Monthly Archives: Juli 2007

Terpaksa Kegiatan Blog Sedikit Diperlonggar :(

Berhubung karena kesibukanku di Bulan Agustus ini, mungkin saya akan lebih jarang online untuk nge-blog, tapi bukannya aku hilang sama sekali dari peredaran, tetapi hanya frekuensi online-nya saja yang terpaksa harus saya kurangi.  Ok deh, begitu aja, ini adalah pengumuman yang sama sekali tidak penting! 😀 Hanya sebagai pemberitahuan saja, kalau dalam bulan ini mungkin aku agak jarang posting dan juga meninggalkan komentar-komentar di blog lain.

Iklan

3.5G, Cable Internet atau ADSL?? Bingung!

Akhir-akhir ini aku selalu ‘diganggu’ oleh (lagi-lagi!) salesgirl dari salah satu operator TV kabel di kota Bandung yaitu Megavision. Sebenarnya aku sudah berlangganan TV kabel pesaing Megavision di kota ini yaitu Fasindo. Dari segi channel-channel televisi yang ditawarkan sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh. Di Megavision menangnya ada HBO Signature sedangkan di Fasindo ada Hallmark Channel. Ada yang berpendapat HBO Signature lebih bagus daripada Hallmark Channel, tapi bagi saya nggak jadi masalah, toh HBO Signature sebenarnya juga banyak pengulangan dari channel HBO-nya sendiri. Jadi aku fikir ya sudahlah biarkan saja. Tapi yang bikin aku tertarik adalah penawaran Cable Internet dari Megavision yang provider-nya katanya diselenggarakan oleh IM2 dari Indosat yang katanya speednya bisa melebihi Speedy yaitu 512kbps dan biaya langganannyapun relatif murah yaitu Rp. 350.000,- / bulan dan unlimited! Berbeda dengan Speedy yang tarifnya memang lebih murah yaitu Rp.200.000,-/bulan ditambah PPn 10% namun dijatah cuma 1 GB quota-nya. Sebenarnya di jaringan TV kabel Fasindo yang aku langganan ini juga udah ada Cable Internet-nya juga yang difasilitasi oleh Melsa Cable Net. Tapi biaya perbulannya mahal banget Rp. 700.000,-/bulan meskipun unlimited. Buat orang-orang seperti saya mungkin kantong bisa jebol!

Ada lagi sebenarnya alternatif yaitu lewat jaringan selular 3.5G-nya Indosat yang katanya kecepatannya bisa diatas 2 Mbps. Meskipun aku sudah punya Motorola V3xx yang mendukung 3.5G, tapi noraknya, menurut para salesman Indosat, lebih bagus pakai modem 3.5G daripada pakai HP 3.5G untuk koneksi internetnya. Nggak tahu deh aku dibohongi apa nggak, namanya juga salesman paling-paling dia mengejar target penjualan modem 3.5G-nya! Kelemahan 3.5G ini sebenarnya adalah saya menyangsikan kekuatan signal-nya apalagi kalau sinyalnya harus menembus bangunan. Soalnya di daerah saya aja sinyal 3G-nya kalau sudah masuk rumah, sinyalnya nggak konsisten, alias nyala-mati terus! Gimana mau menikmati koneksi internet yang stabil?? Kelemahan lainnya juga paket 3.5G ini memakai quota 1 GB, bukannya unlimited!

Bagaimana kalau ADSL? Kalau ADSL (kalau di Bandung masih dimonopoli Telkom Speedy) sebenarnya saya juga udah langganan Speedy, cuma akhir-akhir ini kok jatuhnya selalu di atas 1 GB (gara2 nge-blog terus kali ya!), yang seharusnya bayarnya Rp. 200.000,-/bulan, akhir-akhir ini membengkak di atas Rp. 500.000,-. Lama-lama bisa bangkrut gue. Maklum nggak mampu. Nah, daripada kantong jebol, aku mulai melirik cable Internet Megavision yang unlimited  dan cuma Rp. 350.000,-. Tapi soal speed saya masih sangsi walaupun dikatakan bisa 512 kbps, soalnya di Jakarta saja, teman saya langganan Cable Internet pakai jaringan Kabelvision dan Internet Provider-nya Centrin, kecepatannya bolot banget, tidak sampai 128 kbps setelah diukur pakai online modem speedtest.

Sebenarnya aku juga punya pengalaman pahit dengan Speedy, mangkannya aku juga kalau ada alternatif lain yg lebih baik, aku sebenarnya mau cerai dari Speedy. Dulu waktu saya mulai berlangganan Speedy, sinyalnya, yang juga ditunjukkan oleh lampu di modem ADSL-nya, selalu nyala-mati, nggak konsisten, udah berkali-kali di telepon baru solusinya ketemu kira-kira 3 minggu kemudian! Udah begitu customer service Telkom Speedy kadang-kadang asbun alias asal bunyi, yang kadang-kadang malah bikin kesal!

Ya, sebenarnya memang saya sekarang mulai melirik Cable Internet dari IM2 itu yang ditawarkan Megavision, tapi susahnya berarti aku juga harus ganti TV Cable operator-nya juga dong! Wah, rese juga sepertinya. Berarti aku harus ganti TV Cable operator yg udah aku langgani hampir 4 tahun ini. Ah! Nggak tahu deh! Bingung juga jadinya! 😀

Palindrom!

Tentu anda pernah mendengar kata-kata seperti makam, katak, kodok, ini, ada, dan masih banyak lagi. Di Amerika Serikat ada bintang televisi (yang kurang terkenal di Indonesia) bernama Robert Trebor. Lantas bagi mereka yang di tahun 1970an sudah lahir tentu anda pernah mendengar grup vokal yang sangat terkenal dari Swedia: ABBA. Lantas apa hubungannya mereka itu dengan kata-kata bahasa Indonesia di atas? Hubungannya adalah keseluruhan nama-nama dan kata-kata tersebut adalah sebuah palindrom. Apa itu palindrom? Palindrom adalah kata atau kalimat yang dibaca dari depan atau dari belakang sama! Contoh kata di atas adalah katak. Katak kalau dibaca dari depan atau dari belakang akan tetap terbaca katak! Namun palindrom bukan hanya diterapkan pada sebuah kata saja ia juga dapat diterapkan pada sebuah frasa (phrase, atau kalimat tak lengkap) ataupun pada sebuah kalimat lengkap, tanpa memperdulikan spasinya. Contohnya seperti di atas: Robert Trebor. Jika anda membacanya dari depan atau dari belakang, akan tetap terbaca sebagai Robert Trebor!

Palindrom sendiri berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari Palin (terbalik) dan Dromos (pacuan kuda). Dan palindrom sendiri sudah berusia kira-kira 2000 tahun, menurut Wikipedia Indonesia yang dikutip dari Mother Tongue: English & How It Got That Way.

Palindrom sebenarnya bukan hanya ditujukan pada kata-kata atau kalimat-kalimat saja namun bisa juga ditujukan untuk angka-angka. Kita yang lahir sebelum tahun 1991 dan masih hidup sampai tahun 2002 sangat ‘beruntung’ mengalami dua kali tahun palindrom yaitu tahun 1991 dan tahun 2002. Karena tahun berikutnya yang merupakan tahun palindrom adalah tahun 2112!, 110 tahun setelah tahun 2002. Sedangkan sebelum tahun 1991, tahun palindrom sebelumnya adalah tahun 1881!, 110 tahun sebelum tahun 1991. Rupa-rupanya tahun palindrom ini hanya datang 110 tahun sekali kecuali di penghujung millennium di mana ia datang hanya 11 tahun setelah tahun terakhir palindrom di millennium tersebut.

Kita kembali ke kata dan kalimat palindrom. Untuk kalimat-kalimat palindrom, sayang dalam bahasa Indonesia, contoh-contoh dan dokumentasi-dokumentasi palindrom masih sangat kurang. Memang untuk menciptakan kalimat-kalimat palindrom membutuhkan kreativitas yang luar biasa. Namun beberapa dapat saya temukan, seperti yang saya temukan di Wikipedia Indonesia ini:

“Aku suka rajawali bapak, apabila wajar, aku suka” (oleh: Benjamin Godspeed Zimmer)

“Kasur ini rusak”

“Kasur Nababan rusak”

Coba baca kalimat-kalimat tersebut dari depan atau dari belakang, akan terbaca sama! Nah, sekarang apakah anda dapat menciptakan sebuah kalimat Palindrom? Saya yakin, pasti sangat susah sekali. Palindrom berbahasa Indonesia yang di atas saja (yang paling atas) diciptakan oleh seorang bule.

Namun dalam bahasa-bahasa asing (terutama bahasa-bahasa barat), palindrom yang berupa kalimat-kalimat sudah banyak terdokumentasi. Inilah beberapa di antaranya yang saya kutip dari berbagai situs:

Ah! Satan sees Natasha! (Ah, setan melihat Natasha!)

Damn! I, Agassi, miss again! Mad! (Sial! Saya, Agassi (=Andre Agassi, mantan pemain tennis AS), gagal lagi! Marah deh!)

I prefer Pi (Saya lebih suka huruf (Yunani) Pi (π))

Rise to vote, sir! (Berdiri untuk memberikan suara, tuan!)

Name now one man! (Sebut sekarang satu orang!)

Never a foot too far, even. (Bahkan jangan pernah melangkah satu kaki kejauhan)

Nina Ricci ran in (Nina Ricci bergegas masuk)

Was it a car or a cat I saw? (Mobil atau kucing yang tadi saya lihat?)

We’ll let mom tell Lew (Kami akan membiarkan ibu memberitahu Lew)

Do geese see God? (Apakah angsa-angsa melihat Tuhan?)

Murder for a jar of red rum (membunuh demi setoples anggur merah)

Was it Eliot’s toilet I saw? (apakah itu toiletnya si Eliot yang tadi aku lihat?)

Lisa Bonet ate no basil (dulu Lisa Bonet (bintang TV dalam serial Cosby Show) tidak makan basil (rempah2 semacam oregano))

Dennis sinned (Dennis telah berbuat dosa)

atau coba palindrom dalam bahasa Perancis di bawah ini:

À l’étape, épate-la ! (Ke panggung, sungguh mengejutkan!)

La mère Gide digère mal. (Ibu Gide, susah mencerna)

Ce repère, Perec! (Tanda ini, Perec!=(nama orang))

Esope reste ici et se repose (Si Esope beristirahat dan berbaring di sini)

Elu par cette crapule (Dimangsa oleh penjahat ini)

Atau ada juga yang berbahasa Belanda berikut ini:

“Mooie zeden in Ede” zei oom. (Dosa-dosa yang indah di Ede, kata paman)

Ok, sekarang kalau mau tahu kalimat palindrom terpanjang di dunia, silahkan klik di sini.
Tak terbayangkan berapa lamanya dan alangkah keatifnya orang yg membuat palindrom terpanjang tersebut!.

No Title

FOR A LONG TIME I HAVE BEEN REALIZED THAT I WOULD NOT BE A  GOOD FAMILY MAN

FOR A LONG TIME I HAVE BEEN REALIZED THAT I WOULD NOT BE A GOOD FATHER OF MY CHILDREN

THEN IN THE EMPTINESS OF MY HEART….

IN MY ENCLOSED SPACE….

AND IN THE VASTNESS OF THIS CYBERSPACE…… 

MY HEART IS WIDELY OPEN!

Hasil Terjemahan Komputer vs Hasil Terjemahan Manusia

Anda tentu pernah mendengar translator software atau perangkat lunak penterjemah bukan? Kalau tidak pernah, anda dapat dengan mudah mendapatkan bajakannya di toko-toko software komputer ataupun mungkin di dekat-dekat kampus anda (bagi mereka yang masih kuliah: di Indonesia, catat: di Indonesia!) ada yang menjual CD bajakan di pinggir-pinggir jalan, nah pasti ada deh satu atau dua perangkat lunak penterjemah yang dijual. Namun kalau anda serius ingin menterjemahkan suatu dokumen dari satu bahasa ke satu bahasa lainnya, jangan keburu senang dulu dengan hasil terjemahan perangkat lunak ini. Coba ambil contoh di bawah ini, sebuah cuplikan paragraf dari salah satu website berbahasa Spanyol (udah lupa nama site-nya):

‘Tenía doce años, y por primera vez comprendí que me quedaría allí para siempre. Mi madre murió cuatro años atrás y Mauricia – la vieja aya que me cuidaba – estaba impedida por una enfermedad. Mí abuela se hacía cargo definitivamente de mí, estaba visto.”

Kenapa saya ambil bahasa Spanyol? Pertama: Karena yang ada di ide saya kebetulan yang terlintas waktu itu adalah bahasa Spanyol. Kedua: Saya nggak punya perangkat lunak penterjemah Inggris-Indonesia atau sebaliknya karena (bukannya sombong) hehehe… memang saya tidak pernah butuh perangkat lunak penterjemah Inggris-Indonesia, jadi saya tidak bisa membandingkan antara hasil terjemahan manusia dan hasil terjemahan komputer. Ketiga: ada satu hal khusus yang akan saya jelaskan kemudian.

Nah, sekarang coba anda lihat hasil terjemahan komputer di bawah ini:

He/she was twelve years old, and for the first time I understood that I would stay there forever. My mother died behind four years and Mauricia – the old governess that I took care – I/you/he/she was impeded by an illness. Me grandmother charge was taken definitively of me, it was seen.

Saya menggunakan L&H Power Translator bajakan dan bagaimana hasil terjemahannya di atas? Lumayan mengerti atau lumayan membingungkan? Nah, kalau belum puas ini ada lagi hasil terjemahan lewat perangkat lunak penterjemah online di sini. Ini juga untuk membuktikan apakah hanya perangkat lunak penterjemah yang aku beli saja yang payah, atau memang secara umum perangkat lunak penterjemahnya yang payah. Nah, ini dia hasil penterjemahan otomatis online-nya:

It was twelve years old, and I included/understood for the first time that I would have left there for always. My mother died four years back and Mauricia – old aya that took care of to me – was prevented by a disease. Me grandmother was definitively made position of me, was seen.

Bagaimana?? lebih parah lagi ya? (Yang nggak mengerti bahasa Inggris sebaiknya tidak usah membaca postingan ini hehehe…) Berarti kecacadan bukan hanya milik perangkat lunak penterjemah saya aja kan? Nah, untung ada teman chatting saya señor Juan Pablo Jiménez, orang Meksiko yang sudah lama tinggal di Irvine, California, AS. Dengan bantuannya saya bisa mendapatkan terjemahannya yang enak seperti ini:

I was twelve years old, and for the first time I realized that I would be staying there forever. My mother had died four years earlier and Mauricia, the old nanny who had looked after me, was now an invalid. My grandmother was going to take charge of me forever, that was clear.

Bagaimana? Jauh bukan hasil terjemahan señor Jiménez ini dengan dua terjemahan hasil komputer di atas? Tentu saja! Itu karena komputer seringkali mengalami kesulitan jika harus menterjemahkan sebuah frasa (phrase), yaitu gabungan dari beberapa kata yang membentuk sebuah arti tersendiri dan tidak bisa diterjemahkan kata per kata. Nah, si komputer ini seringkali gagal dalam menganalisa kasus seperti ini yang pada akhirnya (dengan dicampur logika algoritma tata bahasa yang ia miliki) komputer akan menterjemahkan kata demi kata. Dan dalam kasus di atas kita melihat komputer menterjemahkan sebagai: “He/she was twelve years old, ” karena dalam kasus seperti dalam Bahasa Spanyol ini (juga di dalam bahasa Portugis, Italia dan beberapa bahasa lainnya), subyek dalam sebuah kalimat jarang disebut. Sebagai gantinya pelaku subyek diganti dengan konjugasi kata kerja. Contoh:

hablar = to speak

Yo hablo = I speak

Tú hablas = You speak

él habla = he speaks,

ella habla = she speaks, dsb.

Dalam bahasa Spanyol subyek Yo (I), Tú (You), El (He), Ella (She), dsb jarang dipergunakan sehingga menjadi

hablo = I speak

hablas = You speak

habla = he/she speaks

Kasus seperti ini juga yang menyebabkan komputer menjadi sedikit bingung. Sangking bingungnya hasil terjemahan software yang di atas diterjemahkan sebagai he/she. Sedangkan terjemahan online, mencari amannya dengan menggantinya dengan (impersonal) ‘it‘. Luar biasa! Itulah yang saya maksud sebagai hal khusus dalam point ketiga seperti yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Kelemahan lain dari perangkat lunak penterjemah ini adalah jikalau dihadapkan pada kasus homograph yaitu satu kata yang mempunyai arti banyak. Contoh misalnya kata dalam bahasa Inggris: band. Nah band ini bisa berarti  strip, ikat pinggang ataupun grup musik band. Ini juga cukup menyulitkan bagi sebuah perangkat lunak penterjemah dalam menentukan pilihan kata yang tepat. Nah kini tentu sekarang anda mengetahui kelemahan-kelemahan dari perangkat lunak penterjemah, jadi kalau anda menterjemahkan sebuah dokumen atau apapun dengan menggunakan perangkat lunak penterjemah, jangan keburu pamer dulu! Karena pasti hasilnya jadi ‘lucu bin ajaib’! Rupa-rupanya algoritma penterjemahan suatu bahasa ternyata lebih sulit dari rumus-rumus matematika untuk sebuah komputer, ya?. Namun mudah-mudahan kita berharap dengan AI yang semakin canggih, kita berharap bahwa perangkat lunak penterjemah menjadi semakin baik!

‘Paijo’ di negeri gingseng

Ini adalah cerita sesungguhnya yang saya lihat dari Arirang TV, stasiun televisi dari Republik Korea yang berbahasa Inggris, yang saya lihat dari jaringan TV kabel beberapa bulan silam. Di situ diceritakan seorang pria asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sebut saja ‘Paijo’ (karena saya sudah lupa siapa nama persisnya, lagipula saya melihatnya agak terlambat, tidak dari mula) yang bekerja sebagai pekerja/buruh di satu pabrik otomotif di Republik Korea. Di kampungnya, sebelum Paijo bekerja di Korea, Paijo bekerja sebagai petani dan guru ngaji. Pendapatannya dari bertani dan mengajar mengaji sangat minim, sehingga dirasakannya sangat sulit bagi Paijo untuk menghidupi istri dan seorang anaknya dengan layak. Namun Paijo tidak patah semangat, ia mencari seribu cara untuk memperbaiki nasib keluarganya, untuk menghidupi keluarganya dengan layak, dan yang paling penting adalah untuk sekolah anaknya kelak, agar ia nanti tidak senasib dengan dirinya.

Karena kegigihan dan keinginannya yang kuat untuk memperbaiki nasib dan mungkin juga sedikit keberuntungan, lewat informasi temannya yang sudah lebih dulu bekerja di Korea bahwa perusahaan di tempatnya bekerja memerlukan sejumlah buruh baru, Paijo akhirnya berangkat dan bekerja di Korea. Namun itu semuanya dilakukan bukan tanpa pengorbanan. Paijo harus rela meninggalkan istri dan anaknya dan selama bekerja di Korea, Paijo hanya diizinkan pulang kampung menjenguk keluarganya selama seminggu. Alternatif lain adalah tentu memborong keluarga ke Korea, namun tentu saja itu merupakan sesuatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang sekelas Paijo karena menyewa apartemenpun di Korea bukan hal yang murah bagi orang-orang sekelas Paijo.

Cerita di Arirang TV bergulir pada saat-saat bahagia Paijo ketika ia mendapatkan cuti seminggu, waktu saat ia bersenang-senang dan bersantai bersama anak dan istrinya. Setelah bekerja beberapa lama di Korea, kini Paijo bisa mendirikan rumah sendiri yang layak untuk keluarga dan anaknya. Perabotan modern mulai dari TV 29″, DVD Player, Kulkas dua pintu, kompor gas, microwave dan juga sepeda motor untuk istri tercinta melengkapi isi rumahnya yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya di Korea. Di kampungnya ia banyak bercerita mengenai Korea kepada teman-temannya. Di sana ia menceritakan mengenai keramahan orang-orang Korea, dan juga keramahan orang-orang yang bekerja di pabriknya baik itu yang sesama buruh orang Indonesia, ataupun para supervisor-nya yang berkebangsaan Korea. Mereka semuanya sudah dianggap sebagai ‘keluarga’  besar mereka di Korea. Iapun mengatakan bahwa kendala bahasa sebaiknya jangan membuat kita takut, terutama takut dalam berkomunikasi. Ketika berangkatpun Paijo sangat minim berbahasa Inggris, namun toh keinginannya yang kuat untuk berkomunikasi (supervisor Korea-nya juga sebenarnya tidak pandai berbahasa Inggris juga) berhasil mengalahkan rintangan keterbatasan pengetahuan grammar dan vocabulary words dalam diri Paijo. Paijo juga mengatakan tanpa malu-malu bahwa kini Korea adalah tanah impiannya, tanah impian yang tidak pernah ia dapat di tanah kelahirannya sendiri.

Mendengar kisah Paijo di atas, saya menjadi malu. Tanah air kita yang katanya subur dan kaya akan sumber daya alam, ternyata tidak bisa mensejahterakan banyak rakyatnya. Bahkan ribuan orang seperti Paijo ini, harus memenuhi impiannya di negeri yang sangat miskin sumber daya alamnya, namun penduduknya sangat makmur akibat ‘kaya’-nya sumberdaya manusianya. Bahkan negeri kecil yang miskin sumberdaya alam ini bukan hanya berhasil mensejahterakan rakyatnya ia juga berhasil mensejaterakan ratusan ribu rakyat dari negeri lain yang lebih besar dan kaya dengan sumber daya alam seperti Paijo ini. Sungguh sebuah ironi!

Latihan LaTeX

Pertama kali aku melihat ‘LaTeX’ di weblog-nya mathematicse. Lalu kini muncul juga di weblog-nya deking. Nah posting kali ini saya dedikasikan untuk latihan LaTeX membuat ekspresi matematika habis-habisan. Jadi maklum saja kalau posting kali ini nggak karuan (aduh bahasa Indonesianya!), dan tak bermakna. Namun mudah2an saya mendapatkan sesuatu yg baru dari LaTeX ini:

\frac{8}{3}

\sqrt{8-a}

(\sqrt{96-y})^{3x}

\sqrt{96-y^{2}}

2\frac{2}{3}

(2\frac{1}{2})^{2}

x^{\frac{2}{3}} = \sqrt[3]{x^{2}}

(x+y)^{\frac{2}{3}} = \sqrt[3]{(x+y)^{2}}

\frac{a}{(b+c)^{2}}= a {(b+c)}^{-2}

{log}_{2}\-8= 3

Ah, udah ah segini dulu! Ternyata lumayan susah juga ya buat otak yang udah karatan seperti saya! 😀

Terima kasih deh buat mathematicse dan deking yg secara tidak langsung telah mengajarkan saya \LaTeX . Sudah mulai lancar nih \LaTeX nya!

Spektrum Pemikiranku Yari NK