Parijs van Java dan Perasaan Inferior

Lambang kota ParisDi jejaring sosial Twitter, ada seorang rekan tweep yang suka “menyamakan” dirinya dengan seorang penyanyi cantik asal Colombia yang namanya meroket sewaktu piala dunia yang lalu. Sebenarnya sah-sah saja dan bebas-bebas saja dia menyamakan dirinya dengan siapapun juga termasuk dengan penyanyi tersebut. Namun begitu saya nasihatkan dia agar dia tidak perlu lagi menyamakan dirinya dengan penyanyi seksi Colombia tersebut  karena selain emang tidak mirip sama sekali, perbuatan tersebut hanya menunjukkan sifat inferiority complex , atau lebih tepatnya mungkin bibit-bibit IC yang ada pada dirinya. IC adalah perasaan inferior  akut yang ada pada seseorang ataupun kelompok orang (seperti suku bangsa, bangsa dsb.) baik secara sadar atau tidak. Tentu saja ia berdalih bahwa hal tersebut hanya sebagai lucu-lucuan saja. Namun begitu, tetap saja perbuatan tersebut sangat berbau IC karena memang perilaku yang berbau IC tidak berpengaruh apakah bertujuan lucu-lucuan atau serius. Salah satu ciri seseorang yang mempunyai sifat IC adalah senang disamakan atau menyamakan dirinya dengan orang atau fihak yang dianggap lebih superior (minimal dalam satu hal/aspek). Dalam kasus ini, yang (merasa) mempunyai wajah kalah cantik atau badan kalah seksi akan menyamakan dirinya dengan ia/mereka yang (dianggap) mempunyai wajah lebih cantik atau badan lebih seksi. Padahal andai dia konsisten dengan pernyataannya bahwa hal tersebut untuk lucu-lucuan, tentu secara logika ia akan memilih Omas atau Tessy Srimulat. Jadinya lebih lucu lagi kan? 😉

IC memang kebanyakan terjadi secara tidak sadar karena kita tidak akan pernah mengakui secara terus terang perasaan inferioritas kita. Sebenarnya perasaan inferior baik secara individu ataupun kolektif secara sadar atau tidak sadar ada pada diri kita semua.  Kita secara tidak langsung sering merasa inferior terhadap mereka yang lebih sukses, lebih pintar, lebih tinggi, lebih ganteng/cantik dan sebagainya. Perasaan inferior tersebut dapat terjadi pada level individu ataupun pada level kolektif sebagai sebuah bangsa. Namun jikalau perasaan inferior tersebut  menyebabkan pengasosiasian diri terhadap mereka yang dianggap superior maka gejala IC mulai tumbuh.

Perasaan IC bukan hanya terjadi secara individu, secara kolektif dan secara tidak sadar, bibit-bibit IC telah tumbuh di antara kita. Contoh adalah dalam sebutan kota Bandung sebagai Parijs van Java. Oke bagi sebagian orang Bandung mungkin bangga karena kota mereka disamakan dengan sebuah kota di Eropa, sebuah kehormatan bagi mereka. Kalau sekedar bangga ya tidak mengapa. Namun jika sebutan “Parijs van Java” tersebut mulai menggema di mana-mana, bahkan ada nama stasiun TV dan mal yang memakai nama tersebut, sehingga mereka lebih bangga menyebut “Parijs van Java” daripada istilah “Bandung” atau “kota kembang” di situlah bibit-bibit IC sudah muncul. Secara tidak sadar justru kita lebih mengidolakan kota Paris daripada kota Bandung. Kita bangga (secara berlebihan) kota kita yang inferior disamakan dengan kota yang superior. Sementara sebaliknya, kota Paris, kota yang superior belum tentu senang kotanya disebut Bandung de l’Europe, bahkan mungkin orang Paris tidak suka kotanya disamakan dengan kota Bandung yang inferior. Jadi jikalau orang Paris tidak suka kotanya disamakan dengan kota Bandung kenapa juga kita orang Bandung harus bangga (apalagi berlebihan) menyamakan diri kita dengan kota Paris? Marilah kita bangga dengan identitas kita sendiri, Paris adalah Paris, Bandung adalah Bandung. Masing-masing punya identitas sendiri-sendiri yang patut dibanggakan.

Jadi, marilah, kita bangga menjadi diri kita sendiri. Kita tidak perlu mengasosiasikan diri kita terhadap orang lain yang tidak perlu dan tidak bermanfaat. Kalau memang perasaan inferior itu bermanfaat sehingga memajukan prestasi kita, mungkin itu malah bagus. Namun, jika hanya sekedar bangga-banggaan, lucu-lucuan dan seterusnya selain kurang bermanfaat LAMA-LAMA juga jadi tidak membanggakan dan tidak lucu lagi malah melahirkan kesan ia ingin seperti “idola”nya tapi (tentu saja) gagal total! 😉

Iklan

39 responses to “Parijs van Java dan Perasaan Inferior

  1. be yourself ya pak. Setuju sekali…
    saya juga tidak suka pakai baju bertuliskan besar-besar : “agnes b”, “dior” dsb padahal namaku bukan itu 😀

    EM

  2. yaaah ngeblog lagi kirain udah bosen ngebloh hehe. Klo menurut saya sih sebenarnya sah2 saja kalo buat lucu2an. Tapi masalahnya jadi beda klo itu terjadi berulang2 dan terus menerus. Selain ga lucu lagih dan basi kesannya juga kekanak2an ato minimal kurang dewasa.

  3. Ya, menjadi diri sendiri memang jauh lebih membahagiakan dan tidak menyiksa diri. Kalau ada orang yang malah lebih nyaman dengan menjadi/menyamakan diri dengan orang/sosok lain, berarti ada yang salah dengan cara berpikirnya.

    Mungkin dulu orang-orang yang menjuluki kota dengan istilah seperti itu, jangan-jangan memiliki kecenderungan mengidap IC. Maklum, bekas bangsa jajahan 😀

  4. Halo Yari,

    Tulisan yang bagus dan tepat.
    Para politisi yang berkuasa di Bandung pasti tidak sependapat dengan anda yang membuka pikiran pembaca tentang bagaimana sebenarnya Bandung.
    IC kontra produktif karena membuat orang malas untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

    Selamat berakhir pekan.

  5. Hehehe…saya suka itu..menjadi diri sendiri.
    Dulu Belanda menamakan Parisj van Java, saat Bandung masih hijau, banyak bunganya, bersih……lha sekarang kan udah beda banget, manusia berjejal dimana-mana, yang bisa mengalahkan hanya Jakarta….

  6. lebih baik memang menjadi diri sendiri

  7. saya bbrp kali main ke bandung, dan terus terang, salah satu yg saya suka dari bandung ialah keantikannya pada beberapa tempat. masih ada sisa-sisa kumpeni belanda pada beberapa walaupun sudah tinggal sedikit. paris? saya tidak tahu.

    mengenai penggunaan istilah parijs van java, rasa-rasanya itu bisa dipandang dari dua hal. bentuk inferioritas, saya rada setuju. tapi sepanjang penyebutan parijs van java tidak memberi efek minor atawa merugikan, mengapa tidak? barangkali bisa jadi semacam memori atau malah motivasi bagi urang bandung. he he.

  8. di profile wall temen saya malah bukannya memajang fotonya tapi malah seorang artis gay indo yg udah lama meninggal…heee…kurang beres tuh orang…

  9. saya juga membayangkan menjadi seorang Gie di tahun 60-an

  10. penyakit ini rupanya tak sepele yah, rada2 serius dan bisa kena siapa saja rupanya 😀

  11. Bukannya perasaan inferior juga kalo kita nyinyir begitu saja, karena melihat orang yg berusaha mengejar target yg dicapainya dengan pengandaian dengan seorang idolanya?
    Sama halnya dengan nyinyir dengan Bandung yg berusaha ingin kembali menjadi bagaikan simbol kota Paris di pulau Jawa lagi seperti jaman dulu. Kalo bercerminnya ke kota yg lebih parah jauh dibelakangnya bukannya langkah mundur.
    Hemat saya sih, telisik dulu latar belakangnya kenapa terjadi seperti itu. Ga bisa begitu saja dicap IC.

  12. butuh interaksi yang lebih banyak dengan temen2 kita tersebut untuk bisa mengerti mengapa mereka lucu-lucuan seperti itu. dengan mengenal lebih dekat dan gak berusaha menghakimi, pastinya kita akan jadi orang yang lebih mengerti.

    saya sih liatnya bukan IC ya.. hanya penyemangat, jika ada wanita lain yang bisa merawat dirinya dengan baik dan bisa dijadikan panutan, kenapa enggak dijadikan idola sebagai pengingat?

    Pasti ada yang sependapat dengan saya, bisa jadi ada juga yang sependapat dengan penulis blog. Tapi coba aja kenal lebih dekat deh, sama sekali gak ada maksud menyamakan diri dengan artis yang dimaksud dan lantas merasa diri sendiri rendah..

    wanita yang dijadikan objek dalam tulisan malah menginspirasi saya banyak hal. bagaimana wanita muda komit dengan rumah tangganya dan mengasuh 3 putranya sendiri dan hampir setiap hari saya perhatikan dia mencari ilmu2 baru seperti berbagai masakan, pengasuhan terhadap anak, dll. terbuka dengan teman2 lain berbagi informasi dan berdiskusi. Ibu Rumah Tangga yang semangat mengupgrade diri setiap hari dan membuka dunianya gak hanya sekedar rumah.

    mudah2an si wanita yang jd objek gak lantas jadi IC justru setelah membaca tulisan ini. Dan rasanya dia cukup terbuka untuk nerima bahwa setiap orang bisa memiliki interpretasi berbeda-beda tentang dirinya.

    salam kenal ya mas…

  13. Justru menurut saya yang harus di observasi itu yang nulis tulisan ini. Sampai bikin effort bikin satu tulisan khusus hanya untuk mengkomentari seseorang dan mengkupas apakah dia IC secara subyektif. Seperti anda bilang, bebas sebebas bebasnya mau meniru siapa, mau menjadikan idola siapa, bahkan mengimitasi 100% sang idola, kayaknya sah2 aja. Yang jadi masalah adalah kalo semua itu dicap sebagai IC dengan memaksakan alasan2 subyektif untuk pembenaran tulisan anda ini. Tidak semua orang yg mengimitasi itu IC. Tidak semua. Bahkan alasan dan motivasi pun bermacam2. emang anda siapa bisa langsung mencap seseorang IC ? Sigmund Freud ? *nyembah deh kalo iya*

  14. Memangnya diri kita sendiri itu terbentuk dari mana? Apa sudah nyangkut di DNA yang tidak bisa diubah? Bagaimanapun lingkungan,pendidikan dsb. juga berpengaruh terhadap pembentukan ‘diri sendiri’. Diri sendiri itu terbentuk akibat proses melihat,mendengar dan ingin melakukan dari orang yg dia fikir bisa dijadikan panutan. Dengan kata lain IC pasti menjangkiti setiap orang hanya penyakit ini ada yg berani menngekspos atau tidak berani terekspos contohnnya tulisan anda juga bisa menggambarkan begitu parahnya IC disease si penulis.

  15. Oh ya, satu lagi yg cukup sakit menurut saya, tiap ada pendapat, kebiasaan, dan pemikiran orang lain yang gak sejalan dan gak sesuai dengan subyektifitas pemikiran anda, langsung anda cap “logical fallacy”. Tapi yah memang bebas sebebas2nya sih mau menganut logical pemikiran mana pun, tinggal menentukan sendiri, pilih pemikiran orang sehat, atau pemikiran orang sakit. Itu aja. Mudah kok.

  16. @Imelda

    Kalau senang kaosnya karena motifnya misalnya ya ga apa2. Asal jangan karena “Armani”nya apalagi kalau terlalu over. 🙂

    @Asop

    Hehehe saya juga ga mau

    aRuL

    Mungkin juga rul. Heheheh…

    DM

    Kuncinya itu! Bekas bangsa jajahan! Sehingga seringkali kita merasa inferior hingga sekarang! 🙂

    Ag bint

    Ya begitulah bin. 😀

    Harry Nizam

    Sebenarnya ada juga IC yang menyebabkan orang justru bekerja keras menyamai “idola”nya dalam hal ini tentu yang bagus adalah menyamai prestasinya bukan hanya sekedar pengadopsian nama saja. 🙂

    @edratna

    Iya bu, justru itu udah tahu sekarang udah tidak sama lagi, eh masih aja senang menamakan diri dengan Parijs van Java.

    @ario saja

    Betul.

    @mr. sectiocadaveris

    Nah, kalau sebagai usaha motivasi ya ga apa2, namun begitu kalau cuma cederung sebagai memori atau sekedar “bangga-banggaan” tak ada sebab kayak sekarang ini, nah itu dia yang bikin “geli”. Orang asing ingin lihat wah benar nggak Bandung itu seperti Paris. Kalau nggak kan penonton kecewa tuh. Tul nggak? 😀

  17. @boyin

    Wah… itu lebih gawat lagi ya?? Hehehe….

    @giewahyudi

    Jikalau anda kagum dengan semangatnya “gie” ya tidak apa2. Malah bagus. Apalagi kalau anda ingin menyamai semangatnya. Tapi kalau hanya sekedar “mencatut” nama yang nggak jelas, nah itu jadi beda masalahnya. 🙂

    @almascatie

    Kita semua pasti secara tidak langsung atau langsung ada perasaan inferior. Hanya saja kita tidak perlu mengidentifikasikan kita dengan mereka yang lebih superior apalagi kalau hanya fisik saja!

    @Raharja Senapati

    Saya tidak pernah mengkritik orang jika dia ingin seperti idolanya tapi prestasinya, bukan hanya sekedar fisik saja apalagi sekedar minjem nama saja dan tidak mirip pula! Walaupun sekali lagi sah2 saja dia begitu walaupun sah2 juga saya mengkritik secara obyektif.

    Kalau bercerminnya ke kota yang lebih parah? Ya… orang Bandung pasti nggak ada yang mau mengingatnya dan nggak bakalan ada mal atau stasiun TV bernama kota yang lebih parah, sama seperti tidak ada orang yang mau menyamakan diri dengan Omas atau Tessy Srimulat misalnya walaupun kedua orang tersebut juga berprestasi di bidangnya.

    Nah, itu dia, kalau buat memotivasi untuk maju, ya nggak apa2. Tetapi lihat, apa sih efeknya bagi orang2 Bandung “Parijs van Java” itu? Lebih hanya sekedar memori atau bangga-banggaan saja daripada untuk motivasi. Lagipula untuk memotivasi tidak perlu kok simbol2 pembanding seperti “Parijs van Java”. Banyak kota2 lain juga yang lebih maju di dunia ini tidak perlu simbol pembanding bahkan mereka dapat berkembang baik dengan cirinya tersendiri yang unik yang tidak didapatkan di belahan bumi lainnya.

    @Dina

    Salam kenal juga…

    Betul seperti anda bilang dan sayapun sudah setuju secara tidak langsung di alinea terakhir artikel saya jikalau sebagai penyemangat, pengingat apalagi kalau pemacu prestasi bukan hanya sekedar penyamaan fisik / lahiriah saja tentu itu sangat bagus. Tetapi hal tersebut tentu tidak perlu diwujudkan dalam bentuk pengasosiasian diri terhadap sang idola sampai menyebut diri sang idola walaupun tentu sah2 saja. Toh hal tersebut bisa saja dilakukan dalam hati. Bahkan banyak mereka yang maju tidak perlu idola untuk menjadi maju, mereka berkembang menjadi jati diri mereka sendiri.

    Saya tahu itu, wanita yang menyamakan diri dengan si artis itu selalu belajar ilmu, masakan dan lain-lain, saya percaya itu. Dan baguslah itu jikalau ia bisa menginspirasi anda untuk mengupgrade diri. Namun begitu tentu saja anda tidak mau mengasosiasikan diri anda secara terbuka dengan dia dengan “mencatut” namanya bukan? Karena selain tidak perlu, anda dalam hati tidak merasa inferior terhadap teman anda tersebut. Berbeda dengan si wanita tersebut yang di dalam hatinya (dan secara tidak sadar) memang merasa inferior terhadap idolanya minimal secara fisik.

    Sekarang pertanyaan lanjut, kenapa ia tidak mengasosiasikan diri dengan misalnya “Sisca Soewitomo” seorang ibu yang prestasi masaknya tak diragukan lagi atau dengan wanita2 lain yang juga berprestasi namun mempunyai fisik yang kurang dari si penyanyi Colombia? Malah lebih bagus kan? Kalau merasa inferior dengan prestasi seseorang itu malah bagus apalagi jikalau BENAR itu memacu prestasinya bukan hanya sekedar adu bagus fisik. Nah, kalau dia mengasosiasikan diri dengan wanita2 tersebut dengan catatan ingin menyamai prestasinya, nah itu bagi saya patut dipuji! 🙂

    @Rizky

    Betul! Sudah saya tulis juga di artikel saya dan jawaban untuk almascatie di atas jikalau semua orang punya perasaan inferior sebagai individu ataupun sebagai bangsa termasuk saya termasuk anda. Saya mempunyai IC yang parah? Mungkin saja! Kenapa tidak? Tapi yang jelas saya tidak mengasosiasikan diri saya secara konyol dengan seseorang yang memang tidak sama dengan saya! Itu bedanya, tong!

    @purakrisna

    Pertama2 anda tidak tahu apa itu argumen ‘subyektif’, subyektif itu adalah menambahkan argumen yang langsung menyerang fisik subyek pendebat. Argumen anda “pilih argumen orang sehat atau orang sakit” itu berbau subyektif. Bagaimana dengan tuduhan IC atau perasaan inferior terhadap sang wanita? Subyektifkah? Tidak! Karena saya memang ingin menulis tentang IC walau diilhami dengan kasus si wanita itu plus kasus Parijs van Java. Dan yang terpenting, saya menganalisanya dengan obyektif yaitu tidak membeda2kan subyek. Bahkan dalam tulisan saya, saya tidak menyangkal bahwa perasaan inferior bisa terjadi pada setiap orang termasuk saya. Dan jawaban saya untuk Rizky bahwa mungkin saja ada IC pada diri saya juga menandakan bahwa analisa saya cukup obyektif. Ngerti tong?

    Mengenai logical fallacy, tidak semua perbedaan pendapat (dengan saya) itu logical fallacy tentu saja. Komen si Senapati di atas BUKAN logical fallacy, mungkin anda salah baca dari twit saya semalam. Baca lagi yang benar. Dan mengerti dulu logical fallacy minimal definisinya sebelum komen.

  18. Iya bener, mending jadi diri kita sendiri. Membentuk karakter sendiri, yang mungkin malah membuat orang lain ingin meniru kita :p

  19. Wakakakak…perasaan nama saya Rizky dan teman saya namanya Purakrisna..kenapa jadi tong? Apa sedemikian parah sakitnya Pak Yani NK hingga bisa mengganti nama seseorang menjadi Tong? Kata yang selalu saya dengar atau baca dekat dengan sampah..Tong Sampah…Saya sih cinta kebersihan, makanya sampah2 seperti ini harus dirapihkan.. Ngerti Pak?

    • Saya nggak peduli nama anda dan teman anda karena itu dan juga argumen anda bersifat red herring yaitu nggak ada hubungannya dengan topik dan juga bersifat argumentum ad hominem yaitu menyerang pribadi pendebat bukan pada materi debatnya. Itu merupakan fallacies yang sangat parah dalam berdebat. Anda boleh menyerang saya pribadi asal ada kaitannya dengan topik ini yaitu perasaan inferior atau IC. Ngerti tong?

  20. Topik yg anda bawakan itu bermasalah krn sudah membicarakan individu dari awal, Tong..! Baca lagi ke atas kalau lupa..Anda sudah mengakui kalau anda penderita IC, kenapa tidak anda saja yg jadi model?? Apa yang anda tulis juga fallacies yang amat sangat parah..Judulnya Paris van Java dan IC knp jadi bahas individu? Gambar depannya juga bukan bahas individu kan? Saya baca di wikipedia juga definisinya tidak sesimpel ic anda uraikan disini..Jadi tidak usah show force dgn koleksi bahasanya Tong.. Orang juga bisa menilai dari tulisannya..Tong Kosong nyaring bunyinya..Ngerti Tong..!

  21. Ya ampun, masih berlanjut ini? iya Mas Yari kalo memang ada nada2 “protes” bukan kami bermaksud untuk mempermasalahkan bahasan anda sendiri perihal urusan IC. Karena bukan bidang saya di dunia psikologi. tentu saja menyebut seseorang dengan “tunjuk hidung” mengidap inferiority Complex adalah tuduhan yang serius. Sudah ya, saya gak akan bermain di kata IC itu sendiri, karena takut keliru karena saya awam di bidang psikologi. Dalam hal ini saya memilih hati2 menggunakannya.

    Betul seperti apa yang diutarakan dr. Rizky diatas, bahwa anda sudah membicarakan individu tertentu diatas dan “membuat” individu tersebut tau dijadikan “ide cerita” tulisan ini. padahal sesungguhnya anda hanya ingin menulis mengenai IC.

    Yang ingin saya bantu luruskan adalah, anda sudah salah faham mengartikan kebiasaan teman kami yang suka becanda sebagai artis ttt itu. kok kami yang mengenalnya bertahun-tahun hanya menganggapnya artis tersebut sebagai panutan teman saya tersebut. Ambilah misalnya mengagumi wanita lain yang konsisten dan tekun menjaga tubuhnya agar selalu menarik.

    Nah yang dimaksud lucu-lucuan itu sendiri adalah menyebutkan nama artis tersebut sebagai panggilan pengganti sehari-hari, bukan berarti lantas secara sadar tidak sadar dia terobsesi penuh dengan artis tersebut. Poin yang dijadikan “panutan” yang saya sebut diatas pada akhirnya jd inspirasi tersendiri. cukup sampai sana aja. Jadi saran untuk lucu2an agar mengasosiasikan diri dengan pelawak agar lucu beneran sedikit tidak relevan dengan hal ini.

    Problemnya adalah, kadang gaya canda dan humor yang kita gulirkan di jejaring sosial memang kita tujukan untuk teman – teman dekat yang sefaham dengan gaya canda kita. terbukti, saya dan beberapa teman dekat lainnya menangkap canda sebagaimana individu itu maksudkan. Namun kadang kita lupa, bahwa yang ada di jejaring sosial tersebut bukan hanya teman2 yang mengenal kita dengan baik saja, dan disanalah posisi mas Yari. Ikut menyaksikan canda2 yang ternyata pada akhirnya diterima tidak sesuai dengan yang dimaksudkan. Dan ini adalah konsekuensi logis dari saling follow memfollow di jejaring sosial dengan orang yang kita tidak kenal.

    Nah mengingat kondisi semacam itu, bahwa kita GAK bisa memastikan orang2 yang berada di timeline kita cukup kita kenal dengan baik hingga kita berfikir berhak dan cukup layak menganalisa dan melabeli orang2 tertentu sebagai pengidap IC misalnya. Saya pribadi memilih untuk tidak melakukan itu, setidaknya secara terang2an seperti ini.

    Karena walau menulis mengenai IC itu sendiri, di dalamnya ada ulasan dimana anda mengupas individu seseorang yang mungkin saja kurang tepat dan mengganggu individu itu sendiri secara pribadi.

    Kita bebas saja melakukan apapun dan beropini apapun, kebebasan yang dilakukan oleh teman saya dengan menjadikan artis tertentu sebagai idolanya dipastikan tidak mengganggu mas Yari secara pribadi, kecuali memang anda memilih untuk memusingkan hal tersebut. Tapi kebebasan anda menulis dan mengupas sesuatu disini sedikit banyak mengganggu individu tertentu secara pribadi dan dimuka publik. itu aja perbedaan tulisan anda dengan kebiasaan teman saya.

    Daaaan, disinilah “protes2” ini berada, berharap berfungsi sebagai hak jawab dari orang yang anda “kupas” sekaligus mudah2an pesan akan sampai kepada anda bahwa kami menganggap anda gak berhak menilai dan melabeli seseorang tanpa observasi cukup dan bukan ahlinya apalagi sampai dituangkan di area publik seperti ini. Dimana anda menyediakan lahan para pembacanya bisa berkomentar.

    Hal2 yang dikhawatirkan adalah pembaca yang tidak ikut memahami ikut melabeli individu tertentu mengidap IC. dan ini penghakiman yang terburu-buru dan bisa masuk kategori perusakan karakter seseorang dimuka umum.

    thx ya mas Yari udah baca pendapa saya. Mudah2an kali ini pesannya sampai.

  22. Kalau bloger yg menyembunyikan identitas asli, itu termasuk IC ga, Pak? 🙂

  23. tulisan yg sngt subjektif, terlebih sang penulis mencampuradukan opininya dgn rasa sentimen thd seseorang/kelompok tertentu, terlihat sekali egoisme penulis dlm mendefinisikan IC itu bkn berdasar kpd sebuah analisa yg komprehensif, melainkan hny berdasar ‘kemauan’ sang penulis sendiri, jelas bukan dgn cara seperti itu seseorang menyampaikan sebuah tulisan yg ilmiah dan bertanggungjawab.

    Penegrtian Complex di dlm IC itu mengandung makna karena gangguan kepribadian (personality) itu ditampilkan dalam berbagai bentuk perilaku. Oleh karena itu terjemahan sebatas “mengidolakan shakira” masih kurang menggambarkan kemajemukan perilaku gejalanya.

    Sedikitnya bbrp hal dibawah bs sedikit mendefinisikan perilaku IC tsb;
    1. mengasingkan diri dari pergaulan.
    2. melakukan perilaku yang secara sadar atau tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak lebih rendah, lebih bodoh, dsb. Terkadang berlebihan sehingga kurang pas, kurang pada
    tempatnya, atau tidak wajar.
    3. memusuhi secara irasional pihak yang dianggapnya serba lebih dibanding dirinya.
    4. menyalurkan rasa rendah diri itu dalam bentuk kekerasan kepada orang lain yang lebih lemah daripada dirinya (isteri, anak, orang perempuan, bawahan) karena kepada lawan yang dianggapnya lebih superior dia tidak berani.
    5. meniru atau mengidentifikasikan dirinya seperti orang yang dianggapnya superior dalam bentuk cara berbicara, berbahasa, berpakaian dan perilaku lainnya.
    Menggunakan bahasa asing, berpakaian ala bangsa asing, dapat juga menunjukkan adanya inferiority complex.

    Jangan2 sang penulis ini sdh keduluan menklaim shakira drpd orng yg di kritiknya, Allohu A’lam…

  24. oke..
    salam kenal mz..
    mampir juga ya..

  25. hmm… begitupun saya gak nolak disamakan dengan angelina jolie, mas. eh, maksudnyaaa… hihi.

  26. Wah..kalau saya kadang mengalami sebaliknya Pak. Kalau tampang saya disama2in sama Anjasmara atau Syahrul Gunawan gituh, saya malah bilang.. “oh, itu mah mereka yang mirip saya. Secara saya lebih tua daripada mereka…hehehe” Kalo gitu istilahnya apa tuh Pak? Superiority Complex? *siul-siul*

  27. @Rizky

    Jadi males mbales komen kalo yg komen baca aja ga becus! Lihat judul dong tong! Judulnya Parijs van Java dan Perasaan Inferior bukan Parijs van Java dan IC! Apa masih harus diberitahu kalo perasaan inferior dan IC itu agak berbeda?? Mangkannya dalam alinea pertama saya tulis… “atau lebih tepatnya mungkin bibit-bibit IC yang ada pada dirinya.” Kenapa tidak angkat saya jadi model? Lagi2 nggak baca bener! Saya bilang kan “MUNGKIN saja…” bukan “mengakui saya penderita IC”. Baca dulu yang bener! Yang jelas andai kata saya penderit ICpun saya tidak akan “segegabah” itu menyamakan diri saya secara terbuka di twitter dengan seseorang yang jelas2 nggak sama! Gitu tong!

    @dina

    Protes, boleh2 aja kok! Sah2 saja, dan bagi saya itu adalah hal yang wajar! Gak saya anggap sesuatu yang ‘serius’. Itu sesuatu hal yang biasa dalam dunia blog.

    Bagi saya pribadi, individu tersebut tahu dijadikan cerita malah bagus, jadi saya tidak backbiting atau ghibah, mungkin semua orang tidak berfikiran begitu, yang jelas memang harus ada “contoh” agar lebih tidak abstrak. Dan ingat, sayapun menulisnya masih dalam koridor2 etika, bahkan pengomentar2nya banyak yang lebih tidak beretika! Dan saya juga tidak langsung menyebut nama dan tidak mengaitkan ke link pribadi apapun. O iya ingat, sayapun juga mengatakan bahwa si individu “lebih tepatnya mungkin bibit2 IC yang ada pada dirinya” bukan IC-nya itu sendiri.

    Mungkin saja hanya sekedar lucu2an, namun bisa saja kan lucu2an (atau motif2 lainnya) juga mengandung unsur2 rasa inferior tanpa kita sadari? Sama seperti kita kalo senang berbahasa asing (seperti yang sering saya lakukan!) nah memang diakui bahwa saya merasa ‘minder’ secara tak sadar dengan bahasa kita sendiri, walaupun dengan alasan ingin memperlancar bahasa asing. Namun begitu, rasa ‘minder’ saya bisa menjadi sesuatu yang positif jika saya bisa terus meningkatkan kemampuan bahasa asing saya untuk tujuan yang positif tentu saja, nggak sekedar aksi2an apalagi sekedar ngaco2an dan lucu2an. Yah, kalo andaikan si individu dlm kasus artikel ini benar2 ingin menjadi si artis, ya saya doakan saja, mudah2an usahanya benar2 nyata untuk “menyaingi” body si artis, nggak hanya sekedar diet (kagetan) saja, apalagi hanya sekedar pembenaran kosong belaka.

    However, sekali lagi terims atas komennya. 🙂

    @Mathematicse

    Banyak artinya. Yang jelas kalo dia bisa menghasilkan tulisan yang baik, apakah dia IC atau nggak, udah nggak jadi masalah lagi. Gitu kan? 😀

    @nanda

    Rasa sentimen terhadap seseorang/kelompok tertentu? Yah itu pendapat pribadi anda. Tapi apakah benar begitu? Jikalau saya sering melakukannya di blog atau di manapun, ya mungkin hal itu benar. Tapi kalo tidak?? Hanya sekedar tuduhan kosong belaka. Beda jika tidak ada angin dan hujan tiba2 dia sering mengasosiasikan diri dengan seseorang yang tidak sama secara terbuka. Nah itu bedanya!

    Ya betul yg anda tuliskan di atas memang poin2 seseorang penderita IC. Bisa jadi cuma satu poin atau semua poin. Untuk itu saya menyebutkan bahwa si individu sebagai ‘tepatnya mungkin bibit-bibit IC yang ada pada dirinya.” belum IC-nya itu sendiri.

    Menggunakan bahasa asing menunjukkan IC? Bisa saja. Kenapa tidak?? Sama seperti yang sering saya lakukan, “minder” terhadap bahasa sendiri. Namun jikalau itu justru membuat kita lebih baik lagi berbahasa asing (apalagi tanpa melupakan bahasa sendiri), dan tidak sekedar gagah2an, atau lucu2an. Kenapa tidak???

    Saya sudah mengklaim duluan si penyanyi?? Bisa saja! Kenapa tidak?? Yang jelas, andaikan saya berbuat begitu saya tidak dengan gegabah mengatakannya dengan lantang di twitter. Karena memang saya tidak sama dengan si penyanyi. Itu bedanya! 😆 😆

    @akhnayzz

    Ok salam kenal juga.

    @marshmallow

    Hihihi…. saya juga nggak mau disamakan sama Arnold Schwarzenegger. Abis emang ga sama sih! Hehehe….

    @soyjoy76

    Superiority complex?? Hahaha… baguslah tuh hehehe… 😀

  28. Kayaknya bandung memang nggak cocok disebut Paris van Java. Apanya yang sama? Jelas Paris jauh lebih indah, lebih teratur, dan bangunan-bangunan tuanya yang bersejarah terawat lebih baik.
    Kalau Bandung disebut Kota Kembang masih cocok nggak ya? 🙂

  29. blue jadi ingin ke bandung ke sebuah mall…………paris…………………..demikianlah
    salam hangat dari blue

  30. saya kira, parisj van java buat Bandung itu bukan karena memang ingin disamakan banget sama paris sih, menurut saya mah. Tapi hanya untuk memperlihatkan satu hal penting : kota di jawa yang paling tren dalam fashion-nya. Bagi saya sih ya sah -sah saja toh julukan itu juga sepertinya sudah meluas di mana -mana.

    Dan julukan ini jg menjadi daya jual tersendiri bagi bandung. Setiap wikennya bandung dibanjiri orang untuk belanja dari luar kota. Tapi apakah benar bandung (atau warganya?) menjadi inferior dengan julukan itu? entahlah. rasanya sy belum menemukan pembahasan dan penelitian tentang hal tsb.

    🙂

  31. Parah eui,masa iya ICnya disuruh mirip dengan Omas?! Heheh …
    Mungkin itu manusiawi Pak. Perasaan ‘ndompleng’ dengan ketenaran orang lain bisa jadi menumbuhkan kepuasan dalam diri. Yang penting mah gak berlebihan. Anak-anak muda sekarang juga banyak yang begitu, niru-niru dan merasa diri mirip orang lain, tak punya self confidence.
    Ternyata tulisannya ‘Parijs’ ya? Kirain Varis atau Paris.
    Aiyyah .. Dibanding Parijs van Java, saya lebih familiar dengan Opera Van Java. Haha …
    salam hangat Pak … 🙂

  32. Saya merasa kurang tepat kalau lebih baik mengikuti pelawak (omas dsbg) ketimbang orang yang aslinya cantik/ganteng maupu seksi pak. Justru karna kita tau dia tidak secantik/ganteng atau seseksi orang yang ditirukannya yang membuat “penampilan” tersebut lucu karena ada punchline.
    Punchline yang sama mungkin akan didapatkan jika orang yang ganteng/cantik/seksi meniru pelawak yang -maaf- “ancur”. :mrgreen:

  33. terkadang
    perasaan yang menurut kita nanti’a akan berlangsung dengan baik
    tapi kenyataan suka bebeda degan yang kita pikirkan
    sebelum’a…..

  34. Yeah.. Terlalu membanggakan diri sendiripun kurang baik juga.
    Lha, diriku ini memang tidak bisa di banggakan.

  35. Ping-balik: Bandung Technopolis – Silicon Valley van Indonesia | CATATAN PINGGIR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s