalnya partai E dan partai F, tersandung Parliamentary Threshold 2,5% yaitu pendapatan suara nasional tidak lebih dari 2,5%, oleh sebab itu partai E dan F dicoret dari pembagian kursi untuk DPR-RI.

Tahap pertama adalah menentukan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yaitu jumlah suara yang sah dari partai-partai yang TIDAK tersandung parliamentary threshold dibagi dengan jumlah kursi yang diperebutkan di masing-masing dapil.

Dapil 1 : BPP = \frac{4.500.000}{5} = 900.000
Dapil 2 : BPP = \frac{3.800.000}{4} = 950.000

DAPIL 1:
Pembagian Kursi Tahap Pertama:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap I (BPP=900.000)
A 3.000.000 3
B 750.000 -
C 400.000 -
D 350.000 -

Dalam tabel di atas, hanya partai A yang mendapat kursi sebanyak tiga kursi yaitu: 3.000.000 dibagi BPP sama dengan 3 kursi dengan sisa suara sebanyak 300.000. Sementara partai-partai lain tidak mendapatkan kursi karena perolehan suaranya kurang dari BPP. Sisa kursi yang belum terbagi sebanyak dua kursi akan dibagi dalam Pembagian Kursi Tahap Kedua berikut ini:

Pembagian Kursi Tahap Kedua:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap II (BPP=450.000)
A 300.000 -
B 750.000 1
C 400.000 -
D 350.000 -

Nah, jumlah sisa suara yang belum terbagi di Pembagian Kursi Tahap Pertama, dipakai untuk Pembagian Kursi Tahap Kedua. Bilangan BPP untuk Pembagian Kursi Tahap Kedua diturunkan 50% menjadi 450.000. Dalam Pembagian Kursi Tahap Kedua ini hanya partai B lah yang mendapat kursi karena sisa suaranya lebih besar daripada BPP. Kursi yang diperoleh Partai B hanya 1 yaitu 750.000 dibagi BPP dengan sisa suara sebanyak 300.000. Ada satu kursi sisa yang belum dibagi. Nah, sisa kursi ini akan diperebutkan dalam Pembagian Kursi Tingkat Provinsi.

Pembagian kursi untuk Dapil 2 juga melalui proses yang sama:

DAPIL 2:
Pembagian Kursi Tahap Pertama:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap I (BPP=950.000)
A 2.000.000 2
B 1.000.000 1
C 400.000 -
D 400.000 -

Pembagian Kursi Tahap Kedua:

Parpol Suara Pembagian Kursi Tahap II (BPP=475.000)
A 100.000 -
B 50.000 -
C 400.000 -
D 400.000 -

Terlihat pada Pembagian Kursi Tahap Kedua Dapil 2 Provinsi Antah Berantah tidak ada satu partaipun yang mendapatkan kursi karena jumlah sisa suara semua partai di bawah BPP. Nah, untuk itu, sisa kursi sebanyak satu buah yang belum diperebutkan akan diperebutkan pada Pembagian Kursi Tingkat Provinsi bersama-sama dengan sisa kursi dari Dapil 1.

PEMBAGIAN KURSI TINGKAT PROVINSI:

Pada pembagian kursi di tingkat provinsi ini suara-suara yang tersisa dari kedua dapil dijumlahkan kemudian dicari angka BPP baru. BPP baru diperoleh dengan cara membagi sisa suara keseluruhan partai dari keseluruhan dapil dibagi dengan sisa kursi yang masih diperebutkan. Jadi dalam kasus provinsi Antah Berantah ini BPP baru di tingkat provinsi adalah: 2.750.000 dibagi 2 sama dengan 1.375.000.

Parpol Sisa Suara Dapil I Sisa Suara Dapil II Total Sisa Suara Pembagian Kursi (BPP=1.375.000)
A 300.000 100.000 400.000 -
B 750.000 50.000 800.000 1
C 400.000 400.000 800.000 1
D 350.000 400.000 750.000 -
Total 2.750.000 2

Dalam Pembagian Kursi Tingkat Provinsi terlihat bahwa tidak ada satu partaipun yang sisa suaranya menyamai apalagi melebihi BPP (1.375.000). Untuk itu pembagian sisa kursi di tingkat provinsi dilihat dari sisa suara terbanyak masing-masing partai. Dua partai dengan suara terbanyak masing-masing mendapatkan satu sisa kursi yang tersedia. Dalam kasus ini, partai B dan C lah yang mempunyai sisa suara terbanyak. Dengan begitu partai B dan partai C lah yang berhak mendapatkan kedua sisa kursi tersebut.

Dengan habisnya sisa kursi yang diperebutkan di tingkat provinsi maka selesailah proses pembagian kursi provinsi Antah Berantah untuk DPR-RI. Jadi komposisi kursi Provinsi Antah Berantah untuk DPR-RI untuk masing-masing parpol adalah:
Partai A = 5 kursi
Partai B = 3 kursi
Partai C = 1 kursi
Partai D = 0 kursi

Catatan:

Pembagian kursi di tingkat DPRD lebih sederhana lagi. Pertama-tama ditentukan dulu masing-masing BPP di tiap-tiap dapil. Lantas kursi dibagi berdasarkan BPP tersebut. Jika masih ada sisa kursi, maka kursi langsung dibagikan berdasarkan suara terbanyak. Tidak ada proses perebutan kursi dengan BPP 50% dan tidak ada Parliamentary Threshold 2,5%.