Category Archives: Sejarah

A, B atau C?

Cukup menarik artikel yang dibuat di blog manusiasuper di sini. Sebenarnya ada dua  pertanyaan yang diajukan di artikel manusiasuper tersebut, namun saya tertarik terhadap salah satunya saja. Untuk singkatnya, mari saya intisarikan artikel tersebut di sini. Oke, misalnya anda disuruh memilih dari ketiga kandidat berikut ini (diusahakan jangan golput 😉 )

Kandidat A:  Memiliki banyak teman politisi busuk, percaya pada ramalan bintang, punya dua istri gelap, perokok ganja dan minum 8 hingga 10 gelas martini per hari.

Kandidat B: Pernah dipecat dari kantornya dua kali, selalu tidur hingga siang hari, pengguna opium ketika menjadi mahasiswa dan minum setengah galon wiski setiap malam.

Kandidat C: Dinobatkan sebagai pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, sangat jarang minum minuman keras, dan tidak pernah melakukan pelecehan seksual apapun.

Ayo pilih sekarang! Nah….. anda sudah memilih?? Sekarang kita lihat siapa saja ternyata ketiga kandidat tersebut:

**

**

**

**

**

**

**

**

**

**

Dan ini dia ketiga kandidat tersebut:

Kandidat A: Franklin Delano Roosevelt
Kandidat B: Winston Churchill
Kandidat C: Adolf Hitler

Terkejut? Ya, sayapun juga terkejut. Tapi hanya untuk sementara. Ada dua hal kenapa keterkejutan saya hanya sebentar.  Pertama saya langsung menyadari bahwa pilihan di atas agak “mengarahkan” karena kandidat A dan B hanya dituliskan sifat yang buruk-buruk saja, sementara kandidat C hanya dituliskan sifat yang baik-baik saja.  Mungkin jikalau sifat-sifat kandidat A dan B diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat baiknya sementara sifat-sifat kandidat C juga diteruskan dan dimasukkan juga sifat-sifat buruknya mungkin pilihan kita bisa berbeda. Kedua, tentu saja saya sadar bahwa seburuk-buruknya orang iapun pasti punya sifat-sifat positif juga, sebaliknya sebaik-baiknya orang iapun pasti punya sifat-sifat negatif juga jadi kasus di atas sebenarnya adalah hal yang umum.

Namun hal yang lebih penting dari adanya “kasus”  di atas adalah bisa membuat calon pemilih menjadi bingung karena dalam benaknya tertanam seolah-olah mereka yang mempunyai sifat-sifat baik ternyata bisa menjadi seorang “monster” dan sebaliknya. Sebenarnya kasus di atas memang bisa saja terjadi di dunia nyata ketika para pemilih dengan segala cara tidak bisa mengetahui sifat-sifat lengkap kandidat-kandidat yang akan dipilihnya atau pendek kata informasi mengenai kandidat-kandidat tersebut sangat terbatas. Kalau sudah begitu kini timbul dua pertanyaan, pertama, apakah jikalau kita memilih C (yang ternyata Adolf Hitler) berarti kita salah pilih? Tentu saja jawabannya ‘ya’. Tapi, pertanyaan kedua, apakah kita bersalah karena memilih C? Jawabannya ‘tidak’, karena kita sudah memilih dengan kriteria yang masuk akal berdasarkan informasi maksimal yang kita dapatkan. Memang betul, lain waktu jika ada kandidat-kandidat dengan sifat-sifat di atas bisa jadi kandidat C malah lebih buruk dari Adolf Hitler, namun jangan lupa bisa saja lain waktu ternyata kandidat A atau B yang memang jauh lebih buruk dari Adolf Hitler. Jadi jika ada pemilihan kandidat seperti di atas dan anda tidak mengetahui bahwa C adalah Adolf Hitler, dan anda hanya mempunyai informasi yang terbatas mengenai ketiga kandidat, maka jangan ragu-ragu untuk memilih salah satu kandidat yang menurut anda paling sreg, termasuk kandidat C ! 😉

“Letters From Iwo Jima” Sebuah Film Perang Dilihat Dari Sudut Pandang “Musuh”

Meskipun saya penggemar berat film2 horor, namun bukan berarti saya tidak suka dengan film2 ber-genre lain. Banyak juga film2 drama yang saya sukai apalagi kalau film2 drama tersebut sarat dengan pengetahuan atau peristiwa sejarah dan bukan film drama yang melulu percintaan dan perselingkuhan à la Indonesia yang gampang ditebak akhir ceritanya. Salah satu film drama yang baru saya tonton ini via channel HBO Signature yang berjudul “Letters from Iwo Jima” ini adalah salah satu film yang saya suka.

Film yang dibuat tahun 2006 ini memang sarat dengan adegan2 pertempuran dalam sejarah Perang Iwo Jima, namun film ini juga sarat dengan drama2 kemanusiaan tanpa adegan kesedihan dan tangis yang bertele-tele nggak seperti film2/sinetron2 drama Indonesia. Fakta menarik dari film ini adalah walaupun film ini asli produksi Amerika Serikat namun film ini memakai bahasa Jepang penuh. Film yang disutradarai oleh Clint Eastwood dan diproduseri bersama oleh Clint Eastwood dan Steven Spielberg ini memang sengaja melihat sebuah peristiwa perang dengan perspektif “musuh”. Tidak seperti film2 Hollywood lain dan juga termasuk film2 Indonesia yang menggambarkan musuh itu bengis dan kejam, film “The Letters of Iwo Jima” ini menggambarkan “sisi2 kemanusiaan” dari fihak musuh. Dari film tersebut digambarkan bahwa tentara2 Jepang sama baiknya dan sama berengseknya dengan tentara AS. Di situ juga banyak digambarkan perasaan2 manusiawi tentara Jepang lainnya seperti rasa takut, rasa rindu dengan rumah dan keluarga, rasa berani pantang menyerah, rasa setia kawan dan lain sebagainya. Film ini diterbitkan “duet” dengan film Clint Eastwood yang lainnya pula yaitu film “Flags of Our Fathers” yang juga menceritakan perang Iwo Jima, hanya saja “Flags of Our Fathers” menceritakan perang Iwo Jima dari perspektif fihak Amerika Serikat. Jadi kedua film tersebut merupakan penyeimbang satu sama lain. Jadi dari kedua film tentang perang Iwo Jima tersebut dapat dilihat perspektif dari masing2 fihak yang bertempur. Saya sudah melihat baik film “Letters from Iwo Jima” maupun film “Flags of Our Fathers”. Kedua2nya menurut saya bagus namun entah kenapa saya lebih suka yang “Letters from Iwo Jima”. Ini mungkin disebabkan karena saya jarang melihat film perang dari perspektif Jepang, karena selama ini yang saya tonton kebanyakan adalah film perang dari perspektif tentara Sekutu atau Amerika Serikat.

Tokoh2 sentral dari film ini sebenarnya cukup banyak. Namun dua tokoh utamanya adalah Ken Watanabe yang berperan sebagai Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi yang memimpin 21.000 tentara Jepang yang mempertahankan Iwo Jima. Tokoh utama lainnya adalah Kazunari Ninomiya (yang juga seorang anggota boy band asal Jepang “Arashi” yang saya sendiri sama sekali tidak kenal) yang memerankan Prajurit Satu (Private First Class) Saigo. Prajurit Saigo ini menjadi tokoh sentral utama dalam film ini karena ia menggambarkan keadaan prajurit2 Jepang lainnya yang “menderita” ketika perang Iwo Jima berkecambuk. Dan ia pula yang pada akhir cerita membakar seluruh dokumen2 tentara Jepang namun ia tidak membakar surat2 pribadi tentara2 Jepang yang tidak terkirim melainkan ia menguburnya. Nah, sebenarnya dari sinilah cerita dimulai ketika para ahli arkeologi Jepang pada masa kini mengeksplorasi gua2 bekas perang di Iwo Jima dan menemukan kantong surat yang sudah terkubur lama tersebut. Adegan lantas berpindah ke pulau Iwo Jima tahun 1944 pada saat2 pulau tersebut akan diserang AS. Tokoh2 perwira dalam film ini seperti Letnan jendral Kuribayashi semuanya adalah nyata sedangkan tokoh2 prajurit keroco dalam film ini seperti Prajurit Satu Saigo adalah fiktif.

Cerita bergulir pada tahun 1944-1945, ketika itu angkatan perang kekaisaran Jepang sudah terdesak. AS satu demi satu menguasai pulau2 di Lautan Pasifik yang diduduki Jepang. Iwo Jima adalah pulau milik Jepang yang terletak kira2 1200 kilometer di sebelah selatan Tokyo. Pulau seluas 21 km² ini sebenarnya tidak mempunyai kekayaan alam apapun, namun pulau ini mati2an dipertahankan oleh Jepang pada Perang Dunia II karena jikalau pulau ini jatuh ke tangan AS maka seluruh Jepang akan mudah dijangkau oleh pesawat2 pembom strategis AS.

Letjen Kuribayashi sendiri sebenarnya pesimis bisa mempertahankan Iwo Jima hanya dengan 21.000 tentaranya tanpa bala bantuan terutama dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut Jepang. Angkatan Laut dan Angkatan Udara Jepang pada akhir tahun 1944 memang hampir lumpuh. Sisa kekuatan Laut dan Udara yang ada difokuskan untuk mempertahankan tanah air dan tidak akan ada bala bantuan untuk mempertahankan Iwo Jima. Maka akhirnya pertempuranpun tidak terhindarkan pada bulan Februari 1945. Letjen Kuribayashi memutuskan untuk tidak bertempur à la Banzai Jepang dengan penyerangan frontal. Namun Kuribayashi memutuskan untuk berperang atau bertahan dari dalam tanah. Gunung Suribachi (gunung di Iwo Jima) dan seluruh pulau Iwo Jima dibikin mirip seperti sarang lebah. Tentara Jepang menggali terowongan2 di gunung tersebut dengan total panjang 18 kilometer dengan 5000 mulut gua, dan hampir setiap mulut gua didirikan bunker untuk menahan laju 100 ribu marinir AS yang menyerbu pulau tersebut lengkap dengan kekuatan laut dan udaranya. Artileri2 berat dan tank2 Jepang yang tidak bisa masuk ke dalam gua dihancurkan oleh bom2 AS dari udara, sedangkan pihak Jepang yang tidak diperkuat oleh angkatan udaranya hanya bisa berusaha menembak pesawat2 AS yang membabibuta mengebom siang-malam tanpa henti tersebut dengan machine gun.

Pemandangan paling menakjubkan adalah ketika Prajurit satu Saigo tengah membuang pispot kotoran tentara Jepang di luar persembunyian. Ketika itu dari kejauhan ia melihat pemandangan yang “menakjubkan” yaitu pantai Iwo Jima dipenuhi atau dibanjiri oleh ratusan kapal2 perang AS dari segala kelas mulai dari penyapu ranjau hingga battleship. Hanya kapal induk saja mungkin yang tidak ada. Kapal2 perang tersebut seperti tengah “arisan” dengan tenangnya “tanpa gangguan”. Sungguh sebuah pemandangan yang bisa membikin kecut hati tentara Jepang yang melihatnya.

Hasil dari perang itu sendiri sudah dapat diduga. 21 ribu tentara Jepang dengan persenjataan dan amunisi terbatas ditambah lagi dengan suplai makanan dan obat2an yang menipis tidak akan mampu melawan 100.000 marinir AS bersenjata lengkap. Pertempuran “hanya” berlangsung satu setengah bulan. AS kehilangan 6800 marinirnya ditambah beberapa ratus yang hilang. Korban di fihak Jepang lebih dahsyat lagi, dari 21.000 tentaranya yang mempertahankan Iwo Jima tinggal 216 orang yang hidup. Letjen Kuribayashi sendiri akhirnya ikut berperang langsung mengangkat senjata dalam pertempuran terakhir guna mempertahankan Iwo Jima. Letjen Kuribayashi sendiri dalam film “The Letters of Iwo Jima” ini digambarkan tewas bunuh diri dengan pistol kesayangannya, sebuah pistol M1911 Colt (kaliber) .45 buatan AS yang ia dapatkan ketika ia bertugas di AS sebagai tanda persahabatan sebelum perang pecah. Namun sebenarnya kematian Kuribayashi masih menjadi misteri. Jasadnya sendiri tidak pernah ditemukan. Banyak yang mengatakan bahwa Kuribayashi mencabut seluruh atribut jenderalnya untuk berperang sebagai prajurit biasa pada pertempuran2 terakhir mempertahankan Iwo Jima. Itulah yang turut mempersulit identifikasi jasad sang jenderal.

Film “Letters of Iwo Jima” ini menurut saya sangat memikat. Jikalau anda menyukai “action” atau film perang, film ini sarat dengan peperangan terutama di setengah akhir filmnya. Sedangkan bagi anda penggemar film drama, film ini juga penuh dengan drama2 kemanusiaan yang menyentuh bahkan tragis. Sebuah perpaduan antara ketegangan dan drama yang memikat………..

Gambar atas: Ken Watanabe sebagai Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi. Foto dicomot dari Wikipedia.

Penjara Spandau, Penjara Yang Isinya Hanya Seorang…..

Rudolf HessPenjara Spandau di Berlin, Jerman

Keterangan Gambar:

Gambar atas : Rudolf Heß sedang berjalan seorang diri di halaman penjara Spandau. (Foto oleh Norman Goda).

Gambar Bawah: Penyerahterimaan pergantian penjagaan bulanan penjara Spandau dari pasukan Uni Soviet (sebelah kiri) ke pasukan Amerika Serikat (kanan).

 

Di tahun 1980an, ada grup musik yang terdiri dari 5 orang yang bernama Spandau Ballet yang lagu-lagunya cukup saya gemari. Mula-mula saya tidak tahu apakah Spandau itu. Oleh karena saya penasaran maka saya berusaha mencari tahu di Encyclopædia Britannica, satu2nya sumber informasi yang ada di rumah waktu itu. Maklumlah di tahun 1980an belum dikenal yang namanya Internet sepeti zaman sekarang. Informasi yang saya dapatkan mengenai kata “Spandau” adalah nama sebuah penjara di pinggiran kota Berlin, Jerman tempat para penjahat perang Nazi kelas kakap ditahan. Entah apa hubungannya antara grup musik Spandau Ballet ini dengan penjara Spandau, yang jelas  saya tergelitik untuk mengetengahkan tema tentang penjara yang sangat bersejarah ini yang sejak tahun 1966 hingga tahun 1987 penghuni penjara ini hanya seorang yaitu Rudolf Heß melalui postingan saya kali ini……

Penjara Spandau adalah penjara di distrik Spandau dekat kota Berlin di Jerman. Penjara ini, seperti yang telah diungkapkan di atas adalah tempat para penjahat perang kelas kakap Nazi Jerman pada Perang Dunia II ditahan. Semula penjahat perang yang ditahan adalah 7 orang yaitu adalah: Rudolf Heß, Walther Funk, Erich Raeder, Baldur von Schirach, Konstantin von Neurath, Albert Speer dan Karl Dönitz. Namun sejak tahun 1966, sejak Speer dan von Schirach dibebaskan dengan alasan kesehatan dan kemanusiaan, Rudolf Heß menjadi satu-satunya penghuni penjara tersebut. Uniknya lagi, inilah penjara satu2nya dibawah juridiksi internasional, dikelola dan dijaga bergantian oleh 4 negara pemenang Perang yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet. Dan lebih unik lagi, penjagaan ketat oleh 4 negara ini yang menghabiskan tidak sedikit biaya adalah hanya untuk menahan seorang penjahat perang kakek-kakek bernama Rudolf Heß ini! Luar biasa!

Penjara Spandau sebenarnya sudah lama dipakai jauh sebelum Perang Dunia II. Pada saat sebelum dihuni oleh penjahat perang kelas kakap Nazi tersebut, penjara itu memuat sekitar 600an pesakitan. Namun ke 600an pesakitan itu semuanya dipindahkan ketika ketujuh orang penjahat perang Nazi tersebut mulai ditahan di penjara Spandau. Pada awalnya penjara ini tidak diduga akan menjadi penjara tempat penjahat perang Nazi ditangkap. Karena sebelum Pengadilan Nürnberg, yang mengadili penjahat perang Nazi,  semua penjahat perang Nazi kelas kakap diperkirakan tidak ada yang berakhir di penjara, alias semuanya akan mati dihukum di tiang gantungan. Namun setelah Pengadilan Nürnberg berakhir ternyata ketujuh penjahat perang Nazi tersebut lolos dari tiang gantungan dan “hanya” dihukum antara 10 tahun hingga seumur hidup. Tiga dari tujuh penjahat perang tersebut yaitu von Neurath (dihukum 15 tahun penjara), Funk (seumur hidup) dan dan Raeder (seumur hidup) dibebaskan sebelum hukuman berakhir karena alasan kesehatan dan kemanusiaan. Sementara tiga lainnya yaitu: Dönitz (10 tahun penjara), Speer (20 tahun) dan Von Schirach (20 tahun) menjalani penuh hukumannya. Sejak Speer dan Von Schirach dibebaskan tahun 1966, maka tinggalah Rudolf Heß (dihukum penjara seumur hidup) seorang diri di penjara Spandau yang besar itu hingga maut menjemputnya di tahun 1987.

Mengenai Rudolf Heß sendiri, tawanan satu2nya  di penjara Spandau sejak tahun 1966 juga menarik untuk dibicarakan. Orang yang pernah dekat dengan orang nomor satu pada masa Nazi Jerman ini yaitu Adolf Hitler sebagai deputi atau asistennya, melakukan penerbangan misterius dan rahasia ke Britania Raya atau tepatnya ke Skotlandia pada tahun 1941. Penerbangannya ke Skotlandia tersebut adalah untuk menemui Duke of Hamilton and Brandon yang waktu itu menjadi lawan (politik) dari Winston Churchill perdana menteri Inggris Raya kala itu. Para ahli sejarah dan politik hingga kini masih memperdebatkan apa tujuan Heß sebenarnya terbang ke Skotlandia tersebut.  Rudolf Heß sendiri mengakui bahwa penerbangannya ke Skotlandia tersebut adalah untuk menghentikan perang yang akan terus berlanjut seperti yang ditulis istri Rudolf Heß, Ilse Heß dalam bukunya “Rudolf Hess: Prisoner of Peace”. Namun “misi perdamaian”nya gagal, Rudolf Heß malah tertangkap fihak Inggris dan dijebloskan ke penjara di Inggris hingga Perang Dunia II selesai.

Walaupun ia mengaku “mengusung misi perdamaian” ketika perang tengah berlangsung, hal tersebut tidak membuatnya lolos dari pengadilan Nürnberg di tahun 1945-1946 ketika perang berakhir dan Jerman berada di fihak yang kalah. Di pengadilan tersebut Heß terbukti bersalah dalam 2 dakwaan dari 4 dakwaan yang dituduhkan kepada para penjahat perang Nazi.  Heß terbukti bersalah dalam Partisipasi dalam perencanaan perang atau sebagai konspirator dalam pelaksanaan perang sebaai kejahatan terhadap perdamaian dan juga ia dinyatakan bersalah dalam merencanakan, memulai dan melaksanakan perang yang juga merupakan kejahatan terhadap perdamaian. Untuk itu Heß dihukum penjara seumur hidup.

Setelah pengadilan Nürnberg tersebut, mulailah Rudolf Heß melewati hari2nya di penjara Spandau. Pada awalnya, di tahun 1946, ada 7 penjahat perang (termasuk Heß) yang masuk ke dalam penjara tersebut. Bahkan Walther Funk dan Erick Raeder juga dihukum seumur hidup. Namun Raeder dan Funk dibebaskan masing2 tahun 1955 dan 1957 dengan alasan kesehatan dan kemanusiaan. Ketika Albert Speer dan Baldur von Schirach dibebaskan tahun 1966, Rudolf Heß menjadi satu2nya pesakitan di penjara Spandau dan mulailah hari2nya yang sepi hingga akhir hayatnya.

Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet tiap bulan bergantian menjaga tempat tersebut. Penderitaan Heß bertambah manakala giliran Uni Soviet yang menjaga tempat penjara tersebut karena Uni Soviet menerapkan peraturan yang jauh lebih ketat dan makanan yang lebih sedikit dan sangat seadanya dibandingkan dengan giliran penjagaan oleh Amerika Serikat, Inggris atau Perancis di mana Heß lebih leluasa dan disediakan makanan yang cukup mewah untuk ukuran penjara. Namun begitu Heß tetap sangat dibatasi dalam mengirim surat, menerima tamu dan menerima informasi dari luar terutama media elektronik. Itupun hanya radio yang diperbolehkan sedangkan televisi tidak boleh.

Amerika Serikat, Inggris dan Perancis sebenarnya telah mengampuni Heß di tahun 1970an dan menyarankan agar Heß dibebaskan atau diubah menjadi tahanan rumah karena alasan kemanusiaan dan kesehatan Heß yang terus menurun terutama kesehatan mentalnya akibat kesepian yang berkepanjangan. Namun hal tersebut selalu ditolak Uni Soviet yang bersikeras Heß harus tetap menjalani hukumannya di penjara Spandau. Penolakan salah satu negara saja sudah cukup untuk meneruskan hukuman Heß di penjara Spandau tersebut. Kerjasama antara Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet memang terhitung sangat kompak di penjara Spandau ini. Hal inilah yang justru terlihat sangat “lucu” dan “anomali” dengan keadaan politik global pada saat itu di mana tengah terjadi perang dingin antara blok barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin Uni Soviet. Namun toh, keempat negara besar tersebut bisa bekerja sama guna me-manage penjara Spandau ini yang isi tahanannya cuma seorang kakek2 !!

Sementara itu Heß mengisi hari2nya di penjara Spandau dengan kesepian yang sangat. Teman satu2nya yang ia punya adalah kepala sipir penjara berkebangsaan AS bernama Eugene K. Bird, seorang Letnan Kolonel Angkatan Darat AS,  yang kemudian dicopot dari jabatannya sebagai kepala sipir penjara karena terlalu akrab dengan Heß. Bird mengeluarkan bukunya tentang Rudolf Heß yang berjudul: “The Loneliest Man in the World: The Inside Story of the 30-Year Imprisonment of Rudolf Hess”. Hari2 panjang yang melelahkan dan sepi semakin dirasakan oleh Heß ketika istrinya meninggal di tahun 1985. Mungkin hal itulah yang turut membulatkan tekad Heß untuk mengakhiri hidupnya sendiri yang penuh dengan kesepian yang “tak pernah berakhir” dengan gantung diri menggunakan kabel listrik di bulan Agustus 1987 di usianya yang ke-93……

Penjara Spandau kini telah tiada, penjara bersejarah tersebut dibongkar habis oleh negara2 sekutu pemenang Perang Dunia II setelah penghuni terakhir penjara tersebut yaitu Rudolf Heß menemui ajalnya. Bagunan sejarah yang sebenarnya sangat berharga ini dibongkar karena negara2 sekutu tersebut tidak mau bangunan penjara tersebut menjadi tempat keramat dan tempat monumen peringatan bagi kaum Neo-Nazi. Kini di bekas penjara tersebut telah berdiri sebuah supermarket yang modern……..

 

Ramalan Nostradamus Jadi Tidak Tepat??

nostradamus02.jpg

Siapa sih yang tidak mengenal Nostradamus (Michel de Nostredame) yang dikatakan sebagai peramal ulung yang hidup di Perancis pada abad ke-16. Atau mungkin anda walaupun belum mengenalnya secara detail namun minimal anda pernah mendengar atau mengetahui namanya. Ya, peramal yang lahir tanggal 14 Desember (sebagian orang peraya ia lahir tanggal 21 Desember) 1503 di kota St. Rémy di Provence, Perancis ini memang kerap kali muncul di majalah2 ataupun koran2 dengan ramalan2 mengenai kejadian2 besar yang akan terjadi di bumi ini di masa yang akan datang.

Nostradamus sebenarnya adalah seorang dokter. Walaupun ia beragama Yahudi namun ia dibesarkan dan dididik secara Katolik (Pengaruh agama di Eropa sangat kuat diabad pertengahan). Di tahun 1518 ia masuk Universitas Avignon namun setahun kemudian ia tak bertahan di universitas itu karena universitas tersebut tutup ketika terjadi wabah besar pes. Namun pada tahun 1529 ia berhasil masuk Universtias Montpellier dan menjadi mahasiswa kedokteran yang sangat berprestasi. Pada saat itu pulalah ia mengubah namanya menjadi Nostradamus.

Namun walaupun ia seorang dokter namun perhatian utamanya adalah pada bidang astrologi yang dekat kaitannya dengan bidang paranormal. Astrologi dan segala tetek bengek paranormal ini di abad pertengahan adalah sebuah subyek yang dipercayai sangat penting karena masih banyak subyek ilmu yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah masih dicampur dengan mistis serta visi2 yang esoteris.  Konon Nostradamus pernah menginap di sebuah puri di Lorraine milik seorang bangsawan. Tuan rumah pemilik puri tersebut tidak percaya akan kemampuan meramal Nostradamus. Suatu ketika, ketika sang tuan rumah dan Nostradamus tengah berjalan di tanah peternakan milik sang tuan rumah tersebut, sang tuan rumah bertanya: “Bagaimana nasib kedua babi itu?” Nostradamus menjawab: “Yang hitam akan anda makan sedangkan yang putih akan dimangsa serigala”.

Agar puas mentertawakan tamunya, si bangsawan tuan rumah memerintahkan supaya babinya yang putih disembelih untuk hidangan untuk makan malamnya. Ketika makan malam berlangsung malam harinya ia berkata kepada Nostradamus bahwa babinya yang putih telah ia makan, namun Nostradamus tetap pada pendiriannya bahwa babi yang dimakan oleh tuan rumah adalah babinya yang hitam. Untuk membuktikan siapa yang benar, sang koki dipanggil. Juru masak mengakui bahwa ia memang telah memasak babi yang putih namun ketika ia meninggalkan dapur, ia lupa menutup pintu dan babi putih yang sudah dimasak itu akhirnya digondol oleh seekor anak serigala. Oleh karena itu ia akhirnya menyembelih babi yang hitam guna dihidangkan untuk makan malam.

Cerita lain adalah ketika ia berada di Italia, tiba2 Nostradamus menjatuhkan diri dan bersimpuh di depan seorang padri Katolik muda yang sedang berjalan seorang diri di sepanjang lorong desa yang menuju ke arahnya. Sang Padri Italia itu, Felici Peretti mengira bahwa orang asing yang tak dikenalnya itu agak terganggu pikirannya. Lima puluh tahun kemudian, Felici Peretti, sang padri muda tersebut menjadi orang nomor satu di Gereja Katolik Roma dan menjadi Paus Sixtus V.

Sebagai “peramal ulung” Nostradamus banyak meramalkan kejadian2 besar yang akan terjadi di bumi ini untuk abad2 mendatang. Buku-buku ramalannya mulai diterbitkan tahun 1555 sebanyak sepuluh jilid. Ramalan-ramalan tersebut dirangkai dalam puisi-puisi atau lebih tepatnya dalam quatrain (sajak dalam empat baris). Ramalan-ramalannya mengenai kebakaran besar di London, Kaisar Besar Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II banyak yang dipercayai telah tepat diramalkan oleh Nostradamus. Bahkan berbagai versi tafsir ramalan Nostradamus yang terbit di tahun2 terakhir ini juga mengatakan bahwa tragedi 9-11 runtuhnya menara kembar WTC di New York juga dikatakan telah tepat diramalkan oleh Nostradamus.

Nah, bagaimanapun juga, dunia ramal meramal memang menjadi komoditi yang menarik bagi banyak orang terutama bagi mereka yang percaya. Hal ini mungkin juga terkait dengan rasa penasaran dan ingin mengetahui oleh umat manusia akan nasib masa depannya sendiri. Namun mengenai ramalan Nostradamus sendiri ada satu hal yang menarik. Di gambar atas adalah hasil scan dari sebuah buku yang saya beli di tahun 1990an. Buku tersebut adalah buku terjemahan (sebenarnya saya nggak suka buku terjemahan karena kalimat2 hasil terjemahan biasanya susah dimengerti, mendingan beli yang bahasa Inggrisnya sekalian, namun karena sudah kebelet ingin baca, ya apa boleh buat deh! :mrgreen: ) “Misteri Terbesar di Dunia” karya Nigel Blundell. Di situ terpampang artikel mengenai ramalan Nostradamus untuk tahun 1999 yaitu terjadinya Perang Dunia III. Namun kita semua kini mengentahui bahwa Perang Dunia III tidak terjadi di tahun tersebut. Saya juga sebenarnya punya satu buku khusus ramalan Nostradamus juga yang berbahasa Inggris yang saya beli sekitar tahun 1992-3, namun sayang nggak bisa saya scan di sini karena buku tersebut dipinjam oleh teman sudah lama sekali dan seperti biasa, tidak pernah dikembalikan! (Dan begonya sayapun lupa menagihnya kembali hehehe…..) Dan sekarang itu teman sudah tidak diketahui di mana rimbanya. Nah, yang saya ingat persis di buku itu adalah yang katanya ramalan Nostradamus yang meramalkan perjumpaan pertama kali makhluk alien dengan umat manusia di tahun 1998. Namun seperti kita sama2 ketahui hal tersebut tidak terjadi. Nah, apakah itu berarti bahwa ramalan Nostradamus yang salah atau apakah yang menafsirkan yang salah?? Atau memang sebenarnya tidak ada satu manusiapun yang bisa meramalkan sesuatu dengan tepat sempurna?? Atau…. apakah seharusnya kita juga tidak mempercayai ramalan2 seperti itu?? Hmm… bagaimana pendapat anda??

Kemenangan Jepang atas Rusia Tahun 1905, Awal ‘Kebangkitan’ Asia

russojapanese01.jpgrussojapanese02.jpg

Tahun 2008 ini kita akan memperingati 1 abad (100 tahun) kebangkitan nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei 1908. Kebangkitan nasional yang kita peringati itu sebenarnya terinspirasi dari sebuah peristiwa di luar negeri beberapa tahun silam sebelumnya yaitu perang Rusia-Jepang tahun 1904-5. Perang yang dimenangkan oleh Jepang ini membuat bangsa-bangsa di Asia sadar bahwa sebenarnya mereka tidak kalah kehebatannya dari bangsa-bangsa Eropa atau barat dan juga ‘mematahkan mitos’ bahwa orang Asia lebih inferior dari orang Eropa dan juga bahwasannya orang kulit putih Eropa ‘tidak bisa dikalahkan’. Nah untuk itu, untuk postingan kali ini saya mencoba untuk menguraikan sedikit tentang perang yang bersejarah bagi bangsa2 di Asia tersebut serta apa yang menyebabkan perang tersebut.

PRA-PERANG

Awal abad ke-17 (1603) keluarga kaisar di Jepang telah kehilangan keefektifannya dalam memerintah negara dan pemimpin militer yang disebut shogun yang bernama Tokugawa Ieyasu, mengambil alih kekuasaan di Jepang (yang sejak saat itu pemerintahan di Jepang dinamakan pemerintahan Shogun Tokugawa). Sejak saat itupula Tokugawa menutup pintu Jepang bagi dunia luar, dan selama dua setengah abad, Jepang menjadi negara yang terisolasi dari dunia luar dan menjadi negara yang terbelakang.

Tahun 1854, Isolasi Jepang berakhir ketika Komodor AL Amerika Serikat, Matthew Perry mendarat di Jepang. Perry yang ditugasi pemerintah AS untuk membuka pasar Jepang yang kalau perlu dengan kekerasan, membawa beberapa kapal perang jenis fregatnya guna memuluskan rencana itu. Tahun 1853, Perry mendarat di Edo (sekarang menjadi Tokyo) namun pemerintahan Shogun Tokugawa Jepang memerintahkan armada AS tersebut untuk ke Nagasaki karena hanya di kota itulah pelabuhan di Jepang yang terbuka untuk asing, itupun hanya dikhususkan untuk kapal2 Belanda saja. Namun Perry menolak dan membacakan isi surat Presiden AS waktu itu Millard Fillmore yang isinya bernada ancaman apabila pemerintahan Shogun menolak maka armada AS tersebut tidak segan2 akan menggunakan kekerasan.

Sadar akan persenjataan dan kapal2nya yang jauh lebih primitif dari kapal2 perang AS, pemerintahan Shogun mengalah dan membiarkan Perry dan armada AS mendarat di Kurihama (sekarang: Yokosuka). Kedatangan Perry di Jepang ini, berujung pada konvensi atau perjanjian Kanagawa di tahun 1854 yang mengakhiri isolasi Jepang dari dunia luar. Namun keterbukaan ini harus dibayar mahal oleh pemerintahan Shogun di Jepang, dengan jatuhnya pemerintahan Shogun di tahun 1868 dan diambil alih oleh kaisar muda Meiji yang terkenal dengan restorasi Meiji-nya (明治維新). Pada masa itu banyak fihak di Jepang sadar bahwa Jepang sangat rentan terhadap ancaman2 kekuatan barat dan satu2nya cara untuk menepis ancaman itu adalah dengan cara memodernisasi Jepang dengan cara mengadopsi gaya2 barat terutama di bidang ilmu dan teknologi agar Jepang dapat tumbuh menjadi negara industri maju sejajar dengan negara2 barat. Restorasi Meiji inilah sebagai katalis dalam kemajuan Jepang menuju negara industri maju. Keberhasilan Restorasi Meiji ini diakui dunia tidak ada bandingannya di seluruh dunia. Dalam jangka waktu hanya sekitar 30 tahunan telah berhasil membawa Jepang dari negara terisolasi, terbelakang dan tradisional menjadi negara maju yang kompetitif dengan negara2 barat. Sebagai perbandingan, Indonesia yang sudah merdeka 60 tahunan, boro2 sejajar dengan negara maju, dibandingkan negara tetangga Singapura dan Malaysia ( negara yang disebut terakhir ini kemajuannya sebenarnya sangat superfisial) saja masih ketinggalan.

Untuk memuluskan cita2nya menjadi negara industri, Jepang sadar harus melindungi kepentingan dan keamanannya dari gangguan2 kekuatan asing. Untuk itu Jepang bertekad untuk merebut Korea dari tangan dinasti Qing China tahun 1894. China yang pernah menjadi negara besar di masa lalu, pada saat itu (akhir abad ke-19) menjadi negara yang ‘primitif’ dibandingkan Jepang yang pada tahun 1894 sudah mulai berhasil mengadopsi teknologi barat dan mengadopsi struktur militer gaya barat. Perang yang agak berat sebelah ini tentu saja berakhir dengan kemenangan Jepang dan membuat China bukan hanya kehilangan Korea tetapi juga kehilangan pulau Formosa dan juga Port Arthur di Manchuria. Kemenangan ini membuat Jepang lebih bertekad untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaannya di Timur Jauh. Namun di Timur Jauh ada kekuatan Eropa yang mempunyai kepentingan sama yaitu: Rusia! Di sinilah mulai terjadi friksi2 antara kepentingan kedua negara yang menjurus kepada perang di tahun 1904-5.

MASA PERANG

Sejak awal Rusia menentang akses dan penguasaan Jepang di Port Arthur, apalagi Port Arthur kala itu tengah disewa Rusia dari China sebagai basis angkatan laut Rusia di Timur Jauh sehingga Rusia menolak meninggalkan Port Arthur. Setelah serangkaian perundingan dan diplomasi yang melibatkan juga berbagai fihak asing lainnya seperti Perancis dan Jerman (yang condong memihak Rusia) serta Inggris (yang condong memihak Jepang) yang tidak membuahkan hasil, maka pada tanggal 8 Februari 1904 (tepat 104 tahun yang lalu saat postingan ini dibuat!) Jepang memutuskan untuk menggunakan kekerasan dan menyerang armada laut Timur Jauh Rusia di Port Arthur.

Pada masa-masa itu, armada angkatan laut Rusia terpusat di Laut Baltik di Eropa karena Rusia merasa musuh2 terbesar Rusia berada di daratan Eropa sehingga ketika terjadi penyerangan terhadap armada laut Rusia di Timur Jauh, Rusia terkesan tidak siap. Untuk itu Rusia harus memperkuat armada laut Timur Jauhnya dari armada Luat Baltiknya dan untuk itu kapal2 perang Rusia harus berlayar 18.000 mil jauhnya menuju lokasi peperangan melintasi 3 samudra (Atlantik, Hindia dan Pasifik)! Dan celakanya secara teknis kapal2 perang Rusia tersebut kebanyakan tidak siap untuk berlayar sejauh itu. Namun apa boleh buat, setelah modifikasi secukupnya diadakan, kapal tetap harus berangkat memperkuat armada Timur Jauh Rusia.

Sementara Jepang sendiri pada awal peperangan tidak terlalu sukses untuk melumpuhkan armada angkatan laut Rusia apalagi merebut Port Arthur. Untuk itu Jepang berinisiatif juga untuk melancarkan perang di darat untuk merebut Port Arthur sekaligus merebut Manchuria dari tangan Rusia (sambil menyelam minum air!). Untuk itu Jepang yang menguasai Korea melancarkan serangan ke daratan Manchuria melewati sungai Yalu. Strategi Jepang ini terbukti efektif dan sedikit demi sedikit menggerogoti kekuatan Rusia di Manchuria dan Port Arthur. Namun Jepang tidak mengendorkan penyerangan di Laut juga di bawah pimpinan Laksamana Heihachiro Togo. Lewat kombinasi serangkaian pertempuran di laut, udara (eh, waktu itu belum ada angkatan udara deh 😛 ) dan darat akhirnya Port Arthur jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 2 Januari 1905.

Dengan keberhasilan Jepang merebut Port Arthur, harapan Rusia kini tinggal menunggu armada laut Baltik Rusia pimpinan Laksamana Zinovy Rozhestvensky, yang pada saat Port Arthur jatuh masih berlayar menuju lokasi peperangan di Timur Jauh. Namun ketika armada laut Baltik Rusia ini mencapai selat Tsushima pertempuran dengan angkatan laut Jepang tak terhindarkan. Pertempuran yang berlangsung dua hari 27-28 Mei 1905 ini, hasilnya sungguh mengecewakan bagi fihak Rusia. Armada Baltik Rusia ini dihancurkan dan hanya tiga kapal saja yang selamat dan melarikan diri ke Vladivostok, Rusia. Dengan berakhirnya perang di Selat Tsushima berakhir pula harapan Rusia untuk memenangi peperangan ini sehingga Rusia terpaksa menandatangani perjanjian perdamaian dengan Jepang, namun ongkos yang dibayar Rusia sangat besar. Rusia bukan saja kehilangan Port Arthur tapi juga kehilangan seluruh kepulauan Sakhalin yang diserahkan kepada Jepang.

PASCA PERANG

Kemenangan Jepang atas Rusia ini mempunyai implikasi luas di dunia internasional. Kemenangan ini bukan saja berimbas kepada prestise Rusia yang menurun di mata internasional kala itu, tetapi juga tercatat sebagai sejarah tersendiri. Inilah untuk pertama kalinya selama berabad-abad sebuah kekuatan Asia dapat mengalahkan kekuatan Eropa (barat). Kemenangan Jepang ini tentu juga menginspirasi Kebangkitan Nasional di negeri kita di tahun 1908 yang akan kita peringati 100 tahun pada tahun ini.

Tapi pertanyaannya kini adalah, apakah kita hanya memperingati kebangkitan nasional yang sudah terjadi 100 tahun yang lalu ini?? Apakah kita tidak perlu lagi kebangkitan nasional ke-2?? Saya rasa kita masih perlu kebangkitan nasional ke-2 agar kita sejajar dengan negara maju. Kebangkitan nasional á la Restorasi Meiji seperti yang dipaparkan di atas, yang berhasil membawa Jepang dari keterbelakangan dan isolasi menuju modernisasi yang sejajar dengan dunia barat dalam jangka waktu yang relatif singkat: 30an tahun! Sebuah prestasi yang tidak ada duanya di dunia ini. Mungkin prestasi terdekat yang hampir menyamai Restorasi Meiji ini adalah prestasi yang dicapai Korea Selatan yang di tahun 1950an baru mulai membangun dari puing2 peperangan setelah terjadi Perang Korea (saat itu Indonesia sudah lebih dulu merdeka) dan dalam waktu 40 tahunan, lewat penguasaan ilmu dan teknologi, Korea Selatan berhasil membangun ekonominya yang berbasis pada produk2 bernilai tambah tinggi sehingga negara ini kini dianggap mulai sejajar dengan negara-negara industri barat dan Jepang. Nah, akankah kita mampu berbuat serupa seperti itu??

Ketiban Sial, LZ 129 Hindenburg Meledak Karena Gas Hidrogen

HindenburgHindenburg Meledak

Hindenburg yang saya maksudkan di sini adalah balon udara /pesawat Zeppelin raksasa yang dirancang untuk transportasi udara yang meledak di tahun 1937 di New Jersy, Amerika Serikat. Balon udara (airship) milik Nazi Jerman yang dibuat oleh perusahaan Luftschiffbau Zeppelin mempunyai panjang 245 meter dan mempunyai diameter 41 meter. Balon udara Zeppelin ini datang dari ide Ferdinand von Zeppelin dari Jerman di tahun 1870-1871, di mana waktu itu terjadi perang antara Jerman (waktu itu disebut Prusia) dan Perancis. Lucunya ide ini justru ia dapat pada saat ia melihat pihak musuh (Pernacis) yang sukses menggunakan balon udara untuk menyampaikan surat-surat di kala perang. Sejak itu von Zeppelin rajin mendesain balon udara. Balon Zeppelin yang akhirnya mengudara sebenarnya adalah rancangan David Schwarz, namun hak desain rancangannya ia beli, dan disempurnakan hingga menjadi balon udara Zeppelin yang terkenal itu. Balon udara Hindenburg (balon udara zeppelin yang dinamai Hindenburg) menjadi terkenal, ketika versi raksasanya untuk mengangkut manusia menyeberangi lautan Atlantik, yang diberi kode LZ 129, meledak dengan dahsyat di Lakehurst, New Jersy, AS. Bagaimana ia bisa meledak?

Sebenarnya meledaknya pasti LZ 129 Hindenburg tidak diketahui dengan pasti. Ada yang menyebutnya karena tindakan sabotase, namun lebih banyak yang menduga adanya kebocoran gas dalam mesin balon tersebut. Ya, balon Hindenburg tersebut, yang total konstruksinya menghabiskan biaya US$ 2,5 juta, sebenarnya didesain untuk menggunakan gas Helium. Namun karena Amerika Serikat yang pada waktu sebelum perang dunia II sebagai negara satu-satunya pensuplai gas Helium di dunia menolak menjual gas Helium kepada pihak Nazi Jerman. Walaupun pada saat itu belum pecah perang, namun pihak AS memang tidak begitu senang dengan pemerintahan Nazi Jerman. Perlu pula diketahui bahwa pada saat sekarangpun, AS merupakan negara penghasil 60% gas Helium di dunia. Negara-negara lain yang juga dianugerahi kekayaan gas Helium adalah Kanada, Australia dan Aljazair. Namun cadangan gas Heliumnya masih jauh di bawah AS. Nah, karena Jerman sangat kesulitan mendapatkan gas Helium, maka balon Zeppelin diisinya dengan gas Hidrogen yang mudah terbakar!

Gas Hidrogen sebenarnya mempunyai keuntungan yaitu sifatnya yang sangat ringan bahkan lebih ringan dari gas Helium dan tentu saja cocok digunakan untuk mengisi balon udara Zeppelin. Namun  gas Hidrogen sangat mudah terbakar. Sedangkan gas Helium sedikit lebih berat dari gas Hidrogen, namun gas Helium sangat sulit terbakar. Nah, gas Hidrogen inilah yang dicurigai bocor dari katup mesin LZ 129 Hindenburg ini, dan kebetulan ketika ada petir yang menyambar yang mengenai gas Hidrogen yang bocor ini, terjadilah tragedi tersebut. Dengan cepat kebakaran kecil yang terjadi berubah menjadi kebakaran besar karena dengan cepat 200.000 m3 gas Hidrogen yang ada di balon tersebut ikut terbakar yang menewaskan 35 orang dari 97 penumpang di dalamnya. Kebakaran yang terjadi begitu cepat, balon tersebut habis terbakar dalam waktu kira2 30 detik saja!

Namun  hidrogen sekarang masih dipakai dalam transportasi udara, namun tujuannya lain, yaitu sebagai bahan bakar roket ke ruang angkasa! Ya, biasanya hidrogen yang terpakai untuk bahan bakar roket ke ruang angkasa ini biasanya berbentuk cairan. Bersama-sama dengan oksigen cair, hidrogen menghasilkan dorongan atau energi yang sangat baik untuk roket. Walaupun satu kilo gasolin atau avgas menghasilkan energi 3 kali lebih besar dibandingkan satu kilo likuid (cairan) hidrogen, namun hidrogen menjadi pilihan lebih baik karena beratnya 10 kali lebih ringan. Di dalam penerbangan angkasa, tentu saja berat menjadi pertimbangan yang sangat penting. Seperti contoh: pesawat ulang-alik Discovery, pada tangki bahan bakar eksternalnya memuat sekitar 1,4 juta liter hidrogen cair dan 500 ribu liter oksigen cair. Bahan bakar ini memberikan dorongan yang bagus ke ruang angkasa pada tiga mesin di pesawat ulang alik tersebut!

Pengepungan Leningrad dan Buku Harian Tanya Savicheva

screenhunter_02-oct-25-1135.jpgscreenhunter_01-oct-25-1135.jpgTanya Savicheva

Postingan ini juga masih bercerita tentang Perang Dunia II. Hanya saja kali ini tempat terjadinya perang berbeda, kali ini cerita peperangan berlangsung di Leningrad (atau sekarang yang disebut dengan St. Petersburg) di Rusia atau bekas Uni Soviet dulu. Namun di manapun juga perang selalu membawa kesengsaraan. Bukan hanya untuk prajurit-prajurit yang berperang tetapi juga (terlebih) rakyat sipil yang mau tidak mau juga terlibat atau terkepung dalam peperangan tersebut.

Dalam Pertempuran Leningrad atau juga yang disebut dengan Pengepungan Leningrad, sebuah pengepungan yang termasuk paling lama dalam sejarah yaitu selama 900 hari, yang dimulai 8 September 1941 dan berakhir 27 Januari 1944. Tanggal 8 September 1941, sekitar 725 ribu tentara Nazi Jerman mengepung kota Leningrad yang berpenduduk 3 juta jiwa. Walaupun kota Leningrad sudah terkepung dari darat dan diisolasi dari dunia luar dan digempur tanpa ampun oleh pasukan Jerman, namun pasukan merah Uni Soviet beserta penduduk Leningrad tidak mau menyerah begitu saja. Mereka dengan semangat yang tinggi bahu membahu mempertahankan kota secara heroik walaupun mereka sangat menderita. Selama pengepungan gudang-gudang persediaan makanan dibom habis oleh Jerman, yang menyebabkan kota tersebut menjadi kekurangan makanan dan bukan hanya itu saja sarana air bersihpun hancur akibat perang sementara bantuan makanan dari luar tidak bisa dilakukan karena kota diblokade ketat oleh pasukan Jerman. Satu-satunya penghubung Leningrad dengan dunia luar adalah Danau Ladoga yang memang berhasil menyelamatkankan beberapa ratus ribu penduduk Leningrad ke luar kota tersebut melalui jalur yang disebut “Jalur Kehidupan” atau Doroga Zhizni (Дорога жизни) yang terkenal itu. Namun pengevakuasian lewat danau tentu saja bukan cara yang aman dan sangat beresiko! Namun hanya itulah jalan yang menghubungkan Leningrad dengan dunia luar. Selama pengepungan 900 hari tersebut, rakyat Leningrad mengalami kelaparan yang luar biasa, dan dalam pertempuran ini, tentara merah Uni Soviet kehilangan kira-kira 300.000 tentaranya akibat perang, namun rakyat sipil Leningrad yang meninggal akibat kelaparan berjumlah hampir 1 juta orang atau hampir sepertiganya!

Namun perjuangan rakyat Leningrad tidak sia-sia. Kota ini walaupun dikepung habis namun tidak pernah jatuh ke tangan Jerman, bahkan tentara Uni Soviet akhirnya berhasil memukul mundur mematahkan blokade pasukan Jerman yang pada akhir-akhir pertempuran tampak sangat frustasi dan sudah mengalami keruntuhan moral sehingga kota tersebut akhirnya bebas dari kepungan pasukan Nazi Jerman pada tanggal 27 Januari 1944.

savicheva_diary.jpg

Pertempuran Leningrad yang memakan waktu 900 hari ini, meninggalkan tragedi bagi seorang gadis  berusia 11 tahun bernama Tanya Savicheva (Татьяна Савичева). Ketragedian ini tercermin dari buku hariannya yang sederhana yang kini dipajang di museum sejarah St. Petersburg. Tanya Savicheva adalah anak dari pasangan Nikolay Rodionovich Savichev dan Mariya Ignatieva.  Tanya sendiri mempunyai 2 saudara perempuan: Zhenya dan Nina, serta 2 saudara laki-laki: Mikhail dan Leka. Ketika pasukan Nazi Jerman mengepung Leningrad, dan kelaparan mulai melanda kota itu, horor mulai menghantui keluarga Savichev. Satu persatu anggota keluarga Savichev menemui ajal akibat kelaparan. Isi buku harian Tanya sangat sederhana yaitu mencatat tanggal dan waktu kematian anggota-anggota keluarganya:

Zheniya meninggal tanggal 28 Desember jam 12:30 pagi 1941

Nenek (Babushka) meninggal tanggal 25 Januari jam 3.00 siang 1942

Leka meninggal tanggal 17 Maret jam 5 pagi 1942

Paman (Dedya) Vasya meninggal tanggal 13 April jam 2 pagi 1942

Paman (Dedya) Lesha meninggal tanggal 10 Mei jam 4 sore 1942

Ibu meninggal tanggal 13 Mei jam 7.30 pagi 1942

Semua keluarga Savichev meninggal.

Tinggal Tanya sendirian.

Begitulah isi buku harian Tanya Savicheva, sangat sederhana tapi menyentuh, dari seorang anak usia 11 tahun yang kelaparan dan kurang gizi. Sebenarnya ada dua saudara Tanya yang juga selamat, yaitu Nina Savicheva yang pada suatu hari pergi bekerja di pabrik namun ia tak kembali ke rumah karena ikut terevakuasi lewat Danau Ladoga, keluarganya tidak pernah mengetahui keberadaan Nina dan menyangka Nina telah tewas, sedangkan Mikhail Savichev selamat karena pada tahun 1941 ia kebetulan berada di luar Leningrad.

Tanya sendiri diperkirakan telah tewas setelah menulis kata-katanya yang terakhir di buku hariannya, namun akhirnya diketahui bahwa Tanya ikut dievakuasi pada pertengahan tahun 1942. Walaupun ia dikirim ke rumah perawatan anak-anak, Tanya akhirnya meninggal pada musim panas 1943 akibat penyakit disentri kronis yang menyerangnya sejak masa pengepungan.