Ambil Coklatnya Buang Valentinenya!

She’s a real look…
She’s my heart my inspiration…
Lucky is the man who find the child of love….

Bagi sebagian anda yang sudah lahir dan sudah remaja pada awal tahun 1980an tentu masih ingat lagu manis “Lady Valentine” yang dibawakan oleh David Gates ini. Lagu yang temanya sangat nyerempet dengan hari Valentine ini memang mempunyai irama lagu  yang cukup romantis dan saya senang mendengarkannya sampai sekarang. Walaupun saya senang dengan lagu ini, namun bukan berarti saya setiap tahun ikut-ikutan merayakan hari Valentine. Hal tersebut bukan karena dengan alasan basi “kasih sayang itu harus setiap hari bukannya pada hari Valentine saja!” ataupun bukan juga dengan alasan simpang siurnya fatwa haram tidaknya bagi kaum Muslimin yang merayakan Valentine, karena apakah haram atau tidak, tidak berpengaruh bagi saya karena saya juga tidak akan merayakan Valentine!

Tidak perlu lagi saya menjelaskan asal-usul hari Valentine, karena anda bisa mendapatkannya dengan mudah di dunia maya ini. Hanya saja perlu diketahui bahwasannya sebelum abad ke-14 tidak ada unsur cinta (romance) di dalam Hari Valentine ini. Walaupun pada awalnya hari raya ini erat hubungannya dengan gereja Katolik Roma, tetapi menurut informasi yang saya dapat dari Wikipedia, tahun 1969 gereja Katolik Roma sendiri sudah mencoret hari Valentine ini sebagai hari libur/besar keagamaan dan sejak itu hari libur ini tidak lebih dari sekedar hari libur atau hari besar nasional. Alasan dari pencoretan itu adalah sebenarnya kisah si Valentine itu sendiri sangat sedikit diketahui. Ketika pada abad ke-14 unsur cinta diperkenalkan pada Hari Valentine ini, sebenarnya unsur cinta tersebut adalah cinta antara sepasang kekasih (antara laki-laki dan perempuan). Namun lucunya entah kenapa di Indonesia ini banyak yang membengkokan hari kasih sayang ini sebagai hari kasih sayang terhadap sesama manusia bukan hanya antara sepasang kekasih! Ini menurut saya jadinya cukup menggelikan. Sudah kita bisanya hanya ikut-ikutan tetapi dalam ikut-ikutanpun kita tidak becus mengetahui makna aslinya!! Mungkin agar hari Valentine di negeri ini dapat terlihat sedikit tidak vulgar ataupun lebih bersifat “ketimuran”.

Lantas kenapa saya tidak perlu merayakan Valentine?? Karena lebih banyak pekerjaan lebih penting dibandingkan sekedar merayakan Valentine memang Valentine bukan berasal dari kebudayaan ataupun kepercayaan saya. Dan sayapun bukan tipe orang yang hanya sekedar ikut-ikutan tradisi bulé yang kurang bermanfaat bagi saya. Perayaan hari Valentine di negeri ini sebenarnya mencerminkan kekerdilan mental kita yang selalu menganggap apa yang berasal dari bulé barat selalu hebat walaupun hal tersebut kurang bermanfaat bagi dirinya. Eits! Jangan dibalik! Bukan berarti semuanya yang datang dari barat itu tidak berguna! Tentu saja tidak. Ilmu pengetahuan yang berasal dari barat tentu saja sangat berguna dan hal-hal berguna seperti itulah yang patut saya kopi. Apakah berarti hari Valentine tidak patut dirayakan di Indonesia?? Bagi mereka yang merasa punya bertradisi dengan hari Valentine ya silahkan saja merayakan, saya hanya bisa berdoa dan berharap mudah-mudahan bangsa ini bukan hanya menjadi bangsa pengekor hanya untuk hal-hal yang tidak perlu dan kurang bermanfaat…….

Namun tentu bukan berarti hari Valentine ini sama sekali “kurang bermanfaat”. Ya, lihat saja, Valentine bisa menjadi ajang bisnis yang sangat menguntungkan. Lihat saja pabrik-pabrik permen dan coklat mengeluarkan coklat-coklat dan permen-permen khusus Valentine. Kartu-kartu Valentine juga mungkin dapat menghasilkan keuntungan jikalau tidak tersaingi oleh MMS dan e-mail.  Juga Department Store mencoba mengambil keuntungan dengan berbagai program Valentine sale-nya. Acara-acara televisi juga menampilkan acara-acara Valentine. Sayapun jika menonton film-film Valentine yang bagus sih oke-oke saja, tetapi kalau acara Valentine-nya tentang curhat problematika cinta para artis sinetron murahan ya ogah lah yaw. Radiopun tak ketinggalan “memanjakan” pendengarnya dengan program-program Valentine, walau banyak juga karena pengetahuan yang rendah dari pihak manajemen dan penyiar, acara Valentine yang seharusnya tentang cinta sepasang kekasih jadi salah kaprah tentang cinta antar sesama manusia biar terlihat lebih sopan dan santun. Dari contoh-contoh di atas tentu momen Valentine ini menjadi momen yang bagus untuk menggenjot pendapatan bagi berbagai macam bisnis.

Lantas bagaimana dong jikalau ada sisi ‘bagus’ dan ‘jelek’-nya bagi mereka yang tidak merayakan Valentine?? Ya  mudah saja……. jikalau anda punya bisnis yang dapat memanfaatkan momen Valentine untuk memompa penghasilan anda ya silahkan manfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya dan lupakan saja makna hari Valentine yang kurang bermanfaat bagi anda itu. Sama juga ketika anda mendapatkan coklat Valentine dari kekasih anda yang tidak tahu kalau anda tidak merayakan Valentine (apa iya nggak tahu kalau sang pacar tidak merayakan Valentine walau sudah lama berpacaran?? Ah… namanya juga andaikan. Huehehe… 😛 ), ya ambil saja coklatnya dan buang (makna) Valentine-nya! Tentu coklatnya bisa anda buang juga kalau sudah busuk! Gitu aja kok repot!! :mrgreen:

Iklan

26 responses to “Ambil Coklatnya Buang Valentinenya!

  1. hehehe… aq cm ga bisa membayangkan pak yari palentinan (doh)

  2. Seharusnya ini dirilis besok tepat tgl 14 peb. Valentin biasanya suka dirayakan ABG yg masih mencari jati diri dan memang masih suka meniru2.

  3. gimana kalo pak yari bikin “Palestine Day”? :mrgreen:

  4. kalo di bali ada yang lahir as hari valentine namanya jadi ‘pan lentin’heee..ngomng2 mau donk coklatnya

  5. Saya juga tdk merayakan Valentine. Makanya jika ada yg mengucapkan pada saya (salah satunya pacar saya), saya bilang tengkyu dan bilang LOVE U sama dia tanpa menyinggung2 ttg Valentine itu.
    😉

  6. Benar sekali….

    budaya dari romawi kok diikutin :(!!!

  7. saya senang coklat pak.. 🙂

  8. valentin yang tetangganya israel bukan? 😀

    ndak ada valentin2an Pak….
    sayang sepanjang hari sepanjang tahun…. 🙂

  9. Saya juga gak ngerayain valentin, bang. Karena gak punya kekasih! :mrgreen:

    Lagian katanya kasih sayang setiap hari itu juga klise… 😛

  10. Yup. yang jelas ini bukan budaya Indonesia. It’s a nice blog. Salam kenal ya mas…

  11. Ping-balik: Be My Valentine | Azaxs Dot Net

  12. @mantan kyai

    Saya juga nggak bisa membayangkan saya jadi palentinnya mantan kyai. Huehehehe….. **ditabok**

    Ya udah kalau begitu kirim salam aja ya sama mas palentin…. :mrgreen:

    @AgusBin

    Emang pengaruh gitu diterbitkan tanggal 13 Februari atau tanggal 14 Februari?? :mrgreen:

    @SJ

    Saya bikin “Bulestine day” aja deh… moso “Palestine day” ajah….. :mrgreen:

    @boyin

    Oh… Pan Lentin ya?? Itu apanya Pan troglodytes ya?? Huehehe…. 😀

    @HeLL dA

    Atau dijawab gini aja: “Ciiyeee… Valentine nih ye??” 😀

    @nelson

    Bukan masalah Romawinya tetapi memang kebiasaan Valentinan itu memang tidak berguna….. (kecuali untuk kepentingan bisnis) 😀

    @denologis

    Yang tetangganya Israel itu namanya Ovaltine…. :mrgreen:

    @jensen99

    Wakakakakak…. itu sih namanya pasrah karena nggak laku **kabooor** :mrgreen:

    @mbak maya

    Ya benar… lebih baik melestarikan budaya sendiri. Salam kenal juga dan terims ya telah mampir di blogku… 🙂

  13. Valentine no,
    kasih sayang yes….
    (coklatnya mana Mas Yari ?
    bagi dong) hehehe 🙂

  14. mungkin untuk pasangan suami istri, di hari ini menjadi moment perenungan apa rasa cinta dan sayang mrk. Shg yg mulai luntur bs dipertebal kembali. Memang ga hrs tgl 14 Feb. Tp di benak semua org seluruh dunia tgl ini pasti cinta, sayang, dan romantis. Tgl lain mungkin lupa beri kecupan ke istri, atau sekedar bilang “I love u ma..” 😀

  15. nyam…nyam,,,,, nyami…….. coklatnya he..he… 😉

  16. bisa ajah nih pak yari…
    coklat batangan… heheh…

  17. Saya mengutip dari Wikipedia, hari valentine di Indonesia, diujudkan dengan budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih seperti yang juga dilakukan di Amerika dan Inggeris……… budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif….. karena perayaan valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan valentine…….. seperti kotak coklat, perhiasan dan boneka…….pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar…..marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine……betul sekali setiap kejadian yang menyangkut perhatian anak muda….apalagi yang menyangkut refleksi nurani cinta……dekat dengan selera tinggi….nah lalu di ujungnya pasar menangkap sinyal-sinyal adanya permintaan terhadap produk sampingannya…….jadilah hari valentine semacam tradisi anak-anak muda…….saya tidak tahu misalnya apakah hari-hari seperti hari ibu,hari bapak, hari anak, hari sumpah pemuda, dsb…..juga diikuti aktifitas bisnis dengan memproduksi dan menjual beraneka pin dan kartu dengan tema-tema tertentu……kok rasanya nggak ya….maklum selera anak muda untuk itu mungkin rendah dan khawatir pin atau kartu tidak laku…..

  18. @mikekono

    Kasih sayang? Yes! Berarti memang kasih sayang tidak identik dengan Valentine kan bang? 😀

    @Waw

    Romantis2an antar suami isteri sih seharusnya tiap hari nggak usah nunggu Valentine, walaupun diungkapkannya juga sebenarnya tidak perlu setiap hari, kayak nggak ada kerjaan lain aja… huehehehe…. 😀

    @arifudin

    Memang hal “terindah” dari Valentine adalah coklatnya bukan hari Valentinenya sendiri hehehe…. 😀

    @Moerz

    Coklat batangan sama batangan coklat lain kan?? **halaah** :mrgreen:

    @sjafri mangkuprawira

    Itulah prof…. “kekerdilan” bangsa kita yang memuja-muja berlebihan membabibuta semua yang berasal dari barat termasuk hari Valentine ini memang dimanfaatkan oleh pelaku bisnis untuk mengeruk keuntungan. Hasilnya?? Ya… bisnis yang berbau Valentine laris manis. Bahkan kini jangankan Valentine, Hallowe’en yang dirayakan setiap 31 Oktober saja mulai laris, dan tentu saja suvenir2 yang berbau Hallowe’en mulai laris. Mungkin prof, malah pelaku2 bisnis tersebut juga ikut dalam mempopulerkan budaya Valentine ini guna meraup profit yang besar. Mereka membuat suvenir2 yang menarik sambil meniup2kan kesan bahwa merayakan Valentine adalah hal yang sangat bergengsi. Jadinya?? Jadilah Valentine utamanya adalah masalah bisnis belaka.

    Mengenai hari ibu, hari bapak, hari anak dan sebagainya, mungkin saja prof suvenir2 yang berbau hari2 tersebut dapat jadi laku keras. Syaratnya: Di luar negeri (barat) suvenir2 yang berbau hari2 tersebut harus laku keras dulu dengan atribut2nya tersendiri. Nah, kalau sudah begitu mudah untuk mengikuti hal2 yang serupa di negeri ini. Kalau temanya lokal?? Hmmm…. sepertinya memang lebih sulit untuk menjadi laku….

  19. wah, iya. saya tau koq lagu itu. secara mayan demen sama lagu2 barat yang lawas *tapi saya masih muda loh!*

    saya ga merayakan atau merayakan toh koq kayaqnya sama aja ya… mungkin memang karena saya ga ada bisnis yang ada hubungan sama vale’s day kali yah? nyatanya kemaren pas jalan2 ke mall ada stand valentine yang rame dikerubutin sama pasangan muda-mudi

    ah, salam kenal pak!

  20. Ambil coklatnya dan makan coklatnya !!!
    he….4x 😉

  21. setuju !
    kebetulan istri saya melihat peluang itu. nah, dia pun akhirnya membuat aksesoris2 yg bertema valentine. dan korbannya eh, pembelinya… adalah mereka yg ‘anut grubyuk’ budaya bule atau yg sok kebule2an, yg dengan latah merayakan valentine. hahaha…
    rasain ! 😀

  22. Satu-satunya yang saya suka dari valentine adalah banyaknya beredar coklat beraneka rupa dengan harga diskon pula. Malah pas lagi maen ke mal waktu tgl 14 Februari kmrn lagi ada acara valentine, trus kebetulan saya sama isteri dicegat sama host nya dan diminta bacain puisi cinta buat isteri. Berhadiah coklat. Why not? Saya baca puisinya, saya ambil coklatnya, saya buang pita valentinenya. Makanya gue setuju banget, “ambil coklatnya, buang valentinenya”
    Salam kenal Pak… Kalo berkenan, silahkan mampir ke soyjoy76.wordpress.com

  23. @Lelouch Lamperouge

    Nggak merayakan Valentine juga tidak apa2 kok. Toh, dengan tidak merayakan Valentine bukan berarti kasih sayang kita lebih kecil terhadap pasangan kita bukan??

    Btw… salam kenal juga dan terims ya telah mampir di blogku. 🙂

    @nelson

    Asal jangan semua yang berwarna coklat dimakan aja ya… hehehe… 😀

    @goenoeng

    Iya… kalau kita punya bisnis ya manfaatkan saja momen Valentine ini untuk “memeras” mereka yang merayakan Valentine… huehehe… 😀

    @soyjoy76

    Ya.. kalau ada hadiahnya ambil saja bleh! Kenapa disia-siakan?? Tidak usah difikirkan makna Valentinenya. Kan judulnya juga di artikel ini “Ambil Coklatnya Buang Valentinenya!”. Jadi cocok kan dengan yang anda alami?? Huehehe… 😀

  24. Padahal saya udah “ngarep” dapat kiriman coklat Valentine dari kang Yari…..(walau nggak merayakan)

    Tapi seneng juga saat jalan-jalan sama Yoga, dan melihat lampu beraneka warna merayakan Valentine Day, bagi orang bisnis ini memang dibuat acara, agar jualannya laku.

    _______________________

    Yari NK replies:

    Wah, saya sebenarnya dapat coklat dari Canada dari boss saya, isinya bermacam2 kacang dan juga rasa2 buah, hmmm pokoknya exquisite deh… hehehe…. Sayang sekarang coklatnya hampir abis… :mrgreen:

  25. Indonesia tuh aneh suka ikut2an budaya barat. Padahal kisah cinta asli dari tanah lokal buat inspirasi hari kasih sayang jg banyak koq.

    Contoh saja kisah roro mendut. harinya diganti nama jadi menduts day dan kado coklat diganti jadi rokok kawung. asli indon khan? :mrgreen:

    • Memang seharusnya sih bagusnya seperti itu. Tetapi kalau “Mendut’s Day” kok nanti kayaknya jadi nggak elit kedengerannya menurut para muda-mudi kita yang sok modern itu, soalnya kok Mendut itu rhyming dengan endut, gendut bahkan kentut. Kan kurang asik?? Huehehe…. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s