Sesudah tiga hari jari2ku tak berselera untuk menjalankan tugasnya menari2 di atas keyboard, kini alhamdulillah jari2ku ada semangat lagi walaupun belum pulih semangatnya 100%. Ya, tema yang dipilihpun sederhana saja, tidak yang berat2, yang berawal dari “kegelianku” mendengar iklan di radio tentang operator selular Indosat yang menawarkan tarif “termurah” ke semua operator yaitu Rp 0,01 per detik beberapa hari yang lalu. Mungkin sudah banyak juga para blogger yang menyampaikan berita ini dengan analisis dan komentarnya masing2, namun saya juga ingin mengupasnya dari sudut pandang yang lain dengan memakai analisa matematis yang sangat sangat sangat sederhana.
Bermula dari Simpati yang menawarkan “Tarif murah” Rp 0,5 per detik, dan dibalas kemudian oleh XL dengan Rp. 0,1 per detik kini operator selular Indosat dengan IM3nya dengan Rp 0,01! Wah semakin murah saja!! Apakah ada kemungkinan nanti operator selular menawarkan “gratis” alias Rp. 0,- per detik?? Jawabannya: Sangat Mungkin!! Kenapa tidak?? Apakah para operator selular itu tidak merugi?? Jelas tidak!! Karena kuncinya ada pada “tarif tersembunyi” yang tidak pernah digembar-gemborkan oleh para operator selular. Ya, “tarif tersembunyi” inilah yang membuat tarif2 ekstra murah, menjadi sebenarnya tidak begitu murah!!
Ok, taruhlah misalnya: XL Bebas dengan “tarif murahnya” Rp. 0,1/detik. Kita ambil contoh dari XL kita menelepon ke operator lain. Sebenarnya tarif ini mulai berlaku mulai menit ke-2, sedangkan untuk 2 menit pertama dikenakan tarif Rp. 25,-/detik. Begitulah setiap dua menit tarif yang berlaku bergantian antara Rp 0,1/detik dan Rp. 25,-/detik. Nah, Rp. 25,- inilah yang kita sebut “tarif tersembunyi” yang tidak pernah digembargemborkan oleh para operator. Dan setiap operator yang menawarkan “tarif super murah” jelas pasti mempunyai “tarif tersembunyi” pula.
Nah, sekarang ambil contoh kita menelepon 10 menit ke operator lain dari XL ke operator lain, maka biaya percakapannya adalah:
Ok, sekarang misalkan XL menawarkan tarif “gratis” alias Rp. 0,-/detik sebagai jawaban dari IM3-nya Indosat yang kini mengklaim mempunyai tarif termurah dengan Rp. 0,01/detik. Maka sekarang berapa biaya percakapan yang dikeluarkan selama 10 menit untuk menelepon ke operator lain??
Ingat!! Tarif tersembunyi tetap ada dan tidak berubah. Maka kita melihat bahwa XL akan hanya kehilangan pendapatan Rp. 24,- saja untuk satu kali telepon selama 10 menit! Nah, itu tentu untuk sekali menelepon. Nah bagaimana kalau ada sejuta panggilan?? Berarti XL kehilangan . Wah, tentu kehilangan pendapatan XL mulai kelihatan banyak ya?? Tapi tunggu dulu!! Masih bisa diakalin kok! Kita naikkan saja sedikit “tarif tersembunyi”nya! Kita naikkan jadi Rp 25,5 per detik. Toh, tarif ini tidak pernah digembargemborkan, andaikata ketahuan juga kenaikan ini secara psikologis kecil cuma Rp 0,5/detik, apalagi yang nggak tahu matematika, gampang dibohongin!! Tenang saja!! Ok sekarang berapa biaya percakapan XL dengan tarif “gratis” dan “tarif tersembunyi” sebesar Rp25,5/detik selama 10 menit ke operator lain?? Mari kita hitung:
Nah, dengan tarif “gratis” tapi tarif “tersembunyi”nya dinaikkan “sedikit” justru XL menikmati kenaikan pendapatan sebesar Rp. 156,- per panggilan (Rp. 9180 – Rp. 9024,-) selama 10 menit dari tarif yang sekarang (andaikan XL memainkan skenario ini!). Tentu skenario seperti ini tidak hanya bisa dilakukan oleh XL saja, namun bisa juga oleh operator2 selular lainnya. XL di sini hanya sebagai contoh saja.
Skenario lainnya adalah, misalkan operator selular justru kini menerapkan tarif negatif atau “malah ngasih duit” kepada pelanggan namun tarif tersembunyinya juga dinaikkan “hanya” Rp 1,- saja menjadi Rp 26,- per detik. Sementara tarif “ngasih duit”nya adalah Rp 0,1 per detik. Jadi pendek kata kalau kita menelepon pulsa kita “justru bertambah” sebesar Rp. 0,1/detik. Jadi berapa sekarang “biaya” percakapan selama 10 menitnya?? Dengan contoh seperti di atas maka kini biaya percakapannya menjadi:
!
Wow, berarti justru pendapatan operator selular (XL) per panggilan 10 menit, naik sebesar Rp. 312,- jikalau operator selular menerapakan skenario seperti ini!! Ruar biasa!!
Jadi kesimpulannya, jikalau kini operator selular menerapkan tarif termurah, tidak perlu heboh!! Tidak ada yang ‘benar2 murah’ kok selama ada ‘tarif tersembunyi’-nya. Rupa-rupanya persaingan yang sengit antara operator selular di negeri ini membuat para eksekutif di perusahaan2 operator selular ini menjadi sangat tidak kreatif dalam usaha merebut pelanggan. Setiap operator membeo langkah operator selular lainnya. Mudah2an para pelanggan tidak mudah terjebak oleh iming-iming palsu tarif termurah yang “gombal” itu!








Petromaaaaaaaaaaaaaaaaaaaax.. eh pertamax…
Komentar oleh mathematicse — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 6:29 am |
Hahahahaha… ternyata para penyedia jasa seluler itu ‘pinter” keblinger juga ya membodohi masyarakat.
Tapi sayang, banyak masyarakat yang tidak tahu nih Pak!
Ternyata, hanya dengan perhitungan matematika sederhana, kebohongan mereka bisa terungkap (kalau tahu rahsianya…
)
Komentar oleh mathematicse — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 6:38 am |
wew, ga nyangka yah ternyata ada tarif tersembunyinya. secara slama ney cuma bisa make doang, ga pernah menyelidiki.
Komentar oleh pink — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 7:07 am |
Yaaah…mas Yari katanya jari2nya lesu tapinya masih juga mainan Latex gimana sih?
Kalo saya sih sbg konsumen pasrah aja habis mau gimana lg? Yg penting kalo lagi paceklik ada yg bisa diporotin, hihihi…
**mengambil langkah 1000
Komentar oleh AgusBin — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 10:41 am |
Salut dah ama analisisnya.
Salam kenal.
Komentar oleh achoey — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 10:46 am |
Bener banget pak. tarif operator sekarang masih sangat mahal, apalagi bagi saya yang masih berstatus mahasiswa.
Bagaimana kalau kita patungan untuk bikin operator selular baru yang tarifnya sangat murah?
Becanda
Komentar oleh Hair — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 12:45 pm |
Ya begitulah … memang kita banyak punya orang pintar, termasuk yang menggunakan kepintarannya di atas kebodohan yang lain. Semakin banyak otak dipegunakan untuk membodohi semakin asyik kali ya (bagi mereka). Luar binasa.
Komentar oleh Ersis W. Abbas — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 5:18 pm |
Wah, saya baru tahu.. sebetulnya kalau begitu selama ini masyarakat dibohongi. Harusnya ada undang-undang periklanan untuk hal seperti ini!
Komentar oleh Spitodsaurus Rex — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 5:59 pm |
itu cuma gimmic dalam promosi saja.. toh sebenernya mereka itu sudah terjerumus dalam perang tarif, jadinya gak ada yg mo ngalah.. saling jatuh menjatuhkan..
Komentar oleh ridu — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 6:15 pm |
wah.. saya sudah terjurus ke jurang terdalamnya
Komentar oleh peyek — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 7:50 pm |
Kalo inget jaman kelas 1 SMU dulu, dimana HP ukurannya masih sebesar batu bata dan cuma mampu dimiliki satu teman dan satu guru (dari sekian banyak), maka bisa punya HP (dan pulsanya yg sangat terjangkau) sekarang ini benar2 tak terbayangkan…

Iya gak, bang?
Maksudku, bang; walopun perang “tarif murah” antar operator ini lumayan menyesatkan, tapi memang murah kok. Stidaknya dibanding tahun sebelum2nya (apalagi ke sesama operator). Memang sih, masih tetap cukup mahal bagi sebagian orang (& konon bisa lebih murah lg kalo tak ada faktor ‘temasek’. Konon lho…)
Tapi sy pikir, informasi & transparansi jujur tentang tarif percakapan (& SMS) via HP memang masih agak sulit diakses oleh semua pemake HP…
BTW, kita pake kartu ‘ini’ tuk nelpon ke kartu ‘itu’ bukan karena terjebak iming2 palsu, tapi karena memang perlu tuk nelpon. Murah atau mahal yg penting bisa ngomong
Komentar oleh jensen99 — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 8:10 pm |
Ternyata ya mas, ada udang di balik batu , hiks sedih
Komentar oleh Landy — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 9:04 pm |
Menarik juga ulasannya.
Tapi bukan masalah besar kecilnya tarif tersembunyi, tapi impas-tidaknya biaya komunikasi yg ditanggung operator. Terutama biaya untuk interkoneksi yg kadang sarat dengan faktor politis.
Salam.
Komentar oleh Emanuel Setio Dewo — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 10:39 pm |
[...] 23, 2008 Menarik sekali membaca artikel “Gratis Ke Semua Operator!! Kenapa Tidak??” Di sana diulas tentang adanya tarif tersembunyi sehingga walau pun para operator mempromosikan [...]
Ping balik oleh Berkomunikasi Gratis « Emanuel Setio Dewo — Sabtu, 23 Februari 2008 @ 11:03 pm |
@mathematicse
Hahaha… iya… jadi ketahuan belangnya ya?
@Pink
Iya… saya dulu juga begitu mbak, tapi setelah mendengar tarif termurah “yang nggak masuk akal”, saya jadi penasaran apa betul nggak ya ni?? Apa betul perusahaan ngga rugi dengan tarif murah begitu…. eeee nggak tahunya….
@AgusBin
Diporotin itu apa sih Bin?
Emang siapa yang 
dipelorotin“diporotin” Bin?**ambil langkah 10.000 buat ngejar abin**
@achoey
Terima kasih mas…. salam kenal juga.
@Hair
Huahaha…. patungan?? Wah… patungan berapa banyak orang tuh buat bikin operator sendiri?? Lha, nanti yang ngurus biaya operasionalnya siapa??
@Ersis W. Abbas
Yah…. mudah2an kita tidak binasa hanya karena dibodohi mereka saja!
@Spitodsaurus Rex
Kayaknya kode etik periklanan saja nggak cukup ya kang??
@Ridu
Iya… tapi mudah2an para operator tersebut tidak jatuh semuanya walaupun berusaha saling menjatuhkan, sebab jika para operator tersebut jatuh semua, lantas kita nelepon pakai apa dong?
@peyek
Iya mas…. mau nggak mau, saya juga udah terjerumus, tetapi yang penting minimal kita tahu, bahwa tarif “termurah” itu tidak benar2 murah!
@jensen99
Iya betul sekali…. apalagi dulu zamannya baru keluar GSM, masih ingat, sudah teleponnya besarnya bisa buat ganjel ban mobil, handset-nya mahal, tarifnya juga mahal, eh sinyalnya juga GSM alias “Geser Sedikit Mati”, belum lagi SMS cuma bisa sesama operator saja! Wah…. pokoknya garing banget deh!
@Landy
Kalau udang di balik bakwan sih lebih enak sedikit ya! Hehehe….
@Emanuel Setyo Dewo
Iya betul mas Dewo…. justru itu saya mengimplikasikan bahwa “tarif murah” tersebut pada dasarnya juga tetap berbasis pada biaya komunikasi, biaya interkoneksi yang seperti Mas Dewo sebut dan juga biaya2 operasional lainnya dan tidak bertumpu pada “keberpihakan” pada konsumen, walaupun tarif sekarang, walau dengan tarif tersembunyinya, sudah jauh lebih murah daripada tarif komunikasi henpon di tahun 1990an.
Komentar oleh Yari NK — Minggu, 24 Februari 2008 @ 7:51 am |
wa… masalah perang harga sudah sangat diperhitungkan…
ini untuk membunuh “Operator2″ yang baru berdatangan..
dan yg baru menumbuhkan BTS-BTS nya…
Untuk tarif…sangat dipengaruhi perjanjian interkoneksi antar operator yang nilainya dah turun..
Tapi semakin banyak pelanggan (otomatis menaikan trafficnya) ko’ ga ada perbaikan atau penambahan layanan untuk teknisnya… yg ada…
& Handoffernya Jelek
Komentar oleh LAtv — Minggu, 24 Februari 2008 @ 7:53 am |
mahal untung.. makin murah makin untung
nyang rugi sapa yah
Komentar oleh almascatie — Minggu, 24 Februari 2008 @ 10:22 am |
wew… ternyata ada “tarif terseumbunyi” ya bung yari. walah, kalo begitu konsumen selama ini dah dibohongin, yak! namanya aja dunia industri tekno. pasti ndak ada yang bener2 mau buntung? hiks, boro2 mbantu meringankan beban konsumen. *halah* eit ada *halah-nya* tuh, hehehehe
untung ada bung Yari yang dah menghitung demikian rinci tentang model tipu2 itu.
bener sekali, bung. kalau ndak diposting, walah, blas ndak mudheng sama sekaleee. yup, makasih banget bung yari, setidaknya mengingatkan pembaca, termasuk saya, utk tidak cepat2 terkejut dan tergiur oleh gembar-gembar para operator seluler itu.
Komentar oleh Sawali Tuhusetya — Minggu, 24 Februari 2008 @ 12:23 pm |
Sekalinya datang, postingan nya mantep gini, dan juga theme nya baru, smoga keep spirit ngeblog, soale blog pak yari ini ngga sia sia di baca, banyak pelajaranya…
Aku sih selama ini menggunakan metoda “fixed use” waktu di indonesia, jadi misalnya dalam 1 bulan aku berkomitmen menggunakan pulsa sebesar 2 rebu.
Jadi yah, mau si XL/TELKOMSEL/SATELINDO mau make tarif semurah apapun juga ngga bakalan ngaruh, karena paling matematikanya 200 rebu itu “seharusnya akan habis dalam waktu yang lebih lama” ya kan….
Jadi kalo 200 rebu dah abis dalam waktu seperti biasa, BERARTI Belom ada perubahan dari Operator ituh..
Jadi ngga pusing mikir nya pak Yari
Komentar oleh Raffaell — Minggu, 24 Februari 2008 @ 1:07 pm |
[...] begitu saja. Jari-jari pun terus *halah* “bertango-ria” –meminjam istilah Bung Yari– di atas keyboard laptop. Tiba di rumah hanya tinggal menyunting bagian-bagian yang saya [...]
Ping balik oleh Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen | Catatan Sawali Tuhusetya — Minggu, 24 Februari 2008 @ 4:56 pm |
Ane yakin, operator telefon itu jenis kelaminnya cowok semua… soal-na jago ngegombal
*dikejar bayudh*
Komentar oleh Cabe Rawit — Minggu, 24 Februari 2008 @ 6:05 pm |
aduh..
ane nggak vunya hp…
hihihihi…
jadinggak ribet mikirin beginian…
salam kenal pak…
Komentar oleh Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ — Minggu, 24 Februari 2008 @ 7:42 pm |
Kang .. kalo seperti itu, bisa ga ya melakukan class action ato diam aja alias ga menggunakan operator apapun. Kalo pun terdesak, ya pake telp rumah aja?
Komentar oleh erander — Minggu, 24 Februari 2008 @ 9:40 pm |
Gwe lagi nyari tarip GPRS termurah. Hayyah… Koment gak nyambung.
Komentar oleh fisha17 — Minggu, 24 Februari 2008 @ 11:32 pm |
@LAtv
Memang betul di kancah persaingan sengit operator selular perang tarif kegunaannya adalah untuk “membunuh operator yang baru tumbuh”. Namun sepertinya operator baru “sulit dibunuh” karena pertama pasar Indonesia masih terbuka luas, alias penetrasi ponsel masih rendah dan banyak pasar potensial yang belum terjamah dan kedua operator2 baru secara finansial didukung oleh pemodal2 asing yang sebenarnya secara global jauh lebih kuat dari pemain2 lama operator ponsel di tanah air. Paling2 perang tarif akan menghambat laju pertumbuhan operator2 baru tetapi mungkin tidak akan sampai mematikannya.
@almascatie
Yang rugi….. ya yang beli henpon baru tapi baru sehari beli udah rusak tuh! **apa hubungannya??** hehehe….
@Sawali Tuhusetya
Yah…. saya sih hanya penasaran aja Pak Sawali, mula2nya heran apa benar para operator selular itu bisa survive dengan tarif semurah itu?? Setelah diteliti, eh ternyata ada “tarif tersembunyi”nya! Hehehe….
@Raffaell
Iya… benar juga ya…. tapi masalahnya terkadang pemakaian saya juga sering naik turun dan tidak konstan banget. Pada bulan2 tertentu saya banyak menelepon SLI, jadi kalau lebih cepat habis, ya agak wajarlah. Jadinya kalau pemakaiannya sangat berfluktuasi seperti itu agak susah juga sepertinya menentukan “perubahan dari operator” dengan metode fixed itu. Terims ya, mas Raffaell.
@Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ
Oooo…. nggak punya hp ya? Tetapi tetep aja pusing loh karena memikirkan bagaimana caranya agar bisa membeli hp, ya kan?? Hehehehe….. becanda deh!
Btw, salam kenal juga dan terims ya sudah mampir dan main2 di blogku?
@erander
Mau class action gimana mas?? Wong kalau dipikir2 mereka cuma melanggar kode etik aja nggak melanggar hukum apa2 kok! Mereka juga sudah mencantumkan perkataan “syarat dan ketentuan berlaku” di setiap iklannya, jadi kalau dipikir2 ya mereka nggak melanggar apa2. Konsumen yang harus cerdas dan tidak mudah dibohongi.
Lah, zaman sekarang kok ngga punya hape ya sulit dong ya, sama juga kita nggak pakai Internet, nggak pakai mobil, nggak nonton tv, dan lain-lain. Yang penting kita waspada saja dan tidak mudah untuk dibohongi dan tidak perlu untuk memaksakan diri untuk tidak menggunakan ini atau tidak menggunakan itu, dsb.
@fisha17
Hehehe… biarin deh nggak nyambung yg penting komen!
Komentar oleh Yari NK — Senin, 25 Februari 2008 @ 7:25 am |
Mereka kan sudah mengatur tarif…
Komentar oleh isnuansa — Senin, 25 Februari 2008 @ 4:15 pm |
Prinsipnya, penjual mau jualan jika untung….jadi kalau ada tarif Rp.0,- pasti ada tarif lain yang tak terlihat atau tersembunyi tadi. Karena jika tak untung, penjual tak mungkin bisa menutup biaya operasionalnya, dan akan bangkrut.
Komentar oleh edratna — Senin, 25 Februari 2008 @ 6:22 pm |
wah itung2an semua ya mas
tapi kan saya ndak lulus sd
Komentar oleh hanggadamai — Senin, 25 Februari 2008 @ 6:24 pm |
Aslkm….o..berarti ini informasi terbaru neh…..thanks mas.
oiya salam kenal mas dari sy.
Komentar oleh olangbiaca — Senin, 25 Februari 2008 @ 9:46 pm |
Yah emang ndak ada pebisnis yang ga mau rugi Pak…
Tapi saya bener2 yakin ko kalu tarif GPRS IM3 emang paling murah…
Lha ini saya blogwalking juga pake hape kartunya IM3…
Komentar oleh maxbreaker — Selasa, 26 Februari 2008 @ 4:42 am |
Ada gak operator penyedia jasa telepati? siapa tahu lebih murah pulsanya dan lebih irit karena jelas-jelas gak perlu handset..
Thanks infonya Bos.
Komentar oleh agoyyoga — Selasa, 26 Februari 2008 @ 6:07 am |
@isnuansa
Oooo… begitu ya? Ok nanti saya berkunjung dan memberi komen juga di artikel mbak nuansa tersebut. Terims ya.
@edratna
Iya bu, betul sekali prinsip dasar seperti itulah yang paling logis, tentu tiap pedagang atau usaha tidak akan menjurus kepada kerugian yang dapat menyebabkan tutupnya usaha tersebut.
@hanggadamai
Nggak apa2 kok mas hangga, saya malah nggak lulus TK kok!
@olangbiaca
Terims juga ya telah mampir di blogku dan salam kenal juga.
@maxbreaker
Iya sih… kalau IM3 mungkin GPRS-nya murah, walaupun itu mungkin relatif juga, tapi yang saya maksudkan di artikel ini adalah “telepon ke semua operator”, tapi bagaimanapun juga terims ya atas info tambahannya.
@agoyyoga
Kayanya sih ada aja kalo dicari, cuma ya itu nggak bisa ngomong yg agak rahasia2 dikit, nanti “bocor” ke mana2 dong!
Komentar oleh Yari NK — Selasa, 26 Februari 2008 @ 6:29 am |
Tarif siluman. pake fren murah tidak repot. wakakakakakak sinyalnya aja yg repot mesti pake antena kaya TV amit2
Komentar oleh cocoan — Selasa, 26 Februari 2008 @ 8:17 am |
Persaingan yang semakin banyak tipuan,
No. perdana semakin panjaaang,
Pake fren drop terus yang ujung-ujungnya jadi mahal juga…
Sedih hatiku …
(Yang paling murah ya sesama telepon rumah .. hihihi..)
Komentar oleh Singo — Selasa, 26 Februari 2008 @ 9:01 am |
tarif murah sekarang,1 atau 2 menit bicara emang tetep agak mahal, tp kalau buat ngrumpi sih untung juga, lumayan murah, tul ga…
Komentar oleh ame baesur — Selasa, 26 Februari 2008 @ 9:37 pm |
hore..bsa telp murah niy!
Mampir aja ke blog saya kalo mo liat akibat nyata perang tarif operator bwt anak kost..
http://sibermedik.wordpress.com
Komentar oleh sibermedik — Rabu, 27 Februari 2008 @ 12:27 am |
@cocoan
Wah… masih untung antenanya sebesar antena TV bukan sebesar antena parabola hehehe….
@Singo
Iya ya…. yang nawarin murah sering ngedrop, apalagi ada yang nawarin murah Rp. 1000,- untuk telepon satu jam atau sekarang nih ada yang Rp. 657,- untuk telepon satu jam juga, tapi belum satu jam koneksi putus! Wah jadi nggak jadi tuh tarif murahnya! Lagian siapa sih yang betah ngobrol satu jam? Orang yang super kangen banget dan nggak ada kerjaan aja kali….
@ame baesur
Murahan ngerumpi pake hp atau ngerumpi di mal nih ya jadinya?
@sibermedik
Ok siber, saya akan meluncur ke sana!
Komentar oleh Yari NK — Rabu, 27 Februari 2008 @ 6:37 am |
Mas Yari,
Nih susahnya kalau agak-agak rahasia atau malah rahasia…ngomong hadap-hadapan aja bisa bocor apalagi pake telpon… bisa disadap ama yang berwenang dan tidak berwenang, mungkin lebih baik komunikasi pake bahasa tubuh kali..
_____________________________________
Yari NK replies:
Ya…. kalau pakai telepon ada kemungkinan bocor walaupun dengan teknologi digital apalagi selular teknologi yang diperlukan untuk membocorkan pembicaraan cukup canggih dan mahal serta tidak semua orang bisa melakukannya. Tapi kalau pakai telepati atau paranormal untuk menyampaikan pesan rahasia, ya pasti bocor dong!
Komentar oleh Yoga — Rabu, 27 Februari 2008 @ 8:47 am |
Wuiihm bapakku ini mantapz untuk urusan itung2an. bisa jadi guru mtk tuh?
Hu’uh skrg berbagai cara (baca:penipuan) dilakukan utk mendapatkan keuntungan yg sebesarnya. ita sejak 2001 gak pernah ganti operator ato simcard lain jadi cukup setia
_______________________________________
Yari NK replies:
Iya, saya juga sejak 2001 pakai Kartu Halo dan XL bebas sampai sekarang dengan nomor yang sama, tapi seiring dengan berjalannya waktu, kartu dan hape saya bertambah (bukan berganti lho!) Hehehehe….
wah… mudah2an ini bukan termasuk narsisis ya..Komentar oleh eNPe — Rabu, 27 Februari 2008 @ 11:29 am |
Jika diitung-itung, tak ada satu pun operator seluler GSM yang membuat kita untung. Pulsa kita malah lebih cepat buntung. Sebenarnya, yang lebih aman adalah jangan terlalu banyak menggunakan voice tapi teks SMS saja.
BAng,coba dong bikin juga perbandingan juga untuk harga internetan yang bermain melalui CDMA. Itung mana yang lebih hemat antara Fren, StarOne, atau Flexy dibandingkan dengan internetan kartu Hallo.
Aku tunggu!
Tabik!
______________________________________________________
Yari NK replies:
Iya… pokoknya patokannya satu aja….. seberapa murah atau “gratis” atau “sepuas-puas”nya tarif yang ditawarkan operator… jangan percaya kalau masih ada kata2 “syarat dan ketentuan berlaku”!
Wah… sebenarnya menarik juga ya membuat artikel perbandingan Internetan melalui CDMA, hanya saja perlu survey dan tanya sana sini ke mereka yang berlangganan Internet via jaringan2 CDMA. Nanti saya coba untuk mencari tahu deh, tapi saya nggak janji ya.
Komentar oleh zulfaisalputera — Sabtu, 1 Maret 2008 @ 10:28 pm |