Category Archives: Perilaku

Perempuan Itu Goblok!

Eiiits… jikalau anda membaca judul di atas jangan emosi dulu, lanjutkan membaca artikel ini hingga selesai maka anda akan mengerti sepenuhnya mengapa saya menuliskan judul seperti di atas. Dan tentu saja tidak semua perempuan itu goblok, laki-lakipun banyak juga yang goblok (juga bencong tentu saja 😀 ). Untuk jelasnya mengapa saya memilih judul di atas mari kita lanjutkan pembahasan kita kali ini. 🙂

Ide tulisan ini berawal ketika secara tak sengaja saya mendengar percakapan dua orang ibu-ibu muda yang sama-sama tengah menunggu giliran (antrian) teller di Bank N*SP. Saya yang kebetulan duduk di depan kedua ibu-ibu tadi mendengar betul apa yang dipercakapkan keduanya. Mereka tengah berargumentasi kecil tentang poligami. Yang satu setuju dengan poligami, yang satunya lagi tidak. Dari kedua belah fihak banyak mengutarakan argumentasi-argumentasi menggelikan walaupun ada juga yang cukup “tepat sasaran”. Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang apa yang diperdebatkan kedua ibu muda itu tetapi saya akan menulis tentang uneg-uneg saya mengenai polemik poligami ini.

Bagi saya poligami adalah hak dan tanggungjawab individu masing-masing. Saya yakin jika poligami dimulai dengan niat yang baik (tidak sekedar nafsu untuk mencari “daun muda”) insya Allah akan berjalan dengan baik pula pada akhirnya. Yang saya tidak mengerti adalah wanita Muslimah yang sudah berniat menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya namun tidak bisa menerima bahwa di dalam Islam laki-laki bisa beristri hingga empat. Seharusnya yang ia tidak setuju bukan poligaminya tetapi KETIDAKADILANNYA terhadap istri-istrinya setelah ia berpoligami karena yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam Islam adalah ketika sang suami gagal berlaku adil terhadap istri-istrinya, betul begitu kan? (Maaf mohon koreksi kalau salah). Saya yakin bahwa laki-laki berpoligami yang tidak adil terhadap istri-istrinya maka ia akan berdosa dan akan mendapatkan ganjaran kelak di akhirat. Enak di dunia, tidak enak di akhirat. Semua akan mendapat ganjarannya kelak. Bahkan saya yakin juga, wanita yang sabar melihat suaminya berpoligami akan mendapatkan imbalan yang setimpal di akhirat kelak. Lantas kenapa wanita (Muslimah) musti khawatir? Cemburu? Atau sirik karena wanita tidak boleh poliandri? Atau khawatir sang suami bertindak nggak adil? Kalau suami berlaku tidak adil seharusnya yang lebih khawatir itu sang suami sendiri! Karena kelak ia harus mempertanggungjawabkan ketidakadilannya di depan Allah swt. Itu kalau anda percaya terhadap ajaran Islam. Kalau tidak? Ya… itu terserah anda. Tapi jangan terjadi hal menggelikan, anda menerima apa yang cocok dengan anda dan dengan cepat membuang apa yang tidak sesuai dengan anda tanpa berfikir panjang. Namun begitu, sekali lagi, jika andapun menginginkan sesuatu yang menggelikan tersebut, itu juga hak anda. 😉

O iya…. ada satu lagi yang cukup menggelikan. Kebanyakan, dari yang saya baca di blog-blog milik wanita Muslimah*) yang nggak setuju poligami, kebanyakan dari mereka baik langsung ataupun tidak langsung hampir selalu menyalahkan laki-laki dalam hal poligami. Menurut saya ini adalah sesuatu yang goblok konyol. Kenapa? Karena kalau mereka tidak setuju dengan poligami, mereka seharusnya juga menyalahkan kaum perempuan sendiri! Loh? Ya… tentu saja! Salahkan juga perempuan yang mau dipoligami! Tapi kan… perempuan adalah fihak yang terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami? Justru itu! Jadi perempuan jangan goblok! Jangan cepat terperdaya oleh muslihat laki-laki yang ingin berpoligami. Apalagi setelah tahu kalau si calon suami sudah punya istri ternyata masih mau juga diperistri. Jadi bagi wanita Muslimah yang tidak setuju dengan poligami, salahkan JUGA perempuan-perempuan ‘goblok’ yang mau dipoligami. Karena jika perempuan-perempuan itu tidak mau dipoligami, tidak akan ada poligami. Hey, it takes two to tango, doesn’t it?? Mengerti? 😉

NB:

*) Kenapa blog-blog wanita Muslimah? Karena kalau wanita bukan Muslimah mungkin poligami tidak ada dalam ajaran yang mereka percayai. End of story.

Tidak Perlu Berlebihan…

Tifatul Sembiring

Malang benar nasib Om Tifatul Sembiring. Gara-gara lupa dengan sumpahnya sendiri yang tidak akan berjabattangan dengan wanita yang bukan muhrimnya, ia menjadi bulan-bulanan para penghuni dunia maya se-Indonesia bahkan yang di luar negeri ketika (secara tidak sengaja?) ia menjabat tangan The First Lady Amerika Serikat, Michelle Obama. Banyak blog dan twit yang membahas salaman antarkeduanya. Kebanyakan mengolok-oloknya walaupun ada juga yang “membelanya”. Mereka yang mengolok-olok biasanya adalah orang yang “alergi” dengan way of life Islam, baik dari mereka yang kurang suka agama, ataupun dari kalangan agama lain, ataupun ada juga dari kalangan Islam sendiri yang mengaku “liberal”.  Mereka itu biasanya melihat orang yang melaksanakan way of life secara Islami hanya melihat orang tersebut dari segi agamanya saja, sehingga ketika orang tersebut melakukan kekhilafan maka yang keluar adalah olok-olok dari para pemerhati tersebut. Sedangkan saya, orang yang ehm.. berusaha melihat orang dari sudut yang netral (walau terkadang gagal juga), menganggap bahwa kesalahan tersebut adalah manusiawi dan tidak perlu dibesar-besarkan. Kesalahan-kesalahan manusiawi tersebut sebenarnya dapat saja terjadi pada siapapun termasuk pada kita. Namun jangan salah, saya bukan pembela Om Tifatul Sembiring, sebagai manusia biasa sayapun dalam hati merasa geli melihat Om Tifatul ‘termakan’ sumpahnya sendiri sambil berkata dalam hati: “Mangkannya kalau sumpah nggak usah demonstratif sampai orang sedunia tahu seolah-olah menantang dunia. Cukup sumpah tersebut determinasi buat diri sendiri. Nggak usah berlebihan!”

Saya jadi ingat, kasus beberapa tahun yang lalu ketika AA Gym masih populer, begitu banyak terutama mereka yang mengidolakan si AA menunggu-nunggu kehadiran AA baik di televisi maupun di tempat-tempat ceramah lainnya, walhasil laris manislah si AA.  Namun begitu si AA melakukan “kesalahan” dengan melakukan poligami, popularitasnya merosot tajam karena ditinggal “penggemar”nya terutama ibu-ibu dan remaja putri. Menurut saya hal tersebut juga sedikit berlebihan karena para “penggemar”nya nampaknya lebih mengidolakan sosok si AA pribadi (atau minimal lebih melihat kepada sosok si AA) daripada menghargai isi ceramahnya! Walhasil ketika si idola melakukan “kesalahan” maka penggemarnya ramai-ramai meningglkannya. Mangkannya kalau kita menyenangi isi khutbah seorang ustadz (atau isi ceramah seseorang) misalnya, yang perlu diapresiasi ya isi khutbahnya jangan berlebihan mengidolakan si ustadz! Bagaimanapun juga kualitas ceramah si AA tidak berpengaruh apakah ia melakukan poligami atau nggak. Mengerti logikanya? Kalau belum, contoh sederhananya begini: Jika ada orang berkata “berzinah itu tidak baik” lantas di kemudian hari ia kedapatan melakukan perzinahan. Lantas apakah perkataannya dulu “berzinah itu tidak baik” menjadi salah atau keliru?? Tidak, bukan?  Begitu contoh sederhananya.

O iya, ini juga bukan pembelaan buat AA Gym loh. Karena saya sendiri sebenarnya  tidak bisa menikmati ceramah-ceramah AA Gym. Bahkan entah kenapa saya cenderung mengantuk kalau mendengar ceramah-ceramah agama! Hehehe…. Saya lebih suka menonton acara-acara Animal Planet, National Geographic ataupun Discovery Channel. Namun bagi anda yang sangat menikmati ceramah-ceramah agama dan menurut anda ceramah-ceramah tersebut berguna, ya silahkan anda menyimaknya, jangan ragu-ragu. Tapi sekali lagi ingat, cukup mengapresiasi isi ceramahnya saja, jangan berlebihan sampai mengidolakan si ustadz (atau si da’i). 🙂

Jangan Cuma Ingin Bermain Untuk Persib Aja…

Liga Super Indonesia tahun ini sudah dimulai beberapa minggu yang lalu. Walaupun banyak orang berkata terutama mereka yang kurang suka sepakbola kalau liga super di Indonesia itu banyak tawurannya namun entah kenapa sejak 2 tahun belakangan ini saya jadi suka nonton liga super Indonesia. Habis kalau bukan kita-kita para pecandu sepakbola tanah air yang menonton dan mengapresiasikannya, siapa lagi coba? Anggap saja nonton liga super Indonesia sama dengan mengapresiasi produk-produk dalam negeri lainnya seperti mengkonsumsi makanan Indonesia ataupun memakai produk-produk dalam negeri mulai dari kerajinan tangan hingga memakai jasa perbankan dalam negeri. Lha kalau bukan kita-kita ini yang mengapresiasi ya siapa lagi?? Betul nggak? 😀

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu seorang ibu-ibu penjual kupat tahu petis di dekat rumah saya di mana dulu saya jadi salah satu pelanggannya, pernah curhat sama saya, kalau anaknya susah belajar di sekolah. Maunya main sepakbola melulu dan cita-citanya ingin bermain bersama Persib maung Bandung. Lantas, saya berusaha untuk membesarkan hati **halaah** sang ibu tersebut. Saya mengatakan bahwa tidak menjadi soal kalau memang bakatnya adalah sepakbola. Mengenai susah belajar?? Ya… asal prestasinya tidak jeblog-jeblog amat ya tidak mengapa, tidak usah harus berprestasi hingga juara kelas walaupun usaha menuju yang terbaik harus tetap dijalankan. Yang harus diperhatikan adalah apakah si anak memang benar-benar menyukai sepakbola dan tidak hanya sekedar panas-panas tokai ayam seperti banyak blogger-blogger yang sudah berguguran juga karena panas-panas tokai ayam dengan alasan-alasan cengeng seperti sibuk atau koneksi lemot dsb?? Maklumlah kebanyakan anak-anak masih sekedar ikut-ikutan saja. Tapi kalau memang sudah pasti ya sebaiknya tentukan langkah sedini mungkin. Kalau mau jadi pemain sepakbola pro nggak perlu sekolah tinggi-tinggi hingga akademi apalagi universitas cukup hingga sekolah menengah dan setelah itu fokus menjadi pesepakbola yang pro! Tidak perlu berlama-lama menimba ilmu lain yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola karena hanya akan membuang-buang sumberdaya saja baik waktu maupun dana.

Dan satu lagi, jika jadi pemain sepakbola pro, jangan pernah berfikir bahwa jika dia orang Sunda atau lebih tepatnya orang Bandung maka ia HANYA bercita-cita bermain untuk PERSIB! Jangan pernah berfikir seperti itu! Sebagai pemain sepakbola pro, lupakanlah kesukuan dan yang sejenis. Seorang pemain sepakbola pro, harus bisa bermain di klub manapun, nggak peduli apakah itu Persib, Semen Padang, Persipura ataupun bahkan di klub-klub luar negeri sekalipun! Jangan pernah berfikir jika ia orang Bandung maka ia harus membela Persib Bandung karena Persib Bandungpun belum tentu mau menerimanya bermain hanya karena ia orang Bandung! Jadi pendek kata, sebagai pesepakbola profesional, cintailah profesi sepakbolanya itu sendiri lebih dari klub manapun!

Si ibu penjual kupat tahu petis itu nampaknya bisa memahami hal-hal yang saya sebutkan pada awal-awal namun nampaknya beliau belum bisa mengerti mengapa anaknya sebagai orang Bandung “tidak boleh/bisa” selalu membela Persib. Namun tentu saja saya tidak bisa menyalahkan si ibu jikalau beliau tidak mengerti karena pasti beliau juga tidak mengerti dinamika dunia persepakbolaan profesional saat ini. Untuk mengerti hal tersebut tentu seseorang harus mengerti dinamika dunia persepakbolaan pro yang terjadi saat ini. Saya hanya bisa berfikir, biarlah sang ibu tidak mengerti hal tersebut namun saya yakin jikalau si anak kelak akan menjadi seorang pesepakbola pro, ia akan mengerti…

Organic or Inorganic? Which Goes To Which?

If you happen to visit Bandung Institute of Technology (ITB) as I did a few months ago, you would probably come across dual waste containers more or less similar to the illustration presented in this post. You may also find these waste containers in other academic institutions but I suppose they are rather rarely seen outside the academic institutions. The purpose of the separation is obvious, it is to separate the “ecofriendly” wastes from the ones which are not. Of course, for some individuals especially the ones who are less educated it is not always easy to decide on the container into which they should throw away their scraps.  that’s why it is understood why these dual containers are mostly found in academic institutions. For those who do not know the “ecofriendly” wastes, they are wastes which are readily broken down by microorganisms mostly by bacteria. The ecofriendly wastes must go to the “sampah organik” or organic waste container and the ones which are not must go to “sampah anorganik” or inorganic waste container.

Of course, this separation is made with good intention, no doubt about it. But let’s see if terms adopted here “organik” and “anorganik” are appropriate for this case. If you look for the word “organic” in the dictionary, the definition should read more or less like “Of, relating to, or derived from living organisms”. This definition should make the rule of thumb look easier when you meet these dual containers and you happen to throw away a scrap. Things like mandarin or banana peels go to the organic container while all plastics go to the inorganic container. Wait a sec! Plastics go to the inorganic container?? Are you not mistaken? If you look for the information of plastic in Wikipedia, the first information obtained will be “A plastic material is any of the wide range of synthetic and semi-synthetic organic amorphous solid…..etc.” Now how can you come to a conclusion that plastics must go to the  inorganic container? Okay…. if you still think that it is still not good enough for you to acknowledge plastics as organic wastes let me tell you this that most plastics are derived from crude oil! And crude oil as you learned it at the primary school decades back is formed from prehistoric living microorganisms. The accumulated fossilised microorganisms underwent the überslow evolution that take millions of years to become crude oil that we know today. So it is beyond doubt that plastics are organic!!

On reading this post now you realise why the adoption of the terms “organik” and “anorganik” are incorrect for this case. In my humble opinion they should be replaced by the terms “biodegradable” and “non-biodegradable” or maybe in Bahasa Indonesia the terms “ramah lingkugan” and “tak ramah lingkungan” will do.

Kentyucky Fried Chicken??

Before you are amused or irritated with the title above, I would like to let you know that the title is not ridiculing the video nor it acts as a cynicism. On the other hand, I value this video and in connection with the holy month of Ramadan (though this video is not intended to be “Islamic”) I strongly suggest that you must see this  deeply moving documentary video, so you can appreciate each grain of the rice you spoon into the mouth and each bit of your chicken you bite every day and never mistake your food for ever abundant manna from heaven that you think you can waste your food with abandon.

Actually I don’t detest the globalisation insinuated by this video, but our habit which is inclined to waste the food by producing a large amount of scraps on eating our meals that disgusts me as though we have never appreciated the food we live off, though I’m not sure either whether or not they even thank us for leaving the scraps that nourish them, the scraps which are luxurious for them, seems the only way they taste the “luxury”. Whatever it is, on seeing this short flick honestly I could not choke back the tears in my eyes…

Lebih Independen Dalam Mencari Informasi?

Dua puluh tahun yang lalu, ketika zaman Internet belum memasuki kehidupan kita sehari-hari, ketika saya ingin mencari informasi tentang sesuatu, pertama-tama saya biasanya akan mencari informasi tersebut di “enyclopædia Britannica” yang tersedia di rumah saya. Ensiklopedia tersebut, walaupun termasyur dan lumayan dapat mengakomodasi keingintahuan saya tentang segala sesuatu namun ensiklopedia tersebut sudah termasuk uzur, yaitu terbitan awal tahun 1980an. Tentu saja, untuk informasi ataupun penemuan yang terjadi setelah tahun penerbitan ensiklopedia tersebut tidak akan mungkin dicari jawabannya di dalamnya. Lantas bagaimana jika di ensiklopedia tersebut ternyata tidak ditemukan jawaban dari informasi yang saya cari?? Yaa… biasanya kita mencari orang yang kira-kira mengetahui tentang informasi tersebut. Tentu saja orang tersebut tidak serta merta selalu dapat ditemukan pada hari itu juga, terkadang saya harus menunggu hingga berhari-hari, berminggu-minggu bahkan tak jarang hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan jawabannya.

Namun, dua puluh tahun kemudian, kini, segalanya berubah. Berbagai informasi yang kita ingin tahu, bisa didapatkan seketika itu juga. Dengan bantuan mesin pencari seperti Google, hampir pasti kita bisa mendapatkan informasi apapun yang kita inginkan. Apalagi jika minimal kita bisa mengerti Bahasa Inggris, ketersediaan informasi di dunia maya Internet akan terasa semakin lengkap saja. Mungkin generasi Google yang kini sangat tergantung dari Internet untuk memenuhi tidak akan pernah merasakan bagaimana “sulitnya” dulu mencari informasi tentang segala sesuatunya sebelum zaman Internet tiba.

Itu berarti bahwa boleh jadi generasi Google menjadi lebih independen dalam mencari informasi, dalam arti di sini, mereka nampaknya tidak membutuhkan orang lain lagi untuk bertanya dalam menunggu informasi yang diinginkannya karena semuanya tinggal klik, klik dan klik saja, jawaban telah tersedia di depan hidung mereka! Namun betulkah begitu? Menurut saya (tanpa penelitian lebih lanjut, hanya sebatas pengamatan yang mungkin kurang valid 😛 ) bagi sebagian lapisan masyarakat tertentu, mungkin iya. Sedangkan bagi sebagian masyarakat lainnya mungkin tidak. Biasanya, pertama, mereka yang kesulitan membaca dalam Bahasa Inggris biasanya akan cukup kesulitan mencari informasi yang diinginkannya jika informasi yang didapatkannya ternyata hanya ada dalam Bahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya). Kedua, jika informasi yang didapatkannya ternyata ditulis dengan bahasa yang terlalu teknis di dalam suatu bidang (nah ini pernah saya alami sendiri beberapa kali) sehingga perlu seseorang yang ahli di bidang tersebut untuk diajak berdiskusi atau bertanya sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih jelas dan menjadi “lebih siap pakai”.

Ketiga, nah ini dia, orang yang malas berfikir! :mrgreen: Maaf, saya akhir-akhir ini agak kesal dengan orang-orang yang bertanya tentang apa hari lahir dan hari pasaran Jawa (weton atau whatever-lah!) di artikel saya di sini. Saya membuat artikel tersebut untuk memberitahu “algoritma” cara mencari hari pasaran Jawa dengan aritmatika sederhana, bukan untuk melayani pertanyaan seperti: “kalau tanggal ulang tahun saya bla… bla… bla… maka weton saya apa ya??” dan sebagainya. Kalau menjawab sekali dua kali saja ya tak mengapalah, jikalau ditanya terus-terusan tentu saya merasa bosan dan jenuh! Sebenarnya andaikan mereka bingung dengan cara atau “algoritma” yang saya tulis tersebut, saya bisa memakluminya. Namun kalau mereka menggunakan otaknya kreatif sedikit perhitungan jadi lebih sederhana, hanya butuh ketelitian dan matematika tingkat SD saja dan tidak perlu pengetahuan matematika tingkat tinggi. Seperti contoh: Di kolom komentar sudah banyak yang bertanya tentang hari dan hari pasaran Jawa untuk tanggal-tanggal tertentu. Ambil contoh, komentar saudara Indra yang bertanya hari dan hari pasaran Jawanya tanggal 19 Maret 1986 sudah terjawab adalah hari Rabu Kliwon, nah bagaimana mencari hari pasaran untuk tanggal 1 Juli 1993 misalnya? Mudah saja! kita cari dulu jumlah hari dari tanggal 19 Maret 1986 hingga 19 Maret 1993, yaitu (365 +366 + 365 + 365 + 365 +366 + 365) hari atau 2557 hari. Lantas berikutnya cari banyaknya hari dari tanggal 19 Maret 1993 hingga 1 Juli 1993, mudah saja menghitungnya (anak SD juga bisa kok!) yaitu 104 hari. Sesudah itu tinggal dijumlahkan saja: 2557 + 104 = 2661 hari. Nah, langkah selanjutnya 2661 dibagi 5 akan menghasilkan sisa 1. Itu berarti hari pasaran Jawa 1 Juli 1993 hanya berbeda satu hari saja dari tanggal 19 Maret 1986, yaitu hari pasarannya adalah: Legi. Mudah bukan?? Masih bingung?? Mangkannya jangan bisanya cuma Facebookan melulu! :mrgreen:  Dicoba lagi, mudah-mudahan lama-kelamaan akan terbiasa! 🙂

Generasi Google? Apa Hebatnya Ya?

Stereotipe Gambaran Generasi Google?

Anda mempunyai anak, cucu atau keponakan yang sudah pandai mengoperasikan komputer dan Internet? Mungkin anak, cucu dan keponakan anda tersebut boleh jadi sudah merupakan bagian dari generasi Google. Ya, generasi Google (Google generation) adalah mereka yang lahir tahun 1990an dan sesudahnya yang merasakan Internet dan mesin pencari seperti Google sebagai portal pertama dan utama dalam mencari sumber informasi dan hiburan. Walaupun baru-baru ini sebuah riset dari Inggris menyimpulkan bahwa generasi Google adalah sebuah mitos karena belum tentu mereka lebih melek informasi dan teknologi dari orang tua mereka, namun banyak orang tua yang bangga (termasuk saya tentu saja) jikalau mereka mendapatkan anak-anak mereka telah memiliki dan telah pandai mengoperasikan gadget-gadget canggih yang tidak mungkin dimiliki oleh orang tua mereka puluhan tahun yang lalu. Namun, patutlah orang tua mereka (termasuk saya) berbangga hanya karena mereka telah pandai mengoperasikan alat-alat canggih di usia yang sangat dini?

Saya jadi ingat, di paruh akhir tahun 1980an lalu, ketika kalkulator yang sudah terprogram dan yang dapat diprogram  (preprogrammed and programmable calculators) mulai membanjiri pasaran. Banyak teman-teman saya, terutama mereka yang berkantung tebal (kantung orang tuanya tentu saja) ramai-ramai membeli kalkulator yang pada saat itu terhitung sangat canggih. Mereka berharap, dengan membeli kalkulator tersebut mereka menjadi lebih cerdas berprestasi dalam studi. Walhasil? Kalkulator sudah terbeli, namun prestasi tidak terdongkrak! Ya, tentu saja! Jika kalkulator tersebut hanya diisi dan dijejali rumus-rumus tanpa mata pelajarannya sendiri lebih dimengerti dan dipelajari, mana bisa prestasi terdongkrak?? Ada juga kasus lain, teman saya yang kurang pandai berbahasa Inggris, namun ia sok sangat “tech-oriented“, ia membeli kamus elektronik yang harganya mahal hingga jutaan dan sangat anti membeli kamus berbentuk buku yang dikatakannya ketinggalan zaman walaupun harganya lebih murah. Selain itu, ia juga sangat mengandalkan kamus online (Iapun sangat tidak ingin membeli buku-buku dengan dalih sekarang sudah zamannya e-book, padahal e-bookpun tak pernah ia baca karena memang orangnya kurang minat membaca!). Salahkah itu? Tentu saja sama sekali tidak, bahkan sangat bagus jikalau hal tersebut dapat mendongkrak kemampuan belajar Bahasa Inggrisnya. Yang salah adalah, jika kamus elektronik mahal sudah terbeli dan kamus online sudah di depan mata namun ia jarang berlatih bicara dan menulis dalam Bahasa Inggris sehingga kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak berkembang, seperti kasus teman saya tersebut!

Nah, dari pemaparan di atas, sudah terlihat kan apa hubungannya dengan generasi Google ini? Belum? Maksudnya begini…. jikalau seseorang anak telah mengenal Internet, Google (atau mungkin gadget-gadget lainnya) itu tentu sudah merupakan awal yang baik buat “kemajuan” sang anak. Namun tentu hal tersebut tidak cukup jikalau Internet dan gadget-gadget canggih tersebut gagal membuat si anak lebih berprestasi. Berprestasi di sini tentu dalam arti luas, tidak melulu hanya di sekolah saja namun tentu saja sekolah masih merupakan indikator utama dalam mengukur prestasi anak. Jikalau si anak tidak terdongkrak prestasinya, mungkin saja si anak “gagal” dalam mensinergikan Google dan gadget-gadget canggih lainnya dengan kebutuhan pelajaran-pelajarannya di sekolah. Ia mungkin hanya berhasil mensinergikan Google dengan kebutuhan “gaya hidupnya” seperti game, Facebook dan sebagainya. Tentu si anak tidak bisa serta merta disalahkan. Mungkin ia tidak terbiasa mensinergikan Google dan Internet untuk kebutuhan sekolahnya secara maksimal yang ia biasa mungkin hanya sebatas bagaimana mendownload game, menggunakan Facebook, dan sebagainya seperti yang sering ia lihat dari teman-temannya. Nah, sebagai orang tua tentu kita harus membimbing si anak bagaimana mendapatkan informasi yang tepat untuk kebutuhan pekerjaan rumahnya dan pelajaran-pelajarannya di sekolah agar si anak terbiasa. Jikalau informasi tersebut dalam Bahasa Inggris, bantulah si anak dalam menterjemahkan informasi tersebut dengan begitu si anak juga diajarkan sedikit demi sedikit untuk terbiasa mengolah informasi dalam bahasa asing (Inggris). Dengan bimbingan orang tua, insya Allah, si anak jadi terbiasa mengolah informasi sesuai dengan kebutuhan sekolahnya dan sekaligus meminimalisasi penyalahgunaan Internet untuk hal-hal yang negatif.

Di berita-berita televisi dan surat kabar, banyak diberitakan mereka yang kurang mampu, yang tentunya akses ke Internet menjadi lebih terbatas, malah mampu menyabet NEM tertinggi (walaupun memang NEM bukan segala-galanya, saya setuju). Lantas, kalau begitu apa istimewanya “generasi Google” jikalau mereka tidak lebih baik dari mereka yang “bukan generasi Google”?? Tentu saja tidak pernah ada konvensi yang mengharuskan mereka yang termasuk generasi Google harus lebih berprestasi dibandingkan mereka yang “tidak termasuk” generasi Google. Namun, kalau pada akhirnya generasi Google tidak mampu mengangkat daya kompetitifnya lebih dari mereka yang “bukan termasuk” generasi Google, lantas apa istimewanya ya generasi Google itu? Apakah memang generasi Google sebenarnya memang tidak istimewa karena Internet dan Google, seperti halnya BlackBerry dan Facebook yang banyak terjadi di Indonesia, hanya sebatas gaya hidup (lifestyle) saja??